October 27, 2012
"Ini sudah berakhir."
Dokter muncul dari ruang operasi.
Semuanya berhenti tatkala aku berdiri dari tempat duduk dan mataku melesak masuk menatap sang dokter.
Kelemahan terakhir; ini adalah test terakhir. Semua orang ingin tahu akan jawabannya. Akankah Baekhyun diberikan beberapa bulan lagi untuk hidup? Akankah diberikan beberapa tahun lagi?
Selama berbulan-bulan, kami telah berjuang dengan melakukan kemoterapi dan operasi; Baekhyun terlihat sangat lemah dan Tuhan juga tahu aku ingin menghentikan semua ini, tetapi aku tidak bisa; kami tidak bisa. Dan dengan semua operasi; ia kehilangan suaranya.
Apakah ini layak?
Harta paling berharga yang dimilikinya; apakah ini benar-benar layak?
Bagaimana jika operasinya tidak berjalan dengan lancar? Dia kehilangan hidupnya; ia kehilangan suranya. Hal ini bukanlah situasi yang saling menguntungkan tetapi kami mengambil resiko; Baekhyun melakukannya karena ia ingin hidup. Aku, juga, menginginkannya seumur hidup; seumur hidup dengannya.
Sang dokter berjalan ke arah kami, bertemu dengan sepasang manikku. Aku perlu berpegang pada benda atau apapun juga karena lututku sudah tidak dapat menopang getaran di tubuhku.
Pikiranku berputar; sang dokter akan mengocehkan berbagai kata tentang tanda-tanda vital, status, sel, kanker, operasi, Baekhyun, meninggal. Terlalu banyak kata, terlalu banyak kalimat yang tidak perlu.
Semuanya menjadi kabur.
Semuanya berada dalam gerak lambat.
Aku tidak mengerti satu halpun hingga pikiranku menyatu dan memproses kalimat terakhir dari sang dokter.
"Aku pikir ia akan menghabiskan seumur hidupnya denganmu." Senyum itu bagaikan malaikat.
Tangis Kyungsoo pecah sementara Jongin memeluknya dengan erat, air mata bahagia mengalir dari kedua maniknya. Ibu Baekhyun menepukku dari belakang, masih belum dapat mempercayainya.
"Terimakasih." Bisiknya lembut. "Terimakasih untuk semuanya, Chanyeol."
"Baekhyun masih bernyawa." Gumamnya seraya menyeka air mata yang mengalir jatuh.
Baekhyun hidup. Baekhyun bertahan.
Semuanya tampak seperti sebuah mimpi. Sebuah novel tetapi bagian yang bagus dari sebuah fiksi—dongeng.
Banyak kalimat meledak di pikiranku, campur aduk, berantakan, tetapi sebuah kalimat terbentuk dari situ.
Jika aku akan diberikan kesempatan kedua Chanyeol, aku ingin menghabiskan seumur hidupku bersamamu.
Baekhyun menginginkan seumur hidup.
Meskipun, hampir berupa sebuah bisikan, dengan suaranya yang mulai goyah di setiap kalimat; kalimat terakhir sebelum Baekhyun menjalani operasi terakhirnya melantun di pikiranku.
Aku juga menginginkan seumur hidupku dengan Baekhyun. Aku ingin menghabiskan kehidupanku yang akan datang bersama Baekhyun. Aku ingin menghabiskan keabadian bersama Baekhyun.
Semua pasang mata terkunci padaku, terkejut tetapi bahagia saat aku mengucapkan kalimat-kalimat dalam keadaan tulus dan bahagia yang aku bisa.
"Aku ingin Baekhyun menikah denganku."
October 28, 2011
Setahun yang lalu.
Bau harum dari bacon dan telur yang dimasak memenuhi rongga hidungku ketika aku terbangun.
Hal-hal terasa berat tetapi tenang pada saat yang sama; aku berbaring di atas tempat tidur, terjaga selama beberapa menit, membiarkan aroma makanan berlama-lama mengarungi indra penciumanku, sementara pikiranku masih mengulang kembali percakapan semalam.
Aku sekarat. Aku sekarat Chanyeol.
Masih asik dengan situasi yang mengulang di kepalaku, aku tak melihat Baekhyun masuk ke dalam ruangan.
"Chanyeol."
Tangan lembut yang berada di atas tanganku mengejutkanku hingga aku melihat Baekhyun duduk di tepi ranjang.
"Aku sudah duduk di sini cukup lama dan kau tidak menanggapi satupun pertanyaan yang aku tanyakan."
"Maafkan aku." Hanya kata itulah yang bisa ku utarakan.
"Apa yang kau pikirkan?"
"Hanya suatu hal." Secara perlahan ku selaraskan tubuhku hingga aku duduk persis di sebelahnya. "Tentang, semuanya."
Senyum yang ada di bibir Baekhyun mulai goyah. "Aku akan melakukan yang terbaik, Chanyeol. Aku janji."
Perasaan berdekatan dengan Baekhyun masih terasa luar biasa tetapi seperti semuanya tepat pada tempatnya; seperti potongan puzzle yang sudah tertata.
Aku merentangkan tanganku dan menyelimutinya dalam sebuah dekapan. Kami sama-sama bertahan dalam posisi seperti ini dalam beberapa menit; menikmati aroma Baekhyun yang berbau daging panggang.
"PARK CHANYEOL! KAU TIDAK MELAKUKAN ITU DI—OH ASTAGA! ITU RANJANGKU!"
Kyungsoo bergegas ke arahku dan Baekhyun dengan suara menjerit-jerit dan dengan ekspresi yang mengerikan sementara aku dan Beakhyun dengan cepat melepaskan diri satu sama lain, tampak kebingungan.
"KAU LEBIH BAIK MENGGANTI SPREIKU PARK CHANYEOL!"
"Apa yang kau bicarakan, Kyungsoo?"
"AKU BARU SAJA MENGGANTINYA DI HARI LAIN! AKU TIDAK MEMPUNYAI CADANGAN YANG TERSISA; KAU SEHARUSNYA MENGGUNAKAN RANJANGMU SENDIRI!"
"Tunggu, Kyungsoo, aku pikir—"
"KAI DAN AKU TIDAK BERENCANA UNTUK MELAKUKAN ITU DI SINI SELAMA BEBERAPA MINGGU KARENA AKU TIDAK MEMPUNYAI CADANGAN SPREI!"
"Uhm, Kyungsoo."
"LEBIH BAIK KAU MEMBELIKANKU BEBERAPA SEPRAI BARU, CHANYEOL!"
"Kyunggie?"
"Kyungsoo, kami tidak melakukan apapun di ranjangmu." Aku berusaha menjelaskan sesuatu.
Aku pikir, aku bisa membersihkan Kyungsoo dari jangkauan kami berdua tetapi mata Kyungsoo melebar dan terlihat semakin menakutkan.
"TIDAK DI RANJANG? OH ASTAGA! SOPANLAH SEDIKIT CHANYEOL. DI MANA KAU MELAKUKAN ITU? DI SOFA? OH ASTAGA! AKU BUTUH SOFA BARU! KAMI TIDAK PERNAH MELAKUKAN ITUDI SOFA! INI HANYA UNTUK DI RANJANG!"
Asumsi Kyungsoo semakin menggila. Jongin tiba beberapa menit kemudian hanya untuk mendapati Kyungsoo yang dilanda kepanikan.
Kyungsoo terus saja mengoceh tentang betapa tidak senonohnya melakukan hal itu di sembarang tempat, dan Jongin menunjukkan wajah horror yang menakutkan. Kyungsoo masih terus membahas tentang bagaimana aku dan Baekhyun harus belajar dari mereka untuk tidak melakukannya di luar kamar. Aku merasa terganggu dengan setiap kata yang meluncur begitu saja dari mulut Kyungsoo. Aku tidak ingin mendengar bagaimana Jongin dan ia melakukannya atau bagaimana dia mendikte kami cara untuk melakukannya—itu terlalu berlebihan.
Tiba-tiba Baekhyun tertawa, memegangi perutnya. Kyungsoo berhenti berbicara dan semua orang terfokus kepada Baekhyun yang sekarang sedang berlutut di lantai. Ia tertawa lepas.
Di tengah-tengah tawanya, ia mencoba untuk mengucapkan beberapa kata—meskipun tergagap—tetapi gagal total.
"Sepertinya aku baru saja mendengar kehidupan sexmu, little Jongin."
Air wajah Jongin berubah menjadi lebih merah dari tomat.
"Kami tidak melakukan sex. Tidak di ranjang, tidak di sofa, tidak di kamar mandi, TIDAK. NIHIL."
Baekhyun mengedipkan mata ke arah Kyungsoo.
Akhirnya suara kebenaran keluar, ia tertawa lagi. Menyadari situasi konyol ini, aku mulai tertawa juga, saat Kyungsoo pergi dengan wajah yang memerah yang Jongin temukan bahwa wajah itu terlihat lucu.
Setelah sarapan, Jongin dan Kyungsoo dengan senang hati bergabung dengan kami sementara aku menembakkan mereka tatapan tajam karena seharusnya momen ini hanya untuk aku dan Baekhyun, Jongin memulai percakapan yang agak canggung.
"Jadi, kalian berdua menjalin sesuatu sekarang?" Jongin mengunyah roti isi dengan daging panggang dan telur.
Minumanku terjatuh, Jongin benar-benar tahu saat yang pas untuk menjatuhkan bom pertanyaan, aku benar-benar kelihatan bodoh. Baekhyun tertawa tergagap ketika ia melihat keadaanku.
"Ya." Katanya saat memberikanku sebuah serbet. "Benar?" kemudian ia bertanya padaku.
Semua pasang mata menatapku sekarang. Aku menelan ludah.
Aku mengangguk dengan malu-malu, dengan darah yang mengalir deras melalui pipiku—blushing. Aku dan Baekhyun—mempunyai suatu hal. Suatu hal yang dimaksud di sini adalah menjalani sebuah hubungan. Dan untuk lebih jelasnya, Aku adalah pacarnya Baekhyun. Aku tidak pernah lebih bahagia dari pada ini.
"Kalian membutuhkan waktu selama 3 tahun dan setahun untuk bersembunyi." Kyungsoo bergumam lirih dan Baekhyun menemukan hal itu menggelikan.
"Tidak pernah terlambat." Aku mendengar Baekhyun berucap dengan senyum terbentuk di bibirnya.
"Kau tidak akan pernah terlambat jika itu memang untuk selamanya."
Mungkin itu adalah kalimat paling murahan yang pernah aku ucapkan; aku mendapatkan tatapan jijik dari Jongin yang bercampur dengan tatapan Kyungsoo. Tetapi, aku tidak akan pernah menyesali apa yang telah aku ucapkan saat Baekhyun berdiri dari kursinya, meraih bajuku, menarikku mendekat ke arahnya dengan jarak yang semakin sempit di antara kami dan ia menutupnya dengan sebuah ciuman.
October 28, 2011
"Penerbanganmu seharusnya sudah 2 jam yang lalu."
Sebuah suara terdengar dari belakangku; dan aku baru tersadar setelah ia mengatakannya.
"Aku tidak tahu kalau kau merokok, Jongin." Aku mencoba mengganti bahasan tetapi tidak berhasil.
"Kau tahu, Hyung akan kecewa jika ia tahu apa yang baru saja kau lepaskan begitu saja."
Aku tidak pernah tahu kalau Jongin mahir merokok. Mataku mengamatinya, mencari tanda-tanda, dan dilihat dari tangannya ternyata ia memang sudah cukup lama terbiasa merokok.
"Baekhyun lebih penting."
"Itu mimpimu, Chanyeol."
"Baekhyun adalah mimpiku."
"Apakah kita keras kepala?" Jongin menyeringai sementara tangannya menyisir rambutnya.
"Baekhyun pernah memberitahuku. Cinta itu bisa menunggu, tapi mimpi tidak bisa." Aku tersenyum sedih pada Jongin. "Aku setuju. Tetapi, apakah kau pikir untuk kita, cinta memang benar-benar bisa menunggu?"
Jongin tidak mengatakan sepatah katapun. Mengetahui situasi kita semua yang kacau. Kita benar-benar membutuhkan hal itu untuk satu sama lain.
Beberapa menit berlalu, tidak ada dari kita yang bersuara. Jongin menghabiskan puntung rokok ketiganya. Aku tetap menatap ke arah bulan.
Aku baru sadar Jongin pergi ketika mendengar bunyi pintu terbuka. "Buatlah Hyung senang."
Dan kemudian pintu tertutup.
Aku tidak pernah belajar di luar negeri.
Aku kehilangan kesempatan untuk belajar.
December 4, 2011
"Aku akan baik-baik saja."
Tanganku saling meremas berusaha menenangkan; tetap saja tidak bisa berhenti untuk tidak bergetar gila-gilaan. Aku bisa merasakan badanku mulai berpeluh. Pikiranku tidak bisa bekerja dengan stabil. Pikiranku berkabut dengan terlalu banyak informasi dan proses serta terlalu banyak emosi.
Hari ini adalah operasi Baekhyun yang pertama.
Mereka bilang proses ini akan memakan banyak operasi dan kemoterapi. Jika operasi ini berhasil, maka akan memperpanjang umur Baekhyun tetapi, akan merenggut suaranya. Dan ia mengambil resiko itu.
"Aku ingin seumur hidupku bersamamu, Chanyeol."
Kalimat terakhir yang ia utarakan sebelum brankarnya di dorong ke dalam ruang operasi.
"Aku juga." Kalimat terakhirku tertinggal tak terdengar.
December 24, 2011
"Aku benci dingin."
Baekhyun bergumam pelan saat kami melakukan perjalanan menuju apartemenku.
"Aku sudah memberitahumu, aku bisa membeli makananku sendiri. Kau seharusnya tak usah ikut."
"Aku ingin selalu berada di dekatmu." Katanya tersenyum.
Dua bulan yang akan datang, Baekhyun akan menjalani operasi lain, sekarang, akan sulit baginya untuk berbicara.
"White Christmas?" Baekhyun mendongak, kebahagiaan terlukis di matanya saat butiran salju secara perlahan jatuh dari langit.
Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menatap objek indah di depanku.
"Selamat natal, Baekhyun." Menyadari waktu telah menunjukan pukul 12; dia tersenyum ke arahku.
"Selamat natal, Yeol."
Natal terbaik yang pernah aku habiskan.
"Aku mencintaimu." Kalimat sempurna yang keluar dari bibirku.
Tetapi, kesempurnaan yang sesungguhnya datang ketika Baekhyun menatapku, dan menutup jarak di antara kami.
Ciuman natal pertama kami.
December 31, 2011
"5 Jam sebelum tahun baru." Teriak Jongin dari panggangan barbeque. Lelaki itu benar-benar bersemangat dengan acara ini, gairah dan kegembiraan jelas terlihat dari tingkah lakunya. Dengan tangan yang memegang lightstick dan satunya lagi memegang petasan—pastinya, ini adalah liburan favorite Jongin.
"Aku bertemu Jongin untuk pertama kalinya saat tahun baru" Baekhyun memberikanku sekaleng bir.
Ia duduk di tanah berada tepat di sampingku seraya memperhatikan Kyungsoo dan Jongin yang melompat dan berlarian menuju ledeng—Jongin menjaga petasannya dari ancaman Kyungsoo yang akan membasahi semua petasan itu.
"Ini favoriteku juga. Tahun baru berarti awal yang baru." Baekhyun meneguk bir dinginnya. "Tapi, yang kau lihat, meskipun tahun baru menjanjikan sebuah kehidupan baru, hal itu hanya terjadi sehari dalam setahun. Ketika kau ingin mengubah sesuatu, kau tidak harus menunggu hingga tahun baru. Kau memulai perubahan itu ketika kau menyadari ingin mengubah sesuatu."
Aku tidak benar-benar menjawab karena aku ingin Baekhyun berbicara. Sudah menjadi kebiasaan sekarang, Baekhyun berbicara dengan biasa dan aku mendengarkanya dengan sungguh-sungguh. Aku ingin mengingat suara Baekhyun. Aku ingin suaranya tertancap di kepalaku. Aku tidak ingin merekam apapun. Aku ingin suaranya menjadi permanen di setiap hidupku.
"Katakan sesuatu, Chanyeol." Baekhyun mulai serius.
"Yeah?"
"Jika operasi tidak berjalan dengan lancar, apa yang akan kau lakukan?"
Ini adalah kali pertama Baekhyun membuka pembicaraan mengenai hasil dari operasi. Biasanya ia akan bersikap tidak peduli atau memotong topik pembahasan ini dengan cepat. Aku mengambil sikap seperti tadi dan tidak menjawab. Karena sebetulnya, aku tidak tahu.
Ia bergumam pelan.
"Baiklah, seperti yang kau lihat." Dia memulai dan aku tahu itu tidak baik.
"Aku ingin kau bahagia." Baekhyun tersenyum ke arahku, tanganya menyentuh pipi bagian kiriku. "Aku ingin kau menemukan seseorang yang lain."
Kedua manikku melebar seketika.
"Apa yang katakan Baekhyun? Kau tidak akan mati." Kataku tegas, tidak menatap sepasang maniknya.
"Tentu saja, aku tidak akan mati baik sesudah atau saat sedang operasi tapi kau tahu, jika operasi ini tidak berjalan dengan lancar, dan yah, sel kanker itu akan berkembang dan akan membunuhku beberapa tahun lagi." Tawa yang samar, senyum yang dipaksakan, itulah apa yang Baekhyun lakukan.
"Aku ingin kau mencintai seorang yang lain." Baekhyun mendecak lidahnya.
"Tidak."
"Chanyeol, dengarkan aku dulu."
"Tidak." Aku tidak pernah yakin, "Aku hanya ingin dirimu."
"Seberapa besarnya aku ingin merasa benar-benar pusing dan menciummu, Chanyeol. Aku hanya ingin kau bahagia di saat sesuatu yang buruk terjadi." Baekhyun menekan kata-katanya, aku mulai membantah tapi ia menciumku, aku dengar Jongin berteriak bahwa ini belum tahun baru.
"Dan jika kau mempertimbangkan untuk mencintai seseorang setelah aku, aku akan baik-baik saja." Baekhyun mengucapkannya di antara ciuman dan ia tidak membiarkanku merespon dengan memberikanku ciuman yang lebih panas.
"Aku tahu seseorang yang akan menjadi pelindung untukmu." Baekhyun menyeringai sebelum ciuman itu.
"10 detik sebelum tahun baru." Kyungsoo berteriak kepada kami berdua. Aku tercengang ketika Baekhyun melepaskan tautan bibirnya dariku.
10
9
8
7
Aku dan Baekhyun berdiri ketika Jongin dan Kyungsoo mulai berlari menghampiri kami. Aku merasakan tangan Baekhyun bertumpu pada tanganku.
6
5
"Berjanjilah padaku, Chanyeol."
4
Menatap sepasang manik Baekhyun yang menatap memohon. Aku tidak bisa menjawab, sehingga aku mengangguk.
3
2
Baekhyun tersenyum lebar yang tulus.
1
"Kau harus bertemu Yifan."
February 14, 2012
Baekhyun bernyanyi hingga tenggorokannya sakit.
February 15, 2012
Baekhyun menjalani operasi lainnya.
February 16, 2012
Baekhyun tidak diperbolehkan menyanyi lagi.
February 21, 2012
Baekhyun dan aku mendaftarkan diri di kelas bahasa isyarat. Dia belajar sangat cepat dan terkadang Jongin dan Kyungsoo bergabung dengan kami.
March 5, 2012
Operasi ketiga; angka keberhasilan = 50%
Perubahannya benar-benar berarti, sel kanker yang sedang berkembang di tenggorokannya secara perlahan berkurang, tetapi semakin banyak bongkahan yang ditemukan.
April 21, 2012
Baekhyun tidak diperbolehkan berbicara lagi.
May 6, 2012
Menyesuaikan kondisinya untuk tidak berbicara benar-benar menimbulkan permasalahan bagi Baekhyun. ketika ia mencoba untuk berbicara, ia merasakan sakit yang luar biasa. Semakin banyak suara yang coba ia keluarkan, semakin menimbulkan sakit yang teramat. Tenggorokannya seperti tergores oleh jarum. Hal ini membuatnya tidak dapat bicara lagi; ia bisa tetapi hanya suara serak dan nyaris tidak dapat didengar darinya, tetapi rasa sakit ini sudah tidak dapat diukur lagi. Jadi, ia tidak diizinkan lagi untuk mengucapkan sepatah kata pun.
August 28, 2012
Operasi lain sudah mulai ditunjukan; chemotherapy sudah dilakukan berkali-kali.
October 27, 2012
Beberapa jam sebelum operasi.
"Mereka bilang, kalau operasi ini tidak berjalan dengan apa yang diharapkan, maka Hyung akan…" Jongin tidak menyelesaikan kalimatnya saat suaranya teredam dengan tangisanku.
Aku pikir semua akan berjalan dengan manis. Baekhyun melakukan semua hal yang diperintahkan, tanpa melewatkannya sekali pun. Tetapi, dengan segala usahanya, sel kanker tersebut terus berkembang. Pengucapan paling cepat hari ini adalah jika operasi itu tidak segera menghasilkan suatu kemajuan, maka mereka akan menghentikan semua operasi dan chemotherapy. Ini adalah sebuah tikaman di dalam hatiku.
Baekhyun memelukku.
Dan aku tahu, aku adalah satu-satunya yang merasakan hal ini terasa berat. Tetapi melihat Baekhyun tersenyum ke arahku, membuat hatiku bertambah buruk. Jika kali ini tidak akan berjalan dengan baik, lalu berapa tahun lagi aku bisa menghabiskan waktu bersama Baekhyun? 2 tahun? 5 tahun?
Mata Kyungsoo memerah karena menangis. Jongin tetap berada di ruang tunggu. Ini adalah waktu di mana Baekhyun menjalani operasi terakhirnya. Ia sedang terbaring di brankar.
Sebelum brankar yang dipakai Baekhyun didorong keluar dari pintu, ia memegang tanganku erat.
Nyaris saja dapat didengar tetapi aku mendengar kalimat ini.
Setiap kata, setiap pesan yang terselipkan dari mulutnya, aku bisa melihat wajah Baekhyun berkedut. Jika ia mencoba untuk berbicara, rasa sakit yang menikam tenggorokannya tidak dapat diukur lagi. Air mata mengalir dari manik Baekhyun, ditandai dengan rasa sakit yang berasal dari tenggorokannya tetapi ia melakukannya; ia tetap melanggar satu peraturan.
Bukan suaranya lagi, bukan suara yang aku tanam di pikiranku. Suara serak, tidak selesai, tidak jelas, dan keluar dari jangkauan pendengaranku, tetapi, inilah suara terbaiknya. Suara yang berasal dari hatinya.
"Aku i-i-ingin s-s-seumur h-h-hidupku bersamamu."
halo, kembali lagi dengan part 5. kkk. thanks buat Raein yang mau bantu translate the whole part of this chapter. it helps me. a lot. ada beberapa kalimat yang aku edit-edit but overall i like your work, girl. thumbs up. kalo ga ada kamu mungkin chap ini bakal lebih lama keluar karena aku baru selesai ospek hahaha. ngomong-ngomong, brankar disini artinya ranjang pasien yang biasa dipake di rumah sakit ya.
well, the next chap will be the last chap! i will translate as fast as i can and present to you all quickly ;)
thank you buat semua review yang kalian semua kasih, maaf ga bisa bales satu-satu. thank you buat theusualfan yang udah ngasih izin aku ngetranslate ff ini.
dan mungkin setelah ff ini selesai aku bakal lanjut ke request readers buat beberapa fic, i've got plenty good fics kk
okay, see you!
