Ello! Gw balik lg! [ ga ada yang nanya!] gw kasih chapter baru neh! Berterima kasihlah gw updanya cepet! Biasanya lama buanget loh!
Disclaimer: Not mine!
Warning: OOC, Yaoi!
Enjoy~!
Sepasang mata berwarna biru langit pun terbuka dengan sekejap. Seluruh tubuhnya berkeringat dan nfasnya terenggal – enggal. Seorang anak remaja pun bangun dari posisi tidurnya dan duduk diatas ranjangnya sambil mengusap – usap kepalanya.
"Lagi – lagi mimpi seperti itu" ucapnya pelan. Dia beranjak keluar dari ranjangnya dan dengan sedikit memaksa tubuhnya yang masih merasakan rasa kantu untuk masuk ke kamar mandi yang tak jauh dari ranjangnya.
Seorang remaja berambut pirang yang lengkap dengan kulit berwarna coklat manis serta mata berwarna biru langit, baru saja selesai memakai kaos putih panjang dengan jeans berwarna biru gelap. Dengan raut wajah setengah mengantuk, remaja itu berjalan menuju pintu kamarnya. Ia ambil jaket biru tua tebal dan sebuah tas selempang berwana sama dengan jaketnya di belakang pintunya sambil berjalan keluar. Tanpa memekan sarapannhya terlebih dahulu, Si remaja bernama Naruto ini segarah keluar dari arpatemennya yang berada di lantai dasar dan langsung menuju kearah stasiun dimana ia akan bertemu dengan sahabatnya karibnya.
Waktu yang ia butuhkan untuk sampai ke stasiun kurang lebih 10 – 15 menit. Ia cari – cari sosok sahabatnya di tengah – tengah stasiun yang ramai. Setelah berapa lama kemudian ia menemukan sosok sahabatnya sedang bersandar di salah satu tiang pondasi. Dengan ceria ia langsung menghampiri sahabatnya yang sudah menuggunya dari tadi.
"SASUKEEEEEEEE!" teriaknya keras.
"Berisik kau, Dope!" jawab sahabatnya kesal.
"Berenti memanggilku dengan nama itu!" ujarnya sedikit kesal.
"Memang itu kenyataan" ujar Sasuke dengan nada mengejek.
"Teme"
"Dope"
"Teme!"
"Cukup! Keretanya sudah mau dateng tuh!" ucap Sasuke untuk mengabiskan adu mulut tersebut.
"He? Aku kan belom makan pagi!" celetuk Naruto yang tadi buru ke stasiun.
"Salahmu sendiri telat. Kita dah ketinggalan 1 kereta tau!" jawab Sasuke kesal.
"Kemarin kan pulangnya malam gara – gara nonton!" jawab Naruto lagi.
"Yang minta nonton siapa?" jawab Sasuke tak mau kalah.
"Yang nawarin siapa?"
"Siapa ngeluarin Puppy-face kemarin malem?"
"Teme!"
"Dope"
"Dah ah! Tunggu bentar ya, teme. Aku beli ramen dulu!" dengan itu Naruto langsung pergi ke mini-market untuk membeli beberapa cup ramen instan. Sedangkan Sasuke hanya menggeleng kepala melihat kelakuan sahabatnya yang keanak – anakan. Padahal dua – duanya kelakuannya keanak – anakan. Masa bedebat hal yang tidak penting di depan orang banyak?
Selelah Naruto selesai memebeli semua perlengkapan, maksudnya makanan, kedua sahabat tersebut langsung masuk kedalam kereta yang baru saja tiba. Hamper saja mereka harus menuggu kereta selanjutnya kalau Sasuke tidak langsung menarik Naruto, yang baru saja keluar dari mini-market, ke dalam pintu kereta yang baru terbuka. Perjalan mereka tak lepas dari perdebatan panjang dan pada akhirnya Sasuke menangkan perdebatan tersebut dengan mengungkit – ngungkit ciuman pertaman mereka...
Sebenarnya, hari ini mereka sedang dalam perjalanan ke sebuah kuil tua untuk mengerjakan projek sekolah mereka. Projek yang di kerjakan secara berkelompok yang beranggota tak lebih dari dua orang. Tema projek mereka adalah tempat bersejarah di sekitar mereka. Tentu saja yang memilih tempatnya itu adalah Sasuke. Naruto hanya bisa setuju karena dia sendiri tidak ada ide yang lebih bagus lagi.
Perjalanan yang dipenuhi dengan perdebatan itu pun selesai dalam waktu 2 jam. Tentu saja penumpang lain sangat berbahagia kedua remaja itu turun dari kereta, selama 2 jam mengganggu ketenangan mereka. Keduanya melangkahkan kaki mereka keluar kereta dengan segerah, Sasuke menggandeng pergelangan tangan sahabatnya mencegah temannya yang buta arah ini hilang. Setelah cukup lama berjalan, mereka akhirnya tiba di depan pintu masuk sebuah kuil yang mengah. Saat kaki mereka melangkah masuk melawati pintu gerbang yang megah itu, kepala Naruto langsung terasa pusing seperti sesuatu ingin memasuki kepalanya secara paksa. Ia mengangkat tanganya dan memijit – mijit keningnya untuk menghilangkan rasa pusing tersebut.
"Kau kenapa, dope?" tanya Sasuke yang sedikit khawatir.
"Cuman pising dikit doank kok!" jawab si pirang yang masih memijit – mijit keningnya.
"Kalo sakti bilang aja! Kita batalin acaranya hari ini!" usul Sasuke masih dengan nada yang khawatir.
"Dah di bilangin ga kenapa – napa, teme! Lagian tanggung dah nyampe kuilnya juga!" jawab Naruto lagi dengan nada jengkel.
"Ya uda! Kalo sakit bilang ya?"
"Iya – iya teserahlah!" seru Naruto kesal akan ke-overproective temannya yang satu ini. Dengan itu mereka mulai menjelajahi bagunan kuil di hadapan mereka. Banyak sekali ukiran – ukiran kuno yang terpajang di setiap kuil tersebut. Selain ukiran – ukiran yang berasa di setiap sudut tembok yang sudah berdiri sejang ratusan tahun yang lalu tapi masih kokoh, banyak juga lembaran kertas merah dengan karakter yang berbeda – beda. Konon katanya, lembaran – lembaran tersebut telah berada di sana selama 100 tahun terakhir dan entah kenapa kertas – kertas tersebut masih terlihat baru. Kedua sahabat itu pun berjalan memasuki lorong – lorong sebuah rumah tua si sebelah kuil tersebut.
'Sepertinya tempat ini... kayanya aku pernah kesini...' Naruto langsung menyangkal pikiranya tersebut dengan menggelengkan kepalanya. 'Tidak! Aku ga pernah keluar dari panti kok. Dan lagian tau tempat ini aja ngaak, tapi...'
"Oi! Kenapa kau, Dope!" panggil Sasuke yang dari tadi kebingungan melihat tingkah laku sahabatnya. Tapi dari tadi ia panggil, temannya ini belum kunjung menjawab. Sampai ia tepuk pundaknya pelan.
"Eh? Kenapa Teme?" tanya si pirang kaget.
"Kau ini! Dari tadi di panggil ga nyaut – nyaut," seru Sasuke kesal.
"Eh? Masa sih? Kayanya aku ga denger apa – apa deh!" jawab Naruto dengan lugunya membuat wajah Sasuke merah sedikit.
"Teserah deh! Ayo kita lanjutin!" seru Sasuke lagi sambil berjalan maju untk menyembunyikan wajah merahnya.
Di tempat lain...
"Kau sudah menemukanya?" tanya sebuah sosok gelap yang sedang duduk di atas sebuah sofa empuk.
"Tentu saja tuan! Kami tak akan salah kali ini!" jawab sosok satu lagi sambil berluntun layaknya seorang pelayan setia sedang menghadap ke tuanya.
"Aku mau dia di sini dengan waktu singkat" ucap si sosok lagi.
"Akan kami langsanakan tuan" dengan itu, sosok satunya menhilang tanpa jejak.
"Sebentar lagi. Sebentar lagi kekuatan itu akan jadi milikku"
Mereka berjelan lagi menusuri koridor demi koridor, hingga mereka tiba di sebuah ruangan dengan sebuah papan besar di depan pintunya. Sasuke dengan seksama membaca tulisan tersebut.
"Katanya... ini tempat dimana Miko terakhir meninggal... menarik!" ucapnya dengan senyum aneh. "Oi Dope! Kita masuk ke sini ya!" panggil si rambut hitam.
"Berhenti memanggilku itu, Teme!" seru Naruto sedikit kesal. "Lagian kau tuh buta atau ga bisa baca, sih? Jelas – jelas ada tulisan kalo kita ga boleh masuk ke situ!" lanjut si pirang.
"Biarin aja! Lh ga ada yang tau ini!" jawab si 'Teme' santai. Ia menggeser pintu di depannya dengan hati – hati dan melangkah masuk, di ikuti dengan Naruto. Keadaan ruangan itu memang kacau. Sepertinya, setelah 100 tahun pun... tempat ini masih belum di besirhkan sebersih – bersihnya. Masih banyak bekas darah kering dan juga beberapa pecahan barang lainnya.
"Tempat ini kacau ya..." ucap Naruto sambil melihat – lihat keadaan sekitarnya.
"Hn"
Menusuri ruangan tersebut lebih jauh lagi, Naruto berjalan menuju sebuah lemari yang di penuhi dengan guci – guci antik. "sepertinya hanya mayatnya saja yang di pindahkan, ya..." gungamnya kecil. Tiba – tiba ia merasakan tubuhnya tidak bisa bergerak. Semuanya terasa lambat. Dia lihat kearah sampingnya Sasuke berteriak dari seberang ruangan.
BUAK!
"NARUTO!"
TBC...
Cliffhanger! Haha! Gw mang jahat!
Itachi: oi! Katanya bkin Fic ItaNaru... kok dari tadi kitsune gw ma outoto gw yang geblek sih?
Tw deh... *Pura" bego*
Itachi: jangan pura" bego lw!
*Ignore* Jangan Lupa review ya... or... i'll bite you all to death! *Evil Smile*
Itachi: Woiiiii! Jangan ignore gw!
Ciao ciao~
P.s kalo gw ga dapet review… updatenya makin lama loh!
