Disclaimer: Jelas Naruto bukan punya gw!
Warning: OOC parah banget! Gw ga tanggung kalo charanya kelewat OOC! YAOI! Typo bertebaran~
"Kau..."
Seseorang pemuda berambut hitam kelam panjang yang di ikat satu serta memiliki iris berwarna merah darah. Pemuda dapat di masukan dalam kategori tampan itu, memandang lurus kemata biru langit Naruto. Mereka saling tatap menatap untuk beberapa saat sebelum pemuda bermata merah itu menurunkan tubuh Naruto yang dari gendongannya sehalus yang ia bisa.
"Wah, wah! Baru saja di tinggal beberapa menit saja, sudah di serang ya..." sebuah suara pun terdengar dengan lantangnya membuat Naruto langsung menoleh ke arah suara tersebut berasal. Di hadapannya, berdiri sepasang murid baru yang tadi pagi baru saja memperkenalkan diri mereka. Sakura dan Gaara, saudara kembar yang tidak ada mirip – miripnya.
"Kau tidak apa – apa?" tanya Gaara dengan muka datar. Naruto hanya mengangkuk sambil mencerna keadaan di sekitarnya.
"Sepertinya kita harus segerah lapor pada Tsunade-sama tentang ini," ucap Sakura sambil menghela nafas sambil mengeluarkan telefon genggamnya. "Naruto..." panggilnya sambil merubah mimik mukanya yang tadi happy-go-lucky menjadi serius dengan hitungan kurang dari satu dekit.
"Y-ya..." jawab Naruto ragu – ragu di karenakan wajah menyeramkan serta nada dingin yang dilontarnya oleh perempuan berambut pink di hadapannya.
"Kau sebaiknya langsung pulang ya... Kuro-san akan mengantarmu," ucap Sakura dengan wajah serius. Naruto pun mengangguk lagi.
"um... Sakura-san... tapi aku ada kerjaan sambilan… lagi pula,Kuro-san itu siapa ya?" tanya si pirang agak bingung.
"Itu aku!" suara yang tergolong dingin dan tajam pun terdengar.
"Eh?!" keget sekali si pirang karena dia benar – benar melupakan orang yang telah menyelamatkannya. Pemuda beriris merah darah tersebut hanya berdiri diam dengan wajah datar seperti ia sudah biasa di abaikan.
"Baiklah, kau boleh kerja, tapi Kuro-san akan pergi denganmu. Kalau kau ada pertanyaan, akan kami jelaskan besok. Kuro-san akan menjelaskan sedikit info untukmu setelah kau pulang kerja. Sampai jumpa besok, Naruto-kun!" ucap Sakura panjang lebar bagaikan kereta lewat. Dengan itu, si kembar aneh tersebut pun tiba – tiba menghilang entah kemana meningalkan kedua pemuda itu untuk berjalan kearah tempat bekerja Naruto.
"Um... jadi kau harus mengikutiku sampai aku pulang?" tanya Naruto kepada pemuda misterius yang dari tadi di panggil dengan sebutan 'Kuro-san'. Tak mendapatkan satu jawaban pun dari sang pemuda itu, Naruto hanya dapat menghela nafas. Dia langkahkan kakinya menuju tempat kerjanya tanpa memperdulikan pemuda dingin di belakangnya sedang mengikutinya. Keheningan canggung mulai menedatangi mereka. Karena asalnya Naruto membeci kesunyian, ia sendiri pun langsung membuka sebuah pembicaraan.
"Um... ano, Kuro-san, kau bukan dari sini ya?" tanya Naruto sekedar basa – basi.
"Hn" jawab sang pemuda berbaju serba hitam itu.
"Jadi Kuro-san kenal mereka berdua tadi?" Tanya Naruto lagi.
"Hn" dengan mendapatkan jawaban yang sama akhirnya Naruto pun menyerah. Tak ada hasilnya juga berbicara dengan orang yang pelit kata.
'Dia mengingatkan aku dengan si Teme yang dulu...' si pirang pun menghela nafas lagi. Ia pun tidak menghiraukan pemuda dingin di sampingnya itu.
Akhirnya sampai juga si remaja hyperaktif itu di tempat kerja sambilannya.
"Um... Kuro-san, kau boleh masuk kalau kau mau," pemuda yang diajak berbicara hanya melirik sedikit ke arah Naruto sebelum menganggukan kepalanya kecil. Memang susah bebicara dengan orang dingin irit kata, bersabar saja ya, Naruto.
'Ralat... dia lebih parah dari si Teme,' umpat Naruto dalam hati.
Sepanjang waktu bekerjanya, sesekali ia mengfokuskan pandangannya ke arah pemuda tampan di ujung kedai yang sedang berdiam diri bagaikan seorang yang sedang tertidur dengan mata terbuka. Terkadang mata pemuda misterius bergerak dan bertatap langung dengan iris biru-lautnya. Dengan reflek, Naruto langsung mengalihkan pandangannya kearah lain dan mencoba kembali mengfokuskan pikirannya ke pekerjannya.
Setelah beberapa jam Naruto bekerja sambilan di kedai Ramen langganannya, semua peketjaannya pun selesai. Keduanya keluar dari kedai ramen tersebut dan langsung berjalan menuju apartemen busuk Naruto. Seperti pejalanan sebelumnya, hanya ada keheningngan di antara mereka. Ia mencoba untuk bertanya tentang kejadian tadi siang, tetapi hanya di jawab dengan tatapan tajam bertanda lawan bicaranya tak mau menjawab pertanyaannya. Bahkan ketika mereka sudah sampai, Naruto hanya mempersilakan si Kuro-san masuk tetapi si pemuda hanya menggelengkan kepalanya tetapi menyuruh Naruto masuk serta mengunci pintu apartemenya. Dengan begitu, si Kuro-san pun pergi entah kemana.
Naruto hanya dapat menghela nafas dan melakukan apa yang diperintahkan si pemuda beriris merah itu dan melakukan kegiatan malamnya seperti mandi, makan ramen, beres – beres dan akhirnya tidur di ranjangnya yang berantakan.
'Mungkin besok aku dapat mendapatkan sebuah jawaban' pikir Naruto sebelum tenggelam dalam dunia mimpi. Tanpa di sadarinya, sepasang mata bewarna merah darah memandanginya dari pohon dekat dengan jendela kamarnya. Setetes air mata pun keluar dari mata merah darah tersebut. Dengan nada yang kergolong sedih, sebuah suara kecil pun keluar dari bibir si pemilik mata.
'Kenapa?'
HAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAALOOOOOOOOOOOOOOOOOOO O~ dah lama ya kaga lanjuntin fanfic ini ya~ dah berapa lama ini?
Itachi: Dah 2 thn Author geblek! Kasihnya pendek bgt lg!
Oh… lama bgt ya… Kehilangan mood buat bikin fanfic terutama fanfic dri Naruto… soalnya gw dah lepas dr fandom Naruto sejak 1 stgh thn yg lalu… teehee
Itachi: Kaga Usah pake 'teehee' Author bego! Lagian tiba" bs balik gmn caranya?
Oh itu… rahasia~ tapi kaga tau dah bakal update reguler atw kaga… maunya jd discontinue tp… kayanya sayang…. Gmn ya… pendapat kalian para reader gimana? Continue or discontinue?
RnR~
