Yo smua~ Gw update lg~ msh ad yang baca nih ff? Tiba" aja kepengen ngelanjutin ff ini entah kenapa! Mungkin sangging stressnya apa pelajaran kaliya... siapa sih yang ga stress kalo belajarnya full pake mandarin~ dengan guru" yang jelasin peljaran kaya kereta pake mandarin pula! *headbang* (kok jadi curcol)
Let's enjoy da story~
Disclaimer: Of course Naruto is not mine! U mad?
Warning: Yaoi! OOC! Typo dan bahasa indo yg gaje (dah lama ga belajar bahasa indo) bertebaran dimana - mana!
Sang fajar pun mulai terbit, membangunkan setiap mahluk hidup yang ada, termasuk pemuda berambut pirang menyerupai matahari di dalam apartemenya yang ronsokan. Surai mentari melesat dari tirai berlubang si pemuda membuatnya membuka matanya dan memperlihatkan kepada dunia iris biru langit yang indah miliknya. Menguap dengan lebarnya, si pemuda pirang itu pun bangkit dari ranjangnya dan langsung menuju kamar mandinya tanpa memperdulikan keadaan kamarnya yang berantakan. Naruto pun memulai kegiatan paginya dengan mandi, menggosok gigi, mengenakan seragamnya dan tak lupa memakan ramen instan kesukaannya.
Dengan memasukan semua PRnya yang belum selesai kedalam tasnya, Naruto keluar dari apartemennya dan tak lupa menguncinya.
"YOSH! Waktunya sekolah!" teriaknya dengan semangat dan mendapatkan sebuah panci yang di lempar tentangganya karena kesal mendengar suara cemprengnya pagi – pagi buta. Dengan semangat yang tergolong abnormal, si pemuda ceria itu pun mulai berangkat ke sekolah secepat kedua kakinya bisa berlari. Kenapa harus cepat – cepat? Karena dia belum mengerjakan semua PRnya yang sebelumnya ia masukan ke dalam tasnya itu, satu pun belum ia buat, jadi dia harus datang pagi untuk menyalin PR dari siapa lagi kalau bukan 'Teme' kesayangnya.
Sesampainya Naruto di depan pintu kelasnya, ia mengeser pintu kelasnya dengan kencang meperlihatkan kelasnya yang hampir belum berisi. Menemukan teman baiknya sedang membaca buku di tempat duduk biasanya. Meletakan tasnya di samping meja di sebelah si rambut pantat bebek dan mengulurkan tangannya ke teman sebelahnya.
"Kau lupa mengerjakan PR lagi?" ucap Sasuke tanpa mengalihkan pandanganya dari buku yang sedang di bacanya.
"Hehehe... tau aja, Teme" si pemuda pirang hanya bisa menyengir lebar. Sudah terbiasa, Sasuke hanya dapat menghela nafas panjang dan memberikan buku PRnya kepada temanya.
"Alasan apa lagi kau datang pagi, Dope" jawab si pemuda berambut hitam legam itu dengan nada sinis.
"Makasih ya Teme~" seru Naruto dan langsung menyalin PRnya dengan kecepatan kilat sebelum bel masuk berbunyi.
Sesebunyinya bel sekolah berbunyi, seluruh murid pun sudah masuk kedalam kelas mereka masing – masing, duduk 'manis' menunggu para guru – guru memasukin kelas mereka untuk memulai pelajaran. Seperti biasanya, guru kelas IXC, Hatake Kakashi, telat selama 30 menit dan pelajaran pun baru di mulai perbiasanya dengan setengah isi kelas IXC tertidur pulas.
Bel makan siang pun berbunyi, dengan sekejap, para murid yang tadinya tertidur pulas pun terbangun dan langsung berlari ke arah kantin sekolah, termasuk Naruto. Setelah memesan ramen sepesial ukuran jumbo ia pun duduk di sebuah meja bersama teman – teman.
"Ittadakimasu!" serunya dan langsung memakan ramennya dengan lahapnya.
"Aku bingung kau ga sakit makan ramen tiap hari ya, Naruto", tanya Kiba, pemuda berambut coklat pendek dengan dua buah tato segitiga berwana ungu di setiap pipinya, dengan heran. Disebelahnya pemuda berambut hitam jabrik berkaca mata kuno, Shino, hanya terdiam sambil mengangukan kepalanya tanpa setuju dengan pertanyaan Kiba.
"Tentu saja tidak! Ramen itu kan enak!" jawab Naruto dengan mantap setelah menghabiskan ramennya dalam hitungan detik.
"Orang sebodoh dia mana mungkin sakit", celetuk Sasuke yang sedang santai menikmati onigirinya.
"Apa katamu Teme sialan!" teriak Naruto sambil mengebrak meja kantin.
"Memang kenyataan kau ini bodohnya bukan main, Dope" jawab Sasuke dengan santai.
"Kau ngajak berantem ya,Teme!" teriak Naruto lagi dan kali ini menaikan kakinya keatas meja tepat di depan makanan Sasuke.
"Hanya menyatakan fakta, Dope"
"Teme!"
"Dope!"
Kompetisi saling tatap menatap pun dimulai di antara kedua sahabat. Tak ada di antara mereka yang mau mengalah dengan kata - kata 'Dope' dan 'Teme' terus menerus terlontarkan dari mulut kedua pemuda tersebut. Lainnya hanya mengabaikan mereka berdua, terbiasa dengan argumen mereka berdua.
Tiba - tiba kompetisi biasa mereka terhenti dengan sebuah suara ceria menyapa mereka.
"Naruto-kun~" sapa seorang siswi berambut merah muda.
"Sakura-san?" sapa Naruto kembali.
"Ara, sepertinya kau baik – baik saja ya setelah kemarin," ucap Sakura dengan senyuman lebar yang menyebabkan setiap lelaki di dekatnya meleleh.
"Ah, aku baik – baik saja kok, Sakura-san! Oya, tentang kemarin–" sebelum sempat Naruto menyelesaikan kalimanya, Sakura langsung memotong.
"Nanti pulang sekolah saja ya, Naruto-kun! Kita bisa bicarakan soal kemarin di tempat lain saja ya!" potong Sakura terlihat sedikit panik.
"Ya sudah"
"Ja-ne~" ucap Sakura sambil menepuk pelan pundak Naruto. Dengan begitu, Sakura pergi kembali ke sisi saudaranya. Seperginya si perempuan pink, Kiba langsung narik Naruto ke cengkamannya.
"Liciknya kau Naruto! Sudah mulai mendekatin anak baru sekarang?" ucap Kiba sambil menunjuk – nunjuk pipi Naruto dengan jahilnya.
"Apa – apaan sih! Bukan begitu Kiba! Itu cuman–"
"Cuman apa, Dope?" sekarang giliran Sasuke yang bertanya.
"Itu–" Naruto pun bingung mau menjawab apa. Tidak mungkin menjelaskanya kepada temannya ketika ia sendiri tidak mengerti apa yang terjadi kemarin itu. Tatapan ingin tahu teman – temannya pun semakin menjadi, membuat perasaan Naruto semakin kacau.
Bagaikan seorang malaikat penyelamat, bel sekolah pun berbunyi, menandakan waktunya untuk masuk ke kelas. Untuk kabur dari pertanyaan – pertanyaan yang dilontarkan teman – temanya, Naruto pun langsung kabur masuk ke dalam kelas. Sepanjang pelajaran siang, Naruto pun mencoba untuk mengindar dari tatapan tajam dari teman sebelahnya. Menyembunyikan wajahnya di balik buku matematikanya, ia mengabaikan bisikan dari Sasuke selama pelajaran.
'Pasti ada sesuatu' pikir Sasuke sambil kembali ke buku pelajarannya yang super membosankan.
Bel pulang sekolah pun bergema di dalam sekolah, menandakan waktu 'kemerdekaan' para murid datang. Setiap murid pun langsung berkemas tanpa memperdulikan sang guru di depan kelas mengingatkan mereka untuk membaca kembali pelajaran hari itu. Ada pula yang sedang asiknya berbicang – bincang tanpa mempedulikan meja mereka yang menyerupai kapal pecah, bahkan ada yang sempat – sempatnya berjualan pernak – pernik tak jelas di mejanya. Suasanya kelas benar benar ramai bagaikan pasar malam. Menyerah untuk mendapatkan perhatian murid – muridnya yang sedang beberes, sang guru pun meninggalkan kelas disusul oleh murid yang lain. Sedang sibuk – sibuknya Naruto membereskan tasnya, salah satu teman kelasnya memanggil namanya.
"Naruto! Sai-senpai mencarimu!" seru temanya dengan keras guna mengalahkan suara kelasnya yang ramai bagaikan kebun binatang.
'Sai-senpai?' pikir Naruto bingung. Sai memang senpai Naruto yang terkenal sebagai murid paling aneh sepanjang sejarah sekolah serta memilik ekspresi yang selalu tersenyum manis dalam keadaan apa pun. Mendengar nama Sai disebut – sebut, bisikan demi bisikan pun mulai terdengar di sudut kelas.
"Dope harusnya kau jangan pergi dengan dia. Kau kan dengar dia orangnya seperti apa," ucap Sasuke mencoba menghentikan sahabatnya.
"Itukan cuman rumor,Teme. Tenang saja, kalo dia macam – macam aku bakal tendang dia di 'itu'nya~" jawab Naruto sambil mengajukan jari jempolnya. Dengan begitu, Naruto pun mengendong tasnya dan menghampari Sai yang sedang berdiri di depan ruang kelasnya dengan senyuman manisnya.
"Naruto-kun, kan?",tanya Sai sesampainya Naruto di hadapannya. Naruto hanya menganggung dengan semangat. "Kalau begitu bisakah kau ikut denganku sebentar?" tanya Sai lagi.
"Oke aja! Tapi jangan lama – lama ya, senpai! Aku ada janji soalnya", jawab Naruto dengan cengiran rubahnya.
"Tenang saja ini akan memakan waktu sebentar kok! Kita ke atap saja yuk! Di sana lebih sepi dan tak ada orang yang dapat menggangu"ujar Sai masih dengan senyuman manis terpasang di wajahnya. Sai pun menunun Naruto kearah atap, dimana tak ada seorang pun berani ke sana.
Sesampainya mereka berdua di atap sekolah, Naruto langsung berbalik badan untuk bertanya apa yang senpainya ingin bicarakan. Sebelum sepatah kata pun terlontarkan dari mulut Naruto, terdengar suara pintu terkunci. Langit di sekitar mereka yang tadinya berwarna biru jerih berubah menjadi warna keunguan. Udara sekitar mereka juga berganti menjadi lebih berat membuat Naruto sulit menarik nafasnya. Di saat yang bersamaan, senyuman manis Sai berubah menjadi siringan sinis, memperlihatkan giginya yang runcing bagaikan gigi serigala. Iris mata Sai punyang tadinya hitam kelam berubah menadai warna kuning terang menyerupai mata kucing.
'Iblis?' pikir Naruto langsung.
"Wah, wah, ini kah rekarnasi miko terakhir itu?" ucap Sai sambil berjalan santai menghampiri Naruto. Sambil mengegelingin si pemuda pirang seperti predator yang siap memangasa mangsanya, si iblis pun berkata dengan nada sinis, "Sayang sekai bocah manis seperti kau harus mati di sini".
DEG
"Tenang saja~ Akan kuusahakan membunuhmu secepat mungkin, kok~" ucap Sai girang.
"Panggil namaku" suara seseorang bergema di dalam kepala Naruto yang kacau.
"Nah sekarang..." Sai pun mengangkat tanganya yang telah lengkap dengan cakar – carak yang panjang serta tajam, siap menyerang kapan saja.
"Panggil namaku!" suara yang sama, suara yang terdengar akrab dan nostalgi bagi Naruto.
"Bye bye, Naruto-kun~"
"PANGGIL NAMAKU!"
"ITACHI!"
Dan sebuah cahaya terang berwarna merah pun memenuhi seluruh sudut atap sekolah.
TBC
Gimana? Bagus? Memuaskan? Sampah? Ga bermutu? Kritik dan saran please~
Itachi: Dapet pencerahan dari mana lw autor bisa"nya my lanjutin ini ff? bukanya mau hampir di discontinued?
Ah iya nih~ abis kalo di discont... banyak yang minta lanjut sih~ jd g tega nge-discont...
Itachi: Makanya jangan MALES, author bego!
*ignore* Makasih ya buat reviewnya! gw g tw loh kalo banyak yang nungguin ff gw! Gw usahain buat update cepet tapi gw g bs janji kapan! gw lg pusing ama pelajaran soalnya! Oh mandarin~ kenapa kau harus begitu complicated! kenapa musti susah di tulis, baca, hafal! kenapa yang invent mandarin itu musti bikinnya ribet bgt dengan grammar gaje! kenapa?! *meratapi nasip di emo corner*
Itachi: *sweatdrop* karena si author lg sarap... RnR pleasa biar gw biasa cepet" barengan sama kitsune gw~ *pergi ngejamah Naruto*
