Monday, July, 20th, 2025 – 12.01 PM

Matahari mulai beranjak naik semakin tinggi, menjadikan bayangan hitam tepat berada di bawah kaki orang-orang yang berjalan di bawah teriknya matahari. Panasnya cahaya matahari mulai terasa menyengat kulit, inilah yang dinamakan musim panas. Kebanyakan orang pada saat musim ini hanyalah ingin bersantai-santai di rumah, memakan semangka dingin di bawah Air Conditioning atau kipas angin yang bisa memberikan hawa sejuk ke tubuh mereka yang panas dan mengalirkan keringat karena kegerahan.

Tapi tidak untuk gadis berambut cokelat pendek berpakaian Baby Sitter ini dan dua pelayan berpakaian maid yang berjalan di kanan kirinya, mereka terlihat menaiki tangga rumah mewah tempatnya bekerja menuju lantai dua. Ini sudah memasuki jam makan siang yang berarti saatnya makan untuk kedua tuan muda mereka yang lucu-lucu itu.

Melewati kamar besar yang merupakan kamar utama yang ditempati kedua majikan mereka, mereka sampai di kamar tuan muda pertama mereka. Karena mereka tahu setelah makan pagi selesai, kedua tuan muda mereka langsung memasuki kamar tersebut dan sampai sekarang mereka berdua belum keluar bahkan tuan muda kecil sama sekali tidak meminta untuk meminum susu seperti biasanya. Mungkin karena mereka berdua terlalu asik bermain bersama.

Tok… tok… tok…

"Tuan muda Hiruto, Tuan muda Naruhi, sudah waktunya makan siang," panggil gadis yang merupakan pengasuh Naruhi setelah mengetuk pintu kamar Hiruto namun tak ada jawaban dari dalam. Mereka saling melemparkan pandangan bertanya satu sama lain. Apa kedua tuan muda mereka tertidur?

Tok… tok… tok…

"Tuan muda?" dengan ketukan yang sedikit keras Matsuri masih berusaha memanggil, namun tetap saja tidak ada jawaban dari dalam kamar Hiruto. Menatap kedua temannya seolah meminta persetujuan yang hanya dijawab anggukan dari kedua temannya, Matsuri mulai memegang kenop pintu kamar Hiruto.

Tok… tok… tok…

"Tuan muda, maaf jika kami kurang sopan," kata Matsuri sembari memutar kenop dan mendorong pintu kamar Hiruto pelan, membuka kamar bocah berumur lima tahun yang biasanya terlihat rapi namun kini berantakan dengan mainan yang berserakan di mana-mana dan alat yang menyerupai computer memiliki alat pemancar yang berputar. Tapi tak ada tanda-tanda sosok dari Hiruto maupun Naruhi di dalamnya.

"Tuan muda?" panggil salah satu dari pelayan berpakaian maid tersebut, mencoba mencari dua sosok anak kecil di dalam kamar bercat hijau muda dengan berbagai gambar hewan dan tumbuhan yang terlukis di dindingnya. Tak ada jawaban sama sekali, seolah ada yang meremas jantung mereka; rasa takut mulai menjalari perasaan mereka. Saling berpencar untuk mencari keberadaan tuan muda mereka di sekitar kamar, melihat ke luar jendela yang masih terkunci rapi menandakan tidak ada orang yang keluar ataupun masuk, mencari di dalam lemari dan kamar mandi tapi hasilnya nihil. Saling melempar pandang untuk kesekian kalinya, tapi untuk saat ini ditambah dengan raut ketakutan, wajah pucat dan keringat dingin yang mengalir di pelipis mereka.

"Ba-bagaimana ini? Tuan muda Hiruto dan Tuan muda Naruhi… MENGHILANG…!"

Kediaman Namikaze-pun dihebohkan dengan hilangnya kedua Namikaze kecil mereka.

.

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

Parent? © Na Fourthok'og

.

.

.

Saturday, July, 20th , 2013 – 12. 15 PM.

Naruto dan Hinata masih terlihat kebingungan menghentikan tangisan bocah berambut pirang yang baru mereka 'temukan' ini. Bukan bocah berambut pirang yang masih memakai popok bayi –karena bayi itu sedang memejamkan matanya, terlihat nyaman dalam dekapan Hinata– tapi bocah berambut pirang yang lebih besar berusia sekitar lima tahun yang tak jua menghentikan tangisannya sedari tadi.

Naruto dan Hinata yang saat ini duduk bersebelahan di bawah pohon tempat insiden 'jatuh'nya kedua anak kecil yang entah dari mana ini masih berusaha untuk menghentikan tangisan bocah tersebut. Hinata mengusap punggung bocah berambut pirang yang masih memeluk erat leher Naruto –yang mulai terasa mencekik–, mencoba memberikan ketenangan.

"Hey, kenapa kau masih menangis? Apa ada yang sakit?" sudah berapa kali Naruto melontarkan pertanyaan yang sama seperti itu dan jawabannya pun masih tetap sama.

"A-ayaaah...~~ hiks." Naruto kembali menghela napasnyasedikit risih juga saat anak ini masih memaggilnya dengan panggilan ayah tapi mau marah juga susah karena bocah ini masih saja terus menangis, ia menatap Hinata dengan pandangan bertanya tapi gadis manis tersebut hanya mengangkat kedua bahu mungilnya membuatnya semakin terlihat imut dan Naruto harus berusaha mati-matian menahan gejolaknya untuk tidak 'menerkam' gadis di depannya tersebut.

Bayi dalam dekapan Hinata mulai bergerak, mengucek kedua matanya pelan yang bergesekan dengan dada Hinata. Wajah Naruto yang melihat hal itu memerah sedangkan Hinata hanya mengusap pelan kepala berambut pirang si bayi dengan penuh sayang.

'Sialan! Dasar bayi maniak!' umpat Naruto dalam hati. Entah kenapa tiba-tiba dia menjadi seperti itu.

Kelopak mata itu terbuka, menampilkan iris keperakan yang membuat Hinata terkejut melihatnya. Hinata masih memandangi bayi dalam dekapannya yang kini mengerjap-erjapkan mata keperakannya yang jernih ke arah Hinata.

"Bun-da~~" panggilnya kepada Hinata, menyadarkan Hinata dari lamunannya. Naruto menatap intens bayi berambut pirang tersebut, banyak sekali pertanyaan di kepala Naruto yang ingin ia lontarkan. Tapi cap bodoh akan semakin melekat padanya jika dia bertanya kepada seorang bayi, jalan satu-satunya sudah pasti bertanya kepada yang sedikitnya sudah lancar berbicara, walaupun Naruto tidak yakin jika bocah yang masih memeluk lehernya dengan sangat erat dan menangis terisak ini bisa mengerti atau tidak.

"Sepertinya mereka kakak adik. Mata bocah ini juga keperakan sepertimu, Hinata. Apa kau mengenal mereka?" Hinata menatap Naruto penuh keraguan. Hinata paham betul maksud dari pertanyaan Naruto adalah klan Hyūga, klan yang memiliki iris mata khas berwarna keperakan seperti matanya.

"Setahuku tidak ada Hyūga ataupun anak-anak Hyūga yang memiliki rambut pirang, Naruto."

"A-aku bukan, Hyūga. Margaku Namikaze." dengan suara yang parau dan tersedat oleh isakan, bocah yang memeluk Naruto akhirnya berbicara selain kata 'Ayah' yang terus keluar dari bibir kecilnya. Bocah itu perlahan melonggarkan pelukannya di leher Naruto –membuat Naruto menghela napas lega–, mengelap jejak air mata di pipi berkulit tan miliknya dengan kedua tangan kecilnya.

"EEHH?!" sekarang saatnya Naruto yang terkejut, "Na-Na-Namikaze?!" cicitnya. Berbagai pikiran sang ayah yang mempunyai wanita lainpun menghantuinya saat ini. Kalau iya ayahnya selingkuh berarti kedua bocah ini adik seayah dengannya bukan? Dan kenapa ayahnya sebegitu teganya mengkhianati ibunya –Namikaze Kushina– dan mengkhianati dirinya? Hal-hal buruk itu membuatnya menggeram kesal, sangat kesal. Tapi kenapa bocah ini memanggilnya Ayah dan memanggil Hinata dengan sebutan Bunda? Apa karena kemiripan fisik Naruto dengan Mina… ayah dan Hinata dengan ibu kedua bocah ini?

"Si-siapa nama orang tuamu?" Tanya Naruto, dalam hati dia sudah menguatkan dirinya jika nama Namikaze Minatolah yang akan disebut. Tapi dia tidak menyiapkan diri jika namanyalah yang akan disebut. Tentu saja karena saat ini dia yakin betul belum pernah menikah ataupun melakukan hubungan intim dengan perempuan manapun –apalagi dengan Hinata, walaupun dia berharap sekali itu terjadi– yang dapat menghasilkan dua bocah berambut pirang di depannya saat ini.

"Namikaze Naruto dan Namikaze Hinata atau dulunya sih bernama Hyūga Hinata," bocah itu mengerling dengan mata yang masih sembab ke arah Hinata yang membelalakan mata keperakan yang sama sepertinya.

"HAAHHH?!" bocah dan bayi itu menutup telinga mereka karena kaget dengan seruan dua orang remaja di depan mereka. Sang bocah kemudian tergelak membuat Naruto dan Hinata mengira bahwa bocah ini telah mengelabui mereka tapi mereka kembali terkejut saat air mata bocah itu kembali menetes.

"Ayah dan Bunda kompak sekali. Andai kalian bisa seperti ini terus," mengusap lagi air mata yang menetes dengan tangan mungilnya yang terkepal, bocah pirang itu turun dari pangkuan Naruto kemudian beringsut mendekati Hinata; memeluk Hinata sekaligus adiknya yang sedari tadi memainkan rambut indigo panjang milik Hinata.

"Bunda…" isaknya semakin parau, "aku merindukanmu yang seperti ini," lanjutnya dengan pelan mencoba semakin merengkuh tubuh Hinata tapi tangan mungilnya tak sampai untuk melingkar sempurna di tubuh Hinata ditambah dengan tubuh adiknya.

"Kaaa…~~~" si bayi mulai merengek memanggil bocah tersebut, matanya mulai berkaca-kaca melihat kakaknya yang menangis memeluknya dan Hinata. Hinata yang masih tak lepas dari kebingungan dan keterkejutannya hanya mengusap pelan dan bergantian kedua kepala pirang di hadapannya.

"Sstt… tenanglah, Bunda di sini." insting, itulah yang menyebabkan Hinata berucap seperti itu, membuat kedua anak-anak itu merasa tenang dan nyaman dalam buaiannya. Hinata sendiri terkejut dia bisa mengatakan hal seperti itu kepada bocah dan bayi yang baru ditemuinya, tapi perasaannya mengatakan hal yang lain. Dia merasa sangat dekat dengan mereka berdua, tapi Hinata tidak tahu karena apa? Narutopun tak kalah terkejut mendengar yang dikatakan Hinata tapi mengingat kelembutan dan kebaikan Hinata, Naruto merasa tak mengherankan lagi. Tapi selalu ada desiran halus, seolah rasa rindu saat bocah dan bayi itu memanggilnya Ayah atau Bunda kepada Hinata. Kenapa?

Kryuuukkk…..~~~~

"Paaaall…~~~" bayi itu terkekeh mendengar bunyi yang aneh tersebut, bocah berusia lima tahun dan Naruto memegang perut mereka yang tadi mengeluarkan suara dengan kompak layaknya paduan suara. Wajah Hinata memerah dengan sendirinya, gadis pemalu ini entah kenapa merasa lucu dengan kekompakan mereka berdua.

"Baiklah, sebagai lelaki air mata adalah berlian yang tidak bisa sembarangan dikeluarkan," Naruto berjongkok menghadap Hinata dan kedua anak-anak itu, mengusap pelan rambut pirang bayi yang masih saja tersenyum dan bocah yang memegang perutnya yang kelaparan, "jadi berhentilah menangis. Lebih baik kita cari makanan agar perut kita bisa berhenti berdemo," sebuah cengiran Naruto keluarkan menimbulkan dua cengiran lainnya dan sebuah senyuman manis dari Hinata yang mampu membuat ketiga manusia di dekatnya bersemu merah.

"Hah?" Naruto terlihat kebingungan saat bocah dan bayi itu mengepalkan tangan kanan mereka ke arah Naruto.

"Aku dan Naruhi biasa melakukannya. Dulu sebelum ayah sangat sibuk, ayah pernah mengajariku dan sekarang aku yang mengajari Naruhi 'salam antar lelaki' ini," jelas bocah tersebut. Naruto awalnya masih bingung, sebelum akhirnya dia juga mengepalkan tangan kanannya dan menyentuh pelan kepalan tangan bocah dan bayi yang diketahui bernama Naruhi tersebut.

"Good boy," seru Naruto dan bocah berambut pirang bersamaan sedangkan Naruhi hanya bergumam tidak jelas dan sekali lagi cengiran itu keluar dari ketiga manusia bergerder lelaki tersebut.

"Hihi… kalian kompak sekali," Hinata terkikik geli melihatnya membuat ketiganya kompak menggaruk bagian kepala mereka yang tidak gatal, Hinata sungguh tak menyangka sekaligus takjub akan kekompakan mereka bertiga.

"Jadi adikmu itu bernama Naruhi?" Naruto bertanya setelah mengangkat tubuh bocah itu untuk berdiri, kemudian dia berdiri dan mengulurkan tangan kanannya untuk membantu Hinata berdiri yang kesusahan karena Naruhi masih dalam gendongannya. Menghentikan tangannya yang membersihkan celana panjangnya yang memiliki banyak kantong, bocah itu menepuk pelan keningnya. Baru diingatnya jika Ayah dan Bundanya yang sekarang pasti tidak mengenalinya dan juga adiknya yang bisa dibilang datang dari masa depan tersebut.

"Iya, namanya Namikaze Naruhi dan aku, Namikaze Hiruto. Perpaduan dari nama Ayah dan Bunda," katanya dengan sebuah cengiran. Lenyap sudah sikap dingin dan datarnya saat dia masih berada di rumahnya dan saat dia bertemu dengan Ayah dan Bundanya yang berada di masa depan. Kata-kata Hiruto sukses membuat dua wajah remaja itu memerah, Hiruto terkekeh geli melihatnya. Ini sangat jarang dilihat olehnya, wajah Ayah dan Bundanya memang kadang memerah tapi bukan karena malu seperti saat ini tapi memerah dikarenakan karena amarah.

"Sudahlah, kau berisik sekali," Naruto menyambar cepat tangan kecil Hiruto menggandengnya dan mulai berjalan untuk menutupi rasa malu dan gugupnya. Namun baru berberapa langkah, Hiruto berhenti dan menengok ke belakang; ke arah Hinata dan adiknya.

"Ayo Bunda, Naruhi." tangan kiri Hiruto yang bebas dari gandengan Naruto melambai ke arah Hinata yang masih berdiri terdiam, Naruto yang sepertinya sudah dapat mengendalikan dirinya menengokan wajahnya ke arah gadis yang masih saja bersemu merah dan terlihat sangat manis itu. Memanggil gadis berambut panjang itu untuk berjalan bersama di sampingnya.

Hiruto menatap sekeliling, dia baru menyadari danau yang tak jauh dari tempat ia dan Naruhi terjatuh. Danau itu tidak asing karena danau itu berada di belakang rumahnya, jika benar perkiraanya. Mungkin pohon tempatnya terjatuh itu adalah tempat yang akan menjadi kamarnya di masa depan nanti.

"Ayahmu mendirikan rumah megah ini di tempat di mana dulu dia menyatakan cintanya kepada Bunda kalian berdua, sebagai kado pernikahan katanya." lagi dia teringat kembali perkataan pamannya, Neji. Jadi tempat ini adalah tempat di mana kedua orang tua mereka mulai menjalin kasih sampai akhirnya mereka menikah. Hiruto tidak tahu atau mungkin belum tahu jika dia dan Naruhilah yang telah menggagalkan pernyataan cinta Naruto terhadap Hinata tadi.

"Apa mau gantian menggendongnya?" suara khawatir Naruto menbuyarkan lamunan Hiruto.

"Tidak usah Naruto. Lagipula Naruhi tidak terlalu banyak bergerak." Hinata bersemu kembali saat sadar empat huruf nama bayi yang digendongnya sama seperti nama Naruto. Apa benar nama kedua anak-anak ini perpaduan namanya dengan Naruto?

"Ayah, jika ayah ingin menggendong, gendong aku saja." Hiruto menarik lengan kekar Naruto melalui tangannya yang digandeng oleh Naruto, membuat pemuda pirang jabrik itu mengalihkan perhatiannya ke arah Hiruto yang baru memberikan penawaran atau mungkin permintaan.

"Eh… jadi kau ingin aku gendong, bocah?" Naruto tertawa sebelum dia meraih tubuh kecil Hiruto dalam gendongannya dan berjalan beriringan dengan Hinata dan Naruhi, Hiruto hanya tertawa lepas, inilah hal yang paling dia inginkan selama ini. Kedua orang tua yang akur tanpa pertengkaran dan mereka dapat tertawa bersama, berjalan bersama seperti ini.

"Lihat Naruhi, Ayah menggendongku," pamer Hiruto kepada adiknya namun adiknya hanya terdiam dan kemudian melihat Hinata. Merentangkan tangan mungilnya untuk memeluk Hinata dan mengesek-gesekan wajahnya di dada Hinata, membuat Hinata mengelus kepala pirangnya dan tersenyum melihat tingkah lucunya. Tapi hal itu tidak terlihat lucu untuk Hiruto dan Naruto yang malah menggeram melihatnya.

"Dasar kau menyebalkan!" gerutu mereka berdua kompak. Hiruto menggerutu karena dia benar-benar iri melihatnya, walaupun saat ini ia digendong dalam tubuh besar ayahnya tapi berada di dalam gendongan bundanya akan terasa jauh lebih nyaman, bagaimanapun juga seorang anak akan lebih nyaman dalam dekapan ibu mereka, bukan? Tapi Naruto yang juga turut menggerutu , entahlah karena apa? Karena hanya Naruto dan Tuhan lah yang tahu jawabannya.

"Baiklah, bagaimana kalau kita makan ramen?"

"Ta-tapi Naruto, mereka masih kecil untuk memakan makanan yang pedas seperti itu,"

"Ramen?"

"Iya, itu makanan kesukaanku. Makanan yang paling enak sedunia!"

"Makanan kesukaan Ayah? Aku mau mecobanyaaa…"

"Aauuu…~"

"Kaujuga mau Naruhi?"

"Kalau Naruhi karena masih bayi maka belum boleh makan seperti itu. Di Ichiraku sepertinya tidak menjual sereal untuk bayi."

"Jangan sedih Naruhi, nanti Bunda yang akan menyuapimu, iyakan Bunda?"

"I-iya, Hiruto. Na-Naruto, nanti kita mampir dulu ke mini market di persimpangan di depan jalan besar itu untuk membeli bubur sereal yah?"

"Okeh!"

Mereka berjalan bersama, saling bercanda layaknya sebuah keluarga yang bahagia dan dapat membuat orang iri melihatnya. Iya, akan menjadi keluarga yang bahagia dan membuat iri yang melihatnya tanpa harus mendapat pandangan heran dan mencela dari orang-orang yang saat ini melihat mereka. Mungkin pandangan menghina itu akan menjadi pandangan iri andai saja usia Naruto dan Hinata saat ini sama seperti usia mereka saat memiliki kedua buah hati mereka ini dan bukan usia saat mereka masih memakai seragam sekolah seperti sekarang.

.

.

.

Monday, July, 20th, 2025 – 12.35 PM

Wanita cantik itu mengetuk-ngetukan bolpoint-nya dengan bosan, rapat yang dimulai dari jam sembilan pagi sampai saat ini belum juga selesai dan bukankah ini sudah memasuki jam makan siang? Perdebatan antar pemegang saham Hyūga dan para tetua Hyūga membuat kepala dengan surai indigo panjang miliknya itu berdenyut keras. Panasnya udara dan suasana ruang rapat berhasil mengalahkan udara yang keluar dari Air Conditioning yang berada di setiap sisi ruangan rapat tersebut. Teringat lagi akan pertengkarannya dengan suaminya tadi pagi. Tak hanya itu, wajah polos kedua putranya yang berpura-pura tidak memperdulikan pertengkaran mereka berdua semakin membuat hatinya diremas keras; sakit.

Hinata nama wanita tersebut paham betul jika pertengkarannya dengan suaminya selama ini pasti menimbulkan trauma psikis tersendiri untuk kedua anaknya. Terbukti dengan berubahnya dengan drastis sikap putra sulungnya yang ceria menjadi dingin dan datar, anak bungsunya yang tak lagi menangis melihat Naruto dan Hinata bertengkar –entah apa yang sudah dilakukan Hiruto sampai berhasil membuat Naruhi seperti itu–. Hinata tahu jika sikap dingin dan datar Hiruto itu hanyalah topeng belaka untuk menutupi luka hati putra sulungnya yang sudah lelah melihat pertengkaran tiada ujung kedua orang tuanya, mengubah dirinya sendiri seolah menjadi tameng untuk melindungi adiknya dari kedua orang tuanya sendiri. Hinata tak tahu apa dia harus bersyukur atau malah iba memiliki kedua putra yang cerdas untuk usia mereka yang masihlah terlalu kecil.

Apa sebegitu terlukanya kah hati putra-putranya? Apa sebegitu dalamnya luka mereka? Apa sebegitu tak becusnya dia dan Naruto mengasuh kedua putranya? Hinata menundukan wajahnya menyanggah dahinya dengan telapak tangan kanannya yang bertumpu pada meja rapat. Ini semua berawal dari delapan bulan yang lalu, saat Naruhi masih berusia dua bulan.

Braaakhh…!

Suasana ruangan menjadi hening, pandangan penghuni ruangan itu tertuju kepada pemimpin rapat yang sedang menunduk dan memegang dahinya. Sadar suasana yang berubah menjadi hening dan apa yang baru saja dilakukannya yang tanpa sadar menggebrak meja rapat dengan tangan kirinya yang bebas. Hinata mengangkat wajah putihnya yang merona merah karena malu.

"Ma-maaf, silahkan dilanjutkan," lirihnya dengan terbata dan beberapa detik kemudian ruangan rapat kembali ramai dengan perdebatan mereka yang sama sekali tak masuk ke dalam telinga Hinata. Tapi Hinata yakin sekertarisnya sudah mencatat setiap inti dari rapat menyebalkan ini.

Dibukanya kunci handphone layar sentuh berwarna lavender miliknya, membuka email delapan bulan yang lalu yang sudah ia simpan di draft. Sebuah foto dengan objek seorang pria berambut pirang jabrik yang merupakan suaminya sedang memeluk protektif seorang wanita dan sayangnya wanita dalam foto tersebut bukanlah dia yang merupakan istri sah dari pria pirang tersebut.

Sudah dua belas tahun Hinata dan Naruto bersama, enam tahun mereka berpacaran dan enam tahun sudah mereka menikah. Apa Naruto masih belum bisa melupakan wanita yang merupakan cinta pertamanya tersebut? Apa kebersamaan mereka selama ini hanyalah kepura-puraan semata? Apa Hinata harus melepas Naruto untuk meraih kebahagiaannya? Lalu bagaimana dengan dia dan kedua putra hasil cinta mereka? Cinta mereka? Hinata tersenyum getir dengan kata-katanya sendiri. Benarkah Naruto mencintainya?

Pertengkarannya dengan Naruto kadang hanyalah karena masalah sepele seperti tadi pagi, tapi rasa sakit hatinya yang selama ini dia pendam membuat emosinya labil dan semakin membesarkan pertengkaran mereka. Rasa sakit karena bahwa –mungkin– selama ini suaminya telah berselingkuh dibelakangnya, mengkhianati cinta tulusnya. Sakit karena –mungkin– selama ini suaminya tidak pernah mencintainya sedikitpun. Mata Hinata terasa panas, sekuat mungkin Hinata menahan cairan liquid yang terus memaksa untuk keluar dari iris keperakannya.

Tanpa sadar Hinata meremas handphone-nya sampai sebuah getaran halus dari benda tersebut sedikit mengejutkanya. Melihat layar handphone yang menunjukan sebuah nama dan ternyata itu adalah nomor telepon dari rumah tempatnya tinggal selama enam tahun ini. Biasanya Hinata tidak akan menjawab panggilan saat sedang rapat seperti ini. Tapi perasaannya yang mulai tak enak membuatnya menyentuh icon jawab; mengangkat panggilan tersebut.

"Iya, Jiroubo?" jawabnya saat sebuah suara kepala pelayan rumahnya terdengar melalui lubang speaker handphone-nya. Dunia sekitar Hinata seakan lenyap tak tersisa saat Jiroubo memberitahukan perihal kedua putranya.

Braaaaakhhh…!

Sekali lagi tanpa sadar Hinata menggebrak meja rapat. Pertahanan kuat yang sedari tadi ia bangun hancur sudah setelah menerima kabar tersebut, air mata itu jatuh di pipinya yang tirus dan semakin terlihat pucat. Tanpa permisi lagi, Hinata berlari meninggalkan ruang rapat tanpa memperdulikan pandangan heran bercampur kaget para penghuni ruangan tersebut.

Kedua putranya, Hiruto dan Naruhi, menghilang….

.

.

.

Pojok cerita

Perkenalan OC.

Namikaze Hiruto: Seorang bocah berusia lima tahun yang baru saja memasuki sekolah Taman kanak-kanak, memiliki rambut pirang jabrik, kulit berwarna tan seperti Naruto dan mata seperti Hinata. Sifat dasarnya ceria seperti Naruto, tapi karena pertengkaran kedua orang tuanya membuatnya menjadi dingin dan datar saat berada di sekitar Naruto dan Hinata. Semuanya hanya ia lakukan untuk melindungi hatinya dan adiknya agar tidak kembali terluka. Tapi dia tetaplah seorang anak kecil yang belum bisa sempurna melakukan 'poker face'. Sifatnya kembali ceria saat dia bertemu dengan Naruto dan Hinata di masa lalu yang menatapnya dan adiknya penuh kekhawatiran dan sayang, pandangan yang selalu ia rindukan selama ini. Kecerdasan Namikaze dan Hyūga mengalir dalam tubuhnya, membuatnya bisa dengan mudah mengingat perkataan Neji sewaktu mengajarinya menggunakan alat mesin waktu. Saat pergi ke masa lalu, Hiruto memakai kemeja biru polos lengan pendek dengan celana panjang berwarna hitam yang memiliki banyak kantong seperti tentara yang disalah kantong tersebut terdapat remot yang dibawanya dari masa depan.

Namikaze Naruhi: Adik dari Hiruto, bayi berumur sepuluh bulan yang sudah bisa merangkak ini sudah bisa mengeluarkan beberapa kata namun masih tidak jelas dan lengkap, hanya Hiruto yang paham betul setiap perkataan tidak jelas Naruhi. Memiliki rambut pirang lurus (tidak jabrik), mata keperakan dan kulit seputih susu seperti Hinata. sama halnya seperti Hiruto, Naruhi juga memiliki kecerdasan Namikaze dan Hyūga, membuatnya bisa mengerti setiap perkataan Hiruto dan orang dewasa lainnya. Jika sedang tidak kesal kepada kakaknya, Naruhi sangat menuruti perkataan Hiruto. Itulah yang menyebabkannya tidak lagi menangis saat kedua orangtuanya bertengkar di depan mereka walaupun air mata sudah memenuhi matanya. Tapi tak jarang dia juga bertengkar dengan Hiruto. Selalu ingin tidur bersama Hiruto, agar tidak merasa kesepian. Saat pergi ke masa lalu, memakai kaos kuning bergambar Teddy Bear dengan celana kodok berwarna biru selutut.

Bisa dibilang Hiruto dan Naruhi itu kakak dan adik mungkin seperti Nohara Shinosuke dan Nohara Himawari (Crayon Shinchan).

.

Sebenernya ini udah selesei lumayan lama. Idenya lagi ngalir deres, jadi daripada kebingungan mau ngetik yang mana lebih milih ngetik yg idenya lagi kenceng. Daripada lupa dan mood ilang malah bahaya…,

Well, Na excited pake banget mendapatkan respon dari kalian semua, apa di chapter kali ini ditambah dengan perkenalan OC sudah bisa menjawab beberapa pertanyaan dari para reader? Dan untuk penyebab Naruto dan Hinata selalu bertengkar sudah ada sediiikiiit pencerahan.

Ada yang bingung sama perubahan Time travelnya? Waktunya lambat banget yah? Masa udah dua chapter tapi satu hari aja belum lewat? Chap depan juga masih hari yang sama. Mudah-mudahan aja ide bisa ngalir terus yah. Untuk chap selanjutnya mulai ada sedikit konflik yang mulai nyempil antara Naruto dan Hinata di masa lalu dengan anak mereka yang datang dari masa depan dan Na sempet kepikiran akan ada sedikit (juga) adegan yang gimana gitu, tapi gak tau deh bisa atau enggak. Penasaran? Pantengin terus yah…hahaha

Thanks to: karikazuka, Hyuna Toki, Delfiana Dei, Asna Amelia, Cicikun Syeren, Ardy, Kazuto21, Wisnu Damayanti, Moeyoko-chan AndevilavenderS69, Brain123, Alfianonymous22, Benafill McDeemone, anzuka16, Lathifah Amethyts-chan, Aya Narita, Dhe Kyu, NaruGankster, Kuro Tenma, Hoshi no Nimarmine, Smile Up Sunny – S.B.F, Sang Gagak Hitam, Namikaze Resta, Ethel Star, Shuzuki no Tsuki, Guest, Paris Violette, Hany-chan DHA E3 dan Fu-Chan NHL4e-KeepStright.*
*mohon maaf jika ada kesalahan dalam penulisan nama.

Sekali lagi terima kasih sebesar-besarnya karena riview dan PM kalian sungguh sangat membantu.

Kritik, saran dan pertanyaan akan Na tunggu dengan senang hati.

"We are NHL, We are Family, Keep Stay Cool!"

Teusday, February 12th, 2013

Na Fourthok'og