Monday, July, 20th, 2025 – 12.37 PM

Suasana siang hari semakin panas namun keringat yang mengucur deras bukanlah keringat karena kegerahan akibat radiasi dari matahari melainkan keringat dingin. Teriknya sinar matahari seakan menjadi bara api yang berhasil membakar emosi yang telah mencapai ubun-ubun mereka saat ini. Para pelayan kediaman Namikaze tak henti-hentinya bergumam mempertanyakan keberadaan kedua tuan muda mereka yang menghilang. Sudah setengah jam mereka semua –tak terkecuali–, bahkan tukang kebunpun turut mencari Hiruto dan Naruhi di setiap sudut rumah sampai ke tempat yang mungkin kedua bocah itu belum pernah menjejakan kaki mungil mereka ke sana, tapi hasilnya tetap saja sama; nihil.

Rekaman dari cctv yang diletakan di depan kamar Hiruto dan di jendelanya pun tak berhasil menemukan pergerakan dari dua bocah tersebut. Ini membuktikan kedua bocah tersebut tidak sekalipun keluar dari kamar Hiruto sejak dari pagi mereka memasuki kamar tersebut. Tapi di mana mereka sekarang? Apa penculiknya terlalu jeli dan cerdik untuk mengelabui mereka semua? Mengelabui cctv dan alat keamanan yang dipasang hampir di setiap sudut rumah? Mengelabui para penjaga yang sangat ketat dan disiplin?

Seorang pria berbadan besar mengenakan pakaian butler terduduk lemas di salah satu kursi tempat biasanya para majikannya makan, ruangan yang kini menjadi tempat berkumpulnya semua pelayan dan beberapa penjaga. Tangannya bergerak dari mengusap wajah lalu bergerak ke atas, ke rambut oranyenya yang hanya sejumput di tengah dan di atas telinganya saja. Berharap dengan ia melakukan hal demikian maka segala kepusingannya akan hilang namun itu tidaklah mungkin terjadi.

"Pak Jirobo, bagaimana ini?" Matsuri bertanya kepada kepala pelayan yang terlihat sangat kacau. Jirobo memusatkan pandangannya kepada Matsuri yang berdiri di sisi kanannya, wajah gadis pengasuh Naruhi itu masih terlihat pucat sedangkan para pelayan lain yang berkumpul di ruang makan tersebut hanya menunduk kelelahan. Selama ini Hiruto ataupun Naruhi tidak pernah melakukan kenakalan yang berlebihan karena mereka termasuk anak yang berkelakuan baik, mereka hanya akan bermain di dalam kamar, taman rumah dan paling jauh di danau belakang rumah mereka dan itupun selalu ada pelayan yang mengawasi mereka di sampingnya. Jika mereka sedang berada di dalam kamar memang tidak ada pelayan yang akan menemani kecuali jika kedua bocah tersebut memanggil dan membutuhkan bantuan dari mereka.

"Aku akan menghubungi Tuan Naruto dan Nyonya Hinata," kata Jirobo pelan sembari berdiri dari duduknya dengan tangan kanan yang bertumpu pada meja makan untuk membantu kakinya yang masih terasa lemas untuk berdiri kemudian melangkah menuju meja kecil tempat telepon rumah berada. Menghela napasnya sebentar sebelum dia mulai menekan tombol yang sudah sangat ia hapal di luar kepala. Nada sambung mulai terdengar namun tidak juga terdengar tanda bahwa panggilan tersebut diangkat sampai nada sambung itu berakhir dengan sendirinya, Jirobo mencoba sekali lagi tapi tetap tidak ada suara orang yang mejawabnya. Mungkin tuan Naruto sedang sibuk, pikir Jirobo. Dia kembali menekan nomor lainnya, kali ini dia tak perlu menunggu lama sampai orang tersebut menjawab panggilan teleponnya.

"Nyonya Hinata?" panggilnya dan suara Hinata langsung menjawabnya.

"Ada kabar buruk," Jirobo menghela napasnya pelan sebelum melanjutkan, "tuan muda Hiruto dan tuan muda Naruhi tidak ada di kamar mereka. Mereka… menghilang," jelasnya dengan sedikit tersedat. Suara gebrakan dari seberang telepon membuatnya sedikit terkejut sebelum suara yang menandakan panggilannya terputus terdengar. Menghela napasnya sekali lagi, Jirobo seolah sudah bisa menebak seperti apa reaksi nyonya besarnya di seberang sana. Jirobo menguatkan dirinya sekali lagi, kini saatnya dia kembali mencoba untuk menelepon dan memberitahu tuan besarnya; Namikaze Naruto.

.

Monday, July, 20th, 2025 – 12.40 PM – Hyūga Corporation

Derap langkah cepat Hinata saling bersahutan dengan derap langkah lain orang-orang yang berlalu-lalang di gedung Hyūga corporation, tak meghiraukan sapaan para karyawannya yang Hinata lewati. Wanita cantik itu berusaha menerobos segerombolan orang yang berdiri di depan lift yang tertutup. Menekan tombol lift dengan kasar, tapi warna merah di atas lift yang menunjukan lantai dasar membuat Hinata tidak sabar dan memilih pergi meninggalkan kerumunan orang yang berdiri di depan lift. Sekali lagi Hinata tidak menghiruakan beberapa pertanyaan dari karyawannya yang khawatir melihat keadaan Hinata yang kacau dengan air mata yang tak berhenti menetes.

Rasa nyeri mulai menyerang tumit Hinata yang terbalut dengan sepatu berhak tinggi saat dia mulai berlari menuju tangga darurat. Hinata terlalu kalut untuk sekedar berhenti dan mengistirahatkan kakinya, wanita itu lebih memilih melepas dan menenteng sepatu hitam mentaliknya saat dia sudah berjalan turun melewati dua lantai melalui tangga darurat. Bayangan anak-anaknya yang ketakutan serta rasa bersalahnya membuat air matanya tak berhenti mengalir, mengelap kasar jejak air matanya menggunakan tangan kiri yang sedari tadi ia gunakan untuk menopang tubuhnya di pegangan tangga agar tidak jatuh.

Hinata seolah mati rasa dengan rasa lelah pada lututnya dan telapak kakinya yang lecet karena hatinya jauh lebih terasa sakit. Tak henti-hentinya Hinata menyalahkan dirinya sendiri dan tak akan memaafkan dirinya jika sesuatu yang buruk terjadi kepada kedua putranya. Hinata sampai di loby kantornya setelah menuruni tangga darurat dari lantai lima belas tempat rapatnya tadi dengan kaki yang sedikit terpincang, akibat terkilir karena terpeleset sewaktu menuruni salah satu tangga darurat. Tampilannya yang sangat berantakan membuat beberapa karyawan terkejut melihat pemimpin mereka.

"Nyonya Hinata, apa anda baik-baik saja?" pertanyaan retoris itu muncul dari salah satu karyawan yang Hinata lewati. Tapi Hinata tak menjawabnya dia tetap berjalan tanpa mempedulikan pertanyaan dari beberapa orang yang ia lewati.

"Hei, Hinata? Kau kenapa?!" seorang pria berambut gelap bertanya khawatir, telapak tangannya yang besar berada di pundak kecil Hinata; membuat Hinata berhenti berjalan.

"Le-lepaskan," lirih Hinata, mencoba melepaskan tangan berkulit pucat pria tersebut membuat sepatunya yang sedari tadi dipegangnya jatuh di lantai loby.

"Hinata, lihat aku," pria tersebut menggoncangkan tubuh Hinata pelan membuat Hinata yang menatap kosong ke depan mengangkat wajahnya dan menatapnya, "ada apa?" tanyanya lagi. Mata Hinata yang sembab menatap iris hitam pria di depannya.

"A-anak-anakku, hilang…" pria tersebut terkejut tapi dia masih diam karena dia tahu Hinata masih akan melanjutkan kata-katanya.

"Aku mau pulang. Lepaskan."

"Biar aku antar."

"Ti-tidak, aku bisa pulang se-sendiri."

"Tapi Hin–,"

"–a-aku mohon," isak Hinata, bola mata keperakannya kembali berair membuat pria tersebut menurunkan telapak tangannya dari pundak Hinata dan membiarkan wanita tersebut pergi dengan langkah yang diseret paksa.

"Ada apa dengan Hinata?" pertanyaan dengan nada yang datar mengalihkan pandangan pria berambut gelap tersebut dari punggung Hinata yang mulai keluar melewati pintu otomatis kantor Hyūga. Pria berambut cokelat panjang memandangnya tak sabaran, meminta jawaban tentang sepupunya yang terlihat kacau hari ini.

"Neji?" panggilnya kepada pria yang seolah tak ingin mendengar basa-basinya tersebut, menghela napas sejenak sebelum menjawab pertanyaan yang sebelumnya Neji lontarkan, "Hinata bilang, Hiruto dan Naruhi menghilang." dan jawabannya mampu membuat seorang Hyūga Neji yang dingin dan minim ekspresi itu terkejut, membelalakan mata keperakannya.

Neji mengepalkan tangannya, pergolakan batinnya membuat raut wajahnya semakin terlihat tegang. Seolah tahu kemana kedua keponakannya pergi, Neji menggertakan giginya. Apakah yang dia lakukan benar? Mengenalkan mesin waktu itu kepada Hiruto apakah sebuah tindakan yang benar?

"Aku akan menyusul Hinata," kata-kata pria berambut gelap tersebut mengalihkan pikiran Neji. Neji memegang pundak pria tersebut yang sudah berbalik badan hendak pergi meninggalkannya. Pria tersebut menolehkan sedikit wajahnya yang berekspresi datar sebatas bahu untuk menatap Neji yang balas menatapnya dengan dingin.

"Untuk kali ini saja, jangan campuri urusan keluarga mereka, jangan semakin memperkeruh hubungan mereka dan membuat kedua keponakanku menangis lagi. Aku tak peduli seberapa besar kau mencintai Hinata, jika sesuatu terjadi dengan kedua keponakanku aku tidak akan pernah melepaskanmu. Berapa kali harus aku bilang? Hinata sudah menjadi milik Naruto dan kedua putranya. Sudah seharusnya kau menyerah, jika kau terus memaksakan cintamu kau hanya akan melihat Hinata yang lebih hancur dari yang kau lihat tadi." Neji menunduk mengambil sepatu Hinata yang tergeletak di lantai loby kemudian bergegas menyusul Hinata, meninggalkan pria tersebut yang terdiam dan memejamkan kedua matanya, memikirkan kalimat panjangnya.

.

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

Parent? © Na Fourthok'og

.

.

.

Saturday, July, 20th , 2013 – 12. 45 PM.

Naruto dan Hinata yang membawa Hiruto dan Naruhi memasuki sebuah mini market, sesampainya di dalam Hiruto langsung meminta turun dari gendongan Naruto. Beberapa orang memandang mereka berempat dengan heran. Apa yang akan orang pikirkan saat melihat dua orang remaja berbeda gender yang masih mengenakan seragam sekolah menggendong dua anak-anak yang memiliki ciri fisik seperti perpaduan dari kedua remaja tersebut? Menikah muda? Kenakalan remaja? Dan sekolah mana yang masih membiarkan muridnya yang sudah menikah dan mempunyai anak masih bisa bersekolah?

Naruto menyadari pandangan itu, beberapa kali dia membalas dengan risih pandangan orang-orang tersebut. Sedangkan Hinata sepertinya tak tahu karena gadis tersebut sudah melangkah bersama Naruhi yang dalam gendongannya dan Hiruto yang berjalan di sampingnya menuju rak makanan bayi, meninggalkan Naruto berdiri sendirian.

Sesampainya di tempat yang ia tuju, mata keperakan gadis berambut panjang itu menjelajahi rak tempat deretan makanan bayi. Meneliti setiap kelebihan yang ditawarkan produk sereal bayi di depannya. Mengambil satu kotak berwarna merah muda sereal bayi dengan susah payah karena Naruhi masih dalam gendongannya ditambah dengan tas sekolah yang masih ia genggam, Hinata membaca jejeran isi kandungan sereal tersebut.

"Itu bukan sereal yang biasa dimakan Naruhi, Bunda," kata Hiruto memberitahu Hinata.

"Eh?" Hinata terkejut dari keseriusannya membaca kotak sereal tersebut, matanya beralih ke Hiruto kemudian ke Naruhi yang mengangguk-anggukkan kepalanya lucu.

"Lalu yang mana?" Hinata bertanya, mengarahkan pandangannya kembali ke Hiruto. Hiruto terlihat terdiam sejenak dan mendongakan kepalanya ke atas, telunjuk kanannya ia letakkan di dagu dan mata keperakannya bergerak pelan menjelajahi setiap jejeran sereal untuk bayi, ekspresinya yang seperti serius membuatnya terlihat sangat menggemaskan bagi Hinata.

"Tu-tu-tuuu…~"seru Naruhi dan mulai bergerak, memiringkan badannya dengan kedua tangan yang hendak menggapai sesuatu dari rak tersebut. Gerakan mendadak Naruhi membuat Hinata kewalahan dan kaget dari rasa gemasnya terhadap Hiruto, dengan sigap dia langsung memeluk Naruhi agar tidak terjatuh dengan tas dan kotak sereal yang tadi dia ambil masih berada dalam genggamannya.

"Ah, iya benar yang itu!" seru Hiruto menunjuk ke atas, ke salah satu kotak yang tadi ditunjuk Naruhi.

"Ada apa?" Tanya Naruto yang kini sudah berada di belakang Hinata dan membetulkan letak tas di bahunya, membuat jantung gadis tersebut semakin bedebar keras; karena kaget dan jarak Naruto yang terlalu dekat dengannya.

"Itu Ayah, kotak kuning dengan gambar gajah dan jerapah. Itu sereal yang biasa Naruhi makan," kata Hiruto memberitahu. Tangan Naruto terulur melewati wajah Hinata yang merona hebat untuk mengambil kotak yang diberitahu Hiruto.

"Yang ini?" tanya Naruto lagi, menggoyangkan kotak sereal berwarna kuning tersebut di depan wajahnya yang mendapat anggukan dari Hiruto dan Naruhi. Setalah mendapat kepastian dari kedua bocah tersebut Naruto meletakan kotak sereal itu ke keranjang dorong yang ia bawa.

"Ke-kenapa membawa keranjang dorong?" Hinata bertanya setelah berhasil mengusai dirinya, dia menaruh kembali kotak sereal berwarna merah muda tersebut ke tempatnya semula.

"Entahlah, tiba-tiba saja aku ingin membawanya," jawab Naruto dengan sebuah cengiran yang tercetak di wajah tampannya membuat Hinata kembali merona melihatnya. Naruto mendekati Hiruto kemudian mengangkat bocah lima tahun itu dan di dudukannya di dalam keranjang, membuat Hiruto berseru kegirangan.

"Auuu…~~" rengek Naruhi, badannya bergerak-gerak ingin ke Hiruto membuat Hinata dengan sigap kembali memeluk Naruhi.

"Kau juga mau duduk di sini Naruhi? Apa boleh Ayah?" Hiruto menoleh ke belakang, ke arah Naruto.

"Boleh saja, asal kau bisa menjaga adikmu," jawab Naruto dan mendapat anggukan dari Hiruto, tangan kanannya terulur ke dalam keranjang untuk memindahkan kotak sereal tadi ke dalam keranjang yang lebih kecil di dalam keranjang dorong tersebut. Kemudian dia beralih ke Hinata dan Naruhi, hendak menggendong Naruhi.

"Ta-tapi apa tidak apa-apa?" Hinata merasa khawatir.

"Hiruto pasti bisa menjaga adiknya," yakin Naruto. Meletakan Naruhi yang tertawa ke dalam keranjang bersama Hiruto.

"Biasanya jika kami berdua ikut berbelanja, pak Jirobo dan Matsuri-san tidak pernah mengijikan kami untuk duduk di sini." tanpa perlu ditanya oleh Naruto dan Hinata, Hiruto sudah menjelaskan rasa senangnya mereka berdua bisa berada di dalam keranjang dorong tersebut.

"Siapa pak Jirobo dan Matsuri-san itu?" Naruto bertanya sekaligus mewakili Hinata yang juga terlihat penasaran.

"Itu kepala pelayan rumah kita dan pengasuh Naruhi di masa depan nanti, aku dan Naruhi biasanya ikut jika mereka pergi berbelanja kebutuhan rumah. Ini pertama kalinya aku dan Naruhi berbelanja bersama Ayah dan Bunda. Ternyata berbelanja bersama Ayah dan Bunda jauh lebih menyenangkan, iya kan Naruhi?" Hiruto menjelaskan dengan panjang lebar kemudian bertanya kepada adiknya yang hanya mengangguk kesenangan.

"Masa depan?" gumam Naruto dan Hinata kemudian dua remaja itu saling berpandangan kebingungan.

"Ayo Ayah jalan, tadi saat jalan aku sempat melihat susu yang biasa Naruhi minum,"

"Yooo…~~"

Seruan dua bocah tersebut membuyarkan lamunan Naruto dan Hinata, kembali mengarahkan pandangan mereka ke Hiruto dan Naruhi yang tak melepaskan senyuman di wajah mereka. Naruto meletakam kedua tangannya di belakang keranjang bersiap mendorong.

"Siap? Jangan lupa untuk memakai sabuk keselamatan kalian," ingat Naruto yang hanya dijawab kekehan oleh Hiruto dan Naruhi serta sebuah senyuman tipis dari Hinata. Mereka kembali berjalan mengikuti saran dari Hiruto yang menjadi komando mereka.

"Itu susu yang biasa Naruhi minum,"

"Uu-uuu…~"

"Ini popok yang biasa Naruhi pakai, jika tidak pakai ini dan pakai yang lain kulit Naruhi akan alergi,"

"Hum!"

"Sepertinya baju ini bagus untuk Naruhi, apa kau suka baju ini Naruhi?"

"Yaa~"

Naruto dan Hinata hanya menuruti saja, mengambil semua barang yang ditunjuk Hiruto.

"Sepertinya sudah cukup, ayo kita ke kasir? Aku sudah lapar…"

"Paaalll…~"

"A-apa tidak ada barang yang ingin kau beli Hiruto?"

"Iya, sedari tadi yang kau tunjuk hanya untuk Naruhi,"

"Tidak usah Ayah, Bunda, untuk Naruhi saja sudah cukup. Nanti jika aku ikut membeli juga malah akan menghabiskan uang jajan Ayah dan Bunda," kekeh bocah berambut pirang jabrik tersebut.

"Dasar kau ini." Naruto mengacak-acak rambut pirang bocah tersebut dengan gemas. Mereka berjalan ke arah kasir yang terlihat sepi. Sesampainya di tempat pembayaran tersebut, Hinata langsung menggendong Naruhi, sedangkan Naruto mengangkat Hiruto dari dalam keranjang. Setelah keluar dari keranjang Hiruto langsung menggandeng tangan kiri Naruto yang sedang mengeluarkan barang belanjaan dengan tangan kanannya. Alih-alih memperlihatkan senyum manis kepada pelanggan seperti biasanya si kasir malah tersenyum canggung melihat Naruto dan Hinata beserta Hiruto dan Naruhi. Dengan sedikit canggung kasir tersebut mulai mengecek barcode barang belanjaan milik mereka berempat dengan mesin kasir yang menunjukan angka-angka yang merupakan harga barang-barang tersebut.

"Anak-anak kalian tampan sekali," kata sang kasir sekedar berbasa-basi saat memasukan barang belanjaan ke dalam plastik putih yang berlogo mini market tersebut. Membuat Naruto dan Hinata merona malu mendengarnya.

"Me-mereka bukan anak-anak kami kok, kami menemu…" kata-kata Naruto terpotong saat merasa tangan kirinya yang digenggam Hiruto dilepas dengan paksa oleh bocah yang kini memandangnya dengan pandangan tidak percaya dan terluka. Bocah berambut pirang jabrik itu merasa kecewa dengan kata-kata Naruto, sebuah rasa sakit mulai menyesaki dadanya.

"Ada apa?" tanya Naruto melihat perubahan ekspresi Hiruto.

"Ti-tidak apa-apa," jawab Hiruto dengan suara parau membuat Hinata juga turut menatap Hiruto yang kini sedang menundukkan wajahnya. Perhatian kedua remaja itu teralih saat kasir mengatakan total harga belanjaan mereka, Hinata hendak mengambil dompetnya yang berada dalam tas dengan susah payah menjaga agar Naruhi tidak terjatuh. Tapi sebelum Hinata sempat membuka resleting tasnya, Naruto sudah terlebih dulu mengangsurkan beberapa lembar uang ke arah kasir. Mengambil alih plastik besar yang berada di depannya, Naruto meraih tangan kecil Hiruto dan melangkah bersama Hinata.

Perubahan sikap Hiruto yang diam membuat dua remaja itu juga turut diam dengan sesekali melirik ke arah Hiruto yang seolah sibuk dengan pikirannya sendiri. Tanpa sadar mereka sudah sampai di sebuah kedai ramen, memasuki tempat yang merupakan tempat terfavorit Naruto.

"Apa kau sakit, Hiruto?" Hinata bertanya khawatir melihat Hiruto yang hanya diam, mereka duduk menghadap counter. Tapi sebelum Hiruto menjawab seorang pria paruh baya baru keluar dari ruangan yang hanya ditutupi kain diatas pintunya mulai mendekati mereka.

"Wah Naruto, baru sehari kau tidak ke sini kau sudah mempunyai istri dan anak-anak yang tampan," kata pria tersebut yang diakhiri dengan tawa yang tergelak.

"Ah, paman Teuchi bisa saja. Bukan kah kami terlihat seperti keluarga bahagia?" balas Naruto dengan rona merah tipis menghiasi pipinya menanggapi candaan si pemilik kedai. Hiruto menatap Naruto dari samping, dia kembali dibuat bingung dengan jawaban dari Naruto. Bukankah tadi Naruto bilang jika dia dan Naruhi bukan anaknya? Kenapa sekarang Naruto berkata hal yang lain? Sebuah tangan yang besar mendarat pelan di kepala pirang Hiruto, Hiruto mendapati Naruto yang tersenyum kepadanya sembari mengelus kepalanya pelan.

"Kau itu masih kecil, jangan terlalu banyak berpikir. Nanti rambut kuningmu ini berubah jadi putih loh." Hiruto tahu ini memang bukan saatnya untuk besedih, hal yang selama ini dia harapkan untuk bisa berkumpul dengan orang tuanya kini sudah terwujud. Ditatapnya Naruto yang sedang berbicara dengan pria yang tadi dipanggil pama Teuchi oleh Naruto. Kemudian dia beralih ke Hinata yang sedang membuatkan bubur sereal tuntuk Naruhi dengan bantuan wanita berambut cokelat panjang yang berada di seberang counter, sedari tadi bisa dibilang Hinata tidak pernah melepaskan Naruhi dari pelukannya. Berbeda sekali dengan Hinata ibunya di masa depan yang jangankan menggendong Naruhi, sekedar untuk mendengarkan keluhannyapun Hinata seolah tidak mempunyai waktu sedikitpun.

Bermain dengan pikirannya sendiri Hiruto sampai tidak sadar jika ramen sudah tersaji di depannya. Naruto memanggilnya dari alam lamunan untuk kesekian kali, memberitahunya untuk makan sekaligus menjelaskan bahwa ramen yang berada di hadapannya saat ini adalah ramen tingkat rendah yang tidak terlalu pedas. Hiruto hanya memandang mangkok penuh uap yang masih saja terlihat mengepul dengan mie dan kuah kental berwarna kemerahan di dalamnya. Berdoa sebentar kemudian Hiruto mengambil sumpit yang tadi diserahkan Naruto kepadanya, dengan sumpit dia mengambil sedikit mie yang terlihat kenyal dengan sedikit kesusahan karena menurutnya mie ramen ini jelas berbeda dengan mie spaghetti yang pernah dia makan.

Meniup mie dengan susah payah karena meja counter yang tinggi tidak sesuai dengan tinggi tubuhnya yang saat ini duduk di kursi, Hiruto mengambil insiatif untuk berdiri saja agar sedikitnya lebih mempermudah dirinya untuk bisa menyantap mie ramen tersebut.

"Uhuuk!" rasa pedas langsung menjalari lidah Hiruto membuatnya tersedak saat pertama kali dia merasakan mie ramen tersebut berada di mulutnya, bibirnya terasa panas tapi sebuah rasa enak yang asing membuatnya ingin kembali mencicipinya. Melihat Hinata yang menyodorkan segelas air putih dan terlihat khawatir akan keadaannya membuatnya mengeluarkan cengiran untuk menenangkan bundanya yang di masa lalu tersebut. Selepas meminum air putih, Hiruto kembali menyantap mie ramennya sedikit-sedikit.

Hiruto menepuk perutnya yang terasa membuncit karena kekenyangan, merasakan rambut pirangnya diacak-acak dan suara tawa dari sampingnya. Hiruto memandang Naruto yang kini mengeluarkan senyuman yang kelewat lebar.

"Itu biasa untuk pemula," kata Naruto. Di depan Naruto sudah menumpuk tiga mangkok ramen yang sudah tandas isinya, tidak jauh beda dengan Hiruto yang terlihat banyak gelas kosong di depannya. Entah sudah berapa banyak air yang dia minum bahkan ramen yang dia makan pun hanya tinggal sedikit lagi tapi perutnya sudah menolak untuk diisi lagi. Kini Hiruto melihat ke Hinata yang terlihat kerepotan memakan ramennya dengan menggendong adiknya yang sudah selesai memakan serealnya. Bocah pirang tersebut beranjak mendekati Hinata.

"Ayo Naruhi. Main sama kakak," ajaknya sembari mengulurkan kedua lengan kecilnya ke arah Naruhi. Hinata berhenti sejenak saat Naruhi bergerak untuk mendekati Hiruto yang bersiap menggendongnya.

"Jangan main jauh-jauh yah," pesan Hinata saat Naruhi sudah berada dalam dekapan Hiruto dan dijawab dengan anggukan dari keduanya. Hiruto berjalan keluar kedai hanya untuk melihat daerah sekitarnya yang terlihat berbeda dengan masa depan. Bahkan dia tidak tahu apakah kedai ini masih ada di masa depan nanti karena dia tidak pernah melihatnya setiap dia keluar dari rumah, mengingat kedai ini tidak jauh dari rumahnya atau tempat tadi dia dan Naruhi terjatuh. Naruhi yang berada dalam gendongannya mulai mengoceh tidak jelas.

"Kau suka di sini yah? Kakak juga suka," kata Hiruto seolah membalas ucapan Naruhi yang tidak jelas, "tapi… bagaimana dengan ayah dan bunda yah? Apa mereka akan khawatir?" lanjutnya dengan gumaman kecil. Pipi Hiruto terasa hangat karena tangan mungil Naruhi yang menyentuh kedua pipinya dan berakhir dengan Naruhi yang menekan kedua pipinya membuat wajah Hiruto terlihat aneh dengan bibir yang monyong. Suara kekehan Naruhi membuat Hiruto juga ikut tertawa dengan keusilan adiknya. Dicubitnya pipi sang adik dengan gemas, kalo sedang tidak menggendong Naruhi mungkin dia sudah akan mencubit kedua pipi tembem adiknya sampai memerah dan menangis.

Berbalik badan hendak masuk lagi ke dalam kedai, Hiruto mendapati Naruto dan Hinata yang sepertinya terlihat bebicara dengan serius. Wajah Naruto terlihat sangat yakin sedangkan Hinata masih terlihat ragu-ragu bahkan untuk mengangguk sekalipun. Mendekati kedua muda-mudi tersebut yang sudah selesai berbicara, Hinata kembali menggendong Naruhi yang sudah mengangkat kedua tangannya ke arah Hinata. Waktu sudah menunjukan jam dua siang, merasa mereka sudah harus pergi dari kedai untuk berbagi tempat kepada pengunjung lain yang terlihat masih banyak yang mengantri.

Setelah membayar semuanya, mereka berempat keluar meninggalkan kedai Ichiraku dan mulai berjalan tak tentu arah. Terkadang mereka berhenti dan tertawa geli, saat Hiruto berhenti di depan sebuah toko dengan mata berbinar dan tangan yang menyentuh kaca etalase toko mainan. Benar-benar seperti anak kecil kebanyakan, Naruto dan Hinata yang saat ini mungkin belum tahu jika bocah lima tahun ini di masanya yang seharusnya berada selalu bersikap dewasa dan jarang sekali menunjukan ekspresi seperti ini. Atau berhenti saat Naruto bertemu seorang petugas polisi yang sedang berpatroli untuk berbincang dan sesekali menujuk Hiruto dan Naruhi yang dalam gendongan Hinata yang berada lumayan jauh dari Naruto dan Polisi sehingga membuat ketiga orang yang ditunjuk tidak mendengarkan perbincangan mereka dan berakhir dengan Naruto yang sepertinya menyebutkan nomor handphonenya.

Setelah berjalan tak tentu arah, mereka berhenti di sebuah taman yang masih terlihat ramai, Hiruto langsung berlari berkeliling. Melihat anak-anak seusiannya yang sedang bermain yang turut membalasnya dengan heran dan asing karena baru melihat Hiruto. Mengeluarkan cengirannya membuat Hiruto langsung cepat akrab dengan sekumpulan bocah-bocah tersebut. Naruhi bergerak-gerak dalam gendongan Hinata dan mulai merengek seperti memanggil Hiruto, ingin turut bermain bersama kakaknya. Seolah tahu apa yang diinginkan adiknya Hiruto berhenti bermain dan berlari mendekati Hinata dan Naruhi yang duduk di salah satu taman, tak terlihat Naruto berada di dekat Hinata membuat Hiruto yang sudah berada di dekat Hinata menengokan kepalanya ke kanan dan kiri mencari Naruto.

"Ada yang mau es krim?" suara dari belakangnya membuat Hiruto tersentak kaget dia langsung berbalik dan mendapati tubuh tinggi Naruto yang kini berjongkok menyamakan tinggi badannya dan menyodorkan es krim ke hadapannya yang langsung diterimanya dengan suka cita. Mereka duduk berjejer menikmati es krim masing-masing tak terkecuali Naruhi yang wajahnya sudah belepotan es krim membuat Hiruto tertawa melihat wajah adiknya. Sekali lagi Naruto menyadari pandangan orang-orang yang berbisik-bisik dan melihat ke arah mereka, membuat pemuda Namikaze tersebut mulai jengah. Bahkan beberapa bisikan yang tidak bisa disebut bisikan karena lumayan keras sehingga telinganya mampu mendengarkan apa yang mereka katakan.

Telinga Naruto semakin panas mendengar cacian dan hinaan untuknya dan Hinata dari para orang tua yang melewati mereka hendak pulang karena matahari mulai terbenam di ufuk barat. Dipandanginya Hinata yang terlihat bahagia melihat kedua bocah yang sedang bermain di tanah di depan tempat mereka duduk, sesekali Hiruto mencubit pipi adiknya yang menggembung kesal membuat adiknya semakin terlihat kesal dibuatnya.

"Hari sudah hampir malam, jadi di mana rumah kalian? Pasti orang tua kalian khawatir mencari kalian," pertanyaan Naruto membuat ketiga pasang iris keperakan tersebut menatapnya. Rasa nyeri seolah tak ingin berpisah dengan dua bocah tersebut mulai merayapi hati Hinata, karena dia tahu maksud dari pertanyaan Naruto karena mereka sudah membahasnya tadi saat di kedai Ichiraku dan itulah kenapa Naruto selalu berbicara dengan polisi yang sedang berpatroli untuk menanyakan apakah ada orang tua yang melaporkan telah kehilangan anak mereka.

Hiruto dan Naruhi menatap Naruto kebingungan, untuk saat ini orang tua yang ditanyakan oleh Naruto sudah jelas berada di depan mereka dan mungkin orang tua mereka yang berada di masa depan memang mengkhawatirkan mereka.

"Kalian berdualah orang tua kami," Hiruto menjawab membalas tatapan Naruto yang terlihat seperti marah, tapi marah karena apa?

"Jangan bercanda Nak, kami berdua belum menikah," suara Naruto mulai meninggi membuat Hinata dan kedua bocah itu ketakutan, "dan kau ingin bilang kau dan adikmu datang dari masa depan? Jangan gila!" lanjut Naruto dan mulai membentak membuat Naruhi menangis ketakutan.

"Ta-tapi i-itu memang be-benar, Ayah," jawab Hiruto dengan nada gemetar dan suara yang mulai parau.

"Tunggulah di sini, mungkin sebentar lagi orang tua kalian akan menjemput kalian," dengan nada akhir yang seolah tidak bisa terbantahkan lagi Naruto menarik lengan Hinata dan menyeret gadis tersebut untuk pergi meninggalkan kedua bocah tersebut.

"Tu-tunggu Naruto," lirih Hinata mencoba menghentikan Naruto yang masih saja menariknya namun Naruto yang seolah tidak peduli tetap saja menyeretnya untuk pergi.

"Ba-bagaimana dengan mereka?" Hinata masih mencoba membujuk Naruto, ditengoknya ke belakang di mana Hiruto yang berdiri dan Naruhi yang duduk di tanah. Kedua bocah berambut pirang tersebut menangis menatapnya dan Naruto yang semakin jauh.

"Ayaaah… Bundaaa…~~~" rengekan Hiruto dan Naruhi terdengar memilukan di telinga Hinata. Gadis berambut panjang tersebut masih mencoba melepaskan tangan Naruto yang menggenggam kuat pergelangan tangannya. Bayangan kedua bocah tersebut yang sendirian di taman pada malam hari membuat air mata Hinata mendesak keluar.

"Na-Naruto…" Hinata berucap lirih, tapi pemuda di depannya hanya diam dan terus menyeretnya tapi bukan keluar taman melainkan ke sebuah pohon rindang yang jauh dari lampu taman yang mulai menyala. Naruto melepaskan kasar pegangan tangan dari pergelangan Hinata, membuat punggung gadis tersebut menabrak pohon besar di belakangnya. Rintihan sakit terdengar, namun Hinata langsung kembali menatap Naruto dalam cahaya remang tapi sekilas dia masih bisa melihat mata biru Naruto yang terlihat memerah.

"Kita sudah membahasnya tadi Hinata."

"Ta-tapi…"

"Mereka bukan anak kita, jangan membantah lagi!" bentak Naruto membuat Hinata bungkam menatap Naruto tak percaya.

Di tengah minimnya cahaya mereka masih saling menatap satu sama lain, mencoba menyelami masing-masing iris unik orang yang berada di hadapan mereka. Perlahan Naruto mendekat ke arah Hinata, menyentuhkan telapak tangannya ke batang pohon di belakang kepala Hinata, mengukung Hinata yang dengan gugup langsung menundukan kepalanya. Jarak yang terlalu dekat dan nakalnya udara yang membuat harum Naruto menyeruak memenuhi indera penciuman Hinata, melupakan rasa ketidakpercayaannya terhadap bentakan Naruto, Hinata malah sibuk menenangkan detak jantungnya yang berpacu kian cepat.

Mereka masih terdiam, sibuk dengan pikiran mereka sendiri. Hanya terdengar desau angin yang bergesakan dengan ranting dan sesekali terdengar langkah kaki dan kendaraan yang lewat di sekitar taman. Hinata semakin gugup dengan kesunyian yang terjadi, gadis berkulit putih ini sungguh takut dan malu jika jantungnya yang berdetak kencang sampai terdengar oleh Naruto. Wajah Hinata semakin panas sampai telinganya saat Naruto menunduk dan memposisikan kepalanya berada di samping Hinata, membuat napasnya yang hangat menerpa telinga Hinata yang mungkin sudah memerah.

"Apa kau ingin aku membuktikan jika mereka bukan anak kita?" bisik Naruto pelan dengan suara yang sedikit parau membuat Hinata menahan napasnya sesaat, kedua tanganya yang menggengam tali tasnya yang sebelumnya melonggar kembali mengerat.

"Apa aku pernah melakukan ini kepadamu?" Hinata tak perlu berlama-lama dalam kebingungan akan pertanyaan Naruto saat sesuatu yang hangat dan basah menjilat bagian sensitif telingannya dan kemudian mengecup yang akhirnya menjadi sebuah lumatan. Hinata memekik kecil dan bulu kuduk Hinata meremang merasakan sensasi aneh dan geli yang pertama kali ia rasakan seumur hidupnya, kedua telapak tangannya semakin erat menggenggam tali tas.

Ciuman Naruto merambat ke pipi mulus gadis yang sebelumnya telinga si gadis sudah menjadi sasarannya terlebih dahulu, membuat gadis cantik tersebut memajamkan matanya dan tubuhnya mulai bergetar pelan menerima sensasi-sensasi aneh yang ditimbulkan Naruto. Naruto masih mengecup setiap inchi wajah cantik tersebut, keningnya, kedua matanya yang terpejam hidungnya yang mancung, sampai dia berhenti sesaat, meneguk ludahnya saat melihat bibir tipis nan ranum si gadis yang sedikit terbuka untuk membantunya bernapas yang mendadak terasa sesak.

"Apa aku pernah menciummu seperti ini?" kelopak mata Hinata terbuka mendengar ucapan Naruto tapi matanya semakin membulat saat bibir Naruto sudah mengunci bibirnya. Tanpa sadar Hinata melepas tasnya yang sedari tadi di genggamnya sehingga terjatuh begitu saja di atas tanah, ciuman Naruto yang awalnya hanya menempel perlahan semakin menekan dan mulai melumat pelan bibir Hinata. Mengecap rasa manis dari bibir Hinata yang sepertinya tak kunjung habis walaupun Naruto sudah melumatnya. Tangan Naruto sudah berada di rahang Hinata dan satu tangannya lagi berada di tengkuk Hinata, meminta ciuman yang lebih dalam lagi.

"Ngghhh…" erang Hinata membuat kedua bibirnya yang terkantup terbuka dan hal itu tidak disia-siakan oleh Naruto yang lidahnya langsung menerobos masuk menjelajah setiap isi mulut Hinata, membuat gadis tersebut tersedak saat lidah Naruto semakin dalam memasuki mulutnya. Lidah Naruto bergerilya bebas, mencicipi rasa manis yang seolah tidak ada habisnya dirasakan oleh lidahnya yang kini mengajak lidah Hinata untuk bergerak bersamanya.

Napas Hinata semakin sesak, pasokan oksigen yang memenuhi paru-parunya kian menipis. Dengan tenaga yang seadanya karena tubuhnya mendadak lemas karena ulah Naruto, Hinata mencoba mendorong dada Naruto namun Naruto bergeming. Sampai Naruto sendiri yang merasakan tubuhnya membutuhkan oksigen barulah dia melepaskan pagutannya, menciptakan benang saliva tipis saat Naruto menjauhkan sedikit bibirnya dari bibir Hinata sedangkan dahinya ia tempelkan pada dahi gadis yang kini berusaha menarik oksigen sebanyak-banyaknya untuk memenuhi paru-parunya yang kosong.

"Na-Naru-ngghh…" desah Hinata saat bibir Naruto beralih menciumi leher putihnya dan perlahan turun ke bahunya yang sedikit Naruto singkap, menciumnya, melumatnya dan mengigit kecil membuat bercak kemerahan di bahunya membuat kaki Hinata terasa lemas. Naruto yang sepertinya tahu akan hal itu meletakan salah satu tangannya di pinggang Hinata agar gadis tersebut tidak merosot jatuh ke tanah.

Pemuda Namikaze tersebut kembali melumat bibir Hinata dengan tangannya yang bebas mulai melepas satu persatu kancing seragam Hinata. Dingin yang menerpa tubuh Hinata yang kancing seragamnya sudah terbuka seolah menyadarkan Hinata akan apa yang terjadi. Gadis tersebut membuka matanya yang sayu dan dengan sekuat tenaga mendorong tubuh Naruto.

Plaaaakk…!

Tubuh Hinata terjatuh ke atas tanah setelah Naruto melepaskan pelukannya dan sedikit menjauh setelah sebuah tamparan mendarat di pipi dengan tiga garis tersebut. Hinata menutup seragamnya yang terbuka, dengan tangan yang bergetar dia mengancingkan kembali seragamnya yang mengekspos pakaian dalam dan tubuhnya. Tanpa terasa mata keperakan tersebut meneteskan air tak menyangka akan tindakan pelecehan yang telah dilakukan oleh pemuda yang selama ini disukainya. Hinata memang menyukai Naruto tapi bukan berarti pemuda berambut pirang tersebut berhak untuk menyentuh tubuhnya. Tanpa mau menatap Naruto yang menunduk menyesali perbuatannya, Hinata bergegas mengambil tasnya dan berlari meninggalkan Naruto tanpa sepatah katapun.

"Aaargghh..!" Naruto memukul tanah sekuat yang ia bisa setelah Hinata berlalu darinya. Inilah tindakan terbodoh yang telah ia lakukan dari tindakan bodoh yang telah dia lakukan selama ini.

.

Suasana taman semakin sepi, tapi suara tangisan kedua bocah rambut pirang yang berada di dekat bangku taman menjadi pengisi kekosongan di sekitar taman tersebut. Hiruto mengusap keras pipinya yang dibanjiri air mata, tapi air matanya tak jua berhenti untuk keluar. Rasanya lebih menyesakan ditinggal kedua orang tuanya seperti ini daripada melihat keduanya bertengkar. Hiruto menutup wajahnya dengan tangan mungilnya menyembunyikan isak tangisnya yang sesekali keluar tanpa bisa dia cegah. Suara tangisan Naruhi membuatnya mencoba untuk menghentikan tangisannya, dengan napas yang tersengal-sengal akibat menangis, Hiruto mendekati adiknya, menggendongnya lalu duduk di bangku taman dan berusaha menenangkan tangisan adiknya.

Namun bukannya membuat tangis Naruhi berhenti, Hiruto malah kembali menangis sembari memeluk erat adiknya. Sebegitu teganya kah kedua orang tuannya meninggalkan dia dan Naruhi di malam hari di taman seperti ini? Hiruto merogoh saku celananya mengeluarkan remote dengan tombol merah di tengahnya. Sampai di sini saja kah perjalanan dia dan Naruhi di masa lalu? Di masa di mana kedua orang tuanya juga tetap tidak memperdulikannya dan adiknya? Apakah mereka harus kembali di mana tempat dan waktu mereka seharusnya berada?

Monday, July, 20th, 2025 – 06.30 PM

Tubuh tegap terbalut setelan jas mahal sedang menatap hamparan luas gemerlap kota di balik kaca kantornya. Lampu-lampu yang menyala mampu menghilangkan gemerlap cahaya bintang di atas langit malam. Tangan kanannya bergerak mengusap rambut pirang jabriknya. Semuan pertengkarannya dan sang istri membuatnya penat, sikap sang istri dan kedua anaknya yang berubah. Ada apa sebenarnya dengan keluarga kecilnya?

Terakhir yang dia tahu, dia marah atau cemburu karena semakin dekatnya hubungan ang istri dengan pria itu, pria berambut gelap yang merupakan salah satu temannya tersebut memang memendam cintai terhadap istrinya bahkan dari saat mereka masih berseragam sekolah dan dia belum menyatakan cinta terhadap gadis yang kini sudah menjadi istrinya tersebut. Bahkan saat kini dia dan istrinya sudah dikaruniai dua orang putra, pria tersebut masih terlihat begitu mengharapkan istrinya. Apakah kini istrinya telah mulai berpaling hati darinya? Ataukah dia yang kini harus melepas istrinya? Lalu bagaimana dengan kedua putranya?

"Naruto? Kau belum pulang?" pertanyaan retoris dari seseorang yang memasuki ruangannya tak mengalihkan pandangan pria tersebut, dari suara saja Naruto sudah mengenal betul sosok tersebut. Sosok seorang perempuan dengan tubuh sintal yang terbalut setelan kerja yang membuatnya terlihat seksi tersebut berjalan dengan langkah anggun mendekati Naruto dari belakang dan memeluk punggung Naruto, mencoba mencari kehangatan dan ketenangan dari tubuh tegap yang kini ia dekap.

"Ada apa Naruto? Apa ada masalah dengan rapat tadi?" Naruto lebih memilih untuk diam tanpa menanggapi ataupun melepaskan dekapan perempuan di belakangnya. Pria Namikaze tersebut lebih memilih mengambil handphone dari saku celananya. Lebih dari enam jam dia tidak menyentuh handphone hitam metaliknya yang profilnya sudah ia ubah ke mode silent semenjak ia hendak memulai rapat tadi siang. Banyaknya panggilan dari telepon rumahnya membuat pria tersebut mengerutkan kedua alisnya, sebelum dia sempat menekan tombol panggil untuk menelpon, layarnya berkedip karena ada panggilan masuk yang lagi berasal dari nomor telepon rumahnya. Memposisikan handphone tersebut di telinga kanannya, Naruto menerima panggilan telepon tersebut.

'Halo, tuan Naruto? Syukurlah akhirnya anda menjawab telepon dari saya,' suara dari seberang telepon langsung berbicara dan mendesah lega membuat Naruto semakin heran mendengarnya.

"Ada apa Jirobo?" tanya Naruto, tangan kiri yang tidak ia gunakan untuk memegang handphone memijat keningnya yang terasa pusing. Perempuan yang mendekapnyapun mulai merenggangkan pelukannya saat tahu Naruto sedang menelpon.

'A-ano, tuan. Ada kabar buruk.' Naruto berhenti memijat keningnya entah kenapa Naruto dapat merasakan hatinya langsung mencelos walapun Jirobo belum memberitahukan dengan jelas kabar buruk apa yang dimaksud olehnya.

'Tuan muda Hiruto dan Tuan Muda Naruhi, menghilang.'

Braakk…

Tanpa mempedulikan tubuhnya yang bergetar, handphonenya yang terlepas begitu saja dari genggamannya dan jatuh di atas lantai atau perempuan yang sedari tadi memeluknya limbung akibat Naruto yang langsung berbalik dan berlari keluar dari ruang kerjanya, Naruto langsung bergegas pergi meninggalkan kantornya tanpa mempedulikan apapun.

.

.

.

Pojokan Author

Aduh, Maaf sekali untuk keterlambatannya dan juga mungkin kegaringan serta semakin bingung di chapter ini. Na tau kok ini hutang Na dan ini udah jadi tanggung jawab Na buat nyelesein apa yang sudah Na buat dan ampun DJ, Na emang susah bikin adegan yang gimana gitu. ,

Berhubung kemaren banyak yang nyalahin Naruto, Na juga ngebuat yang 'salah' dari Hinata, Siapakah Pria dan Perempuan tersebut? Hahaha

Udah, Hiruto… mendingan pencet tombol merahnya terus pulang aja deh biar ceritanya cepet selesai! #digaplok

Dan Wow! Terima kasih banyak untuk partisipasinya. Sekali lagi terima kasih, untuk beberapa pertanyaan ada yang Na jawab di PM dan ada yang gak Na jawab demi cerita. Hehe

Dan untuk Rorou, ini kak Na kasih obat buat kamu, cepet sembuh ya sayang. Muach.. muach.. :*

Kritik, saran dan pertanyaan akan Na tunggu dengan senang hati.

Thanks a lot to: Fu-Chan NHL4e-KeepStright,Kazotu21, HayaaShigure-kun,Hanna Yuuki,Faris Shika Nara,StrawberrySquash,Zecka S. B. Fujioka,Gulliet,Cicikun Syeren,ichiimaruu,Paris Violette,SoraYa UeHara,CryssC,livylaval,Wisnu Damayanti,uzumaki julianti-san,K, Yourin Yo,Ethel Star,aeni hibiki,NaruGankster,Nataka-san,Yanuar No Baka Dobe,setiadimuhammad,Lulukey Ulhalulu, Benafill McDeemone,Kuro Tenma,Delfiana Dei,Mira Misawaki,hanazonorin444,bebek cengeng,Dewa,Jean Cosz,nyanmaru,Hany-chan DHA E3,Naruhina Luna,Satoshi 'Leo' Raiden,Kyuunata,Riu Makamoto,Guest, Second name,Shingo Uryuu,Eiji Namikaze,Ramadi HLW, dan Nisa.
*mohon maaf jika ada kesalahan dalam penulisan nama.

Sekali lagi terima kasih sebesar-besarnya karena riview dan PM kalian sungguh sangat membantu.

Kritik, saran dan pertanyaan akan Na tunggu dengan senang hati.

"We are NHL, We are Family, Keep Stay Cool."

Saturday, June 08th, 2013

Na Fourthok'og