Monday, July, 20th, 2025 – 06.58 PM

Jalanan kota mulai ramai dengan hilir mudik para pekerja yang hendak pulang ke rumah mereka masing-masing. Lampu-lampu toko menyala berwarna-warni mencoba menarik minat orang-orang yang berjalan melewati toko tersebut. Mobil berderet berdesakan mengantri giliran mereka untuk bisa sekedar berjalan walau hanya satu meter saja, membunyikan klakson kendaraan yg dikendarai dengan tidak beraturan saat rasa kesabaran mereka telah terkikis habis yang mungkin bisa menjadi penghibur untuk mereka tapi malah menjadi penyulut emosi untuk orang lain. Menjelang malam hari di musim panas tak ada bedanya dengan siang hari, rasa panas dan gerah membuat mereka ingin segera sampai di rumah masing-masing, membersihkan badan dan meminum segelas lemon dingin bersama keluarga terlihat sungguh lebih nikmat dibandingkan terjebak macet di jalan.

Naruto kembali membunyikan klakson mobil sedan hitam metalik keluaran terbaru yang sedang ia kendarai, ini sudah hampir setengah jam dia terjebak di tengah kemacetan jalanan kota. Kalau boleh dia ingin sekali menerjang kemacetan ini dan menabrak semua kendaraan yang menghalanginnya tapi bukannya dia akan sampai di rumah malah dapat dipastikan dia akan sampai terlebih dahulu di kantor polisi atau mungkin Instalasi Gawat Darurat rumah sakit jika dia melakukan hal seperti itu. Dengan perlahan mobil mulai melaju lamat-lamat dan Naruto tidak menyia-nyiakannya untuk mulai menjalankan mobilnya. Di sebuah tikungan kecil Naruto membelokan mobilnya ke gang sempit yang hanya bisa dilewati mobilnya, mengambil jalan pintas agar cepat sampai di kediamannya.

Sesampainya di depan gerbang kediamannya Naruto melirik para penjaga rumahnya yang menunduk tanpa mau memberikan senyum penuh hormat seperti biasanya, Naruto tak ingin mempermasalahkan hal sepele seperti itu karena dia tahu penyebabnya dan hal itu semakin membuat rasa nyeri di dadanya. Menghentikan laju mobilnya yang pelan tepat di depan pintu utama rumah besarnya Naruto langsung berlari masuk tanpa mau repot menutup pintu mobilnya dan lebih memilih membuka pintu besar rumahnya.

"Dimana, Hinata?" tanya Naruto tak memberi kesempatan kepada beberapa pelayan yang hendak menyambut kedatangannya.

"Nyonya… Nyonya Hinata masih pingsan di kamar tuan muda Hiruto, Tuan," jawab salah satu pelayan dengan gugup.

"Ja-jadi mereka berdua benar-benar…" Naruto merasakan sesuatu yang menyakitkan mengganjal di tenggorokannya menghentikan ucapannya.

"I-iya, Tuan,"

Kaki jenjang terbalut sepatu berkelas milik Naruto menimbulkan suara keras saat langkah kaki lebarnya bergerak cepat menaiki tangga rumahnya menuju kamar Hiruto. Sesampainya di depan kamar Hiruto, Naruto tidak perlu repot membuka pintu kamar anak sulungnya karena pintunya sudah terbuka dan di dalam kamar Hiruto, Naruto hanya mendapati sesosok pria berambut cokelat panjang sedang menghadap jendela, sosok yang membelakanginya tersebut sedang berbicara serius dengan orang yang entah siapa melalui telepon genggamnya.

"Hn, aku sendiri masih belum percaya jika Hiruto bisa menggunakannya," samar-samar Naruto dapat mendengarnya.

"Iya, aku paham. Aku tidak ingin kedua keponakanku terjebak di waktu yang tidak diketahui." Naruto terkejut mendengarnya, apa yang dimaksud adalah Hiruto dan Naruhi?

"Neji," panggil Naruto saat sosok pria tersebut memasukan telepon genggam kedalam saku celananya.

"Kau sudah pulang?" Neji menengokkan sedikit wajahnya sejajar dengan bahu kanannya, melirik Naruto yang berada di belakangnya.

"Dimana Hinata?"

"Aku baru saja memindahkannya ke kamar kalian." Neji kembali memandang keluar jendela.

"Kau memindahkannya karena kau tahu aku pulang? Apa maksud semua ini? Dimana sebenarnya Hiruto dan Naruhi? Apa ini ada hubunganya dengan alat aneh itu?" cecar Naruto, tangan kanannya menunjuk alat yang memiliki layar dan keyboard layaknya sebuah laptop dengan alat seperti pemancar yang berputar searah dengan jarum jam, kepalanya mulai berdenyut sakit.

"Haaahh…" desah Neji, hal yang tidak pernah dia lakukan. Kedua tangannya ia masukan kedalam saku celananya. Ini hal yang paling tersulit dalam hidupnya.

.

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

Parent? © Na Fourthok'og

.

.

.

Saturday, July, 20th , 2013 – 06.50 PM.

Angin malam pada musim panas tidaklah terlalu dingin, suasana taman sudah sepi tapi kedua anak kecil berambut pirang tersebut masih duduk di salah satu bangku taman. Bayi berusia sepuluh bulan yang sebelumnya menangis keras sudah mulai tenang di pangkuan kakaknya, seolah lupa dengan apa yang sebelumnya sudah membuatnya menangis keras, bayi tampan itu terlihat bermain dengan baju biru kakaknya dan menusuk-nusuk dada kakaknya dengan telunjuk mungilnya mencoba mendapatkan perhatian dari kakaknya tapi Hiruto masih bergeming dan menatap datar arah kepergian kedua orang tuanya di masa lalu.

Mata keperakan Hiruto terpejam rapat seolah lelah mengharapkan kedua orang yang dia panggil ayah dan bunda itu akan kembali kepadanya dan Naruhi. Rasa sakit menjalar di hatinya, sakit yang sama ketika kedua orang tuanya bertengkar hebat di hadapannya dan Naruhi kemudian meninggalkan mereka berdua yang sedang menangis begitu saja. Rasa yang sama, sama-sama menyakitkan untuk diingat olehnya.

Sebuah tangan kecil yang agak dingin menyentuh pipi kanan Hiruto membuatnya mengangkat kelopak matanya dan beradu pandang dengan iris keperakan yang sama persis dengannya. Naruhi hanya sedikit memiringkan kepalanya menatap kakaknya sebelum akhirnya dia tersenyum lebar dan berakhir dengan tawa yang pecah saat dia memukul-mukul pelan kedua pipi Hiruto dengan kedua telapak tangannya dan menekan pipi kakaknya membuat wajah Hiruto terlihat lucu dengan bibir yang merucut paksa karena ulah Naruhi.

"Kau kedinginan?" Hiruto menyentuh pelan telapak mungil adiknya yang berada di salah satu pipinya, sedangkan tangan satunya masih berada di punggung Naruhi, menjaga agar adiknya tidak terjungkal dari pangkuannya.

"Apa kau lapar?" Hiruto melepaskan tangannya yang menyentuh telapak mungil adiknya dan mulai merogoh salah satu kantong celananya mencari sesuatu yang dia bawa dari masa depan, sebuah remote yang hanya memiliki tombol merah di tengahnya. Dihembuskannya napas pelan sebelum kembali menatap adiknya yang silih berganti menatapnya dan remote yang ia genggam.

"Sepertinya sudah saatnya kita pulang, mungkin Ayah dan Bunda di sana sangat mengkhawatirkan kita atau mungkin tidak," Hiruto memaksakan seulas senyum di wajah mungilnya, "setidaknya kita sudah merasakan hal yang meyenangkan hari ini," lanjutnya lirih, mengusap-usap punggung Naruhi dengan sayang.

"Siap?" tanya Hiruto kepada adiknya yang hanya dijawab dengan anggukkan lucu dari Naruhi.

"Kita pulang." Hiruto dan Naruhi memejamkan matanya setelah Hiruto menekan tombol merah tersebut membuat gelap di sekitarnya. Tapi ada hal aneh yang dirasakan Hiruto, badannya tidak merasakan apapun yang menariknya sama seperti saat dia pertama kali memasuki portal waktu. Hiruto kembali membuka matanya teringat tentang sebuah lubang hitam yang mucul di kamarnya sebelum akhirnya dia mendarat di dunia ini. Mata keperakannya menjelajah sekitarnya mencari lubang hitam yang seharusnya muncul setelah dia menekan tombol merah tersebut. Hiruto yakin sudah menekannya tapi kenapa lubang hitam itu tidak ada? Hiruto kembali menekan tombol merah remote yang digenggamnya kali ini dengan sedikit panik. Tapi lubang hitam yang seharusnya mengantarkannya pulang ke tempatnya seharusnya berada tak jua muncul.

Hati Hiruto menciut, dieratkannya pelukan pada Naruhi yang bingung melihat ekspresi kakaknya. Hiruto menatap remote tersebut dan membolak-balikannya dengan bingung. Bukankah remote ini yang akan mengembalikannya ke tempat asalnya? Apa remote ini rusak ketika dia terjatuh tadi siang? Lalu bagaimana caranya untuk pulang? Hiruto meneguk ludahnya saat pertanyaan terakhir tersebut melintas di pikirannya. Apa ini artinya mereka berdua tidak akan bisa pulang?

Wajah Hiruto terlihat pias, ditatapnya Naruhi yang masih diam dan terlihat kebingungan melihat wajah ketakutan Hiruto. Sebuah perasaan menyesal muncul di hati Hiruto karena turut membawa Naruhi kedalam situasi seperti ini.

"Maaf" tangan Hiruto yang menggenggam remote beralih ke punggung Naruhi, memeluk adiknya dengan erat.

"A-aku… takut," Hiruto terisak pelan membuat adiknya yang mendengar isakannya turut menangis dalam pelukan Hiruto.

"Ayah…" isak Hiruto memanggil orang tuanya.

"Bunda… Bunda… Bunda… aku…"

"Ha'i, Bunda di sini," suara lembut yang mengalun memotong isakan Hiruto. Bocah berusia lima tahun itu mengangkat wajahnya cepat dan mendapati gadis bersurai indigo panjang sedang membungkuk mensejajarkan wajahnya yang tersenyum lembut dengan wajah Hiruto yang terkejut dan berurai air mata. Naruhi menengokkan wajahnya dan dengan cepat merenggangkan kedua tangannya ke arah Hinata. Hinata yang mengerti segera mengambil Naruhi ke dalam pelukannya dan duduk di samping Hiruto yang masih menatap tidak percaya ke arahnya.

"Maaf, tadi Bunda membeli kue Dango sebentar. Kalian pasti lapar kan?" Hinata menunjukan salah satu tangannya yang berada di punggung Naruhi, tangan yang membawa plastik putih berisi kue Dango yang ia maksud. Bibir Hiruto bergetar, tangisnya meledak. Diterjangnya tubuh Hinata dari samping, memeluknya erat bersama dengan Naruhi.

"A-aku takut, Bunda!" seru Hiruto di sela-sela tangisnya. Hinata menepuk pelan kepala pirang Hiruto dengan tangannya yang bebas. Setetes air mata jatuh tanpa bisa Hinata hindari, perasaan menyesal menyeruak karena telah membuat kedua anak-anak ini ketakutan. Beribu permintaan maaf Hinata ucapkan dalam mereka sadari sosok jangkung berdiri tertutupi bayangan gelap di salah satu pohon rindang tak jauh dari mereka. Sosok yang beberapa kali menjedukan kepala bagian belakangnya dan kepalan tangannya yang bersandar di pohon, menyesali apa yang telah dia perbuat hanya karena merasa kesal terhadap pandangan mencela orang-orang yang menatapnya dan Hinata bersama dua anak-anak yang seperti perpaduan dari dirinya dan Hinata.

"Maaf," gumam Naruto pelan sarat dengan penyesalan yang menyeruak di hatinya.

.

Hinata sedikit kesulitan saat berjalan keluar dari taman karena dia harus menggendong Naruhi serta membawa tas sekolahnya dan kantong plastik besar berisi belanjaan sewaktu di mini market sembari menggenggam tangan Hiruto. Setelah Hiruto tenang, mereka memakan kue Dango yang dibeli Hinata dan tak lama mereka memutuskan untuk pulang. Hiruto melirik Hinata yang menggenggam tangan kecilnya dengan tidak yakin, Namikaze muda tersebut tahu jika gadis di sampingnya sedang kesulitan.

"Bunda, boleh aku bantu membawakan tas sekolah milik Bunda?" tawar Hiruto yang langsung mengambil tas milik Hinata dari genggaman gadis berdarah Hyūga tersebut sebelum Hinata menjawab tawarannya. Tas milik Hinata yang terlihat besar di tubuh Hiruto itu di gendong di bahu kanannya, setelah itu tangan kanannya terangkat untuk menggenggam tangan kiri Hinata yang membawa plastik besar belajaan yang berisi keperluan Naruhi. Setidaknya dengan begini tas milik Hinata yang berada di bahu mungil Hiruto tidak akan terjatuh dan Hinata tidak akan kerepotan antara membawa plastik belajaan atau menggenggam tangan Hiruto. Hinata dibuat takjub dengan keceradasan anak berumur lima tahun yang berada di sampingnya, mengingatkannya kepada kakak sepupu lelakinya sewaktu kecil hanya saja Hiruto memiliki surai yang berbeda warna.

"Apa Naruhi sudah tidur?" Hiruto bertanya, sekaligus memecah keheningan di antara mereka dan hanya dijawab gumaman 'iya' dari Hinata.

"Pasti dia sangat kelelahan, sampai dia tertidur sebelum meminum susunya," Hiruto berceloteh diselingi kekehan kecil membuat Hinata mau tak mau mengangkat sudut-sudut bibirnya ke atas.

"Kau sangat dekat dengan adikmu?" Hinata bertanya pelan.

"Ya, bisa dibilang begitu. Jika aku tidak sedang di sekolah kami selalu menghabiskan waktu bersama."

"Lalu… bagaimana dengan orang tua kalian? Ma-maksudku, aku dan Na-Naru-to?" Hinata dengan hati-hati bertanya walaupun dia tidak bisa menghentikan wajahnya yang tiba-tiba bersemu saat menyebut nama Naruto dan dirinya sebagai orang tua dari kedua anak pirang tersebut.

"Ayah dan Bunda selalu sibuk bekerja, kadang kami hanya bertemu saat sarapan kalau kami beruntung kami bisa bertemu Ayah atau Bunda sebelum tidur." Hiruto menatap lurus ke depan dan tersenyum kecil. Hinata terkesiap menyadari tatapan Hiruto yang terlihat kesepian, sedikit mengingatkannya ketika ibunya meninggal saat dia masih berumur enam tahun.

"Ngomong-ngomong kita mau pulang kemana? Apa ke mansion Hyūga, Bunda?" Hiruto bertanya setelah dia menyadari bahwa rumah yang selama ini ditempatinya belum ada di waktu yang sekarang dia berada. Hinata menghentikan langkahnya, mungkin akan terjadi kegemparan di mansion Hyūga jika dia datang dengan membawa dua anak-anak beriris keperakan khas Hyūga. Jadi sudah dipastikan dia tidak akan membawa Hiruto dan Naruhi ke mansion Hyūga. Tapi tunggu, Hiruto tahu tentang tempat tinggal Hinata? Hinata mengarahkan pandangannya ke bawah ke arah Hiruto yang menatapnya penuh ingin tahu.

"Mu-mungkin kita akan pulang ke apartemenku," jawab Hinata lirih dan mendapat binar mata senang dari Hiruto. Setidaknya jika berada di apartemen miliknya, Hinata akan dengan mudah meminta izin untuk tidak pulang.

"Waah.. ke apartemen hadiah ulang tahun Bunda yang ke enam belas dari Hiashi-Ojisama? Aku sudah lama tidak pergi ke sana. Terakhir kali kita ke sana saat ulang tahun Ayah tahun lalu dan pada saat itu Bunda bilang kalau sebentar lagi aku akan memiliki adik." Hiruto tertawa senang mengingat keharmonisan kedua orang tuanya sebelum keduanya sama-sama sibuk dan suka bertengkar seperti sekarang.

Hinata melebarkan kedua mata keperakannya tak percaya dengan apa yang sudah diucapkan Hiruto. Bocah berusia lima tahun ini tahu tentang apartemen hadiah dari ayahnya tahun lalu dan tahu nama ayahnya. Jujur Hinata masih sedikit tidak percaya jika anak-anak ini adalah anaknya yang datang dari masa depan. Tapi mendengar beberapa fakta yang diucapkan anak kecil di sampingnya yang bahkan mungkin hanya beberapa orang yang tahu tentang hadiah ulang tahun tersebut, mau tidak mau membuat Hinata mempercayai jika mereka memang anak-anaknya. Tapi bagaimana caranya mereka bisa datang ke masa lalu akan Hinata tanya secara perlahan. Untuk saat ini dia harus segera sampai di apartemennya sebelum malam semakin larut untuk mengistirahatkan tubuhnya dari hari yang terasa panjang ini.

.

Naruto berjalan pelan tanpa mau melepaskan pandangannya dari sesosok yang sedang menggendong balita dan anak berusia lima tahun yang sedang menggandeng tangan kiri gadis tersebut yang membawa plastik besar dalam genggamannya. Sejujurnya dia ingin sekali mendekat dan membantu gadis berambut panjang yang sebelumnya terlihat sangat kesulitan itu. Tapi ada ketakutan jika dia hanya akan mendapatkan tatapan benci dari gadis dan anak kecil tersebut setelah apa yang telah dia lakukan kepada mereka bertiga sore tadi.

Jadilah kini Naruto yang hanya bisa mengikuti mereka bertiga dari belakang. Sampai akhirnya dia berada di depan gedung yang menjulang tinggi di hadapannya dan dapat dilihatnya Hinata yang berjalan memasuki gedung tersebut. Naruto tahu betul jika gedung besar di depannya adalah apartemen tapi dia tidak tahu jika Hinata memiliki sebuah apartemen di gedung yang berada di depannya saat ini. Menciptakan jarak yang aman, Naruto menunggu sampai dilihatnya Hinata memasuki sebuah lift.

Naruto berjalan tenang karena tidak ingin menimbulkan kecurigaan jika saat ini dia sedang mengikuti seorang gadis yang membawa dua anak kecil bersamanya. Naruto mengadah untuk melihat warna merah di angka sembilan menunjukan lantai yang dituju oleh gadis yang sebelumnya masuk ke dalam lift tersebut. Setelahnya Naruto segera memasuk lift kosong yang berada di sebelahnya dan memencet angka yang sama. Sesampainya di lantai sembilan pintu lift yang membawa Naruto terbuka, tapi naruto tak langsung melangkahkan kakinya keluar. Dia hanya terdiam beberapa saat sampai pintu lift yang akan kembali menutup membuatnya bergegas keluar dari benda berbentuk kotak tersebut.

Naruto melihat ke kirinya dan mendapati gadis yang dia ikuti sedang membuka pintu salah satu kamar yang Naruto yakini itu adalah kamar milik Hinata. Hinata mengambil plastik belanjaannya yang sebelumnya tergeletak di lantai saat dia membuka pintu, perlahan Hinata menengokkan wajahnya ke arah Naruto dan hal itu membuat Naruto gelagapan dan dengan segera memasuki pintu lift yang kembali terbuka membuat orang yang berada di dalam lift tersebut terkejut.

"Ma-maaf, saya sedang mencari kamar Hyūga Hinata." Naruto menguntuk dalam hati atas kebodohannya. Kenapa dia malah memberitahu tujuannya kepada orang yang tidak ia kenal?

"Hyūga? Dia ada di kamar nomor 234," jawab pria paruh baya berambut coklat yang telah dibuat terkejut oleh Naruto.

"Terima kasih dan… maaf," kata Naruto dan sedikit membungkukkan tubuhnya. Pria tersebut hanya membalas seadanya sebelum dia keluar dari lift dan berjalan menuju kamarnya. Saat Naruto berjalan menuju kamar Hinata dia melewati pria yang telah memberitahu nomor kamar Hinata ketika pria tersebut sedang membuka pintu kamarnya dan masuk ke dalam kamarnya. Naruto menghela napas lega, setidaknya dia tidak dicurigai oleh pria tersebut.

Sesampainya di depan kamar Hinata, Naruto hanya terpaku memandang pintu dengan sebuah nomor 234 terpasang di pintu bercat putih gading tersebut. Tangan berkulit tan Naruto terjulur untuk menyentuh bel yang berada di samping pintu, tapi telunjuknya hanya tergantung di udara saat telunjuknya hanya tinggal beberapa senti lagi menyentuh tombol bel tersebut.

"Sudahlah," desah Naruto sebelum dia menarik kembali tangannya dan berbalik badan berjalan menjauh dari kamar apartemen milik Hinata. Naruto kembali mendesah saat dia memencet tombol lift, selama menunggu sampai pintu lift terbuka Naruto masih mengarahkan pandangan mata birunya ke arah kamar Hinata.

"Hiruto, Naruhi… Hinata… maaf," gumam Naruto lirih sangat lirih. Selang beberapa menit akhirnya pintu lift terbuka dan Naruto segera melangkahkan kakinya untuk masuk tanpa menyadari ada seseorang gadis yang keluar dari kamar 234 melihatnya tepat saat Naruto memasuki lift.

'Kenapa Naruto? Kenapa begini?'

Monday, July, 20th, 2025 – 19.10 PM

Kelopak mata yang terpejam perlahan terbuka menampilkan sepasang iris keperakan khas milik keluarganya. Tangan kanannya terangkat dan meletakkannya dia atas keningnya yang tertutupi poni bersurai indigo, kepalanya terasa berdenyut-denyut mengingat mimpi yang baru saja ia alami. Entah apa mimpi itu tapi yang Hinata ingat adalah dia yang kembali pada masa sekolah dulu dan Naruto yang mendorongnya sehingga tubuhnya menabrak pohon besar, menciumnya dan hampir menyentuhnya karena mempersalahkan kedatangan dua orang anak berambut pirang

Mata Hinata yang terlihat bengkak hampir saja terpejam lagi tapi langsung kembali terbuka saat mengingat tentang dua orang anak berambut pirang. Kepala Hinata semakin berdenyut sakit saat dia bangun dan mendudukan tubuhnya, menatap sekitarnya Hinata tahu ini adalah kamarnya dan kamar Naruto. Hinata terdiam sesaat menetralisirkan rasa sakit di kepalanya sampai suara gaduh dari kamar di sampingnya membuat Hinata segera menurunkan kakinya dari ranjang dan segera melangkah menuju asal suara keributan yang berada di kamar anak sulungnya mengabaikan rasa pusingnya.

Dari ambang pintu kamar yang tak tertutup Hinata melihat pria berambut pirang jabrik yang sedang mencengkram kerah baju pria berambut cokelat panjang dengan penuh amarah. Tubuh pria berambut pirang terlihat bergetar menahan emosinya yang sudah mencapai puncak kepalanya, tatapan tajam mata birunya tertuju pada mata tegas keperakan yang balas menatapnya tanpa takut.

"Kau gila, Neji!" geram Naruto penuh penekanan.

"Anakku yang paling besar baru berumur lima tahun dan kau mengenalkannya kepada alat bodoh yang membawa mereka ke masa lalu atau masa depan itu?! Apa kau tidak pernah memikirkan konsenkuesinya, hah?! Bagaimana jika mereka tidak bisa kembali?!" teriak Naruto di depan Neji, cengkramannya pada kerah Neji semakin kuat dan mendorong tubuh Neji mebentur dinding kamar Hiruto.

"A-a-apa maksudnya… ini?" suara bergetar dari arah pintu mengalihkan perhatian Naruto dan Neji mendapati Hinata yang terlihat sangat pucat dan kacau. Tubuh Naruto semakin bergetar melihat keadaan istrinya dan kembali menatap sengit ke arah Neji yang masih memperhatikan Hinata.

"Cih!" Naruto mendorong tubuh Neji dan melepaskan cengkraman pada kerah Neji kemudian melangkah keluar kamar Hiruto melewati tubuh ringkih Hinata tanpa kata, kedua tangan Naruto terkepal kuat. Hinata menatap punggung suaminya yang semakin jauh dari jangkauannya. Tubuh Hinata merosot jatuh terduduk di ambang pintu, tangisnya pecah dan menjerit mengungkapkan isi hatinya yang terdengar memilukan. Neji menunduk menatap kosong, mencoba mengabaikan tangis dan jeritan Hinata.

'Kenapa Naruto? Kenapa begini?'

Naruto semakin mengepalkan telapak tangannya saat telinganya mendengar tangis dan jeritan Hinata. Kakinya menuruni tangga lantai dua, baru setengah dia menuruni tangga Naruto merasakan kakinya sudah tidak kuat lagi melangkah dan dia terduduk menyenderkan kepalanya pada besi yang berada di sisi tangga. Tetesan air jatuh dari mata biru Naruto tanpa bisa ditahan lagi olehnya.

"Hiruto, Naruhi… Hinata… maaf,"

.

.

.

Setelah sekian lama akhirnya bisa juga melanjutkan mengetik cerita ini dan ini datar sekali sepertinya. Mohon maaf yang sebesar-besarnya akan keterlambatannya. Maaf banget, kesibukan di dunia nyata cukup mencekik.

Tadinya mau langsung namatin ini fic saat Hiruto memencet tombol remote setelah itu, bye bye masa lalu. Tapi kok malah gak ada ide buat nyeleseinnya. Jadilah fic ini tetap berlanjut, tapi tidak menutup kemungkinan fic ini bisa ditamatkan cepat atau lambat. Atau mungkin discontinued. Syalalalalalaaaa *takbertanggungjawab

Ada yang sadar gak ini udah chapter empat tapi masih hari yang sama dan belum pindah ke hari lain. Kalau MISALNYA, Na mau buat sampe liburan musim panas berakhir yang kira-kira sekitar satu bulan dikali empat chapter itu berapa chapter nantinya dan berapa tahun bakal tamatnya? Whoooaaaa….. yah, kemungkinan jika seperti itu akan ada yang diskip biar cepet beres. Lol

Apa di chap ini sudah ada yang memberikan sedikit jawaban dari beberapa pertanyaan? Ting ting ting #kedip2
Oh iya, kayaknya banyak yang OOC yah? Apalagi Hinata yang sampe menjerit seriosa begitu. Apa Cuma perasaannya Na aja. Anggap aja wajar deh seorang ibu yang terkejut dua kali dalam sehari, udah anaknya ilang baru bangun dari pingsan denger anaknya ada di masa entah berantah. Hahaha

Thanks for: Guest, Fajar Jabrik, Mirable, Naruhime Azura, Waraney, Delfiana Dei, Nirina-ne Bellanesia, ArisaKinoshita0, Chimunk, amexki chan , hanazonorin444 , orchideeumi, HyuNami NaruNata, Ramadi HLW, Benafill McDeemone, Second Name, lawliet uzumakie, NaruGankster, Yourin Yo, Kurarar, K, ZF-Kun, Cakalele, Nara aowie, Naruhina Luna, Riu Makamoto, Hina chan, Wirna, DindaHyuga, Kuro Tenma, elisialorento, MiMeNyan, y , , Minato namikaze kafabih, versetty-kun, kezia, minnahime, safira. , Tanigawa Rizumi no Sari-chan, yulia chan, Kyoanggita, Yuki no Ame, ujhethejamers, .566, nn, NamikaMina, amu, Gorm Speir, angga, Adinda Syifa namikaze, Anisa, Dara-chan, Deva dan Ricky.
*mohon maaf jika ada kesalahan dalam penulisan nama.

Sekali lagi terima kasih sebesar-besarnya karena riview dan PM kalian sungguh sangat membantu.

Kritik, saran dan pertanyaan akan Na tunggu dengan senang hati.

Sekali lagi, maaf yang sebesar-besarnya dan….

Terima kasih banyak…*lambai sapu tangan

We are NHLs, We are Family, Keep Stay Cool!

October 11th, 2013

Na Fourthok'og