# GLOOMY #

Chapter2: Yami No Uta

Dislaimer:

Shingeki no Kyojin©Isayama Hajime

Gloomy©Kim Victoria

Genre:

Suspense, Horror, Romance

Rating: M (untuk jaga-jaga, karena ada beberapa kata yang tak pantas)

.

.

.

Don't Like? Don't Read!

.

.

.

A/N: Ketemu lagi dengan saya! Author ngak jelas ini! #harlemshake

Di chapter dua ini saya loncat lagu. Kenapa? Karena ada suatu perkara dimana saya mau melebih dahulukan lagu ini untuk jadi fic sebelum feel saya hilang. Ditambah saya benar-benar "sempat" berkunjung ke lokasi yang cocok jadi latar fic di chap dua ini, dan di sertai suapan film horor yang saya tonton. Munculah ide gila ini.

Ekhem, yasudahlah maaf kalau ada typos ya... langsung saja, enjoy reading please!

.

.

.


.

=Tracklist Two: Yami No Uta By Kalafina=

.


Suatu ketika, hiduplah seorang wanita...

Di kota Sina, tahun 1866...

Sebut namanya Hanji Zoe, seorang wanita berdarah Prancis...

Saat itu dia tengah mengandung, dan mengidap...

Kelainan jiwa...

.

Para dokter di rumah sakit jiwa sudah angkat tangan akan keadaan pasien yang satu ini. Bukan karena tidak bisa menyembuhkan atau apa, tapi...

Pasien satu ini sangat berbahaya...

.

Entah sengaja atau tidak salah satu dokter membuat wanita gila itu jadi keguguran dengan memberinya dosisi obat yang berlebihan...

Dan kau tau apa yang terjadi selanjutnya?

Terlalu cepat untuk memberi taumu sekarang...


"Huh? Terlalu cepat apanya? Cepat beritau aku, jangan buat aku penasaran Armin!" bentak seorang pemuda ber-iris jade pada pemuda blonde dihadapannya. "Sabar Eren, lagi pula aku cuma tau sampai situ saja, di dalam buku tidak di ceritakan lebih lanjut lagi, hanya sampai situ. Sebenarnya aku juga penasaran apa yang terjadi selanjutnya." Ucap pemuda blonde yang di panggil Armin itu.

"Kau serius Armin? Ck, tidak seru." Pemuda ber-iris jade atau Eren, Eren Jaeger mengucutkan bibirnya merasa kesal. Bagaimana tidak disaat kau mendengarkan sebuah cerita yang -sangat- menarik, eh ternyata cerita itu bersambung bahkan tidak ada lanjutannya sampai kapan pun. Dan bisa juga dikatakan dengan "Discontinue".

"Maaf Eren, serius cerita ini tidak ada lanjutannya lagi. Saat aku tanya pada kakekku apa lanjutan cerita ini dia juga mengatakan tidak tau." Armin membolak-balikkan halaman buku tua di tanganya perlahan tapi pasti. Meminimalisir terjadinya kerusakan pada buku tipis yang tiap lembarnya telah berwarna coklat itu. Ada sebuah halaman kosong setelah kalimat akhir cerita itu, Armin menjerengit heran.

Eren memperhatikan kegiatan Armin dengan seksama. "Benar-benar tidak ada lanjutannya ya?" tanyanya lagi. Armin mengangguk mengiyakan. Eren menghela nafas di arahkan pandanganya pada luar jendela. Memandang langit.

Pelajaran hari ini telah usai dan langit telah mulai menjingga. Tapi dia masih ingin disekolah tepatnya menunggu seseorang. Dan sungguh baik, teman blondenya satu ini mau menemaninya di kelas yang sudah kosong ini dia jadi tidak kesepian.

Hening sesaat, sampai "Armin, apa Mikasa sudah pulang?" tanya Eren, Mikasa adalah kakak tiri Eren tapi Eren tetap menghormati dan menyanyangi kakak tirinya itu bagai saudara kandung.

"Sudah, tadi dia berpapasan denganku di loker, katanya dia pulang duluan."

"Oh."

Hening lagi...

"Sudah dulu ya Eren, aku pulang duluan." Armin mengepak semua barang-barangnya –bukunya- memasukkannya kedalam tas dan mulai beranjak pergi. "Eh, Armin! Jangan pulang dulu ya, please~" minta Eren.

"Sekarang sudah jam 6.14pm Eren, lagi pula sepertinya dia akan segera datang." Armin tersenyum lembut kearah Eren dan mulai melangkah pergi lagi. "Sampai jumpa besok." Ucap Armin sebelum menghilang di balik pintu kelas.

Eren cengo, oh iya. Diliriknya jam tangannya. Semenit lagi dia pasti datang.

Siapa?

Ho... dia pasti menunggu kekasihnya yang ca-

BRAKK

"Eren."

Ralat bukan cantik, tapi tampan.

Eren miris melihat keadaan pintu kelasnya sekarang yang habis di tendang guru merangkap kekasihnya itu. Rasanya pasti sakit?

"Ya." Eren menjawab panggilan namanya, tersenyum cerah melihat kekasihnya berjalan mendekatinya dan duduk di bangku yang ada di depannya. "Apa yang kau lakukan disini, cepat pulang."

"Saya menunggu anda sir Rivaille!" Eren tersenyum lagi sambil menopang dagunya dengan kedua tangan. Matanya menatap lurus kehadapan guru bermanik gelap di hadapannya. Memancarkan ketegasan dan keindahan tersendiri bagi Eren.

"Tak usah menungguku bocah, kau ini bodoh atau apa?" ucap tajam guru minim tinggi itu –Rivaille namanya- bangun dari duduknya dan beranjak pergi. "Ayo pulang."

"Yes Sir!" seru Eren senang, walau perkataan kekasihnya tajam tapi sebenarnya dia peduli dengan Eren. Eren merasakan sebuah tangan mendekap tangan kirinya dan Eren tau pasti tangan itu milik siapa. Wajah Eren bersemu merah saat menginggat semua hal yang pernah di lakukannya dengan guru berwajah datar ini. terasa seperti mimpi memang, tapi ini lah kenyataannya. Eren –sangat- bahagia.

Untuk saat ini...


Tidak terasa bulan-bulan ini telah memasuki musin gugur. Eren mengertakan dekapan jaket dan syal yang melilit tubuhnya. Uuff.. udara kini terlalu dingin.

Kini Eren tengah dalam perjalanan pulang dari sekolah. Besok pagi-pagi sekali walau sebenarnya dia malas karena besok hari sabtu, dia harus bersiap untuk pergi –kencan- berdua dengan Rivaille. Sebenarnya dia tidak tau tempat apa yang akan di tuju untuk kencan besok, Rivaille belum memberi taunya.

Hanya Armin dan Mikasa yang mengetahui hubungannya ini dengan Rivaille. Walau sebenarnya Mikasa menolaknya tapi agaknya dia luluh dengan bujukan Eren dan setelah melihat bagaimana –bahagianya- Eren bersama Rivaille. Mikasa pun menyetujuinya dan merahasiakan hubungan Eren –walau tak iklas-

Jujur ini kencan pertama Eren dengan Rivaille selama satu tahun genap mereka menjalin hubungan. Mau bagaimana lagi Rivaille itu seorang guru dan juga pengusaha jadi pasti sibuk. Begitu pula Eren, ia adalah siswa SMA tahun akhir dan pasti dijejali berbagai soal latihan untuk ujian akhir oleh guru-guru.

Intinya mereka jarang bisa meluangkan waktu untuk satu sama lain.

Tapi, besok sekolah libur dan Rivaille kebetulan juga sedang senggang jadi. Rivaille mangajak Eren untuk ekhem kencan, walau tidak secara langsung.

Tanpa tau, tempat yang mereka tuju adalah tempat yang...

Mengenang peristiwa...

Mencekam...


"Ibu, Ayah, Mikasa aku pergi dulu ya!" Eren menyalami ibunya –Carla Jaeger- membungkuk hormat pada ayahnya –Grisa Jaeger- dan terakhir memeluk kakak tirinya –Mikasa- lalu mengambil sebuat roti panggang di atas meja makan –dan dimakannya- dan beranjak pergi.

"Hati-hati Eren!" seru Carla, Eren menoleh dan menganguk singkat, sambil memakai sepatunya. Setelah selesai ia pun pergi.

Sebenarnya Carla merasakan perasaan tidak enak saat Eren pergi, dia merasa gelisah...

Dan apakah yang akan terjadi?


Eren membenahi letak syal cokelat yang digunakannya. Tidak jauh dari rumahnya, Eren melihat Rivaille dan mobil hitamya. Eren tersenyum, melambai dan berteriak agar kekasihnya itu mengetahui bahwa dia telah datang dan siap.

"Rivaille!" teriak Eren girang, berlari mendekati guru minim tingginya itu. "Kau lama bocah." Rivaille menyengkap tanganya di depan dada, alisnya saling bertautan. "Hehehe, maaf." Sang guru menghela nafas melihat kelakuan anak didiknya yang satu ini. Sementara Eren hanya bisa nyengir di hadapan gurunya itu.

"Jadi kita akan kemana?" Tanya Eren antusias.

"Kau lihat saja nanti bocah." Rivaille membuka pintu mobilnya, menarik Eren dalam pelukannya sekejap lalu menyuruh –memerintah- nya untuk duduk di jok samping pengemudi. Dilihatnya wajah Eren yang bersemu merah, sangat manis. Ingin sekali rasanya ia menerjangnya sekarang. Tapi, tentunya itu belum boleh, belum saatnya.

Melihat Rivaille yang sudah duduk di jok pengemudi, Eren kembali bertanya "Ayolah, beritau sebenarnya sekarang kita mau kemana?"

"Ck, sudah ku bilang lihat saja nanti." Rivaille pun langsung tancap gas ke tempat tujuan.

Tempat dimana, seseorang kehilangan…

Kepercayaannya.


"Uwahh!" Eren tidak bisa berkata apa-apa lagi. Tempat ini sangat cantik dan asri. Daun kecoklatan seiring semilir angin berjatuhan. Di tambah langit yang mulai menjingga. Dari atas sini dia dapat melihat seluruh pelosok kota Sina, sangat indah.

"Kau menyukainya?" Tanya Rivaille, dia tengah bersandar pada mobilnya. Yah, ia sengaja tidak memberitaukan kemana mereka akan pergi. Karena sebenarnya tempat ini bukan lah tempat spesial. Hanya tebing di ujung kota Sina. Yang tentunya jarang di kunjungi orang karena jaraknya yang jauh apalagi tempat ini dikatakan memiliki suatu misteri tersendiri. Tapi Rivaille tak memperdulikannya. Toh tempat ini sangat indah. Dan lagi tempat –kencan- ini adalah usul dari Armin, sahabat Eren.

"Uhm, tempat ini sangat bagus! Dari tebing ini kita dapat melihat seluruh pelosok kota Sina, dan lihat pohon-pohon besar ini sangat eksotis!" papar Eren antusias. Rivaille hanya bisa tersenyum –sangat- tipis melihat prilaku pemuda di hadapanya ini.

Tiba-tiba angin bertiup kencang, meniup syal cokelat yang di pakai Eren. "Ah, syalku!"

"Kau tunggu di sini, akan aku carikan." Titah Rivaille, Eren menganguk menyetujui. Sementara Rivaille pergi mencari syalnya yang tertiup angin. Eren kembali memandangi sekitarnya. Dari tebing memang terlihat pelosok kota Sina yang mempesona. Tapi sebenarnya dia lebih penasaran dengan apa yang ada di balik pohon-pohon besar di belakang tebing ini.

Melangkahkan kakinya masuk kedalam rimbunan pohon-pohon besar menjulang tinggi itu, memandangi pemandangan sekitar yang indah membuatnya melangkah semakin jauh kedalam.

Tanpa tau, ada sosok yang menyeringai di balik pohon besar di ujung sana….


"Hwaa! Apa itu?" Eren tercengah melihat pemandangan di depannya kini, tidak menyangka di dalam lautan pohon besar ini di mendapatkan pemandangan seperti ini.

Sebuah bangunan tua, terbengkalai dan telah ditinggalkan.

Dan tentunya juga di lupakan…

Banguan itu tampak seperti mansion besar bertingkat tiga. Di halamannya masih terlihat bekas-bekas bangunan seperti pangung besar atau wantilan. Jalan-jalan setapak di hadapanya di kelilingi semak kering.

Mengikuti jalan setapak itu, semakin dekat dengan mansion besar itu.

Sampai di depan pintu mansion, Eren memberanikan diri untuk membukanya.

KRIEETTT

Pintu kayu oak tua itu terbuka. Memperlihatkan isi masion itu.

Huh? Terlihat seperti di dalam rumah sakit. Pikir Eren saat melihat meja di sebelah kanan pintu terbuka. Meja yang besar seperti meja resepsionis. Lalu ranjang-ranjang dorong khas milik rumah sakit yang terlihat telah mengkarat dan kotor.

Di pijakan kakinya pada lantai marmer putih berdebu mansion itu. Mencoba masuk lebih dalam. Walau dia sebenarnya merasa takut tapi rasa penasaran lebih mendominasi dirinya sekarang.

KRIEETT

'Hihihihi…'

Eren melonjak kaget, apa itu barusan? Suara siapa itu? Di lihatnya sebuah pintu di ujung kirinya terbuka menampilakan lorong sepi, jendela-jendela besar di lorong itu kacanya telah pecah, di lilit dan di tumbuhi semak kering kecokelatan. Samar-samar Eren melihat ada sebuah bayangan di ujung lorong yang terbagi dua jalur kanan kiri itu.

"Siapa itu?!" teriak Eren, dia berlari menuju arah bayangan itu pergi.

Tapi,

Apakah baik mengikuti bayangan itu?


Sekarang entah dia telah sampai di mana, yang jelas kini dia tengah berada di lantai dasar –ruang bawah tanah- mansion ini. Sepanjang berlari tadi, di sempat melihat sekitarnya. Eren kini memiliki kesimpulan bahwa mansion ini memang rumah sakit. Tepatnya rumah sakit jiwa. Melihat ada sebuah ruangan dengan pintu terbuka lebar dengan sebuah ranjang kotor bertuliskan data-data pasien yang gila.

Rasa paranoit mulai merasuki batin Eren, sebenarnya bayangan tadi itu apa?

Di lantai dasar ini dia mencoba membuka semua pintu kamar yang ada dan yang dilihatnya adalah pemandangan yang sama seperti sebelumnya. Tapi, ada sebuah ruangan yang terkunci, tepatnya di gembok.

Eren menengok ke-sekeliling dan berakhir pada keset di bawah kakinya. Diangkatnya keset itu, dan benar saja ada sebuh kunci disana.

Diambilnya kunci itu hendak membuka gembok pintu di hadapanya. Sampai…

'Jangan dibuka nak, hihihihi…'

Eren menjatuhakn kuncinya dan langsung berlari menjauh. Tubuhnya bergetar hebat. Suara itu berasal dari dalam kamar itu.

"Sebenarnya apa yang terjadi?!" teriak Eren dalam hatinya, badannya basah oleh keringat dingin, antara takut dan lelah karena berlari.

Ruangan-ruangan ini terlihat remang karena tidak adanya penerangan hanya ada secerca cahaya matahari terbenam yang terlihat.

Setelah sampi di luar mansion Eren mendudukan dirinya di wantilan halaman luar mansion itu. "Gila," desis Eren pelan, sangat pelan…

'Terimakasih hihihihi…'

Tubuh Eren membeku seketika, mangerakkan kepalanya terpatah-patah untuk menoleh kebelakang. Iris jadenya terbelalak melihat penampakan di depannya. "Aaaaaa!" Eren langsung melompat dari tempatnya terduduk dan berlari sekencang mungkin.

Tadi itu, wanita yang melotot di belakang Eren itu. Itu hanya ilusi kan?

Wanita berambut dark brown acak-acakan, dress bertudung yang di gunakanya lusuh, kacamata –bagian kanan-nya- retak, pandanganya membelo tajam menampakan mata zombie, luka tusukan dari dada bagian kirinya. Lehernya terlihat tercabik hingga memperlihatkan bekas menganga yang lebar. Dan yang paling mengerikan adalah…

Seringai pyshco itu...


Eren berlari tungang langgang menjauh dari tempat mengerikan itu. Kini bulan sudah mengantikan matahari untuk menyinari bumi. Sebaiknya dia menelphone Rivaille dulu.

Di ambilnya hanphone di saku jaket yang di gunakanya. Memencet beberapa digit angka dan mulai menyambungnya, cukup lama tidak ada jawaban sampai Eren melihat seseorang tengah terduduk di bawah pohon beringin besar.

Eren melihatnya lekam-lekam dan mulai mendekat orang itu, seketika matanya berbinar lega, "Rivaille!" dia pun berlari mendekati kekasihnya itu.

Dan kembali disuguhi pemandangan mengerikan…

"GYAAAAAAAAAAAAAA!"

Eren kembali berlari, kali ini air matanya turun dari manik jadenya dengan deras. Kenapa? Kenapa harus seperti ini?!

Dia melihat Rivaille meregang nyawa disana, isi perutnya tercerai berai, berceceran sekitar pohon besar itu. Kedua mata kelam yang selama ini mampu menghipnotisnya kini kosong, hilang dari tempatnya.

Eren tak mampu berkata apa-pun lagi, dirinya terlalu shock.

"Akh!"

Saking cepatnya dia berlari akhirnya dia tersandung. Di dongakan kepalanya, matanya mangkap sepasang kaki pucat melayang dihadapannya di ujung tebing curam. Ingin rasanya dia menjerit, tapi suaranya tidak bisa keluar, ingin lari tapi tubuhnya terasa berat.

Yang bisa dilakukannya kini hanya menangis. Terlihat cengeng memang tapi apa yang bisa diperbuatnya?

'Jangan menangis…'

Eren tersentak, makhluk entah apa itu kini berjongkok di hadapanya dengan kedua matanya yang membelo itu.

'Mama ada disini Ellen, hihihihi…'

Jade itu makin terbelalak, sosok mengerikan itu kini membawa pisau dapur penuh karat yang diambilnya dari balik dress panjang kumuhnya.

Sosok itu mengayunkan pisaunya kearah Eren namun Eren berhasil menghindarinya. Kini Eren terduduk ngeri di ujung tebing. Ingin pergi tapi tidak bisa, ingin hidup di ujung kengerian ini tapi sepertinya semua tak mungkin.

Ketika sosok itu berdiri dan kembali mengayunkan pisaunya Eren memejamkan matanya erat-erat. Biarlah, memang mustahil untuk selamat…

'Jangan mengangis Ellen…'

Eren merasakan sebuah tangan memgusap rambutnya dengan bergetar. Memberanikan diri untuk membuka matanya, alih-alih sosok itu bukanya menghilang tapi tepat berada di depan matanya berjongkok menghadapnya lagi dengan kepala dimiringkan membuat luka dilehernya makin terlihat lebar.

Tangan wanita itu melepaskan kontaknya dengan rambut Eren. Wanita itu tersenyum mengerikan.

'Bagus! sekarang pergilah!'

Eren merasakan tubuhnya terhempas oleh satu dorongan keras kedalam tebing.

'Hahahahahahahahahahah!'

Sosok itu tertawa laknat, disaat tubuh ringking itu menghantam tanah, hancur dan remuk tak bernyawa lagi….


Ada-ada saja.

Merusak suasana saja, setelah sekian lama akhirnya aku dapat pergi berdua dengan Eren, kini aku harus mencari syal sialan yang terbang terbawa angin. Hah, sudahlah lagi pula itu milik Eren.

Sudah sekitar 15 menit aku mencari tapi tidak menemukannya juga. Pandanganku menuju segala arah berharap dapat menemukan syal itu.

Akhirnya aku menemukannya, syal itu ada di bawah pohon beringin besar dan di tutupi daun-daun yang berguguran. Aku pun mengambilnya dan membersihkannya dari daun-daun kotor itu. Ck, setelah ini aku harus melarang Eren untuk menggunakannya dulu.

'Hihihihihihi…'

Terdengar suara tawa wanita, yang jujur membuatku agak merinding karena suaranya yang menggema.

Saat hendak melangkah pergi, aku dikejutkan oleh seorang wanita berdress kumuh yang berdiri tepat –sangat dekat- di hadapanku. Wajah wanita itu tertutup oleh tudung sampai aku tak bias melihat wajahnya. Mungkin gelandangan?

Tiba-tiba wanita itu menyeringai. Mendorongku keras kearah pohon dibelakangku. Dan mengacugkan sebuah pisau dapur berkarat kehadapanku.

'Jangan pernah dekati Ellen bodoh!'

Dan semuanya terjadi begitu cepat.

.

.

.

The End

.

.

.


"OMAKE"

"Kek, apa kakek melihat buku tua-ku kek?" hah, ada apa denganku ini? Bias-bisanya aku kehilangan buku yang berharga itu.

"Apa itu buku bersampul cokelat yang kakek berikan tempo hari?"

"Ya kek!" aku mengangguk cepat kebingungan mencari buku itu.

"Dimana sebelumnya kau letakkan buku itu Armin?" Tanya kakek sambil membantuku mencari buku itu. "Di atas meja disamping kayu bakar!"

"Astaga Armin, kakek tak sengaja membuangnya di perapian." Mendengar perkataan kakek, cepat-cepat ku obrak-abrik perapian yang masih menyala di ruang tamu dan untungnya buku itu tidak sepenuhnya telah gosong.

"Maaf, Armin." Kakek menepuk pundakku, aku mengelengkan kepala. "Tidak apa kek, yang penting buku ini setidaknya belum menjadi abu di perapian, aku masih bias membacanya lagi." Aku tersenyum dan kakek pun ikut tersenyum.

Aku dudukkan diriku di teras rumah kayuku dan kakek. Memilah halaman-halaman tua buku itu. Tapi aku sadar ada yang berbeda, halaman akhir yang awalnya kosong itu kini menampakan tulisan.

Ah, mungkin tulisan ini tampak saat buku ini dipanaskan. Akhirnya aku bias membaca akhir cerita ini.


Baiklah sekarang akan ku beritau kau,

Setelah janinnya mati, wanita gila itu semakin tak terkontrol…

Padahal awalnya dia adalah seorang bangsawan, tapi setelah suaminya Ervin Smith meninggal dalam kecelakaan, dia begitu terguncang hingga gila…

Akhirnya, para dokter rumah sakit jiwa memberikan sebuah bayi pada wanita gila itu…

.

Wanita itu sempat sembuh, tapi kembali mengamuk jika ada yang mendekati bayinya…

Wanita itu merawat bayinya dengan baik, sampai bayi itu berumur 5 tahun dan dinamainya Ellen Yaeger…

.

Tapi, wanita gila itu kembali mengamuk saat anaknya sangat dekat dengan seorang temannya, wanita itu terlihat tak rela, mungkin tepatnya merasa anaknya harus terus berada di sisinya…

Atau tepatnya, dia tidak ingin kehilangan untuk yang ketiga kalinya…

.

Sampai suatu hari, wanita gila itu mengajak anaknya untuk lari dari rumah sakit…

Mereka berlari begitu jauh…

Sampai pada sebuah tebing curam dan mereka terkepung disana…

Orang-orang berteriak agar wanita itu mengembalikan anak yang dibawanya, mengingat wanita itu kembali mengamuk…

Wanita itu menyeringai seram, mengeluarkan sebuah pisau dapur yang dicurinya…

Menyerang warga satu persatu, anaknya jelas hanya bias menangis melihat pemandangan didepannya…

Setelah selesai, wanita itu balik memandang anaknya, disitu anaknya menjerit ketakutan melihat sosok ibunya…

.

Wanita itu mengelus helai rambut hazel anaknya, memandang maik jade anaknya penuh sayang…

Tapi anak itu menepis tangan ibunya dan berlari menjauh dari ibunya menuju orang-orang yang masih bertahan dari serangan ibunya…

Wanita gila itu menangis dalam diam, air matanya meluncur dari ujung kaca matanya…

.

Melihat anaknya menjerit takut kehadapannya, menepis belaiannya. Hatinya hancur…

Bala bantuan datang, mereka membekuk wanita itu…

Wanita gila itu berteriak pilu…

Menusuk orang-orang yang menyergapnya…

Wanita itu kemudian tertawa mengerikan…

.

Anaknya memanggil ibunya…

Tapi ibunya balas membentak…

Dan kembali tertawa…

Berputar-putar di tempatnya berpijak…

Tidak peduli dengan dress tudungnya yang kumal…

Pikirannya kosong…

.

Dan saat terakhir kakinya berpijak, dia terjatuh dalam tebing…

Kacamatnya pecah menusuk mata kanannya…

Tubuhnya terhempas menghatam bebatuan…

Lehernya terobek ranting pohon…

Pisau dapur yang dibawanya menusuk dadanya…

Dan diakhiri badanya yang mengapung di air dalam tebing…


"Aw…" Aku menjerengit kasihan. Cerita yang agak… menyedihkan untukku. Aku mencoba mencari nama pengarang dari cerita di buku tua ini. Hm, di halaman belakang tidak ada apa-apa lagi.

Ah, ini dia.

Dihalaman depan aku melihat nama pengarang yang tertera di pojok bawah, dan nama pengarangnya adalah…

Ellen Yaeger.

.

.

.

(Beneran) The End

.

.

.


A/N: Gyaaa! Saya telat berangkat kesekolah! #pontangpantingsiap2kesekolah

Tapi it tadi siang… #plak

Uhuk, maaf jika chap dua ini ngak terlalu bloody, karena saya di chap ini Cuma inggin menanamkan horror yah itu pun kalau horrornya kerasa. Saya kembali miris saat membaca ulang fic ini… kok berasa kayak drama awalnya. #pundung

Dan demi tuhan! TFB I love you! Aku ingin menjelajahi-mu lagi! Tempat wisata horror yang sesuatu~ pingin deh masuk keruang tiga dimensi yang gelap nan suram itu :3

Inspirasi fic ini muncul saat saya nonton film "Mama" ada yang tau?

Yah di bedain dikit-dikit lah… lagi pula tempat setingnya itu mirip-mirip era Victorian.

Oh ya, sedikit jawab review~

Yang langsungin aja ya~

Fic saya ini belum bagus menuruh saya masih ada kekurangan terutama bagi yang merasa belum mendapatkan feelnya.

Saya masih belajar kok belum begitu bias membuat fanfic yang bagus. Ok lah saya ngak pension dulu :3

Dan untuk pertanyaan "Apakah saya suka jika ada Flamer?" saya jawab "bias jadi"

Kenapa? Walau sebenarnya pingin sekali saya bacok tuh flamer pakek gunting keramat saya? Tapi berkat flamer dan masuk-masukannya saya jadi bias menyusun kalimat Bahasa Indonesia yang baik untuk membalas flamernya. berujung nilai 9,5 di rapot saya untuk hasil Bahasa Indonesia. Nilai menulis dan merangkai kata-kata saya jadi meningkat! Thanks flamer~ I love you! #plak

Akhir kata,

Would you to Review?