# GLOOMY #

Chapter3: The Slightly Chipped Full Moon

Dislaimer:

Shingeki no Kyojin©Isayama Hajime

Gloomy©Kim Victoria

Genre:

Suspense, Horror, Romance

Rating: M (untuk jaga-jaga, karena ada beberapa kata yang tak pantas)

.

.

.

Don't Like? Don't Read!

.

.

.

A/N: Akhirnya fic ini update lagi!

Uhuk, sebenarnya feel saya buat nulis fic ini sudah menguap entah kemana, di tambah tracklist lagu di hp saya terjangkit virus mematikan? Hingga semua data hp saya hilang, saya harus mengisi hp butut saya dari nol lagi? Jadi tambah ngadetlah fic ini.

Fic ketiga ini tema-nya agak berbeda dengan yang sebelumnya~ maunya sih buat kisah sebuah tempat angker gitu tapi tidak jadi :D

Ok, cukup bacot dari saya, silahkan membaca!

.

.

.


.

=Tracklist Three: The Slightly Chipped Full Moon By Iwasaki Taku=

.


Salju turun dengan lebat, butir es dingin itu jatuh menyelimuti tanah musim dingin. Tidak ada satu pun orang yang keluar dari rumahnya hanya untuk melihat keindahan kecil ini. Bukan karena cuaca dingin, bukan pula karena salju tebal yang melingkuti tiap jalan, tapi karena sebuah cerita urban...


Dahulu kala, saat turun hujan salju dengan bulan yang bersinar temaran di singasananya sebuah tragedi terjadi di tempat ini... tepian kota Wall Maria.

Hanya tragedi kecil memang, tapi sumpah dari sang penerima tragedi rupanya menjadi kenyataan.

Dan semua orang kini ketakutan, mereka merasa takut, cemas, dan MENYESAL...

Disaat orang itu kesusahan dan sakit, mereka tidak ada, mereka menjauh, menatap hina orang itu.

Disaat orang itu membutuhkan mereka, orang itu malah di kambing hitamkan di fitnah sedemikian rupa agar pergi karena orang itu di simbolkan sebagai pembawa mala petaka.

Tapi, apakah benar?

Lalu...

Siapa yang kita sebut "Orang itu"?


Tidak ada satu orang pun yang mengetahui, hanya ada satu orang yang dapat mengingkari sumpah sang penerima tragedi. Dia hanya seorang pria sempurna, lahir dan batin, dan orang-orang sangat menghormatinya. Tapi, bukan itu semua yang membuatnya dapat mengingkari sumpah sang penerima tragedi. Sama sekali bukan.

Sebut pria beruntung ini Rivaille, tiap malam bersalju dia akan keluar dari mansionnya yang hangat hanya untuk merasakan terpaan angin dingin malam bersalju.

Terlihat tanpa alasan, namun sebenarnya beralasan. Matanya tak terpaku pada gundukan salju di tepian jalan atau pun salju yang menimbun taman kota. Bukan...

Kakinya membawanya pergi kesebuah bukit di tepian wall maria. Sebuah pohon oak besar tak berdaun memayunginya. Mata hitam legamnya melirik sekilas kearah kiri dari mana angin bertiup helaian rambut ravennya. Dan benar saja orang itu ada disana.


"Lama menunggu?"

Orang itu berucap sangat pelan tapi Rivaille masih bisa mendengarnya. "Tidak." Jawabnya singkat.

Mereka kini sama-sama memandang jauh di depan, sama-sama dian termenung.

"Kau tak kedinginan?"

"Tidak, sebaliknya kata-kata itu harusnya tertuju padamu." Ucap Rivaiile tajam pada orang itu. Badanya berbalik menghadap orang itu agar bisa melihatnya secara seksama.

Semua suilet orang itu terlihat. Jemari dan tangan orang itu terlihat membiru. Pakaiannya lusuh dan terdapat bercak merah merembes di pingangnya. Rambut hazel orang itu terlihat tertumpuk salju dan sedikit membeku. Kepala orang itu menunduk tidak memperlihatkan wajahnya.

Mungkin jika ada yang melihatnya selain Rivaille, pasti reaksinya akan acuh tak acuh dan mengira orang itu hanya seorang pengemis jalanan, seorang anak yatim tak terurus yang akan segera mati kedinginan di tengah kota.

Huh, salah besar.

"Aku kedinginan... sangat..."

Orang itu mendekap lengannya dengan jari-jarinya yang membiru. Wajahnya makin tertunduk diiringi gemetar halus di sekujur tubuhnya.

"Pergilah." Rivaille menebarkan sebuah selimut yang dibawanya hinga menutupi kepala orang itu kemudian jemari-jemarinya yang lincah menuntun selimut itu untuk mendekap orang itu lebih hangat.

"Pergilah. Semuanya telah menyesal, semua orang telah menyadari kesalahannya padamu."

Rivaille menarik tangannya menjauh dari orang itu. Orang itu tidak menjawab. Oarng itu hanya mengeratkan pegangannya pada selimut yang mendekap kepala hingga lengannya.

"Aku ingin pergi, tapi tidak semudah itu melepaskan mereka."

Orang itu akhirnya menjawab setelah beberapa keheningan menyelimutinya. Orang itu mendongakkan kepalanya membuat selimut diatasnya merosot kebawah leher.

Terlihat wajah pucat orang itu. Sangat kentara dengan orang-orang biasa. Sela bibirnya yang membiru robek dan mengelurkan darah yang telah membeku. Terlihat seperti gelandangan biasa di tepi jalan.

Tapi, apakah kalian lihat matanya? Yang mana harusnya ada sepasang alat mata, pada orang itu hanya ada satu yang terisi... mata kananya indah berwarna jade tapi memencarkan kehampaan. Sedangkan mata kirinya hilang entah kemana. Kosong, tidak ada pada tempatnya.

Dari tempat kosong itu mengalir darah yang telah membeku, merembes hingga mengenai kerah leher kemeja yang di pakai orang itu. Orang-orang pasti akan menjerit ketika melihatnya tapi tidak untuk Rivaille.

Dia melihat wajah pucat orang itu, seperti menerawang jauh. Tanpa dikehendakinya tangannya bergerak mengelus pipi beku orang dihadapannya itu.

"Pergilah Eren."

Tatapan Rivaille berubah sendu. Dia merasa sedih melihat keadaan orang itu... Eren.

"Aku tak bisa sekarang."

"Lalu kapan?"

Eren tersenyum simpul, senyum yang berbeda dari yang sering Rivaille lihat sebelumnya. Senyum yang menyedihkan, begitu menyakiti perasaannya.

"Secepat yang aku bisa."

Kini Eren tersenyum lebar. Rivaille terperangah melihatnya walau sebenarnya wajahnya masih datar-datar saja. Matanya berkilat merasa adanya sedikit secerca harapan agar Eren segera pergi.

"Sampai jumpa Rivaille, aku mencintaimu."

Dengan ucapan terakhir itu tubuh Eren seperti menghilang di terpa angin berubah menjadi kepingan-kepingan salju yang berkilauan bermandikan cahaya bulan.

"Sampai jumpa Eren, aku juga mencintaimu." Walau Eren sudah pergi namun Rivaille tau bahwa Eren masih dapat mendengar apa yang di ucapkannya. Bahkan sekecil apa pun ucapnya menggema. Eren pasti dapat mendengarnya. Pasti, karena Eren selalu bersamanya.

"Jika kau tak pernah bisa pergi, aku yang akan pergi ketempatmu. Itulah janjiku." Manik hitam sekelam malam itu terbenam dalam kelopak matanya. Merasakan desir angin yang cukup keras. "Aku berjanji padamu Eren." Kemudian langkahnya membawanya menjauh dari tempat itu.


Awal bermulanya urban legend


Tahun ini 1997 dalam ketentraman di kota pinggiran wall maria. Kota ini sangat damai dan makmur. Walau sebenarnya kota ini hanya di huni oleh orang-orang berkeuangan menengah tapi, keindahan pemandangan kota ini bisa dikatakan lebih dari kata "kaya" sekalipun.

Sisi kanan kiri jalan di tumbuhi pohon cemara yang menguarkan aroma khas. Jalanan yang bersih dan tertata apik serta taman kota yang selalu ramai pejalan kaki.

Cerminan dari kota yang damai'kan?

Tapi, taukah kau? Dibalik semua kedamaian dan kemakmuran orang-orang ada satu orang yang merasa tidak beruntung atau memang dia tidak beruntung? Siapa yang tau, hanya orang itulah yang merasakannya.

Orang itu adalah Eren Jaeger, seorang pemuda biasa tapi tidak dengan kehidupannya.

Penduduk kota mencemooh-nya, penduduk kota membencinya. Dia tak tau alasan pastinya, tapi orang-orang sering menyebutnya sebagai simbol kesialan. Siapa pun yang sempat berhubungan –mengenalnya- pasti akan meninggal dengan cara mengenaskan. Entah itu kebakaran masal, kecelakaan lalu lintas atau bunuh diri.

Sebab itulah orang-orang membencinya.

Sebenarnya apa yang salah darinya?


Orang tuanya Grisha dan Carla Jaeger telah meninggal sejak dia masih kecil karena kecelakaan lalu lintas, kakak perempuannya Mikasa meninggal karena melindunginya dari sekawanan perampok, teman dekatnya juga Armin juga meninggal karena penyakit aneh.

Semua ini salahnya...

Kini dia di usir dari tengah kota, penduduk membakar rumah kecilnya yang penuh kenangan akan orang-orang yang dikasihinya. Sekarang dia tidak memiliki apa-apa lagi.

Eren berjalan di tepi trotoar kota, kini hujan salju sedang turun dengan derasnya. Tubuhnya menggigil kedinginan apalagi dengan kodisinya sekarang yang hanya mengenakan kemeja tipis dan celana panjang hitam saja.

Kakinya yang telanjang terasa beku. Dirinya sudah tak kuat berjalan. Di dudukkannya tubuh ringkingnya ke tembok gang gelap di samping trotoar jalan. Mencoba untuk menghangatkan dirinya sebisa mungkin, memangku kepalanya pada kakinya yang menekuk. tapi dingin ini terlalu menusuk hingga ketulangnya.

Eren lelah, dia ingin istirahat sejenak sekarang...

"Hey, kau."

Eren mendongakkan kepalannya, pandangannya mulai buram.

"Kau kedinginan?"

Suara itu kembali terdengar, samar Eren dapat melihat seorang pria berstelan rapi tengah berdiri dihadapannya. Eren tak menjawab, hanya mencoba untuk memandang fokus pada objek di depannya ini.

"Ck, kau ikutlah denganku." Pria asing itu mengulurkan tangannya pada Eren dan tak tau kenapa, Eren malah menerima uluran tangan itu dan berdiri, namun tiba-tiba semua menjadi gelap, tubuhnya oleng dan terjatuh dalam pelukan pria itu.


"Uhmm..."

Hangat itulah yang dirasakannya sekarang, hangat, lembut dan empuk. Apa ini salju? Pikirnya dalam igaunya. Tidak, salju tidak hangat bukan?

Mencoba untuk bangun, Eren mengerjapkan manik jadenya beberapa kali dan menguceknya sesaat kemudian mendudukkan dirinya sejenak.

Butuh beberapa menit hingga dia sadar...

"GYAAAAAA INI DIMANA!"

Bahwa ini bukanlah kamarnya...

"Ck, kau bisa diam bocah? Kau menganggu." Eren melirik ragu-ragu pada sosok yang tengah duduk di sofa di sebelah kanan ranjang yang ditempatinya. Seorang pria bermuka datar dan ekhem-agak-ekhem-pendek.

Eren bungkam dan merilik kearah lain.

Sekarang Eren tambah tidak bisa berkata apapun lagi saat melihat keadaan tubuhnya yang ter-ekspose sempurna.

"GYAAAAAAAAAAA!"


"Jadi, namamu Eren Jaeger bocah?" Eren mengangguk singkat kemudian kembali menundukan kepalanya. Sekarang dia sudah berpakaian lengkap, pakaiannya ini diberikan oleh pria di depannya. Dia malu karena telah berani berteriak sebegitu kencangnya hingga membuat beberapa kaca jendela retak (atau pecah) di rumah orang yang telah menolongnya.

Eren masih tetap duduk diranjang sedangkan pria penolongnya duduk di tepi ranjang sambil mengamatinya. Membuatnya makin menundukkan kepala.

"Kalau kau sedang berbicara dengan seseorang tatap mukanya bodoh." Pria bersurai raven itu menarik dagu lawan bicarannya yang sedari tadi menunduk. Jade bertemu dengan onix. Pandangan mereka saling bertemu dan bertautan satu sama lain.

Eren tak kuasa menahan getaran aneh di dadanya hingga membuat pipinya merona. Pria di depannya, penolongnya sangatlah tampan. Walau wajah itu hanya memperlihatkan ekspresi datar dengan rahang tegasnya yang mengatup. Warna gelap pada kedua matanya sangat tajam bagai sebilah belatih, begitu dalam menariknya dalam kegelapan yang membingungkan.

"Err, S-sir?" tidak kuat lagi, akhirnya Eren berani untuk mengintrupsi tatapan tajam lawan mainnya. Bibirnya agak gemetar takut-takut jika si pria marah.

"Namaku Rivaille, sekarang kau boleh pergi dari sini." Orang itu, Rivaille menarik tangannya dari dagu Eren dan beranjank pergi. "Ta-tapi sir!" Eren menarik lengan kiri Rivaille dan sang empu pemilik tangan pun menoleh. "Saya, tidak punya tempat untuk pulang." Tatapan manik jade itu menyendu. "Saya harus pergi ke mana?" berhasil sudah, air mata yang awalnya terbendung kini tumpah ruah membanjiri pipi.

Eren sebenarnya tidak tau apa alasanya hingga dia berkata demikian pada orang yang tak dikenal. Dan juga tak tau, kenapa air mata yang selama ini berhasil di tahannya untuk mengalir sekarang tumpah begitu saja di hadapan pria ini. Dia sungguh tak tau dan tak mengerti.

Wajah datar Rivaille tetap tak berubah, dia hanya melihati Eren yang menanggis dalam diam.

"Kau boleh tinggal disini." Tangan besar mengusap pipi Eren yang berlinang air mata. Menyekanya hingga tidak tumpah ruah lagi. Eren memandang tak percaya, antara bahagia dan binggung. Bahagia karena dia kembali memiliki tempat untuk pulang dan binggung kenapa Rivaille mengizinkannya untuk tinggal.

"Jangan banyak tanya, sekarang istirahatlah bocah." Tangan kanan yang awalnya menyeka air matanya kini berpindah membelai rambutnya. Eren menurut saja, dia langsung kembali membaringkan dirinya pada kasur empuk dibawahnya. Mencoba kembali untuk tidur.

Melihat Eren yang mulai memejamkan mata, Rivaille pun beranjak menuju ke ambang pintu. Membukanya, melirik sekilas pada bocah Jaeger dan kembali menutup pintu kamar dengan pelan. Tanpa tau Eren sama sekali tidak bisa tidur dengan wajahnya yang kini benar-benar merah padam.


Beberapa bulan telah terlewati setelahnya. Eren sekarang tau bahwa Rivaille adalah seorang wakil ketua di pusat keamanan kota. Dan umurnya itu 30 tahun, selisih 15 tahun dari umurnya. Seorang clean freak yang sangat menjunjung tinggi kebersihan. Eren pernah sekali masuk ke kamar Rivaille yang super bersih itu, dia sampai bisa berkaca pada lantai marmer di bawah kakinya.

Walau Rivaille hanya berkata seadanya dengan wajahnya yang tetap saja datar, sebenarnya dia sangat peduli pada Eren. Tiap minggunya dia pasti menyempatkan diri untuk sekedar minum teh bersama di vaviliun kecil di tengah halaman belakang mansion.

Sambil menyesapi tehnya Eren akan mencuri-curi pandang pada Rivaille. Cara Rivaille meminut tehnya itu unik. Dia tidak memegang kuping cangkir melainkan langsung memegang mulut cangkir seperti gaya orang jepang meminum sake.

Pipi Eren kembali merona menyadari pandagannya kini yang beralih pada bibir Rivaille yang bersentuhan dengan mulut cangkir. Mencoba mengalihkan rasa malunya dengan kembali menyesapi teh assam yang ada pada cangkir di tangannya.

Tanpa tau, Rivaille sedang mengamatinya...


Saat ini musim gugur, hampir satu tahun Eren tinggal bersama dengan Rivaille. Kadang kala Eren merasa sepi juga hanya diam dalam mansion yang besar sendirian. Ya, Rivaille tinggal di sebuah mansion yang besar memang tapi dia sendirian. Hanya beberapa kali dalam sebulan teman-temannya -rekan kerjanya- akan datang untuk berkunjung –karena rata-rata mereka tinggal di luar Wall Maria-

Kesan pertama saat teman-teman Rivaille bertemu dengannya kebanyakan memasang raut wajah ragu, bahkan takut. Eren juga tidak tau kenapa reaksi mereka seperti itu. Tapi lambaut laun mereka bersikap biasa saja. Bahkan bisa dibilang sangat baik padanya.

Seperti ketua pusat pengamanan kota Ervin Smith, dan rekannya Hanji Zoe. Begitu pula Miss Petra Ral, Aurou, dan Erd –bawahan Rivaille-

Eren sangat ingin keluar dari mansion besar ini. Dia ingin berjalan-jalan di luar untuk sejenak. Tapi selalu saja di larang oleh Rivaille. Begitu juga dengan rekan-rekannya. Mereka semua melarang Eren untuk pergi keluar mansion.

"Sir Rivaille, kenapa anda tidak membiarkan saya untuk pergi keluar mansion?" Eren ingin mengetahui alasannya, mengapa dia tidak boleh keluar dari dalam mansion. Sore hari ini Eren mendatangi kamar Rivaille dan langsung bertanya dengan gamblangnya pada sosok Rivaille yang tengah duduk di meja kerjanya.

Rivaille hanya melirik sekilas dan kembali pada tumpukan kertas yang mengunung di mejanya. Rivaille bukannya malas mengerjakan pekerjaannya hingga menumpuk seperti itu tapi memang selalu sebanyak itu lah tugasnya tiap hari.

"Kenapa Sir?" tanya Eren lagi, dia tidak akan pergi sebelum mendapatkan jawabannya.

Tetap tidak ada jawaban, Rivaille masih saja bergelut dengan tugas-tugasnya.

"Sir, ja- prff!" Eren tidak bisa melanjutkan kata-katanya karena bibirnya telah dibungkam oleh Rivaille. Rivaille menarik kerah bajunya dan mencium bibirnya, sedangkan Rivaille sendiri masih dengan posisi duduk, membuat wajah Eren terasa panas. "Ahnn..." lengguh Eren membuat bibirnya sedikit terbuka saat lidah Rivaille menjilati bibirnya. Kesempatan itu digunakan Rivaille untuk memasukkan lidahnya dalam rongga mulut Eren.

Ciuman panas pun tercipta. Rivaille mulai mengabsen tiap deretan gigi putih Eren. Mengajak lidahnya bergelut dalam keciprat basah saliva yang tercipta oleh kedua bibir yang saling bertautan. "Ah...hmnn..." desah Eren saat dirasanya pasokan oksigen di paru-parunya menipis. Di remasnya pundak orang yang mendominasi.

Seakan mengerti Rivaille pun melepaskan pangutannya pada bibir ceri Eren, dilihatnya wajah Eren sudah merah padam, nafasnya terengah-engah dengan segaris saliva yang mengalir di dagunya.

Tubuh Eren merosot, jatuh terduduk di lantai marmer kamar Rivaille. Masih mencerna apa yang terjadi barusan. Nafasnya memburu, wajahnya memanas, jantungnya berdetak cepat. Tadi Rivaille menciumnya?

"Berisik, bisakah kau tenang bocah?" tanya Rivaille sarkatis, memandang tajam Eren yang kini terduduk di lantai dengan nafas yang belum teratur.

"Kau tidak boleh keluar karena kau milikku bocah." Iris jade itu terbelalak, apa? Apa yang baru saja di dengarnya itu?

Eren mendongak cepat kearah Rivaille yang masih duduk di tempatnya semula. "A-apa?" sepertinya ada yang salah dengan pendengarannya.

"Kau milikku bocah, dan hanya milikku." Rivaille berdiri dan membawa Eren dalam rangkulannya. "Uwaaa!" Eren yang terkejut hanya bisa memekik saat tubuhnya dengan enteng di gendong ala bridal style oleh Rivaille. Refleks Eren langsung mengalungkan tangannya pada leher Rivaille agar tidak terjatuh.

"Kau milikku Eren." Suara terkesan berat tapi menggoda itu terdengar sangat dekat dari kuping Eren di tambah dengan terpaan hembus nafas dari sang pemilik suara membuat wajah Eren kembali memerah.

"Aww!" Rivaille menghempaskan tubuh Eren pada ranjang yang tak jauh dari meja kerjanya dan langsung menindihnya. "S-sir, a-apa yang anda lakukan?" tanya Eren kentara dengan wajahnya yang memperlihatkan raut panik. "Menjadikanmu milikku sutuhnya."

Eren kembali terbelalak. Bibir Rivaille kembali bersatu dengan bibir Eren. "Ahmm... hnnn..." pandangan manik jade itu kini sayu karena menerima ciuman dan sentuahan-sentuhan dari tangan Rivaille yang menyusup dibalik kemejanya.

"Ah~ S-sir~"

"Panggil namaku Eren." Rivaille melepas pangutannya. Di usapnya pipi Eren lembut. Rona merah dipipinya membuatnya terlihat sangat manis di mata Rivaille. "Ke-kenapa anda malakukan ini?" Eren memandang Rivaille yang berada di atasnya dengan tatapan sayu, setitik air mata terlihat di ujung iris jadenya.

"Kau selalu memperhatikanku bukan?" Eren melonggo mendengarnya.

"Bahkan mengutitku tiap kali aku pulang ke mansion ini." Wajah Eren mulai memanas lagi.

"Mencuri pandang saat waktu minum teh, kau kira aku tak tau?" Eren menutup wajahnya yang kini sangat merah dengan kedua tangannya.

"Kau mencintaiku."

Deg, tepat sasaran. Wajah yang telah merah itu kini semakin hebat hingga menjalar ke kupingnya.

Eren tak berani menjawab, dia terlalu malu untuk berkata.

"Ku anggap itu, ya." Menyingkirkan kedua tangan Eren dan kembali meraup bibir ceri itu. Rasanya manis... dan memabukkan.

"Ini hukumanmu karena tidak mengatakannya langsung padaku."

"Hyaaaa~!"

Dan kau pun pasti tau apa yang terjadi setelahnya...


Wajah Eren terasa terbakar tiap kali mengingat malam itu. Sungguh dia tak menyangka Rivaille akan berbuat seperti itu hingga membuatnya tidak bisa berjalan dengan baik beberapa hari kedepannya.

Memang terkesan absrut, tapi Eren mengerti bahwa hal itu adalah peryataan dari Rivaille. mereka memiliki perasaan yang sama, yaitu cinta.

Kini Eren tak perlu mencuri-curi pandang lagi untuk melihat wajah yang disukainnya. Dia bisa meliatnya secara langsung sekarang berapa lama pun yang dia mau. Kini dia bisa merasakan dekapan hangat orang itu tiap hari, tiap malamnya.

Tapi Eren tetap ingin pergi keluar...


Malam ini tanggal 14 Desember dimana salju pertama kali turun dimusim dingin. Eren mengendap-mengendap untuk pergi keluar. Walau mansion ini tidak dihuni orang lain dan Rivaille, Eren harus tetap berhati-hati.

Setelah mengunci semua pintu dan jendela, Eren melesatkan kakinya menuju ke pintu gerbang mansion yang besar menjulang tinggi. Tapi sayang pintu gerbang itu tertutup rapat dengan sebuah gembok yang menguncinya dari luar.

Eren tak kehabisan akal, dia memanjat pintu gerbang itu dan berhasil keluar dengan gaya bak pencuri yang baru keluar dengan barang hasil curiannya. Ok lupakan.

Salju saat ini tidak turun terlalu deras. Tapi bodohnya dia hingga lupa memakai sarung tangan dan syal. Dan hanya memakai kemeja putih dengan kaos hitam didalamnya serta celana panjang cokelat. Tapi tak apalah toh cuma sebentar pikirnya.

Melangkahkan kakinya di antara paping trotoar yang tersusun rapi. Lampu-lampu jalan yang bersinar redup menemaninya dalam kesunyian. Menghirup dinginnya udara malam bersalju membuat pikirannya rileks.

Tanpa melihat orang-orang yang berada di sekitarnya memandangnya ketakutan dan... penuh kebencian...

Eren awalnya cuma mengacuhkan semua tatapan-tatapan itu. Tapi lama kelamaan tatapan-tatapan itu seperti memburunya, mendesaknya hingga tak bisa bernafas.

"A-Apa?!" teriaknya cukup kencang hingga semua orang didekatnya dapat mendengarnya. Beberapa wanita menyembunyikan anak-anaknya dibalik punggung mereka sambil menatap dengki pada Eren.

Sementara para pria menggeram penuh emosi kepadanya.

Apanya yang salah?

"KAU! KAU HARUSNYA SUDAH LENYAP DARI TEMPAT INI PEMBAWA SIAL!" Seorang wanita memakinya sambil mengacungkan jari telunjuknya pada wajah Eren. Orang-orang pun langsung ramai memakinya.

"DASAR KAU ANAK PEMBAWA MALAPETAKA! CEPAT ENYAH KAU DARI SINI!" Kali ini seorang pria tua yang memakinya, memercikkan api amarah pada orang-orang lain.

"APA SALAHKU HAH?!" bentak Eren pada pria tua itu. Matanya menatap tajam orang itu, dengan kedua tangannya yang telah terkepal kuat.

"KAU PEMBAWA SIAL! TIAP ORANG YANG MENGENALMU MATI MENGENASKAN! TIAP ORANG YANG MELIHATMU AKAN MATI KEESOKAN HARINYA!" kata-kata itu menggema dalam pikiran Eren. Dia meremas rambutnya antara percaya dan tidak percaya. Kalimat pertama memang benar dia akui itu, tapi yang kedua? Itu tidak mungkin kan?

"BOCAH PEMBAWA SIAL SEPERTI KAU HARUSNYA MATI!" Eren menatap nanar seorang pria paruhbaya mengayunkan sebuah pisau padanya...

Dan menusuknya...

Darah segar mengalir dari pinggang kirinya, bagian yang tertusuk. Eren masih memiliki kekuatan, dan langsung di tendangnya orang yang menusuknya itu lalu berlari sekencang mungkin menjauh dari orang-orang itu.

Lukanya memang tak terlalu dalam tapi darah yang merembes keluar sudah terlalu banyak. Eren berhenti berlari dan berjalan terseok-seok di trotoar jalan yang agak sepi. Ah, dia berlari terlalu jauh dari mansion. Orang-orang yang melihatnya manatapnya kesenangan. Huh, biarlah Eren tak perduli.

Badannya menggigil, kini hujan saju mulai menderas sedangkan dirinya hanya mengenakan baju tipis. Di peluknya kedua lengannya mencari kehangatan.

Eren akan pulang dengan jalan memutar agar tidak di lihat penduduk kota.

Eren pun menyebrang jalanan yang sepi...

Tanpa tau sebuah mobil melintas cepat kearahnya...

DUAAAKKK

Badan Eren terhempas jauh menubruk gundukan salju di samping pohon oak besar tak berdaun di pinggiran Wall Maria.

Nafas Eren memburu antara kedinginan dan kehabisan banyak darah. Kepalanya pening, dirasakannya luka di pingangnya makin melebar dilihat dari darah yang makin banyak mengalir dan membasahi permukaan salju.

"Arhhhgg!" Eren merintih kesakitan, dia tak dapat membuka mata kirinya. Terlalu sakit dan perih. Mungkinkah matanya lepas dari tempatnya? Eren merasakan sebelum menubruk permukaan salju mata kirinya terantuk sebuah ranting pohon yang cukup besar.

Samar-samar dengan sisa kekuataanya Eren mendengar dan melihat para penduduk yang tidak peduli padanya dan malah ada yang tertawa terbahak-bahak dan berkata 'Akhirnya kita bebas dari kesialan bocah terkutuk itu!' dan semacamnya.

Eren menggeram marah dia tidak terima semua ini. "LIHAT SAJA KALIAN SEMUA AKAN MENYESAL!" teriaknya penuh amarah, dengan kekuatan terakhirnya. Orang-orang yang mendengarnya langsung berhamburan menuju kearahnya dan menguburnya dengan salju sambil tertawa jahanan.

Eren tak sanggup, di ujung pengelihatannya dilihatnnya jari-jarinya mulai membiru. Sudah 10 menit dia terkubur dalam salju. Mungkin ini akan jadi akhir hidupnya.

Eren berguman pelan, mata kirinya mengalirkan darah segar seperti aliran tangis. Kemudian kedua matanya tertutup rapat disertai deru nafasnya yang berhenti.

'Rivaille,aku mencintaimu.'


Betapa terkejutnya Rivaille saat melihat keadaan mansionnya yang kosong. Dan mengetahui Eren tak ada disana. Dia baru saja pulang dari kantornya pagi ini dan langsung berlari-lari mengelilingi mansion untuk mengecek lagi keberadaan Eren.

Nihil, tetap tidak ada.

Ingin menghubungi Eren pun mustahil karena Eren tak memiliki handphone. Rivaille mengacak rambutnya frustasi. Sebenarnya kemana perginya Eren?

Tiba-tiba handphonenya berdering, dan langsung diangkatnya tanpa perduli siapa yang menelphonenya.

"Rivaille! cepat pergi ke kota pinggiran Wall Maria!" terdengar suara dari ujung sana. Suara ini, milik Hanji Zoe. Tapi tidak seperti biasanya. Seperti suara orang yang panik.

"Ada apa Hanji?"

"Eren! Cepat Rivaille! Eren!" mendengar nama Eren yang disebutkan Rivaille langsung mematikan handphonenya dan dengan secepat kilat Rivaille berlari menuju tempat yang di maksud Hanji Tadi. Tanpa peduli dengan tampilannya yang acak-acakan. Tanpa peduli dengan pandangan orang-orang yang mengangapnya aneh. Yang dipikirannya kini hanya Eren, Eren dan Eren.

Sampai di tempat yang di tuju, nafasnya terengah-engah karena jarak antara mansionnya dan kota tepian Wall Maria memang cukup jauh. Tapi masa bodoh dengan itu, sekarang preoritas utamanya adalah Eren.

Dilihatnya polisi-polisi dari divisinya seperti Hanji, Petra, dan Ervin dan polisi-polisi lainnya yang mengerubuni sebuah gundukan salju di bawah pohon oak besar tak berdaun. Cepat-cepat dilangkahkan kakinya menuju rekan-rekannya itu.

"Ada apa ini?" tanyanya langsung dan dibalas tatapan sendu oleh Petra dan Ervin dan Hanji yang mengusap air matanya.

Karena tidak ada satu pun yang menjawab, membuat Rivaille berdecak kesal. Namun saat pandangannya menuju gundukan salju yang ada di dekat pohon oak besar itu. Mata hitamnya berkilat tak percaya.

Itu Eren? Itu Erennya yang terkubur dalam salju dalam keadaan yang mengenaskan.

Ingin rasanya kini dia mengamuk dan berteriak sejadi-jadinya. Tapi reaksinya hanya bisa mematung tak percaya.

Orang yang paling dikasihinya kini telah tiada.

.

.

.

The End

.

.

.


"OMAKE"

Sebulan setelah kejadian itu penduduk kota malah bersorak sorai dan perpesta besar-besaran. Semuanya bersuka-ria.

Tanpa tau sebuah sosok misterius memandang tajam pesta para penduduk di ujung pohon besar disana.

Pesta itu berlangsung dari jam 5.00pm sampai jam 1.00am dini hari. Orang-orang pulang dengan perasaan senang dan bahagia karena bisa terbebas dari kesialan yang bisa menimpa mereka kapan saja.

Seorang pemuda pulang dengan keadaan mabuk. Jalannya sudah tak karuan, sambil bersiul-siul. Tangannya memegang sebotol bir yang sudah setengahnya habis.

"Eh?" dirasakan oleh pemuda itu telah menyandung sesuatu. Dan pandangannya teralih pada kaki berbalut celana lusuh dibawahnya.

Oh, ternyata kaki bocah gelandangan yang di tidur di trotoar jalan pikirnya.

"Dingin." Pemuda mabuk itu mendengar perkataan gelandangan berambut hazel yang terduduk di tembok tepi jalan itu yang memeluk kakinya dengan lengannya.

"Tentu saja bodoh! Sekarang kan musim dingin hahahaha!" pemuda mabuk itu tertawa keras. "Salahmu yang seorang gelandangan jadi kau tidak bisa merasakan kegembiraan dan kehangatan! Rumah saja kau tak punya! Hahahahaa!" pemuda itu kembali tertawa keras dan mulai malangkah pergi lagi.

"Kau berpikir seperti itu?" dan tiba-tiba sosok gelandangan itu sudah ada di depan pemuda mabuk itu memperlihatkan mata kirinya yang kosong yang mengalirkan darah beku. Dengan tatapan tajam dari iris jade di kananya yang utuh. Baru terlihat kalau pinggang kiri gelandangan itu juga memperlihatkan luka menganga yang dalam, seperti robek. Wajah pemuda mabuk itu langsung memucat. Dan langsung lari terbirit-birit sambil berteriak kesetanan.

"Mau pergi kemana kau?" sosok gelandangan itu kini kembali muncul di depannya. Membuat pemuda itu jatuh terduduk ketakutan. "Kalian harus membayar apa yang kalian lakukan padaku!"

GYAAAAAAAAAA!


Penduduk mulai resah kembali, issu tentang setan salju merembak kemana-mana dari mulut kemulut. Karena korbannya yang terus berjatuhan dengan kondisi mengenaskan, matanya tercongkel satu dengan luka besar yang terbuka lebar di dada kiri tiap korbanya seperti hendak mencopot jantung sang korban di tiap malam dimana salju turun.

Rivaille awalnya tak acuh, sampai sang ketua keamanan kota Ervin Smith menugaskannya untuk menyelidiki kasus ini dengan berpatroli di malam hari.

Awalnya dia tidak mau, salju mengingatkannya pada kematian Eren yang mengenaskan. Di tambah penduduk kota yang mulai mengaitkan kematian Eren dengan semua kejadian pembunuhan itu. Tapi sebagai seorang perfesional dia harus menyanggupi perintah atasannya itu.


Malam harinya Rivaille menjejakkan kakinya di trotoar kota yang sepi. Semenjak rumor itu beredar. Orang-orang tidak berani untuk keluar dimalam hari saat hujan salju turun dan mengunci semua cela di rumahnya untuk berlindung.

Rivaille melarang Eren untuk keluar dari mansion karena tau resiko Eren jika pergi dari mansion adalah seperti ini. Kata-kata penduduk terlalu berlebihan, dirinya tidak pernah mengalami apapun setelah lama mengenal Eren'kan?

Rivaille mendongakkan kepalanya memandang salju yang berjatuhan. Seandainya saat itu dia bisa menemuka Eren sebelum kematian menjemputnya pasti saat ini Eren masih berada di sampingnya dalam pelukannya.

Tapi apa daya, semuanya telah terjadi. Eren sudah tiada. Tanpa di rasakannya kakinya membawanya pada tempat perkara itu. Dimana tubuh Eren dikuburkan. Di samping pohon oak besar tak berdaun itu.

Eren di makamkan disana.

Kakinya kembali melangkah untuk lebih dekat dengan makam orang yang dikasihinya yang kini tertimbun salju.

Berjongkok di samping makam itu dan sedikit membersihkan tumpukan salju yang menutupinya. Masih tidak rela di tinggalkan begitu cepat. Matanya terpejam sejenak mengenang saat-saat dimana Eren masih hidup.

Tiab-tiba angin dingin berhembus dengan kencang.

"Rivaille..."

Rivaille membuka matanya cepat saat mendengar suara itu, suara Eren.

Entah yang sekarang dilihatnya ilusi atau apa. Rivaille merasakan senang dan sedih secara bersamaan. Senang karena dapat melihat Eren yang duduk bersila di hadapannya. Dan sedih melihat keadaan Eren yang sama seperti saat kematiannya.

Tubuh itu membiru...

Dengan luka robek dipinggang yang dulu selalu di dekapnya erat...

Dan sepasang mata bermanik jade kesukaannya yang kehilangaan satu maniknya disebelah kiri...

Rivaille langsung memeluk tubuh beku itu. Dia tak peduli dengan bau anyir yang menguar dari darah yang menempel dengan mantel yang dipakaiannya.

Yang terpenting kini Eren ada di hadapannya. Dan kembali pada jangkauannya.

"Rivaille..." Eren membalas pelukan Rivaille dengan senyum yang menghiasi bibirnya yang agak robek dan membiru.

Setelah beberapa lama pelukan itu terlepas. Eren memandang sendu pada sosok dihadapannya.

"Eren kau'kah sang setan salju?" tanya Rivaille di genggamnya tangan yang kini sudah tidak mengahantarkan kehangatan lagi. Di tatapnya dalam sosok sang terkasih yang kini sangat berbeda.

"Ya, orang-orang itu harus menyesal." Sosok baru Eren itu memandang tajam Rivaille. disitu Rivaille dapat melihat tekat Eren yang telah bulat. Tidak bisa di ganggu gugat. "Haruskah?" tanya Rivaille lagi mengeratkan pagangannya pada tangan Eren.

"Harus." Perkata Eren kali ini adalah absolute. Rivaille tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ini sudah keputusan Eren.

"Aku akan tetap disini sampai dendam ini terbalaskan, aku akan pergi setelah semuanya selesai." Eren tersenyum, pandanganya berubah sayang pada Rivaille.

"Kau bisa mengunjungiku tiap musim dingin." Bibir pucat itu kembali berkata. Tangannya sesekali mengelus tangan Rivaille.

"Sekarang aku harus pergi." Eren tersenyum kecut saat mengatakan hal itu.

"Sampai jumpa." Kalimat terakhir itu sukses meluncur dari bibir Eren sebelum tubuhnya lebur, berubah menjadi kepingan salju yang terbang terbawa angin.

"Sampai Jumpa, Eren."

Dan Rivaille hanya bisa menatap sedih pada langit malam yang kelam dengan hujan salju yang kian menderas.

.

.

.

(Beneran) The End

.

.

.


A/N: #tepar

Alamak, saya ngak nyangka ini chap tiga bisa jadi sepanjang ini! Mana pas pembuatannya di cut terus sama tou-san karena satu kabel computer di pakai berdua =3=

Maunya sih angkat tema ini pas sudah masuk musim dingin (Desember) tapi tak apa lah sekarang saja lah dipakai~

Tentang tanggal 14 Desember itu hanya secerca pengetahuan yang saya ketahui di fandom ibu saya dulu. #uhuk

Dan saya sempat memaki-maki diri saya sendiri saat membuat adegan nyerempet rate-M itu. Argghhh! Apa sih yang saya pikirkan saat buat adegan itu?! Itu bukan ciri khas saya! Dx #plak

Ekhem, yasudahlah...

Please Review~