Disclaimer: bukahkah seluruh karakter dalam Naruto milik Masashi Kishimoto?
Genre: Com-Rom (Comedy-Romance), Hurt/Comfort.
Main Chara: Ino Yamanaka and Shikamaru Nara
Warning: author amatiran, abal tak terkira, banyak kesalahan dalam penulisan, payah EYD, bergelimpungan typo(s), hanya berharap maklum dari para readers.
Summary: "Mencintainya semanis rasa madu, dan patah hati karenanya bisa berubah drastis menjadi sepahit empedu." Ini hanyalah masalah persoalan manis-pahit rasa mencinta didalam kebisuan, rasa mennyukai di dalam diam, dan rasa sayang di dalam bungkam
Honey Bitters
Angin menderu, seolah bersuara padaku untuk menikmati fajar ini. Kicauan burung bernyanyi antara satu bait ke bait yang lain, seakan menyenandungkan kiasan alam. Matahari sedikit demi sedikit mulai beranjak dari persembunyiannya, seperti memaksaku untuk segera mengumpulkan nyawa yang belum terjaga.
Oke, cukup saja pembukaan dengan beberapa personifikasi itu. Aku harus segera menyadarkan diriku sendiri sebelum hal tersebut dilakukan secara sadis oleh jam weker di kamar, atau bahkan teriakan dari kakak semata wayangku. Retina mataku masih secara remang-remang menerima pantulan objek yang terdireksi, napasku pun masih menunjukan rasa enggan untuk mengakhiri sesi my slepping beauty.
Alih-alih bergerak dari posisi baringku, aku malah sedikit berbalik dan memeluk guling besar yang sukses tidak kuperdulikan sebelumnya. Kuambil ancang-ancang untuk kembali memasuki alam bawah sadar, di mana aku berperan sebagai pemain utama dalam mimpiku sendiri. Lamat-lamat, aku teringat akan kegiatan yang harus kulalui untuk hari ini, dan sesegeranya untuk memulai aktivitas yang paling dini – mandi.
Beberapa menit kulalui di kamar mandi, yang setelah itu langsung kusambung dengan menempatkan diri di depan meja riasku. Menerima reflesksi bayangan dari cermin, membuatku tiba-tiba menampilkan senyum sumringah. Ah, bila kau berpikir aku mengidap gangguan narsisme, maka seharusnya kau memohon maaf padaku. Runcingan di tiap sisi bibirku bukan semata-mata mengagumi diri, hal ini terjadi karena aku mengingat si pencuri hati. Aku akan berjumpa dengannya sebentar lagi!
Terimakasih kepada hari minggu kemarin, yang telah membuatku absen sehari tidak bertemu dengan Shikamaru. Sialnya, dalam kurun duapuluh empat jam saja tidak melihatnya, rasa rindu menguar dengan heboh di dalam dadaku. Pembelaan jituku hanya satu, bukankah waktu berjalan begitu lambat saat kau merindukan seseorang yang kau cinta?
Berniat memintanya untuk datang ke rumahku, tapi yang ada aku tidak memiliki pasokan rasionalisasi yang baik menurutku. Menyuruhnya kemari dengan alasan ingin curhat karena patah hati, jamin saja aku akan menerima kata kramatnya lagi. Jadi, benar adanya kalau aku menanti dengan tidak sabar senin ini. Maaf bagi pembenci si pengakhir weekend itu, karena yang aku tahu bahwa tidak sebaiknya mentelantarkan rasa kangenku.
Secara implisit, aku mendudukan tubuhku pada kursi di depan depan cermin rias. Menopang dagu dengan kedua telapak tangan yang bertumpu pada meja, direksi arah pandangku mengarah ke atas, mengartikan aku sedang membayangkannya. Aku mulai berimajinasi, menikmati dengan khidmat khayalan sendiri.
Tuhan, pemintaanku hanya dua – bila ia memang untukku, maka secepatnya jadikan ia milikku. Namun apa bila ia tidak bernasib menjadi punyaku, aku yakin kau bisa dengan mudah merubah takdirnya. Eeh, apa itu? Kuharap Tuhan tidak marah dan menghukumku karena berdoa seperti bukan orang yang meminta, melainkan memaksa.
Tok..! Tok..! Tok..! Bunyi ketukan pintu itu berhasil menghentikan lamunanku, "iyaa, aku sudah bangun." Langsung saja aku berucap demikian, sebab aku sudah sangat tahu siapa pelakunya – kakakku, Deidara. Tidak ada lagi bagiku untuk berlama-lama diam pada posisi yang itu-itu saja, selekasnya aku menggunakan esensi dandanku dan mengenakan seragam sekolahku.
Setelah yakin benar-benar masuk dalam kategorisasi penampilanku seperti biasanya, cepat-cepat aku mendestinasikan jejak langkah keluar kamar. Bermaksud untuk mendatangi kakakku yang pasti sudah menunggu, dan faktanya ia memang dalam keadaan menanti di sofa ruang tamu. Tersenyum, hal itulah yang pertama kali kudapati darinya, yang kubalas dengan cara yang sama.
"Pagi, nii..!" tegurku pertama kali, yang ia responi hanya dengan anggukan kepala singkat. Tidak untuk mendudukan diri di sebelahnya, aku berjalan terlebih dahulu dan diikutinya dari belakang. Hampir seperti itulah yang terjadi di tiap pagi, di mana Dei-nii dengan baiknya menungguku dan mengantar untuk pergi ke sekolah.
Kakakku sudah menempatkan posisi di kursi kemudi, sedangkan aku mengambil bagian sampingnya. Ia bersiap menjalankan kendaraan roda empatnya dengan menekan tombol automatic starter, memainkan persneling mobil, dan melajukannya. Untuk sesaat keadaan hening menyertai, dan kurasa juga tidak ada yang perlu dibahas untuk kali ini.
"Hari ini kau mau kujempaut, atau bagaimana?" Dei-nii tiba- tiba melisankan tanyanya, sembari tetap memfokuskan perhatian pada jalanan. Aku menggeleng terlebih dahulu sebagai reaksi awal, "tidak," jawabku cepat dengan menunjukan raut wajah yakin. Kau bercanda yaa, Dei-nii? Aku kan, mau meminta Shikamaru untuk mengantarkanku pulang. Kalau kau menjemputku, mana aku punya kesempatan untuk lebih lama bersamanya.
Kakakku mengangguk-anggukan kepala pelan, sesekali ia memberikan pandangan netranya padaku. "Kau suka pada Shikamaru, yaa?" sontak bibirku terkatup demi apa yang baru saja dituturkan Dei-nii. Mataku mendelik kaget, namun cepat-cepat kusembunyikan dengan menunjukan rona santaiku. Mengehela napas pendek terlebih dahulu, menyiapkan seluruh kemampuan mental yang kumiliki sebelum membalas premis yang ia lontarkan.
"Tidak! Kakak ini, buat cerita asal saja." Bohong, jelas saja aku berdusta dengan berkata seperti itu. Kutuduh ia mengarang, tetapi sebenarnya akulah yang merangkai bualan. Setengah mati aku menyembunyikan gurat-gurat rasa malu, susah sekali untuk tetap membuat rima detakan jantungku tidak bertalu, rumit sekali menampilkan sebentuk muka acuh seraya memverbalisasikan ucapan palsu.
"Aah, sayang sekali, padahal kukira kau suka karena selalu meminta ia me..."
"Hah? Yang benar saja, memangnya itu menjadi patokanmu untuk menilai bahwa aku menyukainya?" seenaknya aku menyela ucapan kakakku guna membuatnya tidak semakin meragu. Kuberikan ia picingan mata tak suka, berniat mempersepsikannya kalau perasaanku seperti yang kuuraikan.
"Oh, yaa?" Sial! Tidak berhasil. Alih-alih percaya pada perkataan dan raut yakinku, ia malah sepertinya menyadari beberapa hal ganjil dari prilakuku. Terasa cekat napasku detik ini juga, sungguh aku tidak siap mengakui suka yang kupendam terhadap orang lain – yang aku tidak peduli mau ia kakakku atau bukan. Cukup Sakura saja, itupun sudah sukses membuatku kesusahan sebab tiap hari menerima desakannya.
Bungkam, tidak tahu harus mengatakan apa untuk selanjutnya. Bingung mencari alasan tepat untuk diverbalisasi, aku merasa sama sekali tidak memiliki rasionalisasi yang lebih baik lagi. "Tidak!" dari pada membuatnya semakin ingin menyelidik, cuma morfem itu yang bisa kuberikan. Bertujuan untuk mengakhiri sesi obrolan yang membuatku panik, cepat-cepat aku mengalihkan atensi pada ruas jalan.
Kutahu dari jangkauan pandang di ekor mata, bahwa sesekali masih saja Dei-nii melirikku. Berpura-pura tidak peduli, seolah aku meneguhkan diri dengan argumentasi yang tadi kuberikan. Pernahkah kau berada dalam posisiku serupa? Tahukah kau sulitnya berupaya menutupi rasa? Apakah mudah bagimu untuk melaluinya? Tolong beritahu aku, untuk dapat lari dari situasi ini dengan sebuah cara.
Akhirnya, sampai juga aku pada tempat tujuanku – Konoha International High School, sekolahku tersayang. Aku sudah bersiap hendak keluar dari mobil, akan tetapi terhalang saat Dei-nii menarik pergelangan tanganku. Bukan untuk kembali mengintrogasi, ia dengan manisnya memberikan kecupan di keningku, "have a nice day, my little piggy!"
Kontan kedua pipiku tergembung karena ulahnya, sedari dulu ia selalu saja melakukan hal yang sama – memperlakukanku seperti gadis mungil, dan mengataiku babi kecil. Cepat-cepat aku keluar dari kendaraannya, sebelum hal yang kuhindari terealisasi. Kulihat ia sudah mengambil ancang-ancang untuk pergi, lalu kembali tersenyum padaku. Namun sebelum Dei-nii benar-benar melang-lang jauh, sempat saja ia cetuskan satu ucapan…
"Bye, calon istri Shikamaru!" setelah mengatakan kalimat singkatnya, ia langsung melesat merentang jarak dariku. Bila ia tidak segera membuana, yakin saja aku langsung mencerca macam-macam. Sontak saja telingaku memanas karenanya, kini aku tidak dapat lagi mempertahankan rona merah padamku lebih lama.
Aku langsung menutup wajahku dengan kedua telapak tangan, berupa menyembunyikan sumringah hebat yang kulakukan. Kuturunkan penutup muka hingga sebatas hidung, dengan indera visual yang bebas aku menengok ke arah kanan-kiriku guna mengamati keadaan sekitar sebelum melanjutkan euphoria.
Tidak ada siapa-siapa, secara spontan aku menghentak-hentakkan kaki lantaran sangking bahagianya. Dalam hati, aku tak sedikit pun berhenti mengamini penuturan yang hanya berupa ejekan kakakku tadi. Inikah rasanya jatuh cinta, hati akan sangat berbunga-bunga meski hanya persoalan sepele tentangnya? Destinasi sentuhan tanganku beralih ke dada, merasakan degupan yang sewajibnya biasa saja.
"Ino-chan?" tutur dengan intonasi bertanya itu kuterima dari seseorang. Adududuh! Aku hanya mengamati kedua sisi sampingku, tapi aku lupa mengawasi bagian belakang. Secara patah-patah aku menengok pada asal-muasal artikulasi, mendapati sang penjaga gerbang sekolah menatapku penuh keheranan – Kotetsu sukses kubuat cengo.
"Kau kenapa?" salah, karena pada dasarnya akulah yang harusnya menerima pertanyaan tadi. Segera aku membuang kesenanganku, memberikan tatapan ingin tahu pada orang yang saat ini membatu di hadapanku. Berakting mengenai tidak terjadi hal ambigu padaku di beberapa detik yang lalu – tujuannya hanya satu, menutupi rahasiaku.
"Tidak apa-apa, Ino-chan," ujar Kotetsu seraya menggelengkan kepala pelan, ia stagnan di tempat bersama air muka yang tak ubah berbeda. Aku tersenyum manis padanya, berjalan dengan berjinjit sedikit demi sedikit menjauhi dan kusambung mengambil laju langkah seribu ke kelasku. Untung saja, hanya penjaga sekolah yang mendapatiku segila tadi. Bila seluruh warga sekolah yang menemukan, maka hancurlah reputasiku.
Cinta…
Rasa mencinta…
Perasaan jatuh cinta…
Bisa membuat siapa saja mengalami sakit jiwa!
o
O
o
Keadaan sekolah sudah tidak sepi lagi, suara hiruk-pikuk kini sangat mendominasi ransangan suara yang diterima indera pendengar. Aku dengan rasa yang tidak betah berlama-lama menunggunya, sesekali menengok ke arah pintu kelas. Tidak sabaran untuk melihatnya, ingin segera mendengar suaranya dan mendapati ia mengucapkan kata terhandalnya.
Aku menunggu Shikamaru, dan hal itu sukses membuatku gelisah tak menentu dibuatnya. Harap-harap cemas, aku bahkan sampai berhalusinasi ia sudah ada duduk di sampingku. Over dosis, aku sebaiknya dilarikan ke psikiater lantaran terlalu sering membayangkannya ada di dekatku. Keracunan, otakku memang sudah tertoksinasi olehnya!
Ini tengokanku ke arah pintu yang tidak tahu untuk keberapa kali, dan kudapati ia dengan berjalan santainya memasuki kelas. Melihatnya menyetapakkan langkah demi langkah untuk mengeliminasi jarak, membuat dunia dalam keadaan slow motion bagiku. Jika ini film, maka hal itu masuk dalam adegan yang diperkeren dengan maksud membuat penonton berdecak kagum.
Aku tidak tahu apa alasan tepatnya, tapi ia berhasil membuatku terpesona. Ia sukses membuatku terpana hingga dalam keadaan statis, dan tak mempu beranjak ke mana-mana. Hanya Shikamaru yang bisa membuatku dalam keadaan langka, yang mana hal itu membuatku memiliki alasan benar untuk terus menyukainya.
Rima detakan jantungku makin meningkat frekuensinya, menjadikan quantum fluktuasi yang timbul dari prinsip ketidakpastian mengenai rasa saat kusadari ia menghentikan langkah di sampingku dan tangannya menyentuh puncak kepalaku. Aku tertunduk, tidak mampu menyeimbangkan pikiran dan perasaan hingga tidak bisa kusembunyikan semburat kemerahan di pipiku.
Syukurlah Sakura belum datang, sebab nantinya aku akan kewalahan menerima ejekannya yang tak henti-henti. Kuangkat wajahku, aku tersenyum tipis dengan sendirinya ketika yakin keadaan sekitar tidak menjadikanku perhatian. Kugigit bibir bawahku agar tidak terus seperti itu lebih lama, soalnya aku takut disangka terkena kelainan jiwa.
Shikamaru sudah penempati bangkunya yang tepat di samping kananku. Sedikit aku melirik ke arahnya, menjatuhi netra pada ia yang sibuk merapikan buku-buku dalam ransel yang mungkin berantakan menurutnya. Aku punya resistensi yang tinggi hanya untuk memandanginya dengan cara mencuri-curi, dan secara bersamaan perasaanku menohok karena mencoba menetralisir tegangan.
"Pagi, Ino!" ia lontarkan ucapan selamat pagi itu untukku, yang aku balas dengan senyum semanis mungkin terhadapnya. Sayangnya, ia berkata tapi tidak sedikit pun memberikan arah netra padaku. Ia terlampau sibuk dengan kertas-kertas di genggamannya, dan nampak menganggapku tidak ada karena terus memberikan atensi pada objek mati yang sama.
"Heh, kalau menyapa seseorang berikan perhatianmu!" tutur sarkatisku padanya, terdengar menyebalkan karena aku berujar dengan nada skeptis berdesibel tinggi. Pernah kukatakan, kan? Sandiwara sudah menjadi keahlianku hari-hari di depannya. Ia memindahkan direksi pandangan visualnya padaku, menatap dengan kening yang terlihat mengkerut.
"Lagi pula, apa bagusnya kertas-kertas itu?" imbuhku, sembari memberikan picingan terhadap benda tak bernyawa di tangannya.
"Sssst..!" aku menerima sebentuk desisnya dari suara yang keluar dari mulut saat gigi terkatup rapat satu sama lain. "Kau menyebalkan, Ino. Jam segini, kau sudah ribut sendiri!" apa? Dia bilang apa tadi? Aku menyebalkan, dan apa ia membenciku? Astagaaa..! Padahal aku tidak bermaksud seperti itu.
Ia kembali memperhatikan kertas-kertas itu, yang baginya mungkin jauh lebih menarik dari pada gadis secantikku. Shikamaru sial! Pagi-pagi, kau sudah membuatku merasa patah hati. Aku jadi sedih sendiri, anehnya karena beberapa detik yang lalu aku kegirangan setengah mati. Aah, cinta nampaknya benar-benar bisa membuatmu terkena gangguan emosi.
Drap..!
Draap..!
Draaaap..!
Kudengar seseorang melangkah dengan tergesanya, dan saat aku mengalihkan pada sumber suara, kudapati Sakura berlari dengan seriusnya. Menghentikan langkahnya tepat di akses ruang antara aku dan Shikamaru, tanda diminta aku langsung memberikan ia jalan untuk mendudukan diri di samping kiriku.
Helaan napasnya terasa berat, sembari menyandarkan tubuh pada tembok kelas ia seperti bersiap untuk memverbalisasikan isi otaknya. Kali ini, aku harap ia tidak memaksa untuk mengakui perasaanku langsung di depan Shikamaru. Yakin saja, aku tidak akan mengenal belas kasih untuk langsung mengulitinya.
"Shikamaru, benarkah kemarin kau jalan dengan Temari-senpai? Apa benar kau berkencan dengan orang yang lebih tua darimu? Astagaa..!" bukan Shikamaru yang terkaget menerima pertanyaan frontal itu, secara spontan kedua mataku terbelalak.
"Kau tahu dari mana?" rasa ingin tahuku melebihi segalanya, tidak tanggung-tanggung aku langsung mendestinasikan Tanya pada Sakura.
"Barusan, saat melewati kelas 12-B! Itu loh, kelasnya si Rei Temari. Kelas yang paling dekat dengan kelas 12-A, dan di sebelahnya ada kelas 12-C." Tak perlu dijabarkan terlalu detail, aku dan Shikamaru juga sudah tahu soal yang satu itu.
Shikamaru belum memberikan klarifikasi apa-apa, ia malah tersenyum tipis sembari beberapa kali menggelengkan kepala. Tidak ada jawabannya, ia sudah memberikan atensinya kembali pada objek yang itu-itu saja. Kenapa ia acuh seperti itu, apa ia tak tahu saat ini aku membutuhkan penjelasan? Ini hal yang sangat penting.
Aku tidak tahu, karena tidak sepantasnya aku merasa keki karena ia nampak tidak peduli. Rangsangan yang kuterima mempengaruhi tindakanku, dan yang kulakukan adalah mengambil dengan paksa apa yang menjadi perhatiannya. Memasang tampang kesal, yang sepertinya tidak layak untukku berikan pada Shikamaru.
"Mendokusai. Kau kenapa, sih?"
"Kau yang kenapa? Ditanya orang malah tidak dijawab."
"Apa pedulimu?"
"Tentu aku peduli."
"Alasanmu?"
"Haaaii semuaaaa..!" perdebatanku dengan Shikamaru spontan terhenti karena seruan menyapa seseorang, Uzumaki Naruto. Ia dengan cengiran tak berdosanya, melambai-lambaikan tangan yang ia tujukan pada kekasihnya dari bangku di sebelah Shikamaru. Sakura tidak merespon banyak, hanya menaruh jari telunjuk di depan bibirnya sembari berdesis pelan – mengartikan, jangan berisik!
Shikamaru mengambil kembali kertas-kertasnya, aku tidak bisa bersuara apa-apa saat yang kuterima ia bergumam pelan. Mengatakan dengan gerutuan mengenai betapa mengesalkannya aku, dan kembali memfokuskan pada benda yang tadi jadi perebutan kami. Aku hampir menangis karenanya, ia tidak tahu aku seperti ini sebab tidak ingin kehilangannya.
Ia malah marah padaku, mengatakan bahwa aku menyebalkan dan terlalu mengesalkan. Kau tidak tahu apa-apa, Shikamaru. Kau tidak mengerti apapun tentang perasaanku padamu. Kau hanya tahu apa yang nampak pada diriku, kau cuma mau mengerti dari apa saja yang terverbalisasi. Sama sekali kau tidak mau tahu tentang detail-detal yang tersembunyi, kau tidak paham apapun!
"Shikamaru..!" kutahu dari suaranya bahwa Temari yang memanggil namanya. Gadis berkepang empat itu berdiri di ambang pintu sembari melambai-lambaikan tangan pada Shikamaru. Sakit, ada rasa perih yang timbul saat kulihat Shikamaru tersenyum pada sosok itu. Kuhela napas pendek sesaat, hanya terdiam saja ketika ia melangkah mendekati Temari.
Aku sama sekali tidak tahu apa yang mereka bicarakan, biarpun setengah mati aku menebak isi wacana dari gerak bibir mereka, tapi tetap saja tidak kudapati arah pembicaraan itu. Kulihat keduanya seperti akan pergi meningalkan posisi semula, "Shikamaru! Kau mau ke mana? Lima menit lagi bel akan berbunyi." Aku tidak bisa membiarkan ia pergi begitu saja dengan gadis itu.
Shikamaru hanya mengangguk, namun ia sama sekali tidak mengidahkan ucapanku. Ia tetap berjalan bersama Temari, yang entah kemana arahnya. Aku membeku di bangku, terus menatapi nanar hilangnya ia. Ingin mengejar, tapi aku belum punya keberanian. Kupindahkan direksi netraku pada Sakura, ia malah mengangkat kedua bahunya bersamaan.
"Waaah, jangan-jangan Temari ingin menyatakan cinta pada Shikamaru." Naruto megemukakan konklusi, membuatku sedikit tersontak dan ada rasa aneh yang menohok di bagian satu jengkal di bawah daguku.
Kembali aku menatap sahabatku, kali ini ia merespon secara berbeda. Sakura menganggukan kepala, dan silangan kedua tangannya yang berulang naik-turun itu mengartikan sabotase. "Oke!" morfem singkat itu menandakan bahwa aku baru saja mendapatkan dukungan moril secara eksternal, bergegas mengikuti tujuan pergi Shikamaru.
Teeet..! Teet…! Teet..! Bunyi bel tanda pelajaran akan segera dimulai, dan menurut jadwal akademis menunjukan pengajar yang akan segera masuk untuk membawa materi adalah Asuma-sensei. Tidak kupedulikan kalau-kalau sebab keterlambatanku akan diminta guru itu mengerjakan soal-soal yang ia berikan di depan kelas, prioritasku adalah menemukan Shikamaru.
Aku celingukan ke sana-kemari, netraku menyapu setiap sisi, dan panjangnya koridor kelas setapak demi setapak aku susuri. Aku harus bertemu Shikamaru sebelum apa yang dikatakan Naruto benar-benar terjadi, dan membuatku dalam penyesalan tingkat tinggi. Untungnya saat ini ruas jalan di lorong kelas tidak seramai sebelumnya, membuatku lebih mudah untuk mencoba mendapatkannya.
Setengah mati aku mencari, akan tetapi tidak sia-sia saat aku menemukannya berdua dengan Temari di samping bangunan laboratorium MIPA. Aku tidak tahu apa yang mereka bahas, juga tidak lagi berniat tahu karena begitu sampainya aku di dekat mereka, aku langsung menarik pergelangan tangan Shikamaru. "Ayoo pergi, kelas sudah dimulai!"
"Aku masih ada urusan, Ino." Kali ini Shikamaru menampik genggamanku. Ia menunjukan raut-raut tidak senang atas apa yang kulakukan.
"Nanti saja!" aku kembali mencoba menuntutnya untuk ikut serta ke kelas.
"Kau lihat tidak, aku masih ada urusan dengan orang lain?"
"Ada hal penting yang harus kukatakan?"
"Apa?"
"Kau harus mengantarkanku pulang, soalnya kakakku sibuk."
"Tidak bisa, karena aku sudah ada janji dengan Temari." Aku tak tahu, sekiranya lisan apa lagi yang dapat kulontarkan. Terdiam, sama sekali tidak memiliki pasokan verbalisasi yang bisa kuberikan agar ia mengikutiku. Aku tertunduk, berusaha agar tidak jatuh setetes pun bulir-bulir likuid bening dari mataku. Shikamaru tidak mau tahu, ia malah kembali mendekati Temari dan berbicara sangat pelan.
Rupanya itu tidak lama, karena selanjutnya ia yang menarikku pergi. Nampak pembalasan untuk hari kemarin, kali ini aku diam saja saat Shikamaru membawaku menjauhi alokasi sebelumnya. Aku terus tertunduk, masih saja mencoba untuk tidak menangis. Aku tidak bersuara apa-apa, tapi dalam hati aku berteriak histeris. Aku diam saja, walau rasa sakit yang kurasakan akan mampu membuatku meraung. Aku bungkam, biar pun sebenarnya ingin untuk memberontak.
Sekalipun aku mau untuk melakukan hal yang kutahan, tapi takkan pernah bisa karena saat aku membandingkan rasa ketika ia menyakiti dan cinta yang kumiliki, ternyata sayangku jauh lebih mendominasi. Satu sisi diriku ingin mencercanya karena ia tidak mengutamakanku, namun rasa sukaku menguasai hingga lebih bisa menerima dengan mendusta nurani.
Aku seperti seorang masokis saja, di mana aku akan dengan senang hati membiarkan orang lain menyakitiku, tetap akan tersenyum saja meski ia tidak peduli akan perasaanku. Aku ini, sebenarnya sudah terikat oleh cinta buta atau hanya ketidak mauanku saja untuk menindak serta meregresikan rasa cinta? Jangan bilang, bahwa ini hukum karma dari Tuhan atas doaku yang terdengar seperti memaksa – memang menuntut.
Kau bisa menumbuhkan rasa suka.
Kau juga bisa memberikan tetesan airmata.
Namun apa daya, aku tak bisa berbuat apa saja.
Lantaran rasa sukaku padamu sudah melebihi segala.
Hanya satu keinginanku yang belum terucap untukmu, Nara.
Berharap kau tahu betapa besar rasa yang kupendam bernama cinta.
To Be Continued..!
A/N:
Awalnya, yang saya niat untuk diupdate itu Foolish Heroic, tapi karena terjadi deficit idea untuk chapter lima, maka saya melakukan pengundian seperti arisan. Jika yang terpilih FH, maka yakin saja saya akan memperkosa otak saya untuk bekerja. Saya gulung empat kertas yang di dalamnya masing-masing judul fic saya yang sedang progress, lalu saya meminta adik saya memilhnya. Tadaaaaa…! Terpilihlah fic ini!* author gajelassss..!
Nampaknya, fic ini bakal benar-bener jadi three-shoot atau bahkan ngadet lagi menjadi empat atau lima chapter. Maaf kalau chapter ini nampaknya sangat mengecewakan, alur juga juga pasti kecepatan karena tidak tahu kenapa otak saya konslet seketika begitu sadar banyak deadline tugas di akhir mei ini.
oke, terakhir saya minta tolong untuk dibantu mengkoreksi letak kesalahan fic ini, karena pada dasarnya saya juga masih belajar dan tentu banyak kekurangan.
so, review pleaaaseeee..!
