Kau bisa menumbuhkan rasa suka.
Kau juga bisa memberikan tetesan air mata.
Namun apa daya, aku tak bisa berbuat apa saja.
Lantaran rasa sukaku padamu sudah melebihi segala.
Hanya satu keinginanku yang belum terucap untukmu, Nara.
Berharap kau tahu betapa besar rasa yang kupendam bernama cinta.
Disclaimer: bukahkah seluruh karakter dalam Naruto milik Masashi Kishimoto?
Genre: Com-Rom (Comedy-Romance), Hurt/Comfort.
Main Chara: Ino Yamanaka and Shikamaru Nara
Warning: author amatiran, abal tak terkira, banyak kesalahan dalam penulisan, payah EYD, bergelimpungan typo(s), hanya berharap maklum dari para readers.
Summary: "Mencintainya semanis rasa madu, dan patah hati karenanya bisa berubah drastis menjadi sepahit empedu." Ini hanyalah masalah persoalan manis-pahit rasa mencinta di dalam kebisuan, rasa mennyukai di dalam diam, dan rasa sayang di dalam bungkam
Honey Bitters
Menyebalkan, entah apa lagi kata yang lebih tepat sebagai pengungkapan perasaan kesalku siang ini. Tak sama dengan beberapa jam yang lalu, saat sebelumnya aku jingkrak-jingkrak kesenangan seperti terkena gangguan jiwa, dan sekarang keadaan berbeda sedang terjadi. Yaa, aku layaknya manusia buangan menunggu kakak semata wayangku datang menjemput.
Ada apa ini? Padahal, tadi pagi aku melarangnya untuk mengambiliku sepulang sekolah. Dan sekarang, nampak ada jadwal di luar dugaan. Apalagi kalau bukan karena seorang Shikamaru Nara yang aku harapkan bisa mengantarku pulang, kini tidak tahu di mana rimbanya ia. Ooh, Shikamaru, kau buatku bahagia, serta memberiku luka. Terlalu puitis? Mungkin saja.
Indera visualku sedari tadi hanya hilir mudik melihati rekan satu sekolahku melanglang pergi. Begitupun dengan sahabatku, setelah mengatakan untuk bersabar menunggu, ia pun hilang membuana dengan kekasih tercintanya. Menghela napas sekali lagi, lantaran terlalu bosan, aku menendang satu kerikil tak bersalah.
"Ino-chan?" aah, suara ini lagi. Intonasi bertanya dari orang yang sama dengan tadi pagi – Kotetsu, sang penjaga sekolah. Kuarahkan atensiku pada asal-muasal verbalisasi, jangan lupa juga satu delikan sarkastis terbaikku. Mau apa dia manggil-manggil, sih? Tidak sayang nyawa mungkin. Mengerti tatapan tak ingin digubris, dengan perlahan tapi pasti ia menjauhiku. Ooh, baguslah, ia masih mencintai hidup rupanya.
Kuperbaiki arah sampiran tasku, sekali lagi memberikan helaan napas pendek. Shikamaru, kau di mana? Pasti sedang bersama Temari, yaa? Kau tidak berkencan dengannya, kan, sayang? Pertanyaan-pertanyaan itu terus meluncur di benakku, dan tentu saja tidak menemui satu kata pun untuk dijadikan jawaban. Semuanya ambigu, seluruhnya tidak menentu. Kutundukan kepalaku, sekarang aku benar-benar dalam keadaan lelah meski hanya berada di sekolah.
Tin…! Tin…!
Sontak aku terkejut demi mendengar dua bait suara klakson mobil yang hanya berjarak tiga meter dariku. Sialan, nampaknya orang ini mau mencari masalah! Kuangkat kepalaku, dan alih-alih menghardik si pelaku, aku hanya bisa terdiam tatkala mendapati Dei-nii mengacungkan dua jari membentuk manualism perdamaian – V for peace.
"Kau terlalu sibuk dengan pikiranmu sendiri," celotehnya saat aku sudah menduduki kursi penumpang di sebelah ia. Sekali lagi melakukan tarikan napas, aku enggan untuk membalas ucapannya kali ini. Bad mood tingkat tinggi, bisa saja aku menjadi psikopat handal. "Hei…!" terkejut sekali lagi, saat aku mendapati teguran sapa dari belakang.
Menemukan seorang lelaki dengan wajah memakai banyak piercing, ia tersenyum usil untukku. "Dei, kenapa kau tidak cerita, kalau kau punya adik yang manis?" mahkluk ini, mau mati muda sepertinya. Bukannya menjawab tanya yang terlontar padanya, kakakku lebih memilih untuk memberikan satu senyum bangga dan memainkan persneling mobil.
"Kau mau coba menyetir?" tawar kakakku, yang aku yakin hanya sebuah intermezzo belaka. Kugelengkan kepalaku, sama sekali tidak berminat untuk melakukan apapun kali ini. Kecuali, jika berhubungan dengan Shikamaru, tentu lain lagi ceritanya. Mendapati reaksi minim, ia pun menambahkan, " kita ke Konoha Square dulu, yaa? Kami mau beli sesuatu." Dan aku masih pelit respon.
Hanya memakan durasi yang kurang dari dua puluh menit, sekarang aku sudah berada pada alokasi di salah satu supermarket kota ini. Awalnya hanya ingin tinggal di mobil, tapi akhirnya aku mengikuti ajakan Dei-nii untuk mencari makan siang. Berjalan di tengah dua pria tampan, sama sekali tidak membuatku merasa senang. Aah, jika saja manusia asing di mobil kakakku ini adalah Shikamaru, pastinya sekarang aku setengah mati menahan senyum sumringahku.
"Aku tunggu di Food Court saja," ujarku, saat merasa enggan menemani dua lelaki ini untuk mengikuti kesibukan mereka – mencari sesuatu yang aku tidak mau tahu. Pasca mendapati keduanya mengangguk, aku lantas mendestinasikan langkah pada tempat seperti yang kukatakan. Lunglai, tubuhku seakan terseret-seret mengikuti jejak kaki. Rotasi netraku menyapu sekeliling, namun semua pemandangan mengalami pemudaran warna bagiku.
Eeh, tunggu dulu! Spontan bola mataku membesar saat mendapati satu sosok yang sudah sangat teridentifikasi. Itu Shikamaru, dan ia tidak seorang diri. Satu demi satu tapakan kakiku mengarah mendekatinya, sekadar untuk mendapati penglihatan akan ia lebih jelas. Kulihatinya berdiri di depan toko kecil yang menjual assesoris, dan sosok lain di sampingnya tengah sibuk mencoba-coba gelang perak di pergelangannya.
"Kira-kira bagus, tidak?" Temari bertanya, yang cuma dijawab Shikamaru berupa anggukan pelan. Ia tersenyum di sana, dan tampaknya begitu bahagia. Aku terdiam, merasa iri sebab dia tidak pernah seperti ini bila bersamaku. Satu sisi aku merasa tenang mendapati wajah berserinya, bagian yang lain mengutuk karena ia begitu senang saat ini – dan sepertinya, itu sedikit lebih mendominasi. Here's my dilemma!
Bukan hanya sampai di situ, aku semakin terpuruk saja saat kudapati Shikamaru yang membayar perhiasan tangan itu tanpa permintaan dari Temari. Padahal aku menyuruh ia mentraktir nonton saja, harus memakai acara menggerutu bermenit-menit. "Shikamaru…"gumamku lirih, aku yakin sorot mataku menunjukan rasa perih.
Aku bukan tipikal masokis, jadi tidak akan kubiarkan hal ini lebih lama menyakitiku. Perlahan-lahan langkah mundur kuterapkan, yang selanjutnya aku berbalik dan berlari menjauh. Hampir meneteskan air mata, yang sekuat mungkin kutahan sebab tak ingin jadi bahan soroton iba. Berupaya menemukan kakakku di tempat sebelumnya, yang untung saja ia masih di sana.
"Ayo, pulang!" ajakku, tak tahu menahu. Kutemukan raut bingung di wajahnya, dan aku yakin ia akan menanyakan penyebabnya." Sudahlah, pokoknya aku mau pulang!" ancap kutambahkan demikian, sebelum apa yang aku pikirkan terealisasi darinya. Tidak peduli akan tanggapannya, aku lebih dahulu berjalan meninggalkan ia dan temannya.
"Ino-chan, tunggu!" kudengar derap-derap kaki yang berusaha mengejarku, dan sama sekali tidak mampu untuk menyetarakan tapakan denganku. Sampai di basemant terlebih dahulu, aku membalikan badan dan menemukan keduanya masih berusaha mengeleminasi jarak. "Aku yang menyetir!" tiga kata tersebut telontar bersamaan perasaan kesal yang tak kunjung mereda.
Aku yang biasa duduk manis, sekarang menyibukan diri dengan aktivitas mengendarai mobil. Ooh, juga tidak lupa aku memutar lagu di audio player kendaraan kakakku dengan volume menjulang. Kebetulan playlist yang berjalan merupakan lagu dari penyanyi country nan cantik, Taylor Swift, RED. Begitu mendengar intro, pada lirik pertama aku sudah ikut bernyanyi.
'Loving him is like trying to change your mind.
Once you're already flying through the free fall.
Like the colors in autumn…
So bright just before they lose it all.'
Aku turut memperdengarkan suaraku, sama sekali kuacuhkan nada yang tidak sampai maupun sumbang parah. Dua orang yang masing-masing duduk di seberang dan belakangku, cuma bisa tersenyum kecut. Terus menyetir dengan kecepatan yang tidak biasa, aku bersamaan kepercayaan tingkat dewa melanjutkan…
'Losing him was blue like Id never known.
Missing him was dark grey all alone.
Forgetting him was like trying to know somebody you've never met…'
Harusnya saat ini aku mulai mengurangi laju kendaraan, mengingat beberapa meter lagi merupakan traffic light. Peduli apa, lampunya masih berwarna hijau, dan aku berusaha untuk mendapatkannya. Ditemani lagu yang kupikir pas dengan suasana hati, bukannya menurunkan kecepatan, aku malah semakin menjadi.
"But loving him …" serasa mempertarukan hidup dan mati, aku harus terus melaju dan tidak bisa berhenti karena lampu merah. Sayang, aku terlambat se-per sekian detik, membuatku harus menginjak pedal rem secara mendadak. Berkawan petikan akhir lagu, " RED…!" aku juga menambahkan aksen memukul stir kemudi dengan kedua kepalan tangan.
"Heei, nona, gayanya santai saja, dong! Aku tahu ini lampu merah, cuma tak perlu segitunya juga," tutur makhluk dari kursi belakang. Dia begitu cemas, hal ini terlihat dari ia beserta mimik khawatir memegangi erar-erat safety belt yang terpasang di tubuhnya."Bagaimana kalau dengan aransemen dari Tyler Ward saja? Lagu Red dibawakan dengan gaya mellow yang aman," demikian verbalisasi tambahan dari Dei-nii.
Aku mengambil satu tarikan napas, mencoba meregulasi emosi yang menyebabkanku dalam suasana buruk kali ini. Di detik kemudian, aku mendapatkan kesempatan untuk menjalankan mobil – lampu hijau menyala. Tidak lupa juga aku mematikan audio player yang menyala. Bosan dengan keadaan hening yang hanya sesaat, aku pun bernyanyi dengan suara gumaman. Lagu sahabat dari penyanyi sebelumnya, Selena Gomez, A Year Without Rain.
Sekali lagi, tepat pada bait penghujung, aku tidak tahan apabila tak menyuarakan dengan melengking, "… a year without RAIN!"
"Apa?" Sontak untuk kedua kalinya aku menginjak pedal rem, begitu mendapati seseorang dari arah belakang memberikan tanya dengan suara yang menggelegar. Kuberikan ia tatapan aneh, dan sialnya ia turut melakukan hal yang tak berbeda. " A year without RAIN, bukan PAIN!" klarifikiasi diberikan Dei-nii untuk rekannya, yang ditanggapi sang objek dengan anggukan kepala – isyarat mengerti.
Aku cengo seketika, mataku beberapa kali mengerjap heran. "Namanya Pain," terang saja penjelasan kedua ini diperuntukan padaku. Kuberikan sebentuk pergerakan kepala naik-turun, mencoba kembali untuk fokus pada jalan yang kususuri. Meskipun demikian, kadang aku masih melemparkan tatapan geli kepada dua orang di dekatku.
Bungkam, aku jauh memilih selamat dengan tidak menyanyikan lagu apapun. Ini hari apa, sih? Kok, rasa-rasanya sial tak kunjung berhenti. Sudah patah semangat bab pertama tadi pagi, baru saja sakit hati bagian dua dari orang yang sama, dan sekarang harus menahan rona kesal karena dua sosok di dekatku. Sabar… sabar, jangan sampai ada adegan gore di dalam mobil ini!
o
O
o
Pagi yang cerah, kontras sekali dengan perasaanku yang mendung – mungkin sudah hujan badai. Duduk diam di bangku, suasana kelas yang bising begitu terdengar sepi bagiku. Sesekali aku melirik kursi kosong di sampingku, orang yang aku tunggu belum memperlihatkan batang hidungnya. Keadaan galau kembali menguar di dalam pikiranku, diri yang satu ingin ia segera datang; bagian yang lain mau dia menghilang.
Mengingat kejadian kemarin, membuatku semakin merasa jatuh dalam jurang yang terjal. Seharusnya aku berhenti memikirkan hal itu, tapi rupanya manusia lebih sering mendapati apa yang tidak ia inginkan. Kuketuk-ketuk pelan meja di hadapanku, mendireksikan arah pandangan ke pintu. Mirisnya, bagai adegan yang terulang, ia memasuki kelas ketika atensiku menjurus ke sana.
Jejak kakinya setapak demi setapak, berbunyi begitu nyaring karena seluruh perhatianku hanya tertuju padanya. Tampak seperti dalam scene gerak lambat, slow motion dari sensasiku sendiri membuatnya begitu mempesona. Memposisikan dirinya di seberangku, sesaat aku memejamkan indera visual karena ritme detakan bertalu kencang.
Yaa, tidak bisa kutipu lagi. Aku memang mencintai pemuda berambut model nanas ini. Benar-benar menginginkannya, hingga rasanya duniaku hanya perpusat pada ia, dan akan selalu berporos padanya. Merapikan isi dalam tasnya, aku dari sudut ekor mataku berupaya untuk mengamati orang yang kupuja – sampai mati akan kupuja.
"Heei…!"akhirnya, ialah yang memulai sesi percakapan kami. Tersenyum tipis ke arahku, yang hanya bisa kubalas dengan sebentuk prilaku yang sama. Heei, genius, perhatikan bahasa tubuhku, kau akan tahu bahwa aku menyukaimu! Lihatlah lekat-lekat sorot mataku, nanarnya menunjukan kalau rasa yang kupunya hanya untukmu. Bodoh, ia tidak melakukannya. Mungkin, akan lebih baik semua orang mempertimbangkan kemampuan intelegensinya.
"Ada apa?" ia malah bertutur seperti itu, serta pandangannya yang menunjukan arti tidak tahu. Kugelengkan pelan kepalaku sebagai respon pemula, dan diteruskan dengan senyum semanis yang aku bisa. Apakah jauh lebih baik kalau aku yang mengatakan langsung tentang perasaanku? Otakku terus berpikir demikian, dan satu keputusan kuberlakukan.
"Shikamaru, bisa nanti aku bicara padamu sepulang sekolah?" ia mengiyakan dengan anggukan kepala. Sembari terus melempar senyuman tipis, aku mencoba untuk berpikir positif tentang kejadian kemarin. Mungkin deskripsi klise satu ini sudah sering dibawakan, di mana orang yang kau cintai mengajak jalan gadis lain untuk membelikannya sesuatu, yang rupa-rupanya benda tersebut untukmu. Karangan yang begitu umum, tapi aku mengharapkannya.
Taklama, bel tanda pelajaran akan segera dimulai berbunyi nyaring. Suasana yang tadinya begitu ramai, kini dalam keadaan yang jauh berbeda. Apalagi, saat guru kimia, Kurenai, yang terkenal killer itu datang mengajar. Di keheningan, diam-diam aku memfokuskan seluruh perhatianku padanya. Takkan bisa tertuju pada yang lain, cuma ke dia. Dia dan dia.
Waktu meniti, durasi berlalu. Sekarang aku celingukan sendiri mencari Shikamaru, yang entah saat ini ia berada di mana. Berulang kali mencoba menghubunginya melalui saluran telekomunikasi jarak jauh, yang kuterima hanya nada sambung monoton dan suara operator seluler. Hingga ke tempat parkiran mobil, aku mendapati ia memasuki barang-barang dari laboratorium MIPA ke dalam bagasinya.
"Shikamaru…!" dengan kecepatan lari yang kuambil, tentu saat berdepanan dengannya membuat napasku terengah. Ia menatapku bingung," kau kenapa?" dasar bodoh, ia malah melontarkan tanya seperti itu. Kuatur pernapasanku yang memang berantakan, bersiap untuk mengutarakan semua buah yang mendiami benak.
"Kan, sudah kukatakan, kalau aku ingin mengatakan sesuatu." Sebenarnya, lebih tepat apabila aku mengucapkan, 'aku ingin menanyakan sesuatu. Yaa, aku mau tahu tentang perasaannya terhadapku. Ia berlagak berpikir sesaat, dan memintaku untuk melanjutkan kalimat. Aku bingung, harus memulainya dari mana.
" Begini, Shikamaru, ehmm… aku." Astaga! Percakapan ini rusak, aku ingin mati saja. Bingung, karena tidak tahu dari sudut apa aku mengungkapkannya. Lirikan mataku berpindah dari kiri ke kanan, dan begitu pula sebaliknya." Aku…" masih tidak bisa, aku menghela napas panjang terlebih dahulu. Tepat saat keyakinanku tumbuh meninggi, seseorang dari arah samping Shikamaru datang dan menepuk pundaknya.
Berharap cerita roman picisan itu realitanya, yang mana hal itu tidak terjadi untukku. Gelang tersebut tetap terpasang manis di pergelangan Temari, dan nampak sangat cocok untuknya. Tenggorokanku terasa kering, seketika luluh lantah harapanku. Bibirku meruncing di tiap sisinya, tersenyum walau pada nyatanya aku ingin meraung.
"Kau mau menyampaikan apa?"
Aku hanya bisa mempertahankan wajah datarku, agak berat rasanya saat harus menggelengkan kepala pelan." Aku hanya ingin bilang, mulai saat ini kau tidak perlu lagi mengantarkanku. Karena aku sudah bisa menyetir sendiri," ucapku dengan rona santai sebisaku. Foolish, sebenarnya bukan itu yang harusnya teruntai! Ia terdiam, bungkam. Sadar akan situasi, pelan-pelan aku meninggalkan mereka.
Habislah aku, harapanku terbang begitu saja. Mereka pastinya memiliki hubungan lebih dari sekedar sahabat. Entah kenapa, perhiasan di tangan Temari bagaikan saksi atas keduanya. Tepat saat suara mobil Shikamaru menjauh, aku membalikan tubuhku. Idiot, padahal aku tak ingin Shikamaru pergi dengannya! Harusnya lelaki itu membuana bersamaku.
Kuhadapkan kembali pada direksi perginya mereka, tersenyum dalam keterasingan perasaan. Aku cuma berharap agar hubungan mereka bermasalah, serta seseorang yang menemaninya itu sekalian bunuh diri saja. Aah, apa aku cemburu? Tidak, aku tak merasa demikian. Aku hanya tak suka, dan tidak akan pernah merasa senang saat ada gadis lain berada di dekatmu.
To Be Continued…
A/N:
Aaaa... I'ma baaaccckk…! Setelah sekian lama menghilang dari kehidupan FFN, akhirnya diriku kembali melanjutkan salah satu fic (*lagaknya, ampun-ampun). Terimakasih kepada notebook-ku tercinta, yang sudah seenaknya error dan menghilangkan arsip cerita ini dan Edoseika Flowers. Hingga, keduanya stagnan.*serius, ngetik ulang dari awal itu buat patah semangat.
Sebenarnya chapter ini dan Edoseika sudah saya buat, hanya harus kembali dibikin karena ada insiden menggemaskan (*sampai sekarang, EF gak dikerjain). Benar-benar fic ini bakalan jadi four atau five shoot sepertinya (*kebiasaan lama.) Fic ini sudah saya jadwalkan selesai bulan September, semoga bisa terealisasi. Dan entah kenapa, saya suka dengan chap ini. Bahkan, beberapa adegan sudah saya tunggu-tunggu. Pain jadi OOC banget!*si author nyengir kuda.
Untuk project selanjutnya, saya mau focus ke EF, karena itu fic bener-bener statis paling lama. Lalu setelahnya tinggal milih antara Foolish Heroic atau Sweet September.*mau yang mana, hayooo?!
Terimaksih juga untuk semua yang sudah nyempetin review dan memberikan icon favorit dan mengikuti di fic ini, yaaa?! Thanks a lot lupa juga untuk anak-anak C-SIF, ayo… ramein arsip dan sosmed kita lagi. Kangen kalian semua!*dia aja ngabur-ngabur kemaren.
Saya sadar, saya dan fic ini tentu memiliki banyak kekurangan. Jadi, mohon bantuannya untuk mengoreksi kesalahan saya. No creatures perfect!
Bagaimana menurut kalian tentang fic ini? Saya ingin tahu pendapat teman-teman, jadi tolong berikan tanggapannya via review, yaa?!
So, review pleaseee…!
Salam,
Pixie (Yank)-chan
