Tittle : Blue eyes, Pink Hair-Boy / II
Cast :
Xi Luhan
Oh Sehun
Genre : supranatural, fantasy
Author : E
~ this is YAOI, and as a human, saya tidak luput dari kesalahan
,
.
~ACCOMPANIES BEAUTIFUL HIM
"kemarin kau kemana ?. kenapa tiba-tiba menghilang saat temanku datang ?"
"teman ?. dia teman Sehun ?. lalu…, apa aku bukan teman Sehun ?" luhan berucap menatap Sehun yang tengah sibuk dengan buku dan bolpoin di tangannya
"tentu saja kau juga temanku. Pertanyaanmu itu lucu Lu.."
Sehun masih dengan bukunya. Ia tak berani menatap Luhan karena pria itu mampu membuatnya tenggelam. Membuat tak bisa mengontrol sarafnya untuk menyentuh Luhan yang indah. Menyentuh orang yang baru di kenalnya, ia tak mau Luhan berfikir yang tidak-tidak tentang dirinya
Semtara Luhan, ia tak pernah memalingkan sedikitpun pandangannya dari Sehun
Apakah Sehun sangat menarik perhatiannya sehingga ia tak bisa berpaling sedikitpun dari wajah tampan Sehun ?. dari awal mereka bertemu, Luhan selalu menatap pria tampan itu tanpa sedikitpun berpaling
Sehun tentu saja menyadari itu dengan Luhan terang-terangan melakukannya. Ia merasa sedikit malu Luhan menatapnya. namun ia juga menyukainya sehingga tak mengeluarkan protes atau pertanyaan, 'kenapa'
"kau belum menjawabku, kenapa kemarin kau tiba-tiba menghilang ?"
Saat ini Luhan dan Sehun tengah berada di pinggir lapangan sepak bola di sekolah. Di Salah satu fasilitas eskul dengan luas hampir setengah luas sekolah mereka duduk di pinggir lapangan bernaungkan sebatang pohon rindang melindungi mereka dari panas sinar matahari
"apa Sehun marah ?."
"yah… aku marah, gara-gara kau pergi, temanku menganggapku aneh. Padahal aku hanya berkata jujur"
"maafkan, Luhan!"
pria berambut pink itu menundukkan kepalanya. Sehun yang melihat itu menyingkirkan buku di tangannya dan menatap Luhan
"hei, maafkan aku… aku tidak bermaksud menyalahkanmu. Sudahlah, tidak apa-apa. Jangan pikirkan lagi, aku tidak marah padamu. Tadi aku hanya bercanda hehe~" Sehun berucap menyentuh pundak pria berambut pink, coba menghiburnya
Sepertinya berhasil karna Luhan mengangkat wajahnya dan menatap Sehun dengan senyumman manisnya seperti biasa. Lagi-lagi Sehun hanya bisa terpaku, ia tak bisa mengalihkan pandangannya dari Luhan
"Sehun yang terbaik" Luhan mengangkat kedua jempolnya di depan Sehun. Luhan berucap saat itupun Sehun sadar dari ketertegunannya akan sosok Luhan. cepat-cepat Sehun mengalihkan wajahnya
'huh! Hampir saja… kenapa pria ini seperti memiliki kekuatan hipnotis ?. saat melihat wajahnya rasanya aku tidak berada di tempat ini. Dan… melihat wajahnya, benar-benar membuatku kehilangan akal sehatku. Apa karna dia begitu indah ? sampai-sampai aku seperti ini ? kalau aku perkenalkan pada Kai dan yang lainnya… apa mereka akan jadi sepertiku saat melihatnya ?.. haahhh… tidak, aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Mereka kan, pecinta…sesama. Kalau mereka melihat Luhan, mereka akan jatuh cinta padanya. aku yakin, siapapun melihat Luhan. pasti akan bereaksi sama sepertiku. Ayolah, pria ini sempurna… dia begitu indah.'
Sehun membantin sesekali melirik Luhan dengan ekor matanya
"mm… Lu, eum… kenapa kau masih memakai seragam yang kemarin ?. ini minggu, kau bebas memakai pakaian apapun"
Mendengar ucapan Sehun, Luhan melihat dirinya sendiri dan menatap Sehun dengan senyumnya. Walaupun Sehun tak melihat itu
"aku selalu menggunakan seragam ini setiap hari"
"kau tidak mencucinya ?. bagaimana bisa tidak terlihat kotor ?" Sehun beralih menatap seragam Luhan. seragam Incheon Performing Art School dengan dalaman berwarna putih, rompi yang senada dengan warna mata Luhan dan blazer berwarna putih serta celana selutut berwarna putih senada dengan blazernya
"tapi, bukankah seragam ini hanya di pakai setiap Jum'at ?. kenapa kau bisa memakainya setiap hari ?. bukankah itu melanggar aturan sekolah ?" lanjut Sehun dan Luhan sekilas tersenyum padanya, Luhan memiringkan kepalanya menatap Sehun yang tertegun
"mereka tidak melarangku memakainya setiap hari.."
Jelas mereka tidak melarang, pasti sekolah memperlakukan Luhan seperti murid istimewa. Lihatlah, siapa yang sanggup memarahi Luhan ?. melihatnya saja kau pasti lupa dengan apa yang ingin kau ucapkan
"hahh… baiklah. Oyah, kau tinggal di asrama yang mana ?"
"kenapa Sehun menanyakannya ?. sehun mau menemani Luhan ?. Luhan tidak punya roomate di sana"
"benarkah ?. bagaimana bisa ? tapi, aku sudah…." Sehun tak melanjutkan kata-katanya saat melihat Luhan menundukkan lagi wajahnya.
"hei.. jangan bersedih…, aku akan carikan roomate untukmu agar kau punya teman untuk mengobrol setiap malam"
Luhan merespon dengan menggelengkan kepalanya, mengangkat wajahnya dan menatap Sehun
"tapi Luhan ingin Sehun menjadi roomate Luhan.."
'oh.. astaga, apa aku bisa menolak, Tuhan ?. kenapa pria ini bisa melakukan ini padaku ?' Sehun membatin menatap lekat ke dalam mata Luhan
"baiklah, aku akan menemanimu… tapi, aku hanya tidur di kamarmu dan melakukan aktifitasku yang lain di kamarku. Karna bagaimanapun aku tidak bisa seenaknya pindah kamar"
"benarkah ?" Luhan memastikan dan Sehun mengangguk. Mendapat respon Luhan mengangkat kedua tangannya dan berteriak kegirangan, selanjutnya ia memeluk Sehun dan berterimakasih. Sementara Sehun ? pria tampan itu tiba-tiba membatu akibat perbuatan Luhan yang tiba-tiba
"Sehun memang yang terbaik. gomawo~" Luhan berucap setelah melepas pelukannya dengan Sehun. Sehun tak merespon apapun karena ia masih tertegun dengan aksi Luhan barusan. Bahkan, ia tak merasa tengah berpijak di bumi
beberapa lama kemudian, ia sadar dari ketertegunannya. Sehun menggelengkan kepalanya dan memegangi dada kirinya. Ia masih menatap ke samping, dan saat ia merasa kembali menginjakkan kaki ke bumi. Sehun menyadari Luhan tak berada di sekitarnya lagi, seseorang datang menghampirinya. Ternyata itu seongsanim
Sehun tengah berbaring dengan PSPnya saat tiba-tiba pintu kamar terbuka. Menampakkan sosok Kai yang membawa tas tidak sebesar saat ia pergi. Malam senin kebanyakan siswa yang pulang kembali ke asrama karena besok akan kembali bersekolah dan belajar
"hei! Apa kau tidak pulang sama sekali ?" seru Kai menaiki tangga menuju lantai 2 tempatnya tidur
"tidak"
"lalu, bagaimana dengan tugasmu ? kenapa kau santai dengan benda itu?"
"sudah aku selesaikan"
Tak ada pertanyaan lagi dari Kai, Sehun duduk dan sedikit mengintip apa yang sedang di lakukan Kai di atas sana
"apa yang kau lakukan ?" tanya Sehun mengintrupsi kegiatan Kai
"menurutmu ?" Kai berbaring dengan hanphonenya
"membalas pesan ?"
"kalau begitu jangan bertanya" Sehun mendengus kesal atas jawaban Kai. ia kembali berbaring berkutat dengan PSP nya. Tiba-tiba ia bangkit lagi teringat sesuatu
"hei, Kai. apa aku bisa pindah kamar ?" pertanyaan Sehun membuat Kai terduduk dan sedikit melihat Sehun di bawah
"kau tidak berencana pindahkan ?"
"aku hanya bertanya. Lalu… bagaimana dengan menginap di asrama yang lain ?"
"itu melanggar aturan. Tapi, kalau kau ingin pindah.. bagus juga, jadi… biarkan Kyungsoo hyung yang menjadi roomateku." Kai menerawang langit-langit kamar
"kau ?. tunggu, kalau aku perhatikan… hei Kai, kau menyukai Kyungsoo hyung ?"
"bukan urusanmu, jika ingin pindah. Segeralah" kai menjawab. Sehun mendengus kesal
Tiba-tiba Kai terbangun saat membaca sebuah pesan. Cepat ia bangkit dan menuruni tangga. Hal itu mengundag Sehun untuk bertanya
"mau kemana kau ?"
Tak ada jawaban karna Kai sudah menghilang di balik pintu. Sehun sendirian dengan PSPnya. Tak lama kepergian Kai, seseorang mengetuk pintu. Sehunpun berdiri untuk melihatnya
Cklek…
Sehun di sambut dengan senyuman yang sangat manis dari Luhan. kembali Sehun tertegun
"sehun, aku datang menjemputmu" Sehun tersadar dan mempersilahkan Luhan masuk dulu
"duduklah dulu, aku akan mengambil perlengkapanku" Luhan menurut dan Sehun mulai mengemasi beberapa barangnya, seperti bantal, selimut dan penutup mata
Selesai dengan urusanya, Sehun dan Luhan berjalan meninggalkan asrama B. sehun tak bisa fokus kemana mereka melangkah karena Luhan terlalu menarik perhatiannya. Ia tak bisa memalingkan penglihatannya dari Luhan. sungguh Luhan terlihat beribu kali lipat lebih cantik saat malam. Pria berambut pink itu terlihat lebih bersinar. Matanya juga bertambah lebih indah dan kulitnya benar-benar mendominasi di kegelapan malam
Sehun berjalan tanpa memperhatikan jalan, ia hanya menatap Luhan dan sesekali Luhan menatapnya sambil tersenyum. Sehun benar-benar sudah di butakan oleh keindahan Luhan hingga tak menyadari ke mana mereka pergi
Luhan berhenti begitupun Sehun, sehun tak peduli dan tak mau tau apa yang di lakukan Luhan. Pria cantik itu tengah membuka sebuah pintu pagar besi. Pagar pembatas gedung asrama tua. Dan saat terbuka, ia masuk diikuti Sehun berjalan di sampingnya. Luhan benar-benar terlihat lebih indah di malam hari dan Sehun mengakui itu, ia tak bisa memalingkan wajahnya sejenak saja untuk tak melihat Luhan
Luhan membawa Sehun ke dalam gedung asrama tua. Mereka berjalan dan Sehun tak menyadari sekelilingnya karena Luhan telah mengalihkan semua perhatian Sehun. Mereka berbelok dan berjalan lurus lalu berbelok lagi dan menuruni tangga. Sehun tak perduli kemanapun Luhan membawanya
Mereka tiba di depan sebuah pintu bercat senada dengan dinding asrama. Luhan membukanya dan masuk ke dalam diikuti Sehun. Kombinasi warna pink dan biru langsung menyambut kedatangan mereka
"Sehun, ini kamar Luhan"
Mendengar seruan Luhan, Sehun tersadar menggelengkan kepalanya dan meminta Luhan kembali mengulang ucapannya. Namun bukan mengulang, Luhan malah berjalan dan duduk di sebuah kursi depan cermin. Sehun yang melihat itu hanya menaikkan kedua bahunya lalu melihat sekelilingnya
"eum… Lu, aku tidur di mana ?" Sehun bertanya. Hal mengherankan kamar Luhan tak seperti kamar asrama biasanya yang memiliki tingkatan dan 2 tempat tidur. Luhan yang mendengarnya menunjuk tempat tidur dengan sprei berwarna biru
"lalu.. kau ?"
"aku tidak tidur, Sehun."
"kenapa ?. bukankah besok harus sekolah ?"
Bukan menjawab, Luhan berdiri berjalan ke arah jendela mengambil sebuah gitar dan duduk di pinggir kasur. Ia menepuk-nepuk kasur mengisyaratkan Sehun untuk duduk di situ. Sehunpun mengikuti isyarat Luhan, sebelumnya meletakkan semua barang yang di bawanya ke atas ranjang
Sehun kembali melihat sekelilingnya. Kalau di pikir, Luhan ini seorang pria. Tapi, kenapa dia memilih warna kamar yang di sukai para wanita ?. apa karna itu dia terlalu cantik seperti wanita ? ah, tidak. Dia bahkan lebih cantik dari seorang wanita. Aku jadi ragu Luhan ini pria. Dia terlalu feminim untuk seorang pria
"Sehun bisa bernyanyi ?" seruan Luhan menyadarkan Sehun yang bermonolog dengan pikirannya sendiri
"a-ahaha… bisa, tapi… kusarankan kau jangan mendengar aku beryannyi hehe~" Sehun berucap sambil menggaruk tengkuknya tak gatal
"kenapa ?" Luhan bertanya sambil memiringkan kepalanya ke kiri tidak mengerti. Sehun hanya menatapnya dan tersenyum canggung
"eum.. bagaimana kalau aku bermain dan kau bernyanyi ?" tanpa menunggu aba-aba Sehun merebut gitar itu dari tangan Luhan dan sedikit mengeceknya
"baiklah…" Luhan tersenyum, tapi Sehun tak melihat itu karena ia tengah melihat posisi jarinya memainkan cours melodi. Sehun mulai memetikkan snare dengan jarinya dan Luhan menarik nafas sambil melihat ke luar jendela
When night before…
Kindhearted prince will see you..
He look for you..
Accompanies… to accompanies him….
Pity.. feel pity for kindhearted prince of solitude…
Sehun sedikit mengeryitkan alisnya, ia tak pernah mendengar lagu ini, tapi ia terus bermain mengikuti lantunan yang di nyanyikan Luhan. Sehun akui, selain paras yang indah, suara Luhan tak kalah indah
Walahpun Sehun tau mendengar ia bicara saja suaranya sudah sangat indah, apa lagi bernyayi. Dan Sehun merasa beruntung menjadi salah satu orang yang dapat mendengar nyanyian merdu Luhan
Follow your step..
He reside in there..
Pass… passing where this small street go to…
You come, prince give offer…
Come safely, but do not return….
Okey, lirik terakhir itu cukup aneh, permainan gitar Sehun sedikit melemah. Lagunya mulai terdengar aneh di telinga Sehun. Dan Sehun baru menyadari Luhan, bernyanyi sangat pelan tanpa nada, seperti membaca dan sangat lamban, seperti terbata-bata… menyebut kalimat satu per satu. Entah kenapa, Sehun merasa sedikit merinding mendengar cara Luhan bernyanyi
Accompanies lonely prince…
Accompanies in darkness, wiping out light … make all is black ...
Follow to vanish hindering…
Make black become to squeeze…
Make blood ocean human being place…
Sehun menghentikan permainannya dan menatap Luhan yang terus bernyanyi. Ia sedikit merinding mendengar nyanyiannya, dan entah kenapa, Sehun merasa Luhan sedikit aneh malam ini, Sehun merasa kecantikan Luhan sedikit mengerikan saat mendengar nyanyiannya, tapi Sehun segera menepis pemikiran itu
Tangan Sehun terangkat untuk menyentuh pundak Luhan. hal itu terjadi namun Luhan tak bergeming dan terus bernyanyi menatap ke luar jendela
"Lu… Luhan, Luhan" sehun berusaha mengalihkan perhatian Luhan dan itu berhasil saat Luhan berhenti bernyanyi dan menatapnya. Sehun tersenyum pada pria cantik itu
When satisfaction of thirst kissed..
Darkness angel is side you, death aroma encircle you…
Seketika senyuman Sehun lenyap mendengar Luhan kembali bernyanyi sambil menatapnya. Dan Sehun merasa tatapan Luhan tampak mengerikan saat itu, ia sedikit mundur
"Lu… nyanyikan saja lagu yang lain. itu kedengaran.. mengerikan."
Dickens awaken from land, he will visit you….
Make place tread on blood ocean human being…
Bukan berhenti, Luhan malah terus bernyanyi dan menatap Sehun dengan kedua bola matanya yang indah berwarna biru. Bola mata itu tampak lebih terang di malam hari, itu sangat indah tapi saat ini, itu sedikit mengerikan di mata Sehun
Sehun terus berfikir untuk mengehentikan nyanyian Luhan yang sedikit aneh, bukan. Tapi sangat aneh menurutnya
Taking your eyesight… and dismember your head…
Abstracting and eating your heart—
Dan sebuah pemikiran gila melintas di kepala Sehun. Ia tak perduli Luhan akan berfikiran buruk tentangnya setelah ini, namun setidaknya Luhan berhenti menyanyikan lagu entah milik siapa itu
Sebuah ciuman mendarat di bibir Luhan dan itu cukup menghentikan nyanyian yang membuat Sehun sedikit merinding. Luhan yang mendapat perlakuan demikian tak menunjukan ekspresi apapun, namun sedetik kemudian ia tersenyum dan mengalungkan tangannya di leher Sehun
Sehun sedikit tersentak saat Luhan memulai cumbuan mereka. Melumat pelan bibir Sehun. Sehun masih dengan fikirannya, ini sedikit gila. Bagaimana bisa ia berciuman dengan seorang pria. Sehun akui dia memang mengagumi Luhan, kalaupun dia melakukan sesuatu yang… terhadap Luhan
Pasti itu karna kecantikan Luhan telah melenyapkan semua akal sehatnya. Namun saat ini, ia yakin, ia sadar melakukan ini sepenuhnya, membalas cumbuan pria cantik itu. apakah ia telah tertular Baekhyun hyung dan Chanyeol hyung ?. masa bodoh
Sehun tidak tau bagaimana ia bisa berakhir dengan Luhan di bawahnya mengekpos tubuh bagian atas yang sudah di penuhi karya seninya. Akal sehatnya terus menyuarakan untuk berhenti, ini tidak benar. Namun syaraf geraknya terus melakukan hal yang lebih jauh
Suara Luhan yang terdengar begitu menikmati syaraf gerak Sehun saat menyentuhnya benar-benar membutakan Sehun tak bisa menghentikan gerakannya meski akal sehatnya berteriak menyuarakan kebenaran.
Ini benar-benar gila, bahkan Sehun belum pernah melakukan ini sebelumnya dengan seorang gadis, lalu… kenapa bisa ia melakukan dengan seorang pria ?. sehun belum pernah melakukan hal seperti ini namun syarafnya bergerak seperti telah berpengalaman dengan hal ini. entah dari mana Sehun tau langkah-langkah selanjutnya setelah ia melakukan yang sebelumnya. Syarafnya bekerja dengan sendirinya
Sehun tak bisa berfikir lagi karna Luhan begitu menggoda. melihat Luhan yang seperti itu, ia membuang jauh-jauh akal sehatnya. Ia tak perduli dia bercinta dengan seorang pria. Salahkan Luhan yang begitu indah
Sehun merasa ia bangun di waktu yang tidak seharusnya. Di luar masih gelap. Ia ingin bangkit untuk mengambil ponselnya namun Sehun merasa sesuatu yang aneh. Ia baru menyadari jika ia memeluk seseorang, ia dapat merasakan hembusan nafas orang itu di dadanya
Hal itu mendorong Sehun untk melihat siapa orangnya. Surai berwarna pink adalah hal pertama yang di lihat Sehun. Tiba-tiba ia teringat apa yang terjadi sebelum dirinya berakhir memeluk pria bersurai pink itu dalam tidurnya.
Kedua sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman kecil di wajahnya. Ia tidak menyangka pindah ke sekolah itu bertemu Luhan dan berakhir dengan pengalaman seperti ini, apa dia benar-benar tertular baekhyun dan Chanyeol ? apa dia menjadi gay ?. Sehun tidak perduli lagi akan hal itu, jika yang merubahnya adalah Luhan. Luhan yang indah, melebihi seorang gadis manapun. jika ia menjadi seorang yang normal, ia tak akan menemukan gadis seindah Luhan yang seorang pria
Sehun merasa tidak mengantuk lagi, namun di jendela matahari belum menunjukkan akan adanya tanda-tanda pagi. Untuk itu Sehun lebih memilih mengeratkan pelukannya di tubuh Luhan dan kembali ke alam mimpi
Tanpa Sehun sadari, Luhan tak pernah menutup matanya. Luhan sudah bilang kalau ia tak tidur. ia hanya menemani Sehun tidur setelah kegiatan mereka, merasa Sehun mengeratkan pelukannya, Luhan tersenyum dan menyamankan posisinya namun masih dengan kesadaran penuh
Kedua kali Sehun terbangun dan di luar masih tetap gelap. Apakah ia tak bisa tidur dengan baik hingga harus terbangu dua kali saat matahari belum menujukan kekuasaanya ?
Sehun melihat sekeliling guna mencari di mana letak jam. Saat itu pula sehun menyadari tak ada jam di kamar Luhan. sehun melepas pelukannya dari Luhan. sehun memposisikan dirinya duduk di atas ranjang dan mencari di mana ponselnya ia letakkan, tidak ada, ia tak mendapati ponselnya di kamar Luhan. saat itu pula Sehun menyadari ia tak membawa benda persegi empat itu, terlalu buru-buru ia hanya membawa peralatan yang akhirnya tidak di gunakan
Helaan nafas panjang tak menemukan pnselnya. Ia menatap Luhan yang masih menutup rapat kedua matanya. Seulas senyum terukir di bibir Sehun, tangannya terangkat membelai surai halus berwarna pink milik Luhan. sehun kembali melihat keluar jendela dan tak ada tanda-tanda kemunculan matahari, ia memilih kembali membaringkan tubuhnya dan memeluk Luhan. tak selang beberapa lama, Sehun kembali ke alam bawah sadarnya
Baiklah, ini mulai terasa aneh. Ke tiga kalinya Sehun terbangun dan hari belum juga berganti. Sehun rasa ia benar-benar tak bisa tidur lagi. ia memilih untuk tetap terjaga sampai pagi nanti ia akan kembali ke kamarnya untuk bersiap-siap
Diam saja rasanya membosankan. Sehun sedikit menurunkan posisinya agar bisa menatap wajah Luhan saat memejamkan matanya. Sehun tersenyum saat melihat Luhan masih dalam posisi sebelumnya. Ia membelai lembut rambut pria cantik itu dan mengecup singkat keningnya
Tangan sehun turun membelai wajah cantik Luhan. senyumnya semakin merekah menyadari apa yang sedang ia lakukan. Sehun rasa ia benar-benar menjadi seorang gay, dan itu semua karna Luhan. ia pikir ia benar-benar menyukai Luhan bukan hanya mengagumninya
Jari-jari panjang Sehun terus menelusuri lekukan indah wajah Luhan, kening, mata dan kelopaknya, hidung hingga bibir mungil Luhan yang membuatnya membuang jauh-jauh akal sehatnya
Sehun melihat Luhan membuka matanya sedikit demi sedikit. Mungkin ia terganggu dengan perlakuan Sehun. Hal pertaman yang di lihat Luhan adalah Sehun yang tengah tersenyum padanya, membuat Luhan ikut tersenyum
"maaf, mengganggu tidurmu" Sehun berkata masih dengan kegiatannya. Ia tak perduli jika Luhan terganggu dengan itu. namun nyatanya tidak, Luhan menikmatinya
Luhan mengangkat tangannya menyentuh punggung telapak tangan Sehun yang menyentuh wajahnya. Luhan menutup matanya menikmati perlakuan Sehun
"Luhan.." Sehun berseru dan Luhan membuka matanya melihat pria tampan itu
"kau yakin, kau seorang pria ?" pertanyaan bodoh, Luhan mengeryitkan alisnya atas pertanyaan yang di lontarkan Sehun. Namun sedetik kemudian ia tersenyum
"bukankah kau melihatnya sendiri ?"
Sehun tersenyum atas jawaban Luhan. mereka saling bertatapan, menelusuri setiap lekukan wajah satu sama lain untuk waktu yang lama.
"apa… saat ini waktu sedang berhenti ?" Sehun bertanya dan Luhan hanya tersenyum
"tidak, Sehun. Waktu terus berjalan"
"lalu… kenapa, saat bersamamu rasanya waktu berjalan sangat lama. kau tau, aku terbangun 3 kali dan hari belum juga berganti"
"hari sudah berganti, Sehun." Sehun mengeryitkan alisnya
"aku tidak melihat pagi.."
Luhan tersenyum dan memeluk Sehun. Sehun yang mendapat perlakuan tersenyum dan membalas pelukan Luhan lebih erat. Ia memikirkan ucapan Luhan bahwa hari telah berganti. namun ia memilih melupakan ucapan Luhan itu karna nyatanya di luar tak terlihat adanya tanda-tanda hari berganti
"Sehun.." Luhan mendongak menatap pria berparas tampan tengah memeluknya itu. Sehun bergumam
"jangan pernah keluar dari sini." Perkataan Luhan mengundang Sehun untuk bertanya
"kenapa ?"
"kau… kau bisa mati" seru Luhan membuat Sehun mengeryitkan alisnya dan melonggarkan pelukannya
"haha… tenang saja, Lu. Aku tidak akan mati hanya karna keluar dari kamarmu ini. paginya aku harus keluar dan kembali ke kamarku untuk bersiap-siap. Kau juga bukan ? besok hari senin, aku harap kita bisa bertemu di sekolah. Aku akan memperkenalkanmu pada teman-temanku" sehun berkata sambil membelai surai Luhan
"aku berkata yang sebenarnya, Sehun." Mata biru itu menatap Sehun dengan serius. Sehun mengeryitkan alisnya, ia merasa Luhan sedikit aneh. Namun sedetik kemudian ia tersenyum dan mengecup singkat kening Luhan
"akan aku buktikan, aku tidak akan mati hanya karna keluar dari sini." Sehun hendak bangkit dari tidrnya mengambil pakaiannya yang berserakan di lantai, namun Luhan mencegah dan menggelengkan kepala mengisyaratkan Sehun jangan keluar dari situ
"Lu, percayalah. Aku hanya keluar, bukan pergi menemui malaikat kematian" Sehun berucap sambil memakai pakaiannya. Luhan tak bisa mencegahnya lagi, ia yakin bahwa Sehun menganggapnya aneh. Selesai berpakaian, Sehun menghampiri Luhan dan duduk di pinggir kasur membelai lembut pipi Luhan yang tengah duduk dengan selimut menutupi pinggang dan tubuh bagian bawahnya
"percayalah, aku hanya keluar. Kita akan bertemu di sekolah dan nanti malam aku akan kembali menemanimu" Luhan tak merespon, ia menatap sendu Sehun yang tersenyum padanya. Sehun mengecup singkat bibir Luhan dan pergi membuka knop pintu
Luhan mengarahkan pandangannya ke arah jendela setelah Sehun lenyap dari pandangannya
"di luar… tak akan pernah ada matahari, Sehun. Kau tidak tau kau berada di mana. Asrama ini bukan asrama biasa."
Sepi, lorong asrama Luhan sangat sepi. Namun Sehun, menanggapi itu wajar karana ini belum waktunya bangun. Ini masih gelap dan dia harap kepala asrama Luhan tak melihatnya berkeliaran di jam tidur. Sehun lupa menanyakan asrama Luhan asrama yang mana, siapa tau ia punya kenalan di asrama itu.
Tap… tap… tap….
Sehun berjalan dengan senyum merekah di bibirnya. Ia senang saat mengingat Luhan. apa Luhan tidak ingin di tinggal olehnya ? sampai-sampai Luhan takut jika Sehun keluar dari kamarnya. Namun Sehun mengeryitkan alisnya sedikit aneh mengingat perkataan Luhan kalau keluar adalah mati
Tap… tap…
Sehun berhenti, ia tau, itu bukan suara langkah kakinya. Ia harus bersembunyi jika ada orang di situ. Sehun tidak mau di hukum karna melanggar aturan. Sehun membalik tubuhnya untuk melihat apa ada orang di situ
Betapa terkejutnya ia mendapati seseorang di belakangnya. Bukan, bukan seseorang, tapi… setengah mungkin ?. seorang dengan pakaian hitam pekat dan tidak memiliki kepala, lebih tepatnya… kepalanya tidak berada di tempat yang seharusnya. Melainkan di tangan kanannya. Dan mata kepala itu menatap Sehun
Sehun hendak lari, ia berbalik namun di depannya juga menemui hal yang tak kalah mengejutkan. Seorang wanita layaknya medusa, wanita itu mengekpos matanya tak seperti medusa yang awalnya memakai kacamata hitam. Dan… sesuatu yang bergerak meliuk-liuk di kepala wanita itu benar-benar menyamakan wanita itu dengan Medusa. Setidaknya begitu menurut Sehun
Wanita itu mendekat bersamaan dengan pria yang memegang kepala di belakang Sehun. Dengan cepat Sehun menutup matanya, ia tidak mau berakhir menjadi patung karna melihat mata wanita itu. ini benar-benar gila. Benarkah ini nyata ?. sehun sedikit meragukannya
Namun sebuah sentuhan di wajahnya membuat ia percaya bahwa ini bukanlah sebuah khayalan. Ia merasa sesuatu yang meliuk-liuk—anakular—di kepala wanita itu menyentuh wajahnya. Anak ular itu sangat banyak, seakan telah menggantikan posisi helaian rambut si wanita
"buka matamu tampan…., lihatlah aku… hihihi…" Sehun tidak bersuara dan menggelengkan kepalanya. Sebenarnya aapa yang terejadi ? kenapa ada medusa dan seorang tanpa kepala di asrama Luhan ?. sehun tidak mau berakhir menjadi patung, ia tak tahan untuk tidak membuka matanya. Cepat ia mendorong si wanita dan berlari
Sehun tidak merasa si wanita dan orang tanpa kepala mengejarnya. Ia hanya mendengar si wanita tertawa. Sehun terus berlari dan entah kenapa asrama Luhan nampak tak berujung. Sehun melihat ke belakang dan berjalan sedikit lebih pelan guna memfokuskan diri agar keluar dari situ. Sehun baru menyadari, tak ada cela di semua lorong, dan harusnya. Asrama ini sudah tembus ke luar dari tempatnya tadi. Tapi aneh, Sehun tak melihat pintu keluar asrama. Dan Sehun baru menyadari, untuk ukuran asrama… ini terlalu sepi. Sehun tak merasakan adanya orang lain di situ, yah… selain 2 mahkluk aneh yang baru di temuinya tadi entah nyata atau imajinasinya saja. Sehun menggelengkan kepalanya dan terus berjalan. Seharusnya dia bertanya pada Luhan tadi
Sehun melihat ada dua belokkan, cepat ia mengarah kesitu. Tiba-tiba langkahnya terhenti saat melihat 2 mahkluk aneh yang keluar dari belokan itu. yang satu terlihat seperti zombi, kulitnya mengelupas kering dan di penuhi darah, rambutnya bisa di hitung dengan jari dan mulutnya sangat besar serta matanya yang mengeluarkan cairan menjijikan, bola mata terlihat ingin pecah
Yang satu lagi terlihat seperti penghuni neraka. Hanya ada tengkorak di kaki, tangan dan kepala. Mahkluk ini hanya memiliki daging di perut dan dadanya, beberapa isi perutnya mengelantung terseret saat ia berjalan dan dia membawa sebuah rantai besi di kakinya yang di gelantungi bola besi berduri. Sehun kembali berbalik lari ke arah yang berlawanan, namun ia juga di kejutkan saat berbelok ia menemukan seorang wanita dengan kapak di tangannya
Tempat apa ini ?. sehun berlari sambil membuka-buka mengecek ada ruangan yang bisa di masukinya untuk sekedar bersembunyi. Hingga tibalah ia di jalan buntu, mahkluk-mahkluk tadi semakin mendekatinya, bahkan ada sangat banyak. Sehun tak melihat yang lain pernah di temuinya di koridor, lalu kenapa bisa sebanyak itu.
Cepat sehun mengarah ke sebuah pintu yang ada di ujung jalan buntu. Ia berharap ia selamat
Cklek..
Untunglah pintu itu bisa di buka. Cepat Sehun masuk ke dalam dan mengunci pintu itu dengan kunci yang menggelantung di ganggang pintu. Ia mencari sesuatu yang bisa menghalangi semua mahkluk itu masuk. Ada meja, kursi, lemari dan tempat tidr. Ia mendorong semua benda itu kecuali tempat tidur untuk menghalangi pintu terbuka
Selesai, Sehun mundur dan terdengar raungan di balik pintu. Sehun yakin mahkluk-mahkluk itu telah berada di depan pintu. Sehun berlari duduk bersimpu di bawah ranjang. Ia memikirkan semua hal yang di lihatnya tadi
Benarkah ini nyata ? tidak mungkin…
Ada di mana dia ? kenapa ia bisa bertemu mahkluk-mahkluk mengerikan itu ?
Apa yang harus ia lakukan sekarang ?
Ingin rasanya Sehun tak mempercayai apa yang di alami dan di lihatnya barusan. Demi apapun, ini di luar akal sehat. Tidak ada mahkluk seperti itu di dunia nyata. Kecuali… kecuali dirinya saat ini berada di dunia lain. dunia lain…
DEG….
'begini Sehun-ah, konon katanya gedung itu ada penghuninya. Maksudku bukan peghuni dalam istilah normal, penghuni…. Iblis atau semacam lucifer mungkin. Aku juga tidak begitu jelas, tapi menurut siswa yang ada di sini seperti itu. sebenarnya aku tidak percaya, tapi aku juga tidak mau ambil resiko dengan masuk ke halaman pembatas itu.'
Tiba-tiba Sehun teringat dengan apa yang pernah di katakan oleh Kyungsoo. Mungkinkah ? mungkinkah ia berada dalam gedung asrama tua itu ? mungkinkah ? lalu… kenapa ia bisa berada di dalam situ ?
"dia sangat sempurna"
Lagi, Sehun teringat ucapan Kyungsoo. Tapi kali ini, bayangan Luhan menyertainya
'matanya sangat indah'
Otaknya memutar semua memori yang telah ia alami. Dan Sehun menyadari semua itu berawal saat ia bertemu Luhan. berbagai kejadian aneh mulai di alaminya. Luhan… Luhan…. Luhan… nama itu selalu terngiang di kepalanya
"jangan sesekali kau melirik atau menginjakkan kaki di pembatas pagar gedung asrama itu"
DEGH…
Mungkinkah ?
To be countinue..
A/N : waahhh… udah chap 2 hehe~. Masih geje. Maaf nih, buat yadongers kkk~ NC nya di hide, Ell malu memperjelasnya. Alur ceritanya emang di percepat, biar gak ber chapt-chapt kkk~
Ah, ya. Ell mau tanya boleh ? kalian tau melody lagu yang menyedihkan, yang bikin menyayat hati dengarnya dan lantunannya halus, terus di pertengahan atau akhir itu aksennya berubah dari halus jadi keras, kayak dari yang sedih terus jadi bahagia. Melody, Cuma melody, bukan lirik lagu. Ada yang tau ?
Yang nanya alinea. Iya, ini emang gak di buat alineanya…. Jadi Cuma berjalan aja
Ah, ya. Satu lagi, Ell pengonsumsi typo(emang makanan ?) jadi maaf banyak typo bertebaran. Ell malas ngedit atau baca lagi. jadi, Ell Cuma bisa ngepost apa yang sudah ada. Sekali lagi maaf….
Readers yang udak komen Ell Cuma bisa balas kalian dengan mendoakan yang terbaik untuk kalian. Ell gak bisa balas komennya, kan baru juga di post, Ell biasa abis ngepost langsung lari. Tapi, Ell usahain masukin kritik dan saran kalian dalam cerita kok
?
Yaudah, sekali lagi terimakasih buat yang udah mau baca… atau sekedar mampir ^^. Beribu terimakasih buat yang ngasih kritik dan saran, yang ngelike juga dan yang Cuma mampir atau lewat. Ell benar-benar terharu sama kalian wkk~
Itu aja. Sekian… ada yang mau ngasih kritik atau bertanya…?
