SOME MISTERIOUS HALLOWEEN
Sehun & Luhan
Romance, Supranatural, Mistery, Fantasy, YAOI
E
And As A Human. Saya Tidak Pernah Luput Dari Kesalahan
.
.
.
….
October, 31 2008- Night
Ini malam di mana yang mati dan yang lainnya berkeliaran bebas. Serigala jadi-jadian, mayat hidup dan mahkluk berbagai jenis lainnya telah turun di kota Lembah Warren yang biasanya tenang. Di mana hari libur ini dan semua tradisi anehnya di anggap sangat serius di kota ini
Jam menunjukkan pukul 8 malam, tapi kota ini sudah di penuhi pengunjung berkostum. Beberapa datang untuk pamer sementara yang lainnya berbaur hanya untuk merayakan malam Halloween yang ajaib di mana semua orang menjadi hal paling menakutkan yang bisa mereka pikirkan. Lampu labu yang sudah di ukir menyerupai bentuk wajah menyeramkan atau Jack-o'-lantern juga menghiasi kota ini.
Hal ini memang menyenangkan, tapi lebih menyenangkan lagi bagi para remaja dan anak kecil. Selain mengenakan pakaian seram, mereka juga berkunjung ke rumah-rumah penduduk meminta cokelat atau permen sambil berkata "trick or treat!" ucapan tersebut adalah semacam ancaman yang memiliki arti "beri kami (permen) atau kami jahili..!".
Eum, sudah ku katakana sebelumnya bukan ?, ini malam di mana yang mati dan yang lainnya berkeliaran. Selain itu, ada sebuah tradisi yang harus kau patuhi—jangan matikan lampu labu sebelum malam Halloween berakhir—dan—selalu periksa permenmu—. Kau mengingatnya ?
Seorang anak laki-laki kira-kira berumur 12 tahun berdiri di pinggir jalan. Anak berkostum penyihir dengan warna silver itu tengah mengantongi permen-permennya yang memenuhi keranjang berisi lampu labunya. Terlihat jelas ia kesusahan dengan semua cokelat dan permen itu. Beberapa kali ia harus memunguti permen dan cokelat yang berjatuhan karna tangannya yang mungil tidak muat menampung ¼ permen dari keranjangnya yang penuh.
"aishh! Ini sangat banyak…, kenapa ahjuma-ahjuma dan ajjushi-ajjushi itu sangat baik memberiku sebanyak ini?…" gerutunya sambil memunguti permen dan cokelatnya yang jatuh lalu memindahkan ke kantong kostumnya.
Selesai memungut permen dan cokelat itu, ia merasa kantongnya tidak cukup muat untuk semua permen dan cokelat itu yang sebagian masih berserakan di atas trotoar. Ia mencari cara agar bisa membawa pulang semua permen dan cokelat itu. Tapi, ia tak punya sesuatu untuk menampungnya. Ia berpikir cukup lama sebelum matanya beralih ke keranjang yang di bawanya.
Ia menggapai keranjang yang sebelumnya ia letakan di trotoar karna harus memunguti permen dan cokelatnya , lalu mengeluarkan lampu labu yang ada dalam keranjang itu dan memindahkannya ke trotoar. Ia kembali memunguti permen dan cokelatnya yang terlalu banyak lalu memindahkannya ke dalam keranjang itu dan menghela napas setelah menyelesaikan pekerjaannya lalu beralih melihat lampu labu yang bagaimana ia harus membawanya
"apa di tinggal saja yah ?." tanyanya pada diri sendiri sebelum berjalan pulang tanpa lampu labunya. Namun, tiba-tiba langkahnya terhenti saat melihat seorang anak laki-laki di pinggir jalan yang berseberangan dengannya, anak berkostum hitam dan bersayap. Mirip malaikat kematian, hanya saja anak laki-laki itu juga memakai tudung merah.
Tatapan mereka saling beradu karna anak lelaki itu juga tengah menatapnya. Ia ingat, ia pernah melihat anak itu di malam Halloween sebelumnya, sebelumnya lagi dan sebelumnya lagi dengan kostum yang sama pula. Ia jadi penasaran siapa anak itu. Ia mengalihkan pandangannya menatap permen di keranjangnya lalu kembali melihat anak itu yang tak bergerak pada tempatnya. Ia berpikir, mungkin lebih baik jika membagi permennya yang terlalu banyak ini bersama anak laki-laki misterius itu mengingat anak itu tak membawa permen di tangannya.
"Luhan!" anak yang di panggil Luhan itu hendak melangkah mendekati anak laki-laki di seberang jalan sana sebelum seseorang memanggil dan mengurungkan niat baiknya. Luhan menoleh dan menyugingkan senyumnya pada seorang wanita yang memanggilnya tadi
"eomma?."
"kenapa masih di sini ? A-yo cepat, kau tidak ingin melihat festival parade Halloween?" Tanya sang Eomma yang sudah berdiri di depan Luhan.
"ani, Eomma! Aku akan ke sana tapi aku harus menyimpan semua permen ini dulu di rumah."
"Aigoo, ne kajja." Eomma hanya menggeleng melihat putranya yang di beri banyak cokelat dan permen sampai-sampai kesusahan membawanya. Eomma lalu mengalihkan pandangnnya ke lampu labu yang di letakan Luhan di trotoar dan mengambilnya. Luhan hendak melangkah menyusul sang Eomma yang sudah berjalan di depannya, tiba-tiba ia teringat sesuatu. Luhan menoleh ke belakang, melihat ke seberang jalan di mana anak laki-laki tadi berada dan saat itu pula Luhan melihat anak lelaki tadi bergerak meninggalkan tempatnya, berjalan kearah yang berlawanan dengan Luhan dan Eommanya.
"Luhan!" Luhan tersadar langsung berlari menyusul eommanya. Sebenarnya Luhan masih penasaran dengan anak laki-laki tadi, tapi sudahlah. Mungkin malam Halloween berikutnya mereka bisa bertemu. Atau.. anak itu bisa saja ke festival Halloween dan mereka akan bertemu di sana. eh ? kenapa Luhan sangat berharap bisa bertemu anak laki-laki itu lagi ?
Luhan memiringkan kepalanya bingung dengan apa yang baru saja ia pikirkan. Namun, segera ia lupakan saat sudah berhadapan dengan sang eomma dan berjalan pulang bersama.
.
.
.
5 Tahun kemudian~
-Victoria High School
"perbandingan antar tegangan dan regangan di kenal juga dengan hukum hooke. Di namakan demikian untuk mengenang jasa Robert Hooke. Hukum Hooke ini hanya terbatas pada gaya tarikasdfghjkl"
Park Seongsanim terus menjelaskan tentang hukum Hooke dalam pembahasan mata pelajaran Fisika di depan kelas. Guru itu tidak perduli sama sekali dengan murid-muridnya yang tidur, mengobrol, melamun atau hal lain yang berhubungan dengan tak memperhatikannya di depan kelas.
Puk..
"aww!" Ringis seorang siswa yang baru saja di lempari sebuah penghapus karet oleh siswa lainnya. Siswa berparas manis itu menoleh ke belakang, mencaritau siapa yang sudah melepar penghapus itu ke arahnya dan menemukan seorang siswa lainnya berperawakan tinggi nan tampan tersenyum mengejek ke arahnya. Mengetahui siapa yang melemparinya, Luhan siswa itu hanya menghela napas sudah biasa.
Triiiiiiiinnnnngggggg…
Bel tanda istirahat telah berbunyi. Park seongsanim merapikan buku-bukunya meninggalkan kelas paling rusuh itu. Kini tinggalah para siswa yang semakin liar berlarian kesana kemari dan saling melepar di dalam kelas. Beberapa dari mereka ada juga yang langsung melesat keluar kelas mengunjungi kantin tercinta
Braaakk…
Luhan mengalihkan pandangannya dari jendela menatap orang yang baru saja menggabrak mejanya. Di hadapannya tengah berdiri dengan sombongnya tiga orang pemuda berperawakan tinggi. Luhan tak menampakan ekspresi apapun sudah biasa dengan perlakuan pemuda-pemuda ini.
"pergi dan belikan kami makanan!" salah satu dari mereka berucap sambil menower dahi Luhan. Luhan merapikan peralatan belajarnya, berdiri dan melangkah pergi melakukan apa yang di katakana pemuda bernama Kris tadi.
Bruk…
"mianhae.." Luhan langsung membungkuk minta maaf saat tak sengaja di belokan koridor ia menabrak seseorang. Namun, seakan tidak perduli, orang itu terus berjalan tak memperdulikan permintaan maaf Luhan.
Luhan yang sudah meluruskan tubuhnya menoleh ke belakang melihat siapa yang di tabraknya tadi namun ia tak menemukan siapapun di sana. Hanya ada orang-orang yang sudah berdiri dan bercengkrama yang tadi di lewatinya. Tidak ada sama sekali orang yang baru saja bertabrakan dengannya
Alisnya berkerut bingung dan kembali menghadap ke depan lalu berjalan saat teringat tujuan awalnya. Mungkin orang yang di tabraknya berlari dengan cepat dan menghilang di belokan koridor sehingga Luhan tak melihatnya lagi.
.
.
.
"kau mau ?." Chanyeol menyodorkan spageti kimci yang di sumpitnya kearah Luhan
"cih! Ya sudah kalau tidak mau." Chanyeol menarik lagi sumpitnya dan memasukan spageti kimci itu ke dalam mulut. Luhan hanya diam berdiri memegang tali tas selempangnya memperhatikan ketiga pemuda yang tengah melahap makanan yang di belinya tadi, sesekali ia menjilat bibirnya sendiri. Rasanya ia ingin juga memakan makanan yang di beli menggunakan uangnya itu. Tapi, itu hanya angan-angan saja mengingat pemuda-pemuda itu bukanlah orang pemurah hati yang akan membiarkannya ikut makan bersama, yaaahh… walaupun sebenarnya itu makanan yang di belinya—untuk mereka—
"Ahhh…. Kenyangnya.." Kris yang sudah selesai menepuk-nepuk perutnya lalu menatap Luhan "mana rokoknya?." Luhan langsung merogoh, membongkar isi tasnya dan mengeluarkan sebungkus rokok penuh lalu menyodorkannya kearah Kris yang langsung di ambil pemuda itu dan kedua pemuda lainnya ikut menghisap habis 1 bungkus rokok itu sambil mengobrol mengabaikan Luhan yang dari tadi berdiri di sana.
Saat tengah asik mengobrol tiba-tiba pintu atap sekolah terbuka menampakan 2 orang pemuda yang tengah asik bercanda saling merangkul berjalan kearah mereka. Namun, tiba-tiba kedua pemuda—Daehyun-Zelo—berhenti menyadari ada beberapa pasang mata tengah memperhatikan mereka. Menyadari siapa itu, Daehyun menghela napas dan memutar kepalanya
"Whow! Siapa ini ?." seru Kris berdiri menghampiri DaeZel. Daehyun berdecak mengacak rambut belakangnya sambil memalingkan wajah kearah lain, sedangkan Zelo mengeluarkan smartphon dan sibuk mengetikkan sesuatu.
Chanyeol dan Tao yang masih pada tempatnya ikut berdiri menghampiri Kris dan Daezel. Luhan hanya diam di tempat memperhatikan. Dapat di lihatnya dari sana Chanyeol mulai mendorong-dorong bahu Daehyun seperti mengajaknya berkelahi.
Tak beberapa lama kemudian Kris menarik Zelo dan Daehyun mengikutinya meninggalkan atap sekoleh. Luhan menghela napas mengeluarkan sebuah permen menyeruapai payung dan mengemutnya. Luhan lalu duduk di meja yang sebelumnya di duduki Kris, Chanyeol dan Tao tadi. Sebenarnya ia lapar, tapi ia tak punya uang lagi karna harus membelikan KrisYeolTao makanan.
Luhan menengadah menatap langit sendirian di atap sekolah. Tidak, ia tidak sendirian. Di sana, Luhan tak melihat pemuda yang dari tadi berada di sana. Duduk bersila di atas tengki air dengan sebuah cokelat di tangannya. Matanya dari tadi terus memperhatikan orang yang saat ini masih berada di sini—Luhan, dan orang-orang yang baru saja pergi dari sana. Pemuda itu terus memasang wajah tanpa ekspresi dengan mulut yang terus mengunyah cokelatnya.
Luhan mengeluarkan batang permen berbentuk paying yang di emutnya tadi. Pemuda yang duduk di atas tengki air itu terus memperhatikannya hendak menggigiti lagi cokelatnya namun giginya hanya bertemu dengan bungkus cokelat itu. Tanpa melihatpun ia tau kalau cokelatnya telah habis bersamaan pula dengan habisnya permen Luhan.
Luhan mengembungkan pipinya membuang batang permen itu sembarang tempat lalu merebahkan tubuhnya di meja itu menatap langit yang cerah saat ini. setelahnya ia mengulurkan tangannya seperti ingin menggapai langit
"eomma! Apa di sana menyenangkan ?"
Luhan kembali menarik tangannya dan menjadikannya bantal. Ia terus menatap langit sebelum menutup mata dan menyanyikan sebuah lagu dengan nada yang menenangkan namun dengan lirik yang miris.
~Selalu tepat di bawah langit yang sama…
Setiap hari selalu sama…
Tak ada yang berbeda selain tak memilikimu lagi di sisiku..
Sudah aku pikirkan tentang membiarkanmu pergi…
tanpa meninggalkan memory samar seperti tidak terjadi apapun…
Senyumanmu menghidupkan hari-hariku…
*merindukanmu, sangat merindukanmu…
Karena aku sangat merindukanmu…
Setiap hari aku sendiri…. dan aku memanggilmu…
*ingin melihatmu, ingin melihatmu….
Karena aku ingin melihatmu…
Sekarang hanya seperti sebuah kebiasaan… aku selalu menyebut namamu, saranghae eomma~
(Young Hwa – Because I Miss U/indo translate/)
Saat selesai dengan lirik terakhir, Luhan membuka matanya yang langsung melebar. Ia terperanjat kaget dan jatuh dari meja itu saat mendapati seorang pemuda yang tengah menatapnya. Pemuda itu berdiri di ujung meja tepat di atas kepala Luhan, menghalangi sinar matahari yang menerangi wajah Luhan, menyisakan bayangan pemuda itu yang menutupi wajah Luhan dari sinar matahari.
Shh…
Luhan meringis sakit mengusap sikutnya yang menghantam lantai atap akibat jatuh. Ia lalu menengadah manatap pemuda yang masih pada tempatnya tengah memandanginya dengan kedua tangan berada di dalam saku celana. Dan…? Luhan menatap heran pemuda itu. Lihatlah, pemuda itu berdiri di atas meja, bukan! Bukan itu, tapi, yaaahh… pemuda itu memang berdiri di atas meja, lebih tepatnya ujung meja. Eumm…. Bagaimana menjelaskannya yah ?, kakinya memang berada di atas meja, tidak! Maksudku ujung kakinya, jari-jari kakinya, mungkin ujung sepatuinya berada di atas meja, di ujung meja di mana Luhan tadi meletakan ujung kepalanya. Dan sisa kaki pemuda itu menginjak udara. Lalu, bagaimana ia melakukannya sehingga ia tidak jatuh ke belakang dengan posisi seperti itu ?
"kau… siapa?."
"apa yang kau nyanyikan tadi?." Bukannya menjawab Luhan, pemuda itu malah balik bertanya dengan tatapan tajam yang mengarah pada Luhan. Luhan akui, pemuda itu memang tampan, tapi ekspresi dan tatapannya sangat tidak bersahabat. Mungkin ia akan mengakui kalau ketiga orang yang sering membullynya lebih baik dari pada pemuda dengan ekspresi menyeramkan di hadapannya ini.
Hening…
Tap..
Luhan kembali melebarkan matanya melihat pemuda itu yang turun dari atas meja menginjakkan kakinya di atas atap dengan sangat ringan. Seakan-akan pemuda itu baru saja terbang
Pemuda itu berjalan mendekati Luhan dan mengamatinya. Luhan yang awalnya mendongak langsung menunduk dan berdiri sadar ia masih pada posisi duduknya. Luhan mengambil tasnya yang berada di atas meja dan cepat berlari meninggalkan pemuda aneh itu sebelum si pemuda membullynya seperti KrisYeolTao.
.
.
.
Luhan bersyukur di jam istirahat di hari yang lain ia tak harus mengeluarkan uangnya untuk KrisYeolTao karna ketiga pemuda itu tidak masuk sekolah. Itu membuatnya bisa makan memenuhi perut kosongnya di kantin dengan mengajak temannya si penjaga perpustakaan. Jangan bertanya kenapa harus si penjaga perpustakaan ? Itu karena Luhan tak punya teman sama sekali di sana. Orang-orang tidak mau berdekatan dengannya karna latar belakang dan dirinya yang sering di bully.
Penjaga perpustakaan bernama Lay itu bukanlah seorang siswa. Ia hanya seorang penjaga perpustakaan dan satu-satunya orang yang mau berteman dengan Luhan di sekolah itu.
Dan di sinilah Luhan. Duduk di salah satu meja bundar bersama Lay menikmati makanannya yang mungkin tak bisa ia nikmati esok harinya.
"Lu, makanlah pelan-pelan." Ucap Lay tak tahan melihat cara makan Luhan yang brutal. Luhan menghentikan aksinya lalu menatap Lay dengan senyum dan mulut mengembung penuh makanan. Lay yang melihat itu hanya bisa geleng-geleng kepala sebelum menyendok dan melahap makanannya kembali lalu mengedarkan pandangannya ke isi kantin. Lay melihat ke sebelah kanannya, tepat di ujung ruangan tempat seorang pemuda berambut merah tak menyadari kalau makanan yang sedari tadi di kunyahnya telah sampai ke tenggorokannya tapi ia tak menyendok lagi makanannya.
Luhan yang menyadari keterdiamannya Lay menghentikan kunyahannya dan menatap pemuda berdumple itu, heran dengan Lay yang mematung tiba-tiba, sepertinya temannya itu tengah memperhatikan sesuatu. Luhan hanya mengerutkan alis bingung dan mengikuti arah pandang Lay
Luhan memicingkan matanya mendapati objek yang tengah di tatapi temannya itu. Rasanya Luhan pernah melihat sosok yang tengah duduk di ujung ruangan dengan cokelat di tangan dan mulutnya yang terus mengunyah cokelat itu. Tapi di mana ? Luhan masih berpikir sebelum memutuskan untuk bertanya pada Lay
"siapa dia?." Lay menatap Luhan meminta penjelasan siapa yang di maksud oleh Luhan dan mendapati Luhan tengah memandangi sesuatu. Menyadari apa objek pandangnya Lay langsung mengangguk mengerti
"siswa pindahan, Oh Sehun." Luhan hanya mengangguk sebagai tanggapan lalu beralih menatap Lay
"kau mengenalnya?." Lay menatap Luhan
"hanya orang sepertimu yang tidak mengenalnya." Luhan mendengus atas jawaban Lay. Luhan kembali dengan pikirannya tentang siapa pemuda itu, kenapa ia merasa pernah melihat pemuda itu?
"aku rasa ia sangat menyukai cokelat." Seruan Lay sukses membuyarkan otaknya yang tengah berfikir. Luhan kembali menatap pemuda itu
"apa dia selalu bersedih hingga harus memakan cokelat untuk membuat perasaannya lebih baik?." Luhan menatap intens pemuda itu berusaha mengingat si pemuda. Untuk seorang anak yang tak pernah ketinggalan kelas Luhan sangat pelupa. Lay mengalihkan pandangannya menatap Luhan dan memutar bola mata mendengar ucapan Luhan
.
.
.
Di hari yang lain Luhan membongkar isi lokernya mencari pakaian olahraga yang seingatnya ia letakan setelah susunan buku pelajaran dalam lokernya. Tapi, dari tadi ia mencari pakaian itu tidak berada di sana. Apa kebiasaan pelupanya kambuh dan sekarang tidak tau di mana ia meletakan pakaian olah raga?
Kalau begitu, ia tidak bisa ikut pelajaran olahraga dan itu artinya jam tambahan saat pulang sekolah telah menanti. Oh, sial!
Luhan membanting pintu lokernya dengan kesal. Ia melihat sekitar yang sudah kosong karna teman-teman sekelasnya sudah berada di lapangan untuk praktek. Sebenarnya bisa saja ia ikut dengan meminjam pakaian olahraga, tapi mengingat orang-orang yang enggan berdekatan dengannya tidak mungkin ada yang mau meminjamkan pakaian untuk di sentuh kulit tubuhnya
Luhan berjalan di koridor sekolah yang saat ini nampak sepi karna jam pelajaran tengah berlangsung. Helaan napas terus keluar dari mulut dan hidungnya seiring dengan langkahnya
Tap…
Luhan menghentikan langkah tak sengaja matanya melihat ke dalam kelas yang saat ini juga kosong sama dengan kelasnya. Namun itu bukan kelasnya, mungkin itu kelas seorang pemuda yang tengah berdiri di depan pintu kelas dan bersadar di dinding dengan tangan yang memegang sebungkus cokelat dan mulutnya mengun—eh? Bukankah itu pemuda yang di lihat Luhan di katin kemarin? Oh Sehun? Siswa pindahan?
Luhan menunduk hendak melangkah melewati pemuda itu namun saat ia menunduk, saat itu pula ia melihat sepasang sepatu di hadapannya. Hal itu mengharuskannya mendongak melihat si pemilik sepatu dan betapa terkejutnya ia melihat pemuda yang tadinya berada jauh 2 meter dari tempatnya tiba-tiba sudah berdiri berhadapan dengannya. Bagaimana ia tak menyadari langkah pemuda itu? bagaimana bisa dalam hitungan kurang dari 1 detik pemuda itu sudah ada di hadapannya? Apa yang salah dengan—
"namaku, Oh Sehun. Salam kenal, Xi Luhan." pertanyaan apa yang salah dengan matanya sempat terpotong tadi kini berganti bagaimana pemuda bernama Sehun ini tau namanya? Dan apa ini namanya memberi salam perkenalan? Berekspresi datar tak perduli tetap mengunyah cokelat batang dalam bungkusnya itu mengabaikan tatapan bingung, penuh Tanya dari orang yang kau beri salam perkenalan. Aigoo! Dan apa pula tujuan pemuda bernama Sehun ini memperkenalkan dirinya pada, Luhan?
"sa-salam kenal juga, O-Oh Sehun." Luhan menggaruk tengkuknya merasa aneh dengan cara bicara dan suaranya sendiri sekaligus gugup karna pemuda bermarga Oh itu terus memandang lekat dirinya. Bahkan ia lupa menanyakan bagiamana pemuda itu tau namanya sementara ia tak menggunakan name tag di seragamnya
Hening beberapa saat sebelum salah satu yang lebih tinggi memilih melangkah meninggalkan satunya lagi yang diam menunduk. Luhan mendongak setelah tak mendapati sepatu Sehun di depannya dan mendapati punggung lebar Sehun yang berjalan menjauhinya. Sejujurnya Luhan masih bingung dengan kejadian barusan, tapi ia juga merasa senang karna itu artinya, sekarang ia memiliki kenalan dan Luhan harap ia dan Sehun bisa lebih dari sekedar kenalan, berteman maksudnya.
.
.
.
Luhan berjalan malas-malasan menuju kelas di mulainya pelajaran tambahan. Hhh… seharusnya ia sudah bisa menduga kalau komplotan Kris mengerjainya saat jam olahraga tadi dengan menyembunyikan pakaian olahraga Luhan yang entah bagaimana cara mereka membuka lokernya. Yah, setidaknya ia tau kalau ia masih cukup baik mengingat di mana ia meletakan pakaian olahraganya. Itu artinya ia tidak benar-benar seorang pelupa
Luhan menarik napas sebelum mengeluarkannya lagi saat berada tepat di depan pintu sebuah kelas di mana ia akan memulai pelajaran tambahannya hari ini. Sendirian..
CKLEK…
Luhan masih berjalan malas-malasan menghampiri salah satu bangku kosong tepat berada di depan papan tulis dan duduk di sana dengan lesuh.
"Hai, kita bertemu lagi." hampir saja Luhan melompat dari kursinya mendengar seseorang berbisik di balik tengkuknya membuat dirinya sedikit merinding atas perlakuan orang itu.
Luhan menoleh memutar badannya ke belakang guna melihat siapa orang itu dan kali ini ia benar-benar melompat jatuh dari bangkunya menyadari siapa orang itu yang wajhnya kurang dari 2 cm dari tengkuk Luhan sambil menjilati bibirnya sendiri.
"K-Kau?"
Orang itu yang adalah Sehun hanya mengangkat sudut bibir sebelah kirinya membuat Luhan yang melihat itu merinding. Orang ini benar-benar misterius di matanya.
Luhan langsung berdiri saat tiba-tiba pintu kelas terbuka dan menampakan seorang guru yang menatap mereka sambil menghela napas sebelum menyuruh mereka pulang dengan bekal 1 buku paket soal karna hanya ada 2 orang. Makannya sang guru tidak mau membuang waktu lebih lama di ruangan itu
.
.
.
Pulang sekolah kali ini Luhan merasa luar biasa karna untuk pertama kalinya ia berjalan dengan seseorang di sampingnya. Ia tidak tau apa yang membuat Sehun terus-terusan mengikuti langkahnya. Bukankah pemuda itu harusnya juga pulang?
Luhan yang mulai merasa risih dan tidak nyaman menghentikan langkahnya sebelum menatap Sehun yang juga menatapnya dengan potongan cokelat di sudut bibirnya.
"apa arah pulang kita sama?" Luhan merasa pertanyaannya sudah benar tapi pemuda di hadapannya diam dan hanya menatapnya datar sambil mengunyak cokelat batang di tangannya.
Diam beberapa saat dan Luhan mulai merasa semakin tidak nyaman. Pemuda iu terlihat tidak ingin bicara
"baiklah.." dan Luhan kembali melangkah dengan Sehun di sampingnya
.
.
To Be Countinue
.
Ell Note :
yo! Kalau bingung sama ceritanya. Jangan RCL, kalau dari awal udah ngerasa bosan jangan di terusin bacanya.
Dan jangan Tanya Sehun itu apa, mahkluk apa, karna ini Some Misterious Hellowen. Dan kisah-kisah di sini gak ada penjelasan karna semua mahkluknya cumin karangan. Gak ada asal usulnya—mungkin!
Terimakasih buat yang bersedia mau baca Salanghae~
