Disclaimer: Masashi Kishimoto

Genre: Romance/Comedy yang entahlah bisa disebut comedy atau tidak.

Rating: T

Pairing: SasuSaku (walaupun di fic ini mereka jauh dari kata romantis)

Warning: AU, Non Uchiha Massacre, OOC tingkat tinggi, Comedy garing, sedikit adegan Shonen Ai SasuNaru, Sasuke punya inner yang sangat berbeda dengan outernya, Kesialan yang menimpa Sasuke dengan bertubi-tubi.

Sedikit terinspirasi dari dorama Nodame Cantabile di chapter ini.


Wonderful Life

Story by: Akina Takahashi

Chapter 2: Sakura's Maid

"HUAHH" Sasuke mengucek matanya. Ia bangkit dari single bed biru kesayangannya. Matanya masih terlihat mengantuk.

"Hn... masih jam 7 pagi." Gumamnya. Mata onyxnya menatap jam weker yang ada diatas meja.

Fuh, kejadian aneh akhir-akhir ini benar-benar membuatnya hampir gila. Mulai dari laporannya ditolak, salah masuk apartemen, ditonjok oleh seorang gadis aneh yang tak dikenalnya, hampir di"rape" oleh penggemar-penggemarnya, sampai ciuman dengan Naruto.

Kasihan sekali kau Sasuke.

"Huf, mungkin aku perlu menghirup udara segar." Ia berjalan ke balkon apartemennya. Pikirannya masih ruwet.

"GREKK" Sasuke menggeser pintu di hadapannya.

"SYUUU" Angin segar berhembus masuk seiring pintu yang terbuka.

Sasuke menyandarkan tangannya di pagar pembatas, menutup matanya perlahan. Berusaha untuk membereskan pikirannya yang berantakan. Ia menghirup udara pagi yang masih segar agar pikirannya sedikit lebih tenang.

"Hari ini hari minggu..." ujarnya pelan. Seulas senyum terbentuk di bibirnya.

Sasuke kenapa kau tersenyum? Memangnya ada apa dengan hari minggu?

Kencan?

Ah, tidak mungkin. Mengingat insiden di kafe, Sasuke pasti sudah kabur jika ada yang menyebut soal kencan.

Lalu kenapa?

"Aku jadi tidak usah pergi ke kampus. Aku tidak perlu bertemu dengan para wanita-wanita gila itu. Aku senang sekali!" Seru innernya. Di dalam kepalanya terdapat 5 Sasuke versi chibi yang mengenakan pakaian cheerleader bersorak ria. Mereka bahkan membuat menara manusia dan beberapa atraksi yang biasa dilakukan cheerleaders.

Sementara outernya hanya diam sambil tersenyum tipis. Tentu saja sebagai seorang Uchiha ia harus menjaga imagenya kan? Setidaknya ia harus menjaga dirinya agar tidak terlalu out of character. Yah, meski innernya sudah sangat out of character.

"Hn..." Sasuke kembali menghirup udara pagi. Angin memainkan rambut hitamnya yang berantakan sehabis bangun tidur. T-shirt hitam polos dan celana pendek hitam selutut yang dikenakannya pun ikut berkibar.

Namun sepertinya suasana damai Sasuke hanya akan bertahan sampai disini saja.

"BRUKK"

"KRAKK"

"BRAKK"

Suara-suara aneh. Seperti suara benda berjatuhan datang dari apartemen sebelahnya.

"He?" Sasuke tersentak kaget. Ia melihat ke balkon apartemen sebelahnya. Disana terdapat tumpukan kardus-kardus dan plastik-plastik sampah yang menggunung.

Apa itu? Gunung sampah? Apa yang sebenarnya dilakukan si aneh itu? Sasuke sedikit penasaran dengan apa yang terjadi.

Cih. Lebih baik pura-pura tidak lihat.

Sasuke berbalik, lalu berjalan menuju ke apartemennya. Berusaha untuk melanjutkan aktivitas relaksasinya.

"BRUKK"

Sabar Sasuke.

"PRRAK"

Pura-pura tidak lihat saja.

"AGH dimana sih?" kali ini yang terdengar bukan suara barang jatuh, melainkan suara seorang gadis

Jangan pedulikan Sasuke.

"AH! INI DIA! Ketemuuu!" suara jeritannya kali ini membuat gendang telinga Sasuke hampir pecah.

Hajar saja dia Sasuke!

Siapapun yang menggagalkan acara relaksasi Sasuke Uchiha akan menyesal. Sasuke benar-benar marah karena aktivitasnya terganggu.

Ia berlari ke apartemen yang ada di sebelahnya. Mengetuk pintunya dengan tidak sabar.

"TOK TOK TOK" Sasuke bukan lagi mengetuk, tapi menggedor. Hampir saja ia mendobrak pintunya kalau tidak ada suara dari dalam yang menyuruhnya masuk.

"Masuk saja, tidak dikunci kok."

"CKLEK" Sasuke membuka pintunya dengan kesal.

"Heh, aneh. Apa yang kau..." kata-katanya terhenti saat melihat begitu banyak tumpukan kardus dan plastik yang menggunung di depannya.

Apakah ini tempat pembuangan sampah?

Sasuke berjalan masuk ke dalam. Tangannya menyingkirkan kardus-kardus yang menghalangi jalannya.

Matanya membulat saat ia melihat seorang gadis berambut pink sibuk bermain play stasion di tengah tumpukan sampah.

Apartemen ini benar-benar kacau. Sampah dimana-mana. Semua barang berada tidak pada tempatnya. Buku-buku bergeletakan di lantai, tak memberikan ruang gerak baginya.

"OI! Kau ini manusia atau bukan?" jerit Sasuke histeris. Oh, tidak nama Uchiha tercoreng sudah.

"Ada perlu apa? Aku sedang sibuk." Gadis itu tak menatap Sasuke. Ia masih sibuk memainkan joystick yang ada di tangannya dengan semangat.

"Apa benar kau Haruno Sakura? Pewaris tunggal Haruno corp?" Sasuke mengerutkan keningnya. Bingung. Niatnya untuk balas dendam pupus sudah.

"Ya. Begitulah." Jawab Sakura santai. Ia mengenakan gaun tidur yang dipakainya saat insiden Sasuke salah masuk apartemen. Ia masih terlihat cantik walaupun rambut pinknya acak-acakan seperti tidak disisir dalam jangka waktu yang sangat lama.

"AGH! Sial! Padahal sudah sampai bos terakhir!" Sakura mengacak rambutnya yang sudah berantakan itu, membuatnya semakin berantakan. Ia melempar joysticknya ke lantai. Kesal karena kalah di stage terakhir.

Aku tidak habis pikir. Bagaimana nasib Haruno corp nanti? Ah, bukan. Bagaimanana nasib perekonomian jepang nanti?

Mengingat Haruno corp adalah perusahaan raksasa yang memiliki aset terbesar di jepang, maka bila terjadi sesuatu yang buruk pada Haruno corp, mau tidak mau perekonomian jepang juga pasti terpengaruh.

Dan... pewaris tunggal Haruno corp adalah... gadis aneh yang ada di depannya ini.

Kami-sama... kenapa dunia ini begitu kacau?

"Oi, Haruno! Sebaiknya cepat bereskan apartemenmu ini!" perintah Sasuke. Penyakit super bersihnya mulai kumat. Sejak dulu Sasuke tidak menyukai tempat yang kotor dan berantakan seperti ini.

"Tidak mau. Apa hakmu memerintahku!" Sakura masih terlihat kesal gara-gara kalah tadi. Ia bangkit dari duduknya lalu berjalan mendekati Sasuke. "Daripada melakukan itu, lebih baik kita lanjutkan saja pertarungan kemarin."

"Pertarungan?" Sasuke mulai bingung. Ia tidak pernah bertarung dengan Sakura sebelumnya kan? Atau mungkin sudah ya?

"Sasuke –senpai~" tiba-tiba saja nada suaranya berubah drastis. Yang asalnya terdengar sadis dan kasar seperti yakuza, tiba-tiba saja berubah jadi lembut.

Apa dia punya dua kepribadian?

"Yang ini lho." Sakura mengambil tangan Sasuke. Menggenggamnya erat dengan kekuatan luar biasa.

"Ugh." Sasuke sedikit berjengit. Ia segera membalas genggaman Sakura berusaha mengimbangi kekuatannya.

"Kalau aku menang, kau harus membereskan apartemen ini dan diam dengan tenang disini. Jangan membuat keributan seperti tadi. Biarkan aku menikmati hari minggu ini. Bagaimana?" Sasuke menawarkan dengan penuh keyakinan. Ya iyalah, memangnya siapa sih wanita yang bisa mengalahkan kekuatan Sasuke Uchiha? Pikirnya.

"Lalu kalau aku yang menang bagaimana?" tanya Sakura. Mata hijau cemerlangnya menatap mata obsidian Sasuke.

"Itu terserah padamu."

"Kalau begitu, aku ingin kau menjadi budakku selama seharian ini. Hm kau setuju?"

"Oke. Kalau begitu pemenangnya adalah orang yang bisa bertahan paling lama dalam adu tangan ini. Yang menyerah atau menarik tangannya maka orang itu kalah. Deal?"

"Hm" Sakura menganggukkan kepalanya pertanda kalau ia setuju. "Lihat saja. Aku pasti mengalahkanmu." Sakura nyengir.

"Cih." Sasuke hanya mengumpat. Ia menambahkan kekuatan pada genggaman tangannya.

"GREPP"

"Uhh..." kini Sakura yang berjengit. Ia merasakan rasa sakit yang luar biasa di pergelangan tangannya.

"Hn..." Sasuke tersenyum puas. Sebentar lagi dia pasti menyerah kalah.

Sakura menambah kekuatan cengkramannya. Lagi. Lagi. Dan lagi. Hingga kekuatannya maksimal.

Sepertinya Sasuke benar-benar tidak tahu siapa yang sedang dihadapinya sekarang.

Matilah kau Sasuke.

Tamatlah riwayatmu.

Gadis yang dihadapinya sekarang bukanlah gadis biasa. Ia bisa menghancurkan sebuah bukit hanya dengan sebuah pukulan.

Ya, Haruno Sakura dan kekuatan monsternya yang ia dapatkan dari guru karatenya, Tsunade.

"Ugh." Apa-apaan gadis ini? Dia abnormal ya?

Terlambat Sasuke.

"Bagaimana rasanya senpai? Enak?" Sakura menggoda Sasuke. Ia masih memperkuat cengkramannya. Sementara di bibirnya terukir sebuah senyum jahil. Dia tahu Sasuke pasti akan menyerah sedikit lagi.

"KRAKK" terdengar suara seperti ada benda yang patah.

Bunyi apa itu?

"KRAKK" bunyi itu kembali terdengar.

"Hei, bodoh! Itu bunyi pergelangan tanganku!" Jerit inner Sasuke histeris. Sementara outernya hanya terdiam, wajahnya membiru.

"Hentikan. Aku. Bisa. Mati." Sasuke memberikan jeda pada setiap kata-katanya. Suaranya masih terdengar dingin seperti biasa. Wajahnya juga masih tidak memberikan ekspresi apapun. Terkadang author sedikit bingung pada sikapnya itu, bisa-bisanya jaim disaat seperti ini. Aneh.

"Kau menyerah?" tanya Sakura. suaranya terdengar kecewa.

"…" Sasuke tidak dapat berkata-kata. Pergelangan tangannya akan remuk bila ia terus melanjutkan pertarungan tidak berguna ini. Bisa-bisa ia diamputasi. Hii… membayangkannya saja ia sudah bergidik ngeri. "Aku menyerah."

"Yah… membosankan." Sakura melepaskan tangan Sasuke. Wajahnya terlihat bosan.

"AGH!" Sasuke meringis ketika melihat pergelangan tangannya membengkak dan berubah warna menjadi kebiruan.

Satu pelajaran yang didapat olehnya hari ini.

Jangan pernah mau menanggapi ajakan bertarung tanpa mengetahui siapa sebenarnya musuhmu.

Dengan kata lain, jangan pernah mau bermain adu kekuatan tangan dengan Haruno Sakura karena kekuatan abnormalnya bisa membuatmu mati sengsara.

"Ingat ya, kau harus menjadi budakku sekarang!"

"Iya, iya aku tahu." Sasuke kelihatan kesal. Ia sedikit malu karena kalah dari seorang wanita. Dengan kekuatan macam itu, gadis ini pasti bukan manusia.

"Heh baka. Kau bisa membunuhku tadi." Sasuke masih meratapi tangannya yang bengkak. "Untunglah, aku seorang Uchiha. Kalau orang biasa pasti tangannya sudah remuk."

"Hei tahu tidak?" Sakura nyengir. "Kau satu-satunya pria yang dapat selama itu bermain adu tangan denganku tanpa kehilangan tangannya."

Kehilangan tangan?

Hiii…!

Seketika wajah Sasuke memucat. Kini ia tahu kenapa Fanboys Sakura tidak ada yang berani mendekati gadis itu. Astaga. Dia benar-benar gadis aneh.

"Fuh, sepertinya kekuatan tanganku sudah melemah ya?" Sakura menggerak-gerakkan jari-jari tangannya.

Melemah? Apanya yang melemah?

"Darimana kau belajar bela diri?" Sasuke berusaha mengontrol nada bicaranya agar terdengar biasa.

"Dari guruku, Tsunade-shishou." Jawab Sakura. "Dia benar-benar hebat loh. Dia bisa meruntuhkan sebuah gunung hanya dengan sebuah pukulan."

Meruntuhkan gunung? Tangan kosong? Gila. Memangnya ada ya orang seperti itu di dunia nyata. (Tentu saja tidak ada. Dasar Sasuke bodoh. Ini kan hanya fic.)

"Kalau aku sih tidak sampai seperti itu. Aku hanya bisa meruntuhkan sebuah bukit dengan tangan kosong. Tidak sehebat shishou."

Meruntuhkan bukit? Itu sih sama saja!

.

.

.


Wonderful Life


.

.

.

"Aku tahu, kalau aku harus menjadi budakmu hari ini." Kedua alis Sasuke bertaut. Wajahnya terlihat kesal. "Tapi…"

"…"

Diam sesaat.

"APA-APAAN INI!" Teriak Sasuke kesal, saat ia melihat dirinya sendiri di cermin.

Disana terdapat dirinya sedang mengenakan baju maid hitam yang dipenuhi renda berwarna putih, sebuah bandana putih berenda dan yang lebih parahnya lagi, ia mengenakan kuping kucing diatas kepalanya.

Mengerikan.

Bagaimana nasib kehormatan klan Uchiha selanjutnya?

"Waah, kau lucu sekali Sasu-chan…" mata Sakura berbinar-binar. "Aku tidak menyangka kau benar-benar cocok mengenakan baju itu." Jiwa cosplayer Sakura kembali menggila.

Yah, dengan kulit putih pucat, rambut hitam lurus, mata onyx memukau, bibir tipis menawan… dia terlihat… ehem. Cantik?

Orang seperti Sasuke sih pasti cocok mengenakan baju model apapun kan? Jika menjadi wanita dia pasti cantik sekali.

"TIDAK!" Sasuke membanting kuping kucing yang dikenakannya ke lantai. "Aku tidak mau mengenakan baju seperti ini!"

"Hei, kau ini budakku. Sasu-chan."

"Berisik! Berhenti memanggilku Sasu-chan!" teriak Sasuke emosi.

"Maaf, apa kau melihat Sasu…" tiba-tiba saja muncul seorang pria blonde dari balik pintu apartemen Sakura yang memang sudah terbuka setengah tadi. "…ke." Kata-katanya tersendat saat ia melihat orang yang dicarinya sedang berdiri di hadapannya.

Pakaian macam apa itu?

"GYAAAA!" Naruto histeris. Tidak mempercayai apa yang dilihatnya.

Astaga.

Seorang Uchiha terhormat sedang mengenakan baju maid?

Kami-sama!

Apakah dunia ini benar-benar akan kiamat?

"Ini tidak seperti yang kau pikir, dobe." Sasuke benar-benar terlihat kesal.

"SASUKEE!" tanpa pikir panjang, Naruto berlari dengan kecepatan penuh menuju kearah Sasuke. Hampir saja ia menabraknya jika Sasuke tidak sigap menghindar.

"BRUKK" Naruto jatuh terjengkang. Wajahnya membentur lantai dengan indahnya mengakibatkannya hilang kesadaran.

"…"

Hening.

"Oi, dobe. Kau masih hidup kan?" Sasuke menggoyang-goyangkan tubuh Naruto ke kiri dan ke kanan berulang kali. Berusaha menyadarkannya.

"Uhh…" Naruto merasakan pening yang amat sangat. Mata ceruleannya terbuka perlahan membiarkan cahaya masuk ke dalam retina matanya. Sesaat ia melihat seorang bidadari berambut hitam sedang memanggil-manggil namanya.

Apakah aku sedang berada di surga?

"PLETAK" Sasuke menggetok kepala Sasuke. Berharap tindakannya ini dapat memperbaiki sistem kerja otak Naruto yang rusak.

"Sadarlah baka! Otakmu itu sudah rusak parah ya?" gerutu Sasuke.

"Ng… kau… Sasuke?" pada akhirnya Naruto benar-benar membuka matanya secara penuh.

"Kau gila? Tentu saja aku Sasuke."

Jangan bilang kalau bidadari yang kulihat tadi itu adalah Sasuke.

"…"

Naruto bangkit dari posisinya, mendudukkan dirinya disebelah Sasuke. Menatap tajam mata onyx Sasuke.

"Apa?" Sasuke terlihat terganggu dengan tatapan Naruto.

"Menikahlah denganku." Kata-kata yang terdengar rancu ini meluncur dengan mulus dari mulut Naruto.

Oh tidak.

Tidak.

Tidak!

Apakah otak Naruto benar-benar rusak parah akibat benturan tadi?

"HA?" kali ini Sasuke bagaikan tersambar petir.

"Aku mau minta pertanggungjawabanmu. Nikahi aku Sasuke…" Naruto manggenggam kedua tangan Sasuke. "Kau cantik sekali"

Agh...!

Sasuke hanya bisa berjengit sebelum akhirnya ia bereaksi.

"Mati saja kau!" Sasuke terlihat luar biasa kesal. Ia menendang Naruto hingga terjengkang.

Tunggu. Sepertinya ada yang aneh.

Dimana Sakura? bukankah dia masih berada di tempat yang sama dengan Sasuke dan Naruto?

"KRAUK KRAUK" terdengar suara kunyahan.

"APA YANG KAU LAKUKAN?" jerit Sasuke histeris. Ia benar-benar kehilangan kendali. Sudahlah toh imagenya sudah hancur sejak awal cerita, untuk apa dijaga lagi?

"Sudah, sudah jangan pedulikan aku." Sakura duduk bersila di depan Sasuke dan Naruto. Tangan kirinya memegang sebuah bungkus popcorn ukuran besar. Ia bersikap seolah Sasuke dan Naruto sedang bermain drama di hadapannya. "Ayo lanjutkan lagi pertunjukkannya!" teriak Sakura semangat (Sakura: Fujoshi mode ON).

"Jarang-jarang aku bisa melihat adegan yaoi seperti ini!" Sakura tersenyum puas. "Akhirnya kau benar-benar menjadi Sas-UKE. Hahaha."

Sasu-uke dan Naru-seme…

Benar-benar pairing yang aneh. Biasanya kan…

Haah… sepertinya jiwa fujoshi author sedang menggila sekarang. Biarkan saja author tenggelam dalam fantasinya yang berlebihan itu.

Ayo kita lanjutkan kembali ceritanya.

"Ini bukan tontonan tahu!" Sasuke merebut bungkus popcorn yang ada di tangan Sakura, melemparnya entah kemana.

"Aaah! Popcornkuuu!" Sakura mengejar popcornnya yang melayang di udara. Meninggalkan Sasuke dan Naruto.

"Oi! Naruto! Aku tahu kalau kau itu bodoh. Tapi aku tidak menyangka kalau otakmu itu benar-benar rusak sampai-sampai kau mengatakan hal yang luar biasa gila itu padaku." Sasuke melipat kedua tangannya kesal.

"Ite…" Naruto memegangi bagian belakang kepalanya yang sakit. "Sasuke kau tidak perlu menendangku sampai seperti ini kan?"

"Cih."

"Ngomong-ngomong… kenapa kau berpakaian seperti itu?" tanya Naruto heran. "Aku tidak tahu kalau kau punya hobi yang aneh."

"Bodoh! Aku kalah taruhan dengan gadis aneh itu."

"Gadis aneh? Tunggu maksudmu gadis yang tadi?" Naruto tidak menyadari kalau gadis yang ia lihat sepintas tadi adalah Sakura. ia terlalu shock ketika melihat Sasuke dengan baju maid sampai-sampai seluruh perhatiannya ia fokuskan hanya pada Sasuke. (Entahlah… sepertinya dia memang benar-benar hanya melihat Sasuke saja tadi. Jangan-jangan… ah sudahlah jangan dipikirkan.)

"Sasuke! Kembalikan popcornku!" Sakura akhirnya kembali. Wajahnya terlihat kesal.

"Kau… Haruno Sakura?" Naruto akhirnya sadar. Ia menatap Sakura dengan tatapan tidak percaya. Image yang didapatkannya saat pertama kali bertemu dengan Sakura di kampus benar-benar berbeda dengan image Sakura yang dilihatnya sekarang.

Rambut merah muda yang berantakan seakan tak disisir berhari-hari, gaun tidur tipis yang terlihat kusut. Benar-benar tidak cocok dengan image seorang tuan putri dari keluarga terhormat.

"Ng… Naruto-senpai?" Sakura berusaha mengingat-ingat.

"Ah. Sakura-chan masih ingat padaku?" Naruto terlihat senang. "Tidak kusangka kau tinggal di sebelah apartemen Sasuke."

"Aku baru saja pindah kok."

"Oh begitu ya? Pantas saja."

"Naruto-senpai, aku sedang main play stasion tadi. Mau ikut tidak?" Sakura menawarkan.

"Tentu saja! Dengan senang hati." Naruto terlihat antusias.

Baru bertemu sebentar saja Naruto dan Sakura sudah kelihatan akrab. Mereka cocok sih. sama-sama berisik. Sama-sama hiperaktif dan sama-sama bisa membuat Sasuke gila.

"Oi, Naruto sebenarnya ada perlu apa kau datang kesini?" tanya Sasuke.

"Aku Cuma ingin main sebentar." Jawab Naruto tangannya masih sibuk memainkan joystick dengan cekatan.

"Heh budak! Cepat bereskan apartemenku. Jangan diam saja." Perintah Sakura. matanya masih terfokus pada layar TV yang ada di hadapannya.

Budak?

Ada orang yang berani memanggil Uchiha Sasuke budak?

Cari mati saja.

"Ugh… kau…" geram Sasuke.

"Jadi kau tidak mau mematuhi perjanjian Sasuke-senpai? Tidak kusangka kau adalah pria yang tidak bertanggung jawab."

"Oke. Oke. hanya beres-beres kan?" Sasuke mengalah. Bagaimanapun juga ia tidak mau dianggap pria yang tidak bertanggung jawab.

"Oiya, dan kau tidak boleh melepas baju maid itu sampai besok." Sakura menambahkan.

EEE?

Naniii?

Sasuke beres-beres pakai baju maid? Author juga mau lihat dong! Kyaaa!

Ehem. Sudah-sudah-. Ayo kita lanjutkan saja.

"HAA? What the hell!" jerit inner Sasuke histeris sementara outernya berusaha bersikap tenang.

Membereskan apartemen yang berantakan seperti habis terkena gempa 10 skala richter ini saja bisa membuat Sasuke kehilangan tenaganya sampai satu minggu, ditambah lagi ia harus mengenakan baju maid yang sangat memalukan itu. Mau jadi apa nama baik klan Uchiha?

"Apa maksudmu Haruno?"

"Senpai tidak dengar ya? Kubilang, senpai harus memakai baju maid itu sampai besok." Ulang Sakura. Entah kenapa nada bicaranya selalu menekankan kata senpai. Mungkin ia hanya ingin membuat Sasuke merasa kesal karena diperbudak oleh seorang kouhai seperti dia.

"KU-BU-NUH kau Haruno!" Sasuke mulai kehilangan kendali. Di belakangnya ada api besar berwarna oranye (Anime mode: ON). Ia mengacungkan sapu yang dipegangnya pada Sakura yang sedang asyik bermain PS bersama Naruto. Sementara Naruto hanya terkikik geli melihat perubahan ekspresi wajah Sasuke yang sangat lucu. Sepertinya ia benar-benar menikmati kejadian ini. Kapan lagi bisa melihat seorang prodigy Uchiha Sasuke yang paling sombong, angkuh, dan memiliki harga diri tinggi mengenakan baju maid lucu berenda kan?

"Hmm… apa kusebarkan saja foto-foto ini di kampus ya?" gumam Sakura santai. Tangannya memegang foto-foto yang diambilnya secara diam-diam tadi. Mulai dari foto Sasuke menjerit di depan cermin sewaktu pertama mengenakan baju maid tadi sampai foto sewaktu Naruto "melamar" Sasuke.

"Serahkan itu padaku sekarang juga!" Sasuke berusaha mengambil foto-foto itu dari tangan Sakura.

"Eits, aku masih punya banyak copy-annya lho! Percuma saja senpai…"

"Oh ya senpai, kalau mau mengepel lantai gunakan saja lap yang ada disitu." Perintah Sakura seenaknya. Tangannya menunjuk ke sehelai… apa itu? Kenapa rasanya familiar. Astaga! Itu kan baju Sasuke yang waktu itu tertinggal di apartemen Sakura setelah insiden salah masuk apartemen.

Mata onyx Sasuke membulat ketika meilhat nasib tragis baju kesayangannya yang berakhir menjadi lap pel. "Brengsek! Apa yang kau lakukan pada bajuku?" Serunya marah.

"Ah, jadi itu bajumu ya? Kupikir baju siapa." Ujar santai. "Aku kehabisan lap pel jadi kupakai saja itu."

"AAGH!" jerit Sasuke histeris. Sudah berapa kali dia histeris di fic ini ya? Haa sejak awal auhor memang sudah berencana untuk membuatnya OOC selama jalan cerita fic ini.

"Sudahlah Sasuke, turuti saja dia." Naruto berkata seraya mengganti kaset PSnya.

"Kau…!" Sasuke menggeram. "Brengsek kau dobe! Kukira kau akan membelaku!"

"Untuk kali ini aku tidak akan membelamu teme. Aku akan sangat menikmati hari ini. lalala" Naruto bersiul senang. "Sakura-chan, ayo kita main ini!" serunya pada Sakura. Ia tidak mempedulikan sang Uchiha yang telah "terbakar" karena kesal.

"Kau akan menyesal nanti Haruno, Naruto. Lihat saja." Sasuke menyeringai. Berusaha memikirkan cara balas dendam yang bagus untuk membalas mereka berdua.

-TSUZUKU-


irnya selesai juga chapter yang dipenuhi oleh khayalan gila author. Sejak dulu saya pengen liat Sasuke versi cewe. Saya pernah liat wallpaper salah satu computer di kampus. Gambarnya, Sasuke pake kimono furisode warna biru. Sumpah cantik banget! Hahaha.

Sudahlah… saat ini saya mengharapkan review, saran, dan kritik dari kalian.

Terima kasih…

With love,

Akina Takahashi