Oke oke kali ini saya kembali dengan membawakan chapter kedua. Yah, walau reviewnya di chapter 1 hanya 3 saja tapi saya memahami dan akan berusaha untuk lebih baik lagi di chap ini dan selanjutnya. Oke daripada banyak bacot mending saya langsung saja…
Selamat menikmati … :D
.
.
.
I think I love you
SasuSaku
Rated: T
Summary: Haruno Sakura, seorang wanita single berusia 20 tahun yang mempunyai cita-cita sebagai penulis novel tiba-tiba mendapat wasiat dari kakeknya soal pernikahan. Siapakah lelaki yang dipilih sang kakek untuk Sakura? Apakah Sakura setuju dengan surat wasiat sang kakek yang sudah sakit-sakitan?
Sedikit terinspirasi dari K-Drama Full House, tapi fict ini 100% hasil karya aku XD
Genre: Romance/Drama
Disclaimer: Masashi Kishimoto
WARNING: TYPO(S), OOC, JELEK, EYD KACAU, ABAL-ABAL
DON'T LIKE DON'T FLAME!
Chapter 2: One Day With You
"…Kami mau menjodohkanmu!" lanjut Kakek Danzo, tanpa menunjukan tampang innocent nya.
Sakura kaget setengah mati sambil menyemburkan air minumnya, "APA?"
"Iya tidak apa-apakan? Hanya 3 bulan," tanya Kaaa-san, "—lagian mau sampai kapan lagi aku menunggumu untuk punya suami? Aku sudah tidak sabar tahu ingin segera menggendong cucuku!"
"Sudahlah Sakura, kau coba saja dulu selama 3 bulan bersamanya. Kalau kau merasa tidak enak, batalkan saja perjodohan ini!" timpal Tou-san, sambil tersenyum pada Sakura yang sedang ketakutan mendengar hal itu. Enak saja dibilang cuma 3 bulan!
"…" Sakura diam seribu bahasa. Dia bingung mau menjawab apa. Kalau dia membantah, apa nanti yang akan dirasakan orangtua dan kakek tercinta Sakura terhadap keluarga sahabat kakeknya itu. Sakura paham betul kondisi orangtuanya yang selalu menanti-nanti cucu dari Sakura tapi di sisi lain, dia tidak suka kalau dia dijodohkan apalagi dengan orang yang tidak ia kenal.
"Sakura, ini permintaan terakhirku. Kalau kamu mau, aku sangat senang. Tapi kalau kau tidak mau, aku tidak akan marah hanya akan kecewa karena tidak bisa menepati janjiku. Aku kan sudah pernah mengajarimu bahwa janji harus ditepati," Kakek Danzo menghela nafasnya "—tapi aku memang tidak mengerti apa perasaan wanita sepertimu. Aku juga tidak memaksa!"
Kakek Danzo menyelesaikan makannya dan bangun dari bangkunya. Ia berjalan menuju kamarnya meninggalkan keluarganya yang masih tercengang di ruang makan.
Sementara di kediaman Uchiha lebih tepatnya di kamar Sasuke..
Terlihat si Uchiha bungsu sedang membuka jendela kamarnya yang lebar dan keluar. Dia berdiri di balkon rumahnya dan menatap langit yang hampa tanpa adanya bulan dan bintang yang menghiasi—faktor karena hujan tadi, langit jadi terlihat sangat gelap dan cuaca sangat dingin. Dia sedang bingung dengan apa yang terjadi hari ini. Dia mengantar ibunya jauh-jauh ke rumah Kakeknya, Uchiha Madara hanya mendengar kabar bahwa ia sudah dijodohkan dengan perempuan yang sepertinya ia temui di halte itu. Itu sama sekali membuat konsentrasinya buyar dan tak menentu. Memikirkan 3 bulan jalan bersama seorang gadis berambut merah muda itu. Kenal? Tentu saja tidak!
Sasuke's POV
3 bulan bersamanya merupakan waktu penuh paksaan buatku menerima dia di hatiku. Aku harus bisa percaya bahwa dia tidak akan mengecewakan ku. Apa keputusannya kawin kontrak saja ya seandainya aku dan Sakura sama sekali tidak bisa melanjutkan hubungan kami daripada mengecewakan orangtua kami? Aku belum tahu.
End Of Sasuke's POV
.
.
.
.
Tok… Tok… Tok…
Sakura membuka pintu kamar kakeknya. Terlihat kakeknya sedang tiduran ditemani oleh secangkir teh hangat sepertinya buatan Kaa-san nya tercinta. "Ada apa Sakura?" tanya kakeknya. Sakura tersenyum, "—tujuanku kemari…"
Kakek Danzo mengangkat sebelah alis matanya, "apa?"
"Umm… Aku… aku setuju dengan perjodohan ini. Aku akan mencobanya selama 3 bulan tapi hanya 3 bulan saja ya, kek!" kata Sakura, menutupi keraguan hatinya. Ia tersenyum palsu saat melihat kakeknya tersenyum bahagia. Ini hanya demi kakek ku!
"Arigato, Sakura!" kata Kakek Danzo, tersenyum, "—dan Sakura, besok kau akan ada acara bertemu dengannya. Tujuannya ya agar kau mengenal satu sama lain dengannya. Mengerti?"
Sakura tersenyum dan menganggukan kepalanya. Kami-sama apa yang akan terjadi lagi padaku? Bantulah aku!
.
.
"Sakura, kau tidak pulang ke apartement mu?" tanya Kaa-san, membuka jendela di kamar Sakura dirumah mereka seraya membangunkan Sakura yang masih tertidur pulas ditemani bantal guling kesayangannya.
Sakura bangun dari tidurnya, mengucek matanya, terlihat sekali kalau tidur Sakura amat sangat pulas. Ia menguap dan siap-siap mandi pulang ke apartementnya karena nanti siang dia ada jadwal kuliah.
"Selamat pagi!" seru Kaa-san sambil mengecup jidat Sakura yang lebar. Sakura merasa kecupan dari ibunya mengingatkannya di masa kecilnya. Ia rindu kamar ini rasanya apartement yang lebih bergaya modern masih belum apa-apa dibandingkan rumahnya yah walaupun terlihat kecil dan sederhana tapi disinilah kebahagiaannya berada. Bagaimana nanti dia kalau sudah menikah? Rasanya dia yang harus memberikan kebahagiaan dan kenyamanan itu pada anaknya nanti sama seperti orangtuanya yang sudah memberikan kebahagian dan kenyamanan di rumah ini.
Sakura beranjak bangun dari tempat tidurnya dan segera menuju kamar mandi untuk mandi. Kaa-san tersenyum melihat tingkah putrinya itu yang kian hari beranjak dewasa. Ia ingat bagaimana perjuangannya melahirkan Sakura ke dunia, ia ingat saat Sakura menginjak umur 1 tahun, bagaimana Sakura mencoba mengikat tali sepatunya saat hari pertama masuk taman kanak-kanak, Sakura bernyanyi untuk acara pentas seni di sekolahnya saat masih SD, Sakura mencoba mengerjakan soal-soal matematika yang cukup rumit saat SMP, Sakura merayakan pesta 'Seventeen Sweet' –nya saat dia berumur 17 tahun, Sakura ikut tes masuk kuliah di salah satu Universitas terbaik di Konoha. Ya, Sakura benar-benar tumbuh menjadi wanita yang umurnya yang sudah menginjak 20 tahun dan masih single ini. Sakura tidak peduli terhadap adiknya Kyu, yang baru menginjak 2 SMP sudah memiliki gebetan sedangkan Sakura belum ada. Padahal diluar sana banyak yang mau sama Sakura tapi pada dasarnya saja Sakura yang begitu keras kepala tidak mau usaha mencari jodohnya.
"Pagi ini cerah juga. Nanti kau kuliah?" tanya Tou-san pada Sakura.
Sakura menganggukan kepalanya. Jurusan sastra itulah yang dipilih Sakura. Hari ini jadwal kuliahnya sedikit penuh jadi memungkinkan Sakura tidak pulang kerumah selama beberapa minggu ini tapi ia ingat hari ini juga ada janji untuk bertemu dengan orang yang sudah dijodohkan padanya. Jadi dia membuat rencana kalau hari ini dia memotong setengah hari kuliahnya lalu akan bertemu dengan pemuda yang dimaksudkan sang kakek.
"Jadi nanti kau akan bertemu dengannya dimana?" tanya Kaa-san pada Sakura.
"Kata Kakek di Taman Kota saja. Aku juga setuju karena letaknya tidak jauh dari kampusku!" timpal Sakura, sambil memakan sarapan paginya itu.
"Iya disana saja, kak! Kan dengar-dengar di Taman Kota nanti sore akan ada acara ya seperti festival anak-anak muda lah. Kakak kan juga tidak terlalu tua untuk masuk kesana yah walau agak tua sedikit sih !" seru Kyu yang terdengar seperti sindiran padanya. Memang wajah Sakura sudah keriputan apa jadi terlihat tua apa? Rizuka, adik Sakura yang masih berumur 8 tahun merasakan ada hawa-hawa tidak enak antara Kyu dan Sakura. Ia memilih untuk diam.
"Sudah, jangan berkelahi, ah~" lerai Kaa-san menyadari kalau kedua anaknya saling menatap dengan tatapan tidak-suka-sama-sekali atau candaan-mu-itu-jelek.
Lihat saja kau, ya Kyu adik ku yang manis… Kalau aku sempat akan kubalas ucapan mu tadi! Batin Sakura dalam hatinya. Jadi selama acara sarapan berlangsung, Sakura merutuki adiknya itu.
.
.
"Tolong bilang pada Tsunade-sama dan Kurenai-sensei ya, kalau aku izin hari ini ada keperluan. Aku potong hari untuk hari ini. Nanti kalau ada tugas untuk ku titip saja ke Ino-pig ya!" seru Sakura pada Tenten, salah satu temannya di kampus. Tenten menganggukan kepalanya.
Sakura segera merapikan dirinya. Terliha sekali bahwa ia sedang tidak semangat bertemu seseorang yang sosoknya sangat tidak ia ketahui siapa dia. Kenal saja tidak! Dia memakai baju kaus yang berkerah berwarna pink dan celana jeansnya lagi. Dia memakai sepatu sandalnya. Rambutnya yang panjang diurai dan diberi bandana berwarna biru jeans. Dia memakai bedak dan lipstick berwarna natural malah tidak kelihatan sekali dia habis dandan tapi tetap saja cantik. Dia segera berjalan menuju taman kota.
Sakura's POV
Dia menungguku di bangku taman di stand jus tomat. Taman kota terlihat sangat penuh hari ini. Banyak pemuda-pemudi menghabiskan waktu mereka disini bersama teman, sahabat, keluarga atau kekasih mereka sendiri. Semua tampak senang hari ini tidak seperti aku yang sangat kewalahan memikirkan seperti apa yang pemuda yang telah dipilihkan kakek untuk ku mengingat tadi di kantin kampus, Ino menertawaiku habis-habisan.
Flashback On
"Hai Sakura, kenapa kamu murung saja dari tadi?" tanya Ino, heran melihatku yang hanya mengaduk-aduk sedotanku di dalam jus strawberry ku sementara aku hanya diam membatu seperti patung.
Ino mengguncangkan tubuhku dan membuatku tersadar, "Eh Ino, ada apa?". Aku baru menyadari kedatangan Ino.
"Kau ini kenapa sih forehead? Aku lihat daritadi kau seperti orang yang sedang merasa serba-salah!" tanya Ino, ketus. Aku jengkel kalau aku dipanggil forehead memangnya selebar apa sih jidatku ini?
"Tapi kau jangan bilang siapa-siapa ya? Ini hanya rahasia kita!" seruku, cepat.
"Hmm… sudah cepat katakan!" seru Ino, tidak sabaran.
"Janji?" tanyaku, memastikan. Awas saja kau, Ino, sampai kau sebarkan tidak akan aku ampuni orang sepertimu itu. Aku tahu saja kau ratu gosip se-kampus tapi setidaknya jagalah rahasiaku ini kalau kau masih ingin bersahabat denganku!
"Janji!" tukas Ino, kesal. "—sudah katakanlah!"
Aku menceritakan Ino semua masalahku ini runtut dari awal hingga akhir. Aku tahu bahwa Ino pasti sangat kaget dan benar saja dia tersontak kaget dengan tersedak saat meminum jus jeruknya.
"Uhuk…Uhuk…Uhuk!"
Ah Ino merepotkan! Sudah begitu, ia tertawa terbahak-bahak lagi. Itukan membuatku menjadi sangat tidak pede karena di kantin, semua orang memandang kami dengan berbagai macam tatapan. Ada tatapan bingung, tatapan jengkel, tatapan menyedihkan, bahkan ada yang memandang kami sinis. Kami benar-benar telah menjadi pusat perhatian dan itu disebabkan oleh sahabatku, Yamanaka Ino ini. Sudah begitu dia tidak merasa bersalah lagi.
"Apa? Jadi kau betul-betul mau dijodohkan?" ejek Ino, "—habisnya kau betah si single pasti orangtua mu merasa kau itu tidak normal. Mana ada gadis kecuali dirimu yang mau menghabiskan waktunya dirumah hanya untuk membuat novel daripada usaha mencari cinta sejatinya!"
"Tutup mulutmu, baka! Nanti semua orang dengar!" seruku.
Ino! Jangan kau gosipkan ya rahasiaku ini, jadi apa nantinya aku! Sepertinya aku merasa bersalah curhat pada orang seperti dia. Bukannya aku tidak percaya pada sahabatku sendiri, tapi dia ini suka pelupa dan keceplosan kalau berbicara. Kan bisa saja dalam waktu yang dekat ini, semua rahasiaku terbongkar. Harusnya itu aku curhat pada Hinata saja, dia lebih baik 5 kali lipat untuk menjaga rahasia orang ketimbang si Ino-pig itu.
Flashback Off
Kakiku ini rasanya kaku mau melangkah menuju stand yang dimaksud pemuda itu untuk bertemu. Aku takut kalau dia itu orangnya kejam. Yah bisa kita istilahkan sendirilah apa maksud dari kata 'Kejam' itu. Yang jelas satu-satunya tempat yang aku tidak mau kunjungi hanya stand jus tomat itu. Aku ingin kabur kalau bisa tapi ingatla kata-kata kakek ku kalau janji harus ditepati. Masalahnya yang berjanjikan dia bukannya aku! Arghh…
Ingat Sakura hanya 3 bulan seelah itu kau bisa bebas dengan siapa saja atau bahkan bisa bebas dari macam perjodohan yang menurutku ini sangat memaksa.
Pokoknya aku harus bisa membatalkan perjodohan ini. Semangat!
End of Sakura's POV
Normal POV
Sakura melangkahkan kakinya menuju stand jus tomat. Tidak terlalu penuh. Bangku tamannya masih banyak yang kosong kecuali bangku taman yang sedikit panjang itu dekat danau. Ada seorang pemuda berambut pantat ayam berwarna raven. Sakura melangkahkan kakinya menuju bangku itu. Langkah pelan tapi pasti membuatnya sampai ke bangku taman itu dan duduk disamping pemuda itu.
"Lama menungguku?" tanya Sakura pada pemuda disampingnya.
"…" tak ada jawaban dari sang pemuda. Orang ini! Sombong sekali sih… inner Sakura, kesal karena dicuekin.
Sakura dengan gemetaran menjulurkan tangannya membuat pemuda yang ada disampingnya tersadar bahwa dirinya sudah datang, "apa?" tanya pemuda itu, cuek.
"Perkenalan dirilah!" jawab Sakura, ketus. Sakura kesal memandang pemuda itu yang sok sekali menggunakan kacamata hitam dan topi. Sok keren! Dumelnya.
"Hn. Uchiha Sasuke!" balas pemuda itu dengan membalas uluran tangan Sakura.
Sakura tersontak kaget. Ada 2 alasan penyebab dia kaget. Pertama, dia, Uchiha Sasuke itu anak pebisnis terkenal dari keluarga Uchiha dan dia juga terkenal di televisi dan pernah diundang menjadi model di majalah ternama, Konoha Magazine karena dia itu terkenal sangat tampan dibandingkan kakaknya, Uchiha Itachi dan hampir semua lelaki di dunia ini. Kedua, ingat kejadian kemarin? Kejadian memalukan seumur hidup buat Sakura dimana saat itu dia memaki-maki anaknya Uchiha Mikoto sementara orang yang dimaksud Sakura berada disampingnya dengan memberikan tatapan death glare.
"Apa?" teriak Sakura, kaget. Ia hampir saja terjungkal dari tempat duduknya kalau tangannya tidak dipegang oleh Sasuke itu.
"Kau—Haruno Sakura?" tanya Sasuke, menaikan sebelah alis matanya.
"I-iya!" jawab Sakura, masih malu.
"Sudah tidak usah malu!" seru Sasuke membuka kacamata hitamnya itu. Terlihat sekali bola mata onyx miliknya yang menatap Sakura dalam-dalam. Dia memandang Sakura sedang gugup tidak jelas, "Jalan-jalan?" tawarnya.
Sakura kaget. Dua kali sudah dia hampir mau terjungkal dari tempat duduknya dan untuk kedua kalinya juga Sasuke harus menahan tangannya agar tidak terjungkal, "Kau ini tidak bisa jaga keseimbangan ya? Dua kali kau kaget dan hampir terjungkal seperti itu!" bentak Sasuke, ketus.
Rekor hebat, tidak biasanya Sasuke membentak orang dengan menyelesaikan kalimatnya yang cukup panjang, "Uchiha Sasuke irit bicara, heh?" sindir Sakura.
"Diam kau!" seru Sasuke, bangun dari bangkunya. Dia mengulurkan tangannya pada Sakura.
Sakura menatapnya bingung, "Ada apa?" tanya Sakura.
"Kita jalan-jalan! Bukankah tujuan kita ini untuk mengenal satu sama lain?" tanya Sasuke, lalu memasangkan kacamata hitamnya. Sakura memandangnya sinis, "Mau tidak?" tanya Sasuke lagi, sekarang agak ketus.
"Iya," jawab Sakura, malas. "—tapi ada syaratnya!"
"Syarat, heh?" tanya Sasuke, bingung. Apa perlu dengan syarat-syarat, sih? Rasanya agak aneh saja, diajak jalan-jalan dengan orang se-perfect Sasuke malah perlu syarat harusnya Sasuke lah yang memberi syarat bukannya dia. Tapi Sasuke ikuti sajalah, toh percuma saja dia tolak alhasil pertemuan kali ini gagal dan itu akan merepotkannya sama sekali.
"Iya. Pertama, jangan pakai kacamata hitammu itu! Tunjukan ke semua orang kalau yang berjalan bersama ku itu bukan kriminal yang sedang menyamar tapi seorang anak pebisnis keren, Uchiha Sasuke." kata Sakuram tersenyum . Sasuke mendesah kecil.
"Hn," jawab Sasuke, melepas kacamata hitamnya.
"Kedua, kita harus jalan-jalan di sini saja. Tidak ada ke mall-mall, ke tempat yang mewah dan harus aku yang menentukan tempatnya. Kau tenang saja, selama jalan-jalan aku tidak akan memintamu membeli barang-barang yang mewah walau aku tahu kau pasti bisa membelikannya untuk ku tapi aku yakin juga sejujurnya mana mau kau membelikannya padaku." lanjut Sakura.
"Hn," jawab Sasuke, datar. Dia malas berdebat dengan Sakura jadi asal jawab saja.
"Ketiga, kita jalan menggunakan kaki kita. Tidak menggunakan kendaraanmu. Kan ada untungnya, hemat uang membeli bensin, badan kita juga sehat. Lagian sore-sore ini cuacanya baik kok, angin sepoi-sepoi sangat baik dan mendukung!"
"Hn," jawab Sasuke lagi. Dia memutar bola matanya bosan dengan semua syarat-syarat dari Sakura.
"Keempat, aku tidak akan menyuruhmu untuk tidak membatalkan perjodohan ini kalau kau juga benar-benar tidak mencintaiku. Karena diluar sana masih banyak orang yang mencintaiku dengan tulus. Kalau selama 3 bulan ini kau tersiksa dengan kehadiranku—kurasa kita harus memutuskan hubungan ini."
Nah, untuk syarat yang keempat itu membuat Sasuke tercengang. Bagaimana tidak? Belum melewati satu hari bersama saja sudah berbicara soal ini apalagi nanti yang sudah 2 bulan lebih? Sasuke menarik tangan Sakura dan menggandengnya erat seolah-olah mereka ini adalah seorang pasangan padahal nyatanya hanya status palsu demi keluarga mereka masing-masing.
Semua orang yang ada disana memandang mereka berdua terkagum-kagum, "Lihat! Itukan Uchiha Sasuke, anak pebisnis yang terkenal itu. Dia sudah punya kekasih? Cantik sekali perempuannya, ya!"
"Itukan Uchiha Sasuke—dia bersama seorang gadis pink yang sangat cantik ya!"
"Pasangan yang serasi ya! Coba aku jadi perempuan merah muda itu!"
Pasangan SasuSaku itu hanya tersenyum diam sampai tiba-tiba Sasuke mengagetkan Sakura yang sedang melamun dengan mengajaknya bermain bermacam-macam wahana permainan di taman kota itu. Pertama, mereka bermain pancing-pancingan ikan mainan. Sasuke dari belakang memegang tangan Sakura—membantunya menangkap ikan-ikan mainan itu dengan sebuah pancingan magnet kecil. Mereka mendapatkan ikan terbanyak hingga menjadi pemenang. Sasuke mencium kening Sakura saat selesai bermain membuat semua orang memandang mereka penuh keromantisan. Sakura tahu ini hanya akting semata jadi dia hanya tersenyum palsu.
"Ini hadiahnya, tuan! Terima kasih sudah mau mencoba permainan kami!" kata pengawas stand itu pada Sasuke seraya memberikan sebuah boneka 'teddy bear' kecil berwarna pink. Sasuke tersenyum dan memberikannya pada Sakura. Sakura bingung, "itu untukmu saja. Kau kan yang membuatku jadi menang jadi itu tanda terima kasihku untukmu!"
"Sudah ambil saja. Mana mungkin aku menyimpan boneka ini! Ambil lah~" seru Sasuke, dengan menyerahkan boneka itu pada Sakura. Sakura menerimanya dengan baik.
Kini Sasuke dan Sakura ingin mencoba menaiki wahana 'Boom Boom Car'. Pasangan SasuSaku itu menaiki sebuah mobil kecil dan Sasuke yang menyetir. Mereka jarang ditabrak atau menabrak mobil orang. Mereka terlihat tampak senang.
Lalu mereka menuju wahana 'Roller Coaster'. Disaat yang lain berteriak, hanya Sasuke yang diam saja. Ia merasa tidak terlalu menantang padahal bagi Sakura wahana ini sudah membuat dia pusing tujuh keliling. Saat sudah dibawah, Sakura hampir mau muntah sementara Sasuke masih tetap mengajaknya bermain wahana yang lain. Si Sasuke semangat sekali, sih…Batin Sakura yang masih pusing akibat wahana 'Roller Coaster' tadi.
Sasuke berhenti di sebuah stand penjual es krim. Dia membeli 2es krim buah-buahan, satu rasa buah mangga untuknya dan buah strawberry untuk Sakura. Selama menghabiskan waktu mereka di taman kota, terlihat sekali untuk hari ini seorang Sasuke yang selalu misterius karena sifatnya yang selalu cuek terhadap teman-temannya berubah menjadi periang dan ceria seperti ini saat bersama Sakura. Tanpa Sakura sadari, Sasuke datang tiba-tiba dan memasangkan Sakura sebuah kalung berwarna putih terlihat seperti keemasan bertuliskan 'SasuSaku'. Sepertinya ini sudah disiapkan dari Sasuke semenjak awal sebelum pertemuan mereka.
Sudah agak malam, mereka memutuskan untuk istirahat sejenak di bangku taman. Tiba-tiba Sakura melihat seorang anak kecil menangis. Sakura merasa iba dan berjalan ke arah anak kecil itu. Sasuke kaget saat Sakura tiba-tiba meninggalkannya—ia pikir Sakura akan pulang tapi ternyata dia tersenyum saat melihat Sakura mendatangi anak kecil yang menangis itu.
"Kamu kenapa?"tanya Sakura, pada anak kecil itu.
"Ba…Balonku pecah karena anak-anak nakal disana. Sekarang aku kesepian tidak ada balonku lagi!" jawab anak itu.
"Kaa-sanmu mana?" tanya Sakura lagi, dengan lembut.
"Dia sedang bersama kakakku membeli beberapa baju di suatu stand. Aku disuruh tunggu disini, tapi balonku telah pecah oleh anak-anak nakal. Hiks…" jawab anak itu, sambil terisak-isak. Sakura langsung berinisiatif untuk membelikan sebuah balon untuk anak kecil itu. Ia mengunjungi stand balon. Dan membeli sebuah balon lalu memberikannya pada anak kecil tadi.
Anak kecil tadi langsung senang dan mencium pipi Sakura tiba-tiba membuat Sakura kaget, "maaf, tapi kakak baik sekali padaku. Kenalkan aku Amika Yonzake. Panggil aku Amika ya, kak …" kata anak itu terpotong karena ia tidak tahu nama Sakura.
"Haruno Sakura." jawab Sakura, tersenyum.
"Ah iya! Kak aku sudah ditunggu kaa-san ku disana. Arigato balonnya ya!" Anak itu segera berlari kearah ibunya yang sudah menunggunya dan meninggalkan Sakura yang tersenyum senang. Ia berjalan menuju tempat Sasuke berada.
"Sasuke, aku rasa kita harus pulang. Sudah malam, aku harus kembali ke apartementku!" ajak Sakura, "—ayo pulang!"
Sasuke mengambil kunci mobilnya dan mengantar Sakura masuk dalam mobil Sasuke, terlihat Sakura sudah mulai mengantuk dan hampir ketiduran sampai Sasuke memanggilnya sampai harus berteriak.
"Apaan sih pakai teriak-teriak segala? Aku lelah tahu mendengar teriakanmu dari tadi!" seru Sakura, "—kalau tidak teriak, marah-marah, atau jawabnya cuma 'hn-hn' saja!"
"Dimana apartementmu?" tanya Sasuke, sambil marah-marah karena daritadi juga Sakura cuma bisa mengomelinya saja. "Di Jalan Kuziko 2, disitu lurus saja lalu di pinggir jalan, ada bangunan berwarna kuning, disitu apartement ku! Bangunkan aku kalau sudah sampai!" jawab Sakura lalu memejamkan matanya dan tertidur.
Sasuke tersenyum saat melihat Sakura yang sudah kelelahan daritadi bermain banyak wahana di taman kota bersamanya tertidur. Dia melihat ada juga sosok cantiknya saat tidur tapi ini masih perasaan biasa karena semua orang juga tahu bahwa Sakura cantik dan Sasuke juga merasa masih ingin melanjutkan waktu 3 bulan ini bersama seorang Haruno Sakura. Sungguh, ia tidak menyesal menghabiskan waktu untuk hari ini bersama Sakura!
*SKIP TIME*
"Sakura… bangun! Sudah sampai!" panggil Sasuke, sambil mengoncangkan tubuh Sakura. Sakura bangun dan mengucek-ucek matanya. Masih sedikit mengantuk rupanya, Sasuke turun dari mobilnya dan membukakan pintu mobilnya agar Sakura bisa keluar. Saat Sakura hendak masuk kedalam apartementnya, Sasuke menarik tangannya dan mencium bibir Sakura yang manis. Tidak lama karena melihat kondisi Sakura yang sudah terlalu mengantuk. Sasuke tersenyum lagi. Dia masuk kedalam mobilnya dan pulang kembali menuju rumahnya.
.
.
.
Sasuke's POV
Hari ini sungguh menyenangkan bisa menghabiskan waktu bersama Sakura. Dia wanita yang sungguh ceria dan periang. Jujur, daritadi aku hanya bisa tersenyum melihat aksinya. Apalagi saat dari wahana 'roller coaster' tadi, terlihat sekali dia sudah pusing akibatnya aku harus kerepotan sendiri. Tapi itu belum apa-apa sampai aku melihat bahwa dia adalah orang yang senang membantu sesamanya apalagi anak kecil tadi hanya demi anak itu, uang yang harusnya ia gunakan untuk bersenang-senang disana malah ia habiskan untuk sebuah balon untuk anak itu. Aku juga kagum melihatnya. Aku tidak tahu apa aku harus belajar mencintainya? Sepertinya aku memang harus. Aku akan terus selalu bersamanya! Dia harus jadi milikku.
End of Sasuke's POV
.
.
.
Kyaaa akhirnya chapter 2 selesai juga :') yah walaupun aku juga ga yakin hasilnya bakal memuaskan. Aku rasa sih masih kurang panjang tapi emang iya kali ya? Maaf ya, soalnya hanya inilah yang keluar dari otakku. Hahaha… daripada kebanyak bacot. Bales review dulu ya bentar!
Cherry kuchiki: Iya ini aku udah update. Makasih udah review ya… :D. Semoga suka chapter yang ini juga!
Chichi: Ini sambungannya. Udah aku update. XD Makasih udah review ya!
