Hohoho… Aku kembali lagi disini! Makasih reviewenya kemarin, aku bales di bawah ya! Aku udah baca kok, makasih buat dukungannya. Oh ya, aku juga mau bilang yang 'Seventeen Sweet' itu harusnya 'Sweet Seventeen' hehehe… x_x gini nih orang yang ga pandai-pandai amat bahasa inggris. Maaf ya!^^ .Oya, di chap ini SasuSakunya agak sedikit soalnya lagi ga mood nih nulis fic. Gomen! Oke daripada banyak omong, mending langsung aja yok… Let's cekidot!
.
.
"Sakura… bangun! Sudah sampai!" panggil Sasuke, sambil mengoncangkan tubuh Sakura. Sakura bangun dan mengucek-ucek matanya. Masih sedikit mengantuk rupanya, Sasuke turun dari mobilnya dan membukakan pintu mobilnya agar Sakura bisa keluar. Saat Sakura hendak masuk kedalam apartementnya, Sasuke menarik tangannya dan mencium bibir Sakura yang manis. Tidak lama karena melihat kondisi Sakura yang sudah terlalu mengantuk. Sasuke tersenyum lagi. Dia masuk kedalam mobilnya dan pulang kembali menuju rumahnya.
.
.
I think I love you
SasuSaku
Rated: T
Summary: Haruno Sakura, seorang wanita single berusia 20 tahun yang mempunyai cita-cita sebagai penulis novel tiba-tiba mendapat wasiat dari kakeknya soal pernikahan. Siapakah lelaki yang dipilih sang kakek untuk Sakura? Apakah Sakura setuju dengan surat wasiat sang kakek yang sudah sakit-sakitan?
Sedikit terinspirasi dari K-Drama Full House, tapi fict ini 100% hasil karya aku XD
Genre: Romance/Drama
Disclaimer: Masashi Kishimoto
WARNING: TYPO(S), OOC, JELEK, EYD KACAU, ABAL-ABAL
DON'T LIKE DON'T FLAME!
.
.
Chapter 3: Ada Tomat di wajahmu!
Sakura's POV
Kok tiba-tiba aku merasa ada seperti yang menempel pada bibirku ya? Aku membuka mataku perlahan dan hampir kaget dengan apa yang aku saksikan ini! Ci-ciuman? Bi-bir? Oh tidak! Tapi kenapa ciumannya hangat sekali ya? Hei—Uchiha telah merebut ciuman pertama mu, Sakura! Dengan mata setengah tak sadarkan diri, (oh ayolah Sakura kenapa disaat seperti ini kau tidak bisa bergerak untuk memukul atau apapun membalas dendam pada si Uchiha pantat ayam itu), Sasuke masuk kedalam mobilnya dan bergerak jauh sampai asap kendaraan itu menyerbu wajahku membuatku batuk tersedak, tiba-tiba aku bisa membuka kelopak mataku dengan sehatnya! Tunggu, sekarang aku sudah bisa bergerak kembali, bukan? Bisa dikatakan aku SADAR sekarang bahwa tadi UCHIHA SASUKE mencium bibir seorang HARUNO SAKURA dan orang yang dicium Sasuke itu adalah AKU! Aku?
Aku?
1 detik berlalu…
2 detik berlalu…
3 detik berlalu…
4 detik berlalu…
5 detik berlalu…
"UCHIHA SASUKE!" teriakku dijalanan dan membuat sukses semua orang di jalan tersebut memandangku dengan tatapan berbagai macam yang tak bisa kusebutkan satu persatu, sekarang aku baru sadar, heh? Kemana saja daritadi aku ini?, "—TERKUTUKLAH DIRIMU YANG SUDAH MEREBUT CIUMAN PERTAMAKU!"
Aku gila? Ya, aku sudah gila semenjak dicium tepat dibibirku oleh seorang UCHIHA BERAMBUT PANTAT AYAM. Bukannya senang justru rasanya bibirku ini sudah terasa seperti neraka, kalau bisa aku ingin membakar mukanya, tapi itu kalau aku bisa pasalnya kalau aku melakukan hal gila membakar mukanya, penjara terbuka lebar untukku.
Sekarang lebih baik aku masuk kamar dan tidur melupakan hal itu. Jangan diingat-ingat lagi! Tapi kalau besok sampai aku bertemu dirinya, tak segan-segan kubunuh dia habis-habisan…
Lihat saja itu, Uchiha! Kau telah menggali kuburanmu sendiri!
END OF SAKURA'S POV
NORMAL POV
KRING… KRING…KRING…
Sakura mematikan alarm di meja sebelah kasurnya. Ia bangun dan menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya. Hari ini dia harus ada kuliah ekstra karena kemarin dia ijin setengah hari untuk bertemu seseorang yang sangat err—penting untuknya. Setelah menggosok wajahnya dengan sabun cuci muka, Sakura membasuh wajahnya yang putih manis itu dengan air dari wastafel yang sangat dingin dan mengambil sikat gigi serta pasta giginya. Ia menuangkan sedikit pasta giginya ke sikat gigi dan menggosoknya di gigi-giginya. Ia menggosoknya atas-bawah, kanan-kiri, luar-dalam gigi-giginya, lalu ia mengambil air sebagai kumur-kumurnya dan memuntahkannya ke wastafel. Ia mengambil handuk kecilnya untuk mengelap wajahnya yang basah.
Sakura menuju dapur kecil di apartementnya itu dan mengambil 2 buah roti tawar beserta selai strawberry favoritnya. Ia menyiapkan sebuah piring dan meletakan 2 buah roti yang sudah di oleskan selai ke seluruh bagian permukaan roti-roti itu. Ia mengambil sebotol susu vanilla dari kulkasnya dan menuangnya dalam gelas kecil. Ia duduk di kursi makannya dan memakan sarapannya itu dengan lahapnya.
TING…TONG…
Bel di pintu apartementnya berbunyi. Dengan langkah ogah-ogahan, Sakura membukakan pintu itu dan melihat ada seorang petugas dari toko bunga Yamanaka, toko bunga keluarga sahabatnya, Yamanaka Ino, "Hmm… ada apa ya?" tanya Sakura, ramah.
"Tujuan saya kesini mau mengantar sebuah paket bunga mawar dengan perpaduan bunga rose kesini." Jawabnya, "apa benar ini apartement Haruno Sakura?" tanyanya, memastikan. Sakura dengan tatapan bingung menganggukan kepalanya.
Petugas itu mengerti bahwa Sakura masih bingung dengan semua ini, "Begini. Suamimu mau mengirimkan ini padamu tadi ia memesankan sebuah paket bunga ke toko kami dan dikirimkan untukmu. Begitu~"
Suami? Siapa dia? Sakura tidak mempunyai seorang suami! Pasti ada yang mengaku-ngaku sebagai seorang suami Sakura, tapi siapa ya? Masa iya si Ino, tapi tidak mungkinlah, Ino memanglah cerewet dan suka menggoda Sakura yang tidak memiliki seorang pacar namun Sakura juga tahu kalau Ino bukanlah orang seperti itu. Jadi siapa ya?
Sakura menerima paket bunga itu dari petugas. Ia menanda-tangani sebuah surat bukti bahwa ia telah menerima paket bunga itu. Ia menutup pintu apartementnya dan menaruh bunga itu di meja dekat sofanya. Nantilah ia pikirkan dimana tempat yang cocok untuk ia taruh bunga itu sekarang pikirkan dulu siapa orang yang telah mengirimkan bunga itu padanya. Ia menghabiskan sarapannya dan bergegas mandi karena sebentar lagi ia harus ke kampusnya.
.
.
"Hei, Ino-pig tadi ada seorang petugas di toko bungamu datang ke apartemenku dan memberikanku sepaket bunga mawar dengan perpaduan bunga rose. Pasti itu mahal sekali tapi aku bingung siapa yang memberikannya padaku!" kata Sakura, menceritakan kejadian aneh tadi pagi pada sahabatnya Ino.
"Benarkah? Wah, aku kurang tahu soal itu!" seru Ino, sambil mengambil dompetnya untuk membeli beberapa permen di kantin kampusnya.
"Benar. Aku pikir itu darimu. Yah, aku sih juga tidak yakin 100% itu darimu karena aku tahu kau itu tidak pernah mau memberikan barang daganganmu sedikitpun secara cuma-cuma termasuk pada sahabatmu sendiri yaitu aku!" timpal Sakura, ia membuka bungkus permennya itu dan memasukannya dalam mulutnya. Kedua sahabat itu terus berjalan mencari bangku kosong untuk mereka duduki.
"Tentu saja bukan diriku. Tadi pagi yang menjaga toko kami yaitu ibuku. Mungkin saja ada seseorang yang menyukaimu diam-diam lalu memberikanmu bunga-bunga itu!"
"Tidak mungkin, Ino!" bantah Sakura.
"Apanya yang tidak mungkin? Kau ini terlalu sensitif!" bentak Ino, tiba-tiba ia sadar kalau ia habis membentak sahabatnya sendiri. Jadilah aura-aura tidak enak diantara mereka, "baiklah, maafkan aku Sakura! Jadi bagaimana kalian berdua kemarin?" tanya Ino, yang segera mengalihkan pembicaraan sekaligus kepingin tahu apa yang terjadi kemarin antara Sakura dan orang yang dijodohkan kakek Sakura untuk Sakura.
"Kau ini ingin tahu sekali sih, tadi marah-marah sekarang berubah menjadi manusia kepo!" ejek Sakura, menatap wajah Ino yang sudah berubah merah-merah bagai direbus air panas karena marah, Sakura ngeri melihatnya. Walaupun mereka sahabat, tapi kadang-kadang mereka itu juga sering berkelahi hanya karena masalah sepele, ya seperti ini, "—aku bercanda!" seru Sakura, sambil cengengesan. Akhirnya mereka duduk di taman kampus mereka, disana mereka makan makanan mereka, kebetulan taman ini tidak jauh dari kantin, fakultas mereka dan toilet, dan juga tempat ini lebih sejuk.
"Aku tahu kau itu sahabatku paling baik sedunia," puji Sakura, "—baiklah karena itu aku mau memberitahu mu, tapi ingat jangan diberitahu siapa-siapa ya!". Ino mengangguk lemas, memang dipikir Sakura, dia itu anak TK apa yang mesti perlu dirayu segala untuk mendapatkan sesuatu.
"Jadi, dimulai dari aku pergi ke taman kota. Disana diadakan acara pesta anak muda, tapi tetap saja para orangtua kesana juga. Acaranya kecil-kecilan, tapi wahananya banyak banget! Ada roller coaster, nah memang sih wahana ini tidak terlihat menakutkan seperti kebanyakan—tidak terlalu tinggi tapi saat naik kesana, aku sudah pusing sekali karena cepat sekali kereta-kereta itu berjalan, berputar-putar dan hebohnya lagi disana aku duduk paling depan sehingga terlihat sekali apa yang ada di depanku itu, lalu kami naik boom boom car, hebatnya kami tidak menabrak siapapun, lalu kami main fishing fish, kami berdua menang mendapatkan banyak ikan dan mendapat hadiah boneka beruang berwarna pink, dan setelah itu," Ino memutar bola matanya bosan, yang benar saja daritadi Sakura hanya menceritakan wahana-wahana permainan yang ada disana saja, "Sakura, aku juga sudah tahu wahana-wahana disana, dan aku juga yakin boneka beruang itu diberikannya padamu, bukan? Begitulah lelaki! Sekarang yang aku ingin tahu siapa dan bagaimana dia, sikapnya, dan apa perasaanmu nyaman saat bersama dia?" sewot Ino, bosan karena daritadi Sakura hanya bertele-tele menceritakan hal yang menurutnya sama sekali tidak penting.
"Hmm… baik aku akan bilang padamu sejujurnya tapi ingat jangan pernah sekali-kali kau berteriak seperti kemarin, aku tahu disini sepi tapi ada juga beberapa orang kesini—jangan alihkan perhatian mereka kesini lagi!" balas Sakura. Sakura itu banyak permintaannya tapi yang ia minta memang demi kebaikan mereka, bukan?
"Baik," jawab Ino, kesal.
"Dia adalah," Sakura mengela nafasnya, sanggup tak sanggup ia harus jujur pada sahabatnya, "Uchiha Sasuke, anak pebisnis terkenal." Mata Ino membelalak mendengar pernyataan Sakura tadi, "be-benarkah?" tanya Ino, histeris.
"Ish, sudah kuduga kau pasti begini!" ketus Sakura, "Ayolah, mau kau kemanakan si Sai itu?"
"Bukan begitu, Sakura. Masalahnya, kau yakin orang itu adalah Sasuke?"
Sakura menganggukan kepalanya, "Kami kan sempat berkenalan! Jangankan kau, aku saja kagetnya minta ampun!"
"Ini tidak bisa dipercaya!" sahut Ino, "Sakura, kau beruntung sekali bisa memiliki calon suami seperti dia!"
"Tidak juga ah, sepertinya aku tidak betah menghadapinya terus-menerus kalau begini caranya. Dia senang sekali berteriak, marah-marah tapi kalau berbicara jawabannya hanya 'hn-hn' saja, itukan amat sangat menjengkelkan!" sewot Sakura. Ino sweatdrop.
"Oh tidak, jangan bilang kau tidak tertarik pada si Uchiha bungsu itu!" terka Ino, sudah yakin kalau Sakura sangat tidak menyukai Sasuke itu.
"Tidak. Dia orangnya suka mencari kesempatan dalam kesempitan!" balas Sakura dan mendapat tatapan dari Ino 'apa-maksud-mu-?', "—Sasuke mencium bibirku saat aku sedang mengantuk sehingga aku tidak bisa membalas perbuatannya itu!"
"APA?"
Kami-sama, kenapa sahabatku sebegini bodohnya? Umpat Ino, dalam hati.
.
.
"Jadi kalau bukan Ino, bunga ini darimana ya?" tanya Sakura pada dirinya sendiri, merebahkan dirinya ke ranjang tempat tidurnya yang empuk itu. Ia memandang bunga pemberian orang tak dikenalnya dan sebuah boneka beruang pemberian Sasuke kemarin.
DRRT… DRRT…DRRT…
Ada panggilan masuk rupanya, Sakura mengangkat panggilan itu, dari nomor tidak dikenalinya, "Moshi-moshi, Haruno Sakura disini. Ini siapa ya?"
"Uchiha Sasuke."
Apa? What The Hell? Sasuke meneleponnya! Darimana dia tahu nomor Sakura? Apa jangan-jangan ini semua sudah direncanakan oleh Kaa-san ya? Dia memberitahu nomor Sakura pada Sasuke, "Bu-buat apa kau meneleponku?"
"Hmm… lebih baik pakai video call saja! Aku ingin melihat wajahmu!"
Sakura mendengus kesal dan terpaksa meng-iya-kan saja permintaan dari tuan Sasuke itu. Sasuke dan Sakura mengaktifkan fitur video call mereka. Fitur itu khusus untuk ponsel bermerek Android jadi mereka bisa terhubung melalui video call yang sama cara kerjanya seperti skype.
"Jadi, ada apa kau meneleponku, Uchiha?" tanya Sakura, sinis.
"Aku hanya mau meminta maaf padamu sudah menciummu diam-diam. Oya, kau sudah menerima bunga yang tadi pagi aku kirim, belum?" tanya Sasuke.
Sakura menatap wajah Sasuke kesal, jadi Sasuke lah yang mengirim bunga itu dengan mengaku-ngaku sebagai suami Sakura, Sakura mendengus kesal pada Sasuke, "Kau tidak perlu meminta maaf!" jawab Sakura, kesal.
"Heh? Benarkah? Wah, jadi kau sudah memaafkan ku ceritanya!"
"Siapa juga yang sudah memaafkanmu? Aku bilang kau tidak perlu meminta maaf karena kesalahanmu itu sudah banyak terhadapku!" sindir Sakura. Sasuke membantah, "benarkah? Aku rasa tidak!"
"Apa maksudmu mengaku-ngaku sebagai suamiku?" tanya Sakura, kesal, "kau ini lancang sekali sih!"
"Oh itu, apa bedanya coba? Kita ini sekarang berstatus calon pasangan baru, kau akan menjadi istriku nanti dan aku akan menjadi suamimu juga nanti. Kalau aku akui sekarang juga tidak apa-apakan?"
"Jangan asal bicara dulu, aku sama sekali tidak berminat menjadi istrimu!" tegas Sakura.
"Aku juga tidak pernah mencintaimu!" balas Sasuke, kesal.
"Aku juga tidak pernah menyukai dan mencintai dan menyayangimu!" balas Sakura, tambah kesal.
"Oh yah? Baik, tapi aku memang tidak mencintaimu, aku hanya tertarik padamu dan itu membuatku nyaman berada disampingmu!" dengus Sasuke.
"Oh yah?" balas Sakura sambil tersenyum licik padanya, "apa bedanya coba? Intinya kau ingin berada disampingku lebih dekat. Kalau kau mencintaiku, tentu kau selalu ada disampingku untuk menjagaku, tapi kalau kau tertarik padaku, kau juga akan mendekatiku untuk tahu lebih dalam soal diriku. Jadi, sebenarnya kau itu ingin selalu bersamaku bukan?"
Sasuke blushing. Ia tersenyum kecil tapi Sakura bisa melihat bahwa Sasuke sedang tersenyum kecut karena Sakura tahu tujuan dan maksud Sasuke memberikan bunga ini pada Sakura dan menelepon Sakura malam-malam begini.
"Hah, kalau kau tersenyum seperti itu, kau terlihat makin manis!" puji Sakura, entah kenapa dia jadi senang melihat wajah Sasuke yang sedang tersenyum entah ikhlas atau tidak. Ini hal baru bukan, Sasuke tersenyum pada seorang wanita juga menjadi sedikit cerewet?
Untuk kedua kalinya, Sasuke blushing lagi. Sakura memang pandai membuatnya menjadi seperti ini bisa saja harga dirinya sebagai seorang Uchiha turun karena ia telah digoda oleh Sakura, "—dan kau terlihat tampan!" sahut Sakura, sengaja ingin melihat wajah Sasuke sudah semerah tomat—Sakura gantian mengusilinya untuk balas dendam. Balas dendam itu indah, heh? Tapi dalam hati Sakura, Sasuke memang tampan kalau dilihat-lihat seperti itu.
Sasuke blushing lagi karena dibilang tampan oleh Sakura. Ia tidak peduli lagi dirinya adalah seorang Uchiha sekalipun, "Cukup kau sudah menggodaku selama 3 kali!" seru Sasuke, kesal juga lama-lama.
"Siapa juga yang menggodamu? Aku hanya balas dendam padamu, sekarang lihatlah seorang Uchiha bungsu sudah 3 kali blushing! Hahaha…" tawa Sakura, lepas. Sasukepun kecewa tapi melihat Sakura tertawa terbahak-bahak seperti itu membuatnya juga ikut-ikutan tertawa.
"Sasuke?" panggil Sakura, mengembalikan kondisi normalnya seperti sedia kala.
"Hn?" balas Sasuke, juga menghentikan tawaannya.
"Sudah dulu, ya! Aku mau tidur!" jawab Sakura, "Selamat malam!"
"Selamat malam!". Sakura memutuskan panggilan dari Sasuke tadi dan menutupi dirinya dengan selimut tebalnya, tiba-tiba ia ingat sesuatu dan kembali mengambil ponselnya itu.
Sementara di kamar Sasuke…
DRRT..DRRT…DRRT…
Sasuke mengambil ponselnya yang berada di meja dekat kasurnya, ia melihat sebuah pesan masuk dari Sakura. Ia membuka pesan itu dan membacanya.
From: Sakura
Sasuke, tadi aku melihat seperti ada tomat diwajahmu saat aku menggodamu. Maaf menggodamu, tapi lucu sekali karena ada tomat matang diwajahmu lho...
Selamat malam :D
Sasuke tersenyum membaca pesan itu dan menaruh ponselnya kembali diatas mejanya. Ia mematikan lampu kamarnya dan tertidur di kasur kesayangannya, "Selamat malam juga, Sakura!" gumamnya dalam hati. Sasuke menutupi dirinya dengan selimut tebalnya. Selamat malam, SasuSaku!
TBC
.
.
Kyaaa… ini chap paling aneh sedunia, beneran deh, soalnya aku ga dapet ide sama sekali semenjak mimpi SasuSaku semalem pas tidur, besoknya aku langsung sakit jadi sekarang bener-bener ga dapet ide sama sekali. Oya, sekarang aku bales review-review dulu ya!
Mey Hanazaki: Iya, hahaha, di chap ini pertanyaanmu itu udah terjawab. Saku itu udah ngantuk abis tapi malah dikerjain sama si Sasu. Hahaha XD.. makasih udah review ya! Cuap cuap cuap…
Sasusakulove: Sasu memang egois pada dasarnya *dichidori* :p . Hahaha,yang penting si Sasu bisa dapetin Saku aja udah seneng #dor..
Ann-NISSA: Iya, makasih ya atas review dan dukungannya. Makasih udah ngasih saran! Aku usahakan akan lebih baik lagi di chap-chap berikutnya! :D
Cherry kuchiki: Oke, aku usahakan lebih baik lagi ya! Makasih loh kamu masih setia membaca ficku yang abal-abal ini XD
Lucifionne: Makasih senpai XD, haha iya ga tau kenapa aku suka aja kalo si Danzo jadi si kakek Sakura, awalnya aku mau neneknya Sakura yang ngejodohin Sasu dengan Saku itu Tsunade, tapi imajinasiku *wkwkwk* itu cocoknya si Danzo. Oya, senpai lanjutin dong fic yang 'Into the New World', aku ga sabar nunggu chap selanjutnya XD #memelas
xxuchihaloveharunoxx: Ini aku udah update XD. Makasih udah review!
Karasu Uchiha: Responnya di chap ini, kakak! Hahaha :D. Makasih udah suka dan review ya!
Ga login maaf: Iya aku juga suka SasuSaku entah kenapa! XD Thx udah review…
S-Savers: Wk, aku authornya! Hehehe… Fb? Twitter? Ada kok! Fb ku jarang aku mainin sih, tapi kalo twitter disini aku lebih sering ngebacot! XD
Myelf: Iya aku usahakan happy ending ya! Tapi karena ini genrenya Romance/Drama, aku juga buat yang ada sakit hatinya gitu biar terkesan ada juga kesedihannya, tapi lupakan dulu sekarang fokus kebersamaan mereka berdua aja dulu… #dor
MizunaRaira: Sip… Makasih saran dan reviewnya. Salam kenal ya! :D
Akhir kata REVIEW please~
Gomen kalo jelek ToT
