Oke saya kembali setelah beberapa saat rehat dari dunia fanfiksi. Salahkan saya yang tidak bisa melakukan manajemen waktu dengan baik dan seringkali malah mengalami writerblock disaat saya senggang.

Terima kasih saya ucapkan kepada para pembaca yang telah setia mengikuti fanfiksi ini selama bertahun-tahun. Maaf saya telah membuat Anda semua lama menunggu. Saya tidak menjanjikan semua fanfiksi saya akan selesai dengan cepat karena saat ini saya sedang tidak bisa menulis fanfiksi (entah itu karena kegiatan ataukah memang saya tidak punya ide untuk kelanjutan ceritanya.)

Tapi saya akan berusaha sebaik mungkin untuk menyelesaikan semuanya.

Terima kasih atas kesediaannya membaca fanfiksi ini.

Akhir kata saya ucapkan selamat membaca kepada semua readers!

Salam,

Akina Takahashi


Chapter 3 preview:

"Mati. Mati. Aku bisa mati." Gumam inner Sasuke panik. Outernya masih berusaha menghilangkan aura keberadaannya berharap agar Karin tak menemukannya. Sasuke segera membenamkan tubuhnya di dalam semak-semak.

KRASAK

"Bunyi apa itu?" suatu hal yang sangat buruk bagi Sasuke, Karin malah semakin mendekat ke arahnya karena mendengar bunyi semak-semak yang baru saja dijadikan tempat persembunyian oleh Sasuke.

Sasuke hanya menahan napas, menutup hidung dan mulutnya berdoa semoga Karin tidak menemukannya disini.

Tunggu...

Kenapa Karin bisa berada disini?

Bukankah tadi Naruto sudah kusuruh untuk mengalihkan perhatian mereka?

Jangan-jangan si dobe itu... Haaa! Bodoh, bodoh sekali kau Sasuke. Naruto pasti sedang merencanakan sesuatu yang buruk padaku karena kejadian kemarin. Cih. Kenapa aku bisa lupa?

Malang sekali nasibmu Sasuke. Kau menyerahkan hidupmu pada si bodoh Naruto yang ingin balas dendam padamu.


Disclaimer: Masashi Kishimoto

Genre: Romance/Comedy

Rating: T

Pairing: SasuSaku

Warning: AU, Non Uchiha Massacre, OOC tingkat tinggi, Comedy garing, sedikit adegan Shonen Ai SasuNaru di chapter ini.


Wonderful Life

Story by: Akina Takahashi

Chapter 4: I Just Wanna Go Home!

GREPP

Tiba-tiba saja ada yang menarik Sasuke dengan cepat masuk ke dalam ruang bawah tanah misterius yang berada tepat dibawah semak-semak tempat Sasuke bersembunyi.

"AP-" Kata-kata Sasuke terhenti seiring dengan sebuah tangan yang bergerak membekapnya.

Mati.

Aku benar-benar bisa mati.

Tadi Karin, dan sekarang ada orang psycho yang membekapku.

Inner Sasuke dipenuhi dengan pikiran-pikiran negatif.

Namun ketika ia menyadari warna pink mendominasi penglihatannya, akhirnya ia tahu siapa yang telah membekapnya.

Haruno Sakura.

Namun posisi mereka saat ini sangat awkward. Sakura memeluk Sasuke dengan erat dari belakang, tangan kanannya membekap mulut Sasuke seolah tak mengizinkannya mengeluarkan suara sedikitpun.

"Sst, diam. Nanti dia bisa dengar." Sakura berbisik di telinga Sasuke. Matanya menatap awas pada sosok Karin yang terlihat dari jendela kecil yang berada diatas mereka.

"SASUKE-SAMA! SASUKE-SAMAA!" suara Karin menggema di ruangan bawah tanah tempat mereka berada.

Tubuh Sasuke entah kenapa membeku. Ia benar-benar akan mati bila Karin menemukannya sedang berada dalam situasi intim seperti ini dengan seorang gadis. Terutama gadis itu adalah Haruno Sakura. Gadis yang sangat populer di kalangan lelaki.

"SASUKE SAMA!" suaranya kini semakin mendekat. Sasuke bahkan menahan napasnya sekarang.

"Ah, ternyata aku salah. Kupikir Sasuke-sama ada disini. Ternyata dia sudah pulang ternyata. Ah dasar Naruto! Dia sudah berbohong padaku rupanya." Gumam Karin pada dirinya sendiri, yang ternyata semua kalimatnya terdengar dengan baik di telinga Sasuke.

Si dobe brengsek itu ternyata benar-benar berniat membalas dendam padaku!

Tanpa sadar Sasuke mengepalkan telapak tangannya. Sesaat ketika langkah kaki Karin menjauhi tempatnya, Sakura melepaskan pelukannya dari Sasuke.

"…"

Mereka berdua duduk bersila dengan masing-masing berjarak sekitar 50 cm. Entah kenapa sekarang suasana benar-benar awkward. Setelah agak lama terdiam. Akhirnya Sasuke angkat bicara.

"Hei, kenapa kau menolongku?" tanyanya sedikit penasaran. Ada sedikit nada malu-malu di kalimatnya.

Apa? Uchiha Sasuke malu-malu? Cih, yang benar saja.

"Aku hanya tidak rela pembantu pribadiku digunakan oleh orang lain." Jawab Sakura cuek.

"Heh siapa yang sudi jadi pembantumu!" Sasuke berteriak kesal. "Cih, padahal tadinya aku berniat berterima kasih padamu." Gerutu Sasuke. Ia bangkit dari duduknya kemudian berjalan menuju pintu keluar.

"Aku mau pulang." Ia berjalan menuju pintu yang terhubung langsung dengan taman yang berada diatasnya. Namun langkahnya kembali terhenti ketika ia melihat sosok fangirlsnya yang tengah berpatroli mencari keberadaannya. Jumlah mereka luar biasa banyak sehingga berhasil membuat niat Uchiha prodigy ini kembali surut.

"…"

"Kau lihat kan?" Sakura mendengus. "Kau bisa saja mati jika aku tidak menyelamatkanmu." Gerutunya. Ia mendekap kakinya kemudian mata emeraldnya menatap Sasuke serius.

"Cih" tanpa berkata-kata Sasuke kembali duduk di tempatnya semula. Dengan kesal ia mengacak rambut hitamnya.

"Jangan terlalu banyak bergerak. Kau bisa terlihat nanti." Sakura memperingatkan.

"Ugh menyebalkan." Gerutu Sasuke. Ia terlihat frustasi.

Sementara si gadis pink terlihat sibuk mencari sesuatu dari dalam tas tangannya. Setelah ia mendapatkan apa yang dicari, ia segera melemparkannya ke Sasuke yang duduk di sebelahnya. "Nih, pakai."

Oh, tidak bisakah gadis ini sedikit lebih sopan? Baru kali ini ada gadis yang berani melempar barang pada seorang Uchiha Sasuke. Si pemuda raven hanya terlihat kesal. Ia tak bisa protes atau memarahi gadis itu karena saat ini nyawanya benar-benar dipertaruhkan. Bagaimana jika Sakura marah dan langsung berteriak memberitahu posisinya pada Karin? Bisa-bisa keperjakaan yang telah dijaganya selama 22 tahun ini lenyap begitu saja.

Membayangkannya saja Sasuke sudah bergidik ngeri. Kejadian sensasional di café waktu itu benar-benar menghantuinya.

"Apa ini?" tanya Sasuke heran. Ia mengangkat sebuah wig coklat panjang dengan sedikit gelombang di bagian bawahnya, sebuah masker bergambar Hello Kitty berwarna shocking pink, serta sebuah kacamata hitam dengan frame berwarna pink. Sumpah demi dewa apapun Sasuke lebih baik berciuman dengan Naruto daripada memakai benda-benda mengerikan ini.

HA? Kenapa Naruto dibawa-bawa lagi sekarang? Jangan-jangan sebenarnya Sasuke benar-benar ingin berciuman dengan Naruto untuk yang kedua kalinya.

.

"HATCHII" Naruto menggosok hidungnya yang tiba-tiba gatal. Tiba-tiba saja ia merasa tidak enak badan.

.

Oi, Sasuke sadarlah. Saat kau memikirkan itu, Naruto sudah merasa tidak enak badan. Sepertinya pikiran mereka benar-benar telah terkoneksi.

Mengerikan.

Tentu saja tidak author bodoh. Narasimu saja yang terlalu berlebihan. Kau bisa lihat kan si dobe itu sama mengerikannya dengan benda-benda ini.

Ehem.

Oke. Cukup. Fanfiksi ini akan segera dilanjutkan tanpa adanya gangguan dari inner Sasuke yang sejak tadi protes pada penulisan narasi.

Ups, akan segera kulanjutkan cerita ini.

"Kau gila?" Sasuke mulai histeris. "Kau ingin aku mengenakan ini? Yang benar saja!"

"Hum, terserah jika kau bisa kembali ke apartemenmu tanpa menyamar mungkin saja kau tidak perlu memakai ini." Sakura mengendikkan bahu. "Aku hanya berusaha membantu."

"Hahaha." Sasuke tertawa miris. " Demi apapun, Aku tidak ingin memakai barang mengerikan itu." Si pemuda Uchiha ini sepertinya sudah mengalami kerusakan mental karena ia sudah mulai berkata berlebihan seperti ini.

"Haruno Sakura , selera berpakaianmu buruk sekali." Sasuke menggelengkan kepalanya. "Sepertinya kau harus ikut kelas fashion."

Sakura yang merasa tak rela dirinya diejek seperti itu segera membalas. "Uchiha Sasuke, kau pikir rambut seperti bokong ayammu itu keren? Bentuknya bahkan bisa membuatku berpikir, jangan-jangan rambutmu bisa benar-benar mengeluarkan telur di malam hari."

Seketika ada urat berbentuk perempatan muncul di dahi Sasuke. "Apa kau bilang Haruno?" Sasuke menggeram marah. "Kau pikir rambut pink mu itu tidak aneh hah?"

"Berisik kau!" Kini Sakura mulai beranjak duduknya dan berjalan ke pintu keluar. Ia dengan segera menjulurkan kepalanya keluar dan mulai berteriak. "KARIN-SAN! SASUKE ADA DI-"

Sasuke yang merasakan keadaannya mulai menggawat dengan segera menarik Sakura kembali ke dalam dan menutup rapat mulut gadis itu. "UMPHHH HMPHH" hanya suara tak jelas yang muncul dari mulut gadis itu.

"Ssst." Dengan terpaksa Sasuke memeluk Sakura erat dari belakang. "Oke. Oke. Aku tidak akan protes mulai sekarang." Sungguh ia benar-benar takut Sakura akan memberitahu posisinya pada Karin. "Maafkan aku. Oke?"

Seorang gadis berambut merah menyala berjalan mendekati basement tempat Sakura dan Sasuke bersembunyi saat ini. "Aneh, rasanya aku mendengar ada yang memanggilku tadi. Ah mungkin hanya imajinasiku saja." Sasuke hanya membeku sambil menahan napas saat ia melihat bayangan Karin mendekat ke arahnya. Ia benar-benar bisa mati kalo ketahuan sedang berada dalam posisi awkward seperti ini dengan Sakura.

"Karin!" Seorang gadis gemuk berambut coklat mendekat ke arah Karin. "Tadi aku melihat Naruto-san di gerbang depan. Mungkin saja Sasuke-sama akan menemuinya nanti." Gadis itu memberitahu Karin. Ia segera memberi instruksi agar Karin mengikutinya. "Baiklah. Ayo kita temui dia."

Sasuke yang sejak tadi menegang akhirnya kembali relaks. Matanya memandang awas mengamati bayangan Karin yang mulai menjauh. Ia menggeram pelan. "Ck, si dobe sial itu! Beraninya dia memberitahu Karin!"

"Ng, ano Uchiha Sasuke-san… bisa tolong lepaskan tanganmu?" Sakura yang sejak tadi diam saja akhirnya angkat bicara.

"Ah. Gomen." Sasuke dengan segera melepaskan tangannya dan mendudukkan dirinya di samping gadis itu. Ia menyilangkan kakinya kemudian menatap si gadis pink serius. "Jadi, apa rencanamu?"

Sakura berjongkok di depan Sasuke. Mengambil tas nya kembali. "Kan sudah kubilang tadi. Kau akan menyamar."

Satu kata singkat dari Sakura membuat Sasuke menaikkan sebelah alisnya heran. "He?"

"Huf." Sakura menghela napas menghadapi kelemotan si Uchiha yang katanya jenius ini. Ia agak heran kenapa bisa ada gosip kalau pemuda yang ada di depannya itu jenius. Buktinya hal mudah seperti ini saja ia tidak mengerti.

Gadis itu hanya mengangkat bahu. "Aku lapar. Kalau kau tidak berniat untuk pergi, aku akan pergi duluan." Ia mengambil tasnya dan berjalan menuju keluar. "Sampai jumpa lagi Sasuke."

"Tunggu." Sakura menghentikan langkahnya seketika. Ia menatap Sasuke heran. "Aku ikut." ujar pemuda raven itu pelan. "Anggap saja aku terpaksa melakukan ini untuk menyelamatkan jiwaku." Gumamnya pada dirinya sendiri.

"Ha? Kau bilang apa Sasuke?"

"Tidak. Aku tidak bilang apa-apa." Sasuke dengan cepat mengenakan semua peralatan menyamar yang diberikan oleh Sakura. Tangannya gemetar ketika hendak memasang masker pink bergambar Hello Kitty.

Oh, Tuhan bunuh saja aku sekarang.

Demi apapun benda-benda ini sangat mengerikan dimata seorang Uchiha Sasuke.

Sakura mengikik pelan ketika melihat Uchiha Sasuke yang tengah menyamar menjadi wanita di hadapannya. Ia mengenakan wig lurus berwarna coklat panjang dengan sedikit gelombang di ujungnya, kacamata hitam dengan frame berwarna pink, dan masker Hello Kitty mengerikan untuk menutupi sebagian wajahnya.

Tawa Sakura nyaris meledak kalau saja Sasuke tidak men-deathglare-nya. Ia segera menutup mulutnya dan berusaha sekeras mungkin untuk tidak menertawakan penampilan Uchiha itu. Tanpa berkata-kata (–ia takut akan kelepasan tertawa jika ia membuka mulutnya) Sakura segera membuka pelan pintu kecil yang ada di hadapannya. Ia memberi menggerakkan tangannya memberi tanda pada Sasuke bahwa keadaan sudah aman sekarang. Dengan hati-hati mereka berdua melangkah keluar dari basement dan berjalan menuju gerbang utama.

Saat ini wajah Sasuke yang tertutup masker sudah sangat memerah. Wajar saja, karena semua orang yang melihatnya dan Sakura segera tertawa dan bahkan ada beberapa yang terang-terangan menggodanya.

"Wow Haruno-san! Sepertinya temanmu punya selera yang bagus!" sindir Inuzuka Kiba, si pemuda yang menurut Sasuke wajahnya terlihat seperti anjing liar yang tidak terurus. Dan sekarang si mighty prodigy genius handsome awesome guy Uchiha Sasuke diejek oleh si pemuda anjing? Sungguh pelanggaran hak azasi Uchiha. Ayah Sasuke, Uchiha Fugaku, pasti akan membakarnya hidup-hidup kalau mengetahui hal ini.

"Ooh tentu saja Inuzuka-san! Temanku ini sangat senang dalam mencoba hal-hal baru. Terutama dalam fashion. Dia ini fashionista lho!" bukannya senang karena dibela, Uchiha Sasuke malah merasa darahnya semakin mendidih. Dengan kesal ia menarik tangan Sakura dengan tidak sabar ia menyeret gadis itu untuk segera pergi dari sini.

Dengan kekuatan abnormal yang dimiliki gadis pink itu, ia dapat dengan mudah melepaskan cengkraman tangan Sasuke. Sedikit kesal ia mempercepat jalannya meninggalkan Sasuke di belakangnya.

Mereka terus berjalan menuju apartemen tempat mereka tinggal. Hingga tak terasa akhirnya mereka telah sampai di koridor lantai tiga apartemen ini. Hanya tinggal beberapa meter lagi mereka sampai ke kamar mereka masing-masing.

"Haruno-san?"

Seketika kebahagiaan Sasuke menguap begitu saja ketika melihat Karin tengah berada di depan apartemennya. Gadis itu menatap Sakura heran. Sasuke yang sedikit panik segera menundukkan kepalanya dalam-dalam. Mencegah Karin menatapnya lebih jauh. Tapi hal itu malah semakin membuat Karin penasaran.

"Ah, halo Karin-san." Sapa Sakura sopan. "Apa yang kau lakukan disini?" tanyanya basa-basi. Tentu saja ia tahu maksud Karin datang kesini adalah untuk menculik pemuda di sampingnya yang mulai terlihat pucat ini. (Memangnya terlihat ya? Sasuke kan mengenakan kacamata hitam dan masker untuk menutupi wajahnya. Dasar aneh. Yah, sudahlah anggap saja Sakura mempunyai kemampuan melihat yang luar biasa.)

"Um, apa kau melihat Sasuke-sama?" tanya Karin. Berharap Sakura mengetahui keberadaan pangeran pujaan hatinya yang padahal jelas-jelas sekarang berada di hadapannya.

"Maaf, aku tidak tahu karena aku baru saja kembali dari kampus." Jawab Sakura, ia berbohong. Sebenarnya ia ingin tertawa karena berhasil mengelabui Karin yang padahal jelas-jelas Sasuke berada di sampingnya saat ini. Namun keinginannya untuk tertawa lenyap ketika Karin terlihat mulai mencurigai pemuda onyx yang sejak tadi diam saja demi menjaga penyamarannya.

"Ini siapa?" tanya Karin langsung to the point. Sasuke semakin menegang. Ia melirik Sakura memberi kode bahaya dengan matanya.

"Ah, ini kakak perempuanku. Perkenalkan, Haruno Sachi." Entah kenapa Sakura lancar sekali mengucapkan ini. Sasuke hanya terdiam hingga Sakura memberinya isyarat untuk menjabat tangan Karin layaknya orang berkenalan.

"Salam kenal." Karin menjabat tangan 'Sachi' a.k.a Sasuke. Ia masih penasaran pada sosok yang ada di depannya ini. Ia menganggap 'gadis' ini tidak normal. Buktinya ia mengenakan aksesoris yang tidak lazim. Kacamata hitam dengan frame pink, masker Hello Kitty, dipadukan dengan baju kaos dan celana jins serta sepatu sneakers yang biasanya digunakan pria. Oh my god! Ini baru namanya fashion disaster gumamnya.

"Hmm kakakmu ini sangat unik ya Haruno."

"Hari ini ia sedang sakit flu berat itulah sebabnya ia mengenakan masker. Tenggorokannya sakit jadi ia tidak bisa berbicara untuk saat ini." Kilah Sakura. Ia harus cepat memikirkan alasan yang bagus agar Sasuke bisa kembali dengan selamat ke apartemennya.

"Oh, begitu ya." Karin mengangguk. "Sachi-san tinggi sekali ya. Tingginya mungkin sama seperti Sasuke-kun."

Sakura berjengit sementara Sasuke merasa perutnya bergejolak. Oh Tuhan, sangat tidak enak berpura-pura seperti ini.

"Iya, dia satu-satunya di keluarga kami yang mengalami kelainan hormon sehingga tubuhnya memiliki tinggi yang lebih dari gadis normal."

Oh astaga Sakura, belum cukup kau memaksaku menyamar dan sekarang kau menjadikanku gadis abnormal?

"Ah." Karin melihat jam di pergelangan tangannya. "Aku harus mencari Sasuke-sama." Ia melambaikan tangannya pada Sakura dan Sasuke. "Sampai jumpa lagi Haruno! Sachi-san semoga kau cepat sembuh!" seketika saja punggung Karin telah menghilang di balik koridor.

Sakura dengan cepat mengambil kunci dari dalam tasnya dan membuka pintu apartemennya. "Sudah sana, masuk ke apartemenmu." Perintahnya pelan pada Sasuke. Namun Sasuke hanya menggeleng pelan. "Ada apa?" tanyanya. "Kunci apartemenku hilang." Gumam sang prodigy pelan.

"HEEE?"

Saat ini Sasuke ingin mengubur dirinya dalam-dalam. Menjauh dari semua ini. Sepertinya petualangannya hari ini masih belum berakhir.

Sepertinya penyamarannya menjadi Haruno Sachi akan berlanjut lebih lama lagi.

-TSUZUKU-


Gimana? pendek ya?

Maafkan sayaaaa! saya benar-benar belum bisa membuat chapter ini lebih panjang lagi.

Terima kasih sudah mau membaca fanfiksi saya!

Saran, kritik, tanggapan, pertanyaan, maupun flame akan saya terima dengan senang hati asalkan logis, beralasan, dan memiliki penilaian objektif pada cara penulisan ataupun tata bahasa. Komplain ataupun protes mengenai pairing maupun jalan cerita yang ada di fanfiksi ini tidak akan saya terima.

Sampai jumpa di chapter depan!

ciao!

With Love,

Akina Takahashi