"A-ha, baiklah Gaara-kun, aku akan menjemputmu, tapi aku tak akan meneleponmu lagi sementara karena aku akan mematikan handphone ku. Namun, kalau aku sudah sampai bandara, aku akan kabari lewat telepon umum disana. Kau tunggu saja aku diruang tunggu." Sakura mencoba menjawab telepon Gaara dengan ekspresi seolah-olah dia tidak sedang ada masalah apa-apa. Suaranya memang tidak terdengar seperti orang sehabis menangis, namun suaranya sekarang agak terdengar serak.

"Hmm, baiklah Sakura. Tapi, kau tak apakan?" Suara berat pemiliknya mengejutkan Sakura memang, apa jangan-jangan Gaara tahu kalau dia habis menangis?, "Kau terdengar seperti—sedang kena batuk ataupun flu."

"Ohahaha…tidak. Hei, jangan mentang-mentang kau calon dokter, dengan seenak jidatmu kau menganggapku sakit!" jawab Sakura, "Aku ini wanita kuat. Mana mungkin aku bisa terjangkit sakit dengan begitu mudahnya! Mana ada virus yang bisa mematahkan immune tubuhku!"

"Ada. Virus cinta," Sakura menelan air ludahnya, "Penyakit yang bisa dibilang sakit hati. Gejalanya karena patah hati. Belum ada obatnya, dan belum ada satupun dokter umum yang bisa menyembuhkannya, karena memang jurusan kedokteran tidak mempelajari jenis penyakit ini!"

Sakura diam seribu bahasa. Dia terlihat speechless.

"Sakura?"

"…"

"Sakura, kau baik-baik saja, kan?"

"…"

"Halo, kau masih disana? Aku tak mendengar suaramu!"

"…"

"Apa jaringannya terputus, ya?"—"Ah, tidak, kok, sinyalnya baik-baik saja!"

"…"

"Apa jangan-jangan aku salah bicara?—TUNGGU—Apakah Sakura, sahabat kecilku ini, sedang pat—"

"—Aku akan menjemputmu!"

CKLIK.

Kali ini Sakura kalah dan untuk pertama kalinya, Sakura patah hati karena seorang lelaki yang baru saja ia kenal. Dengan langkah gontai (memang karena kakinya yang sedang sakit), ia memberhentikan sebuah taksi yang lewat, masuk ke dalam, dan mematikan hpnya sampai ia rasa bisa melupakan kejadian yang menurutnya sangat…

Memilukan hati bagi seorang Haruno Sakura. Yah, kenyataannya waktu telah mempermainkannya kali ini.

I think I love you

SasuSaku

Rated: T

Summary: Haruno Sakura, seorang wanita single berusia 20 tahun yang mempunyai cita-cita sebagai penulis novel tiba-tiba mendapat wasiat dari kakeknya soal pernikahan. Siapakah lelaki yang dipilih sang kakek untuk Sakura? Apakah Sakura setuju dengan surat wasiat sang kakek yang sudah sakit-sakitan?

Sedikit terinspirasi dari K-Drama Full House, tapi fict ini 100% hasil karya aku XD

Genre: Romance/Drama

Disclaimer: Masashi Kishimoto

WARNING: TYPO(S), OOC, JELEK, EYD KACAU, ABAL-ABAL.

DON'T LIKE DON'T FLAME!

Chapter 5: Drama Part II

.

.

.

Sasuke's POV

Ck, kemana, sih, perginya dia? Ini sudah sore dan menjelang malam. Aku tak mungkin membiarkannya pulang sendiri begitu saja, karena ada berbagai alasan mengapa aku tidak berani meninggalkannya sendiri.

1). Semua orang pasti marah padaku karena telah menghilangkan anak orang begitu saja.

2). Memang tidak baik meninggalkan wanita sendirian begitu saja. Padahalkan, aku yang mengajaknya ikut bersama ku dan kedua sahabatku.

3). Aku merasa tidak enak soal yang tadi siang telah aku lakukan—ehm, sebenarnya itu hanya karena kesalahpahaman saja.

4). Masih banyak alasan yang tak perlu aku jelaskan bukan?

Aku sudah berusaha meneleponnya berulang-ulang kali, tapi bukannya suara polosnya yang kudengar, melainkan suara operator yang berulang-ulang kali juga mengatakan pesan dengan sama bahwa nomor Sakura tidak bisa dihubungi dan silahkan tinggalkan pesan. Percuma kutinggalkan pesan juga, dia pasti tidak mau dengar. Aku sudah bolak-balik kembali ke apartemennya, tapi penjaga apartemennya bilang kalau wanita itu belum pulang. Ada sebagian dari hatiku ingin mengunjungi kerumah orangtuanya, siapa tahu wanita itu sedang ada disana, namun kalau memang kenyataanya dia ada disana, aku pasti disalahkan telah meninggalkan anak orang di tempat umum padahal aku yang mengajaknya untuk ikut. Itu masih lebih baik daripada kalau aku pergi kerumah orangtuanya, tapi Sakura tidak ada, sama saja membuat orangtuanya cemas, menghabiskan bensin, dan aku dianggap pembawa masalah keluarga Haruno. Oh tidak, tidak, tidak! Pokoknya aku harus menemukan Sakura sampai dapat!

Kemana sih wanita pink itu? Kalau cemburu, tinggal bilang saja, tidak usah kabur begitu. Jadinya, aku kan kewalahan sendiri.

Aku hanya bisa mendengus kesal di dalam mobilku. Hpku ku lemparkan begitu saja ke bangku tengah mobil. Ku pandangi kemana jatuhnya hpku dari kaca spion mobilku, jatuhnya tepat di kursi, namun bertubrukan dengan sesuatu yang berwarna merah muda seperti warna rambut Sakura.

END OF SASUKE'S POV

.

.

.

"Apa aku mengenalmu?" tanya Sakura pada banyak orang, kelimpungan mencari sosok manusia yang memiliki rambut berwarna merah terang dan bola mata berwarna hijau pucat. Sosok manusia yang sering dianggap saudara kembar dari dirinya ini sewaktu mereka masih satu sekolah di Suna.

Ah, bodoh sekali aku! Aku baru ingat kalau bandara Konoha sudah tidak ada lagi telepon umumnya. Lagian kalaupun ada, aku juga tidak hafal nomor Konoha Gaara-kun.

Sakura menghela nafas. Ia duduk di sebuah kursi menghadap jendela keluar bandara. Ia lelah mencari seseorang di bandara yang penuh orang begini, mana kakinya masih sakit akibat kecelakaan kecil tadi pagi. Ia mendengus kesal, mengapa bandara Konoha selalu dipenuhi orang-orang? Ia jadi kerepotan sendiri mencari sosok yang ia maksud.

"Apa aku mengenalmu?" tanya suara seorang pria yang ia kenal. Suara baritone itu? Tunggu, tapi dimana sosoknya? Sakura menoleh ke kanan-kiri tapi tak menemukan objek yang ia maksud.

"Aku ada dibelakangmu, bodoh!" ucap lelaki itu, kesal. Sakura menoleh ke belakang. Ia baru sadar bahwa dibelakang kursinya ada kursi lagi. Oh, Sakura, sudah berapa lama kau tidak bermain ke bandara ini? "Hahaha…aku tidak tahu kalau sahabat kecilku sendiri tidak bisa mengenali baik dimana letak suara berada. Apa perlu aku jelaskan?"

"Tidak—terima kasih." jawab Sakura, cepat. "Hai Gaara-kun. Apa kabar? Ah, sudah lama kita tidak bertemu!" Sakura segera memeluk pria itu cepat. Gaara membalas pelukannya. Namun, mata Gaara terbelalak melihat kaki Sakura yang sedang diperban. "Ada apa dengan kaki kananmu itu?"

Sakura juga ikut memandang kakinya, "Oh ini…Hanya luka ringan karena kecelakaan kecil yang tak perlu diperbesar-besarkan." Sakura memutar bola matanya, bosan.

"Apakah itu tidak apa-apa?" tanya Gaara, "—maksudku, apakah itu sudah diobati? Aku takut itu menyebabkan kakimu infeksi dan harus diamputasi. Aku selalu bawa obat merah di tasku. Mau aku obati?"

"Hei, kita baru bertemu. Kau tak mau mengucapkan apa-apa padaku? Sudah lama kita tidak bertemu!" hardik Sakura dalam artian candaan pada sahabatnya yang rada-rada itu (Author dihajar Gaara beserta fansnya)

"Kakimu lebih penting dari segalanya. Mau aku obati?"

"Tak perlu. Sudah diobati, kok, tadi." Sakura mengembangkan senyumnya agar Gaara percaya. Gaara memutar bola matanya dan berkata "kau yakin?". Sakura menganggukan kepalanya.

"Kau kesini dalam rangka apa?" tanya Sakura, mengalihkan pembicaraan.

"Kau ini kepingin tahu sekali, sih!" ejek Gaara (Sakura mendengus kesal). Mereka memang begitu, meskipun bersahabat, namun kalau sudah ketemu, tiada hari tanpa saling mengejek. "Yang jelas ini akan menjadi surprise untukmu sendiri."

"Benarkah?" balas Sakura, tersenyum sinis. "Bagaimana seandainya kalau aku tidak terkejut? Berani bayar berapa?"

"Akan aku cium kau!" Gaara berjalan meninggalkannya sambil tersenyum kemenangan. Sakura hanya bisa mendengus kesal mendengar ucapan Gaara tadi.

Gaara membalikan badannya, terlihat ia habis terkekeh habis-habisan mengerjai Sakura tadi, "Kenapa tidak jalan, heh? Kau berencana menginap di bandara?"

.

.

AKU BENCI UCHIHA SASUKE! DIA SEENAK RAMBUT PANTAT AYAMNYA MASUK KEDALAM KEHIDUPANKU. DIA AKAN MENJADIKANKU CALON UCHIHA. DIA YANG MEMBUATKU MALU DIDEPAN IBUNYA KARENA TELAH MENGEJEKNYA SECARA TIDAK LANGSUNG. DIA YANG MEMBUATKU HARUS KE TAMAN KOTA PADAHAL LEBIH BAIK JIKA AKU MELANJUTKAN TULISANKU SAJA. DIA YANG MEMBUATKU MUNTAH-MUNTAH AKIBAT NAIK ROLLERCOASTER. DIA YANG MEREBUT CIUMAN PERTAMAKU. DIA YANG MEMBUATKU INGIN MENGUTUKNYA. DIA YANG MEMBUAT SEMUANYA ITU! TIDAK BISAKAH DIA PERGI BEGITU SAJA DARI PIKIRANKU?! KENAPA DIA ITU SANGAT MENGESALKAN, SIH?!

"Kita jalan-jalan! Bukankah tujuan kita ini untuk mengenal satu sama lain?" tanya Sasuke, lalu memasangkan kacamata hitamnya. Sakura memandangnya sinis, "Mau tidak?" tanya Sasuke lagi, sekarang agak ketus.

"Iya," jawab Sakura, malas. "—tapi ada syaratnya!"

"Syarat, heh?" tanya Sasuke, bingung. Apa perlu dengan syarat-syarat, sih? Rasanya agak aneh saja, diajak jalan-jalan dengan orang se-perfect Sasuke malah perlu syarat harusnya Sasuke lah yang memberi syarat bukannya dia. Tapi Sasuke ikuti sajalah, toh percuma saja dia tolak alhasil pertemuan kali ini gagal dan itu akan merepotkannya sama sekali.

"Iya. Pertama, jangan pakai kacamata hitammu itu! Tunjukan ke semua orang kalau yang berjalan bersama ku itu bukan kriminal yang sedang menyamar tapi seorang anak pebisnis keren, Uchiha Sasuke." kata Sakuram tersenyum . Sasuke mendesah kecil.

"Hn," jawab Sasuke, melepas kacamata hitamnya.

"Kedua, kita harus jalan-jalan di sini saja. Tidak ada ke mall-mall, ke tempat yang mewah dan harus aku yang menentukan tempatnya. Kau tenang saja, selama jalan-jalan aku tidak akan memintamu membeli barang-barang yang mewah walau aku tahu kau pasti bisa membelikannya untuk ku tapi aku yakin juga sejujurnya mana mau kau membelikannya padaku." lanjut Sakura.

"Hn," jawab Sasuke, datar. Dia malas berdebat dengan Sakura jadi asal jawab saja.

"Ketiga, kita jalan menggunakan kaki kita. Tidak menggunakan kendaraanmu. Kan ada untungnya, hemat uang membeli bensin, badan kita juga sehat. Lagian sore-sore ini cuacanya baik kok, angin sepoi-sepoi sangat baik dan mendukung!"

"Hn," jawab Sasuke lagi. Dia memutar bola matanya bosan dengan semua syarat-syarat dari Sakura.

"Keempat, aku tidak akan menyuruhmu untuk tidak membatalkan perjodohan ini kalau kau juga benar-benar tidak mencintaiku. Karena diluar sana masih banyak orang yang mencintaiku dengan tulus. Kalau selama 3 bulan ini kau tersiksa dengan kehadiranku—kurasa kita harus memutuskan hubungan ini."

AKU INGAT SAAT DIA MENCIUMKU SEHABIS PULANG DARI TAMAN KOTA. YANG BENAR SAJA, AKU KAN MASIH PUSING DALAM PERJALANAN DAN SUDAH MENGANTUK, DIA, UCHIHA SASUKE, DENGAN TIDAK SOPANNYA MENCIUMKU. LEBIH SOPAN KALAU DIA MENCIUMKU DI KENING, TAPI DIA MENCIUM BIBIRKU! DAN DENGAN CARA TAK TERJELASKAN, AKU RASA MEMANG ITU DI SENGAJA! OH UCHIHA MEMANG LICIK, LEBIH LICIK DARI ULAR YANG MEMBUAT MANUSIA PERTAMA JATUH KEDALAM DOSA!

"Sakura… bangun! Sudah sampai!" panggil Sasuke, sambil mengoncangkan tubuh Sakura. Sakura bangun dan mengucek-ucek matanya. Masih sedikit mengantuk rupanya, Sasuke turun dari mobilnya dan membukakan pintu mobilnya agar Sakura bisa keluar. Saat Sakura hendak masuk kedalam apartementnya, Sasuke menarik tangannya dan mencium bibir Sakura yang manis. Tidak lama karena melihat kondisi Sakura yang sudah terlalu mengantuk. Sasuke tersenyum lagi. Dia masuk kedalam mobilnya dan pulang kembali menuju rumahnya.

1 detik berlalu…

2 detik berlalu…

3 detik berlalu…

4 detik berlalu…

5 detik berlalu…

"UCHIHA SASUKE!" teriak Sakura dijalanan dan membuat sukses semua orang di jalan tersebut memandangnya dengan tatapan berbagai macam yang tak bisa disebutkan satu persatu, sekarang dia baru sadar, heh? Kemana saja daritadi dia ini?, "—TERKUTUKLAH DIRIMU YANG SUDAH MEREBUT CIUMAN PERTAMAKU!"

DIA DENGAN EGONYA YANG MELEBIHI BATAS MEMBUATKU MEMBENCINYA. BANYAK SEKALI TINGKAHNYA YANG MEMBUATKU FANSNYA BILANG, KALAU PEWARIS MUDA PERUSAHAAN UCHIHA CORPORATION INI ADALAH PANGERAN ES YANG JARANG BERBICARA DAN ITU MEMBUATNYA SANGAT COOL. TAPI, BAGIKU DIA ADALAH MALAIKAT PENCABUT NYAWA YANG SANGAT KU BENCI. BENCI! BENCI! BENCI!

CIRI-CIRI MANUSIA ES SEPERTI SASUKE (BAGIKU):

1.-coret-BERBICARA KASAR-coret-

Sakura mendengus kesal dan terpaksa meng-iya-kan saja permintaan dari tuan Sasuke itu. Sasuke dan Sakura mengaktifkan fiturvideo callmereka. Fitur itu khusus untuk ponsel bermerekAndroidjadi mereka bisa terhubung melaluivideo callyang sama cara kerjanya sepertiskype.

"Jadi, ada apa kau meneleponku, Uchiha?" tanya Sakura, sinis.

"Aku hanya mau meminta maaf padamu sudah menciummu diam-diam. Oya, kau sudah menerima bunga yang tadi pagi aku kirim, belum?"tanya Sasuke.

2.-coret-MEMBOSANKAN-coret-

Semua orang yang ada disana memandang mereka berdua terkagum-kagum, "Lihat! Itukan Uchiha Sasuke, anak pebisnis yang terkenal itu. Dia sudah punya kekasih? Cantik sekali perempuannya, ya!"

"Itukan Uchiha Sasuke—dia bersama seorang gadis pink yang sangat cantik ya!"

"Pasangan yang serasi ya! Coba aku jadi perempuan merah muda itu!"

Pasangan SasuSaku itu hanya tersenyum diam sampai tiba-tiba Sasuke mengagetkan Sakura yang sedang melamun dengan mengajaknya bermain bermacam-macam wahana permainan di taman kota itu. Pertama, mereka bermain pancing-pancingan ikan mainan. Sasuke dari belakang memegang tangan Sakura—membantunya menangkap ikan-ikan mainan itu dengan sebuah pancingan magnet kecil. Mereka mendapatkan ikan terbanyak hingga menjadi pemenang. Sasuke mencium kening Sakura saat selesai bermain membuat semua orang memandang mereka penuh keromantisan. Sakura tahu ini hanya akting semata jadi dia hanya tersenyum palsu.

"Ini hadiahnya, tuan! Terima kasih sudah mau mencoba permainan kami!" kata pengawas stand itu pada Sasuke seraya memberikan sebuah boneka 'teddy bear' kecil berwarna pink. Sasuke tersenyum dan memberikannya pada Sakura. Sakura bingung, "itu untukmu saja. Kau kan yang membuatku jadi menang jadi itu tanda terima kasihku untukmu!"

"Sudah ambil saja. Mana mungkin aku menyimpan boneka ini! Ambil lah~" seru Sasuke, dengan menyerahkan boneka itu pada Sakura. Sakura menerimanya dengan baik.

3. -coret-TIDAK ASYIK DIAJAK BERCANDA-coret-

"Jangan asal bicara dulu, aku sama sekali tidak berminat menjadi istrimu!" tegas Sakura.

"Aku juga tidak pernah mencintaimu!"balas Sasuke, kesal.

"Aku juga tidak pernah menyukai dan mencintai dan menyayangimu!" balas Sakura, tambah kesal.

"Oh yah? Baik, tapi aku memang tidak mencintaimu, aku hanya tertarik padamu dan itu membuatku nyaman berada disampingmu!"dengus Sasuke.

"Oh yah?" balas Sakura sambil tersenyum licik padanya, "apa bedanya coba? Intinya kau ingin berada disampingku lebih dekat. Kalau kau mencintaiku, tentu kau selalu ada disampingku untuk menjagaku, tapi kalau kau tertarik padaku, kau juga akan mendekatiku untuk tahu lebih dalam soal diriku. Jadi, sebenarnya kau itu ingin selalu bersamaku bukan?"

Sasukeblushing. Ia tersenyum kecil tapi Sakura bisa melihat bahwa Sasuke sedang tersenyum kecut karena Sakura tahu tujuan dan maksud Sasuke memberikan bunga ini pada Sakura dan menelepon Sakura malam-malam begini.

"Hah, kalau kau tersenyum seperti itu, kau terlihat makin manis!" puji Sakura, entah kenapa dia jadi senang melihat wajah Sasuke yang sedang tersenyum entah ikhlas atau tidak. Ini hal baru bukan, Sasuke tersenyum pada seorang wanita juga menjadi sedikit cerewet?

Untuk kedua kalinya, Sasukeblushinglagi. Sakura memang pandai membuatnya menjadi seperti ini bisa saja harga dirinya sebagai seorang Uchiha turun karena ia telah digoda oleh Sakura, "—dan kau terlihat tampan!" sahut Sakura, sengaja ingin melihat wajah Sasuke sudah semerah tomat—Sakura gantian mengusilinya untuk balas dendam. Balas dendam itu indah, heh? Tapi dalam hati Sakura, Sasuke memang tampan kalau dilihat-lihat seperti itu.

Sasukeblushinglagi karena dibilang tampan oleh Sakura. Ia tidak peduli lagi dirinya adalah seorang Uchiha sekalipun,"Cukup kau sudah menggodaku selama 3 kali!"seru Sasuke, kesal juga lama-lama.

"Siapa juga yang menggodamu? Aku hanya balas dendam padamu, sekarang lihatlah seorang Uchiha bungsu sudah 3 kaliblushing! Hahaha…" tawa Sakura, lepas. Sasukepun kecewa tapi melihat Sakura tertawa terbahak-bahak seperti itu membuatnya juga ikut-ikutan tertawa.

"Sasuke?" panggil Sakura, mengembalikan kondisi normalnya seperti sedia kala.

"Hn?"balas Sasuke, juga menghentikan tawaannya.

"Sudah dulu, ya! Aku mau tidur!" jawab Sakura, "Selamat malam!"

4.-coret-TIDAK PEDULI PADAKU-coret-

Sasuke menggendong Sakura dengan ala bridal style-nya menuju mobilnya itu. Ia mengambil kotak P3K di mobilnya itu. Ia mengambil kapas dan obat luka juga mengambil air untuk menghilangkan darah yang keluar dari kaki putih Sakura itu.

Sakura melihat Sasuke yang amat serius menolong luka Sakura yang cukup besar walau tidak parah amat. Sasuke ternyata peduli juga terhadap dirinya. Sakura mengambil sebuah buku dalam tasnya dan mencoret kalimat dalam suatu daftar di buku yang terlihat seperti diary nya. Ia menutup buku diary berwarna merah muda itu dalam tasnya. "Arigato, Sasuke!" gumamnya yang lumayang terdengar samar-samar oleh Sasuke yang sibuk menutup luka Sakura itu. Ia tersenyum tipis hanya pada gadis merah jambu itu. "Hn,"

"Hanya keempat ciri saja yang ia coret?" gumam Sasuke, "—dari semua daftar ini?". Kalau dihitung-hitung, memang ada sekitar belasan ciri-ciri Sasuke dan semuanya memang mengesalkan, tapi yang dicoret kenapa hanya empat nomor. Apa mungkin karena mereka memang belum saling mengenal karakteristik mereka masing-masing? Sasuke menghela nafasnya. Menunggu sampai keajaiban menjemputnya.

Dan keajaiban yang ia maksud datang…

DRRT…DRRT…DRRT…

Sasuke mengambil ponselnya itu dan memandang layarnya tidak percaya bahwa…

UCHIHA SAKURA IS CALLING…

"SASUKE JEMPUT AKU SEKARANG!" Suara teriakan khas wanita strawberry dari seberang sanaitu terdengar nyaring ditelinga Sasuke. Biasanya kalau ada seseorang, khususnya Itachi, kakak kesayangannya, yang berteriak kencang ditelinganya seperti tadi, Sasuke tidak segan-segan ingin menonjok muka sang pelaku. Namun, kali ini yang ia rasakan adalah…ingin menampar wajahnya sendiri. Apa ini nyata?

"Akan aku kirimkan alamat tempatku berada. Kau cepat kesini, karena aku ingin pulang!"

.

.

2 JAM SEBELUMNYA…

"Gaara-kun yakin ini apartemenmu?" tanya Sakura, memandang apartemen Gaara yang sangat kotor. "Kenapa kotor sekali? Apa kau tidak meminta dibersihkan dulu?" Sakura membantu membawa koper Gaara yang kecil, sementara Gaara mengangkut kopernya yang besar.

"Iya ini apartemenku. Sayangnya, aku tidak meminta dibersihkan karena hanya akan menambah biaya casnya. Aku tidak mau boros uang."

"Lagipula, kenapa kau tidak menginap dirumah orangtuaku saja, sih? Kau kan hanya berlibur! Kenapa sampai memesan apartemen segala? Justru itu yang membuatmu boros uang!" kata Sakura, melemparkan dirinya pada sebuah sofa rongsokan di apartemen itu.

"Tak apa. Nantinya, kau juga tahu sendiri. Sekarang bantu aku merapikan apartemenku ini!" Gaara menatap Sakura yang tidak bergerak sama sekali, "—nanti aku beri es krim!" Gaara memutar bola matanya. Sakura dengan sigap langsung membantu sahabatnya ini membersihkan apartemen.

Setelah menghabiskan setengah jam membersihkan beberapa ruangan di apartemen Gaara, seperti ruang tamu, kamar, dan dapur, kedua sahabat itu beristirahat sejenak dan memakan es krim yang memang sudah disiapkan Gaara sebelumnya sebagai imbalan atas kerja Sakura. Agak aneh, memang, tapi Sakura kan pecinta es krim.

"Besok lagi, kau datang kemari. Bantu aku membersihkan kamar mandi. Aku juga sudah memesan beberapa perabotan dari toko furniture, sekalian bantu aku saja menaruh beberapa perabotan di tempat yang tepat!" perintah Gaara, kalem. Sakura terbatuk mendengarnya.

"Ada apa?" tanya Gaara, seolah tak ada masalah.

"HAH? YANG BENAR SAJA! KAU BELUM BERTERIMAKASIH PADAKU, SUDAH MEMINTA BANTUANKU LAGI BESOK?!"

"Ya, siapa lagi yang bisa kuandalkan?" jawab Gaara, enteng, "Di Konoha, hanya kau dan keluargamu saja yang aku kenal, kecuali kalau kau sudah punya suami, kenalkan padaku!"

"Iya, sebentar lagi aku akan menikah! Aku akan mengenalkannya padamu!" ejek Sakura, menang.

"Aku tidak tahu kalau sahabatku ini mau menikah. Jadi, katakan padaku siapa wanita yang beruntung yang akan kau nikahi itu?" balas Gaara, tersenyum licik, "bukannya kau pecinta wanita? Karena setahuku, kau tidak pernah berhubungan dengan pria tulen manapun, kecuali aku, ayahmu, dan kakekmu."

Sakura mendengus kesal dan berdiri dari duduknya. Gaara menatapnya aneh, "Mau kemana?"

"AKU MAU PULANG!" teriak Sakura. "Antarkan aku pulang! S-E-K-A-R-A-N-G!" rengeknya makin menjadi karena sudah kesal pada sahabatnya ini.

"Bukannya aku mau memancing emosimu. Aku juga tidak tahu kalau kau sedang PMS atau tidak, tapi," Gaara menghela nafasnya, "kau pulang sendiri saja. Percuma kalau aku mengantarmu, nanti aku tidak tahu arah jalan pulang kesini lagi. Lagian, mobilku ada di Suna. Masa kau mau pulang bersamaku dengan…jalan kaki?"

Sakura berteriak sekencang-kencangnya, tidak peduli tetangga-tetangga Gaara dengar apa tidak. "KAU KAN BISA NAIK TAKSI PULANGNYA! TINGGAL BERITAHU SUPIRNYA ALAMAT APARTEMENMU INI!"

"Aku dengar dari berita, katanya sering terjadi penculikan penumpang turis yang naik taksi, karena para turis itu buta arah. Aku tidak mau menjadi salah satu dari mereka. Jadi…"

"…"

"Jadi, kalau kau mau pulang, silahkan pulang sendiri. Pintu terbuka lebar untukmu. Selamat malam, aku mau tidur. Terima kasih telah menjadi tamu pertamaku." Gaara meninggalkan Sakura yang sedang terdiam kesal disana. Gaara masuk ke kamarnya dan merebahkan dirinya sambil berpura-pura tidur. Melihat tingkahnya yang menyebalkan itu, Sakura keluar dari apartemen Gaara, membanting pintu, sambil berteriak, "KU KUTUK KAU, SABAKU NO GAARA!"

Mungkin saat ini, Gaara menyunggingkan senyumannya yang paling manis, namun mematikan.

Sakura keluar dari gedung itu sambil terus mengutuk-ngutuk Gaara. Sekarang sudah hampir jam 8 malam, ia membuka tasnya dan mengambil ponselnya, lalu menyalakan ponsel kesayangannya itu. Saat hpnya sudah menyala, dia melihat ada 25 missed call dari Sasuke. Sakura tersenyum. Ia membuka tasnya lagi, hendak mengambil sesuatu, namun dirasakannya benda itu tak ada didalam tasnya. Tiba-tiba, ia teringat sesuatu! Jangan-jangan benda itu tertinggal di mobil Sasuke. Dengan perasaan campur-aduk, dia langsung mengambil hpnya lagi, dan menekan nomor Sasuke. Ia menunggu sampai Sasuke mengangkatnya. Ia pikir mungkin Sasuke sudah tidur akibat kecapaian berkencan dengan Hinata. Kalaupun, iya, Sakura rasa ia akan memintanya besok saja.

Namun ternyata tidak.

Sasuke mengangkatnya.

"SASUKE JEMPUT AKU SEKARANG!" teriak Sakura. Padahal Sasuke sama sekali belum menjawab apa-apa. "Akan aku kirimkan alamat tempatku berada. Kau cepat kesini, karena aku ingin pulang!"

Jawaban Sasuke? "Hn,"

Seperti biasa, namun terdengar seperti gumaman yang menunjukkan betapa senangnya Sasuke.

.

.

"Kau ini kenapa, sih?" tanya Sasuke, memecah keheningan yang ada, "menghilang begitu saja? Aku mencarimu susah payah, tahu! Aku sudah meneleponmu berkali-kali, tapi yang mengangkat operator terus. Kau mematikan ponselmu, ya?"

Sasuke bawel. Sasuke PMS. Sasuke tidak bisa diam. Dia kenapa, sih? Pikir Sakura.

Yang ditanya malah diam. Sasuke pun kesal dan berteriak, "SAKURA!"

CKRITT…

"Bodoh! Kau hampir saja membunuh kita, tahu! Kau hampir menabrak pohon. Lagian, kenapa kau berteriak, sih? Telingaku mau pecah rasanya!"

Sasuke menghela nafas dan melanjutkan perjalanan mereka lagi, "Tidak apa."

"Kudengar, kampusmu mengadakan pertukaran pelajar dari berbagai negara ya?" tanya Sasuke, mengalihkan pembicaraan.

"Iya, khusus untuk para mahasiswa yang sudah mencapai semester akhir, tapi memang lebih banyak pada mahasiswa jurusan kedokteran, sih." jawab Sakura. Tiba-tiba, ia teringat sesuatu!

"Hn, aku punya kenalan dari Suna. Dia juga masuk jurusan kedokteran disana dan ia akan kesini untuk ikut pertukaran pelajar, namun dia datang sendiri—padahal harusnya dia ikut rombongan. Ckckck…"

Sakura hanya menganggukan kepalanya, padahal ia tidak mendengarkan Sasuke bicara apa. Ia tetap mencari benda yang harusnya memang ia temukan di mobil Sasuke. Sasuke yang melihatnya kewalahan mencari sesuatupun buka mulut, "Kau mencari ini?" Sasuke memegang benda yang ia maksud tadi. Benda itu buku diary-nya, berwarna merah muda. Benda kesayangannya. Sakura langsung mengambilnya paksa.

"Sebagai warga yang baik, kau harus bilang apa padaku?" goda Sasuke.

"Terima kasih, Sasuke!" jawab Sakura, asal-asalan. "Kau pasti sudah membaca sebagian isinya, bukan?"

" Ralat. Aku sudah baca semuanya, termasuk sindiranmu itu terhadapku," balas Sasuke, kesal.

Keduanya saling memutar bola mata mereka.

"Oh ya, kau belum menjawab pertanyaanku, mengapa kau tiba-tiba menghilang begitu saja tadi siang? Tak ada kabar, dan tak bisa kutelepon. Kau itu kemana,sih?" tanya Sasuke, mengganti topik pembiacaraan alias kembali ke awal pembicaraan.

"Kenapa kau ini kepingi—HEI, KENAPA KAU CORET NOMOR 5 PADA DAFTAR CIRI-CIRI TENTANGMU INI?!" teriak Sakura, marah ketika ia melihat coretan Sasuke pada hasil pemikiran buatannya tentang seorang UCHIHA SASUKE, calon suaminya itu.

"Kupikir aku telah melakukan apa yang nomor 5 tulis disitu. Kurasa memang itu jawabannya kenapa daritadi aku menelepon hingga berkali-kali, aku bolak-balik ke apartemenmu, aku menjadi cerewet, dan semacamnya…"

Sakura tersenyum mendengar perkataan Sasuke. Ia langsung mencium pipi Sasuke dalam hitungan beberapa detik, "Kenapa cuma di pipi, sih? Aku mau lebih!" gerutu Sasuke, dibalas dengan tonjokkan kecil dari Sakura di lengan Sasuke.

Alasan yang membuat Sasuke menjadi bawel, bukan karena dia PMS, tapi karena…

5.-coret-Tidak pernah dan tidak akan pernah mengkhawatirkanku-coret-

Tentu saja dibalik itu semua, itu adalah bentuk rasa khawatirnya Sasuke pada Sakura yang tiba-tiba menghilang begitu saja:)

TBC…

Kerasa gak romance nya? Aku ragu x_x hahaha…

Jiahaha, akhirnya selesai juga nih chapter! Sorry semua readers yang udah nunggu chapter ini keluar. Ini membuat kalian menunggu satu tahun sampai aku mengupdatenya! Gomen-ne ^^

Chapter ini ku buat agak panjang, khusus dan kupersembahkan untuk para readers ITILY yang udah lama banget kepengen chapter selanjutnya:)

Yowes, well apa yang akan terjadi selanjutnya pada mereka semua? TUNGGU SAMPAI CHAP SELANJUTNYA KU UPDATE, dan doakan agar aku tidak lama mengupdatenya;)

Btw, aku ultah nih tanggal 20 Mei, adakah para author disini yang berbaik hati mau membuatkanku fic SasuSaku ataupun DraMione deh? XD Hahaha, itu udah jadi kado terbaik buat aku:) Sekali lagi, makasih udah menyempatkan diri di fic ini dan mereviewnya;)

Jangan lupa ya RnR. Maaf kalau jelek:')

See you in the next chapter:p