WHAT?! AGILA UDAH LAMA BANGET NIH AKU GA UPDATE-UPDATE NIH FIC. YAAMPUN MAAF BANGET SERIUS. AKU JUGA UDAH NIATAN BANGET MAU UPDATE, CUMA KARENA ADA BANYAK FAKTOR. FAKTOR PERTAMA, GATAU MAU IDE APAAN. FAKTOR KEDUA, SEMPET LUPA PASSWORD FFN X_X (KEREN BANGET YA AUTHOR UDH PIKUN?). FAKTOR KETIGA, TUGAS NUMPUK DAN YAH KEINGINAN UNTUK MENGUPDATE BERKURANG. SO, MAAF BANGET YAAA *PEACE*
SO, HERE WE GO…
I THINK I LOVE YOU
SASUSAKU
RATED: T
SUMMARY: Haruno Sakura, seorang wanita single berusia 20 tahun yang mempunyai cita-cita sebagai penulis novel tiba-tiba mendapat wasiat dari kakeknya soal pernikahan. Siapakah lelaki yang dipilih sang kakek untuk Sakura? Apakah Sakura setuju dengan surat wasiat sang kakek yang sudah sakit-sakitan?
Sedikit terinspirasi dari K-drama Full House, tapi fict ini 100% hasil karya aku XD
Genre: Romance/Drama
Disclaimer: Masashi Kishimoto
WARNING: TYPO(S), OOC, JELEK, EYD KACAU, ABAL-ABAL.
DON'T LIKE DON'T FLAME!
Chapter 6: Sasuke Dapet!
.
.
.
"Hari ini aku sibuk, pantat ayam!" ujar Sakura, kesal, karena semenjak pagi-pagi subuh tadi, Sasuke meneleponnya hanya untuk mengajaknya kencan. Gila, kan, seorang Uchiha ini! "Pokoknya sekali lagi kau menelepon, aku batalkan perjodohan ini. Titik." Sakura dengan kejamnya, langsung mematikan ponselnya, tidak peduli Sasuke mendengar atau tidak.
"Kalau bukan karena Gaara-kun, mana mau aku rela menghabiskan waktu liburku ke apartemennya lagi dan hanya untuk beres-beres…" keluh Sakura, "Sial sekali nasibku ini. Sudah dijodohkan dengan manusia berambut pantat ayam, dan sekarang harus menjadi pembantu untuk sahabatku sendiri lagi."
DRRT…DRRT…DRRT…
SIALAN. Pemuda ini nekat sekali sih menelepon Sakura lagi, "SUDAH KUBILANG AKU SIBUK, JADI AKU TIDAK MA—"
"Sibuk kenapa? Berusaha untuk tidak mau membantuku membereskan apartemen baruku, ya?" SIAL LAGI. Ternyata ini suara Gaara-kun. Ah, kenapa, sih, Kami-sama tidak memberikannya waktu sekali saja untuk beristirahat? Sakura sudah lelah, tahu!
"—eh, bukan begitu maksudku, Gaara-kun. A, aku baru saja mendapat telepon dari orang tidak penting, dan ia sudah meneleponku berkali-kali. Saat kau meneleponku, kukira itu dari dia. Ja, jadi be, begitulah, Gaara-kun. HEHEHE," jawab Sakura, tergagap-gagap, karena ia tahu bahwa teleponnya dari Gaara.
"Ya sudah," balas Gaara, dingin.
"Ya sudah kenapa Gaara-kun?" tanya Sakura, bingung.
"Jadi, kapan kau ke rumahku? Banyak barang yang mesti kita pindahkan, kamar mandiku masih kotor, jadi harus dibersihkan. Dan hari ini beberapa furniture baru akan datang, jadi tolong bantu. Terima kasih."
"Kau ini—"
TUT…TUT…TUT…
"—sebenarnya hanya sedang berlibur atau memang pindahan, sih?"
Sudah? Begitu saja tujuannya menelepon? Bagus. Kenapa, sih, orang-orang seperti Sasuke dan Gaara-kun itu senang sekali langsung berbicara to the point, apalagi soal minta bantuan dan ajakan. Basa-basi dulu setidaknya agar yang diajak pun mau kerjasama. Baiklah, Sakura harus sabar dan sekarang ia harus siap-siap menuju apartemen Gaara.
.
.
"Hah, sudahlah, aku pakai kaos oblong saja. Toh, dia cuma mengajakku beres-beres apartemennya saja." ujar Sakura, setelah selesai berdandan ala kadarnya. Ia hanya memakai kaos oblong berwarna merah muda dan memakai celana jeans selutut. Ia juga hanya memoles wajahnya dengan bedak dan memakai lip gloss. Ia pun segera memakai kaos kaki dan sepatu converse nya.
Sakura sudah siap untuk pergi ke apartemen Gaara, meskipun kakinya masih terasa sakit. Ketika ia membuka pintu apartemennya, tiba-tiba muncullah sesosok yang membuatnya hampir kena serangan jantung…
"HUWAAA! Ngapain kau di sini?!" tanya Sakura sambil berteriak kaget. Jelas saja, ia kaget melihat di depannya ada sesosok makhluk berambut pantat ayam. Dalam hati, Sakura merutuk dirinya kenapa bisa dijodohkan dengan cowok keras kepala seperti dia. Sudah jelas-jelas, Sakura bilang bahwa dia tidak bisa ikut kencan atau apapunlah itu bersamanya.
"Kau pikir aku ngapain di sini?!" balas Sasuke, sambil men deathglare sosok merah muda di depannya itu, "Aku kesini untuk menjemputmu lah!"
"Ngapain jemput-jemput, sih?! Kan aku sudah bilang kalau aku tidak bisa ikut kencanmu itu. Aku sibuk!" teriak Sakura, kencang. "Awas!" Sakura berusaha jalan, namun Sasuke sengaja menghalangi jalannya.
"Awas!" Sakura melangkah ke kanan, Sasukepun menutupi jalannya di kanan. Sakura melangkah ke kiri, Sasukepun menutupi jalannya di kiri. Emosi Sakura sudah di ubun-ubun kepalanya. Ini cowok minta dihajar atau apasih?
"KAU INI KENAPA SIH?!" Kali ini Sakura benar-benar tidak bisa mengontrol kemarahannya lagi.
"Kan aku sudah bilang, aku akan menjemputmu, nona keras kepala!" jawab Sasuke, sambil memutarkan bola matanya.
"DENGAR, YA, UCHIHA. AKU. SEDANG. TIDAK. BISA. IKUT. KENCAN. DENGANMU. AKU. ADA. URUSAN. PENTING!"
"Ya sudah," jawab Sasuke, dingin. Gaya bicaranya sama seperti saat Gaara berbicara tadi.
"Ya sudah kenapa, sih?" Sakura mengerutkan dahinya.
"Hari ini, aku jadi supir pribadimu, nona. Jadi, kemanapun anda akan pergi, aku antar, biar tidak sia-sia kedatanganku ke mari." jawab Sasuke, enteng.
"Memangnya siapa juga yang menyuruhmu datang ke mari?"
Sasuke menggerutu kesal. Ia menatap tajam gadis itu dan mendapat tatapan balasan yang sama tajamnya yang seolah berkata 'apa-kau-liat-liat?!' dari gadis yang dijodohkan dengannya itu. Akhirnya, mau tidak mau dia pakai cara kejam kali ini…
"…"
"SASUKE, TURUNKAN. AKU. SEKARANG. JUGA!" teriak Sakura, meronta-ronta ingin turun dari gendongan Sasuke yang ala bridal style itu. Teriakan Sakura membuat banyak orang memandangi mereka dengan berbagai macam arti saat melewati kedua pasangan itu. Ada yang merasa malu, merasa bangga, dan semacamnya.
"Kau ini masuk ke mobilku susah sekali, sih, seperti anak kecil, tahu tidak?" semprot Sasuke. Ia memasukkan Sakura ke dalam mobilnya di bangku depan samping bangku supir. Setelah itu, ia segera menutup pintu mobil samping Sakura dan kembali ke bangku supirnya itu. "Jadi, mau kemana kita?" tanya Sasuke, senang dengan senyum sumringah karena akhirnya Sakura naik mobilnya juga.
"Alamat yang kuberikan kemarin."
"Hn, memangnya di sana tempat tinggal, sih? Kenapa dari kemarin kau kesana terus?" tanya Sasuke, penasaran.
"Untuk apa kau tahu, sih? Sudahlah antarkan aku saja, kalau kau tidak mau kena bogeman super dariku. Lama-lama tingkahmu itu menyebalkan, tahu tidak?!" balas Sakura, kasar. Ia sudah kesal daritadi pagi subuh dengan pria di sampingnya ini—rasanya ia tuh punya dendam kesumat yang ingin dilampiaskannya sekarang juga.
Sasuke mengernyitkan dahinya. Ia merasa Sakura sedang mengalami masa yang dialami wanita setiap satu bulan sekali. Tidak biasanya dia segalak ini, hn. Sasuke memandangi Sakura yang hanya sedaritadi memerhatikan jalan-jalan di sekitarnya lewat jendela mobil. Ingin rasanya, Sasuke bertanya apa yang terjadi pada gadis yang suka tertawa ini, tapi takutnya kena bogemannya.
Jadi selama perjalanan, mereka hanya diam seribu bahasa.
.
.
"Sudah, kau pulang, sana!" usir Sakura, pada Sasuke. Namun, ketika hendak masuk ke apartemen Gaara, Sasuke nekat mengikutinya. Hal ini membuat Sakura gerah. Jadi, selama perjalanan menuju ruangan Gaara, Sakura hanya menekuk wajahnya, apalagi disaat-saat tertentu dimana Sasuke sengaja mengusilinya.
Tok…Tok…Tok…
"Hai Sakura—eh—" sapa Gaara, yang tiba-tiba kaget melihat pemuda di samping Sakura, karena mereka sudah saling kenal sebelumnya, "Uchiha? Uchiha Sasuke?"
"Hn, hai juga Sabaku." balas Sasuke, sambil mengeluarkan seringai mematikannya. "Apa kabar?"
"Baik-baik saja. Silahkan masuk!" ajak Gaara, sambil tersenyum. Sasuke segera memasuki apartemen Gaara, namun, Sakura hanya terbengong-bengong di depan pintu masuk apartemen Gaara itu. Ia memasang wajah idiot, menurut Sasuke.
"Ayo masuk, baka!" suruh Sasuke, "Mau apalagi kau di sana?"
"Eh, Sasuke, kau kenal dengan Gaara-kun?" bisik Sakura, sehingga tidak di dengar oleh Gaara.
"Gaara-kun? Kenapa giliran dirinya diberi suffix –kun, sementara aku hanya kau panggil seenak jidatmu saja?!" bantah Sasuke, kesal, dengan suara agak keras. Sakura segera menutup mulut Sasuke, kencang. "Bodoh, jangan keras-keras!"
"Sasuke, Sak—Eh, kalian sedang apa?" tanya Gaara, dengan wajahnya yang polos.
"Eh, tidak, kok, Ga—Gaara-kun, tadi Sasuke mual-mual, jadi aku tutup mulutnya, biar tidak mengeluarkan isinya. Hehehe," jawab Sakura, dengan karang-karangannya yang jenius itu.
"Kau…hamil, Sas?" tanya Gaara, dengan tampang polosnya yang rasanya ingin sekali Sasuke layangkan satu tamparan. Sumpah, ini cowok polosnya kelewatan banget, pikir Sasuke.
"Terserah," jawab Sasuke. Dalam hatinya, ia merutuki Sakura yang memilih alasan bodoh di depan Gaara. Bodoh memang gadis ini kadang, tapi gitu-gitu tetap saja Sasuke menyayanginya.
—eh?
Menyanginya?
Bodoh memang. Sakura membuat dunianya gila. Sakura membuatnya menjadi berbeda. Gadis berambut merah muda itu membuatnya sangat semangat setiap harinya. Mengingat wajahnya, tawanya, senyumnya, matanya, dan ciumannya. Setiap hari, pikirannya selalu tidak tenang. Pernah suatu hari, ia kepergok Naruto sedang melamun padahal sepanjang tadi Naruto sedang panjang lebar menjelaskan soal ini dan itu, tapi tak ada satupun yang ia dengar. Sebenarnya Sasuke kenapa sih? Ia merasa seperti ada kupu-kupu berterbangan di perutnya ketika sedang berkelahi dengan Sakura. Ia merasa tidak ingin jauh darinya. Sayang padanya? Ah, itu paling angin berlalu saja. Sasuke mencoba untuk menahan perasaannya.
SASUKE'S POV
Tuhkan, perasaan sesak ini datang, kenapa sih denganku? Kenapa aku begitu tidak suka melihat keakraban Sakura dan Gaara, apalagi ia memanggilnya dengan suffix –kun. Kami-sama, aku ini kenapa, sih?
Aku heran rasanya aku ingin sekali menggampar pria berambut merah itu. Berani-beraninya dia menyentuh tangan Sakura. Aku tahu mereka memang sedang melakukan bersih-bersih di apartemennya ini, tapi, kenapa aku begitu tidak suka sekali dengan adegan konyol tadi? Perasaan ini muncul juga seperti halnya saat aku mendapati Sakura sedang berbicara bersama Naruto, tapi kali ini lebih sesak. Aku tidak suka.
What's mine is always be mine.
Sasuke jatuh cinta, heh?
END OF SASUKE'S POV
NORMAL POV
Sasuke segera menepuk bahunya dan menepis segala pemikirannya tadi. Sakura yang memerhatikan raut wajah Sasuke daritadi dibuat bingung, akhirnya ia memutuskan untuk bertanya juga, "Kau kenapa, sih? Wajahmu kusut begitu?"
"Tidak. Kau kepingin tahu sekali, sih!" jawab Sasuke, ketus. Eh, dia kenapa? Mau belas dendam karena perlakuan Sakura tadi pagi atau apa?
Sasuke berjalan menuju sofa di ruang tamu. Dari kejauhan, ia melihat Sakura asyik bercanda dengan Gaara. Mereka tertawa bersama, terbatuk-batuk karena ulah Sakura meniup debu ke muka Gaara, dan melakukan hal gila lain. Mereka itu beres-beres atau lagi bermesraan, sih?
CUKUP! Sasuke sudah malas melihat pemandangan menyakitkan ini. Dia segera keluar dari apartemen Gaara dan menutup pintunya dengan kasar mengakibatkan bunyi yang cukup mengagetkan Gaara dan Sakura.
BRAKK!
"Dia kenapa, sih?" gumam Sakura, "Tingkahnya daritadi kayak cewek lagi dapet. Tadi saja ceria sekali mengajakku pergi bersamanya, sekarang tingkahnya makin menyebalkan."
"Itu karena kau tidak peka, baka!" balas Gaara, sambil memukul jidat Sakura yang lebar. Sakura meringis kesakitan, "Tidak peka apaan sih?"
"Masih tanya lagi! Cepat kejar calon tunanganmu itu sebelum aku suruh kau membersihkan kamar mandiku!" suruh Gaara.
"Eh, darimana kau tahu dia calon tunanganku?" tanya Sakura, bingung.
"Sudah sana kejar dia! Kau ini banyak sekali sih pertanyaannya…Cepat!" usir Gaara.
Tanpa berpikir panjang lagi, Sakura segera berlari menyusul Sasuke. Sementara di apartemen Gaara, terlihat Gaara sedang tersenyum kecut dan memandang dirinya ke cermin di depannya, "KAU PENGECUT, SABAKU NO GAARA! PAYAH!"
.
.
.
Jadi, di sinilah Sasuke berada. Di dalam mobil sport berwarna hitamnya itu, ia sedang duduk termenung sambil memegangi dadanya yang masih terasa sakit. Rasanya seperti ia baru tertembak peluru pistol. Dari kaca spion mobilnya, dipandanginya sosok mungil gadis berambut merah muda sedang berlari ke arah mobilnya sambil tersenyum lebar. Sasuke suka tawanya, senyumnya, suaranya, matanya. STOP! Cukup memikirkan tentang dirinya, seperti gadis itu akan melakukan hal yang sama saja.
"Cih…"
TOK…TOK…TOK…
Sakura mengetuk kaca jendela mobil pemuda tersebut. Sasuke membuka jendelanya dan menatap gadis itu malas. "Ada apa lagi?!" tanya Sasuke, ketus. Hal itu membuat Sakura merasa aneh pada pria di depannya ini—ia merasa tidak melakukan kesalahan apapun di depannya—lalu salah Sakura itu apa?
"Kau kenapa, sih? Gayamu tadi tidak keren, tahu tidak?" balas Sakura, dengan tatapan gusar, "pakai acara membanting pintu apartemen Gaara-kun segala. Kau pikir itu lucu, hah?"
Cih! Gaara-kun lagi yang ia sebut. Kenapa tidak sekali-kali gadis muda ini memanggil namanya dengan suffix seperti itu juga? Percuma mengharapkannya juga, dia tidak peka. Susah memang jatuh cinta pada orang yang tidak peka, bawaannya mau emosi melulu. Dikasih kode, tidak mengerti-ngerti juga. Tapi ya wajar sih Sakura kan bukan detektif yang bisa baca berbagai macam kode—apalagi kalau kodenya tidak waras seperti yang tadi Sasuke lakukan—sial!
"Mau pulang atau tidak?" tanya Sasuke, masih dengan wajah cemberut.
"Aku mau pulang, kalau kau tidak cemberut lagi, Sasuke!" jawab Sakura, kesal. Ia langsung memasuki mobil dan duduk di bangku depan sebelah Sasuke.
Sasuke menatap gadis itu masuk ke dalam mobilnya. Ia merasa Sakura memang sedang kelelahan, dan itu membuatnya menjadi merasa bersalah. Tapi, karena gengsi dan egonya Uchiha itu sebesar monster kyubi, maka ia tidak berniat untuk minta maaf duluan. Sasuke melamun lagi.
"Kok tidak jalan mobilnya?" tanya Sakura.
"…"
"Sasuke, hello!" seru Sakura, sambil menjentikkan jari-jarinya di depan wajah Sasuke.
"…"
"Sasuke, aku berbicara kepadamu, ya!"
"Sasuke No Baka!"
"Sasuke bodoh!"
"Sasuke pantat ayam!"
Sasuke sadar dengan segala panggilan aneh Sakura padanya. Benarkan! Sakura hanya memanggil Gaara saja dengan suffix –kun, sementara padanya adalah semua panggilan ngaco karangan Sakura sendiri.
"…"
"Sasukeeee…"
"Sasuke, ayo jalan!"
Sasuke tetap pada posisinya—pura-pura melamun. Sampai…
"Sasuke-kun..."
TUINGG!
"Eh, iya, Sakura, ada apa?" tanya Sasuke, berpura-pura baru sadar dari lamunannya, sangat senang karena Sakura baru saja memenuhi keinginannya sedaritadi.
"Kita tidak pulang?" tanya Sakura, dengan tatapan malasnya kepada Sasuke.
"Hn,"
.
.
.
"Sakura…" panggil Sasuke, memecahkan keheningan di dalam mobil.
"Apa?" balas Sakura, membalik badannya dan menatap wajah Uchiha Sasuke.
Kalau dilihat-lihat, wajah Sasuke tampan juga. Alis matanya, bola mata obsidiannya yang hitam gelap, hidung mancungnya, dan bibirnya yang hanya terlihat seperti garis tipis. Sasuke benar-benar seperti aktor Hollywood. Badannya yang proposional—sixpack—dan tinggi serta berat badan yang ideal. Pantas banyak wanita yang tergila-gila padanya. Sakura jadi merasa beruntung bisa memilikinya.
Memilikinya?—eh?
Sakura menghela nafasnya panjang. Pikiran ini harus segera dibuang!
"Sakura, benci aku memintanya, tapi bolehkah aku minta sesuatu darimu untuk kali ini saja?" pinta Sasuke, dengan suara agak memelas.
"Hm, asal tidak yang aneh-aneh!"
"Aku ingin kau –glek- hufft, memanggilku seperti tadi," pinta Sasuke, "bisakah?"
"Yang mana?" tanya Sakura.
"Pikir sendiri!" jawab Sasuke, ketus.
"Jelek wajahmu kalau sedang mengambek, tahu tidak?" ejek Sakura, sambil menjulurkan lidahnya.
"Aku sedang malas berdebat padamu. Jadi, kumohon ya dengan permintaanku tadi!"
Sakura terus berpikir apa sebenarnya kemauan pria di sampingnya ini. Sasuke hanya mendapati Sakura sedang memandangi jalan di sekitar saja lewat jendela mobil. Sudah. Musnahlah harapannya dan memang ia yakin dari awal kalau Sakura tidak akan sadar. Sasuke menahan emosinya sambil bergumam, "Dasar tidak peka!"
Tiba-tiba Sakura membalik badannya sambil tersenyum lebar, "Siapa yang tidak peka, Sasuke-KUN?"
EH?! Sasuke blushing.
"Ya mulai sekarang panggil aku dengan nama itu!" suruh Sasuke, sambil menjaga imagenya. Sakura hanya terkikik mendengarnya. Sakura memegang wajah tampan Sasuke yang sedang menyetir tersebut, rasanya wajah Sasuke sangat panas, tapi bukan karena sakit, melainkan suatu perasaan bahagia tersendiri.
"Kau tahu, Sasuke, aku memang tidak menyukai buah tomat. Tapi aku rasa aku menyukai tomat yang ada di wajahmu."—CUP—Ciuman dari bibir Sakura jatuh tepat di wajah Sasuke yang memerah. Sasukepun menghentikan mobilnya dan menatap wajah Sakura intens. Sakura tersenyum malu-malu kepada Sasuke dan setelah itu karena merasa aneh terus diperhatikan, akhirnya Sakura sudah menebak apa yang ada di pikiran Uchiha Sasuke ini, "Mengapa? Mau minta lebih? Belum boleh, Sasuke-kun!"
Blushing!…Sasuke langsung melanjutkan perjalanannya dengan teriakan kemenangan dalam hati. Kemenangan telah mendapatkan Sakura secara tidak langsung dan walau memang belum sepenuhnya. Tapi, lihat saja, Sakura akan menjadi miliknya. Persetan Gaara atau siapapun nantinya yang mengganggu langkahnya untuk mendapatkan Sakura.
Iya, khusus untuk Sakura-channya.
TBC~~~~~~~~~
A/N: HOEKK:') AKHIRNYA SELESAI JUGA BAB INI. ADUH MAAF YA KALAU AKU LAMA BANGET UPDATENYA. YA SUDAH SETIDAKNYA AKU SUDAH BERUSAHA UNTUK MENYENANGKAN KEMBALI PARA REVIEWERKU. TERIMA KASIH ATAS REVIEW-REVIEW KALIAN YANG UDAH MENDUKUNG AKU UNTUK TERUS MELANJUTKAN FIC INI. OKELAH, AKHIR KATA, ARIGATO KARENA TELAH MEMBACA FIC INI, HARAPANKU YA MOHON DI REVIEW LAH YA~ I'M BEGGING YOU *MATA MELAS*. OKAY, SEE YOU IN THE NEXT CHAPTER! MUAHMUAH;*
