previously

"Kenapa?" Gadis berponi samping itu mengadah pun tersenyum lebar, memamerkan deretan gigi putihnya. Tangan kecilnya pun segera menyentuh lengan Nethere. Erat. "Tadi Paman bilang lapar, kan?"

"H-Hah?"

"Kalau Paman lapar, datang yuk ke rumah makanku..."

.

.

"Ayo, Paman! Kita ke rumah makanku, ya!"

Pria berdarah Eropa itu hanya bisa memasang wajah datar saat ia merasakan kehadiran dua tangan kecil yang mendorong punggungnya dari belakang. Jelas dari ukuran tubuhnya dan gadis Indonesia itu bertolak belakang, namun ia tetap memaksa Neth untuk ikut. Sebenarnya Neth bisa menahan ataupun menyingkirkannya dengan satu tangan. Satu jentikan pun bisa. Tapi masalahnya ada dua hal yang terus membuat diri tidak menolak secara telak.

Pertama, dia memang sangat lapar. Kedua, dia suka disentuh gadis muda.

Oke, ia tak peduli jika ada orang yang mengatainya lolicon atau apa. Toh, ini urusannya.

Hanya saja Nethere teringat sesuatu. Segeralah ia berbalik dan mengacungkan jari telunjuknya ke depan wajah Nesia. "Dengar, nona. Saya memang lapar, tapi saya tidak lagi membawa uang."

"Tidak apa! Aku traktir!"

Nethere van Persie mengernyit. Apa dia bilang? Traktir?

kenapa dia mau menraktir orang asing sepertinya?

Apa ada udang di balik batu, eh?

.

.

.

LOVELY—FOOD

Hetalia by Hidekazu Himaruya

AU—Alternate Universe

Pieree Present...

(Netherlands—Fem!Indonesia)

.

.

two of two

-makanan-

.

.

[Nethere van Persie (Netherlands) & Nesia Puteri (Indonesia)]

.

.

"Kita sudah sampai..."

Setelah menempuh perjalanan selama bermenit-menit, Neth akhirnya sampai ke depan sebuah rumah makan kumuh yang cukup kecil. Letaknya bisa terbilang di salah satu selipan ruko-ruko yang terjejer asal di pinggir jalan. Sebuah tempat usaha yang dibuka di sela dua bangunan.

"Ini... apaan?"

"Restoranku dong..." Nesia bangga.

Sebenarnya sih lebih bisa dibilang warung dibandingkan restoran.

Iris jade milik Neth memandangi bangunan di depannya. Dinding dari kayu, beratap seng dan terjejer meja dan bangku bambu buatan sendiri.

"Tempat ini?"

"Iya. Ibuku memasak segala makanan, sedangkan aku yang melayani pelanggan..."

Neth pun menghembuskan nafas malas. Dia perhatikan secara menyeluruh penampilan rumah makan itu. Sedikit luas, memang. Tapi letaknya tidak strategis—terlalu di belakang, dan terkesan nyempil. Segala perabotannya pun masih terbuat dari perpaduan bambu dan kayu. Mungkin bisa dibilang, rumah makan milik Nesia adalah salah satu rumah makan termenyedihkan di deretan sini.

"Silahkan duduk, Tuan Turis!"

Berhubung tersedia meja outdoor, Nesia menarik Neth ke salah satu bangku di depan bangunan, dan segera memaksanya untuk duduk. Pria bertubuh tinggi itu mengangguk pelan. Jika ia bisa terus terang, mungkin dia akan menolak karena enggan menempati tempat yang kotor. Tapi setidaknya ini masih lebih baik di bandingkan tempat duduk di halte yang berkarat. Terlebih lagi tempat ini lumayan teduh, karena sinar mataharinya telah dihalangi oleh bangunan besar di depannya.

"Oke... sekarang mau pesan apa, Tuan Turis?"

"Ayam kentucky." Ia menjawab sekenanya.

"Kentucky?"

"Ayam krispi." Neth segera meralat.

"Kami tidak menyediakan ayam yang seperti itu..."

"Kalau begitu salad."

"Salad itu apa?" Untuk kedua kalinya Nesia mengernyit.

Neth terdiam kebingungan. Menurutnya pribadi, salad merupakan menu tersederhana dari segala hal yang biasanya ia makan. Cara membuatnya pun mudah. Tapi kenapa di sini malah tidak ada sih?

"Lebih baik kau yang memberitahuku menu apa saja yang ada di sini..."

"Hmm... iya sih. Benar juga." Tangan Nesia yang sedang memegang kertas pesanan pun memiringkan bibirnya. "Bagaimana kalau telur balado? Sate? Atau rendang?"

Kali ini nama-nama itulah yang membuat kening Neth berkedut tak suka.

"Aku tidak suka makanan seperti itu."

"Hei, Paman. Sudah bagus kuberi makanan gratis..." Nesia menggerutu, membuat kedua mata hijau milik Neth meliriknya.

"Jelas-jelas kau yang memaksaku ke sini."

Nesia menggembungkan pipi. Benar-benar turis tak tau diuntung. Huh.

Kalau saja Nesia bukan orang yang membutuhkan bantuan dari turis tersebut, pasti ia akan menyatakan kalimat itu dengan gamblang di depannya. Tapi sayang hal itu tak bisa ia lakukan. Jadi cuma gerutuan kesal saja yang menggema di dalam hatinya.

Ia pun duduk di depan Nethere. Kali ini kedua matanya memicing, membuat gadis berwajah ayu itu terlihat sedikit lebih sinis.

"Dengar... sebenarnya aku mengundangmu ke sini untuk menarik minat pembeli. Siapa tau dengan adanya kehadiran bule di tempat maka ini, akan ada beberapa orang yang tertarik untuk datang. Jadi aku minta tolong supaya Paman—"

"Oh..." Neth menangkap apa maksudnya. Dirinya lumayan sweatdrop. "Jadi aku objek promosi, dan makanan gratis yang kau tawarkan adalah bayarannya?"

"Tepat sekali, Paman." Ia mengangguk sedih. "Sebenarnya aku cukup terkejut kau tidak langsung menolakku saat kuajak. Biasanya tidak ada loh yang mau mampir. Barangkali karena bentuk rumah makan ini yang seperti bangunan semi-rubuh, kali ya."

Neth menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Kenapa sekarang dia malah mendengarkan curhatan gadis berusia awal 20 tahunan itu sih?

"Ya, sudah. Terserahlah kau saja mau memberiku makanan apa." Kata Neth. Dirinya sedikit iba. "Yang penting aku tak perlu bayar."

"Eh? Benar, ya?"

"Iya. Tapi abis ini aku langsung pergi."

Nesia mengangguk senang. Matanya yang berbinar terus ke arah mata Neth. "Masakan yang akan kubawakan untukmu masakan khas Indonesia loh."

"Iya."

"Aku tidak menjamin kau suka, tapi—"

"Iya." Neth menyelanya. Kali ini dengan penekanan.

Nesia tersenyum saat mendengar jawaban Neth. Segeralah ia berdiri dan kemudian berlari menuju dapur. "Ibu! Aku minta nasi padang komplit sama es jeruknya satu!"

Padahal saat itu Nesia sedang berada di rumah, tapi suara teriakan itu sampai terdengar sampai keluar. Neth pun mendengus geli.

Dasar anak-anak...

.

.

lo-ve-ly—fo-od—pi-e-ree

.

.

"Taraaa ~!"

Nesia berseru senang saat dirinya meletakkan banyak makanan ke permukaan meja Nethere van Persie. Neth mengernyit. Tak menghiraukan wajah heran Neth kepadanya, Nesia meletakkan piring dan gelas ke meja dan memeluk papan nampannya sesudah tak ada lagi benda yang tertampung di sana.

"Selamat menikmati, Paman Turis! Silahkan penuhi perut keronconganmu dengan ini!"

Neth memilih diam ketika ia melihat sebuah piring yang berisi segunung nasi. Lauk pauknya yang beragam dipisahkan di berbagai piring kecil. Ada rendang, ayam kare, martabak telur, sikil, telur balado, sayur dan sate. Dalam hati Neth mengaduh miris. Ia sama sekali tak berselera kala disodorkan makanan-makanan berlemak seperti ini.

Ia pun sentuh permukaan daging berwarna hitam kecoklatan itu dengan ujung jarinya.

"ini apa?"

"Rendang."

"Lalu yang ini..." Disentuhnya juga sebuah makanan yang asing di makanannya. "Sup?"

"Bukan. Itu sayur nangka."

"Sayur? Sup sayur? Lalu kenapa warnanya aneh seperti ini?"

"Ya memangnya kenapa?"

"Semua makanan ini... aneh." Neth memundurkan diri. Wajahnya terlihat jijik.

Kesal, akhirnya Nesia kembali turun tangan. Ia tuangkan segala daging, telur dan sayur yang telah disediakannya ke atas nasi. Kemudian ia menekan-nekannya dengan sendok.

"Hei, apa yang kau lakukan!"

"Ini makanan indonesia, Paman!" Nesia bersungut kesal. Dia sendok nasi dan secuil rendang dan mengangkatnya untuk menyuapi Nethere. "Lebih baik Anda cepat makan tanpa banyak omong!"

Neth menghela nafas.

"Iya, iya. Aku bisa makan sendiri."

Dia ambil sendok dari tangan Nesia dan memandanginya.

Ah, seandainya ia ada uang, mungkin ia akan meminta delivery dari restoran fast food di sekitar sini. Bukan malah dibuat merana oleh anak kecil yang keras hati seperti gadis ini.

"Kenapa diam? Ayo dong di makan..." Nesia tampak tak sabar melihat reaksi pria itu makan.

Neth pun menghela nafas dan mengangguk singkat. Berhubung perutnya sudah berbunyi dari tadi, ya apa boleh buat?

Walaupun menurut dirinya pribadi bentuk makanan khas daerah Padang ini terlihat aneh, setidaknya tak ada salahnya juga untuk mencoba. Apalagi ia mendapatkannya secara cuma-cuma. Gadis beriris gelap itu juga terus memandanginya dengan mata berbinar. Dia jadi agak sungkan untuk menjauhkan kembali sendokannya.

Akhirnya Nethere memakannya.

Hap.

Makanan itu masuk ke mulut Neth, dan kemudian... dia terbatuk.

"Uhuk!"

"Uhuk! Uhk—uhuk!"

Berkali-kali.

Nesia khawatir seketika. Dia tepuki punggung Neth sambil bertanya dengan cemas. "Ada apa, Paman? Masakan Ibuku benar-benar tidak cocok ya di lidahmu? Atau kau keracunan karena alergi sama salah satu bahan yang terkandung di dalamnya?"

Nesia awalnya sempat sedih. Ia kira saat mencoba makanannya, Neth bisa berubah pikiran, atau setidaknya mengakui bahwa masakan Indonesia itu enak. Tapi yang dia dapatkan malah situasi yang seperti ini. Benar-benar menyedihkan. Namun tiba-tiba saja Neth mencengkram pergelangan tangannya. Nesia terkejut dan kemudian bertanya.

"A-Ada apa?"

Neth terdiam. Kini mulutnya telah kosong sebab ia sudah menelan makanannya dengan susah payah. Ia masih menunduk. Dan ketika beberapa detik telah berselang, akhirnya pria itu mengangkat wajahnya dan memandangi Nesia dengan raut wajah serius.

"Saat aku memakan makanan ini... rasanya seperti memenangkan Liga Eropa..." Dirinya menelan ludah. Ia kembali menyendok segala macam daging dan juga nasi lembut yang masih hangat itu. Neth memakannya dengan lahap dan cepat. "Sial, ini terlalu enak!"

Nesia terbelalak luar biasa.

Mendengar kalimat dari pria bule itu, kedua matanya berair, terharu. Senyum lebar mengembang di wajah manisnya. Ah, dia turut bahagia mendengar pria itu menyukai masakan sang ibu. Jadi ia bisa duduk lega deh di depannya sambil membagi cengirannya.

"Makan yang banyak ya, Paman... terus jangan cepat-cepat kalau makan. Kalau tersedak dan muntah kan repot..." Katanya sambil mendekatkan es jeruk kepada Nethere yang lagi kalap. Neth nurut dan meminumnya dengan buru-buru. Nesia terkikik geli. "Namaku Nesia Puteri. Nama Paman siapa?"

"Nethere van Persie."

"Hmm..."

Nesia mengangguk singkat. Rasanya ia pernah mendengar nama 'Persie' itu entah di mana. Tapi karena tidak tau, abaikan sajalah.

"Hei, liat, dia semangat sekali makannya."

Suara tadi membuat Nesia menoleh. Dia lihat ada seorang ibu-ibu yang berbicara ke temannya. Mata mereka melirik lurus ke arah Neth yang lagi makan.

"Kak, pesan nasi padang komplitnya satu..."

Lagi-lagi Nesia dikejutkan oleh sebuah suara. Kali ini seorang anak kecil. Ia menghampirinya dengan melambaikan uang kertas. Dari penampilannya sudah jelas ia akan membeli makanan dari restoran kecilnya.

Karenanya dengan semangat Nesia menyuruhnya menunggu selagi ia ke dapur, melayani pesanan anak kecil itu.

Ternyata rencananya berjalan dengan sukses. Jika ada seorang turis yang kelihatan makan dengan heboh di warung makannya, sudah jelas kan hal tersebut akan menarik minat para pelanggan lain? Selain karena makanannya terjamin enak—bule pun mengakuinya—Neth terlihat sangat gelap mata kala ia mengunyah nasi. Dalam hitungan menit pun warung Nesia mulai ramai.

Ada yang cuma ingin melihat bule makan dari jarak yang dekat, dan juga ada yang datang ke sana untuk ikut mencicipi masakan. Kebutuhan mereka beragam, tapi ujung-ujungnya pasti ada salah satu menu yang ikut mereka pesan agar tidak dikira hanya numpang duduk.

Hh, tidak sia-sia dia memberikan jatah makan siangnya ke pria asing itu.

"Mau tambah nasi, Tuan Turis?" Saat lenggang ia menghampiri meja Neth lagi.

"Boleh."

Hari ini benar-benar menyenangkan.

.

.

lo-ve-ly—fo-od—pi-e-ree

.

.

"Fuh..."

Setelah perutnya kenyang, Neth pun menghela nafasnya panjang-panjang. Perutnya benar-benar terasa kencang dan berat. Bahkan sampai dirinya membungkuk lemas di atas meja makan.

"Kau sudah kenyang, Paman?" Nesia duduk di hadapannya.

"Ya."

"Ucapkan apa, hayo?"

"Apa? Ucapan?" Neth membuka matanya. "Ah, ya. Terima kasih atas hidangannya."

Nesia tertawa pelan. "Jadi... Paman sudah suka makanan Indoneisa?"

Neth menguap perlahan. "Sebenarnya berat untuk mengakui ini kepadamu, tapi memang iya jawabannya." Katanya sambil menepuk perutnya. "Kalau adadelivery makanan seperti ini di kotaku, mungkin aku akan memesannya sesering mungkin. Hanya memakannya sekali saja sudah bisa membuatku yakin bahwa aku tak akan kelaparan lagi."

"Baguslah." Nesia mengangguk senang. Apalagi saat ia meliaht senyum irit yang dikeluarkan neth saat pria itu menyatakan kalimatnya. "Aku juga suka cara kamu makan. Kau benar-benar berperut besar."

"Wajar saja, aku memang atlet."

"Atlet?"

"Pemain bola, untuk singkatnya."

"Wah, aku baru tau ada pemain bola sepertimu." Nesia tertawa dengan jujur. Meski agak nyelekit Neth tak begitu sakit hati. Dirinya sudah terlalu terkenal di seluruh dunia internasional. Jadi apabila ada yang tidak mengenalinya, paling dia hanyalah seorang manusia yang jarang menonton siaran olahraga. Seperti contohnya Nesia ini. Bahkan Neth pun ragu Nesia mempunyai TV untuk menonton.

Set.

Neth pun berdiri. Lalu ia menampilkan senyum terbaiknya. "Nah, sekarang aku harus pergi." Katanya, pamit. "Sampaikan salamku untuk Ibumu. Masakannya luar biasa."

Nesia mengangguk, dan mereka pun berbagi senyuman.

"Untuk sekarang, mungkin aku belum bisa membayar apa-apa. Tapi semoga saja kapan-kapan aku bisa menggantinya." Katanya sebelum benar-benar berbalik. "Sampai jumpa."

Neth pun melangkah. Dan Nesia melambaikan tangan.

"Sampai jumpa juga, Paman!"

Nesia tersenyum sedih. Ia pasti akan merindukan wajah bahagia turis tersebut saat memakan masakan di restorannya.

.

.

extra

.

.

"Nesia, dari tadi siang rumah makan kita selalu ramai, ya?"

Tepat di jam tujuh malam, Nesia yang sedang membantu ibunya mencuci piring pun mengangguk. "Iya, itu berkat seorang bule yang makan di sini, Bu. Cara makannya kayak orang hutan. Makanya jadi banyak yang nyoba masakan Ibu dan ketagihan."

Ibu tua itu tertawa ringan. "Baguslah kalau seperti itu. Ibu juga senang kalau ada yang menyukai masakan Ibu."

"Iya..."

Tok tok tok.

Mendadak suara itu membuat Nesia menoleh ke belakang. "Eh? Kok ada tamu di malam seperti ini, ya?"

"Ibu sepertinya lupa menaruh plang 'tutup' di depan pintu."

Setelah mencuci tangannya, Nesia berjalan cepat ke pintu depan. Ia membuka pintu yang sebelumnya telah ia gembok dari dalam.

Cklek.

"Selamat malam—"

Kalimat Nesia tersendat. Ia terlebih dulu dibuat kaget saat ada serombongan pria dewasa bertubuh tinggi yang berdiri depan restorannya. Orang-orang itu berambut pirang pucat. Irisnya berwarna. Kulitnya putih. Usia kisaran 20-30 tahun. Dan tatapan mereka... menatap Nesia dengan kepala yang sedikit tertunduk.

Nesia merasa dirinya sedang dikelilingi manusia raksasa.

Dan mereka jika dilihat-lihat, mereka semua seperti... altlet sepak bola.

"Hei, kau..."

Suara itu berhasil membuat Nesia terperangah. Ia masih hafal suara bariton yang terdengar khas itu. Kala ia menghadap ke arah kanan, Nethere sedang mengibaskan tangan kepadanya. "Kenapa bengong?"

"Ti-Tidak... a-aku hanya..."

"Aku membawa teman-temanku. Katanya mereka mau makan di sini." Kata Neth. Sebuah senyum tipis menyertainya. "Tapi tenang, kali ini aku akan membayar. Sepuluh kali lipat, malah."

"E-Eh!? Sepuluh?"

"Iyaaa, ayo makan! Perutku sudah kelaparan!" Sang kiper menerobos masuk, menjadikan dirinya sebagai orang pertama yang duduk di kursi bambu yang Nesia sediakan untuk tamunya. Makan yang entahlah bisa seberapa lama menampung bobot dirinya. "Saya mau pesan nasi padang seperti yang Neth ceritakan kepadaku."

Nesia masih terdiam di ambang pintu, sedangkan tim neth sudah mengerubuni ruangan restorannya.

Puk.

Ada yang menepuk pelan bahunya. Dia menoleh dan menemukan Neth yang tersenyum. "Anggap aja ini ucapan terima kasih, karena telah mengenalkanku ke kuliner Indonesia yang mengagumkan."

Nesia tersenyum dan kemudian membalas ucapannya dengan senyuam lebar. "Terima kasih karena sudah datang kembali..."

Ia hapus setitik air mata bahagia yang mewarnai mataya.

"Terima kasih..."

.

.

the end

.

.

my note

Fict ini akhirnya kelar juga, huhu. Sebenernya sih pas update chap pertama, aku udah nyaris selesein chap dua. Tapi karena aku dapet berita 'yang Van Persie muji makanan Indonesia = hoax' aku pundung besar-besaran dan ngga mood ngelanjutin ini. Sedih, ya. Tapi semoga kalian tetep suka sama ending Lovely Food.

.

.

replies side

Neth lollicon. Lollicon di sini cuma fanservice kok hehe. Di sini AU, ya? Iyaa. Neth jadi orang Belanda sedangkan Nesia jadi orang Indonesia. Tinggi amat 190 cm. Kata mbah gugel, Belanda itu negara yang penduduknya memang pada tinggi semua :) Aku sepakat Nethere mirip Van Persie. Yeaa. Mana food-nya? Di chap ini. Kasian Neth dipanggil Paman. Ahaha. Sayang bukan fict romantis. Iya sih :)a

.

.

warm regards,

Pieree...