GAIJIN / PART 2

Author : Maulida NaraNaruHina a.k.a NaraGirl
Genre : Romance / Angst
Pair : NaruHina and Other
Rating : T
Warning : TYPO, ABAL, OOC, AGAK BERBEDA. FF INI HANYA TERINSPIRASI DARI BEBERAPA KEJADIAN DAN FAKTA KEBUDAYAAN YANG ADA DIJEPANG. KECUALI BUDAYA OPERASI PLASTIK YANG AKU AMBIL DARI BUDAYA KOREA.

"Tunggu sebentar, lepaskan aku! Cepat lepaskan aku!

Hinata terus meronta dan berusaha untuk memisahkan kedua lengannya dari tangan dua orang temannya, namun sayang usahanya sia-sia. Cengkraman temannya lebih kuat daripada tenanganya. Hinata pasrah dan menyerah untuk melarikan diri. Dia masih tak mengerti kenapa teman-teman barunya bersikap seperti ini kepadanya, kenapa warga asing mengalami tindak rasisme dan diskriminasi dari orang-orang sekitarnya. Jika dia mengalami hal ini, pastidi luar sana banyak orang asing yang mengalami hal yang sama seperti dirinya. Bagi Hinata ini semua sangat tak adil, bukankah manusia itu sama tak peduli apapun warna kulitnya atau dimana dia berasal. Hinata tak menyangka di negara Jepang yang terkenal maju dan memilki penduduk yang pintar ternyata masih mewarisi sikap purbakalanya. Hinata semakin rindu pada Indonesia yang merupakan tanah kelahiran Ibunya. Walaupun Indonesia merupakan negara berkembang namun disana ia merasa lebih nyaman. Penduduk asli Indonesia selalu menyapanya dengan ramah bahkan teman-temannya sangat menyukainya. Kemanapun Hinata pergi, disanalah ia merasa rumah sendiri karena penduduknya yang selalu ramah. Tak sepatutnya seorang tamu diperlakukan seperti ini oleh tuan rumahnya. Temari, Ino dan Tenten membawa Hinata kesebuah gudang tua sekolah yang berada dekat di toilet pria. Cat gedung ini terlihat usang dan mengelupas. Ino dan Karin, mendorong Hinata dengan kasar. Tubuh Hinata yang mungil tak mampun menyeimbangkan tubuhnya.

"Lebih baik kau tinggal saja disini. Aku benci gaijin sepertimu!" ucap Karin.

Braak! Pintu gudang tua nan lembap dan gelap, ditutp secara kasar oleh Karin. Gelap, benar-benar gelap. Gudang ini terdapat banyak sekali tumpukan buku, bangku bekas, meja bekas dan beberapa kerajinan tangan siswa. Hinata taku dengan tempat seperti ini, dia tak mau lama-lama berada ditempat menyeramkan ini. Hinata berlari menuju pintu, ia menggedor-nggedor pintu sekuat tenanga memohon untuk dikeluarkan.

"Tolong keluarkan aku dari sini, aku mohon keluarkan aku!" pinta Hinata namun sayang tak ada seorangpun yang mendengar teriakannya. Ino dan yang lain sudah meninggalkannya.

Hinata tak lagi berniat untuk berteriak. Percuma, sekencang apapun suaranya berteriak tak akan ada orang yang menolongnya. Walaupun ini jam istirahat namun sangat mustahil jika ada seseorang yang memilih buang air besar dikamar mandi lama nan kotor. Tak ada lagi yang bisa ia lakukan kecuali diam dan pasrah. Hinata menyandarkan kepalanya di sebuah tumpukan kursi bekas yang sudah usang dan menjadi sarang laba-laba liar. Matanya memperhatikan kemana tikus-tikus kecil berkeliaran dan berlari-lari disekitarnya. Biasanya Hinata akan berteriak jika ia melihat hewan pengerat ini namun untuk kali ini Hinata terus berdiam diri. Dia linglung, ketakutan terhadap tikus telah musnah karena dia memiliki ketakutan yang lebih besar.

"Siapapun itu tolonglah aku" gumam Hinata.

ooOOOoo

Naruto berbaring santai di sebuah kursi panjang yang terletak diatas atap gedung kelas berlantai tiga. Sekolah nomer satu di Jepang ini terdiri dari gabungan sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas dan perguruan tinggi bernamakan Horikoshi Gakuen. Sekoah ini juga begitu luas dan lebar. Tak ada sekolah impian bagi anak-anak Jepang kecuali Horikoshi Gakuen. Angin sepo-sepoi menerjang wajah dan tubuh Naruto, agak dingin namun karena masih ada pancaran sinar matahari membuat Naruto merasa hangat. Naruto meletakan lengan tangan kanannya diatas wajah agar sinar tak menembus matanya. Disini ia berniat untuk tidur dan menyendiri dari hiruk pikuk keramaian yang ada disekolah. Ia bosan dikejar-kejar oleh segerombolan anak perempuan di sekolahnya. Ada yang memberinya kue tiap hari di loker barangnya, ada yang mengiriminya surat cinta bahkan yang paling ekstrim gadis-gadis itu menguntit Naruto sampai dirumah. Gadis seperti mereka sama sekali bukan tipe gadis idealnya. Naruto memejamkan mata, ia berusaha untuk tidur namun bayang-bayang Hinata selalu menghantuinya. Naruto merasa kasihan kepada Hinata, pertama kali ia masuk sekolah tapi sudah di olok-olok seperti itu. Naruto sama sekali tak paham dengan cara pikir orang Jepang.

"Ini semua benar-benar menggelikan" ujarnya.

Teng...teng...teng...teng. Bel pertanda jam pelajaran kembali dilaksanakan menggema diseluruh sekolah. Naruto bangun dari tidurnya diselimuti dengan rasa malas. Sebenarnya Naruto tak begitu suka dengan sekolah ini. Dia menganggap Horikoshi Gakuen adalah penjara namun berkedok sekolah ternama. Para siswa dijejali oleh peraturan-peraturan ketat yang menurut orang tua itu terbaik namun tidak untuk anak muda seusianya. Aturan yang Naruto benci adalah dilarangnya siswa Horikoshi Gakuen untuk berpacaran dengan alasan agar siswa lebih fokus pada kegiatan sekolah. Bagi Naruto, Cinta adalah anugrah dari Tuhan, kalau siswa itu memang benar-benar pintar walaupun pacaran pasti nilai mereka akan tetap stabil. Peraturan seperti itu benar-benar konyol. Naruto melangkahkan kakinya menuju kelas, semua anak sudah duduk ditempatnya masing-masing. Begitupula dengannya, namun ada satu hal yang mengganjal di mata Naruto. Hinata sama sekali tak tampak di kelas. Naruto memperhatikan tiga serangkai gadis plastik yang tertawa puas. Naruto yakin, Hinata dibawa ke suatu tempat oleh mereka. Naruto kembali berdiri, ia tak ragu untuk bertanya pada temari dan kawan-kawan tentang keberadaan Hinata.

"Dimana Hinata?" tanya Naruto sinis.

"Hinata? Aku tidak tahu dan itu sama sekali bukan urusanku" jawab Temari. Braaak! Naruto menggebrak meja Temari begitu keras.

"Suatu saat nanti kau akan menyesal telah memperlakukan Hinata seperti itu" ancam Naruto, lalu ia bergegas meninggalkan tiga gadis gila itu untuk mencari Hinata.

"Uzumaki Naruto, kenapa kau sama sekali tak mengerti perasaanku. Aku begitu menyukaimu bahkan aku mempercantik wajahku hanya karena aku ingin kau melihatku. Aku lebih cantik dari Hinata tapi kenapa kau begitu perhatian padanya?" teriak Temari.

Seluruh teman sekelasnya menoleh dan memperhatikan dirinya. Naruto menghentikan langkah, ia membalikkan badan dan memandang Temari dari atas sampai bawah. Senyum kecil tersungging jelas diwajahnya, namun senyuman Naruto itu merupakan senyum yang meremehkan dan menganggap orang seperti Temari tak pantas ada di dunia ini.

"Kau memang cantik tapi sayang aku tak tertarik dengan kecantikan plastik!" ucap Naruto.

Jleeebb! Kata-kata Naruto begitu menusuk dihati Temari. Hatinya sangat sakit dan perih mendengar perkataan sadis dari Naruto untuknya. Temari menangis tersedu-sedu, Ino dan Karin berusha untuk menenangkan Temari. Tak hanya Temari, teman sekelasnya juga terkejut dengan ucapan Naruto. Mereka saling berbisik satu sama lain. Naruto tak peduli pandangan orang lain terhadapnya. Ia kemudian bergegas mencari Hinata diseluruh lokasi di Sekolah. Naruto berlari menyusuri semua tempat dan bangunan yang ada di sekolah, namun sejauh ini Naruto belum menemukan Hinata. Naruto merasa sedikit frustasi, dalam hati ia bertanya kemana perginya gadis itu. Naruto duduk dipinggiran bangku taman sekolah, dia mencoba berfikir lokasi sekolah mana lagi yang belum ia datangi. Naruto terhenyak, ia ingat bahwa masih ada sebuah gudang kecil di belakang sekolah didekat toilet lama murid pria. Naruto berlari secepat mungkin, ia yakin Hinata ada disana. Sesampainya di gudang Naruto melihat sebuah kayu panjang yang diselotkan diantara genggaman pintu gudang. Naruto membuang kayu itu secara kasar serta menyelinap masuk kedalam gudang.

"Uhuk...uhuk...!" debu yang terlalu banyak diruang gelap nan pengap ini membuat Naruto terbatuk bahkan sedikit mengalami sesak nafas. Tepat didepan matanya, terlihat Hinata yang terkulai lemas namun masih sadar. "Hinata, apa kau mendengarku? Apa kau baik-baik saja?"

"Naruto-kun, hikz...hikz..." ucap Hinata sambil menangis.

Hal yang membuat Naruto kaget adalah ketika Hinata memeluk dirinya begitu erat. Naruto bingung apa yang harus ia lakukan disaat seorang gadis memeluknya seperti ini. Sedikit agak ragu Naruto juga membalas pelukan Hinata. Wajahnya memerah, Naruto memarahi dirinya sendiri kenapa disaat seperti ini sempat-sempatnya ia tersipu malu. Seharusnya ia turut prihatin dengan keadaan Hinata. Sekarang bukan saatnya untuk terlarut dalam situasi romantis seperti ini. Hinata harus dibawa ke klinik sekolah.

"Hinata ayo kita ke klinik sekolah, kau harus diperiksa. Pegangan yang erat" ucap Naruto cemas.

Hinata merangkul tubuh Naruto dari belakang. Hanya dengan cara menggendong seperti ini, Naruto bisa kuat membawa Hinata sampai ke klinik. Hinata merasa begitu tenang dan nyaman berada di punggung Naruto. Minyak wangi khas berbau mint tertcium disekujur tubuh pria ini. Dadanya yang bidang, tubuhnya yang kekar, wajah yang tampan serta baik hati membuat Hinata berfikir, pasti Naruto menjadi idaman semua siswi di sekolah. Dia tak mau melepaskan rangkulannya dari tubuh Naruto. Hinata ingin seperti ini lebih lama lagi.

"Naruto-kun, lambatkanlah langkahmu" ucap Hinata.

"Kenapa? kau harus cepat diperiksa" tanya Naruto.

"Aku tidak apa-apa, aku sudah baikan. Tolong lambatkanlah langkahmu, aku ingin seperti ini lebih lama lagi bersama Naruto-kun" .

Naruto sedikit tak percaya jika Hinata bisa mengatakan hal semacam itu. Bukan perasaan jengkel yang Naruto rasakan karena ia harus menggendong Hinata lebih lama namun sebaliknya, ada perasaan luar biasa yang Naruto rasakan bersama Hinata. Perasaan bahagia, nyaman, gugup dan jantungnya juga berdetak tak beraturan saat berada didekat Hinata. Dia baru pertama kali ini merasakan perasaan seperti itu kepada seorang wanita. Naruto mengabulkan permintaan Hinata dan melambatkan langkah kakinya.

ooOOoo

Naruto dan Hinata tidak kembali kedalam kelas, namun mereka berhenti di taman sekolah. Mereka berdua tak berniat unruk mengikuti pelajaran hari ini untuk beberapa menit kedepan. Hinata tampak terlihat masih shock, dengan kejadian yang menimpanya. Gadis ini sama sekali tak menyangka jika hidupnya di Jepang akan setragis ini. Jika Hinata mau, ia bisa mengadu hal ini pada ayahnya bahkan tiga orang temannya itu bisa dipenjarakan oleh ayahnya dengan tuduhan penyekapan. Namun Hinata tak mau seperti itu, Hinata ingin menghadapi cobaan ini sendiri. Jika ia terus bergantung pada orang tua, lalu bagaimana ia akan menjalani kehidupan yang sesungguhnya. Daun-daun maple yang berwarna merah dan orange berguguran disekitar mereka. Hinata sangat menyukai musim gugur, karena bagi Hinata dimusim gugur ia bisa melihat lukisan Tuhan disetiap helai dedaunan yang ada di Jepang. Warna merah, kuning, orange pada daun membuat suasana kota menjadi lebih berwarna. Naruto mengeluarkan ponselnya dan menjepret setiap objek yang menurutnya bagus yang ada disekitar taman sekolah. Ponsel Naruto sekarang mengarah pada sosok Hinata.

"Hinata-chan" panggil Naruto

"Iya, ada apa?"

Jepret! Naruto memotret wajah Hinata, namun Hinata sama sekali tak menyadari apa yang sudah Naruto lakukan padanya. Naruto tersenyum puas melihat hasil jepretan wajah Hinata, kemudian dia menyembunyikan ponsel kesayangannya di balik saku celana seragam sekolahnya. Naruto, berdehem dan melanjutkan kata-kata yang ingin ia katakan.

"Aku ingin kau bertahan, seburuk apapun perlakuan temanmu. Aku juga ingin kau melawan mereka jika mereka menyakitimu. Sebenarnya mereka iri dengan kecantikan alamimu apalagi matamu yang besar dan indah itu".

"Iri dengan kecantikan alamiku? Mata besar?" tanya Hinata bingung.

"Iya benar, orang jepang dilahirkan dengan mata sipit. Kebanyakan dari mereka tak menyukai hal itu, jadi mereka melakukan operasi kelopak mata agar terlihat lebih cantik dan menarik. Tak hanya itu saja, mereka juga memancungkan hidungnya, memotong rahangnya agar punya wajah yang kecil lalu terkadang ada yang merubah bentuk bibirnya" jelas Naruto.

"Waaah, apa benar hal seperti itu benar-benar ada? Apa kau serius Naruto-kun?" Hinata masih tak percaya jika ada orang yang merubah total wajahnya.

"Kau tak percaya, aku akan memperlihatkan beberapa foto padamu".

Naruto membuka ponselnya, dan mengakses internet. Dia mengetik keyword "Plastic surgery in Japan". Dari keyword itu muncul banyaknya foto wanita sebelum dan sesudah melakukan operasi plastik. Naruto mengklik salah satu website diantara banyak website yang ada. Naruto memperlihatkan beberapa foto kepada Hinata. Tak hanya wanita ternyata pria juga ada yang melakukan operasi plastik. Mata Hinata terbelalak, mulutnya menganga lebar. Iya tak percaya ada hal seperti ini di dunia.

"Waahhh Sugoi, apa benar ini foto asli mereka. Mungkin ini foto orang lain"

"Hahaha kau pikir begitu?" tanya Naruto sambil memasukan ponsel ke saku celananya. Hinata mengangguk cepat, Naruto mencoba menjelaskan pada Hinata. "Mereka benar-benar merubah total wajahnya menjadi cantik. Bahkan kau tak akan mengenal mereka lagi. Identitas diri mereka benar-benar sudang hilang".

"Tapi operasi plastik ini terlihat alami. Tak heran jika Jepang adalah negara maju dan salah satu negara terpintar di dunia" ucap Hinata.

"Tapi kecanggihan dan kepintaran manusia digunakan untuk hal yang tidak semestinya. Tanpa rasa takut merubah takdir yang Tuhan telah ciptakan kepada manusia. Ini sungguh menggelikan".

Hinata beralih melihat ke arah Naruto dan di selimuti rasa penasaran. Sekarang Hinata jadi curiga apa ketampanan Naruto juga merupakan hasil rekayasa. Hinata melihat Naruto dan menyipitkan kedua matanya. Naruto merasa tak nyaman dengan pandangan Hinata. Naruto benar-benar mengerti apa yang ada dipikiran Hinata sekarang tentang dirinya.

"Hei, ketampananku ini asli tanpa hasil rekayasa. Kalau kau tak percaya, aku akan memperlihatkan foto masa kecilku" ucap Naruto berapi-api.

"Hahaha iya aku tahu jadi kau jangan marah seperti itu" ucap Hinata.

Hinata tertawa melihat tingkah Naruto yang lucu namun disela-sela tawanya Hinata tampak menangis. Tawanya yang ceria berubah menjadi tangisan. Dia menangis bukan karena sedih tapi dia menangis karena terharu, ditempat asing seperti ini dan bukan juga seorang Jepang asli, masih ada pria tampan seperti Naruto yang mau berteman dengannya. Hinata berharap hal ini akan terus terjalin selama Hinata hidup di Jepang. Mungkin jika Naruto tak ada disampingnya Hinata pasti sudah menyerah dengan semua ini dihari pertama sekolahnya.

"Kenapa kau menangis Hinata-chan?" tanya Naruto.

"Terima kasih Naruto-kun, kau mau menerimaku. Aku bisa kuat dihari pertama sekolahku karena kau. Aku harap kau selalu ada disampingku untuk menguatkanku".

Naruto tak kuasa melihat Hinata menangis. Dia kemudian memeluk Hinata erat. Naruto menghela nafas panjang, sudah banyak kejadian seperti ini disekolah yang katanya memiliki murid-murid pintar di Jepang. Tetapi mereka sama sekali tak bisa bersosialisasi dengan baik sesama sekelasnya. Kesuksesan seseorang tak hanya di lihat dari tingkat kecerdasan namu interaksi sosial itulah yang leih menentukan kesuksesan seseorang kelak.

Di lorong kelas lantai dua, terlihat Kakashi berdiri memperhatikan tingkah laku kedua muridnya. Sebgai wali kelas, kakashi harus kembali memperingatkan siswanya, jika peraturan sekolah ini tak membolehkan laki-laki dan peremupan sering bersama. Hanya pada saat-saat tertentu laki-laki dan perempuan boleh berbaur. Jika mereka melanggar, maka mereka akan dikeluarkan dari sekolah.

"Dasar anak jaman sekarang susah diatur. Ini harus cepat ditindak " gerutu Kakashi.

ooOOoo

Malam menjelang Hinata sudah berdada dirumah. Saat ini, Hinata makan malam bersama keluarganya dirumah. Hinata sudah tak sabar memakan masakan ibunya, apalagi sambal khas Indonesia buatan ibunya begitu enak. Hinata memakan dengan lahap lele penyet ala ibunya, dia makan tanpa menggunakan sendok namun hanya memakai tangan. Ayah Hinata yang merupakan warga asli Jepang tapi begitu menyukai makanan khas Indonesia ini. Keheningan muncul diantara mereka, Hyuuga Hiashi penasaran bagaimana hari pertama Hinata disekolah.

"Hinata, bagaimana hari pertamamu di sekolah? Apa mereka berlaku baik padamu?" tanya Hiashi. Hinata tak langsung menjawab, ia terus memakan makanan khas Indonesia begitu lahap.

"Iya mereka berlaku baik padaku, jadi ayah jangan khawatir hehe" ucap Hinata. Senyuman, tawa dan rasa bahagia dari Hinata hanyalah bohong belaka. Ia hanya tak mau membuat kedua orang tuanya merasa khawatir.

"Selama di Jepang, jaga dirimu baik-baik ya nak" ucap Ibu Hinata sambil membelai rambut putri satu-satunya.

Hinata tersenyum tipis dan sesekali mengagguk kepada Ibunya. Malam ini Hinata ada janji dengan Naruto-kun untuk mengurus kartu tanda penduduk khusus gaijin tapi dikartu ditulis gaikokujin (warga negara asing). Hemmm hal ini terkesan lebih formal dan sedikit lebih manusiawi. Warga penduduk asli Jepang tak perlu memiliki kartu tanda penduduk, tapi jika kau seorang gaijin maka kau harus memiliki kartu tersebut. Hinata dan ibunya masih belum terdaftar sebagai penduduk pendatang jadi hal-hal seperti itu harus dilakukan. Berbeda lagi dengan ayah Hinata yang tak perlu mengurus hal-hal semacam ini. Awalnya Hinata bertanya pada Naruto, dimana alamat kantor imigrasi di Tokyo. Namun Naruto lebih memilih mengantarkan Hinata secara langsung daripada membiarkan Hinata keluar sendirian.

"Ayah dan ibu, malam ini aku ada janji dengan temanku. Dia akan menemaniku ke kantor imigrasi Tokyo untuk mengurus kartu gaikokujin" ucap Hinata.

"Ahh, silahkan saja, tapi dia laki-laki atau perempuan?" tanya Hiashi.

"Dia laki-laki ayah. Namanya Uzumaki Naruto" jawab Hinata. Hiashi manggut-manggut tanda mengerti. "Aku sudah selesai makan, aku akan siap-siap pergi ke kantor imigrasi". Hinata bergegas membereskan piring makannya dan langsung menyucinya di dapur.

"Hinata, ayah adalah asli orang Jepang. Jadi, ayah tahu bagaimana tabiat orang Jepang. Sebagai orang tua dan sudah lama tinggal di Indonesia, ayah ingin kau menjaga dirimu sebagai wanita. Pertahankanlah itu sebelum kau menikah" tutur Hiashi.

"Pertahankan apa maksudnya? Aku sama sekali tak mengerti" Hinata benar-benar kebingungan dengan perkataan ayahnya.

"Sudahlah lebih baik kau cepat siap-siap nanti temanmu lama menunggu. Orag jepang sangat disiplin nanti kau bisa dimarahi olehnya karena terlambat hehe" ucap Ibu Hinata.

"Baik ibu, aku mengerti!".

ooOOOoo

Hinata berdandan cantik dan rapi, ia tersenyum pada seseorang yang sudah menunggunya didepan pagar. Naruto terlihat makin tempan dengan setelan jaket tebalnya yang berwana hitam, bekaos putih serta jam tangan hitam yang selalu melekat tangan kirinya. Naruto tersipu melihat kecantikan alami dan mata indah Hinata.

"Ayo kita berangkat" ajak Naruto.

Hinata mengangguk penuh semangat. Ia mensejajarkan langkah kakinya dengan langkah kaki Naruto. Naruto menggandeng tangan kiri Hinata, ia bermaksud agar Hinata aman dan dia bisa melindungi Hinata. Terlebih lagi di keramaian kota Tokyo, jika kau tak hafal jalan maka kau akan tersesat dan juga bisa terpisah dengan kelompok temanmu. Hinata juga tak menolak jika Naruto menggandeng tangannya, kehangatan tangan Naruto membuat Hinata tak begitu merasakan dinginnya kota Tokyo. Hinata begitu menikmati suasana Tokyo dimalam hari. Tapi ada dimana satu titik lokasi yang membuat Hinata tercengang. Hinata tak percaya, ia akan melihat hal demikian di gang sekitar rumahnya.

"Ya Tuhan!" pekik Hinata.

TO BE CONTINUE