Hola Minna. Ini first fic request yang saya buat. Masih gaje sih.
.
DISCLAIMER : TITE KUBO
.
Adaptation From Endless Love
.
RATE : T
.
Warning : OOC (banget), AU, Gaje, Misstypo (Nongol mulu), Gak karuan, ceritanya persis sama yang ada di cerita aslinya. Jadi kemungkinan ending akan sama sesuai dengan permintaan.
.
Attention : Fic ini adalah adaptasi dari Drama Korea yang berjudul sama, 'Endless Love' yang saya bikin versi Bleach sesuai permintaan Kina Echizen.
.
.
.
"Apa yang terjadi Ichigo?" tanya Isshin panik ketika tiba di rumah sakit bersama Masaki. Ichigo hanya tertunduk lesu setelah mengatakan bahwa Rukia mengalami kecelakaan di sekolahnya. Isshin dan Masaki sama sekali tidak menyalahkan Ichigo soal insiden itu. Tapi Ichigo tetap merasa bersalah karena membiarkan hal itu terjadi. Apa yang dilakukannya sebagai kakak? Bahkan dia sangat gagal menjadi kakak yang baik untuk adik semata wayangnya itu. Benar-benar memalukan.
Masaki dan Isshin segera menemui dokter yang menangani keadaan Rukia.
Ada luka yang cukup serius di kepalanya hingga Rukia harus mengalami operasi. Bukan operasi serius. Tapi tentu saja Masaki dan Isshin tampak begitu khawatir. Ini pertama kalinya mereka mengalami hal ini.
"Karena itu, kami butuh donor darah dari anda sekalian. Hanya untuk jaga-jaga selama operasi nanti," ujar sang dokter.
"Aku! Aku saja yang memberikan darahku padanya!" sambar Masaki langsung dengan wajah cemas dan khawatir.
"Tidak sayang, biarkan aku saja. Tidak apa-apa Dok. Golongan darah kami berdua sama," ujar Isshin sambil menunjuk dirinya dan Masaki.
"Baguslah kalau begitu. Kami butuh golongan darah AB. Kalau anda bersedia, silahkan ikut ke lab kami," kata sang dokter.
AB?
Masaki dan Isshin saling berpandangan satu sama lain. Seakan baru saja mendengar berita gempa yang disusul dengan tsunami di rumah mereka. Apakah yang mereka dengar ini benar? Atau... ada yang salah?
"AB? Apa Dokter yakin? Kami berdua bergolongan darah A. Jadi pasti anak kami juga bergolongan darah A," kata Isshin mencoba meyakinkan.
"Kurosaki Rukia. Dia memang bergolongan darah AB. Sudah kami cek sebelumnya. Kalau Anda kurang yakin, kami bisa mengeceknya ulang."
Sang dokter berpakaian serba putih itu kemudian meninggalkan sepasang suami isteri itu yang masih saling berpandangan serba bingung.
Masaki yang terlihat begitu terpukul. Ibu dua anak ini langsung merasa lemas dan tak kuat menopang tubuhnya sendiri. Dengan cekatan Isshin memapah tubuh Masaki dan duduk di bangku yang berada di koridor rumah sakit itu.
"Rukia... Rukia anak kita bukan?" lirih Masaki.
"Masaki..."
"Golongan darahnya pasti sama. Pasti... Dokter itu pasti salah memeriksa. Mana mungkin ada yang salah. Rukia... pasti darah dagingku!"
Isshin langsung mendekap tubuh istrinya begitu erat.
Apa yang sebenarnya terjadi saat ini? tentu saja Rukia adalah anak mereka.
Anak yang sudah mereka besarkan selama 13 tahun! Yang sudah mereka cintai sepenuh hati. Rukia adalah separuh hidup mereka. Mana mungkin kenyataan seperti ini membuat keluarga mereka hancur dan goyah seketika.
"Kita harus mencari tahu Masaki. Kita... harus memastikannya."
.
.
*KIN*
.
.
"Kurosaki Rukia, putri dari pasangan Kurosaki Isshin dan Kurosaki Masaki. Yah, lahir di sini 13 tahun yang lalu," jelas petugas rumah sakit bersalin itu.
Karena tak percaya dengan apa yang mereka dengar, Isshin mengajak Masaki untuk pergi kembali menuju rumah sakit bersalin tempat Rukia dilahirkan dulu. Masaki sebenarnya menolak untuk ingin tahu. Tapi bagaimanapun dia juga harus tahu yang sebenarnya.
"Jadi, anak kami memang bergolongan darah A bukan? Kalian memeriksanya kan?"
"Tentu saja. Golongan darah putri anda adalah golongan darah A. Kami sudah memastikannya sesaat setelah dia lahir. Ada yang salah?"
"Apa... selain putri kami, ada anak lain yang dilahirkan pada saat yang sama?" kali ini nada getir yang berusaha ditutupi oleh Isshin.
"Anak yang lain? Tunggu sebentar."
Sekali lagi petugas rumah sakit bersalin itu membuka-buka catatan kelahiran bayi 13 tahun yang lalu itu. Menelitinya dari lembar demi lembar. Setelah agak lama, akhirnya si petugas itu menemukan catatan yang dia cari.
"14 Januari. Ada. Ada anak lain yang lahir bersamaan dengan putri Anda. Dari keluarga Kuchiki," kata si petugas.
"Apa... golongan darah anak itu?" tanya Isshin lagi.
"Golongan darahnya... AB. Yah. Golongan darahnya AB."
Isshin langsung mencengkeram kerah leher si petugas itu.
"Dasar brengsek! Bagaimana kalian bisa sampai salah seperti ini! Kalau benar anak kami seharusnya dia bergolongan darah A! Bukannya AB! Jelaskan maksudnya!" jerit Isshin.
Suasana jadi tidak terkendali, dan Masaki terus menangis berusaha menenangkan suaminya yang sudah kalap itu. Petugas itu tentu tak tahu apa-apa mengenai hal ini. bagaimana pula bisa salah informasi seperti ini? Apa yang salah dengan mereka?
Setelah Masaki berusaha memisahkannya dan beberapa petugas lainnya ikut memisahkannya, akhirnya Isshin bisa mengendalikan dirinya. Benar-benar sialan!
Kenyataan kalau anak mereka tertukar?
Akhirnya mau tak mau Isshin harus menemui keluarga Kuchiki itu. Untuk sekali lagi memastikan kenyataan ini.
.
.
*KIN*
.
.
Setelah mendapat alamat yang lengkap mengenai keluarga Kuchiki itu, akhirnya Masaki dan Isshin tiba di sebuah lingkungan yang cukup kumuh. Setidaknya mirip dengan lingkungan pinggir kota. Semuanya terlihat seperti keadaan di pinggir kota yang benar-benar keras dan... liar.
Jalan yang becek. Rumah-rumah yang tidak terawat. Warung yang buka di pinggir jalan. Orang-orang yang berdandan mirip preman. Jujur saja, tempat seperti itu membuat Masaki takut dan ragu. Benarkah mereka harus sampai sejauh ini? hanya untuk menyakiti hati mereka jika seandainya benar bahwa anak mereka...
"Suamiku... kita pulang saja. Kita pulang," mohon Masaki yang segera ingin masuk lagi ke dalam mobil mereka.
"Sayang... kita harus memastikan ini. kau tidak mau tahu kenyataan anak kita?"
"Biarkan saja! Mau bagaimanapun Rukia tetap anak kita! Kumohon... kita kembali saja..." Masaki sekali lagi ingin terisak melihat suaminya yang keras kepala ini.
Isshin mencoba menguatkan hati isterinya dan berjalan pelan memasuki lorong lingkungan yang lumayan kumuh itu. Melihat beberapa orang yang bertingkah layaknya preman.
"Sekali lagi kau datang jangan salahkan aku kalau kepalaku kurebus ke dalam panci brengsek!"
Seorang wanita berambut ungu yang diikat ke atas keluar dari kedai makan sambil membawa sebuah panci kecil. Mengacungkannya setinggi-tingginya bersiap memukul seorang pria yang langsung berlari keluar dari kedai itu. Benar-benar menyeramkan. Begitu melihat alamatnya, tentu saja mereka kaget. Rumah itulah yang mereka cari dari tadi. Masaki semakin tidak yakin dengan keinginan suaminya. Dia tak pernah berhadapan dengan keadaan seperti ini. bagaimana bisa dia menerima semuanya begitu saja?
Masaki sekali lagi hendak berbalik meninggalkan pemandangan ini, tapi lagi-lagi Isshin menahannya untuk bersikap tegar dan menerima.
Pelan, mereka berusaha tegar untuk masuk ke dalam kedai makan yang biasa saja dan terkesan sederhana itu. Kedainya sedang sepi. Dan wanita yang baru saja berteriak pada pria tak dikenal itu sedang duduk di meja kedainya sambil menghela nafas panjang.
"Oh, selamat datang. Mau pesan apa?" tanya wanita berambut ungu dan berkulit gelap itu ramah. Sedikit berbeda dari sikapnya yang tadi.
Masaki dan Isshin hanya diam saja sambil berpandangan. Mereka hanya tak percaya, jika benar putri mereka tertukar, itu artinya orang inilah yang mungkin sudah merawat anak mereka selama 13 tahun lamanya. Isshin dan Masaki tetap diam sambil memandang penuh menyelidik pada wanita ini.
"Kelihatannya kalian kemari bukan untuk makan di sini. Ada apa?" tanya wanita itu langsung.
"Ada yang perlu kami bicarakan," ujar Isshin akhirnya.
Wanita berkulit gelap itu memandang menyellidik pula. meneliti dari pakaian mereka yang rapi dan terlihat mahal. Sudah pasti orang seperti ini datang ke tempatnya yang sederhana ini untuk membicarakan sesuatu. Tapi dia tak tahu apa yang ingin mereka katakan.
"Silahkan duduk," wanita berambut ungu itu menyilakan sepasang suami isteri itu duduk di meja kedainya dengan suara datar dan terkesan ketus.
Mereka masih diam walau sudah berlalu 10 menit. Entah pembicaraan apa yang penting itu.
"Tuan dan Nyonya. Kalau Anda ingin mengatakan sesuatu cepat katakan! Aku tidak punya waktu melayani kalian saja!" bentak wanita itu kemudian.
"Tunggu Nyonya!" tahan Isshin melihat wanita itu mulai berdiri dari mejanya.
"Ada apa!" balasnya ketus kembali.
Masaki memegang lengan kemeja suaminya dengan erat.
"Apakah... 13 tahun yang lalu... anda melahirkan di rumah sakit Karakura?" tanya Isshin pelan.
Wanita itu mengernyit bingung.
"Ya. Tapi bukan aku yang melahirkan. Itu adikku. Ada apa?"
Sekali lagi sepasang suami isteri itu berpandangan bingung.
"Apakah... adik anda melahirkan seorang anak perempuan? Di tanggal 14 Januari?"
Wanita yang selalu bertampang sinis itu akhirnya menggebrak meja karena kesal.
"Kalian ini sebenarnya mau apa! Dari tadi bertanya yang aneh-aneh! Memang kenapa kalau adikku melahirkan seorang anak perempuan di tanggal 14 Januari!"
"Karena anak kami tertukar dengan putri adikmu!" bentak Isshin balik.
Mata kuning wanita itu membelalak lebar. Isshin mengendalikan nafasnya yang tersengal karena membentak tadi.
Masaki akhirnya menumpahkan air matanya dan berlari kencang keluar dari kedai itu. Isshin akhirnya ikut mengejar istrinya dan meninggalkan kedai itu pula.
Dengan wanita berambut ungu itu yang masih syok mendengar fakta mengejutkan itu.
Ichigo bisa melihat ibunya yang berlarian dari kedai makan itu. Karena penasaran, dia mengikuti kedua orang tuanya yang mulai bersikap aneh setelah dokter mengatakan soal darah. Dan secara tak langsungpun... Ichigo bisa tahu ada yang salah dengan keluarganya saat ini.
.
.
*KIN*
.
.
Rukia membuka buku dongeng yang sengaja dia minta ibunya bawakan. Setelah operasinya selesai, Rukia sudah bangun sejam yang lalu tapi tak menemukan satu pun anggota keluarganya. Tapi Rukia tak kecewa. Dia lebih suka ibunya tak di sini menunggunya. Karena ibunya bisa sakit. Lagipula... sendirian di rumah sakit membuatnya sedikit tenang. Setidaknya tidak ada kakaknya yang bawel dan selalu mengganggunya itu.
Hari sudah beranjak malam. Mungkin, keluarganya sudah tidur.
"Rukia?"
Rukia mengangkat kepalanya dan melihat ibunya berdiri di depan pintu rawatnya. Mata ungu kelabunya membelalak lebar.
"Kaa-chan? Kenapa ke sini? Aku sudah tidak apa-apa," jelas Rukia.
Masaki berhambur memeluk putrinya yang masih terduduk di atas kasurnya. Memeluknya begitu kencang, takut jika seandainya putri yang amat dicintainya itu pergi tanpa sepengetahuannya. Menghilang tanpa pernah dia lihat lagi. Dan tidak! Masaki tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Demi apapun tidak akan! Rukia... tetap anaknya!
"Kaa-chan?" tanya Rukia aneh ketika ibunya memeluknya tiba-tiba begini.
"Rukia... kau tetap putri Kaa-chan. Kau akan selalu jadi putri Kaa-chan. Kaa-chan akan membesarkanmu, menemanimu hingga kau selesai sekolah, mendampingimu sampai kau menikah, memilihkan gaun pengantin untukmu, menemanimu merawat anak-anakmu, dan mencintaimu sampai Kaa-chan mati. Kaa-chan janji Rukia. Apapun yang terjadi, Rukia tetap putri Kaa-chan. Putri Kaa-chan satu-satunya. Tidak akan ada yang bisa mengubah itu. Tidak ada..."
Rukia mengangguk ragu dipelukan ibunya.
Entah kenapa ibunya begitu kalut dan panik ketika mengucapkan kalimat itu sampai memeluk kencang Rukia.
Apakah karena efek kecelakaan ini?
.
.
*KIN*
.
.
Setelah dibujuk mati-matian oleh Ichigo, akhirnya ibunya mau pulang setelah melihat Rukia tertidur. Ichigo yang akan menemani adiknya malam ini. Lagipula... Ichigo tahu ibunya sekarang pasti sedang tidak baik. Dia terus menangis di depan Rukia, sampai membuat gadis itu bingung tidak mengerti. Ichigo tahu ibunya belum tahu kalau Ichigo sempat mendengar apa yang diributkan oleh ayah dan ibunya itu. Itu lebih baik. Dia tidak ingin mengungkitnya. Jika Ichigo mengungkitnya, kemungkinan besar ini benar akan jadi masalah. Dan Rukia akan tahu. Ichigo tak suka itu. Tidak mau membuat adiknya menangis karena masalah ini.
Setelah menghela nafas panjang, Ichigo mengambil kursi di dekat tempat tidur Rukia. Memperhatikan adiknya yang sudah tertidur lelap itu. Sepertinya begitu. Dia terlihat begitu nyaman tidur di sana.
"Maaf Rukia. Aku sudah jadi kakak yang buruk. Maafkan aku sudah membuatmu jadi seperti ini. Aku janji... aku benar-benar berjanji akan melindungimu dari apapun. Aku janji hal seperti ini tidak akan terjadi untuk kedua kalinya. Karena itu... cepatlah sembuh. Aku sangat menyayangimu..." lirih Ichigo nyaris menangis.
Tapi dia masih cukup bisa menahan airmatanya. Setidaknya, walau Rukia tidur, dia tak mau adiknya itu tahu dia menangis. Pasti Rukia akan mengejeknya mati-matian dan―
"Kau dimaafkan."
Sebuah tangan mungil terjulur ke atas kepala Ichigo dan mengusap rambut orange-nya.
Gadis cantik itu membuka matanya, dan tersenyum hangat ke arah Ichigo.
"Hei... kau belum tidur? Apa yang kau lakukan?" tanya Ichigo.
"Hmm... apa ya? Mendengarmu meminta maaf," jawab Rukia.
"Kau menipuku?"
"Kalau aku bangun, kau tidak akan mengatakan itu kan? Sudahlah. Jadi malam ini Nii-chan yang menemaniku?" tanya Rukia.
"Aku tidak mau menemani adik pembohong sepertimu."
Rukia menggembungkan pipinya dan mengerucutkan bibirnya.
"Ya sudah! Pulang sana! Menyebalkan," Rukia bersiap menarik selimutnya, tapi kemudian Ichigo mengelus puncak kepala adiknya itu.
Rukia kembali tersenyum lebar dan menikmati setiap elusan kasih sayang kakaknya itu.
"Rukia..." panggil Ichigo.
"Hmm?"
"Aku... ingin memberitahumu satu rahasia penting."
Rukia langsung bangun dari tidurnya dan menatap antusias kakaknya satu itu.
"Apa Nii-chan? Apa itu?"
"Tentang gadis yang aku sukai."
"Wah... seperti apa orangnya?"
"Hmm... biar kuingat dulu. Ahh! Dia jelek. Dia pendek. Matanya besar. Dia juga bodoh. Tidak bisa mengendarai sepeda dengan baik. Dia juga lugu dan polos. Dia sangat menyayangi ayah dan ibunya, terutama kakak laki-lakinya. Dia keras kepala. Tapi sangat lembut dan pengertian. Aku... sudah lama menyukai gadis itu," jelas Ichigo sambil menerawang jauh.
"Huh? Benarkah ada gadis seperti itu? Jelek... pendek... bermata besar... bukankah itu aku?" tunjuk Rukia pada dirinya sendiri.
"Ya. Aku menyukaimu."
"Nii-chan jangan bercanda! Ini tidak lucu tahu!" rajuk Rukia.
"Naa Rukia... bagaimana kalau kita... bukan kakak beradik sungguhan? Bagaimana kalau salah satu dari kita... bukan anak kandung ayah dan ibu?"
"Nii-chan bicara apa? Kita ini satu keluarga. Tentu saja kita anak kandung ayah dan ibu. Kita juga pasti saudara kandung kok," hibur Rukia.
Yah... itu benar Ichigo. Apa yang sempat kau pikirkan beberapa saat lalu?
Keinginanmu menyukai adikmu sendiri memang terwujud. Tapi kenyataan kalau kalian tetaplah kakak adik tak bisa dipungkiri.
"Kau benar. Sudah tidur sana!"
"Aww!" pekik Rukia sambil memegang dahinya.
Ichigo bermaksud menyentil pelan dahi adiknya, tapi ternyata dia menyentilnya terlalu kuat mungkin.
"Rukia?" kata Ichigo panik melihat adiknya langsung menggulung diri di dalam selimutnya.
"Ini sakit! Aku akan mengadukannya pada Kaa-chan!" rajuk Rukia.
.
.
*KIN*
.
.
"Kumohon, jangan ganggu Rukia lagi."
Setelah pulang sekolah itu, Ichigo bermaksud menemui Kuchiki Momo, gadis yang sempat mengganggu Rukia itu. Dia tak bisa berlaku kasar pada gadis itu. Satu-satunya jalan adalah memohon pada gadis itu agar tak mengganggu adiknya lagi.
"Lalu... apa yang akan kau lakukan?"
"Aku akan membantumu membuat lukisan untuk puisimu. Aku akan lakukan apapun asal kau tidak mengganggu Rukia lagi."
Momo terlihat kesal begini. Punya kakak yang begini baik dan perhatian sungguh anugerah buat gadis itu. Kurosaki Rukia tumbuh jadi gadis yang begitu beruntung.
Bukannya senang seorang Kurosaki Ichigo memohon padanya seperti ini, tapi malah membuat Momo semakin kesal dan membenci Rukia. Menurutnya, gadis itu bisa mendapatkan apa yang tidak dia dapatkan. Padahal, Momo jelas lebih baik dari gadis itu. Dia pintar, dia juga tidak memiliki tampang yang buruk. Prestasinya lebih bagus. Tapi kenapa malah gadis itu yang mendapatkan semuanya?
Padahal... Kurosaki Rukia, bukanlah apa-apa dibanding dirinya. Kurosaki Rukia hanyalah gadis yang beruntung karena terlahir dari keluarga kaya dan terhormat. Hanya itu!
"Bagaimana kalau berlutut di depanku? Baru akan aku pertimbangkan!"
Tanpa banyak bicara lagi, Ichigo langsung menjatuhkan tubuhnya untuk berlutut di depan gadis itu. Dengan wajah datar dan membuang semua harga dirinya untuk adik kesayangannya.
"Kau puas?"
Bukannya menjawab, Momo malah berlari karena kesal. Sepertinya kakak itu terlalu menyayangi Rukia.
Kalau seandainya Momo meminta Ichigo terjun ke laut, mungkin Ichigo akan senang hati melakukannya. Ini benar-benar tidak adil!
.
.
*KIN*
.
.
Hari pameran puisi itu pun tiba.
Keluarga Kurosaki datang mengunjunginya. Karena terbuka untuk umum.
Rukia tak mendapat kesempatan untuk ikut, karena dirawat di rumah sakit kemarin. Jadi Momo kembali menggantikannya. Dan ternyata, Ichigo benar-benar bersedia melakukan apapun yang diminta oleh gadis itu. Rukia sempat bingung dengan tingkah kakaknya. Bukankah kemarin Ichigo sangat membenci gadis itu? Ada apa memangnya?
"Jadi ini lukisanmu, Ichigo?" tanya Masaki sambil menggandeng tangan Rukia dan melihat lukisan yang dipajang berdampingan dengan sepotong tulisan di sana. Dan itu puisi.
"Ya," jawab Ichigo singkat.
"Wah... bagus. Puisinya juga bagus. Kuchiki Momo... apa ini temanmu Rukia?" tanya Isshin.
"Iya. Dia teman sekelasku. Anaknya pintar sekali. Dia selalu juara kelas. Aku iri padanya karena bisa sepintar itu. Jika aku bisa sepintar dia, mungkin aku bisa menjadi juara kelas dan mengalahkan Nii-chan," ujar Rukia.
"Apa kau bilang? Mau mengalahkanku?"
"Hahah... tidak kok sayang, bagi Kaa-chan, Rukia yang sekarang sudah jauh lebih baik."
"Sudah kubilang tidak perlu datang! Kenapa masih datang?"
Keluarga Kurosaki terkejut mendengar suara membentak yang mendekat ke arah mereka. Wajah Masaki dan Isshin langsung terbelalak melihat itu.
Wanita berambut ungu yang pernah mereka temui beberapa waktu lalu.
.
.
*KIN*
.
.
TBC
.
.
Hola Minna... heheheh ngerasa bersalah nih yang ini gak diupdate... hohoho...
saya update yang ini. tapi dapetnya cuma dikit. entah kenapa yang tebayang cuma ini doang, udah saya peres otak saya tapi tetep yang dapet cuma ini. mungkin chap depan bisa lebih panjang seperti biasa... hehehehe maaf ya Kina... jadi abal gini rikuesan kamu... hohohooh
jadi banyakan dialog daripada diksi. entah kenapa sulit banget ngasih diksi yang bagus... yah saya emang payah banget urusan diksi. hehehe
saya udah bilang mungkin akan ada sedikit perubahan di sana sini. dan ini buktinya. hohohoh ada yang bisa nebak mana yang berubah dari yang asli? heheheh, setelah konsultasi sama Kina, ternyata kata dia boleh sedikit berubah. mungkin soal alur dan beberapa setting. hehehe tapi gak janji soal endingnya ya... soalnya tergantung sama yang rikues sih. hehehe
ok deh balas review dulu...
ChappyBerry Lover : makasih udah review senpai... heheheh wah gak tahu senpai. tergantung sitkon sih... apalagi aslinya emang ini sedih. jadi... ya gak tahu juga... *plak* heheheh iya nih saya berusaha update yang lain juga...
Ray Kousen7 : makasih udah review Ray... hehehe iya saya juga rada gimana gitu bikin sesuatu yang udah ada... hehehe kalopun saya kepingin bikin yang gitu, biasanya saya rombak abis dan cuma ngambil ide ceritanya aja... heheh tapi yah kayaknya tantangan nih buat saya bikin sesuatu yang udah ada jadi agak berbeda dengan tetap memakai alur dan setting yang sama. hehehe iya, sih... ntar kelihatan kok. saya juga agak suka sama tokoh pria kedua ini. hehehe
Wakamiya Hikaru : makasih udah review Hikaru... hehehe iya nih Momo ama Ruki emang ketuker... heheh kan ceritanya emang gitu. mm... ending ya? wah saya juga gak bisa mastiin sih. hehehe
Himetarou Ai : makasih udah review senpai... heheh iya, kan mereka emang ketuker... hehehe
Outer Space Alien XV : makasih udah review senpai... hehehe wah saya belum tahu kalo sama endingnya. masih diskusi sama yang rikues. kami juga bingung... hehehehe
Diarza : makasih udah review senpai... wah... endingnya masih ngegantung... hehehe iya mereka emang ketuker... hehehe
nenk rukiakate : makasih udah review nenk... heheheh maaf... ini juga rikuesan sih, bukan diriku yang memaksamu untuk menangis *plak* heheheh wah kurang tahu nih endingnya,,, masih ngegantung kayak jemuran. heheheh
lola-chan : makasih udah review senpai... hheheh gak tahu? wah... wajib nonton senpai. tapi gak tanggungjwab kalo sampe ngabisin tisu lima pak ya... *plak* heheh maksudnya Last Rose kan? heheh lagi ngestuck parah. maaf... ini lagi nyari wangsit. hehehe
Kina Echizen : makasih udah review Kina... hehehe sama-sama... aduh jadi malu... lhaa ini kan fic rikues kamu... bolehlah di fave... hehehe nih saya update... maaf banget ya kalo kelamaan... hiks...
shiianhia el kuchiki : makasih udah review nia... heheheh humm... ya masih ngegantung sih. tapi kayaknya bener nih fic bakal sama yang aslinya, tentu dengan perubahan sedikit sih. hehhe
makasih yang udah berpartisipasi sama fic ini. terima kasih banyak... walaupun gaje tapi masih ada yang rela baca dan ngereview juga. itu penghargaan besar buat saya... hehehe
jadi... gak bosannya, saya mohon reviewnya ya... supaya saya tahu apa fic ini boleh lanjut apa nggakk...
Jaa Nee!
