GAIJIN / PART 3
Author : Maulida NaraNaruHina a.k.a NaraGirl
Genre : Romance / Hurt / Comfort
Pair : NaruHina and Other
Rating : T
Warning : TYPO, ABAL, OOC, AGAK BERBEDA. FF INI HANYA TERINSPIRASI DARI BEBERAPA KEJADIAN DAN FAKTA KEBUDAYAAN YANG ADA DIJEPANG. KECUALI BUDAYA OPERASI PLASTIK YANG AKU AMBIL DARI BUDAYA KOREA. INI HANYA FIKSI BELAKA!
" Ya Tuhan".
Hinata langsung memalingkan wajahnya kearah Naruto. Hinata shock bahkan sedikit takut melihat hal semacam itu didepan umum. Naruto melihat apa yang Hinata lihat namun, ekspresi Naruto datar dan biasa aja. Hinata bingung, kenapa Naruto tak terkejut sama sekali ketika melihat hal tak senonoh seperti ini. Hinata memutuskan untuk melihat itu sekali lagi untuk memastikan, apakah hal itu nyata atau hanya halusinasinya. Hinata kemudian memberanikan diri namun lagi-lagi Hinata kembali berpaling menatap wajah Naruto. Hinata masih tak mengerti dengan reaksi Naruto melihat hal tersebut, seolah itu bukan kesalahan yang besar bahkan terkesan wajar.
"Naruto-kun, apa hanya ini jalan satu-satunya menuju kantor imigrasi?" tanya Hinata. Naruto tak fokus pada Hinata, ia lebih fokus pada pertunjukan erotis yang ada didepan matanya. Hinata kesal, ia memegang wajah Naruto lalu kemudian dihadapkan ke wajahnya. "Naruto-kun!" bentak Hinata.
"Ahh, itu…iya hanya ini jalan satu-satunya menuju kantor imigrasi. Jika kau berniat memutar balik maka perjalanan yang ditempuh hanya membutuhkan waktu sepuluh menit menjadi tiga puluh menit" jelas Naruto.
"Bagaimana ini, aku tak mau berjalan kearah mereka. Itu sungguh memalukan" Hinata begitu panik, walaupun itu bukan dia, namun Hinata sangat malu apalagi ia bersama seorang pria sekarang.
"Tak apa, jangan takut Hinata-chan. Mereka tidak akan marah ataupun terganggu dengan kehadiran kita".
Naruto menarik tangan kanan Hinata dengan tangan kirinya. Ia sedikit memaksa Hinata untuk melanjutkan perjalanan. Tak ada yang bisa dilakukan gadis berambut hitam keunguan ini, ia hanya bisa bersembunyi dibalik tubuh kekar Naruto. Hinata menjadikan tubuh Naruto yang ada disamping kanannya sebagai dinding penghalang penglihatan matanya. Usahanya berhasil, Hinata sudah tak bisa memandang mereka namun suara-suara erotis itu terdengar jelas ditelinganya. Hinata menutup kedua telinganya namun suara itu masih terdengar samar-samar. Ia sudah tak tahan, Hinata kemudian lari meninggalkan Naruto agar cepat menjauh dari sepasang sejoli gila ini.
"Hei Hinata tunggu aku!"
Tepat dipersimpangan jalan, Hinata menghela nafas sambil memegangi dadanya. Perasaan lega yang luar biasa menghinggapi Hinata. Hinata masih tak percaya dia melihat hal seperti itu dijalan umum. Untung gang rumahnya sepi, Hinata tak bisa membayangkan jika pada saat itu gang menuju rumahnya terlihat ramai. Gadis manis ini mengibas-ngibaskan tangan didepan wajahnya. Serasa ada yang panas, malu yang luar biasa yang membuat wajahnya memerah dan terasa panas. Wajah Hinata tampak kusut dan uring-uringan.
"Hinata kenapa kau lari dan meninggalkanku sendirian?" tanya Naruto.
"Melakukan hal seperti itu di depan umum. Apa mereka gila?. Jika ingin seperti itu setidaknya bisa dilakukan di rumah, apartemen, hotel atau tempat sepi yang tak ada orang. Benar-benar memalukan!" ucap Hinata penuh emosi.
"Memangnya kenapa? apa mereka melakukan kesalahan?" tanya Naruto tak mengerti.
"Tentu saja, mereka seperti tak punya sopan santun. Melakukan perbuatan seperti itu di depan umum tanpa rasa malu. Apalagi mereka masih seorang pelajar, kalau seandainya itu terjadi di Indonesia pasti mereka sudah dihukum oleh penduduk sekitar!"
Hah Naruto sekarang paham bahkan ia hampir saja lupa kalau Hinata adalah orang dari negara luar bukan dari Jepang. Hinata baru beberapa hari ada di Jepang jadi masih belum terbiasa dengan kebiasaan orang Jepang. Naruto menebak, pasti Hinata berasal dari Negara dimana mereka tak terbiasa melihat hal seperti ini di depan umum. Pasti Negara tempat tinggal Hinata adalah Negara yang menentang hubungan diluar nikah. Hinata tiba-tiba menarik Naruto, ia memaksa Naruto untuk melanjutkan perjalanan. Naruto melihat Hinata menutup wajah dengn kedua tangannya lalu sesekali Hinata menepuk-nepuk kedua pipinya. Selain marah melihat hal seperti itu, Naruto bisa melihat dengan jelas bahwa wajah Hinata memerah layaknya tomat yang sudah begitu matang. Naruto tak berani menyanggah opini Hinata, dia baru akan menjawab jika Hinata mengajukan pertanyaan tentang hal-hal seperti itu. Naruto yakin pasti banyak hal-hal yang akan Hinata tanyakan padanya. Jika hal seperti itu, Naruto akan menjelaskan sejelas-jelasnya tentang kebiasaan orang Jepang yang menurutnya aneh dan tak sopan. Selama beberapa menit mereka berdua berjalan tanpa komunikasi. Hinata enggan berbicara, dia terlihat masih tak percaya.
"Naruto-kun!" panggil Hinata.
"Iya ada apa?"
"Apa semua penduduk Jepang seperti itu?" tanya Hinata sambil terus berjalan dan ekspresi wajah yang terlihat masih shock. Naruto berpikir sejenak, tak ada jalan lain kecuali menjawab jujur pada Hinata.
"Iya ada beberapa penduduk Jepang yang melakukan hal itu didepan umum. Jepang adalah salah satu negara terbesar yang memiliki kehidupan sex bebas di dunia" jawab Naruto santai. Naruto terkadang juga malu mengetahui budaya Jepang yang seperti ini.
"Kalau mereka ingin melakukan hal seperti itu, kenapa mereka tidak menikah saja?" celetuk Hinata.
"Di Jepang kerja mungkin dapat dibilang seperti Tuhan, sebab hidup itu dalam pandangan orang jepang adalah untuk bekerja. Saking gila kerja dan demi mengejar karier maka seseorang akan menikah saat usia sudah menginjak tiga puluh tahun keatas. Tidak mungkin bagi mereka menahan nafsu biologisnya sampai usia tiga puluh tahun, maka dari itu mereka-"
"Melampiaskan kebutuhan biologisnya dan hidup dalam lingkaran sex bebas" ucap Hinata secara tiba-tiba tanpa menunggu Naruto melanjutkan ucapnya. Naruto mengangguk cepat. "Apa mereka tak takut tertular penyakit HIV AIDS?" tanya Hinata sekali lagi.
"Entahlah tapi memang penyakit HIV AIDS di Jepang sedikit demi sedikit meningkat. Orang Jepang beranggapan jika kau masih perawan maka mereka menganggapmu tidak gaul atau pergaulanmu lebih rendah dari mereka. Jika gadis jepang menikah dan masih perawan mereka merasa sangat malu. Biasanya kehidupan seks bebas akan dilakukan saat kita meningjak sekolah menengah pertama".
"Apa kau serius Naruto-kun?!" tanya Hinata shock. Naruto mengangguk dan menunjukan wajah polosnya.
"Iya, aku serius tapi kenapa kau terlihat begitu kaget. Apa di Indonesia tak ada seorangpun yang melakukan hubungan intim sebelum menikah?" tanya Naruto penasaran.
Hinata menghentikan langkahnya, ia terkejut mendengar pertanyaan Naruto. Dia tak menyangka Naruto berbalik menanyakan hal ini kepadanya. Hinata terdiam, ia berpikir dan ingin menceritakan apa yang ia lihat dinegara Ibunya. Sudah saatnya Hinata berbagi kisah, budaya Indonesia kepada Naruto-kun satu-satunya sahabat yang ia miliki di Jepang. Setidaknya dia juga ingin memperkenalkan Indonesia pada Naruto. Mungkin dengan menceritakan semua ini, kerinduan Hinata terhadap Indonesia sedikit terobati. Naruto begitu menanti-nanti jawaban Hinata.
"Terlalu munafik jika aku mengatakan orang Indonesia tak pernah melakukan hal semacam itu. Semua negara dimanapun pasti ada yang seperti mereka. Namun budaya Indonesia tak seperti itu, jika warga mengetahui sepasang kekasih berhubungan sex disembarang tempat, mereka akan dihukum, ditelanjangi dan diarak mengelilingi desa" ucap Hinata sambil melanjutkan perjalanannya.
"Apa kau serius?" tanya Naruto tak percaya. Hinata mengangguk cepat. "Waah Sugoi" puji Naruto penuh kekaguman.
"Di Indonesia, menikah merupakan hal yang wajib. Jika orang tua memiliki seorang putri berumur dua puluh tiga tahun keatas namun belum memiliki calon suami atau belum menikah pasti orang tua sibuk mencarikan suami untuk mereka. Ehmm kita lurus terus apa harus berbelok?" tanya Hinata setelah melihat persimpangan jalan.
"Ahh kita berbelok dan menyebrang jalan" ucap Naruto.
Hinata mengikuti intruksi Naruto tanpa menaruh rasa curiga sekalipun karena tak mungkin Naruto akan mencelakainya. Naruto terdiam sambil mengikuti langkah Hinata. Otak Naruto diliputi banyak pertanyaan. Apa benar di dunia ini ada Negara yang memiliki budaya seperi itu? tapi tentunya Hinata tak akan berbohong mengenai hal seperti ini. Walaupun Naruto orang jepang namun Naruto sangat menghargai kesucian wanita. Dari dulu Naruto ingin menemukan seorang gadis yang tak hidup dalam lingkaran sex bebas diantara jutaan wanita di seluruh Jepang. Ia tahu itu mustahil namun sekarang Naruto percaya bahwa tak ada yang mustahil didunia ini. Bukti dari itu semua adalah Hinata.
Jalanan di Tokyo sangatlah ramai, budaya berjalan lebih banyak daripada budaya berkendaraan. Ini lah perbedaan mencolok antara Jepang dan Indonesia. Di Indonesia pengendara lebih banyak daripada pengendara kaki, maka dari itu kota Jakarta yang merupakan tempat tinggal Hinata dulu begitu panas, polusi dan sangat macet. Kalau di Tokyo kebalikannya, jarang macet, dan udara masih terasa sejuk. Mungkin factor iklim juga bisa mempengaruhi budaya suatu negara, Indonesia beriklim tropis tentunya suhu udara sangat panas karena itulah orang Indonesia lebih memilih untuk naik transportasi umum daripada berjalan dibawah sinar matahari. Lain halnya di Jepang, Jepang berada di kawasan beriklim sedang dengan pembagian empat musim yang jelas. Diantaranya musim semi, musim panas, musim gugur dan musim dingin. Karena iklim Jepang seperti inilah, yang membuat mereka nyaman berjalan kaki karena tubuh mereka akan terasa sedikit hangat. Hinata berhenti di pinggir jalan. Kebetulan tak ada orang yang searah dengannya. Hinata heran melihat mobil-mobil berhenti dan berjejer bersamaan dengan dirinya yang berdiri tegak disamping trotoar.
"Hinata, kenapa kau diam saja. Ayo jalan!" ucap Naruto yang sudah berjalan jauh didepannya. Hinata terkesiap, ia berlari kecil menuju Naruto.
"Apa tak masalah jika kita menyebrang jalan seenaknya begitu? Tidak ada lampu lalu lintas disana tapi kenapa mobil itu berbaris dan berhenti?"
"Apa yang kau katakan?" tanya Naruto heran.
"Kenapa, ada yang salah?"
"Ahh iya aku ingat, kau masih belum tahu apa-apa tentang Jepang. Mobil-mobil itu berhenti karena mereka sengaja memberi jalan kepada kita. Di Jepang pejalan kaki adalah raja. Mereka adalah pengguna jalan yang paling di utamakan".
"Wah sugoi, kalau seperti ini aku jadi senang berjalan kaki" celetuk Hinata.
"Memangnya di Indonesia tak seperti ini?".
"Dalam hal lalu lintas, pejalan kaki adalah pengguna jalan yang tertindas lebih tepatnya tak dianggap. Kendaraan bermotor tak mau mengalah seperti disini. Trotoar jalan digunakan tak semestinya. Fungsi trotoar adalah untuk pejalan kaki tapi berubah menjadi tempat untuk berdagang".
"Kau pasti bercanda".
"Aku tidak bercanda Naruto-kun". Mata Hinata melihat sebuah gedung besar bertuliskan Kantor Imigrasi Jepang. "Ehmm gedungnya disini ya?" tanya Hinata
"Iya, ayo kita masuk".
ooOOoo
Di dalam kantor imigrasi sangat sibuk. Banyak warga negara asing yang ada disini khusunya warga negara yang tinggal di Amerika dan Eropa. Hinata mengambil sebuah kartu yang bertuliskan sebuah nomor. Nomor urutan antrian Hinata. Naruto duduk diruang tunggu, sedangkan Hinata berjalan ke petugas bagian pengurus kartu gaikokujin. Naruto tersenyum kepada Hinata,dan gadis itupun membalasnya. Hati Naruto terasa nyaman dan bahagia setiap melihat senyuman Hinata. Untunglah antrian tak begitu panjang jadi proses pembuatan kartu tak begitu lama. Di belakang Hinata, ada lima orang gadis muda keturunan Amerika yang ikut antri. Hinata terlihat sedikit pendek dibandingkan lima gadis Amerika itu namun wajah Hinata terlihat lebih muda dan imut. Naruto mengeryitkan keningnya, ia heran dengan petugas yang lebih mendahulukan orang dibelakang Hinata. Padahal jelas-jelas Hinata datang lebih dulu. Naruto tak terima, ia menghampiri Hinata dengan wajah masam.
"Kenapa dia mendahulukan gadis-gadis itu, padahal kau mengantri lebih dulu?".
"Tidak apa-apa Naruto-kun, mungkin petugas itu memiliki alasan tertentu. Lebih baik kau kembali ke tempat dudukmu" pinta Hinata.
"Tidak aku ingin disini saja".
Naruto masih tak percaya kalau mereka menganggap orang Eropa atau Amerika jauh lebih diutamakan daripada warga lainnya. Ada pendapat di Jepang bahwa Gaijin dari Eropa-Amerika : beradab, Turki-Jepang-China : Semi beradab, sedangkan Afrika-Australia : Keji. Lagi-lagi Naruto melihat petugas, lebih mendahulukan gadis Amerika yang lain. Naruto tak terima, apa bedanya Hinata dan gadis Amerika itu. kenapa dalam lembaga imigrasipun Hinata harus mendapatkan tindak Rasisme.
"Aku benar-benar benci orang seperti dia" ucap Naruto.
"Naruto-kun apa yang akan kau lakukan?" Pekik Hinata.
Naruto tak menghiraukan omongan Hinata, ia berjalan maju mendekati meja petugas pengurus kartu gaikokujin. Naruto menatap marah kearah petugas laki-laki yang memiliki tampang memuakkan baginya. Petugas itu heran dan menyuruh Naruto mengantri.
"Maaf nak, kau harus mengantri dulu"
BUUGH! Naruto meninju pipi petugas begitu keras. Bahkan hidung petugas itupun berdarah. Semua orang terkejut melihat perbuatannya. Hinata tak menyangka Naruto akan melakukan hal sejauh itu.
ooOOoo
Dirumah yang sederhana namun terkesan mewah, terlihat sepasang suami istri bercengkrama didepan televise. Sang istri sibuk merajut syal utuk putra kesayanganya, sang suami santai sibuk membaca Koran sambil mensecap secangkir kopi. Tiba-tiba suara deringan telfon terdengar nyaring keseluruh penjuru ruangan.
"Minato, tolong angkat telfonnya!" perintah Kushina.
"Baik" ucap Minato. Minato berjalan kearah meja kecil khusus untuk telfon. Ia mengangkat telfon tanpa ragu. "Hallo, bersama keluarga Namikaze disini?". Minato mendegarkan penjelasan dari suara seberang dengan sekasma. "Apa, putraku di Kantor polisi?!"
TO BE CONTINUE
