Hola Minna. Ini first fic request yang saya buat. Masih gaje sih.

.

DISCLAIMER : TITE KUBO

.

Adaptation From Endless Love

.

RATE : T

.

Warning : OOC (banget), AU, Gaje, Misstypo (Nongol mulu), Gak karuan, ceritanya persis sama yang ada di cerita aslinya. Jadi kemungkinan ending akan sama sesuai dengan permintaan.

.

Attention : Fic ini adalah adaptasi dari Drama Korea yang berjudul sama, 'Endless Love' yang saya bikin versi Bleach sesuai permintaan Kina Echizen.

.

.

.

Rukia diam di ruangan itu. Meja yang sengaja disusun berhadapan. Rukia juga bingung melihat kedua orangtuanya yang berubah kikuk ini. Kakaknya juga tidak berkomentar banyak. Hanya diam dan sesekali tersenyum ke arah Rukia.

Suasananya memang canggung sekali.

Di hadapan keluarga Kurosaki ada keluarga Kuchiki. Ya, Kuchiki Momo.

Setelah bertemu tanpa sengaja itu, mereka diundang oleh wali kelas Rukia dan Momo untuk bertemu. Mereka bicara banyak dan setelah itu wali kelasnya meninggalkan dua keluarga ini untuk bicara. Ya, berkenalan biasa saja. Tapi yang Rukia lihat, bukan suasana berkenalan yang ada di sini. Seperti… suasana canggung.

Kedua orang tua Rukia melihat dengan teliti Kuchiki Momo di depan mereka. Sedangkan, wanita berambut ungu itu memperhatikan Rukia dengan seksama. Mereka dia selama sekian menit dengan saling memandang kedua putri dari dua keluarga yang berbeda.

"Ahh… ternyata… putri keluarga Kurosaki sangat cantik ya," buka wanita berambut ungu panjang yang digelung tinggi itu.

"Oh… putrimu… juga sangat cantik," sambung Isshin.

"Tidak. Dia bukan putriku. Dia… putri dari adik kandungku, yang sudah lama meninggal. Meninggal ketika dia lahir."

"Oh… begitu. Kudengar dari putriku… kalau dia… anak yang sangat pintar," sela Masaki. Rautnya juga tidak begitu terlihat bagus. Ada rasa… aneh di sana. Rukia bisa merasakannya.

"Siapa… nama putrimu?" tanya Isshin pula.

"Kuchiki… Momo…" jawab Momo agak ragu.

"Ahh… nama yang cantik. Apa… yang kau sukai Momo?" tanya Isshin lagi.

Momo agak kaget ketika ditanyai demikian. Sebenarnya itu adalah pertanyaan biasa bagi orang lain yang sedang berkenalan bukan?

Tapi tidak untuk Ichigo.

Mengetahui apa yang sebenarnya ditanyakan oleh ayahnya, membuat Ichigo sedikit kesal. Mungkinkah ayahnya punya niat terselubung dari pertanyaan kali ini?

"… ya, aku menyukai banyak hal," jawab Momo kikuk.

"Tou-san, sepertinya aku dan Rukia pulang duluan dulu ya," sela Ichigo sambil menarik tangan Rukia untuk keluar dari ruangan itu.

Isshin agak kaget melihat putra sulungnya bertindak demikian. Tanpa menunggu jawaban dari ayahnya, Ichigo langsung keluar begitu saja.

Rukia juga sebenarnya agak bingung dengan sikap kakaknya ini. Rukia tahu mungkin Ichigo tak suka dengan Momo, tapi setidaknya, bukankah tidak sopan kalau mereka keluar begitu saja?

"Nii-chan… sebaiknya kita kembali ke dalam saja," bujuk Rukia ketika mereka berdua sudah keluar dari kelas.

"Tidak apa-apa. Ayo kita pulang, kali ini aku akan memboncengmu."

"Hah? Benarkah?!" seru Rukia girang.

Ichigo menganggukkan kepalanya sambil tersenyum lembut pada Rukia. adiknya sekarang amat senang dengan tawaran Ichigo barusan. Yah. Begini lebih baik. Ichigo hanya ingin melihat senyum Rukia saja. Melihat senyum adiknya sudah lebih dari cukup. Ichigo tak butuh apapun asal dia bisa membuat adik yang dicintainya ini bisa tersenyum seperti malaikat itu.

"Siap?" tanya Ichigo ketika mereka bersiap akan pulang.

"Tentu!" sambut Rukia bersemangat.

Ichigo mulai mengayuh sepedanya melewati jalan setapak menuju rumah mereka. Rukia memeluk pinggang Ichigo dengan erat. Satu tangan mungilnya terjulur ke depan mencoba menggapai angin. Ichigo juga menikmati perjalanan kali ini. Dia ingin… seterusnya begini.

Selamanya…

.

.

*KIN*

.

.

Setelah pertemuan yang aneh itu, keadaan kembali membaik. Ichigo juga merasa ayah dan ibunya sudah baik-baik saja meski kenyataan pahit itu baru saja terungkap. Semoga ayah dan ibunya tak akan pernah mempermasalahkan ini. Karena Ichigo… tidak rela jika memang Rukia bukan adik kandungnya.

"Tadaa! Selamat ulang tahun Kaa-chan!" seru Rukia sambil membawa kue tart yang dihiasi oleh lilin-lilin kecil berwarna warni itu.

Masaki tersenyum lembut sambil mengecup kening Rukia. Isshin juga terlihat bahagia dengan memeluk isteri tercintanya. Setelah meniup lilin itu, Rukia meletakkan kue tart itu di atas meja dan mengajak ibunya untuk duduk di kursi makan. Masaki agak heran melihat putrinya yang begitu antusias membawakan segala macam pada Masaki.

"Selamat ulang tahun Kaa-chan," sela Ichigo sambil menjulurkan kedua tangannya. Di tangannya ada sebuah kotak yang cukup besar di sana.

"Wah… apa ini sayang?" tanya Masaki penasaran.

"Hadiahku dan Rukia. Cepat buka Kaa-chan," ujar Ichigo.

Ichigo dan Rukia saling berpandangan dan tersenyum satu sama lain.

Begitu kotak itu dibuka, ternyata isinya adalah satu set cangkir. Ada dua cangkir yang cukup besar dan dua lagi yang agak kecil. Ternyata dua yang besar adalah lukisan wajah kedua orangtuanya dan yang kecil lukisan kedua anaknya. Masaki tersenyum lebar melihat hadiah yang diberikan oleh anak-anaknya.

"Wah, siapa yang membuat ini?" tanya Masaki saat mengangkat cangkir miliknya.

"Sebenarnya yang membuat itu hanya Nii-chan, aku hanya membantu menyemangatinya. Bagaimana Kaa-chan? Bagus tidak?" tanya Rukia memeluk Masaki dari belakang.

"Bagus. Kaa-chan terlihat lebih muda rupanya di sini," kata Masaki memperhatikan cangkir itu.

"Baiklah, bagaimana kalau kita foto bersama?" sela Isshin.

Mereka lalu berfoto bersama dengan cangkir yang dijejerkan di depan mereka.

.

.

*KIN*

.

.

"Bekalmu hari ini apa Rukia?" tanya Nozomi begitu jam istirahat sudah dimulai.

"Hmm? Aku tidak tahu," kata Rukia balik sambil mengambil kotak makannya dari tasnya.

Begitu membuka kotak makannya, ternyata isi lauk yang diberikan ibunya cukup banyak. Dan jelas itu adalah makanan mahal tentu. Apalagi makanannya didandani sedemikian cantiknya. Nozomi langsung berteriak heboh untuk meminta lauk Rukia. dan karena hal itu, semua anak dikelas jadi ikut melihat dan mengerubungi meja Rukia.

Momo membuka kotak bekalnya kali ini. Yah, tidak ada sesuatu yang istimewa di dalam sana. Semuanya makanan sederhana. Setiap kali melihat Rukia mendapatkan apa yang tidak bisa dia dapatkan, rasanya dunia ini tidak adil dengannya. Sangat tidak adil. Kenapa gadis itu bisa punya segalanya? Padahal dia bukan apa-apa dibandingkan Momo. Prestasi tidak begitu bagus, apalagi nilainya biasa saja. Tapi kenapa harus gadis itu yang mendapatkan semua perhatian yang harusnya ditujukan untuk Momo? Harusnya Momo yang mendapatkannya! Gadis itu tidak berhak sama sekali!

.

.

*KIN*

.

.

Sepulang bekerja hari ini, Isshin tidak sengaja melewati perkampungan dimana putri kandungnya tinggal. Sebenarnya dia ingin bertemu dengan putrinya. Tapi dia tidak punya alasan. Dia ingin bertemu, tapi… akan terlihat aneh. Apalagi putrinya tidak tahu masalah yang sebenarnya. Bagaimana bisa… Isshin…

Merasa tidak mungkin, Isshin bersiap akan pergi dari kawasan itu dengan mobilnya. Tapi kemudian, matanya terpaku pada sosok gadis kecil yang sepertinya baru saja pulang dari sekolah. Yah, dialah putri kandungnya. Gadis berambut hitam itu. Kalau diperhatikan, gadis itu memang memiliki wajah dan ciri fisik yang hampir sama dengan keluarga Kurosaki. Betapa bahagianya Isshin bertemu dengan putri yang terpisah darinya selama belasan tahun. Tanpa menyangka bahwa dia telah membesarkan putri orang lain, sementara… putrinya menderita seperti itu.

"Apa kabarmu?"

Isshin akhirnya nekat menemui gadis bernama Kuchiki Momo itu. langsung saja Momo kaget mendapati paman itu sudah berdiri di depannya dengan senyum sumringah.

"Oh… a-apa kabar. Selamat siang, Oji-san…" kata Momo sopan sambil menunduk dalam.

"Kau ingat padaku?" tanya Isshin antusias.

"Ehh? Tentu saja, Anda… ayahnya Kurosaki Rukia bukan?"

"Ahh ya… kau mau makan kue dulu bersamaku?"

"Ehh? Tentu saja! Tentu saja aku mau, Oji-san!" seru Momo bersemangat. Seumur hidup baru kali ini ada yang mau mengajaknya makan di luar. Hidup bersama orang yang membesarkannya selama ini tidak pernah membuatnya bahagia sedikitpun. Tidak masalah kalau dia ayahnya orang lain. Yang penting, dia bisa mendapatkan perhatian yang sama seperti yang didapatkan oleh gadis menyebalkan itu.

Isshin tersenyum saat Momo menerima ajakannya tanpa perlu banyak berpikir. Kini dia bisa membawa putri kandungnya dengan bebas tanpa terlihat mencurigakan lagi. Mungkin ini akan terlihat aneh kalau dia membawa putri orang lain. Tapi melihat gadis ini saja membuat Isshin sangat bahagia. Isshin tak tahu lagi harus bagaimana. Tapi sepertinya hanya cara inilah yang bisa dia gunakan untuk melihat putrinya langsung.

Isshin mengajak Momo berkeliling berbagai tempat. Mereka makan siang dan membeli beberapa kebutuhan sekolah. Dan akhirnya, Momo kaget ketika paman itu membawakannya sebuah boneka kelinci yang amat besar. Boneka yang bisa dipeluk seukuran dirinya mungkin. Tanpa ragu, Momo menerimanya dengan antusias.

Ini adalah boneka pertamanya dalam hidupnya.

Paman itu mengantar Momo kembali ke rumah. Betapa senang hati Momo hari ini. Ada orang yang berbaik hati sudah memberikannya sesuatu yang sejak lama dia inginkan.

"Kau dari mana saja hah!" pekik Yoruichi begitu Momo tiba di rumahnya.

"Aku… aku pulang sekolah, lalu bertemu paman itu," jelas Momo gugup.

"Paman itu? Dari mana boneka itu?" Yoruichi terlihat marah besar.

"Dari Paman yang mengantarku tadi. Dia… ayahnya Kurosaki Rukia yang bertemu dengan kita beberapa waktu lalu. Dan dia―"

"Buang segera boneka itu!" perintah Yoruichi.

"Apa? Kenapa kau menyuruhku membuangnya?!"

"Kataku buang ya buang! Kau tuli hah?! Cepat buang!"

Momo terlihat marah sekali saat Yoruichi mengambil paksa boneka yang sangat disayanginya itu. Saat Yoruichi menarik boneka itu, Momo menahannya sekuat tenaga. Karena kesal, Yoruichi memukuli Momo supaya dia melepas boneka itu untuk membuangnya segera.

"JANGAN DIBUANG! INI MILIKKU! KAU TIDAK BERHAK MEMBUANGNYA!" pekik Momo.

"Apa? Jadi kau sudah mulai kurang ajar padaku? Apa kau tidak tahu berterima kasih hah? Siapa yang selama ini membesarkan dan merawatmu susah payah? Siapa yang memberimu makan sampai sebesar ini?! Tapi kau malah bersikap kurangajar begitu hanya karena boneka jelek ini?!"

"Aku berterima kasih kau sudah membesarkanku! Tapi kau sama sekali tidak pernah menyayangiku! Kau selalu memukulku dan memaksaku bekerja untukmu! Sekarang ada orang yang berbaik hati yang sudah memberikanku boneka yang tidak pernah sekalipun kau berikan, malah ingin kau buang! Apa kau tidak tahu perasaanku?!"

"Kau berani menjawab sekarang? Bagus sekali! Kau benar-benar tidak tahu diri! Kalau begitu pulang saja ke rumah orang tua kandungmu sekarang! Aku sudah muak melihatmu!"

Entah karena emosi atau apa, tapi Yoruichi terdiam saat tanpa sadar dia mengucapkan kata-kata itu.

"A-apa? Apa… maksudmu barusan?" Momo tak yakin dia salah dengar atau memang barusan dia mendengar sesuatu yang…

Yoruichi diam untuk beberapa saat. Karena emosi dia akhirnya bicara yang tidak perlu.

"Katakan padaku yang sebenarnya! Apa maksudmu barusan?!" pekik Momo tak sabar.

"Keluarga Kurosaki itu keluarga kandungmu! Kau tertukar saat kau lahir! Apa kau puas sekarang?!"

Momo langsung menangis. Air matanya berderai tak tertahan lagi. Jadi… selama ini…

"Sebenarnya aku tidak ingin memberitahumu soal ini. Tapi sepertinya aku sudah tidak sanggup lagi. Mulai sekarang, terserah padamu! Kau mau tinggal dimana terserah padamu! Tapi jangan lagi menginjakkan kakimu di sini!"

Tanpa disuruh dua kalipun, Momo jelas tidak mau tinggal di sini selamanya. Karena itu dengan membawa boneka miliknya, dia langsung pergi meninggalkan bibi yang selama ini sudah merawatnya sejak kecil. Dia juga tidak sanggup lagi tinggal dengan orang sekasar itu. karena bagaimana pun, akhirnya dia sudah tahu. Bahwa dia sama sekali tidak ada hubungan apapun dengan orang ini.

.

.

*KIN*

.

.

Rukia tersenyum lebar sambil memeluk boneka kelinci yang dibelikan oleh ayahnya hari ini. Setelah ayahnya pulang bekerja tadi, mereka sekeluarga pergi memancing. Hari memang sudah cukup larut. Sambil memeluk boneka itu, Ichigo menggandeng tangan Rukia. Ichigo senang hari ini Rukia terlihat bahagia. Setidaknya, Ichigo tidak perlu merasa sesuatu yang akan membuat adik kesayangannya ini menderita.

Keluarga Kurosaki baru saja sampai di rumah mereka. Tapi terkejut ketika melihat seseorang duduk di teras rumah mereka sambil memeluk boneka yang sama persis seperti yang dimiliki oleh Rukia.

"Itu… Momo…" gumam Rukia.

Kontan saja Isshin dan Masaki berpandangan dan melihat ke arah gadis kecil yang masih menangis sesegukan di sana. Ichigo tak suka melihat pemandangan ini. Mau apa dia di rumah mereka?

"Hei… sedang apa kau di sini?" tanya Isshin begitu menghampiri gadis kecil itu.

Momo berdiri sambil memeluk bonekanya dan mengusap wajahnya.

"Aku baru saja… diusir dari rumah. Aku juga tidak tahu harus kemana lagi. Sekarang aku tidak punya tempat tinggal," jelas Momo menahan tangisnya.

"Lalu kenapa kau kemari? Memangnya apa hubungannya kau ada di sini?" sela Ichigo.

"Bukankah aku putri kandung kalian? Aku putri kandung kalian kan? Sudah seharusnya aku tinggal di sini. Aku ini keluarga kandung Kurosaki. Apa aku tidak boleh tinggal di rumahku sendiri?"

Mendengar penuturan Momo, Rukia terdiam sejenak.

Putri kandung… apa maksudnya…

"Tou-chan… Kaa-chan… siapa… putri kandung…" kata Rukia terbata.

"Ya, kami tertukar kan? Seharusnya aku putri kalian. Jadi aku juga berhak tinggal di rumah keluargaku sendiri!" ujar Momo lagi.

Untuk sekian kalinya Rukia kembali terpaku. Tanpa sadar air matanya turun dengan deras. Dadanya sesak. Karena itu, Rukia segera berlari keluar dari rumahnya. Kenapa jadi begini?

Ichigo yang melihat kejadian itu jadi kaget melihat adiknya berlari begitu saja. Karena itu, Ichigo segera menyusul Rukia untuk membawanya pulang.

Masaki sekarang terlihat serba salah. Dirinya juga menangis karena kejadian ini. Dia tak menyangka akan secepat ini ketahuan. Karena itu, Masaki segera masuk ke dalam rumahnya tanpa mempedulikan apapun lagi. Seketika kepalanya langsung terasa sakit luar biasa.

.

.

*KIN*

.

.

"Rukiaaa! Rukiaaa!" pekik Ichigo.

Dia sudah menyusul Rukia sebisanya. Tapi tidak tahu bagaimana, dia tidak menemukan adik kesayangannya itu. Apalagi hari sudah beranjak larut malam. Dia khawatir terjadi sesuatu pada Rukia.

"Ruki―"

Ichigo berhenti di sebuah gudang dimana mereka berteduh dari hujan beberapa waktu lalu.

Terdengar suara isakan tangis dari tempat itu. begitu melihatnya dengan teliti, ternyata Rukia duduk di sana sambil memeluk lututnya dan menenggelamkan wajahnya di sela lututnya.

Ichigo lega bisa menemukan adiknya.

"Rukia?" panggil Ichigo seraya mengelus bahu gadis cantik ini.

"Apa aku bukan putri kandung kalian?" isak Rukia.

"Siapa yang bilang begitu. Kau tetap adikku. Ayo kita pulang," bujuk Ichigo.

"Tapi… tapi di sana… ada Momo. Dia bilang… dia putri kandung Tou-chan dan Kaa-chan. Lalu… aku ini… siapa?" masih Rukia terisak.

"Kau Kurosaki Rukia. Adikku. Tidak ada yang bisa menghapus kenyataan itu. kau tetap putri dari keluarga Kurosaki. Aku hanya punya satu adik yang sangat kusayangi. Tou-chan dan Kaa-chan juga begitu. Makanya… ayo kita pulang. Nanti mereka pasti akan memberikan penjelasan," bujuk Ichigo lagi.

Rukia masih tetap menangis sesegukan. Dia tidak menyangka bahwa dirinya selama ini bukanlah anak kandung dari keluarga Kurosaki. Lalu… apa yang harusnya Rukia lakukan.

Ichigo mengusap rambut hitam Rukia mencoba menenangkan adiknya.

Setelah Rukia agak tenang, Ichigo memutuskan untuk menggendong Rukia di punggungnya. Sepertinya Rukia cukup syok. Tentu saja dia syok. Ichigo sebenarnya sangat marah melihat kejadian tadi. Di depan Rukia gadis itu bicara yang tidak perlu.

"Nii-chan… aku masih adikmu kan?" lirih Rukia dalam perjalanan mereka pulang. Rukia memeluk leher Ichigo saat kakaknya ini menggendongnya pulang.

"Tentu saja. Kau adikku satu-satunya," balas Ichigo.

Sepertinya Rukia berhenti menangis.

Begitu tiba di rumah, Isshin sudah menunggu mereka di sana. Rukia langsung turun dari gendongan Ichigo. Kepalanya tertunduk begitu dalam ketika berhadapan dengan ayahnya. Bahkan Rukia agak bersembunyi di belakang tubuh Ichigo.

"Masuklah ke dalam," ujar Isshin.

"Apa anak itu sudah pulang?" tanya Ichigo.

"Ichigo," tegur Isshin.

"Rumahnya bukan di sini, Tou-san harusnya mengantar dia pulang," ujar Ichigo lagi.

"Ichigo!" kali ini suara Isshin agak meninggi.

Rukia mencengkeram punggung baju Ichigo. Takut mendengar suara ayahnya yang pertama kalinya begitu tinggi malam ini.

"Kalau Tou-san tidak mau mengantarnya pulang, biar aku yang mengantarnya―"

PLAAK!

Rukia terkejut ketika ayahnya menampar Ichigo. Rukia kembali menangis, tidak kuat dengan masalah yang tiba-tiba muncul di keluarga mereka ini.

"Rukia, masuk ke dalam," perintah Isshin.

Rukia masih diam di sana sambil menangis. Sebenarnya dia bermaksud untuk menghentikan ayah dan kakaknya.

"Rukia, masuklah ke dalam," pinta Ichigo pula.

Rukia mengangguk pelan kemudian masuk ke dalam. Tapi, Rukia tak langsung masuk, dia mendengar dari balik pintu suara ribut ayah dan kakaknya.

"Seperti itu sikapmu pada adik kandungmu sendiri?" tegur Isshin lagi.

"Dia bukan adikku! Adikku hanya satu! Dia Kurosaki Rukia!" bantah Ichigo.

"Ichigo! Apa kau tidak mengerti? Adikmu itu tertukar kau tahu!"

"Tidak, yang aku tahu adikku hanya satu. Aku tidak mau adik yang lain! Kalau Tou-san memaksaku, aku akan pergi bersama Rukia dari sini! Jadi jangan paksa aku untuk menerima orang lain untuk jadi adikku," jelas Ichigo.

"Dia bukan orang lain. Dia adik kandungmu. Dia darah daging dari orangtuamu. Bagaimana mungkin kau masih menganggap adik kandungmu sendiri adalah orang lain?" jelas Isshin dengan nada lembut.

"Aku hanya mau Rukia yang jadi adikku, Tou-san! Kumohon, kita tetap seperti ini saja. Selamanya seperti ini. Rukia… tetap adikku sendiri," mohon Ichigo.

Karena jujur saja, menerima kenyataan ternyata jauh lebih sulit dari yang dibayangkan.

.

.

*KIN*

.

.

Momo sedari tadi disuruh menunggu di dalam sebuah kamar yang sangat bagus. Kamar itu memuat beberapa boneka lucu, lemari pakaian yang berisi baju-baju bagus, meja belajar yang sangat cantik, lemari buku, kasur yang besar dan empuk, dan suasana kamar yang sangat feminin. Momo belum pernah mendapatkan semua ini sejak lahir. Seumur hidup hanya derita yang dia rasakan. Tidak pernah diperlakukan seperti seorang anak gadis pada umumnya. Apakah salah kalau dia iri pada gadis ini? Apakah salah kalau dia menginginkan hal yang sama dengan yang dimiliki oleh gadis ini?

Tidak bukan?

Karena sesungguhnya yang berhak atas semua ini adalah Momo! Bukan dia.

Beruntung kenyataan ini diketahui dengan cepat. Jadi Momo tidak perlu melihat wajah sombong dari gadis menyebalkan itu. Entah sejak kapan Momo mulai merasa kalau Rukia adalah musuh bebuyutannya.

Bergerak dari tempat duduknya, Momo bergeser ke lemari pakaian itu. Begitu membuka lemari itu, ada banyak baju yang bagus, cantik dan pasti harganya mahal. Sejak dulu Momo ingin sekali memakai pakaian seperti ini.

Tunggu dulu.

Momo adalah anak kandung dari keluarga ini? Sudah jelas apa yang ada di dalam rumah ini pasti boleh jadi miliknya bukan?

Tentu. Kenapa tidak?

Tangan Momo bergerak pelan untuk meraih salah satu baju itu. Sedikit lagi…

"Itu pakaian Rukia, tolong jangan sentuh."

Momo terkejut dengan suara pintu yang dibuka begitu pelan. Tangannya cepat dia tarik dan menyembunyikannya di belakang punggungnya. Seorang wanita cantik berambut orange masuk ke kamar ini dengan wajah yang kurang menyenangkan. Entahlah. Sepertinya wanita ini kurang menyukai Momo hadir di keluarga ini. Sikapnya sangat berbeda dengan pria yang membelikan boneka untuk Momo hari ini.

Padahal… jelas kan, kalau mereka berdua adalah orangtua kandung Momo.

"Kalau kau ingin pakaian, pakai saja yang ini, tapi jangan sentuh baju milik Rukia," lanjut wanita cantik itu sambil menaruh satu stel pakaian di atas kasur besar itu.

Dihadapkan pada situasi canggung ini membuat Momo jadi serba salah. Haruskah dia…

"Kaa―"

"Kalau kau ingin istirahat, tidurlah di kamar tamu, aku akan menyiapkannya," katanya lemah.

"Kenapa aku harus tidur di kamar tamu? Aku kan putrimu…" balas Momo.

Wanita itu tak mengindahkan kata-kata Momo dan langsung menutup pintu kamar. Momo menggeram jengkel. Apakah perlu dia membuktikannya dengan otentik kalau dirinyalah yang berhak atas semua ini?!

Menyebalkan!

.

.

*KIN*

.

.

"Ichigo?"

Setelah berkunjung dari kamar yang tengah dihuni oleh gadis itu, Masaki beralih ke kamar putra sulungnya. Hari memang sudah larut malam, dan karena insiden kurang mengenakkan tadi, Masaki belum sempat bertemu dengan putrinya. Isshin memang sudah membicarakan masalah putri mereka, hanya saja… jujur Masaki belum bisa menerima itu.

"Kaa-chan," gumam Ichigo.

"Rukia sudah tidur?" tanya Masaki dengan nada yang sangat lembut.

"Ya, baru saja…"

Ichigo langsung menyuruh Rukia tidur di dalam kamarnya saja, mengingat ada tamu tak diundang di dalam sana.

Ichigo sendiri sudah menggelar kasur tipis di lantai kamarnya. Tidak apa-apa jika dia harus tidur seperti ini. Asal dia yakin adiknya baik-baik saja.

Masaki mendekat ke arah tempat tidur Ichigo. Rukia sudah tidur dan kelihatan nyenyak sekali. Masaki jadi tidak tega pada anak yang sudah dibesarkannya selama berbelas tahun ini. Karena bagaimananpun, rasa kasih dan sayang sudah mendarah daging untuk gadis ini. Jadi sangat tidak mungkin, Masaki sampai tega untuk mengembalikan Rukia kepada keluarga kandungnya.

Ichigo jadi tidak tega melihat ibunya yang kelihatan sangat menderita ini. Dia juga tidak mau menyerahkan Rukia begitu saja.

.

.

*KIN*

.

.

"Jadi, kalian tertukar saat masih bayi? Dan harusnya kau adalah putri dari keluarga Kurosaki, Momo?" suara Senna langsung membahana ke seisi kelas.

Senna mengatakan itu tepat ketika Rukia masuk ke dalam kelasnya. Kontan saja Rukia kaget dan merasa tidak enak sekali.

"Ya, kalau dipikir-pikir, ternyata aku memang cocok jadi Putri Mahkota kan?" balas Momo.

"Tentu saja! Seharusnya, orang yang tahu diri akan turun dari tahta dan menyadari siapa dia sesungguhnya! Jadi dia tidak bisa sombong lagi, bukan begitu?" timpal Senna.

Rukia tetap diam dan kembali ke tempat duduknya. Seluruh kelas sekarang tampak memperhatikannya. Dia tak menyangka bahwa berita ini akan menyebar begitu cepat. Sudah jelas jadi berita paling menghebohkan bukan?

"Rukia!" panggil Nozomi.

Nozomi kemudian berlari masuk ke dalam kelas dan duduk di sebelah Rukia. Melihat Rukia yang terlihat sangat terpukul itu, Nozomi langsung memeluk erat sahabatnya itu.

Rukia langsung menangis, menahan perasaannya.

.

.

*KIN*

.

.

Masaki serba salah sekarang. Tanpa sepengetahuan suaminya, Masaki memaksakan diri untuk datang ke perkampungan kumuh ini seorang diri. Semalaman dia memikirkan masalah ini, tapi tak kunjung mendapatkan jawaban yang jelas. Kepalanya sudah pusing berkali-kali memikirkan ini.

Sampai akhirnya, Masaki meneguhkan hatinya dan menemui wanita itu.

Wanita yang sudah membesarkan anak kandungnya.

"Mau apa kau kemari?" tanya wanita berambut ungu itu dengan nada ketus.

"Bicara denganku," jawab Masaki tenang.

Yoruichi tampak gerah ketika melihat sekeliling restoran ini. Orang kaya kalau bicara tampaknya selalu di tempat seperti ini bukan?

Yoruichi juga agak kesal melihat wanita terhormat ini tampak ragu bicara padanya.

"Hei, waktuku tidak banyak, apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Yoruichi malas.

"Soal… putriku…"

"Ahh, ya aku sudah mengembalikan anak nakal itu padamu, jadi sekarang, mumpung kau ada di depanku… tolong kembalikan keponakanku sekarang," kata Yoruichi sinis.

"Yang ingin kubicarakan adalah… aku sangat berterima kasih karena selama ini kau sudah membesarkan putri kandungku. Aku benar-benar berterima kasih. Apapun akan kuberikan padamu, aku janji akan memberikan apapun yang kau inginkan," kata Masaki.

"Lalu? Kau ingin apa?"

"Tolong… biarkan aku merawat Rukia."

Yoruichi tertawa seakan meremehkan sesuatu. Dia mulai memandang malas pada Nyonya kaya ini.

"Benar, kau bisa mengabulkan apa saja yang kuinginkan. Tapi bukankah itu sama saja aku menjual keponakanku sendiri? Kau hanya ingin putri kandungmu saja kan? Aku sudah mengembalikannya. Jadi kembalikan juga keponakanku sekarang, tidak sulit kan?"

"Aku sudah sangat menyayangi Rukia seperti anak kandungku sendiri. Aku mohon, aku janji akan merawatnya dengan baik dan sungguh-sungguh. Aku akan menyekolahkannya baik-baik sampai ke tingkat yang lebih tinggi, karena itu―"

"Sekarang kutanya padamu, kau mau ambil anak kandungmu, atau keponakanku? Kau harus memilih salah satu. Aku mungkin… tidak bisa menyekolahkan mereka dengan baik, tapi… aku sudah diberikan amanat untuk menjaga putri adikku dengan baik. Kau harus memilih salah satu Nyonya."

"Tapi ini tidak akan adil untuk Rukia. Kumohon biarkan aku merawatnya. Aku bersungguh-sungguh ingin membesarkannya," mohon Masaki.

"Baiklah, ambil saja Rukia-mu itu. Tapi sebagai gantinya, kembali lagi anak itu padaku. Kalau kau tidak bisa, maka jangan berharap apapun lagi padaku. Karena aku tidak akan pernah memberikan anak adikku kepada orang lain. Kuharap kau segera mengembalikannya. Kalau tidak, aku sendiri yang akan mengambilnya."

.

.

*KIN*

.

.

TBC

.

.

Holaa minna…

KINAAAAAAAAAAAAAAAAAA…

Maaf ya setelah sekian lama dengan tidak sadarnya saya sudah menelantarkan fic ini, jujur saya beberapa kali sempat hilang mood banget. Saya bahkan men-skip beberapa adegan supaya gak terlalu panjang. Semoga kamu gak marah ya sama saya karena saya udah lama banget gak update ini fic… TT_TT

Ok… saya balas review dulu…

Yoorin matsu : makasih udah review senpai… makasih udah difaveritin. Aihhh saya sebenarnya suka gagal bikin yang sedih-sedih. Jadi maaf ya kalo belum kerasa. Karena pada dasarnya agak sulit membuat fic sedih hiks…

Piyocco : makasih udah review Piyocco… ehehe saya belum nyampe ke sepuluh kali. Soalnya gak kuat ngeliatnya… apalagi masih rada jadul banget… hihihih yaa ini update yang sangat ngaret ya?

Chappyberry Lover : makasih udah review senpai… ini udah update yang… ngaret banget…

Chadeschan : makasih udah review senpai… yah kayaknya sekarang gak begitu lagi deh… hiks…ya mungkin ada beberapa perubahan kecil sih ehehe, fic collab… kebanyakan voidy yang nambahin saya sih Cuma ngelurusin plotnya aja eheheheh

Nenk rukiakate : makasih udah review nenk… ehehhe ya kan Cuma baca, moga aja gak mewek kok eheheh

Seo Shin Young : makasih udah review senpai… eheheh saya juga suka. Emang sedih sih… ya disesuaikan sama chara Bleach, bukan sama endless lovenya karena kayaknya ada beberapa karakter yang gak sesuai sama karakter asli eheheh jadi yaa ada sedikit perubahan sih

Diarza : makasih udah review senpai… jadi mau dipanggil apa nih? Ehehe ya ditunggu akhirnya yaa…

Prabz SukebeTechnika : makasih udah review senpai… ya saya juga suka siscon, ehhehhe kayaknya emang ke arah situ sih ini fic ehehhe…

Makasih yang udah rela baca sampe review lagi makasih yaa…

Saya sekarang bukan dalam kondisi baik untuk melanjutkan fic. Jadi kayaknya saya gak janji bakal update kapan aja. Ini masih diusahakan update semuanya… tolong doain yaa…

Masih ada yang mau lanjut ini fic?

Boleh review?

Jaa Nee!