GAIJIN / PART 4

Author : Maulida NaraNaruHina a.k.a NaraGirl
Genre : Romance / Hurt / Comfort
Pair : NaruHina and Other
Rating : T
Warning : TYPO, ABAL, OOC, AGAK BERBEDA. FF INI HANYA TERINSPIRASI DARI BEBERAPA KEJADIAN DAN FAKTA KEBUDAYAAN YANG ADA DIJEPANG. KECUALI BUDAYA OPERASI PLASTIK YANG AKU AMBIL DARI BUDAYA KOREA.

Di kantor polisi yang lokasinya tak jauh dari kantor urusan imigrasi Tokyo, terlihat hiruk pikuk kesibukan petugas yang mencatat keterangan pelapor akibat tindak kriminal. Ada yang menjadi korban tindak pencopetan, pencurian bahkan kekerasan dalam rumah tangga. Seaman apapun predikat yang disandang oleh suatu negara tetap aja Kriminal masih ada dalam kehidupan suatu rakyat di negara maju manapun termasuk Jepang. Hinata, Naruto , serta petugas bagian pembuatan kartu gaikokujin duduk bersamaan dihadapan seorang petugas kepolisian yang mencoba menginterogasi mereka bertiga. Seumur hidup baru pertama kali Hinata masuk ke kantor polisi. Bagi Hinata, kantor polisi sangat menakutkan apa lagi mendengar teriak-teriakan orang yang saling bertengkar untuk menuntut ganti rugi akibat kerusakan yang sudah pelaku lakukan. Hinata duduk diantara dua pria yang saling bersitegang. Perasaan dan keadaan seperti ini benar-benar tak nyaman bagi Hinata. Naruto melirik Hinata sekejap, entah kenapa ia tak suka melihat Hinata dekat-dekat dengan pria pelaku rasisme ini.

"Hinata, duduklah disini. Biar aku saja yang duduk ditengah!" perintah Naruto.

"Kenapa?" tanya Hinata.

Naruto tak menjawab, ia berdiri, menyuruh Hinata bergeser dan menempati tempat duduk Hinata sebelumnya. Mata petugas imigrasi dan Naruto saling beradu, seolah akan mencengkram satu sama lain. Terlihat jelas si petugas imigrasi meringis kesakitan karena pukulan keras dari Naruto dibagian pipinya. Petugas kepolisisan sedikit kesal melihat tingkah mereka bertiga.

"Siapa namamu?" tanya petugas kepolisian kepada petugas imigrasi.

"Namaku Subarasi Kagawa" jawab si petugas imigrasi.

"Bagaimana kronologi kejadiannya?"

"Aku tak tahu alasan anak ini memukulku. Tiba-tiba saja dia datang lalu memukulku".

Subarasi Kagawa adalah seorang pria berumur tiga puluh tahun, ia sudah lima tahun bekerja di kantor imigrasi Tokyo namun baru kali ini ia mendapat perlakuan kasar dari seorang penduduk yang akan mengurus kartu gaikokujin, apalagi yang memukul warga Jepang senndiri. Raut wajah Naruto biasa saja, dia sama sekali tak menyesal dengan apa yang sudah diperbuat. Mata petugas polisi beralih melihat Naruto yang memandang kearahnya dengan ekspresi datar.

"Uzumaki Naruto, apa alasanmu memukul petugas imigrasi ini?" tanya polisi.

"Dia sudah melanggar hukum" jawab Naruto enteng.

"Melanggar hukum katamu? yang melanggar hukum itu kau, atas tuduhan kekerasan dan penganiayaan" elak Subarasi kagawa.

"Kau juga telah melanggar hukum dengan dugaan pasal UU No.40 tahun 2008 tentang penghapusan diskriminasi ras dan etnis!" bantah Naruto.

"Apa maksudmu?" tanya petugas polisi pada Naruto.

"Dia sudah melakukan tindakan rasisme kepada Hyuga Hinata. Saat Hinata mengurus kartu gaikokujin, Hinata mengantri terlebih dahulu namun pria ini mendahulukan tiga gadis amerika yang ada dibelakang Hinata. Apa karena ia masih menganggap bangsa Amerika lebih tinggi dan beradab dari bangsa-bangsa lain. Apakah bangsa maju seperti Jepang masih menganut pendapat Fuzawa Yukichi yang menganggap, Eropa-Amerika : beradab, Turki-Jepang-China : Semi beradab, sedangkan Afrika-Australia : Keji?. Ini sungguh memuakkan!". Hinata terkesima dengan penuturan Naruto yang mengutarakan pasal hukum secara gamblang didepan penegak hukum. Hinata tersenyum kecil sambil memandang Naruto penuh arti. Ia tak tahu harus bagaimana berterima kasih pada pria tampan ini. Hinata juga tak menyangka kalau Naruto sedikit paham tentang hukum. Tanpa diduga Naruto mengenggam tangan Hinata yang bertumpu dipahanya. Genggaman ini adalah cara Naruto memberi kekuatan kepada Hinata dan tak boleh takut ataupun menyerah saat mengalami ketidak adilan seperti ini. Untuk kesekian kalinya Hinata tersenyum senang saat bersama Naruto.

"Pak Subarasi, kenapa anda mendahulukan gadis amerika itu daripada gadis ini? padahal dia mengantri lebih dulu?".

Subarasi Kagawa kebingungan menjawab pertanyaan polisi. Akhirnya dia menyadari kesalahannya. Subarasi adalah salah satu penduduk Jepang yang begitu mengagungkan amerika dan menganggap bahwa orang Amerika itu istimewa daripada bangsa lain termasuk orang Jepang sendiri. Ia tak bisa mengelak tuduhan Naruto atas tindak Rasisme terhadap Hinata. Memang apa yang dilakukan itu salah dan pantas untuk mendapatkan hukuman tapi Naruto juga melakukan kesalahan karena telah memukul orang.

"Anda tak bisa menjawabnya pak Subarasi?" polisi itu bertanya sambil menunggu sebuah jawab yang keluar dari mulutnya.

"Aku memang salah dan aku pantas untuk dihukum. Aku juga menarik laporan atas tindakan pemukulan ini". Raut wajah Subarasi Kagawa lesu dan terlihat sangat menyesal.

Hinata melihat petugas imigrasi itu penuh arti. Ia berfikir bahwa Subarasi adalah tulang punggung keluarga, memiliki istri dan anak. Jika tindakan Rasisme ini sampai ke Jalur hukum, bagaimana dengan keluarga kecil mereka. Lagipula Subarasi sudah menraik kembali tuntutannya terhadap Naruto. Hinata juga tak mau hal ini sampai ke ranah Hukum.

"Pak polisi, aku mohon kasus ini tidak usah diperpanjang lagi. Aku tidak merasa tersinggung dan tidak apa-apa dengan kejadian rumit yang terjadi malam ini. Aku ingin semuanya selesai" ucap Hinata tanpa ragu.

Subarasi melihat Hinata tak percaya, ia tak menyangka gadis yang sudah diperlakukan secara tak adil ini memiliki jiwa pemaaf yang begitu besar. Rasa bersalah yang bersarang dihatinya semakin meradang. Ia tak tahu harus bagaimana caranya berterima kasih kepada Hinata kecuali sebuah kalimat "terima kasih" yang terucap dari mulutnya. HInata tersenyum manis dan ramah kepada Subarasi, namun pria berumur tiga puluh tahun itu menunduk lesu. Subarasi Kagawa tak kuasa memandang wajah Hinata lama-lama. Lega untuk Subarasi namun menjengkelkan bagi Naruto. Naruto tak tahu kenapa Hinata mudah sekali mengatakan "Tidak apa-apa" dengan kasus serius seperti ini. Mau bagaimana lagi, Naruto tak bisa berbuat apa-apa karena dia tak mempunyai hak menjebloskan petugas imigrasi itu ke penjara karena korban sebenarnya adalah Hinata.

"Apa anda yakin nona?" tanya polisi, Hinata mengangguk tanpa ragu. "Baiklah kalau begitu kasus ini selesai sampai disini".

Dari kejauhan, terlihat sepasang suami istri berjalan mendekat ke meja intreograsi dimana Naruto putranya berada. Pria berambut pirang bermata biru, adalah ayah Naruto. Ia bernama Namikaze Minato. Ternyata sang ayah tak kalah tampan dengan putranya. Seorang lagi adalah wanita berambut merah dan panjang. Wanita ini adalah Ibu Naruto yang bernama Uzumaki Kushina. Ekspresi sangar dan menahan amarah sudah tampak di garis-garis wajahnya. Hinata sedikit ketakutan melihat wanita setengah baya ini. Berbeda dengan ayah Naruto yang terlihat kalem dan santai.

"Uzumaki Naruto!" teriak Kushina.

Datang-datang Kushina langsung menjewer telinga putranya. Tak tanggung-tanggung, ia menjewer sambil menggelandang Naruto. Naruto merasakan daun telinganya mau lepas. Jeweran ibunya begitu sakit. Kushina membawa keluar Naruto dari kantor polisi, sedangkan Minato berterima kasih dan meminta maaf atas kejadian malam ini kepada petugas introgasi. Hinata sebisa mungkin menahan tawa melihat kejadian lucu ini namun ia juga kasihan melihat Naruto, karena demi melindungi dirinya Naruto dimarahin oleh ibunya.

"Aduh, ibu lepaskan. Telingaku sakit sekali" pinta Naruto.

"Kau ini benar-benar anak yag susah diatur sampai-sampai kau dibawa ke kantor polisi! Kenapa kau berani sekali memukul petugas imigrasi". Kushina memukul-mukul punggung Naruto dengan tas tangannya yang berwarna merah muda.

"Aku memukul karena dia melanggar hukum" jawab Naruto. Kushina berhenti sejenak mendengar penjelasan putranya, namun detik berikutnya Kushina memukul putarnya kembali.

"Kau ini benar-benar merepotkan!".

"Sudahlah Kushina, Naruto seperti itu pasti ada alasannya"ucap Minato.

"Minato, kau ini selalu memanjakan Naruto!"

Kushina melepaskan jewerannya, Naruto hanya bisa meringis keaskitan sambil memegangi telinganya. Hinata harus berbuat sesuatu agar Naruto tak terus-terusan dimarahi. Hinata berusaha masuk dalam lingkaran keluarga Namikaze.

"Maaf sebelumnya, paman, bibi, Naruto-kun tidak bersalah. Dia memukul petugas imigrasi karena berusaha melindungiku atau memberi keadilan padaku!". Kushina terdiam dan beralih memandang hinata.

"Memberi keadilan? Apa kau temannya Naruto?" tanya Minato penuh senyuman.

"Iya aku teman sekelas Naruto, saat aku mengurus kartu Gaikokujin. Petugas imigrasi tak mempedulikan aku dan menyuruh tiga gadis Amerika mendahuluiku. Dia melakukan tindakan rasisme, Naruto-kun tak terima dan memukul petugas imigrasi. Lagipula petugas imigrasi sudah mencanut tuntutannya"Hinata mencoba menjelaskan dan melihat Kushina penuh arti.

"Benarkah seperti itu Naruto-kun?" tanya Kushina, Naruto mengangguk. "Kenapa kau tidak menjelaskan padaku dari tadi?!". Naruto menggeleng-gelengkan kepalanya, ia heran dengan sikap ibunya ini. "Kalau boleh tahu siapa namamu?" tanya Kushina ramah.

"Namaku Hyuuga Hinata" jawab Hinata.

"Nama yang cantik secantik wajahmu. Apakah kau kekasih Naruto?" ujar Kushina blak-blakan.

"Bukan, sama sekali bukan. Naruto-kun dan aku hanya berteman" jawab Hinata gugup. Ia begitu malu mendapat pertanyaan to the poin seperti ini. Kushina dan Minato hanya tersenyum dan saling pandang penuh arti.

"Baiklah kalau urusan di kantor polisi sudah selesai. Kami akan pulang, apa kau ikut bersama kami Naruto?" tanya Minato.

"Tidak, aku akan mengantarkan Hinata pulang" ucap Naruto.

"Ehemmm, kalian akan berkencan ya?" goda Kushina.

"Ti..tidak bibi" jawab Hinata malu.

"Hahahahaha ya sudahlah, ayah dan ibu pulang dulu Naruto" ucap Minato.

ooOOoo

Hinata dan Naruto tiba disuatu pusat perbelanjaan elektronik yang dinamakan Akihabara. Tempat wisata di Tokyo yang sering disebut juga dengan Akiba ini, merupakan sebuah tempat wisata yang berupa kawasan pusat perbelanjanan elektronok yang berada di sekitar Stasiun Akihabara, Tokyo, Jepang. Bagi para penggemar barang-barang elektronik tempat ini wajib dikunjungi. Terutama bagi mereka yang punya hobi dengan manga, anime, atau video game, tempat ini adalah surganya. Toko-toko di sini menyediakan aneka ragam alat elektronik yang sangat lengkap sekali.
Untuk mencapai tempat ini, pengunjung bisa menggunakan alat transportasi Kereta Api dari Stasiun Tokyo menuju Stasiun Akihabara, hanya dalam waktu 5 menit saja. Selain surganya pecinta elektronik terutama manga dan anime, tempat ini juga cukup indah dikunjugi pada malam hari. Hinata terkagum-kagum dengan gemerlap lampu yang terpajang diatas toko-toko bawah. Tokyo memang benar-benar indah. Tak ada yang bisa menghentikan kekaguman warna-warni lampu neon diantara cahaya malam.

"Wah indah sekali" puji Hinata.

Naruto tersenyum senang melihat Hinata kembali ceria. Semakin kedalam mereka masuk ke kawasan Akibahara, semakin banyak klinik-klinik praktek opreasi plastik dengan harga yang murah. Iklan-iklan make over wajah bagaikana itik buruk rupa disulap menjadi angsa yang cantik. Ini sungguh diluar dugaan Hinata, anehnya semua klinik itu penuh sesak dengan antrian wanita mulai dari umur dalapan tahun keatas untuk melakukan operasi plastik. Hinata melihat ke sekeliling kawasan Akibahara, jika diperhatikan secara seksama wanita-wanita disini memiliki kecantikan wajah yang sama bahkan wajah yang sama persis. Apa begitu banyak orang terlahir kembar di Jepang. Naruto tahu, tatapan Hinata ke orang-orang sama sekali tak wajar.

"Hinata. Kenapa kau menatap mereka seperti itu?".

"Mereka benar-benar cantik. Apa di Jepang merupakan penduduk dengan jumlah saudara kembar didunia?" tanya Hinata. Naruto tersenyum mendengar pertanyaan Hinata.

"Tidak. Mereka terlihat kembar karena operasi plastik!"

"Benarkah?".

"Iya, kecantikan asli orang Jepang sudah jarang dijumpai!" Hinata manggut-manggut mendengar penjelasan Naruto.

Tak jauh dari mereka, terlihat seorang pemuda diantara kerumunan orang banyak. Pemuda itu memetik gitar sambil bernyanyi lagu-lagu lama Jepang. Ternyata dia adalah seorang penyanyi jalanan. Suaranya begitu merdu dan khas vocal penyanyi Jepang. Hinata tertarik, dan ia pun mengajak Naruto untuk melihat pemuda itu. Semua warga yang datang kesini begitu menikmati alunan lagu dan petikan gitar sang penyanyi jalanan. Benar-benar hebat, semuanya terlarut dalam suasana. Seolah sang penyanyi bisa membawa orang lain jatuh kedalam dunianya. Sorak sorai semua orang mengakhiri pertunjukan penyanyi jalanan, sema pegunjung membeli lembaran uang kertas kepadanya. Ternyata pemuda ini benar-benar memikat perhatian pengunjung.

"Apa aku bisa memainkan gitar ini?" tanya Hinata kepada sang penyanyi jalanan. Naruto sedikit heran dengan sikap Hinata yang tiba-tiba ingin memainkan sebuah lagu.

"Oh tentu, silahkan" ucapnya.

Namida nagashita atode Hitori mitsumeteru asayake
Honki jyanai tte itte Hoshikute nando mo kiita no de
Runaway
— Menangis menatap matahari terbit sendirian
— Ku ingin kau katakan kau tak serius, Ku bertanya padamu berkali-kaliHitori de wa
Yakusoku datte mamorenai yo
Anata wa
Watashi ga inakutemo heiki na no

— Sendirian…Ku tak bisa menjaga janjiku
— Kau…apa kau benar-benar baik-baik saja tanpaku?Mune ga itai kurai tsurai
Mada hanaretakunai no baby
Sayonara wa shitakunai
Anata no soba ni itai no baby

— Ini begitu menyakitkan hatiku
— Aku tak ingin membiarkanmu pergi, sayang
— Jangan katakan selamat tinggal
— Aku ingin disisimu, sayangIma nara Motto motto motto motto Wakari aeru hazu dakara
Mou ichido Zutto zutto zutto zutto Aishiteru to itte
— Jika sekarang ku pikir kita bisa lebih mengerti satu sama lain
— Katakan padaku lagi, kau akan selalu mencintaiku

Naruto terkesima, ia tak menyangka Hinata memiliki bakat terpendam seperti ini. Suaranya begitu khas yang tak dimiliki penyanyi lain. Ini lagu patah hati namun iramanya cepat. Tapi jika mendalami liriknya, lagu ini menggambarkan seseorang yang tak mau ditinggalkan oleh kekasihnya. Sedikit demi sedikit penonton yang membubarkan diri, kembali ke tempat semula. Petikan gitar hinata dan suaranya membuat semua penonton terkesima. Hinata bernyanyi dengan tawa dan senyuman yang bebsa dan lepas, berdeba sekali dengan Hinata yang Naruto kenal. Bersamaan dengan itu, jantung Naruto berdetak kencang dan mulai abnormal. Kecantikan alami yang terpancar dai wajah Hinata, membuat Naruto terlena dan terbius dengan paras dan senyumannya. Naruto memegang dadanya untuk memastikan apa jantungnya masih berfungsi atau error karena pergerakan otot jantung yang tak normal.

Ima nara Motto motto motto motto Wakari aeru hazu dakara
Mou ichido Zutto zutto zutto zutto Aishiteru to itte

— Jika sekarang ku pikir kita bisa lebih mengerti satu sama lain
— Katakan padaku lagi, kau akan selalu mencintaiku

Setelah alunan lagu selesai, semua bersorak lebih meriah dari penyanyi muda sebelumnya. Sungguh menakjubkan, itulah yang ia rasakan. Hinata baru pertama kali ini merasakan atmosfer seperti ini. Judul lagu ini adalah Broken Heart, Hinata sendiri yang menciptakan lagu ini di waktu luang. Orang-orang itu semakin banyak memberikan uang kertas. Hinata tak percaya, karnyanya disukai banyak orang. Tak hanya orang lain, Naruto juga tak kalah heboh.

"Wow, Sugoi!" puji Naruto sambil bertepuk tangan dan mendekati Hinata. Hinata hanya tersenyum malu.

"Ini kartu namaku!" ucap sang penyanyi jalanan. "Aku berharap kau akan menerima tawaranku. Kau memang hebat".

"Ehh apa ini?" Hinata mengambil kartu nama orang itu dan mengeceknya. Hinata dan Naruto tak percaya melihat penjelasan yang tertera di kartu nama.

"Sugoi!" pekik Naruto tak percaya.

TO BE CONTUNE

ORIGINAL SONG FROM AZU-BROKEN HEART.

MASALAH PASAL DIATAS, ADALAH PASAL HUKUM YANG ADA DI INDONESIA. PASAL ITU BUKAN BUATAN SENDIRI TAPI MEMANG ADA. GAG TAHU APAKAH PASAL DIJEPANG SEPERTI INI JUGA ADA HEHEHE

TERIMA KASIH BUAT ORANG YANG MAU REVIEW, FAVORIT DAN FOLLOW FF INI