Hola Minna. Ini first fic request yang saya buat. Masih gaje sih.

.

DISCLAIMER : TITE KUBO

.

Adaptation From Endless Love

.

RATE : T

.

Warning : OOC (banget), AU, Gaje, Misstypo (Nongol mulu), Gak karuan, ceritanya persis sama yang ada di cerita aslinya. Jadi kemungkinan ending akan sama sesuai dengan permintaan.

.

Attention : Fic ini adalah adaptasi dari Drama Korea yang berjudul sama, 'Endless Love' yang saya bikin versi Bleach sesuai permintaan Kina Echizen.

.

.

.

"Rukia… kau ingin jadi apa nanti?"

Rukia menoleh menatap laki-laki yang selama 13 tahun ini dianggapnya sebagai seorang kakak.

"Pohon," jawabnya singkat.

"Pohon?" ulangnya dengan kening berkerut dan nada bertanya.

"Karena sebatang pohon akan terus tumbuh dan besar di tempat dimana dia dilahirkan. Pohon tidak akan pernah berpindah-pindah tempat meninggalkan keluarganya. Dia akan ada di sana sampai mati. Aku ingin jadi pohon…"

.

.

*KIN*

.

.

Rukia terbangun dari mimpinya.

Astaga… mimpi…

Ternyata 13 tahun berlalu begitu cepat. Tidak terasa kini usianya sudah bertambah jauh dari dulu. 13 tahun dan Rukia menghadapi kenyataan dengan apa adanya. Dia tidak mengeluh sedikit pun meski hidupnya sudah berputar 180 derajat. Inilah hidup yang harus dia jalani.

Kini Rukia tahu kerasnya kehidupan. Maka itu dia tetap kuat menjalaninya dengan senyum bersama dengan ibunya.

Karena hidupnya seperti ini, tak jarang Rukia dan ibunya sering berpindah-pindah tempat beberapa kali menghindari penagih utang. Sejak lulus sekolah yang setengah mati dilewatinya, Rukia terus menerus mencari pekerjaan yang cocok dengan kondisinya sekarang ini. Setelah lulus itu juga, kini Rukia yang berganti menjadi tulang punggung keluarganya. Jadi sebisa mungkin Rukia harus bekerja keras supaya bisa menghidupi ibunya dan dirinya sendiri.

Kini Rukia bekerja sebagai operator di suatu hotel. Pekerjaan yang menyenangkan karena Rukia bisa mendapatkan cukup uang dari sini.

"Ya ada yang bisa saya bantu?" kata Rukia riang.

"Hei, kau kemana kan pakaianku? Kenapa tidak ada?"

"Mungkin pakaian Tuan sedang di laundry. Sore ini akan segera tiba di tempat Anda."

"Hei Oba-chan, berapa sebenarnya usiamu?"

"Saya sudah berumur 37 tahun dan memiliki anak dua, kalau begitu akan saya beritahu bagian laundry, selamat pagi."

Rukia menutup telepon itu. Apa-apaan sih orang ini. Telepon ini memang sering mengganggunya. Tapi Rukia berusaha meladeninya dengan sabar. Lagipula, mana mungkin dia marah-marah tidak jelas kan? Sudah tugasnya memang meladeni tamu.

Terkadang juga tamunya yang rutin menelpon ini hanya iseng mengerjainya saja.

"Tamu yang sama, Kuchiki?" sapa rekan satu ruangannya itu.

"Seperti biasa," jawab Rukia singkat.

Setidaknya, untuk beberapa saat ini… Rukia bahagia bias menjalani hidup seperti ini.

Yah, bahagia berada di kota Seireitei.

.

.

*KIN*

.

.

Terowongan yang tak pernah berubah walau sudah 13 tahun berlalu. Sejak itu, ini pertama kalinya Ichigo kembali menginjakkan kakinya di tanah kelahirannya. Tempat dimana dia lahir dan tumbuh bersama keluarganya. Kenangan yang dirasanya singkat membuat hidupnya berputar begitu drastis.

Kurosaki Ichigo berjalan melewati terowongan yang mengantarnya ke gerbang masuk kota tempatnya dulu tinggal sejak kecil.

Banyak yang berubah memang. Tapi suasana di sini tetaplah sama. Tidak ada yang berubah meski sekitarnya sudah tidak sama seperti dulu. Angin musim gugur berhembus pelan menerpa dirinya dengan lembut.

Sekaligus ingin berjalan-jalan, Ichigo menyempatkan diri untuk menyewa sebuah sepeda yang akan membawanya pergi berkeliling hari ini. Sudah lama kakinya tidak mengayuh pedal sepeda seperti dulu. Hidup di tempat asing membuatnya jadi orang asing juga. Tapi tidak sekali pun dirinya melupakan siapa dirinya yang dulu.

Ichigo merindukan semua hal yang pernah ada di sini.

Semua hal yang membuatnya sanggup bertahan hingga hari ini. Kerinduan yang membuncah tak bisa hilang begitu saja. Jalan setapak yang sama yang masih dihiasi oleh sawah-sawah di sisi jalan.

Orang-orang yang masih ramah seperti dulu.

Tanpa terasa, sepeda ini membawanya mampir ke sebuah tempat. Sekolahnya dulu. Tidak ada yang berubah dari sekolah ini. Semuanya masih sama. Setelah sekilas, Ichigo kembali mengayuh sepedanya. Kali ini desiran hatinya membawanya berhenti ke sebuah kedai kecil di ujung jalan kumuh ini.

Begitu melewati kedai itu, ternyata tempat itu sudah sangat berubah. Bukan lagi orang-orang yang Ichigo kenal.

13 tahun memang bukan waktu yang singkat. Apa saja bisa berubah dalam sekejap mata. Ichigo juga tidak pernah lagi kembali kemari untuk waktu yang lama. Tidak sekali pun.

Apa yang Ichigo harapkan berkunjung kemari?

Hanya menumpahkan kerinduan?

Sepertinya begitu.

.

.

*KIN*

.

.

Rukia menunggu kapal yang biasa mengangkut penumpang-penumpang yang sering hilir mudik menyeberang sungai yang bermuara ke lautan ini. Sungai ini cukup lebar karena tidak mungkin bisa ditempuh dengan perahu kecil biasa. Karena orang-orang ingin cepat sampai maka ada sebuah kapal sedang yang sering bolak balik untuk mengantar beberapa penduduk yang ingin menyeberang. Kebetulan Rukia tinggal di seberang sungai ini.

Menuntun sepedanya untuk ke kapal, orang-orang mulai berdesakan untuk ikut menumpang. Sudah terlalu terbiasa dengan hidup seperti ini. Rukia selalu berusaha menjalaninya dengan baik. Dia tidak ingin memikirkan yang lalu-lalu. Paling tidak, sekarang Rukia ingin berusaha hidup lebih baik.

Setelah sepuluh menit menyeberang sungai, akhirnya Rukia tiba juga di rumahnya. Yah, rumah tempatnya tinggal sekarang memang bukan rumah miliknya. Melainkan rumah sewaan yang akhirnya bisa ditinggalinya. Setidaknya Rukia dan ibunya bisa tinggal dengan tenang di sini. Tanpa perlu ketakutan lagi dengan penagih hutang.

Baru saja Rukia selesai mengayuh sepedanya dan berniat akan menuntunnya untuk masuk ke rumahnya, dirinya kaget setengah mati karena tiba-tiba pintu rumahnya terbuka dengan kasar. Terdengar suara ibunya yang tengah memaki seseorang. Rukia langsung menyembunyikan diri dan terkejut melihat ibunya tengah beradu mulut dengan seorang pria asing. Siapa—

"Hei! Kau ini wanita yang tidak tahu terima kasih! Sudah kuberitahu jalan keluarnya kau malah marah-marah!"

"Memangnya kau pikir anakku itu apa hah mau kau jodohkan dengan pria tua renta yang sudah berumur 60 tahun?!"

"Tapi dia kaya raya! Sebentar juga mati, jadi hartanya bisa dialihkan ke anakmu dan kau bisa membayar hutangmu!"

"Cari saja gadis lain! Seharusnya dia sadar diri dengan usianya itu mana ada gadis perawan yang masih muda mau menikah dengannya!"

"Huh! Kalau nanti kau terdesak, kau pasti akan mencariku untuk menerima usulku ini!"

Setelah hampir ingin melempar sepatu miliknya, pria paruh baya itu langsung kabur dari arah yang berlawanan dengan Rukia.

Oh ternyata pria itu.

Dirasa aman, Rukia akhirnya keluar dari tempat persembunyiannya dan bertemu dengan Yoruichi yang sudah melihatnya.

Kini mereka duduk berhadapan di ruang kecil yang berada di rumah sederhana ini. Kamar tidur dan ruang keluarga memang jadi satu. Apalagi dapur dan ruang makan serta ruang tamu yang sempit dan hampir merangkap jadi satu kalau tidak disekat begini. Rukia masih tersenyum lembut berusaha menghibur hati Yoruichi dan memijat kakinya yang tampak lelah itu.

Ibunya sudah cukup tua. Tidak semuda dulu untuk mencari uang lagi.

"Kaa-san lelah?" tanya Rukia dengan suara lembut.

"Bukannya kau sendiri yang lelah," sahut Yoruichi.

"Aku ini kuat. Jadi tidak gampang lelah."

"Kalau kau mendengar kata-kata si sialan itu jangan dimasukkan ke dalam hati. Aku masih punya otak, jadi kau tenang saja."

Rukia hanya diam tanpa menanggapi kata-kata ibunya itu dengan terus memijat kakinya. Sebenarnya Rukia ingin menangis. Tapi kalau dia terlihat lemah, itu hanya akan menyusahkan hati ibunya saja. Rukia tidak ingin menyusahkan siapapun.

"Tenang saja, aku akan bekerja keras."

"Seharusnya dulu aku menyerahkanmu saja kepada mereka. Hidupmu tidak akan sesulit ini bersamaku. Kau pasti bisa sekolah tinggi, hidup enak dan tidak pernah dikejar-kejar oleh penagih hutang."

Rukia beralih memeluk ibunya dari belakang. Memeluk dengan lembut leher Yoruichi seraya menahan air matanya.

"Aku sudah mengatakan untuk tidak lagi bicara seperti itu. Mereka sudah tidak ada di sini…" lirih Rukia.

Sebenarnya Yoruichi juga menanggung beban yang cukup berat. Dia harus membesarkan anak ini dalam kesulitan yang luar biasa. Tapi sekali pun Rukia tidak pernah mengeluh. Itulah masalahnya. Setidaknya jika Rukia mengeluh dan merasa hidupnya tak adil, Yoruichi tidak akan merasa bersalah seperti ini. Anak ini terlalu baik untuk hidup menderita bersamanya.

Dan dalam setiap doa Yoruichi, semoga Rukia-nya bisa mendapatkan kembali hidupnya seperti saat takdir belum memutuskan hidupnya menjadi begini menderita.

.

.

*KIN*

.

.

"Kyouraku Nii-san."

Pria paruh baya dengan rambut cokelat ikal dan panjang itu menoleh setelah menghentikan kegiatannya untuk memperbaiki kamera polaroid miliknya. Matanya memicing sejenak mencoba menerka siapa yang memanggilnya itu.

"Oh, Ichigo! Apa kabarmu? Kapan kau datang?" seru Kyouraku setelah mengenali siapa orang yang memanggilnya itu.

Adik tingkatnya saat berada di sekolah seni di Amerika dulu. Kurosaki Ichigo.

Ichigo melangkahkan kakinya dengan cepat untuk menemui mantan kakak tingaktnya itu. Kyouraku Shunshui masih seperti dulu. Selalu menyukai hal-hal seperti fotografi begini. Makanya dia terkadang suka berada di tempat-tempat yang masih alami seperti ini. Penuh dengan pemandangan yang masih asri dengan alam. Contohnya seperti Seireitei ini.

"Kudengar Nii-san ada di sini, jadi aku mampir sebentar sebelum berkunjung lagi."

"Hei, kau belum mengatakan kapan kau tiba."

"Kemarin pagi. Senang bertemu denganmu lagi."

"Oh… kau datang sendiri? Kupikir kau akan datang bersama tunangan atau adikmu."

"Semuanya sibuk. Mereka terlalu sibuk sendiri."

"Mereka yang sibuk atau kau yang pergi sendirian?"

Ichigo hanya tersenyum singkat. Kyouraku dan dirinya memang pernah bersama-sama belajar di Amerika. Karena itu mereka cukup mengenal baik satu sama lain. Apalagi lukisan Ichigo sering dipuji oleh Kyouraku dan Ichigo yang juga sering memuji foto Kyouraku. Mereka cepat akrab dan sering membicarakan banyak hal bersama. Apalagi Kyouraku sudah mengenal baik keluarga Ichigo. Juga tunangannya yang memang sama-sama dari universitas yang sama dengan mereka.

Setelah berbincang sejenak, Ichigo berniat mengunjungi orang lain lagi. Kyouraku sekarang tengah menetap di sebuah pelabuhan yang dekat dengan penyeberangan sungai yang bermuara ke laut itu demi pemotretannya. Setelah itu dia akan pindah ke rumah yang sudah lama ditinggalkannya sewaktu masih di Amerika dulu.

Ichigo memilih berjalan kaki. Suasana sejuk kota Seireitei yang memang sekarang sudah musim gugur membuatnya betah berjalan ke sana kemari. Ichigo sudah sampai di tempat tujuannya.

"Oi Kurosaki!"

Seseorang yang ingin temui oleh Ichigo.

.

.

*KIN*

.

.

Grimmjow Jeaggerjaques memukul bola golf-nya dengan penuh minat. Kalau bukan karena ayahnya yang memaksa meneruskan bisnis dan sebenarnya Grimmjow masih begitu sungkan meneruskannya. Dia juga lebih banyak bermain dan bersenang-senang. Kalau bukan karena ayahnya, Grimmjow pasti sekarang sudah menjadi atlit olahraga golf. Permainan ini benar-benar menyenangkan.

Beberapa pria paruh baya yang menemaninya bermain adalah rekan bisnis ayahnya. Setelah kembali dari Amerika bulan lalu, Grimmjow memang banyak menghabiskan waktu bermain dan bersenang-senang. Juga tinggal di hotel pribadi milik ayahnya yang berdampingan dengan lahan golf ini. Perlu diketahui juga ini adalah lahan golf pribadi milik keluarganya.

Tampan dan kaya, apalagi yang dibutuhkan Grimmjow supaya gadis-gadis melirik padanya?

Kalau sampai saat ini dia tidak punya kekasih, jangan salahkan pada gadis-gadisnya. Grimmjow yang masih terlalu malas untuk meladeni gadis-gadis yang mengejarnya. Belum ada satu pun gadis yang setipe dengan keinginannya. Mau dicari kemana juga sepertinya itu adalah tipe gadis langka.

Setelah puas bermain golf, Grimmjow kembali mengecek operator hotel yang beberapa waktu ini sering diteleponnya. Karena Grimmjow terlalu malas bahkan hanya mengurus dirinya sendiri.

"Ya, ada yang bisa saya bantu?"

"Laundry-ku jam berapa tiba?"

"Pukul 1 siang sudah ada di kamar Tuan. Ada yang lain?"

"Jadi kau benar-benar wanita tua berusia 37 tahun yang sudah punya dua anak?"

"Itu benar. Kalau tidak ada lagi, akan saya tutup. Selamat pagi."

"Hei kau—"

Grimmjow begitu penasaran dengan operator ini. Suaranya tidak seperti wanita tua yang sudah punya anak. Tapi siapapun itu, dirinya senang karena sekarang pakaiannya sudah sangat menipis.

Setelah memasukkan ponselnya ke dalam saku, Grimmjow terbelalak kaget saat melihat seseorang sudah berdiri tak jauh di depannya.

"Oi Kurosaki!"

Dan si pria berambut orange hanya melambaikan sebelah tangannya.

.

.

*KIN*

.

.

Ichigo melihat-lihat hotel yang dimana Grimmjow tinggal sekarang. Orang mana yang mau tinggal di hotel kecuali dia punya banyak uang untuk dihamburkan atau memang dia yang memiliki tempat itu. Tempatnya juga menarik.

"Hei, kapan kau tiba hah? Wah kau benar-benar kejam tidak memberitahukannya padaku!" gerutu Grimmjow.

Ah ya, Grimmjow ini adalah teman satu SMA dulu di Amerika. Mereka memang mengambil universitas yang sama namun jurusan yang berbeda. Mereka masih akrab hingga kini. Namun semenjak lulus rentang waktu untuk bertemu memang sudah sulit. Sibuk masing-masing.

"Kemarin pagi," jawab Ichigo singkat.

"Wah kau benar-benar buru-buru kemari huh?"

"Tidak juga," sahut Ichigo seraya terkekeh pelan.

"Ah~ tunanganmu. Mana dia? Kau tidak membawanya?"

"Dia sibuk," jawab Ichigo singkat sambil melihat-lihat lukisan yang sengaja dipajang di ballroom hotel ini. Lukisannya sederhana tapi jika melihatnya bisa membuat orang lain merasa damai.

Grimmjow memperhatikan Ichigo yang terpaku pada satu lukisan yang dipajang di sana itu. Cukup lama matanya memandang lukisan itu tanpa bergerak sedikit pun untuk beberapa menit.

"Hei, kau benar-benar berhenti?" tanya Grimmjow.

Ichigo hanya menoleh singkat ke arah Grimmjow lalu tersenyum datar.

"Sudah lama aku berhenti melukis," ujar Ichigo.

"Lalu kenapa kau mengambil jurusan seni saat itu kalau kau mau berhenti melukis? Ayolah, kau bisa jadi pelukis hebat tahu!"

"Melukis hanya hobi. Aku punya tujuan lain."

"Oh ya, kau pernah bilang kalau kau kembali ke Jepang, kau ingin menemui seseorang? Kau sudah bertemu dengannya?"

Ichigo diam sejenak. Dia memang pernah bilang seperti itu. Jika nanti dia pulang ke Jepang, ada satu tempat yang ingin didatanginya pertama kali. Tapi setelah dia mendatanginya, tidak begitu banyak yang bisa dia temukan. Dia juga tidak bertemu dengan orang yang ingin dia temui.

"Tidak. Kurasa dia sudah pindah."

"Hum, siapa orang itu? Kau membuatku penasaran."

Ichigo hanya tersenyum tipis.

Mereka banyak mengobrol hal-hal yang sudah lam tak mereka lakukan bersama. Jadi Ichigo berencana untuk menginap semalam di kamar hotel Grimmjow. Mereka memang sudah lama tidak pernah bertemu. Jadi kali ini, Ichigo ingin sekali mengobrol panjang lebar dengan teman akrabnya ini. Kalau boleh jujur, Ichigo memang tidak memiliki begitu banyak teman selama berada Amerika. Karena berbagai hal, sulit rasanya membuka diri pada orang lain.

Sulit.

Agak lama, Grimmjow pergi sebentar meninggalkan Ichigo yang masih asyik memandangi beranda kamar hotelnya. Kalau tidak salah, Grimmjow bilang dia ingin makan sesuatu.

Ichigo menghela napas perlahan. Langit malam ini begitu cerah. Banyak bintangnya. Meskipun musim gugur, Ichigo masih bisa melihat bintang rupanya.

"Rukia, sebentar lagi aku akan bertunangan…" gumam Ichigo pelan sambil memandangi bintang-bintang itu.

Berharap bayangan gadis kecil 13 tahun lalu bisa hadir di dalam mimpinya malam ini.

.

.

*KIN*

.

.

Pagi harinya, Grimmjow menyetir mobilnya untuk mengantar Ichigo ke sebuah gedung yang tak jauh dari Seireitei. Sejak pagi dering ponsel sahabatnya itu tak kunjung berhenti walau hanya sekadar menelpon untuk menanyakan dimana Ichigo sekarang sebenarnya.

"Sampai kapan kau ada di sini?" tanya Grimmjow.

"Mungkin sedikit lebih lama. Ada apa? Kau begitu merindukanku?"

"Tch, apa-apaan itu. Aku hanya ingin mengajakmu bermain golf sesekali."

"Tapi kemampuanku tidak sehebat dirimu," canda Ichigo.

Setelah perjalanan kurang lebih setengah jam, Ichigo tiba di gedung yang dimaksud. Grimmjow langsung pulang setelah mengantar Ichigo karena dia diminta ayahnya untuk segera datang ke kantornya. Sepertinya kehidupan Grimmjow sudah dimulai untuk menjadi orang yang lebih serius daripada hanya bersenang-senang dan bermain saja.

Dua jam kemudian, acara pertunangan yang dihelat hari ini pun dimulai. Ichigo sudah mengganti pakaiannya dengan tuksedo resmi. Ichigo dan tunangannya pun sudah duduk berdampingan di hadapan tamu undangan di meja panggung ballroom.

Acara pertukaran cincin juga sudah dilakukan dan sekarang mereka resmi menjadi sepasangan tunangan. Pernikahan akan diadakan sebentar lagi juga. Meskipun begitu… tidak tampak wajah sumringah dari Ichigo. Dia seperti menjalankan pertunangan ini seperti kewajiban saja. Tidak pernah sekali pun ada senyum di wajah datar miliknya.

"Hei, Orihime, apa harapanmu pada pertunanganmu kali ini?" tanya salah satu tamu pada sepasang insan manusia yang duduk berdampingan itu.

Inoue Orihime adalah teman satu kampus Ichigo. Juga satu jurusan. Mereka memang dekat hingga sekarang. Sama-sama pandai melukis dan berpeluang menjadi pelukis hebat. Berbeda dengan Ichigo, Orihime masih meneruskan minatnya pada lukisan.

Orihime yang sudah berdandan cantik itu belum juga mendengar kata pujian dari Ichigo mengenai penampilannya kali ini. Meskipun bukan itu yang diharapkan oleh Orihime. Karena sejak mengenal Ichigo, Orihime sudah terbiasa dengan sikap acuh tak acuh dan dingin milik Kurosaki Ichigo ini. Kalau bukan karena kegigihannya, mungkin hingga kini pertunangan mereka mustahil akan terjadi.

"Aku ingin menjadi sebatang pohon untuk seseorang."

Mendengar kata-kata dari Orihime, Ichigo tertegun sejenak memandangi wajah cantik sang tunangan itu. Orihime menatap lembut kepada Ichigo dengan senyum tersungging di wajahnya.

"Sebatang pohon akan terus tumbuh di tempat yang sama dan tidak pernah berpindah-pindah. Aku berharap, jika aku menjadi sebatang pohon, aku tidak akan berpindah kemana pun dan tidak akan ditinggalkan siapapun," jelas Orihime.

Ichigo hanya terpaku diam tanpa membalas atau pun menanggapi sepatah kata pun dari Orihime.

.

.

*KIN*

.

.

Ketika Grimmjow asyik menyetir mobil, tiba-tiba dering ponsel membuyarkan konsentrasinya. Untungnya kini Grimmjow sudah tiba di pelataran parker hotel. Apakah ayahnya sudah tidak sabar bertemu dengannya? Kenapa malah menelpon?

Tadinya Grimmjow akan mengangkat ponselnya, tapi ponselnya sama sekali tidak bersuara. Begitu mencari sumber suara ponsel itu, ternyata di sebelah kursi penumpangnya ada sebuah ponsel yang berdering sedari tadi. Begitu hendak mengangkatnya, ponselnya sudah mati.

Ternyata ini ponsel Ichigo. Sepertinya ponselnya tertinggal saat dia duduk tadi. Ada-ada saja orang ini.

Besok mungkin Ichigo akan kemari mengambilnya, jadi sebaiknya Grimmjow menyimpannya dulu.

Setelah sampai di kamar hotelnya, Grimmjow jadi berpikir.

Dia begitu penasaran dengan bibi berusia 37 tahun yang sering diisenginya itu. Karena penasaran, Grimmjow bergegas menuju ruang operator yang berada di lantai bawah. Tentu saja dia paham seluk beluk lokasi hotel ini. Karena sudah lama ayahnya mengenalkan hotel ini kepadanya.

Begitu membuka pintu ruangan hotel itu, ada seorang gadis memakai seragam lengkap yang berdiri tepat di depannya.

"Maaf Tuan, apa yang Anda lakukan? Apa Anda mencari sesuatu?" tanya gadis itu.

Tampaknya dia tidak tahu siapa Grimmjow.

"Apa di bagian sini, ada seorang wanita berusia 37 tahun yang bekerja di sini?" tanya Grimmjow.

"Tidak ada wanita yang berusia 37 tahun bekerja di sini. Paling tua berumur 27 tahun. Karena rata-rata semuanya wanita berumur 20 tahunan."

Setelah mengatakan hal itu, gadis itu langsung menutup pintu ruangan itu. Grimmjow jadi bingung sendiri sekarang.

Kembali ke kamar hotel membuatnya jadi semakin penasaran. Jadi benar kalau selama ini yang diisenginya adalah seorang gadis? Kenapa dia mengaku menjadi seorang wanita tua?

Mendapat ide, Grimmjow menggunakan ponsel Ichigo untuk menghubungi bagian operator.

"Halo, apa benar kau wanita berusia 37 tahun?"

.

.

*KIN*

.

.

Rukia kembali bekerja seperti biasa. Walaupun pekerjaannya biasa-biasa saja dan kehidupannya biasa-biasa saja, paling tidak sekarang dia merasa nyaman berada di tempat seperti ini.

Teleponnya kembali berdering. Tugasnya memang mengangkat telepon sebenarnya.

"Ya, ada yang bisa saya bantu?" buka Rukia.

"Halo, apa benar kau wanita berusia 37 tahun?"

Rukia terdiam sejenak. Ternyata lagi-lagi suara pria iseng yang sering mengganggunya.

"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Rukia lagi bermaksud mengalihkan pembicaraan.

"Hei, kau belum menjawab pertanyaanku," balasnya.

"Jika tidak ada yang bisa saya bantu, saya akan menutup teleponnya."

"Ya, tentu ada yang bisa kau bantu."

"Baiklah kalau begitu, selamat—"

Rukia dan beberapa pegawai lainnya terkejut ketika pintu ruangan mereka dibuka dengan begitu keras. Baru saja Rukia akan menutup teleponnya, seorang pria asing berdiri di depan pintu dengan sebuah ponsel di tangannya yang sepertinya masih terhubung di telinganya.

"Jadi kau bibi yang berusia 37 tahun itu?" tanyanya dengan seringaian.

Karena tidak bisa meladeni tamu aneh ini di ruangan, Rukia mohon ijin untuk keluar sebentar karena tamu aneh ini.

Mereka berada di luar ruangannya dengan Rukia yang masih menunduk diam. Semoga ini bukan masalah.

"Jadi kau mau mengaku sesuatu denganku?" tanya pria berambut biru ini.

"Tidak ada yang perlu saya akui kepada Anda."

"Tentu saja ada. Kau berbohong kalau kau berusia 37 tahun dan punya dua anak."

"Saya tidak bohong soal dua anak itu. Saya memang punya dua anak, tapi saya tidak bilang itu anak siapa bukan? Maaf sebelumnya, tapi pegawai dilarang berbicara terlalu lama dengan tamu, kalau begitu saya mohon diri."

Grimmjow tertawa pelan saat gadis mungil itu menunduk hormat dan kembali masuk ke dalam ruangannya. Rambut hitamnya yang dicepol rapi itu membuat Grummjow semakin penasaran saja.

.

.

*KIN*

.

.

Setelah acara pertunangan itu, Orihime mengajak Ichigo untuk pergi ke apartemen yang baru saja dibelinya beberapa waktu lalu sebelum pertunangan mereka.

Begitu tiba di apartemen yang sudah rapi itu, Orihime menggandeng mesra Ichigo untuk menunjukkan ruangan-ruangan di dalam apartemen itu.

"Aku sudah membawa semua barangmu di Amerika untuk dipindahkan kemari. Aku juga menyiapkan ruang kerja untukmu. Bagaimana, kau suka?" tanya Orihime.

Ichigo berjalan menyusuri ruangan itu. Semua barangnya memang sudah dipindahkan kemari.

"Kau tidak meminta ijinku dulu?"

Orihime diam sesaat mendengar kata-kata itu. Ichigo tampak memandang aneh padanya. Seperti… Orihime melakukan perbuatan yang sangat salah.

"Aku akan tinggal sementara waktu bersama kakak tingkatku karena aku ingin membantunya sebentar. Jadi aku tidak mungkin tinggal di sini."

"Kau tidak mengatakannya padaku?" tanya Orihime.

"Sama seperti kau yang tidak meminta ijin padaku."

"Jadi kau… tidak akan tinggal denganku?"

"Aku sudah membuat janji itu terlebih dahulu. Kau tidak mengatakan rencanamu padaku."

Ichigo berusaha bernada lembut akan penjelasannya pada Orihime. Entah apakah dia mengerti atau tidak. Orihime hanya menunduk tanpa banyak bicara lagi.

.

.

*KIN*

.

.

"Memindahkan Kuchiki Rukia menjadi pelayan pribadi kamar hotel?" ulang Ise Nanao, supervisor yang bekerja pada hotel ini.

Atasannya tiba-tiba meminta dirinya memindahkan seorang pegawai dari bagian operator menjadi pelayan pribadi kamar hotel. Bukannya itu aneh?

"Ini perintah langsung. Kau tidak bisa membantahnya."

"Tapi memindahkan pegawai seperti itu hanya demi menjadi pelayan pribadi kamar hotel sangat tidak masuk akal. Kita bisa mencari orang lain untuk mengisi pekerjaan itu. Tidak perlu sampai memindahkan pegawai sepertinya."

"Kau tidak akan bisa melawan kalau yang memerintahkanmu adalah anak pemilik hotel. Jadi jalankan saja."

Oh, anak pemilik hotel yang suka berbuat seenaknya.

.

.

*KIN*

.

.

Ichigo kembali ke pelabuhan dimana tempat orang-orang menyeberang sungai besar ini. Kyouraku sudah menunggunya sembari memotret pemandangan sekitar. Ichigo menemani kakak tingkatnya ini untuk memotret obyek-obyek yang menarik di sekitarnya. Memang menyenangkan seandainya Ichigo juga bisa melukis pemandangan di sini. Ichigo berdiri di sisi jembatan dimana berseberangan dengan kapal-kapal yang mengangkut penumpang-penumpang yang bertukar tempat untuk hilir mudik itu.

Selagi asyik memandangi orang-orang yang saling berpindah tempat itu, Ichigo tampak diam memandangi seseorang yang memakai sebuah payung berwarna kuning. Wajahnya tampak begitu sendu dan sedih. Mata besarnya yang seharusnya terang bercahaya menjadi begitu gelap.

Karena begitu jauh, Ichigo jadi tidak begitu jelas melihat wajahnya. Apalagi orang-orang yang sudah berebut untuk naik ke dalam kapal. Tapi begitu kapal yang ditumpangi pemilik payung kuning itu berpapasan dengan Ichigo yang persis berada di depannya, Ichigo terbelalak kaget.

Wajahnya… itu seorang gadis.

Wajah yang mengingatkannya akan seseorang yang sudah lama dicarinya.

Tanpa banyak berpikir lagi, Ichigo segera melompat dari jembatan itu hendak menyusul kapal yang membawa gadis berpayung kuning itu. Ichigo berusaha berlari untuk segera menyusulnya, berharap apa yang dilihatnya adalah benar.

Tapi biar bagaimana pun Ichigo menyusulnya, dirinya tetap tidak menemukan gadis itu. Terlalu cepat dia menghilang.

Seseorang berpayung kuning, dengan cardigan berwarna pastel dan rok kotak-kotak selutut berwarna hijau gelap. Ichigo ingat bentuk tubuhnya yang mungil.

Tapi dia tetap tidak menemukannya berapa kali pun Ichigo menyeberangi jembatan ini.

"Oi Ichigo, kau darimana?" tanya Kyouraku yang melihat Ichigo begitu gelisah turun dari kapal penyeberangan itu.

"Nii-san, apa Nii-san memotret kapal sebelum ini?" tanya Ichigo.

"Ya, ada apa?"

"Boleh fotonya dicetak sekarang?"

.

.

*KIN*

.

.

Awalnya Rukia tidak terima jika dia dipindahkan menjadi pelayan pribadi kamar hotel. Tapi melihat supervisornya yang berwajah sinis itu, Rukia jadi hanya menurut saja. Memang memulai masalah bukanlah sifatnya. Hanya karena pemindahan seperti ini saja dia bisa jadi masalah kalau membantah.

Karena menjadi pelayan pribadi kamar hotel, Rukia akan tinggal di mess khusus pegawai. Jadi dia akan mengambil beberapa pakaiannya dari rumah.

Melihat cuaca yang kurang baik, Rukia membuka payung kuningnya dan menunggu kapal penyeberang seperti biasa. Mata besarnya terlihat sendu dan sedih. Entah apa yang sebenarnya dipikirkannya kini. Rukia juga tak tahu apa yang sedang dia pikirkan. Rukia merasa… setiap kali Rukia berusaha menjalani hidup, setiap kali itu pula hidup seolah menyulitkannya. Rukia memang tak pernah mengeluh. Tapi berputaran roda kehidupan seperti ini terkadang memang membuatnya menahan napas.

Menggenggam erat pegangan payung kuningnya, Rukia tetap menundukkan kepalanya ketika kapal penyeberangan sudah tiba. Kaki mungilnya melangkah pelan untuk mengikuti kapal ini.

Cardigan pastelnya dikancingkannya rapat supaya angin musim gugur tidak begitu menusuk kulitnya. Rok kotak-kotak selutut hijau gelapnya terkadang berkibar karena tertiup angin yang berhembus dari kapal.

Rukia hanya berdoa.

Semoga hidupnya akan lebih baik setelah ini.

.

.

*KIN*

.

.

Agak lama Ichigo menunggu Kyouraku mencetak lembar-lembar foto yang berhasil dipotretnya tadi.

"Astaga, sebegitu inginnya kau melihat hasil fotoku ya?"

Ichigo hanya diam tanpa merespon. Tangannya terlalu sibuk memilah-milah foto yang berhasil dipotret oleh Kyouraku. Entah kenapa hatinya merasa aneh. Jantungnya berdebar keras dan berdetak kencang. Seperti ada sesuatu yang menggelitik di sana.

"Sepertinya kau mencari sesuatu. Ada apa di sana?"

Lagi, Ichgio tidak menghiraukan suara Kyouraku yang sibuk menanyainya. Ichigo terus membuka-buka lembaran foto itu.

Terus dan terus supaya—

Tangannya berhenti otomatis saat satu lembar dia lewatkan.

Kyouraku meninggalkannya sebentar karena dia akan mengambil beberapa cetakan foto lagi.

Ichigo terpaku sejenak menatap lembaran foto yang berhasil dia temukan.

Gadis berpayung kuning itu… sudah dia temukan di sini.

Wajah yang mirip dengan… adik perempuannya dulu.

.

.

*KIN*

.

.

TBC

.

.

Holaa minna… astaga sudah lama sekali yaa fic ini hehehe

Maaf ya Kina saya lama banget menelantarkan fic-mu,

Ah ya, saya pernah bilang ya kalau fic ini akan melenceng jauh dari aslinya. Cuma sama plotnya aja, selebihnya saya sesuaikan dengan karakter Bleach-nya. Jadi kadang ada beberapa adegan yang gak sesuai atau malah saya hapus hehehe…

Ok balas review…

Naruzhea AiChi : Makasih udah review senpai… aduh jangan pingsan… ntar gak kebaca hehehe

Uzumaki Kuchiki : Makasih udah review senpai… soal ending jujur belum saya pikirkan sih hehehe jadi saya panggil apa?

Account Options : Makasih udah review senpai… gak segalau hidup saya kok hehehe maaf gak kilat ya ini udah update hehehe

Hendrik Widyawati : Makasih udah review senpai… hikss kayaknya sama deh hiksss tetep sedih ya, feelnya dapet banget aduh aduh…

Nyia : Makasih udah review senpai… makasih banyak hehehe kamu juga udah jarang keliatan yaa ini udah update loh hehhe

Shinigami Teru-chan : Makasih udah review senpai… iya gak papa kok hehehe maaf kalay updatenya lama yaa hikss hehehe ini udah update

Corvusraven : Makasih udah review senpai… makasih banyak udah suka dan fave, ini udah saya update meski lama banget hehhe

Kina Arisugawa : Makasih udah review senpai… hikss maaf ya Kina, saya merasa bersalah sekali. Bukannya apa, sepertinya karena fic ini terlalu sedih, saya susah mendapatkan feelnya. Kalo saya gak sedih, takut apa yang saya tulis datar aja hehhe…

Seo Shin Young : Makasih udah review senpai… iyaa udah tahu ya saingannya Ichi hehehe

Rinko Mitsu : Makasih udah review senpai… maaf ya gak cepet updatenya hehehe iyaa ini udah update kok hehhe

CleoNdy OnyxCherry : Makasih udah review senpai… iya ini udah lanjut kok hehehe

Darries : Makasih udah review senpai… ahahha gak kok, soalnya saya menyesuaikan aja, hm, ini juga gak tergantung pairing. Selama ini saya bikin karakter gak melulu liat pair. Pokoknya mereka harus cocok saya karater yang saya butuhkan hehhe

Gui gu : Makasih udah review senpai… saya juga gak percaya, tapi namanya tuntutan peran sih hehhe. Akhirnya belum saya pikirkan hehehe…

Azuka-nyan : Makasih udah review senpai… iyaa ini udah lanjut hehehe iya namanya juga tuntutan scenario. Kalo filmnya kan lebih kejem lagi tuh adeknya ehhehehe

Kurosaki yukia : Makasih udah review senpai… salam kenal juga hehehe, aduh Momo jangan diblack list dong. Kan biasa kalo artis harus ikutin tuntutan skenarionya hehehe…

Purple and Blue : Makasih udah review senpai… makasih banyak yaa hehehe maaf gak bisa update cepet tapi ini udah lanjut hehehe

Hina chan : Makasih udah review senpai… iya ini udah lanjut heheh

Ok, ada yang mau lanjut? Boleh review? Hehehe…

Jaa Nee!