Disclaimer: Masashi Kishimoto
Rate: T
Genre: Family and Romance
Pair: Narusaku (Main) Shikaino (Slight)
Chapter 2
Udara pagi yang sejuk, serta pemandangan alam yang masih alami membuat Naruto merasa nyaman untuk terus berjalan menyusuri jalan setapak yang dikiri dan kanannya terdapat hamparan rumput Hijau sambil terus menggendong Sakura yang terlelap dipunggungnya.
Entah kenapa, Sakura terus tertidur semenjak mereka menaiki Bus. Naruto berpikir kalau wanita ini terlalu lelah, sehingga ia terus tertidur.
"Nnngh..." Sakura terbangun beberapa saat kemudian.
"Ohayo... Sakura-chan" Sambut Naruto dengan senyum ceria.
"Emmhh... Ohayo Naruto-kun! Kita sedang berada dimana?" Tanya Sakura setelah menggeliat untuk merenggangkan otot-ototnya yang kaku dari atas Naruto.
"Desa Konoha! Indah bukan? kita akan tinggal disini mulai sekarang!"
Sakura mengedarkan pandangannya kekiri dan kekanan dan menatap takjub daerah ini.
"Sugoi! ini baru pertama kalinya aku melihat pemandangan seindah ini Naruto-kun! Tapi, di mananya kita akan tinggal?"
"Di sana!" jawab Naruto menunjuk sebuah rumah kecil yang sederhana dihadapannya.
Sakura tertegun
Naruto menurunkan Sakura dari punggungnya.
"Kenapa? Apa kau tidak suka?"
Sakura menggelengkan kepalanya sambil mengerjapkan mata.
"Tidak! Hanya saja i-ini... ini adalah rumah yang pernah kumimpikan!"
Naruto tersenyum lega
"Benarkah? Apa itu berarti..."
Sakura tersenyum lalu menyenggol bahu semangat ia berlari menuju rumah kecil yang keseluruhannya terbuat dari kayu itu sambil berteriak.
"ITU BERARTI AKU MENYUKAI RUMAH INI, NARUTO-KUN!"
Naruto awalnya mematung, akhirnya tersenyum bahagia melihat Sakuranya telah kembali ceria, dan tanpa babibu lagi, ia langsung berlari mengejar Sakura.
"Sakuraa-chan... tunggu aku!"
.
.
.
.
CKLEK
Suara knop pintu perlahan terbuka.
Terlihat jelas hamparan debu tebal menyelimuti setiap sisi rumah baru Naruto dan Sakura ini.
"Naruto-kun, apa hari ini adalah hari bersih-bersih?" Tanya Sakura lugu saat melihat pemandangan ini.
"Kurasa begitu! Jadi tunggu apa lagi?"
Mereka saling bertatapan, dan mengangguk mengerti.
.
.
.
Setelah selesai membersihkan rumah, Naruto duduk dengan Sakura diteras belakang sambil menatap hamparan gunung yang membentang luas dan sang Mentari yang beranjak terbenam.
Wajah mereka tampak kelelahan, namun tidak dengan jiwa mereka yang terlalu bahagia dengan kehidupan baru ini.
Sakura melirik Naruto sambil menghapus peluh di pelipis pemuda itu dengan saputangannya.
"Sakura-chan, apa kau menyesal telah ikut denganku?" Tanya Naruto tiba-tiba, karena sedari tadi pertanyaan itu terus menghantui pikirannya.
Sakura menggeleng, dan kembali menatap pemandangan dihadapannya.
"Bagiku, kau adalah kebahagiaan terbesar yang pernah kudapatkan, Naruto-kun! Aku tidak akan menyesal walau hidup dengan kemiskinan dan keterbatasan seperti ini. Asalkan kita selalu bersama, itu sudah lebih dari cukup!"
Naruto tersenyum, namun seketika itu, wajah bengis ayah Sakura kembali terlintas diotaknya.
"Aku bahagia mendengarnya, tapi... aku merasa bersalah karena telah memisahkanmu dengan ji-san."
Sakura menunduk menatap sendu rerumputan hijau dikakinya.
"Bagiku Tou-san adalah ayah yang terbaik diantara semua ayah. Dengan cintanya padaku, ia membesarkanku sendiri tanpa seorang pendamping Ia terlalu baik untuk ditinggalkan."
Naruto tertunduk diam dengan rasa bersalah.
"Tapi... Tou-san juga terlalu jahat karena telah memisahkanku denganmu Naruto-kun. kau adalah nafasku, dan aku tak bisa hidup tanpa bernafas. Jadi... inilah kehidupan dunia, yang tak mungkin menjadi kehidupan sempurna sesuai keinginan. Semua ini adalah sebuah skenario takdir yang tak dapat dikendalikan dan biarkanlah hal ini menjadi pelajaran untuk Tou-san, dengan begitu aku yakin suatu saat setelah ia mengerti, ia akan menerimamu Naruto-kun."
Sungguh tidak salah pilih, Sakura adalah wanita terhebat dan pengertian yang kini menjadi teman hidup untuk Naruto. Dan alangkah bahagianya seorang Naruto mendapatkan wanita yang seperti itu.
Raut wajah Naruto kembali menampakkan sinar kegembiraan dan
Jemarinya sengaja ia gerakkan untuk memegangi punggung Sakura.
Semua perasaan cinta ia alirkan melalui itu Naruto langsung mendekap tubuh Sakura dengan segala kehangatan tubuhnya.
"Sakura-chan... Arigatou! Terima kasih karena telah membiarkanku masuk dan menjadi pendamping dalam kehidupanmu... Aku... sungguh mencintaimu, Sakura-chan!"
Ujar Naruto mempererat pelukannya dengan rintikkan air mata.
"Aku tau itu" Balas Sakura membenamkan wajahnya didada bidang Naruto untuk merasakan kehangatan cinta mereka berdua.
.
.
.
.
Malam sudah tiba, dan rasa lapar sudah sedikit lenyap oleh makanan kaleng yang Sakura temukan saat bersih-bersih tadi. Rumah ini memang bukan milik Naruto, melainkan rumah sahabatnya yang ia pinjam lantaran sahabatnya itu sudah memiliki rumah yang lebih layak.
Naruto dan sahabatnya itu dulu tinggal bersama saat di Tokyo. Sebagai pemuda mandiri mereka berdua berjuang mencari uang untuk bertahan hidup. Terlebih lagi untuk Naruto yang hidupnya sebatang kara, ia bekerja sampai larut malam untuk bertahan hidup. Namun kebersamaan mereka itu harus berakhir dikarenakan kedua orang tua sahabatnya itu meminta sahabatnya untuk kembali ke kampung halaman dengan alasan rindu, maka dia sahabat Naruto yaitu Shikamaru akhirnya pindah dari Tokyo ke Konoha.
Walau berpisah, Naruto dan Shikamaru masih berkomunikasi dan baru kemarin Naruto memberitahukan keinginannya untuk membawa Sakura lari kepada Shikamaru. Seperti yang diharapkan, Shikamaru mau membantu dengan meminjamkan rumah lamanya pada Naruto sebagai tempat tinggal sementara. Besok, mungkin Shikamaru akan datang mengunjungi Naruto dan Sakura, untuk sekedar mengetahui keadaan dan rencana mereka selanjutnya.
Malam yang dingin tak menjadi halangan untuk Naruto dan Sakura berhenti dalam kemesraan yang telah dirajut.
Naruto menghirup pelan aroma rambut Sakura yang duduk membelakanginya sambil menatap perapian hangat didepannya.
Sakura tidak merasa risih dengan perlakuan Naruto saat ini, karena sudah menjadi kebiasaan Naruto sejak lama untuk menciumi aroma rambutnya.
Berbekal selembar selimut dan sebuah perapian, Naruto dan Sakura berusaha untuk menghangatkan tubuh masing-masing dari dinginnya malam. Lalu tiba-tiba saja tangan Naruto menyelinap dari dalam selimut untuk memegangi perut Sakura.
Sakura sedikit tersentak, saat merasakan tangan dingin Naruto yang menyentuh perutnya.
"Masih belum terasa kalau ada bayi didalamnya!" Ujar Naruto polos.
"Tentu saja! Inikan baru dua bulan! Nanti kalau sudah tiga bulan, baru akan terasa!" Jawab Sakura setelah menyesuaikan suhu perutnya terhadap tangan Naruto yang dingin.
"Oh, begitu! Aku jadi tidak sabar menunggu pergerakannya, menggendongnya dan membesarkannya bersamamu Sakura-chan. Tapi setelah ia lahir, kita akan beri nama siapa?"
"Umm... entahlah, hal itu belum terpikirkan olehku!"
"Bagaimana kalau Naruko? Artinya anak dari Naru!" Sakura menggeleng
"Aku tidak setuju! Diakan juga anakku, jadi tidak adil kalau dibilang dia hanya anakmu!"
Naruto mengangguk paham.
"Benar juga! Lalu bagaimana kalau Nasako? Artinya anak dari Naruto dan Sakura!"
"Nama yang aneh. Tapi... aku menyukainya, Uzumaki Nasako!"
"Hihihi... Nasako-chan, kau dengar sendirikan, Kaa-sanmu menyukai nama itu. Jadi, tumbuhlah seperti anak Naruto dan Sakura, jangan nakal dan jangan pula membenci orang lain. Oke!"
Ujar Naruto mencurahkan kegembiraannya pada perut Sakura yang datar.
"Kau terlihat seperti orang idiot Naruto-kun!" Ejek Sakura, karena tak tahan dengan ekspresi Naruto.
"Kalau di depan anak dan..."
Naruto berhenti. ia bingung untuk melanjutkan ucapannya dengan apa. Subjek yang ingin ia ucapkan ialah kata 'Istri' namun ia kembali teringat kalau hubungannya dengan Sakura hanya sebatas kekasih saja. Tidak mungkin ia mengatakan 'istriku', ia tak punya hak untuk berkata seperti itu karena ia belum menikah dengan Sakura.
Naruto terdiam, ia menunduk karena terlalu malu akan statusnya yang hanya sekedar kekasih Sakura, dan bukan suami Sakura.
Sakura menyadari segala prihal yang membuat Naruto menunduk seperti ini. Oleh karenanya, Sakura memberanikan diri dengan jemarinya yang beranjak mengangkat dagu Naruto agar pria itu menatap wajahnya.
"Doushite? Kenapa kau bersedih begitu? Apa Okusanmu ini tidak begitu cantik, sehingga kau merengut begitu?"
Sukses, mata Naruto membulat sempurna, ia tak menyangka kalau Sakura akan berkata 'Okusanmu (Istrimu)' itu padanya.
"Neee? Sa-Sakura-chan? K-kau...?"
Ujar Naruto tak jelas.
"Dengarkan aku! Aku tau kalau kau merasa bodoh dengan satatusmu yang belum menjadi suamiku, tapi... Asal kau tau saja, bagiku selama kita dapat saling berbagi dan mencintai, selama itulah kita saling terikat. Walau tanpa ada janji suci pernikahan sekalipun, kita akan terus terikat. Apa kau mengerti Naruto-kun?"
Ucap Sakura dengan wajah serius.
Naruto kembali memalangkan wajahnya sambil mengangguk tidak ikhlas.
"Umm... Wakatta! Ini sudah terlalu larut malam Sakura-chan, sebaiknya kau tidur!"
Ujar Naruto merebahkan diri pada futon yang tadi didudukinya.
"Naruto-kun?"
Sakura masih khawatir.
To Be Continue
Author Note:
Makasih buat yg ngeriview dan yang ngefollow fic ini.
