Yes! Finally my writing time is back! *loncat salto kayang* Mian untuk para readers yang lumutan nunggu lanjutan fanfic Mistake. Sambil nunggu nggak ada salahnya kok baca fanfic yang ini *teuteup promosii* Oh iya, lupa bilang kalo di fanfic ini Minho-Onew itu senior YoonYul di kampus. Semoga yang udah baca part 1 nggak bingung ya, hehe. I'm still waiting for many reviews :)


"Oppa, ireona, jebal. Ireona! Ireona oppa! Berhenti membuatku khawatir! Candaanmu tidak lucu, oppa! Ireona ppaliwa!" teriak seorang yeoja sambil mengguncang-guncangkan tubuh seorang namja yang terbaring tak bergerak di ranjang putih. Kabel-kabel elektroda kardiograf yang memenuhi dada bidang namja itu tampak berseliweran memusingkan mata. Cairan infus yang dimasukkan melalui pembuluh darah di pergelangan tangan kanan namja itu serta sebuah masker oksigen yang menutupi hidung dan mulutnya menandakan kalau kondisi namja yang tengah terbaring itu sangat tidak baik.

Yeoja itu terus saja mengguncang tubuh namja yang terbaring di hadapannya tanpa memedulikan tarikan dan bujukan orang-orang di sekitarnya untuk menjauh. Bunyi "tiit" panjang yang melengking keras dari kardiograf beberapa detik lalu membuat yeoja itu terpaksa membuang jauh-jauh harapannya akan kesembuhan namja di atas ranjang putih itu. Harapan kecil yang berusaha dibangun dan dipertahankannya selama beberapa hari itu akhirnya musnah sudah saat Tuhan berkehendak lain. Ya, hari ini dia harus rela melepas kepergian namja itu untuk kembali ke pangkuanNya.

"Oppa! Ireona! Oppa! Oppaa!" yeoja itu berteriak sekuat tenaga dengan harapan namja di hadapannya mendengar dan mau membuka kedua matanya. Namun harapan tinggalah harapan. Namja itu tidak pernah membuka kedua matanya dan meninggalkan yeoja itu dalam keterpurukan asanya.

"Yoona-aa, sudahlah, relakan dia pergi. Ne?" bujuk seorang yeoja paruh baya dengan suara bergetar menahan kesedihan. Diraihnya yeoja yang dipanggilnya Yoona itu ke dalam pelukan hangat seorang ibu kepada anaknya. Yeoja paruh baya itu bukanlah ibu kandungnya, namun Yoona menerima pelukan itu sepenuh hati dan terisak kencang di dalamnya.

"Eomma.. Siwon oppa.. dia.." Ucapannya terputus saat menyadari satu kenyataan yang harus diterimanya. Isakannya semakin kencang dan berubah menjadi tangisan menyayat hati akibat ditinggal pergi seseorang yang berarti di hidupnya.

Siwon, atau Choi Siwon, adalah seseorang yang dua tahun lalu dikenalnya dan mendapat tempat istimewa di hatinya. Sayangnya belum juga perasaan terpendam itu terungkap dan berbalas, namja itu harus pergi meninggalkannya. Selamanya.

"Dia sudah tenang di sana, Yoona-aa. Tuhan lebih menyayanginya." Ucap yeoja paruh baya itu yang tidak lain adalah Nyonya Choi, ibu Siwon. Pelukannya kepada Yoona belum ia lepaskan karena ia tahu betapa terguncangnya yeoja itu mendapati kepergian Siwon bertepatan dengan hari ulang tahunnya. Ya, tepat di tanggal 30 Mei dimana Yoona biasanya mendapat ucapan dan doa pertama dari Siwon untuk peringatan kelahirannya, tahun ini harus berganti duka mendalam atas meninggalnya namja itu. Sebuah kenyataan pahit yang akan terus membayangi peringatan hari lahirnya kelak.

Rupanya kondisi fisik Yoona yang lemah tidak mampu untuk menahan guncangan psikologis yang didapatnya hari ini. Mendadak napasnya tersengal dan jantungnya berdetak tidak karuan, menyebabkan yeoja itu merasakan sakit yang teramat sangat di dadanya. Bibirnya mulai membiru dan pandangannya mengabur. Hal terakhir yang diingatnya sebelum terjatuh dalam kegelapan adalah teriakan Nyonya Choi saat memanggil namanya.

"Yoona-aa!"

-o0o0o-

Yoona membuka kedua matanya dan menatap kosong ke langit-langit kamarnya. Untuk sejenak yeoja itu tidak merasakan apapun sampai akhirnya datang gelombang emosi dahsyat yang menyerangnya.

"Siwon oppa.." desisnya lirih dengan kedua mata terpejam rapat, berharap mampu menghalau serbuan emosi dan kenangan yang menyakitkan itu. Meski peristiwa meninggalnya Siwon terjadi dua tahun yang lalu, namun Yoona terkadang masih memimpikannya hingga membuatnya terpuruk dan tidak berdaya seperti saat ini.

Perlahan kedua matanya terbuka dan tampaklah kabut-kabut kesedihan di dalamnya. Tetes-tetes air mata berhasil menembus kelopaknya dan mengalir pelan di kedua pelipisnya. Dalam gerakan lambat yeoja itu mendudukkan diri dan bersandar pada tepian ranjang mewahnya. Terlihat ia berusaha untuk mengatur laju napasnya sebelum kesedihan yang berlarut memaksanya untuk menginap di rumah sakit dengan selang oksigen di hidungnya seperti yang terjadi bulan lalu.

Setelah merasa lebih tenang, Yoona meraih gagang telepon paralel yang terletak di atas meja samping ranjangnya dan menekan angka 4. Perlu waktu beberapa detik sebelum sambungan itu diangkat.

"Pak, satu jam lagi tolong siapkan mobil saya ya. Gomapseumnida."

-o0o0o-

"Oppa, aku datang." Nan jeongmal bogoshipposoyo, sambungnya dalam hati. Diletakkannya dengan hati-hati seikat bunga lili putih yang baru saja dibelinya di atas sebuah pusara bertuliskan Choi Siwon. Dengan air mata tertahan, Yoona mendudukkan diri di depan pusara terawat itu dan memejamkan mata. Untaian doa yang tulus meluncur dari bibirnya untuk seseorang yang telah damai di surgaNya, seseorang yang juga dicintainya sampai saat ini.

Setelah selesai berdoa, Yoona membuka mata dan terkejut melihat orang lain yang entah sejak kapan berdiri di sampingnya.

"Yul-aa?" Orang yang dipanggil menoleh dan menundukkan pandangannya.

"Sudah kuduga kalau kau ada di sini, Yoong." Ucap Yuri. Kini yeoja itu ikut mendudukkan diri di samping Yoona dan menatap lekat sahabatnya itu. Yuri yang telah mengenal Yoona sejak mereka berumur lima tahun merasa prihatin dengan kondisi sahabatnya itu. Fisik Yoona mulai melemah, meski yeoja itu tidak menunjukkannya terang-terangan. Ditambah dua tahun lalu seseorang yang dicintainya meninggal akibat kecelakaan beruntun yang dialaminya tepat di hari ulang tahun Yoona.

"Minho sunbae mencarimu." Perkataan bernada getir yang terlontar dari mulut Yuri berhasil mengalihkan perhatian Yoona dari pusara Siwon. Sebelumnya yeoja itu menerawang kosong dan melamunkan namja itu sebagaimana biasanya saat ia berziarah.

"Nde?" Yoona menatap tidak percaya ke arah Yuri dan memastikan pendengarannya tidak salah menangkap infromasi.

"Minho sunbae mencarimu, Yoong. Setengah jam yang lalu dia meneleponku dan menanyakanmu. Dia tahu pagi ini kau membolos mata kuliah pertamamu." Jawab Yuri sambil tersenyum tipis.

"Yul, aku.." Yoona mendadak menggantung ucapannya dan menatap Yuri dengan pandangan aku-perlu-menjelaskan-sesuatu-padamu yang sayangnya salah diartikan oleh sahabatnya itu.

"Sudahlah, aku tidak apa-apa. Temui dia sekarang. Kurasa.. Kurasa dia sangat mengkhawatirkanmu." Lanjut Yuri. Sekelebat rasa kecewa dan putus asa melintas di matanya dan sebelum Yoona sempat menyadarinya, kelebatan itu berganti pandangan memerintah yang tidak bisa dibantah.

"Ayo Yoong, kita harus ke kampus. Aku tidak akan membiarkanmu membolos lagi hari ini. Ingat, ujian akhir tinggal dua minggu lagi. Apa kau mau nilaimu kembali turun seperti tahun lalu? Aish, padahal sebentar lagi kita lulus dan kau masih saja suka membolos seperti ini. Benar-benar merepotkan!" omel Yuri sambil menarik Yoona pergi menjauh dari pusara Siwon dan meninggalkan area pemakaman itu. Yuri sengaja mengalihkan topik pembicaraan untuk menghindari suasana canggung yang mendadak tercipta di antara mereka.

"Aish, aku tahu itu Yul-aa. Lagipula aku juga tidak berniat membolos hari ini. Aku hanya memanfaatkan jatah dua puluh persenku, arra?" balas Yoona yang tidak terima dirinya disebut sebagai seorang yang suka membolos oleh Yuri. Langkah kakinya berderap cepat mengikuti Yuri yang menuju ke area parkir pemakaman berupa lahan kosong dengan beberapa baris rumput mencuat di atasnya. Di sana terparkir dua buah mobil, Hyundai civic hitam milik Yuri dan Audi hitam milik Yoona.

Baru beberapa langkah ke arah dua mobil itu, Yoona mendapati ada yang aneh dengan mobilnya hingga langkahnya terhenti dan menahan Yuri di sampingnya.

"Tunggu, kenapa mobilku menyala? Dan siapa itu yang berada di dalam? Apa jangan-jangan dia orang jahat yang ingin merampok kita?" bisik Yoona penuh kewaspadaan. Kedua matanya memicing berusaha melihat dengan lebih jelas siapa yang telah berani masuk ke dalam mobilnya dan menyalakannya.

"Jangan melantur, Yoong! Itu kakakmu, Siwan oppa. Dia datang bersamaku karena sama-sama mencarimu. Tadi kuminta dia menunggu di sini saja sementara aku mencari dan menjemputmu." Jawab Yuri yang menelusupkan kelegaan dalam diri Yoona.

"Ah, Siwan oppa. Tapi.. mobilnya kemana?" tanya Yoona lagi. Kini keduanya kembali melangkah dan mendekat ke tempat parkir dua mobil yang terbilang mewah itu.

"Tanyakan saja padanya." jawab Yuri sambil tersenyum misterius. Yoona mengerutkan kening mendengarnya, namun ia mematuhi juga apa yang dikatakan Yuri barusan. Yeoja itu berjalan mendekati pintu pengemudi Audi hitam miliknya sementara Yuri menyalakan dan memanaskan mesin mobil miliknya.

Tok! Tok! Yoona mengetuk kaca pintu pengemudi cukup keras dan membuat orang di dalamnya menurunkan kaca mobil itu. Setelah terbuka setengah, tampak seorang namja yang berusia 2-3 tahun lebih tua dari Yoona dengan setelan pakaian santainya berbalik menatap yeoja itu. Rambutnya yang tersisir rapi dengan potongan pendek, bentuk mata yang tergolong besar untuk rasnya, hidung mancung dan kulit putih terawat menyambut tatapan kebingungan Yoona atas keberadaan orang tersebut di dalam mobilnya.

"Mana mobil oppa? Kenapa tiba-tiba membajak mobilku?" tanya Yoona tanpa basa-basi. Siwan mendengus mendengar pertanyaan adik semata wayangnya itu.

"Aish, memangnya tidak boleh? Mobilku masuk bengkel akibat ulah Ryeowook kemarin yang sok kebut-kebutan di jalan raya. Akibatnya mobilku tersenggol truk dan lecet di bagian kiri. Lain kali tolong nasehati calon pacarmu itu untuk berhati-hati menggunakan mobilku." Jawab Siwan yang jelas tampak kesal karena mobil tersayangnya terpaksa menginap di bengkel dan jauh darinya.

"Ya! Kenapa jadi aku yang harus menasehatinya? Dia kan teman oppa. Oppa saja yang bilang padanya. Dan hei, dia bukan calon pacarku. Arraseo?" balas Yoona ketus. Dia memang tidak suka jika kakaknya itu menimpakan kekesalan padanya akibat kesalahan yang dilakukan oleh orang lain.

"Tapi dia hanya mau menurut padamu, Yoong. Ayolah, tolong oppamu yang tampan ini. Nanti oppa belikan cheese cake kesukaanmu deh, ne?" bujuk Siwan. Kali ini nada suaranya melunak dengan raut wajah memelas yang ampuh meluluhkan banyak yeoja di kampusnya, tapi tidak untuk Yoona.

"Dan menjadi bulan-bulanan yeoja-yeoja fans fanatiknya lagi? Andwe! Shirreo! Aku tidak mau." Balas Yoona keras kepala. Ia merasa sudah cukup mendapat masalah akibat duet mendadak yang diminta salah satu teman kakaknya itu di sebuah acara kampus. Setelah itu tidak sedikit yeoja yang membicarakannya dan hal itu dianggap sangat mengganggunya. Karena itu dia tidak mau lagi berurusan dengan seniornya yang bernama lengkap Kim Ryeowook.

"Ayolah Yoong, jebal." Bujuk Siwan lagi. Kini kedua mata namja itu mengerjap-ngerjap bagai anak kecil yang memohon pada ibunya untuk dibelikan permen.

"Andweyo! Sekali tidak tetap tidak. Oppa boleh meminjam mobilku asal aku tidak berurusan dengan Ryeowook sunbae lagi. Atau aku akan membujuknya dengan syarat oppa tidak lagi kuiijinkan meminjam mobilku SELAMANYA. Bagaimana?" tawar Yoona sambil tersenyum licik karena ia tahu kakaknya tidak akan mengambil pilihan kedua.

"Aish, baiklah, aku yang akan bicara sendiri padanya. Kau benar-benar negosiator sejati yang tidak mau kalah." Ujar Siwan mengalah. Bibirnya mengerucut setelah tahu kalau lagi-lagi dirinya kalah jika terlibat dalam urusan tawar-menawar dengan adiknya. Yoona tersenyum penuh kemenangan dan berjalan menjauh dari Audi hitam itu.

"Kakak yang baik memang harus mengalah pada adiknya. Kalau begitu aku ke kampus bersama Yuri saja. Oppa hati-hati di jalan ya. Annyeong!" pamit Yoona pada kakaknya. Siwan memandang kecut ke arah Yoona dan memperhatikan adiknya itu memasuki pintu penumpang di depan, bersampingan dengan Yuri yang telah mengenakan seatbelt. Yuri mengangguk sopan padanya, sementara Yoona melambaikan tangan dengan senyum malaikatnya sebelum melaju meninggalkan Siwan. Tidak lama kemudian Siwan menarik tuas persneling dan melepas rem, selanjutnya kaki kanannya menginjak pedal gas dan mulai melajukan mobilnya menyusul mobil Yuri.

-o0o0o-

"Minho-aa! Minho-aa! Chamkkamanyo!" panggil seorang namja setengah berteriak pada seorang namja lainnya yang berjalan cepat beberapa langkah di depannya. Sementara yang dipanggil terus saja melangkah tanpa menghiraukan panggilan itu. Rupanya namja bernama Minho itu tengah asik mendengarkan musik melalui earphone yang menutupi kedua lubang telinganya.

"Aish, pantas saja kau tidak mendengar teriakanku. Ternyata dua telingamu itu tersumbat." Ujar namja yang tadi berteriak memanggil Minho kesal. Langkahnya berhasil menjejeri Minho setelah memutuskan berlari karena namja itu tidak juga berhenti ataupun sekedar menolehkan kepalanya. Sementara Minho yang baru saja menyadari keberadaan salah satu temannya itu melepas earphone yang terpasang dan menampilkan seraut wajah tidak bersalahnya.

"Ah, Jinki-aa, sejak kapan kau ada di sampingku?" tanya Minho yang membuat Jinki mendelik sebal padanya.

"Ya! Anak ini benar-benar.. Tadi aku berteriak memanggilmu, babo! Tapi kau malah terus berjalan dan ternyata kau tuli sesaat akibat dentuman musik gila di playlist-mu itu." sungut Jinki. Minho masih mengerjap bingung untuk sepersekian detik sampai akhirnya dia mengerti apa yang dimaksud oleh temannya itu.

"Oh, hahaha, mianhae Jinki-aa. Aku terlalu asik dengan lagu-lagu underground terbaru di track list-ku. Efek dentumannya dahsyat! Aku sangat menyarankanmu untuk mendengarnya." Balas Minho. Kini earphone itu beserta iPhone putih miliknya sudah ia masukkan ke dalam tempat khusus di salah satu saku ransel kuliahnya.

"Nde? Musik gila itu kau sarankan padaku? Lebih baik aku mendengarkan musik surga ciptaan Beethoven, Mozart, Chopin, Bach atau Yiruma." Cibir Jinki. Kedua namja itu kini berjalan bersama menuju kantin kampus mereka.

"Justru musik surgamu itu yang telah membuatmu tidak bersemangat dan berjiwa pejuang, Jinki-aa. Jenis musik itu lebih cocok untuk yeoja melankolis. Atau jangan-jangan kau sebenarnya adalah.." Minho menggantung ucapannya dan menatap curiga ke arah Jinki. Ia menyipitkan mata dan memandang Jinki dari atas ke bawah seakan hendak memastikan sesuatu.

"Ya! Kau mau mengatakan kalau jangan-jangan aku seorang yeoja, huh? Sayang sekali dugaanmu salah, Tuan Choi." Bantah Jinki cepat. Ia tahu dan mengerti benar watak Minho yang senang menggodanya karena jenis musik kesukaannya yang menurut Minho tidak lazim. Memangnya apa yang salah dengan musik klasik, huh? Batin Jinki.

Kini keduanya telah sampai di kantin dan segera mencari tempat kosong untuk makan. Untunglah di sudut ruangan yang terbilang luas itu masih tersisa satu tempat dengan satu meja dan empat kursi yang kosong. Keduanya berjalan ke tempat itu dan meletakkan tas mereka di kursi yang tidak mereka duduki.

"Aku atau kau yang mau memesan makanan?" tanya Minho sambil membuka restleting ranselnya dan mengeluarkan sebuah notebook Apple mungil berwarna putih dari dalamnya. Sebenarnya itu merupakan bahasa tubuh yang secara tidak langsung menyatakan kalau ia lebih ingin menunggu dan dipesankan. Jinki yang sudah hapal dengan bahasa tubuh itu mendengus dan bangkit dari kursinya.

"Baiklah, baiklah, biar aku saja yang pesan. Kau mau makan apa?" tanya Jinki. Minho memberikan cengiran lebarnya, merasa senang karena Jinki dengan cepat memahami maksudnya.

"Aku mau jajangmyun dan lemon tea iced ya." Jawab Minho sambil menyerahkan beberapa lembar won ke telapak tangan Jinki yang terbuka di hadapannya. Jinki mengangguk dan menggenggam uang itu lalu berjalan ke arah salah satu kedai makanan di kantin yang menyediakan pesanan Minho. Setelah itu dia beralih ke kedai makanan di sebelahnya dan memesan seporsi bibbimbap dan sebotol air mineral dingin. Kemudian dia membayar semua pesanannya itu dan mengambil nomor antrian pesanannya.

Ketika dia kembali ke tempat dimana Minho berada, dia tidak menemukan namja itu di sana. Notebook-nya yang terbuka dengan tampilan layar hitam dibiarkan namja itu begitu saja. Jinki hanya mampu menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan serampangan Minho itu.

"Dasar anak itu! Belum sepuluh menit kutinggal sudah hilang entah kemana. Notebook juga dibiarkan begitu saja. Kalau ada orang jahat dan mengambil semua benda berharga milikku dan miliknya bagaimana? Aish." Omel Jinki pelan. Dia baru saja mendudukkan dirinya ketika Minho datang bersama dengan dua yeoja cantik yang ia kenali sebagai Yuri dan Yoona, junior mereka dari fakultas yang berbeda.

"Ah, annyeonghasimnikka Jinki sunbae." Sapa Yuri dan Yoona hampir bersamaan sambil membungkuk rendah pada seniornya itu.

"Annyeong Yuri-aa, Yoona-aa. Jangan memanggilku sunbae seperti itu, terlalu formal. Panggil saja aku Jinki oppa." Balas Jinki sambil tersenyum ramah.

"Aku sependapat dengan Jinki. Berhenti memanggil kami sunbae. Toh, kalian sudah sering bersama kami. Arrachi?" pinta Minho pula. Yoona dan Yuri saling pandang lalu mengangguk sopan.

"Ne, baiklah sun.. oppa." Ucap Yuri patuh.

"Oke, sudahi basa-basi tidak penting ini. Kalian pesanlah dulu makanan lalu makan bersama kami." Perintah Minho yang lagi-lagi dibalas anggukan patuh oleh Yuri dan Yoona. Mereka lalu meletakkan tas di kursi yang kosong dan hendak memesan makanan ketika Minho mencegah salah satu dari mereka untuk pergi.

"Uhm, Yoona-aa, aku ingin bicara denganmu. Berdua." Yoona memutar kepalanya ke arah Minho dan menatap namja itu kebingungan.

"Nde?" tanya Yoona dengan kedua alis sedikit terangkat. Minho melempar senyum padanya dan melambaikan tangan, meminta yeoja itu mendekat kepadanya. Yoona melempar tatapan tidak mengerti kepada Yuri yang hanya dibalas anggukan oleh yeoja itu.

"Sudahlah, tidak apa-apa. Kau mau makan apa? Biar aku yang memesannya." Ucap Yuri pengertian. Yoona tampak ragu sejenak sebelum akhirnya memutuskan untuk memenuhi permintaan Minho.

"Aku pesan roti bakar isi coklat dua dan sekotak susu strawberry saja." balas Yoona sambil memberikan beberapa lembar won kepada Yuri yang langsung melenggang pergi menuju deretan kedai makanan di sudut lainnya dalam kantin.

"Ada apa oppa?" tanya Yoona langsung ketika telah berdua saja dengan Minho. Mereka hanya menjauh beberapa langkah dari meja dan meninggalkan Jinki yang menatap keduanya penuh minat. Minho menunduk dan menghela napas sebelum menatap yeoja yang sebenarnya telah lama dikenalnya itu.

"Kau menemuinya lagi?" tanya Minho lirih. Ia yakin Yoona dapat mendengarnya karena mendadak tubuh yeoja itu menegang di hadapannya.

"Ya, aku.. aku memimpikannya.. lagi." jawab Yoona tidak kalah lirih. Hembusan dan helaan napasnya mendadak berat ketika mengingat kembali mimpi yang berawal dari kenangan buruk dua tahun lalu.

"Jangan menyakiti diri sendiri, Yoona-aa. Dia tidak akan senang kalau tahu." Minho terdiam sejenak sebelum melanjutkan. "Mukamu pucat, apa kau sudah minum obatmu hari ini?". Yoona menggeleng dan tersenyum samar.

"Belum. Mianhae oppa, tapi aku akan meminumnya setelah makan nanti." Minho mengangguk kecil, percaya kalau yeoja itu akan menepati ucapannya.

"Lebih baik kita kembali ke meja sekarang. Kajja!" ajak Minho yang tanpa sadar menggenggam pergelangan yeoja itu dan menggandengnya untuk kembali duduk. Namun, ia merasakan adanya perlawanan dari Yoona yang memaksanya untuk memfokuskan perhatian pada yeoja itu lagi.

"Aku.. aku sangat.. merindukannya oppa. Dua tahun tanpanya.. sangat berat untukku. Aku masih mencintainya. Aku masih mencintai kakakmu, oppa. Aku masih mencintai Siwon oppa."

-o0o0o-