Huwaaa, mian baru update! . Minggu ini author kebanjiran tugas plus kegiatan kampus *sok sibuk* Jeongmal mianhaeyo. Hope you're not waiting too long and here is it! Read and review please? And last but not least, happy reading all :)
Udara malam yang cukup dingin tidak membuat pengunjung yang kebanyakan berpasangan angkat kaki dari landaian berumput di tepian Sungai Han. Pemandangan pelangi di malam hari memancar dari tepi jembatan Sungai Han dan menukik masuk ke dalam kegelapan aliran tenang sungai yang terkenal itu. Biasan berbagai warna indah itu menjerat sepasang mata yeoja cantik yang tengah mendekap tubuh kurusnya dengan kedua tangannya, berharap menemukan sedikit kehangatan.
"Oppa kan sudah memintamu untuk istirahat di rumah Yoong, bukan malah berkeliaran seperti ini." Tegur seorang namja di sampingnya dalam suara bariton yang menenangkan. Yeoja itu menoleh sesaat dan tersenyum lemah.
"Aku bosan oppa. Lagipula aku sudah merasa baikan. Kalau oppa tidak percaya, ini, rasakan saja." ucapnya sambil menarik tangan kanan namja yang setia menemaninya itu ke dadanya tanpa ragu-ragu. Yeoja itu dapat merasakan sentakan kecil dari tangan yang ditariknya, namun ia tidak peduli. Ia hanya ingin namja itu tahu kalau ucapannya benar.
"Ne, ne, sudah. Aku bisa merasakannya. Syukurlah kalau jantungmu baik-baik saja, Nona Lim Yoon Ah." Ucap namja itu dalam nada setengah menggoda yeoja yang dua tahun ini dekat dengannya. Dan benar saja, yeoja bernama Lim Yoon Ah atau biasa dipanggil Yoona itu mendelik tajam ke arahnya sambil menggembungkan kedua pipi tirusnya.
"Tuan muda Choi Siwon calon dokter tampan yang digilai banyak yeoja di kampus.." sergah Yoona sehalus mungkin yang jelas dibuat-buat, "stop memanggilku nona! Ya! Bukankah aku sudah pernah bilang kalau aku tidak suka dipanggil nona? Aish" lanjut yeoja itu, namun kali ini tanpa kehalusan suara seperti tadi. Choi Siwon atau Siwon tergelak mendengarnya.
"Hahaha, iya iya, aku tahu. Gomawo untuk pujiannya. Apa itu tulus dari hatimu? Kalau aku adalah calon dokter tampan? Huh?" canda Siwon lagi yang langsung mendapat pelototan tajam dari Yoona.
"Oppa!" Siwon kembali tertawa mendengar protes kecil yeoja itu dan tanpa sadar meraih Yoona ke dalam pelukannya. Tubuh Yoona mendadak kaku saat Siwon melingkarkan lengan kiri di bahunya. Namun, kekakuan itu hanya berlangsung sesaat dan segera berganti dengan rasa nyaman yang menelusup masuk ke dalam hatinya.
Menyadari kalau Yoona malah meringkuk nyaman di dadanya membuat Siwon semakin mengeratkan pelukannya dengan melingkarkan lengan kanannya menutupi tubuh ringkih yeoja yang sangat disayanginya itu.
"Oppa.." panggil Yoona pelan. Siwon menunduk dan tersenyum menatap seraut wajah yang menatapnya dalam ekspresi yang tidak dikenalinya tanpa melepaskan pelukannya dari tubuh Yoona.
"Ada apa Yoong? Apa kau masih merasa kedinginan?" tanya Siwon.
"Aniyo. Aku.. Aku hanya.. Ingin selalu bersamamu, oppa." Jawab yeoja itu lugas. Siwon terdiam mendengarnya dan belum bisa menebak arah pembicaraan Yoona. Oleh karena itu ia memutuskan untuk diam saja dan menunggu Yoona melanjutkan perkataannya.
"Jangan tinggalkan aku, oppa. Jangan pernah tinggalkan aku." pinta Yoona dalam bisikan sebelum ia jatuh dalam ketidaksadaran dan memaksa Siwon untuk melarikan yeoja itu ke rumah sakit terdekat.
-o0o0o-
Siang itu Yoona berjalan sendiri menyusuri koridor kampusnya yang tampak sepi. Terang saja, hampir semua mahasiswa berada di dalam ruangan kelas dan sibuk menahan kantuk juga lapar demi secuil ilmu dari dosen pengajar. Bukannya Yoona membolos, tetapi pagi tadi ia mendapat serangan dan terpaksa mampir ke rumah sakit tempatnya menjalani banyak pemeriksaan demi memperoleh kembali napas dan detak kehidupannya. Ia benci mengakui hal ini, namun ia pun menyadari kalau kondisinya semakin memburuk setiap harinya. Berbagai obat dan terapi yang diberikan kepadanya seolah tidak bekerja. Ia tahu jantungnya tidak membaik sebagaimana harapan dokter dan orangtuanya. Jantungnya hanya bertahan semampu yang obat-obatan dan terapi itu berikan padanya.
Seperti kebiasaannya, saat ia merasa bosan dan hendak menyerah atas hidupnya, ruang musik adalah satu-satunya tempat yang menjadi tujuannya. Di dalam ruangan itu terdapat sebuah grand piano tua yang masih terawat baik beserta beberapa jenis alat musik lainnya. Piano merupakan satu-satunya alat musik yang dikuasai Yoona dengan baik dan menjadi media pengekspresian dirinya. Bermain piano, itulah tujuannya siang ini. Ia ingin meluapkan segala perasaannya lewat tuts-tuts hitam putih grand piano yang pertama kali diketahuinya di hari ketiga ia berkuliah di tempat ini.
Yoona sedikit mempercepat langkahnya saat pintu ruang musik sudah terlihat olehnya. Sebuah senyum dan binar kerinduan jelas terlihat di paras yeoja itu. Dengan kerinduan yang memuncak itulah ia meraih gagang pintu ruang musik dan mendorong pintu itu ke dalam, menampakkan satu pemandangan ganjil yang mengejutkannya.
"Siwon oppa?!" panggil Yoona dalam keterkejutan luar biasa. Ditatapnya lekat-lekat satu sosok yang kini juga menatapnya dalam pandang kebingungan.
"Maaf, siapa yang agassi maksud dengan Siwon?" tanya namja itu sopan. Tubuhnya yang semula larut dalam permainan piano memperdengarkan nada gubahan Chopin yang dikenali Yoona kini berdiri canggung.
"Kau.. Kau.. Siwon oppa. Aku tahu kau akan kembali. Aku tahu kau tidak akan meninggalkanku sendiri. Aku tahu." Racau Yoona dengan tubuh bergetar akibat luapan kegembiraan yang dirasakannya. Telapak tangan kanannya menutup mulutnya yang masih ternganga tidak percaya melihat satu sosok yang ia pikir telah pergi selamanya.
"Oppa!" Tanpa memperhatikan kebingungan yang sangat tergambar di wajah namja itu, Yoona berlari dan menubrukkan dirinya ke dalam pelukan nyaman yang dirindukannya. Ia melingkarkan kedua tangannya di sekeliling pinggang namja yang disangkanya sebagai Siwon dan memeluknya erat.
"A, ah, agassi, maaf, aku bukan Siwon. Aku.." penjelasan yang coba namja itu berikan pada Yoona langsung dipotong oleh isak tangis yeoja itu.
"Oppa, kumohon.. hiks, jangan lagi.. hiks, tinggalkan aku.. sendiri. Kumohon." Pinta Yoona dalam isakannya yang teredam di pelukan namja itu. Penyangkalan yang sedari tadi terus dilakukan oleh namja itu terhenti begitu ia mendengar permintaan Yoona. Hatinya terenyuh melihat seorang yeoja yang tidak dikenal mendadak salah mengenalinya sebagai Siwon dan menangis memintanya jangan meninggalkannya.. lagi?
"Ba.. Baiklah, aku tidak akan meninggalkanmu. Tapi tolong ijinkan aku menjelaskan beberapa hal padamu, agassi." Ucap namja itu memohon pengertian Yoona untuk mendengarkannya. Perlahan Yoona melepas pelukannya dan menatap namja itu sambil menyusut air matanya.
"Ah, ne, mianhae oppa. Aku hanya terlalu senang bisa bertemu denganmu lagi. Apa yang ingin oppa jelaskan padaku?" tanya Yoona menengadahkan wajahnya ingin tahu. Namja itu tersenyum kikuk dipandangi Yoona seperti itu. Untunglah ia berhasil menguasai dirinya kembali dan mengatakan apa yang ingin dijelaskannya guna meluruskan kesalahpahaman di antara mereka.
"Pertama, ya baiklah, untuk sekarang dan melihat kondisimu, aku tidak akan meninggalkanmu sendiri. Tetapi maaf, aku akan berada di sampingmu bukan sebagai Siwon. Siapapun yang kamu maksud sebagai Siwon, itu bukanlah aku. Dan kedua, namaku Ahn Chil Hyun atau kamu bisa memanggilku Kangta jika mau. Aku pengajar baru di klub musik universitas ini menggantikan Dana sunbae." Jelas Ahn Chil Hyun atau Kangta panjang lebar. Yoona terbelalak kaget mendengarnya dan berkali-kali mendesiskan "tidak mungkin" sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, menolak kenyataan kalau namja di hadapannya kini bukanlah Choi Siwon.
"Kumohon percayalah. Aku bukan Siwon. Namaku Kangta." Tegas Kangta sekali lagi. Yoona melangkah mundur menjauhi Kangta, berusaha memastikan kalau penjelasan namja itu benar adanya. Setelah beberapa langkah, Yoona dapat melihat perbedaan nyata namja yang mengenalkan dirinya sebagai Kangta dengan Siwon. Perbedaan-perbedaan itu semakin mewujud dan membuat Yoona jatuh terduduk lemas dengan tatapan kosong.
Kangta yang melihat yeoja itu mendadak jatuh bergegas menghampirinya. Dapat dilihatnya wajah yeoja itu memucat dan tubuhnya bergetar hebat.
"Agassi, apa kamu baik-baik saja? Agassi?" tanya Kangta cemas. Yoona tidak juga menjawab pertanyaan Kangta dan membuat namja itu semakin khawatir pada kondisinya.
"Agassi, agassi! Apa perlu kupanggilkan seseorang?" tanya Kangta lagi. Kali ini ia mengguncang-guncangkan bahu Yoona untuk memancing respon yeoja itu. Setelah guncangan entah yang keberapa kalinya, akhirnya Yoona memberikan respon.
"Tolong tinggalkan aku sendiri." Pinta Yoona lemah sambil menutup kedua matanya. Kangta tampak kebingungan. Ia merasa kondisi yeoja itu tidak benar dan butuh seseorang untuk terus bersamanya, namun permintaan yeoja itu juga tidak bisa dibantah. Setelah melalui pergumulan batin yang hebat, Kangta memutuskan untuk memenuhi permintaan yeoja itu dan meninggalkannya sendirian. Namun sebelum ia pergi, ia meletakkan secara paksa kartu namanya di telapak kanan yeoja itu.
"Aku akan pergi. Kalau ada apa-apa cepat hubungi aku dan aku akan datang untukmu. Aku janji." Ujar Kangta. Setelah beberapa detik dan tidak mendapat respon dari Yoona, namja itu perlahan melangkah pergi sambil kedua matanya terus mengawasi yeoja itu. Ketika ia telah berada di ambang pintu, yeoja itu belum juga bergerak dari posisinya. Sebenarnya ia sangat mengkhawatirkan kondisi yeoja yang belum juga ia ketahui namanya itu, namun siang ini ia perlu bertemu dengan pimpinan universitas untuk penjelasan hak dan tanggung jawabnya sebagai pelatih klub musik yang baru. Akhirnya dengan enggan ia berjalan pergi menjauhi ruang musik dan menuju ke gedung utama universitas.
-o0o0o-
Seorang yeoja berjalan tergesa menyusuri lorong kampus. Tangan kanannya sedari tadi tak lepas menempelkan alat komunikasi mungil miliknya ke telinga, berusaha menghubungi seseorang yang saat ini tidak diketahui keberadaannya. Kekhawatiran jelas terlihat di wajahnya. Berkali-kali ia memekik kesal saat panggilannya tidak juga dijawab.
"Yuri-aa!" Merasa namanya dipanggil oleh seseorang, yeoja itu menolehkan kepalanya ke belakang dan menemukan sesosok namja tampak berlari dengan napas tersengal ke arahnya.
"Minho oppa?" panggil Yuri kebingungan. Beberapa detik kemudian Minho telah sampai di hadapan Yuri. Keringat mengalir di pelipis dan keningnya serta napasnya yang memburu sukses membuat Yuri mencemaskan kondisi sunbaenya ini.
"Oppa, ada apa?" tanya Yuri. Kesibukannya menghubungi seseorang nun jauh di sana mendadak terlupakan begitu melihat kedatangan Minho yang tidak seperti biasanya.
"Apa kau melihat Yoona?" Hati Yuri mencelos begitu mendengar pertanyaan itu. Ah, iya, dia hanya peduli pada Yoona desah yeoja itu dalam kesakitan.
"Aku juga sedang mencarinya oppa. Dari tadi kutelepon tapi tidak diangkat." Jawab Yuri. Pikirannya kembali melayang pada sahabatnya itu yang saat ini entah berada dimana.
"Aku juga sudah mencarinya kemana-mana, tapi belum ketemu. Apa mungkin dia ada di …" ucapan Minho terputus begitu sekelebat kemungkinan menuntunnya pada satu tempat yang biasa dikunjungi Yoona.
"Ruang musik!" ujar Minho dan Yuri berbarengan. Mereka telah sama-sama tahu kebiasaan Yoona untuk selalu datang ke ruang musik dan memainkan grand piano yang ada di sana.
"Ayo kita ke sana!" ajak Minho yang langsung menarik pergelangan tangan Yuri untuk bergegas ke ruang musik. Yuri yang belum siap dengan tarikan Minho yang tiba-tiba hanya bisa menurut dan ikut berlari-lari kecil demi mengimbangi kecepatan kaki namja itu. Ketika jarak mereka dengan ruang musik tinggal 3 meter lagi, ponsel Minho memekik nyaring.
"Yeoboseyo. Wae geurae, Jinki-aa?"
"…"
"Mwo?! Oke, aku dan Yuri segera menyusul ke sana. Gomawo Jinki-aa." Klik. Begitu sambungan telepon terputus Minho segera berbalik arah dan lagi-lagi menarik Yuri untuk mengikutinya.
"Oppa! Kita mau kemana? Bukankah ruang musik di sana?" tanya Yuri yang kebingungan melihat perubahan arah Minho.
"Yoona ada di rumah sakit. Lima belas menit yang lalu Jinki menemukannya pingsan di ruang musik." jelas Minho tanpa memandang Yuri.
"Nde?! Kalau begitu kita harus cepat ke sana oppa." Putus Yuri. Adegan tarik-menarik pun berganti. Kini Yuri semakin mempercepat langkahnya dan memaksa Minho yang masih memegang pergelangannya terpontang-panting mengikutinya.
"Ya, ya, Yuri-aa! Jangan menyeretku seperti ini!" teriak Minho yang tidak digubris sama sekali oleh yeoja itu. Genggaman tangannya di pergelangan Yuri terlepas, membuatnya tertinggal di belakang langkah cepat yeoja itu.
Yuri yang tidak lagi merasakan genggaman tangan Minho menoleh ke belakang dan berhenti mendadak begitu melihat namja itu tertinggal beberapa langkah di belakangnya.
"Aish, oppa, cepatlah sedikit!" panggil Yuri tidak sabar. Begitu Minho berada di sampingnya, tanpa ragu Yuri menarik dan menyeret Minho ke area parkir kampus. Saking paniknya, yeoja itu bahkan tidak memperhatikan kerlingan senang di kedua mata Minho saat ia meraih pergelangan tangan namja itu dan menggenggamnya.
Begitu sampai di area parkir, Yuri tidak melihat keberadaan mobil Minho di tempat biasanya. Yeoja itu menoleh menatap Minho dan hendak menanyakannya.
"Mobilku dipakai Jinki. Sebelum ia menemukan Yoona, ia meminjamnya untuk mengambil gitarnya yang tertinggal di rumah. Dan sepertinya mobilku juga yang ia pakai untuk mengantar Yoona ke rumah sakit." Jelas Minho yang mengerti arti tatapan Yuri kepadanya.
"Ah, kalau begitu kita pakai mobilku. Ayo oppa!" ucap Yuri yang kembali menyeret Minho menuju tempat mobilnya diparkir. Namja itu lagi-lagi menurut. Namun, saat Yuri memintanya masuk dan duduk di kursi penumpang, ia menolak.
"Ani. Kau yang duduk di sini dan aku yang mengemudi. Mana kuncinya?" perintah Minho cepat dengan telapak tangan terbuka meminta kunci mobil Yuri. Yeoja itu mendesah pasrah dan menyerahkan kunci mobilnya pada Minho. Keduanya segera masuk ke dalam dan tak lama kemudian mobil Hyundai Civic hitam itu melesat meninggalkan kawasan kampus menuju rumah sakit yang diberitahukan Jinki melalui sambungan telepon.
-o0o0o-
"Jinki-aa! Dimana Yoona? Bagaimana kondisinya?" tanya Minho beruntun pada salah satu teman dekatnya itu. Sementara namja yang ditanya hanya memandangi Minho dengan ekspresi aku-tidak-tahu dan menggerakkan kepalanya perlahan menunjuk pintu IGD yang masih tertutup.
"Oppa! Bagaimana Yoona? Apa dia baik-baik saja? Sekarang dimana dia?" cecar Yuri yang baru saja bergabung dengan kedua namja itu. Jinki menolehkan kepalanya dan menatap Yuri dengan pandang kelelahan. Minho yang sebenarnya masih belum memahami apa yang terjadi pada Jinki segera menjawab pertanyaan yeoja itu begitu sadar Jinki entah kenapa tidak juga menjawab pertanyaan Yuri.
"Yoona sekarang masih di IGD. Sampai sekarang kita belum tahu bagaimana kondisinya saat ini." Yuri mendesah berat. Kepalanya langsung tertunduk dan bahunya melorot lemas.
"Yoong.." panggil Yuri lirih, berharap Yoona mendengarnya dan segera keluar dari ruang IGD dalam keadaan baik-baik saja. Namun ia tahu, harapannya itu terlalu kecil kemungkinannya untuk terwujud. Rasa putus asa sedikit menelusup ke dalam pikirannya dan membuat yeoja itu mencari kekuatan dengan menyandarkan punggungnya di dinding rumah sakit yang dingin.
"Yoona akan baik-baik saja Yul, percayalah." Ujar Minho, berusaha menguatkan Yuri sekaligus meyakinkan dirinya bahwa Yoona memang akan baik-baik saja.
"Aku.. percaya, oppa." Balas Yuri sambil mengangkat wajahnya dan tersenyum tipis. Minho menghela napas berat dan mengusap kasar wajahnya. Kedua matanya yang semula intens menatap Yuri beralih ke pintu ruang IGD yang belum juga terbuka. Pikirannya kini hanya terfokus pada Yoona dan tidak menyadari kalau sedari tadi Jinki belum juga merubah posisinya.
"Aku mau ke kamar mandi sebentar." Ucap Jinki memecah keheningan yang ada. Baik Minho maupun Yuri menoleh ke arahnya dan menautkan alis kebingungan. Meski keduanya sangat mencemaskan Yoona, namun keanehan sikap yang ditunjukkan Jinki sangat terlihat nyata. Terutama bagi Minho yang telah mengenal namja itu hampir tujuh tahun lamanya.
Tanpa menunggu jawaban dari kedua orang di hadapannya itu, Jinki berbalik dan berjalan menjauh ke salah satu sudut dengan papan petunjuk bertuliskan TOILET. Baru beberapa langkah ia berjalan, ia merasakan ada seseorang yang mengejarnya.
"Jinki-aa! Gidarike!" panggil Minho. Namja itu berhasil mengejar Jinki dan meraih bahu kanannya, memaksa teman dekatnya itu berbalik menatapnya.
"Sebenarnya ada apa denganmu? Kenapa hari ini kau bersikap aneh sekali? Apa kau ada masalah?" tanya Minho serius. Ia menatap tajam ke dalam mata teman dekatnya itu dan diam menunggu jawaban.
"Aku tidak apa-apa, Minho-aa. Aku hanya kelelahan. Itu saja." jawab Jinki yang berusaha menghindar dari tatapan tajam Minho.
"Baiklah kalau kau belum mau jujur padaku. Itu pilihanmu." Balas Minho. Ia menurunkan tangan kanannya dari bahu Jinki dan berbalik. Baru saja ia hendak melangkah meninggalkan Jinki, pintu ruang IGD terbuka dan memperlihatkan sesuatu yang mencekat jalan pernapasannya.
Yoona!
-o0o0o-
