Yeoreobeun annyeong! Mian udah hiatus kelamaan. Aaaakk jeongmal mianhae! Author lagi stres, lagi banyak yang harus diurus, lagi banyak yang nggak harus diurus tapi jadi diurus juga, trus lagi banyak yang harus diurus tapi malah akhirnya nggak diurus-urus, pokoknya gitu deh #ribetsendiri nah, author lagi nggak jago basa-basi juga kaya biasanya, jadi langsung aja ya. Please enjoy the story and (like usual thing that all authors want) give your review(s), arrachi? Happy reading all! :)
Seminggu telah berlalu sejak Yoona terakhir kali memeriksakan diri ke dokter Shim. Seminggu juga telah berlalu sejak Yoona melontarkan permintaan pada Jinki yang sukses membuat perasaan namja itu remuk redam. Selama satu minggu itu baik Yoona maupun Jinki seringkali tampak melamun dengan pandangan kosong. Hal ini tentu saja tidak luput dari pengamatan Yuri dan Minho yang mulai mengkhawatirkan keadaan kedua sahabat mereka.
"Chagi-ya, apakah kau menyadari kalau akhir-akhir ini Yoona dan Jinki oppa terlihat berbeda? Aku sering memergoki mereka sedang melamun. Apalagi Yoona, dia semakin menutup diri bahkan dariku. Sebenarnya ada apa dengan mereka?" tanya seorang yeoja kepada namjanya saat keduanya tengah menghabiskan waktu makan siang bersama di salah satu kafe langganan mereka.
"Mollayo. Aku juga tidak tahu apa yang terjadi pada keduanya. Jinki juga menjadi aneh. Setiap kali aku menanyakan tentang hubungannya dengan Yoona, ani, malah setiap kali aku menyebut nama Yoona, dia langsung terdiam dan memasang ekspresi… sedih? Sakit? Entahlah, tapi yang jelas hal ini tidak baik untuk kesehatan Yoona. Bahkan sudah 2 atau 3 kali ini dia menolak saat aku mengajaknya untuk menemui Yoona." jawab sang namja. Ia menghela napas panjang dan menatap yeojanya. Kedua bahunya melorot turun.
"Apa mungkin Jinki oppa sedang sibuk? Maksudku mungkin saja kan dia punya kegiatan yang tidak kita ketahui yang saat ini membuatnya sibuk?" tanya sang yeoja lagi, mencoba memberikan kemungkinan meskipun dalam hatinya ia tidak sepenuhnya yakin pada pemikirannya itu.
"Anie, anieyo. Setahuku Jinki bukanlah orang yang senang mengikuti banyak kegiatan. Ia malah cenderung tertutup. Tidak mungkin Yuri-ya, aku rasa tidak mungkin karena hal itu. Meski aku ragu, tapi aku merasa kalau perubahan dia ada hubungannya dengan Yoona." tolak sang namja yang tak lain adalah Minho. Ia menggelengkan kepalanya pelan dan tersenyum sembari mengusap lembut tangan kekasihnya.
"Yoona? Maksud oppa?" tanya Yuri. Minho terdiam sejenak sebelum menjawab pertanyaan kekasihnya.
"Apakah kau belum menyadari kalau Jinki memiliki perasaan khusus pada Yoona? Apa kau tidak melihat caranya memperhatikan Yoona? Apa menurutmu hubungan mereka hanya sebatas oppa-dongsaeng seperti yang selalu Yoona katakan?" kali ini Minho malah balik bertanya pada Yuri.
"Op… oppa, maksudmu… maksudmu… Jinki oppa men… mencintai… uri Yoona?" tebak Yuri tergagap. Sesungguhnya yeoja itu menyadari ada yang aneh dari cara Jinki memperlakukan Yoona selama ini, namun hal itu tidak lantas membuatnya berpikiran kalau Jinki mencintai sahabatnya.
"Ne, aku mencintai Yoona. Sangat-sangat mencintainya." Baik Yuri maupun Minho langsung mendongak begitu mendengar suara yang familiar di telinga mereka.
"Jinki-ya/Jinki oppa?" pekik Yuri dan Minho bersamaan. Keduanya membulatkan mata dan refleks berdiri demi melihat Jinki yang tiba-tiba berada di hadapan mereka.
"Kau… darimana kau tahu kalau kami di sini? Bagaimana kau bisa ada di sini?" cecar Minho yang terlebih dulu kembali pada kesadarannya.
"Molla. Insting?" jawab Jinki lemah sambil mengangkat bahunya. Tanpa memperhatikan Yuri dan Minho yang masih berdiri, namja itu langsung menghempaskan tubuhnya ke salah satu kursi kosong yang melingkari meja tempat sepasang kekasih itu bersantap siang. Ia meletakkan tasnya begitu saja di lantai dan memejamkan kedua matanya. Parasnya terlihat sangat lelah dan sedikit pucat.
Minho dan Yuri saling melempar pandang bertanya dan hanya bisa mengangkat bahu melihat kemunculan mendadak Jinki. Ditambah dengan sikapnya saat ini, menjawab pertanyaan Minho seenaknya, duduk dan menjatuhkan tas begitu saja, lalu menutup matanya dan tidak bersuara. Sepasang kekasih itu mengetahui ada yang tidak beres pada Jinki.
"Jinki oppa, kau sakit? Wajahmu pucat." Tanya Yuri sambil mencondongkan badan ke arah Jinki yang masih saja terpejam.
"Anieya" balas Jinki pelan tanpa membuka kedua matanya.
"Jinki-ya, benar kau tidak apa-apa? Kau pucat dan… astaga! Kau demam Jinki-ya!" pekik Minho begitu telapaknya menempel di kening Jinki, bermaksud mengukur suhu tubuh namja itu. Yuri yang mendengar itu langsung ikut-ikutan menempelkan telapaknya dan membenarkan ucapan kekasihnya.
"Kau benar, oppa. Jinki oppa, kau demam. Kau seharusnya beristirahat di rumah. Ayo, kami antarkan oppa ke rumah." Ucap Yuri yang dibalas anggukan Minho.
"Ayo Jinki-ya, ppali! Atau kau mau aku bawa ke rumah sakit dan membiarkan dokter jaga di sana untuk menyuntikmu?" ujar Minho sembari menyeringai jahil. Jinki yang mendengar kata 'menyuntikmu' langsung membuka kedua matanya dan menegakkan badan.
"Shirreo! Aku tidak mau! Aku baik-baik saja, kalian tidak usah khawatir." Tolak Jinki cepat. Tetapi setelah mengatakan itu, Jinki seolah merasakan hantaman keras di kepala dan membuatnya mengernyit menahan sakit.
"Oppa! Neo jinjja gwaenchanayo?" tanya Yuri panik melihat Jinki yang mendadak limbung dengan wajah yang semakin pias. Jinki berusaha untuk menggeleng namun tubuhnya menolak. Hantaman di kepalanya semakin menjadi-jadi dan membuatnya jatuh dalam kegelapan.
"Jinki-ya/Oppa!"
-o0o0o-
Seorang yeoja yang mengenakan pakaian rumah sakit terlihat sedang mengatur napasnya. Ia berulang kali menarik dan menghembuskan udara yang dihirupnya demi menenangkan gejolak ketakutan dalam hatinya.
"Tenanglah Yoong, kau akan baik-baik saja. Eomma janji kau akan baik-baik saja. Kau akan baik-baik saja… Kau akan baik-baik saja… Kau… akan… baik… baik… saja…" ucap Nyonya Im bergetar sambil membelai kepala Yoona dengan penuh sayang. Titik-titik air mata yang berusaha ditahan wanita paruh baya itu berhasil lolos dan berubah menjadi isakan kecil.
"Keureom, tentu saja aku akan baik-baik saja eomma," bisik Yoona pada ibunya. Jemari kurusnya terangkat dan dengan sabar menghapus aliran-aliran bening di pipi ibunya. Sungguh ia tidak tega melihat ibunya yang terus menangis karena kondisinya. Beruntung ayahnya segera masuk ke dalam ruang rawatnya dan menenangkan ibunya.
"Yeobo, jangan seperti ini, jangan menangis di depan Yoona." bujuk Tuan Im sambil meremas lembut bahu istrinya. Lelaki yang mendekati usia setengah abad itu menyunggingkan senyum kecil sambil menatap istrinya penuh sayang.
"A… Ah, nde, nde, mian, mianhae. Maaf… Maafkan eomma, Nak, eomma tidak seharusnya menangis. Eomma harus kuat, eomma harus kuat demi kamu. Maafkan eomma ya Nak," ujar Nyonya Im setengah meracau. Dengan kasar dihapusnya sisa-sisa air mata yang membasahi pipinya. Seulas senyum ditampakkan Nyonya Im, setengah dipaksakan.
"Anieyo, eomma tidak perlu minta maaf. Eomma tenang saja, aku pasti akan baik-baik saja. Aku akan berhasil menjalani operasi ini dan kembali pada eomma. Aku akan kembali menjadi seorang Im Yoon Ah yang kuat dan ceria, seperti dulu." janji yeoja itu. Ia menggenggam tangan ibunya dan menciumnya. Pertahanan Nyonya Im kembali runtuh melihat sikap Yoona. Ia terisak sejadi-jadinya dan harus dibujuk Tuan Im untuk keluar ruangan, membiarkan Siwan yang menjaga Yoona sampai yeoja itu masuk ke ruang operasi.
Yoona hanya dapat menatap nanar kepergian ayah dan ibunya. Setitik kristal menetes jatuh yang segera diikuti dengan tetesan-tetesan kristal lainnya. Siwan yang sedari tadi hanya diam melangkah mendekati yeodongsaeng tersayangnya.
"Ssh, uljima Yoong, uljimarayo." Bujuk Siwan. Namja itu terus mengusap-usap punggung Yoona sementara yeoja itu menumpahkan tangisnya di pelukan Siwan.
"Aku… aku takut, oppa, aku takut… aku benar-benar takut…" ucap Yoona di sela-sela isakannya. Siwan hanya diam dan memilih untuk memberikan ketenangan lewat usapannya di punggung yeoja itu. Sejujurnya Siwan juga merasakan ketakutan itu. Ia takut adiknya tidak berhasil melalui operasi ini. Ia takut adiknya tidak akan baik-baik saja. Ia takut sesuatu yang buruk terjadi pada adiknya. Ia takut kehilangan adiknya. Ia benar-benar takut.
Lima belas menit kedua kakak beradik itu berkutat dalam pikirannya masing-masing sambil tetap berpelukan, berharap pelukan itu mampu mengurangi kekalutan dan ketakutan yang bersarang di hati keduanya.
"Nona Im, semua sudah siap. Mari." Ujar seorang yeoja berpakaian perawat yang mendadak sudah berada di ruang rawat Yoona. Perawat itu tidak sendiri. Ia ditemani oleh seorang lagi perawat yeoja dan dua orang perawat namja. Dengan enggan Siwan melepaskan pelukannya dari tubuh Yoona. Namja itu bertukar pandang dengan Yoona. Yoona balik menatapnya seolah meminta kekuatan darinya.
"Kau akan baik-baik saja, Im Yoon Ah. Oppa janjikan itu." ucap Siwan sambil menghapus sisa-sisa air mata di pipi tirus Yoona. Hanya kalimat itu yang dapat diucapkan Siwan untuk menguatkan yeoja kedua yang sangat disayanginya.
"Nde, aku percaya pada oppa. Gomawo oppa. Saranghae, neomu neomu saranghae." Balas Yoona pelan. Yeoja itu memaksakan seulas senyum pada kakak laki-lakinya. Ia melepas rangkulan tangannya di pinggang Siwan dan menoleh pada empat perawat yang siap membawanya ke ruang operasi.
"Baiklah, saya sudah siap."
-o0o0o-
Sebuah brankar dengan seorang namja berwajah pucat di atasnya tampak didorong terburu-buru menuju ruang UGD oleh dua orang perawat jaga. Seorang namja dan yeoja terlihat mengikuti brankar itu sambil berteriak-teriak panik.
"Jinki-ya, ireona! Ireona! Jebal, ireona Jinki-ya!" teriak sang namja sambil terus berlari mengikuti brankar dimana Jinki terbaring tidak sadarkan diri.
"Oppa! Jinki oppa! Kumohon, bangunlah, buka matamu oppa, buka matamu!" jerit sang yeoja. Kini buliran air mata tampak mengalir deras membasahi tulang pipinya. Keduanya terus berlari dan akan terus seperti itu kalau saja tidak ada dua orang perawat laki-laki yang tiba-tiba berada di hadapan mereka dan mencegah mereka untuk masuk ke dalam ruang UGD.
"Maaf, Anda diperbolehkan mengantar hanya sampai di sini saja. Selanjutnya pasien akan ditangani oleh dokter dan tidak diijinkan untuk ditunggui. Silahkan Anda menunggu di kursi tunggu di sebelah sana." Tegas salah satu perawat namja itu, menghalangi langkah Minho dan Yuri di depan pintu ruang UGD.
"Tapi kami temannya! Kami ingin memastikan kalau Jinki oppa baik-baik saja!" teriak Yuri sambil berlinangan air mata, tanpa sadar membentak kedua perawat tersebut dan memberontak agar dapat masuk ke dalam.
"Maaf nona, tetapi Anda tidak diijinkan masuk. Ini sudah peraturan rumah sakit. Teman Anda akan ditangani segera oleh dokter, jadi Anda tidak perlu khawatir dan silahkan menunggu di sana." Ucap perawat yang sama dengan yang pertama menahan Minho dan Yuri di muka pintu ruang UGD.
"Shirreo! Biarkan aku masuk!"
"Yuri-ya, chagiya, mereka benar. Ini sudah peraturan umum di rumah sakit manapun. Sebaiknya kita menunggu saja. Kita percayakan pada dokter-dokter di sini untuk menolong Jinki. Ne?" bujuk Minho yang lebih mampu mengendalikan diri dan kembali berpikiran logis. Sebagai calon dokter tentu saja ia sudah memahami mekanisme pelayanan di rumah sakit.
"Tapi… tapi…"
"Sudahlah, lebih baik kita menunggu dan tidak mengganggu dokter-dokter di dalam. Kajja." Bujuk Minho lagi sambil menuntun Yuri menuju ruang tunggu. Yeojanya berulang kali menatapnya lalu beralih menatap pintu masuk ruang UGD bergantian, tidak mampu melakukan penolakan seperti sebelumnya.
"Ssh, kajja, kita duduk dulu saja di sana" Akhirnya Yuri menurut dan mengikuti Minho. Kedua matanya terlihat sembab dan masih menyisakan aliran bening meski tidak sederas tadi. Minho tersenyum lemah melihat kondisi kekasihnya. Ia mengangkat tangannya dan mengusap lembut kristal bening yang masih saja mengalir keluar dari mata Yuri.
"Uljimarayo. Aku tidak bisa melihatmu menangis seperti ini. Apalagi menangisi namja lain selain aku." bujuk Minho, berusaha mencairkan suasana dengan candaannya.
"Ya! Kau cemburu tidak pada tempatnya oppa! Bisa-bisanya oppa mencemburui Jinki oppa dalam keadaan seperti ini." balas Yuri setengah membentak. Rupanya suasana hati Yuri benar-benar buruk sampai tidak memahami candaan namjanya itu.
"Anie, anieyo, bukan itu maksudku. Aish, sepertinya suasana hatimu langsung memburuk. Aku hanya bercanda, chagiya. Mianhae, jeongmal mianhae." Ucap Minho salah tingkah. Ia tidak menduga kalau candaannya justru membuat Yuri marah dan membentaknya.
"Minho oppa, aku lelah." Balas Yuri singkat. Minho tidak berkomentar apapun lagi. Takut-takut ia malah memperburuk suasana hati kekasihnya itu.
"Yoona" desis Yuri lirih namun masih tertangkap indera pendengaran Minho yang mendudukkan diri di sampingnya.
"Nde? Yoona? Mana?" tanya Minho sambil menoleh ke kanan dan kiri, mencari keberadaan yeoja yang dipanggil namanya oleh Yuri.
"Yoona… Yoona, apa dia perlu diberitahu tentang kondisi Jinki oppa? Apa aku perlu menghubunginya?" tanya Yuri lebih kepada dirinya sendiri dan mengabaikan tatapan kebingungan Minho padanya.
"Chagiya, aku pikir sebaiknya kita tidak…"
"Ah, benar juga! Sudah tiga hari ini Yoona tidak menghubungiku… dan aku juga lupa untuk menghubunginya. Aish, sahabat macam apa aku ini? Paboya! Yuri paboya!" racau Yuri lagi sambil memukul-mukul kepalanya sendiri. Minho yang masih tidak mengerti apa yang terjadi pada kekasihnya itu terbelalak kaget saat melihat apa yang dilakukan Yuri.
"Geumanhae! Geummanhae, Yuri-ya, geumanhae!" Minho berhasil menangkap tangan Yuri dan menghentikan upaya yeoja itu untuk menyakiti dirinya.
"Yuri-ya, wae geurae?" tanya Minho sambil menangkup wajah Yuri dengan kedua tangannya dan memaksa yeoja itu untuk menatap dirinya.
"Yoona… Yoona… aku takut terjadi apa-apa padanya. Tolong hubungi dia, oppa, tolong hubungi dia atau Siwan oppa atau Im eommonim atau Im aboenim. Tolong oppa," pinta Yuri dengan tatapan memelas yang semakin membuat Minho kebingungan.
"Sebenarnya ada apa chagiya? Kenapa mendadak kau memintaku untuk menghubungi Yoona? Apa kau sedang bertengkar dengannya?" tanya Minho hati-hati.
"Anieyo. Kumohon, lakukan apa yang kuminta oppa, kumohon hubungi Yoona. Aku takut terjadi apa-apa padanya. Jebal." Pinta Yuri lagi. Air mata kembali mengaliri pipinya dan itu membuat Minho menyerah.
"Baiklah, aku akan menghubunginya." Minho mendesah dan melepaskan tangannya dari wajah Yuri. Tangan kanannya segera meraih ponsel yang berada di dalam saku celananya sementara tangan kirinya meraih pundak Yuri dan mengusap-usapnya. Belum sempat ia mencari nama Yoona dalam daftar kontaknya, suara yang terdengar familiar memanggil keduanya.
"Minho-ya? Yuri-ya? Sedang apa kalian di sini?"
-o0o0o-
Begitu memasuki ruang operasi dan melihat berbagai macam peralatan kedokteran yang mengelilinginya membuat Yoona menggigil ketakutan. Ia menggigit bibir bawahnya dan menggerak-gerakkan bola matanya kesana kemari. Dokter Shim yang memimpin jalannya operasi ini memahami ketakutan Yoona dan segera menenangkannya.
"Tenanglah Yoona-ssi, kau tidak perlu takut. Kau harus rileks dan tidak berpikiran macam-macam. Arraseo?" ujar dokter Shim yang mengulaskan senyum simpul.
"Ne, arraseoyo. Saya sepenuhnya percaya pada Anda, dokter Shim." Balas Yoona lemah.
"Sebentar lagi kami akan membiusmu dan proses operasi segera dimulai begitu kau sudah tidak sadar sepenuhnya. Sekarang tutup matamu dan nyanyikan lagu kesukaanmu pelan-pelan." Perintah dokter Shim. Yoona menurut dan perlahan menutup kedua matanya sambil mulutnya tidak lupa menyenandungkan lagu kesukaannya, lagu kesukaannya dan Siwon.
Obat bius segera disuntikkan ke dalam selang infus Yoona dan mulai mengalir dalam pembuluh darahnya. Perlahan yeoja itu mulai merasakan kantuk dan nyanyiannya pun semakin melemah. Sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya, ia mendengar sebuah suara yang sangat dirindukannya. Suara seseorang yang sangat dicintainya sampai saat ini.
"Sekarang aku akan membawamu bersamaku, Yoong."
-o0o0o-
