* HIDDEN STORY ABOUT HE *

Genre : Romance,Mystery

Rate : T+

Leght : chapter

Cast :

Huang Zi Tao as Tao

Wu Yi Fan (Kris Wu) as Kris

Zhang Yixing (Lay) as Suho's Boyfriend

Kim Joonmyeon (Suho) as Lay's Boyfriend

Kim Jong Dae ( Chen) as Tao's Brother

Kim Jong In (Kai) as Tao's Friend

Kim Heechul as Tao's Mother

Tan Hankyung as Huang Hankyung/Tao's Father

Han Ji Hye (OC) as Xi Hye

Others

WARNING : YAOI,BOYS LOVE,BOY X BOY.

IF U HATE YAOI. PLEASE CLICK CLOSE!

Note :

Tulisan ini murni hasil kerja tangan saya. Jika ada kesamaan tokoh,tempat,maupun cerita lain yang mirip dengan cerita ini,itu hanya kebetulan saja. Thanks.

Tulisan bercetak tebal adalah ucapan Tao.

=============== Chapter 4 : Our memories and Our Short Love ===============

Cinta itu sangat unik,mempertemukan kita dengan cara yang unik

Walau ragaku menginginkan aku kembali,tapi aku tak bisa. Jadi,bersediakah kau membuatku kembali pada ragaku lagi?

=== Happy Reading ===

Saat Tao tersadar,ia mengernyit bingung. Tempat itu temaram,hanya diterangi oleh cahaya lilin. Ia dapat melihat kasur lipat berwarna putih lengkap dengan selimutnya. Tao bingung,'aku dimana? Bukankah tadi aku ad-'

PRANG..

Tao menoleh. Menyipitkan matanya saat melihat seorang pemuda manis terpojok di sudut ruangan itu,sebuah pedang teracung diantara manik kembarnya. Ia baru sadar,ia tak sendiri di ruangan itu. Walau temaram,Tao dapat melihat sekilas bagaimana raut ketakutan pemuda itu. Pemuda itu kini menundukkan kepalanya. Pemuda lain –si pengacung pedang- menunduk. Menjambak helaian rambut sang pemuda di hadapannya,membuat pemuda malang itu mendongak.

Tao terkesiap,melihat sosok ketakutan itu. Pemuda itu bagai bayangannya. Mereka mirip. Tidak. Mereka sama. SAMA.

Hanya saja,Tao memakai pakaian modern –pakaian yang dipakainya saat kecelakaan-,sedangkan pemuda yang 'mirip' dengan Tao memakai jubah tidur jaman kekaisaran Tang.

Tao mendekat. Mencoba melihat dengan lebih jelas. Tiga langkah lagi.

"Maafkan aku Taizhi Fei (pendamping),hidupmu sampai disini."

Tao melotot mendengarnya. Begitu juga dengan pemuda yang Tao ketahui sebagai pendamping.

'JANGAN!'

Pemuda pengacung pedang itu berdiri,menarik pemuda ketakutan itu berdiri juga. Tao baru sadar bahwa mereka –Tao dan Tao masa lalu-sama tinggi.

Pemuda pengacung pedang itu mengangkat pedangnya.

'JANGAN!'

"TIDAK!"

Cress.. Cress..

Pedang menggores indah leher jenjang dan nadi tangan kiri milik sang pendamping. Darah mengalir melalui kulit mulusnya. Tao dan sang pendamping terpekik tertahan. Airmata Tao menetes. Seiring dengan darah yang mengalir dari goresan indah luka di tubuh sang pendamping.

Tao terduduk. Matanya terpaku menatap kedua manic mata milik sang pendamping yang di yakini sebagai miliknya dimasa lalu mulai menutup. Tao terisak. Dadanya berdenyut,seolah ada sebuah perasaan merasuk kedalam dirinya. Kepingan dalam dirinya yang lain kembali padanya. Ingatan yang menerobos ke otaknya semakin memaksanya untuk terisak.

TANG

Pedang itu jatuh disamping Tao. Tao memandang nyalang pemuda yang telah membunuh 'dirinya' –secara tidak langsung-. Tao membulatkan matanya saat sang pembunuh memalingkan wajahnya menghadap Tao. 'Suho-ge..'

.

.

Hari masih gelap saat Kris membuka mata. Ia memegang kepalanya. Bingung. Bukankah tadi ia ada dirumah Suho? Lalu kenapa ia ada disini?

Ia mengernyit melihat seorang pemuda yang bersimpuh dihadapan beberapa orang berpakaian khas masa kekaisaran Tang,membelakanginya. Kris yakin pemuda itu adalah pangeran. Mengingat jubah yang di kenakannya berlambangkan naga dengan ornamen mewah,lambang kebesaran kekaisaran. Ditambah lagi dengan kasim-kasim dan dayang yang berlutut sambil mengucapkan rentetan kalimat disertai isakan.

kris tersenyum miring saat mendengar kata,'Huang Taizhi'."Huang Taizhi? Dia seorang Putra mahkota?"

"Taizhi Fei masih hidup. Taizhi Fei bukan penghianat. Ia mencintaiku.." pangeran mahkota itu terus bergumam. Kris terpaku mendengarnya. Ia seperti mengenal suara berat ini,hanya saja ia tak mengenal nada suara ini. Ada perasaan sakit saat mendengar sang Pangeran mahkota berucap.

Kris memegangi kepalanya. Terasa sangat pening.

Pangeran mahkota membalikan badannya. Mengangkat kepalanya. Kris terkesiap dengan mata membulat. Mata itu. Wajah itu. Tubuh itu. Itu dirinya. Ya,pemuda di hadapannya bagai cermin. Hanya saja pemuda itu memiliki warna rambut hitam arang,mengingatkan Kris kepada rambut raven milik Tao.

"k-kau siapa?" Kris berkata cukup keras pada pemuda itu. Tak mendapat respon,ia mendekati sang pangeran mahkota. Mencoba menyentuh tubuhnya. Mata Kris kembali terbelalak kaget. Tembus. Tangannya melewati bahu sang pangeran. "apa yang terjadi denganku?"

Tidak menyerah. Kris mencoba kepada para kasim dan dayang. NIHIL. Ia tak percaya ini. Ia hantu?. Apa ia sedang bermimpi? Semua hal disini membuatnya linglung? Dadanya terasa sesak. Pening dikepalanya juga masih belum hilang. Ingin kembali pada kehidupannya,tapi Kris tak tahu bagaimana caranya.

Kris akhirnya memutuskan untuk duduk. Tepat dihadapan sang pangeran mahkota yang bagaikan mayat hidup. Pandangan kosong,airmata yang terus mengalir sambil terus bergumam, "Taizhi Fei masih hidup. Taizhi Fei bukan penghianat. Ia mencintaiku..". Kris menatap miris. Ia datang kemasa lalu dan melihat bagaimana dirinya dimasa lalu terluka.

(Kris yakin bahwa Pangeran Mahkota adalah dirinya dimasa lalu.)

"jika aku menemui diriku dimasa lalu. Apa Tao juga?" bisiknya entah pada siapa.

*pagi hari*

Kris kembali terpaku saat memasuki wilayah luas yang tengah dikerubuni oleh masyarakat. Ia sedikit bigung akan kemana sang Putra mahkota. Mengingat Kris berencana mengikuti sang Pangeran mahkota itu kemanapun sang pangeran pergi.

Pangeran mahkota berhenti,lalu duduk di kursi kebesarannya. Kris baru sadar. "arena eksekusi. Apa akan ada yang dipancung?"

Ia menoleh kearah dirinya dimasa lalu,masih sama. Tatap mata kosong dan terlihat kacau. Kris merasa bosan dan penasaran sekarang.

Riuh masyarakat yang berbisik-bisik membuat Kris mengalihkan pandangannya menatap kumpulan manusia itu. Ia kini dapat melihat seorang pemuda manis dengan lengan terluka tengah diseret oleh dua orang algojo. Di belakangnya terlihat juga seorang gadis berumur sekitar tujuh belas tahun dengan kondisi tidak jauh berbeda,ada lebam di sekitar rahang kirinya. Mereka berdua digiring menuju dua pasang tiang kayu kokoh yang terletak di tengah-tengah arena tersebut.

Kris menyipitkkan matanya. Sepertinya ia pernah melihat pemuda yang akan dipancung tersebut. Ia terlihat familiar. Kris memegangi kepalanya yang kembali berdenyut sakit. Entah mengapa saat ia mencoba mengingat sesuatu,kepalanya selalu pusing.

"Shen Yu Zhang.."

Kris menoleh. Memandang Putera mahkota yang tengah menatap lekat seorang yang disebutnya sebagai 'Shen Yu Zhang'.

"Shen Yu? Bukankah itu artinya peramal? Zhang? Sepertinya familiar dengan orang bermarga Zhang itu.." Kris bergumam cukup keras. Toh,walaupun ia berteriak pun,tak ada yang mendengar.

Raja mulai menurunkan perintah untuk melakukan pemenggalan. Kris menatap lekat pemuda peramal dan gadis di sebelah kirinya yang juga akan dipenggal. Beberapa orang mulai membacakan hukuman dan tindak kejahatan yang dilakukan oleh sang peramal dan gadis muda itu. Tak peduli,tentu saja. Seorang Kris Wu tak perlu peduli pada kejahatan mereka. Toh,itu bukan urusannya.

"apa mereka tak takut?" Kris kagum melihat mereka. Wajah tegas namun manis dengan single dimple yang terlihat saat ia memandang putra mahkota sambil menunduk dan tersenyum kecil,memberi hormat.

Kedua algojo disisi kiri kanannya mulai mengangkat pedang panjang yang bersinar akibat pantulan cahaya matahari pagi. Peramal itu menutup matanya,siap menunggu kematiannya.

Kris melototkan matanya kaget. Ingat akan seseatu.

Pedang itu menggorok leher jenjang nan mulus milik sang peramal,tepat saat Kris berteriak..

"LAY!"

Srett..

Bughhh..

Kepala itu terpisah dari tubuhnya. Jatuh tepat tiga puluh meter di hadapan Kris. Meninggalkan tubuhnya yang kini ikut ambruk namun tertahan tali yang mengikat kedua tangannya dan terhubung ke tiang disisi kanan dan kirinya. Kris memandang miris ceceran darah akibat tebasan itu. Kakinya terasa lemas. Kris melangkahkan paksa kakinya menuju kepala milik Lay. Setetes air mata mengalir saat melihat bagian terpenting dari tubuh manusia itu penuh darah. Kedua matanya terpejam sempurna dengan sebuah senyum miris yang terukir di kepala tak berfungsi itu.

Kris berjongkok. Mencoba menyentuh. Gagal,tentu saja.

"Lay-ah,inikah yang mau kau tunjukkan padaku? Inikah yang terjadi dimasa lalu kita?. Lalu aku harus bagaimana? Dimana Tao?"

Kris kembali menangis. Ia bingung dan merasa bersalah. Bagaimana mungkin 'dirinya yang lain' hanya berdiam diri seperti ini? Apa itu yang dilakukan oleh seorang putera mahkota?

Srett..

Bughhh..

Kris menoleh saat suara itu terdengar dari arah belakangnya. Ia menoleh. Mendapati kepala lain yang kini juga telah terpisah dari tubuhnya. Seorang gadis muda yang tadi juga diikat di tiang sebelah kiri Lay. Bersimpah darah. Raut wajah itu menyiratkan kesakitan.

Kris baru saja akan berdiri. Saat cahaya itu menerpanya. Dan menariknya entah kemana.

.

88 Days

.

Suho dan Lay terkejut saat melihat kedua makhluk berbeda jenis –dalam artian roh dan manusia- dihadapan mereka mulai beremosional dengan mengeluarkan kristal bening dari kedua mata mereka yang terpejam. Lay memandang mereka khawatir. Meremas lengan kiri sang kekasih.

"lakukan sesuatu.." bisiknya.

Suho mengangguk. Mengambil buku kuno di hadapannya,lalu menutupnya. Membuat cahaya biru terang yang tadi muncul dari dalam buku itu,tertelan kembali oleh sang buku kuno. Lafalan mantra dalam bahasa yang tidak Lay –dan kebanyakan orang- mengerti mulai terdengar dari bibir Suho.

Tersentak. Kedua makhluk berbeda jenis itu membuka matanya tiba-tiba membuat pemuda manis dengan single dimple itu terkaget. Namun ia lega. Helaan nafas terdengar dari Suho yang kini tengah dibanjiri keringat.

"aku yakin kalian sangat shock dengan apa yang kalian lihat." Lay membuka suara. Menyodorkan dua gelas air putih –yang sudah ia siapkan- kepada mereka.

Mengusap lembut wajah kekasihnya,Lay kembali berucap,"itu hanya kilasan ingatan masa lalu. Tenangkan diri kalian. Kami akan menjelaskan sesuatu."

Lay memang tidak menoleh. Namun ia tahu bahwa Tao dan Kris mengangguk.

Baru saja Lay akan membuka suara,untaian kata dari Tao membuatnya mengurungkan niatnya.'aku terkejut dengan apa yang kulihat. Aku melihat diriku dibunuh dengan begitu baik oleh pembunuh profesional. Goresan itu sangat indah,namun aku yakin itu sangat sakit. Saat pedang itu menggores tubuhku dimasa lalu,entah kenapa aku juga merasakan goresan itu.'

Berhenti sebentar,Tao meletakan gelas yang hampir kosong itu dimeja. 'aku takut saat melihat itu. Sakit sekali. Bahkan aku seperti dirasuki oleh sebuah kepingan masa lalu yang bahkan masih terbayang sampai sekarang. Aku juga sedikit kecewa saat melihat siapa yang membunuhku dimasa lalu..'

"Tao aku-"

Tao mengangkat tangan kanannya,mengisyaratkan Suho untuk diam. Tao tersenyum kecil diikuti gelengan. 'memang kecewa mengetahui siapa yang membunuhku saat itu. Tapi bukankah itu masa lalu? Lihatlah! Bukankah pembunuh brengsek itu sudah menjelma menjadi seorang malaikat penolongku?'

Kris terbelalak,"Suho yang membunuhmu dimasa lalu?"

Tao tersenyum lagi lalu mengangguk. Menghapus sisa cairan yang turun dipipinya lalu terbelalak. 'gege,aku menangis. Aku bisa menangis..'

Lay tersenyum tipis. Menghentikan kegiatan mengusap keringat sang kekasih lalu menatap Tao dengan lembut. "memori dan sebagian perasaanmu telah kembali padamu. Menyatu dengan jiwa dan hatimu. Dengan kata lain,dirimu yang lain telah kembali padamu. Sembilan puluh sembilan reinkarnasimu telah pergi ketempat mereka seharusnya. Mengembalikan memorimu untuk mengikuti takdir."

Tao memiringkan kepalanya kekiri,'aku tak mengerti ge..'

"aku juga. Aku bingung kenapa aku melihat aku bisa disana. Melihat aku yang dulu ternyata seorang Huang Taizhi. Hell,bayangkan aku seorang Pangeran mahkota. Namun aku heran dan kecewa. Heran karena aku saat itu terlihat sangat sedih. Sedangkan kecewa karena aku melihat Lay terbunuh dihadapanku. Kalian tahu? Aku sangat terkejut melihat kepala milik Lay menggelinding dengan darah. Arghh.. kejadian itu seperti kaset rusak diotakku." Kris mengakhiri ceritanya sambil mengacak surai pirangnya. Menghiraukan tatapan bingung dari Tao.

Hening

Krik

Krik

"hhh.."

Helaan nafas milik Suho memecah keheningan.

"sebelumnya aku minta maaf. Terutama kau Tao." Suho menunduk,meminta maaf.

'sudah kubilang itu masa lalu,Suho-ge' Tao berucap dengan dewasa,namun tetap saja nada ceria yang lebih mengarah kekanakan itu terdengar jelas. Kedutan kecil muncul dibibir Kris. Tak dapat menahan senyum melihat sosok Tao yang kini nampak begitu indah dan luar biasa.

Suho tersenyum,"terima kasih Tao. Sekarang dengarkan kami."

Tao dan Kris mengangguk.

Hening

"tapi,aku harus mulai dari mana?" Suho menggaruk kepala belakangnya bingung. Kris memutar kedua bola matanya bosan.

"jelaskan kenapa kau membunuh Tao!" Kris Wu,kau benar-benar..

Suho mengangguk,"kalian tentu tahu politik dimasa lalu. Sebuah kesalahan kecil saja,dapat menimbulkan sebuah bencana. Dan itulah yang terjadi"

Lay mengisyaratkan Suho bahwa ia yang akan melanjutkan cerita. " semua berawal setahun sebelum kejadian mengenaskan itu. Hari itu aku dan pelayanku,Xi Hye yang sekarang kita ketahui sebagai Ji Hye pergi memenuhi undangan kerajaan di istana. Disana aku diminta untuk meramalkan kelanjutan kehidupan kekaisaran Raja. Semua berjalan lancar awalnya,namun itu hanya hingga permaisuri bertanya siapa yang pantas untuk menjadi pendamping. Saat itu aku menjawab dengan kalimat yang melintas langsung dipikiranku."

'apa itu?'

Lay menghela nafas pelan."Pendamping adalah orang yang akan menghancurkan Selir. Menjatuhkan kekuasaannya. Bahkan aku meramalkan bahwa,pendamping adalah bulan terkuat saat ia naik tahta."

"lalu apa karena itu Suho membunuh Tao?" Kris bertanya sambil menatap tajam Suho. Mengernyit takut,Suho segera menyambar air putih miliknya.

Lay mengangguk membenarkan pertanyaan Kris."saat itu Suho menjabat sebagai Menteri Pertahan dan merupakan tangan kanan Selir. Ia diperintahkan untuk menemuiku dan memaksaku untuk membunuh pendamping dengan ilmu sihir. Aku menolak. Aku tak begitu ingat,tapi yang aku tahu keesokan paginya aku menemukan diriku dan Xi Hye telah berada di penjara dengan tuduhan percobaan pembunuhan terhadap pendamping. Pagi itu aku juga mengetahui bahwa Tao telah dibunuh selang beberapa jam setelah Suho mendatangiku."

"kau sangat kejam." Cibir Kris sambil tetap menatap Suho dengan tatapan tajamnya.

"bukankah aku sudah minta maaf?" Suho membantah tak terima akan ucapan Kris. Tao dan Lay hanya menggelengkan kepala mereka pelan. Geli melihat tingkah dua pemuda tampan dengan gold rasio pada tinggi badan mereka.

Tao berdehem pelan,'lalu apa yang terjadi setelahnya?. Apa setelah itu Lay-ge dibunuh oleh Suho-ge seperti yang dikatakan oleh Kris-ge?'

"bukan aku yang membunuhnya. Ia dihukum pancung oleh Yang Mulia Raja begitu pula dengan seluruh anggota keluargamu,dengan tuduhan penghianatan. Kau tahu apa itu hukuman pancung?. Saat kau dipancung,kau akan diikat diantara dua tiang. Lalu kepalamu akan di pe-"

'STOP!. BERHENTI! Jangan diteruskan lagi. Itu mengerikan..' Tao memotong ucapan panjang lebar Suho sambil berteriak histeris dengan kedua tangan menutup kedua telinganya. Ah,apa aku belum mengatakan bahwa Tao itu penakut?

Kris dan Lay menepuk jidat mereka bersamaan. Mereka baru ingat Tao yang sekarang dalam wujud han- maksudku roh,adalah penakut dan anti terhadap hal sadis seperti itu.

Lay mencubit pelan lengan Suho,mengisyaratkan Suho untuk diam. Sedangkan Kris? Menenangkan Tao dengan cara mengelus pelan surai hitam Tao sambil terus memberi glare terbaiknya pada Suho.

Suho mendekati Lay sambil berbisik pelan ditelinga pemuda dengan single dimple itu."cinta memang mengalahkan segalanya. Bahkan perbedaan jenis pun..". Lay hanya mengangguk membenarkan,ia takjub.

'jadi apa hubungannya dengan masa kini?' Tao bertanya setelah ia merasa lebih tenang dan telah melepaskan diri dari tangan besar Kris. Jujur saja,sentuhan Kris membuatnya merasa emh.. bagaimana mengatakannya? Emhh.. berdebar –mungkin-.

Suho mengangguk,"Kau akan tahu nanti. Tapi,intinya adalah kita harus mengikuti sumpah Lay. Menyatukan takdir yang terpisah untuk menyelamatkan Tao."

Kris menaikan sebelah alisnya,"memangnya Lay bersumpah apa dan kapan?"

Lay berdecak kesal. Kris itu sangat cerewet. "sumpahku adalah setelah seratus kali reinkarnasi,kita akan bertemu lagi dan memperbaiki takdir. Dan aku mengucapkannya dua kali. Pertama di penjara dan yang keuda sesaat sebelum aku dipenggal."

'woah.. jadi kita semua bereinkarnasi terus. Daebakk..'

"Tapi,asal kalian tahu. Jika takdir tak bisa dipertemukan,maka Tao akan meninggalkan dunia untuk selama-lamanya setelah sisa waktu delapan puluh dua hari berlalu.."

"APA?!"

'APA?!'

.

.

Sisa waktu 80 hari

.

.

Tao menelusuri rumah sakit. Melogok kesana kemari,mencari seseorang. Kris? Ia sudah bertemu dengannya tadi pagi. Lay dan Suho? Ia malas bertemu dengan dua orang yang selalu bercerita horor padanya itu. Lalu siapa? Ji Hye? Ah benar. Sejak dua hari yang lalu ia tak melihat Ji Hye dirumah sakit. Tao merasa kesepian karenanya.

"GEGE!"

AH! Suara itu.

Tao membalikkan badannya,menghadap sumber suara.'Ji Hye! Kau kemana saja dua hari ini?!aku kesepian?!'

Ji Hye terkekeh mendengarnya. Ditambah lagi dengan ekspresi imut Tao. Ah,ingi rasanya mencubit pipi Tao.

"aku menghilang karena aku takut kau terkejut melihatku.."

Ji Hye berucap sambil menarik tangan kanan Tao menuju arah taman rumah sakit. Mengabaikan ekspresi terkejut Tao.'terkejut?. terkejut kenapa?'

Ji Hye berhenti. Monoleh menghadap Tao. Mengerutkan alisnya,lalu berucap,"bukankah mereka sudah memberi tahumu,ge?"

'mereka? Siapa?'

"tentu saja Suho dan Lay."

'jadi kau benar-benar reinkarnasi Xi Hye?'

Ji Hye tersenyum lalu berlari,"menurutmu?"

'YA! TUNGGU AKU! HAN JI HYE!'

.

"menurutmu,apa Kris-ssi itu menyukai Tao?"

Kai menurunkan komik one piece yang tengah dibacanya. Ia menoleh pada Chen yang berada tepat disebelahnya. Sedikit berpikir.

"menurutku,emmhh.. ya. Dia menyukai Tao hyung yang imut dan manis itu."

Chen tersenyum lebar. Merasa bangga. "tentu saja. Tao kan adikku.."

Kai mencibir Chen. Beralih menatap Kris yang tengah tertidur di sisi kiri ranjang Tao,Dengan kepala yang bertumpu pada ranjang.

"mereka pasti terlihat sangat serasi. Tao hyung yang manis dan Kris Wu yang dengan berat hati aku mengatakan dia tampan."

Chen mengangguk membenarkan,"menurutku juga begitu. Asal Tao bahagia,aku turut bahagia."

Kai menaikan kembali komiknya. Melanjutkan membaca sambil berucap,"kau terlalu dramatis. Kenapa tidak selesaikan urusan percintaanmu dengan Baozi mu itu saja sih?"

Chen mendelik sambil mengangkat tangan kananya. Siap memberikatan 'sentuhan manis' untuk Kai. "YA! KKAMJONGG!"

.

.

'gege..'

"Ya?"

'gege sedang apa?'

Kris mengalihkan pandangannya dari kalender mini di pangkuannya,menatap Tao yang kini tengah memandangnya dengan binar ingin tahu di mata kelamnya. Mereka kini tengah berada didalam kamar milik Kris. Kamar tidur dengan aksen eropa yang sangat kental. Interior elegan dan sangat modern. Hell,tidak heran. Bukankah ini rumah milik seorang Kris Wu?

"aku hanya menandai tanggal.."

Tao menautkan alisnya bingung.'untuk apa? Apa gege berulang tahun?'

Kris tertawa pelan lalu menggeleng."tidak,bukan itu Tao. Aku menandai kapan delapan puluh hari sisa waktu kita berakhir. Setidaknya aku ingin menikmatinya.."

Tao kini memiringkan kepalanya sedikit kekiri. Jujur saja. Ia makin bingung. 'menikmati?'

Kris tersenyum. Mengisyaratkan agar Tao duduk disebelahnya. Tao menurut. Mengikuti Kris duduk di ranjang King size milik Kris.

Kris tersenyum lagi. Tanpa pemberitahuan atau aba-aba,merebahkan kepalanya di paha Tao yang terbalut jeans. Terkejut? Tentu saja. Dan lihat saja! Ehm maaf karena kita tidak bisa melihat. Jadi,bayangkan saja kedua pipi tembam Tao tengah merona tipis,menampilkan pias merah muda samar dipipi tembamnya.

'gege..'

"kenapa? Biarkan dulu seperti ini. Terakhir kali aku merasakan perasaan senyaman ini sekitar empat belas tahun yang lalu. Orang tuaku terlalu sibuk mengurusi urusan pekerjaan mereka. Melupakan bahwa mempunyai seorang anak. Aku merasa kesepian.."

Kris tersenyum miris. Menyamankan posisi kepalanya,Kris meletakan kalender itu di nakas sebelah tempat tidurnya.

"Sejak kehadiranmu. Aku merasa lebih baik. Tak pernah kesepian. Seperti menemukan warna baru untuk hidupku. Bahkan berpetualang mengungkap masa lalu. Itu luar biasa. Sangat senang bisa mengenalmu.."

Kris meraih tangan kiri Tao. Meletakan tangan itu. Menuntun jemari lentiknya untuk mengelus rambut pirang miliknya.

Tao tersenyum. Mengerti akan permintaan Kris. Jemari lentiknya mulai mengelus pelan surai pirang itu penuh perasaan.

Sedangkan Kris tersenyum senang. Memejamkan kedua onixnya.'Bukan hanya terjerat. Aku bahkan sudah terjebak dalam pesonamu Huang Zi Tao. Dan aku rasa aku bukan hanya menyukaimu,tapi mencintaimu Huang Zi Tao..'

Tao menundukkan kepalanya. Hembusan nafas teratur Kris menyapa pendengarannya. Kris telah tertidur.

'yang aku bingungkan adalah kenapa hanya Kris-ge manusia yang dapat bersentuhan denganku. Apa itu karena dimasa lalu kau adalah kekasihku?. Aku bingung..'

.

.

.

=To Be Countinue=

.

.

Tadaaaa.. annyeong ^^

Author kembali membawa part 4. Author sebisa mungkin untuk menulis cerita ini dengan cepat. Melihat permintaan kalian untuk update kilat,author berharap bisa memenuhi permintaan kalian. Mungkin chapter ini sangat mengecewakan. Karena author hanya menulisnya selama dua hari. Untung saja ide tiba-tiba menghampiri author.

Special Thanks to :

,Laibel,ajib4ff,ayolopetyas11,Brigitta Bukan Brigittiw,aninkyuelf, 91,Aswshn,KTHS,fallforhaehyuk,MimiTao,Guest,dewicloudsddangko,uwiechan92,DwitaDwita,TTy T.T,tuti handayani,kim hyun sooo,Baby Ziren KTS,amoebbang, ,Ruii419,jettaome.

Terima kasih untuk para readers yang bersedia untuk review di chap-chap sebelumnya.

Author juga ingin mengucapkan 'Selamat Hari Natal bagi kalian yang merayakan. Semoga kebahagiaan natal selalu menyertai kalian.'

Last,Mind to Review?

December,24th 2013

XOXO-adel