MARK and Nadine PART 3-2

Salwa : maaf Salwa, tapi disini author pengen yg humor humor gitu jadi sad theme mungkin ada tapi dikiiiiit banget, o ya makasih dah review :DD

Oke oke

Lanjut...

Udah lama ya aku gak nge-post cerita tentang ini lagi... Ini dia part 3-2 part selanjutnya ditunggu aja ya.. Apakah ini spasinya hilang? Entah, cerita menjadi aneh banget -_- Mark masih berantem sama Nadine, oh no..

Selamat membaca...

Cast : 1) Mark Feehily

2) Nadine Fredickson

3) Barry Feehily

4) Charlotte Chaterine

5) Ridwan Kusumah

6) Etna Astuti

7) Hasna Hanifah

8) Ayu Kristiana

9) Polisi (Entah siapa namanya)

10) Nana Fredickson

Betapa terkagetnya orang-orang di dalam rumah yaitu Etna, Ayu, Ridwan, dan Hasna ketika melihat Nadine tiba-tiba menangis dan langsung masuk ke kamarnya. Etna, Ayu, dan Hasna segera menyusul Nadine ke kamar Nadine, akan tetapi sebuah kendala terjadi yaitu Nadine telah mengunci pintu kamarnya rapat-rapat seperti jeruji besi penjara. Sementara itu, Ridwan mencari tahu apa yang telah menyebabkan Nadine kembali menangis ketika keceriaannya mulai muncul kembali. Ridwan menuju ke luar rumah Nana Fredickson, betapa terkagetnya Ridwan karena Ridwan mendapatkan Mark disana yang sedang duduk di kursi teras milik Nana Fredickson. Dengan wajah kesal, Ridwan menghampiri Mark.

"Hei cowok sialan, ngapain lu disini?", teriak Ridwan.

"Lah kamu ngapain disini?", tanya Mark balik.

"Heh pertanyaan gue belum dijawab! Oh apa jangan-jangan lu kesini tujuannya untuk membuat Nadine tambah menangis. Lu tau gak semalam? Nadine nangis terus karena lu yang telah mengkhianati dia. Nadine kesini itu mau tenangin diri dan mencoba buat ngelupain lu", Ridwan bertatapan serius dengan Mark.

"Aku gak tau kalau Nadine ada disini?", Mark mengatakan sejujur-jujurnya dihadapan Ridwan.

"Gue mau tanya sama lu", ucap Ridwan.

"Silahkan", Mark tersenyum.

"Gak usah senyum deh sama gue. Gue cuma mau tanya sebetulnya lu cinta gak sih sama Nadine?", tanya Ridwan serius.

"Nadine itu cinta pertama aku, aku sudah lama bersahabat dengan Nadine sejak aku berumur 5 tahun. Aku tidak bisa melupakannya, aku sangat-sangat mencintai dia. Aku tidak mau kehilangannya, makanya aku akan selalu berusaha untuk minta maaf dengannya", Mark menundukkan kepalanya.

"Lalu kenapa kamu menyakiti perasaannya", ucap Ridwan.

"Begini lho ceritanya.. Semenjak remaja aku telah mencari Nadine di Dublin, akan tetapi aku tak tau alamat rumahnya. Sampai pelosok Dublin aku temui, akan tetapi Nadine tidak ada. Aku frustasi dan mencoba untuk melupakan Nadine, tapi aku tidak bisa. Sampai pada akhirnya aku mencoba untuk menjalin hubungan dengan beberapa wanita yaitu Mandy Moore dan Laurent Gold tapi tetap saja aku masih terpikir Nadine, aku sangat sulit melupakannya. Aku memutuskan kekasihku karena aku sadar, aku masih mencintai Nadine. Aku mencoba mencari tau alamat rumahnya Nadine, tapi hasilnya nihil. Hingga pada tahun 2005 aku mencoba menjadi seorang gay, dengan pasangan gayku Kevin McDaid. Aku enjoy dengannya, melewati banyak kenangan dengan dia tapi tetap sama saja di pikiranku penuh dengan Nadine. Baru-baru ini hubunganku sama Kevin berantakan karena aku tidak fokus dengannya, aku sibuk dengan Westlife sekaligus aku sibuk mencari Nadine yang entah dimana berada. Hingga pada akhirnya aku menemukan Nadine saat latihan dance dengan kalian, aku senang sekali. Aku bisa meluapkan perasaanku yang sebenarnya saat itu, malam harinya aku mengajak Nadine makan malam di sebuah restoran. Betapa terkagetnya aku dan Nadine karena disana aku bertemu dengan Kevin. Aku dan Kevin berantem di hadapan Nadine dan aku memutuskan Kevin di depan Nadine. Akan tetapi setelah itu, Nadine tiba-tiba menangis karena aku gay. Aku dibilang gak punya perasaan lah, gak mengerti perasaannya, dan lain sebagainya. Nadine menamparku dan meninggalkan aku seorang diri di tempat parkir sebuah restoran itu", Mark menceritakan kisah panjangnya tentang Nadine.

"Oh begitu ceritanya, Maafkan atas sikapku tadi", Ridwan menundukkan kepalanya.

"Ah tak apa, aku mengerti kok. Kamu membela Nadine. Tapi yang menjadi pertanyaanku tentang Nadine, Mengapa Nadine marah saat tau diriku gay? Padahal sebelumnya aku sudah lama sekali tidak bertemu dengannya", Mark bangkit dari tempat duduknya.

"Mungkin Nadine berpikir kamu masih menunggunya. Dia benar-benar cinta denganmu Mark", Ridwan menepuk pundak Mark dengan pelan.

"Bagaimana kamu bisa mengucapkan itu sementara tidak ada buktinya?", Mark menatap bola mata coklat milik Ridwan.

"Untuk apa dia menangisimu dan marah denganmu? Kalo dia tidak cinta dengamu ngapain dia nangis karena tau kamu gay. Iya bukan?", ucap Ridwan.

"Iya sih.. oya nanti malam aku ke sini lagi. Bye..", Mark bergegas pergi dari rumah Nana Fredickson.

"Bye..", Ridwan melambaikan tangannya.

Setelah selesai menemui Mark, Ridwan kembali masuk dalam rumah Nana Fredickson. Nadine tetap saja mengurung dirinya di kamar. Entah sampai kapan..

"Nadine, aku mohon buka pintunya..", ucap Ayu dengan nada anak kecil yang meminta mainan kepada orang tuanya.

"Nadine.. Open the door, please?", ucap Hasna.

"Belagak lu pakai Bahasa Inggris", ucap Ayu terhadap Hasna.

"E.. gak terima gitu?", Hasna menatap sinis Ayu.

"Heh kalian itu, suasana genting kayak gini kalian malah begini", ucap Etna dengan kata-kata bijak andalannya yang dipakai untuk menenangkan orang yang ribut dalam suasana genting.

"Yaelah, kata-kata bijak itu lagi", ucap Ayu.

"Nadine, buka pintune wae..", ucap Ridwan yang tiba-tiba datang seperti jelangkung. Loh Jelangkung : Datang gak diantar, pulang gak dijemput.

"Ini lagi.. udah stop! Bicara memakai Bahasa Indonesia saja!", bentak Etna.

"Kalian itu berisik sekali, Nana gak bisa tidur. Ada apa ini sebenarnya?", Nana Fredickson menghampiri Ayu, Etna, Hasna, dan Ridwan.

"Itu lho Nana, Nadine nangis dan mengurung dirinya di kamar", ucap Hasna spontan.

"Ha?", ucap Nana Fredickson terkaget.

Tiba-tiba Etna menginjak kaki kanan Hasna.

"Aw.. Etna!", teriak Hasna.

"Eeeee kamu itu, has", ucap Ayu dan Ridwan serentak dengan suara yang lirih.

Etna menatap sinis Hasna.

"Maaf, keceplosan", Hasna menundukkan kepalanya.

Tanpa komando, Nana Fredickson mengetuk pintu kamar Nadine.

"Nadine sayang..", ucap Nana Fredickson.

"Apa nana?", ucap Nadine dari dalam kamar.

"Syukurlah kamu menjawab, tolong buka pintunya sayang", Nana Fredickson memohon kepada Nadine.

Terdengar suara kaki melangkah, Nadine perlahan membuka pintu kamarnya.

"Oh Nadine sayang, kamu tak apa nak?", Nana Fredickson memeluk tubuh Nadine.

"Nadine tak apa nana. Nana tidak usah khawatir", Nadine membalas pelukan Nana Fredickson.

"Nadine, mengapa kamu menangis?", tanya Etna.

Nadine tidak menjawab pertanyaan Etna terhadap dirinya, akan tetapi dia tersenyum kepada para sahabatnya.

"Aku tak apa, Etna", Nadine melepaskan pelukan terhadap Nana Fredickson.

"Ah aku tak percaya", ucap Etna.

"Sudahlah, lupakan masalah ini.. tujuan kita disini kan untuk liburan, ayolah senang-senang", Nadine tersenyum dengan indahnya.

"Ayo senang-senang!", ucap Ridwan bersemangat dengan mengacungkan tangannya.

"Liat itu yu, lekong mulai beraksi", Hasna berbisik kepada Ayu.

"Lu mau kampanye, wan?", ucap Etna.

"Loh kok kampanye?", Ridwan menurunkan tangannya.

"Lha itu, ngapain kamu pakai ngacungin tangan. Kayak Foke aja lu, no 1", ucap Etna.

"Please deh et, jangan samain gue dengan Foke alias Fauzi Bowo", ucap Ridwan dengan nada kesal.

"Hahaha", ucap Ayu, Etna, Hasna, Nadine, dan Nana Fredickson serentak.

"Akhirnya Nadine bisa tertawa lagi", ucap Ridwan dalam hatinya.

Lain kisah Nadine dan Mark yang masih mengambang, ada seseorang yang tengah dilanda virus jatuh cinta. Siapa lagi kalau bukan Barry?

"Ehem Charlotte", ucap Barry yang fokus menyetir.

"Ada apa, Barry?", ucap Charlotte dengan santai.

"Kamu udah punya pacar belum?", ucap Barry dengan nervous.

"Belum, memangnya kenapa?", ucap Charlotte.

"Masak perempuan secantik kamu belum punya pacar sih?", ucap Barry.

"Aku serius Bar, aku masih single.. aku belum pernah pacaran. Kenapa sih?", Charlotte membenarkan rambutnya.

"Kamu mau gak jadi pacarku?", tiba-tiba Barry menghentikan laju mobilnya.

Charlotte terkaget mendengar perkataan Barry karena dia dan Barry baru saja bertemu.

"Ah ini pasti kamu bercanda..", Charlotte menatap wajah Barry dengan wajah yang tidak percaya.

"Aku serius, Charlotte. Aku menyukaimu sejak kita pertama kali bertemu, yaitu tadi saat kamu berada di rumahku", Barry memalingkan wajahnya ke jendela mobil.

"Aku tidak bisa…", ucap Charlotte.

"Kenapa?!", Barry dengan cepat melihat wajah Charlotte dengan kagetnya.

"Kita baru saja bertemu, aku belum terlalu mengenalmu", ucap Charlotte.

"Tapi, aku suka sama kamu", Barry mengguncang-gunvangkan tubuh Charlotte.

"Aku mohon jangan paksa aku. Biarkan aku mengenalmu lebih jauh, aku tak mau salah memilih", Charlotte memohon di hadapan Barry.

"Tapi apakah kalau kamu sudah mengenalku lebih jauh, apakah kamu mau menerimaku?", Barry memasang muka seriusnya.

"Tergantung", ucap Charlotte santai.

Tiba-tiba seseorang berkumis tebal, memakai kaca mata hitam seperti tukang pijat mendekati mobil Barry dan menggedor-gedor pintu mobil.

"Hei kalian", ucap laki-laki itu seraya menggedor-gedor pintu mobil milik Barry.

"Siapa itu, Barry?", Charlotte menunjuk ke arah laki-laki itu.

"Entah", Barry melepaskan tubuh Charlotte.

"Woi buka pintunya. Kalian itu tuli, bisu, atau buta sih?", laki-laki itu tambah keras menggedor-gedor pintu mobil milik Barry.

Barry membuka pintu mobilnya. Secara tak sengaja, pintu mobilnya terkena rangkaian gigi laki-laki itu secara keras.

"Apaan sih Anda ganggu kenyamanan saya?", Barry menutup pintu mobilnya.

"Aduh…", ucap laki-laki itu seraya dia memegang pipinya.

"Loh pak, ngapain duduk?", tanya Barry.

"Ahhhh… gigi emasku lepas", laki-laki itu memungut sebuah gigi emas miliknya.

"Heh pak, ditanya kok diam saja?", ucap Barry heran.

"Anda liat tidak sih, gigi emas saya lepas gara-gara Anda!", ucap laki-laki itu kesal.

"Yah ompong deh", ejek Barry.

"Huh, sialan ni pemuda", gumam laki-laki itu seraya berdiri.

"Makanya pak, Anda jangan mamer gigi emas Anda di depan kaca mobil saya. Kena deh", ucap Barry dengan nada meledek.

"Saya tidak mamer! Saya hanya menggedor-gedor pintu Anda, karena Anda berhenti di tempat yang salah!", laki-laki itu memarahi Barry.

"Loh salah?", ucap Barry bingung.

"Anda lihat palang rambu itu", laki-laki itu menunjukkan sebuah palang rambu.

"Hehehe, dilarang berhenti ya pak", Barry cengar-cengir.

"Anda dikenakan denda sebesar 1 poudsterling", laki-laki itu menulis sesuatu di sebuah halaman di buku yang ukurannya sebesar buku catatan kecil. Lalu, ia menyobek halaman itu.

"Anda siapa? Berani-beraninya ngedenda saya", ucap Barry.

"Anda tidak lihat pakaian saya?", laki-laki itu menatap Barry.

"Oh My God… Anda polisi lalu lintas?", ucap Barry.

"Memangnya Anda mengira saya siapa?", ucap laki-laki itu kesal.

"Maaf pak..", Barry menundukkan kepalanya.

"Ya sudah, ini. Anda bayarkan di kantor polisi kota, di bagian administrasi lalu lintas", laki-laki itu menyerahkan sebuah kertas.

"Ya, makasih", Barry menerima sebuah kertas itu dengan wajah yang tidak terima.

Barry masuk kembali ke mobil

"Ada apa Barry?", tanya Charlotte.

"Kena denda beb?", jawab Barry.

"Loh kok kamu manggil aku beb. Ih..", ucap Charlotte.

"Ah lupakan.. ya sudah kita lanjutkan perjalanan kita", Barry menyalakan mesin mobilnya kembali.

Aneh kan? Comment for this story, please :D

REVIEW!