Naruto © Masashi Kishimoto
Hanatsabita
My Diary
Rate : T
Genre : Romance
Pairing: SasorifemDei, TobifemDeidara, HidanKonan dan Pairing lainnya
Warnings : OOC, Typo, EYD yang berantakan, kekurangan dimana-mana.
Don't like please don't flame.
Kemiripan cerita, atau judul atau hal lainnya hanya kebetulan belaka.
24 April
My Diary
Ternyata seperti ini rasanya cemburu. Menyakitkan. Aku membuka jendela kamar, agar dinginnya subuh ini dapat mendinginkan kepala ku yang rasanya seperti terbakar ini. Aku menatap orang yang ku kasihi masih tidur dengan lelap, damai dan terlihat cantik. Namun bibirnya terlihat bengkak. Aku berniat akan membunuh si autis itu yang membuat Deidara-ku menderita.
.
.
Sasori menutup buku-nya. Ia duduk di jendela kamar. Pandangannya menerawang jauh –menyendu. Cinta yang tampaknya telah berubah menjadi obsesi.
Setelah bosan bermenung di jendela itu, ia memutuskan untuk mandi.
.
.
Pagi yang indah. Semilir angin lembut merayap memasuki kamar duo seniman melalui jendela yang terbuka lebar.
"Nggh…"
Erangan tertahan keluar dari bibir Deidara. Ia masih asyik bergulung dengan selimut. Sebenarnya ia telah bangun sejak empat puluh lima menit yang lalu, namun sampai saat ini ia sangat enggan menggerakkan tubuhnya.
Matanya terpejam. Tadi diam-diam dia melihat Sasori yang tampak sangat sedih.
Krieeet
Pintu kamar mandi terbuka. Deidara makin panik. Ia makin memejamkan matanya. Sasori yang baru keluar dari kamar mandi akhirnya tahu kalau Deidara sudah bangun. Namun Sasori –pun terlalu malu untuk menegur perempuan itu.
Keadaan makin canggung.
Sasori yang telah berpakaian lengkap berniat keluar, sarapan bersama anggota Akatsuki yang lain. Ia melirik Deidara.
"Ehhm- Dei. kalau kamu sudah bangun, cepat mandi. Setelah itu sarapan, setelah itu kita rapat," katanya pelan. Ia menggaruk tengkuknya. Sasori perlahan keluar kamar.
Cklek.
Pintu telah tertutup pelan. Deidara mengerjap-ngerjapkan matanya. Segera duduk, rambutnya yang kusut berkibar di tiup angin pagi.
"Argh!" Erangnya sembari menjambak rambut. "Kenapa jadi begini, sih?" rutuknya.
Masih ingat di benaknya kejadian-kejadian nista tempo hari. Saat Sasori mencuri ciuman pertama-nya, saat Tobi mencuri ciuman kedua-nya…
Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Haaah…" Desahnya-lagi. Ia berdiri dengan malas. Bersiap mandi, ikut sarapan, lalu ikut rapat. Ia tak mau di sembur Pein.
.
.
Deidara telah selesai mandi. Ia merapikan tempat tidur-nya dan tempat tidur Sasori, lalu bercermin.
"Heeem, Ppa! Ppa!" Deidara membuka-tutup bibirnya sambil bersuara, memastikan kalau luka akibat gigitan Tobi kemarin telah hilang.
Ia menyentuh kedua belah bibir yang ternyata masih bengkak.
"Aku tak sanggup keluar kalau seperti ini…..!" serunya frustasi.
Tuk Tuk
"Dei… kau ada di dalam kan?" panggil Konan dari balik pintu, "cepatlah Dei, semua sudah menunggu mu ," lanjutnya.
Deidara hanya diam.
"Dei… aku masuk ya?" tanpa sahutan dari yang bersangkutan Konan membuka pintu.
Cklek
"Lho... mana si Deidara?" tanya Konan –bingung. Ia memeriksa ke kamar mandi –tidak ada. Konan menutup kamar mandi. Lalu ia berbalik arah, mengedarkan pandangannya. Sejurus pandangannya berhenti pada sebuah pintu –ruang pribadi Sasori. Ruangan berisi boneka-boneka Sasori. Tapi Deidara tak mungkin masuk ke sana. Itu tidak mungkin! Ruangan itu penuh rancun. Terhirup sedikit saja maka kau akan mati perlahan dalam tiga hari ke depan.
Konan mengedarkan pandangannya lagi. Kali ini ia menatap jendela yang terbuka lebar.
'Apa dia kabur ya?' bathinnya sembari melangkahkan kaki ke jendela tersebut. Hutan dan pemandangan indah menyejukkan matanya.
'Aah- sudahlah' bathinnya lagi. Ketika ia hendak keluar dari kamar, tanpa sengaja matanya memandang ke bawah kolong tempat tidur Sasori. Secarik kain hitam.
Curiga, Konan cepat-cepat mendekati kain tersebut lalu menundukkan kepalanya.
"Hoo… di sini kau rupanya?" seringai Konan. Deidara yang sedang dalam posisi telungkup menutup matanya dengan telapak tangan. Menyembunyikan rona merah di wajah kuning langsatnya.
GREP!
"KELUAARRR KAUUU!" teriak Konan kalap. Ia mencengkeram pergelangan kaki Deidara dan menariknya kuat.
Deidara makin takut. Ia segera berpegangan pada lantai kayu itu, mencoba menancapkan kuku-nya yang tidak tajam.
"A-aku tidak mauu! Tidak mauuu! Lepaskan aku Perempuan!" Deidara makin berontak. Konan makin semangat menarik Deidara. kini setengah tubuh Deidara telah keluar dari kolong.
"Iiiiiikh! Cepat sarapan semua telah menunggu mu Dei! dan aku sudah capek masak pagi ini!"
"Gyaaa! Toloooong ada nenek sihiiiir!" teriak Deidara kekanakan.
Konan menarik sekuat tenaga hingga seluruh tubuh Deidara akhirnya keluar dari kolong kasur, lalu mengangkat dan menghempaskan Deidara di kasur Sasori tersebut. Konan duduk di pinggir kasur. Ia sudah seperti ibu-ibu yang memaksa anak-nya yang berumur lima tahun untuk makan.
"Ya ampun Dei… kenapa sembunyi di sana? Kau membuat ku berkeringat!" Serunya. Deidara melirik –cemberut.
"Aku tak mau keluar Konan, aku malu! Lihat bibir ku masih bengkak! Lagi pula aku tak mau bertemu dengan dua orang itu saat ini, un!" sanggah Deidara.
Konan tiba-tiba berdiri. Berkacak pinggang.
"Atau kau mau ku suruh salah satu dari mereka menyeret mu? Hah! Kau pilih Sasori atau Tobi?! ataaau…" Konan menggantung kata-katanya, "leaaadeeer…" bisik-nya pelan. Dia menyunggingkan senyum jahat.
Yak!
"Ayo kita pergi, un." kata Deidara datar. Ia telah berdiri dan berjalan mendahului Konan. Konan hanya cekikikan mengingat betapa tak inginnya si pirang berurusan dengan pemimpin galak mereka itu.
.
.
.
Di ruang makan, semua sudah duduk di kursinya masing-masing.
"Ah. Itu mereka," bisik Itachi tak semangat. Ia menekuk tangannya di dagu.
Semua mata –minus Sasori- memandang kepada kedua perempuan itu.
"Se-selamat pagi…" kata Deidara canggung.
"Kenapa lama sekali?" tanya Hidan. Dia mengangkat kedua alisnya.
"Biasa perempuan, un, eheheh," jawab Deidara sembari mendudukan dirinya di kursi sebelah kiri Itachi. Lalu Konan duduk di sebelah kiri Deidara. Sekilas Deidara melirik Pein. Untungnya sang leader yang duduk paling ujung tak balas melirik dia. Pein sibuk mengedarkan pandangannya pada lauk-pauk yang tersaji dan memulai acara sarapan pagi mereka.
.
.
Sasori masih tak berani menatap Deidara. dia sok sibuk mengambil lauk pauk dan segera melahapnya.
Tobi yang duduk di sebelah kiri Sasori, berhadapan dengan Deidara. Ia terus-terusan menatap Deidara tanpa sedikitpun berniat menegurnya. Deidara yang merasa di perhatikan mendelik dengan galak.
"Kenapa kau melihat ku, un?!" tanyanya -ketus.
"Kau cantik hari ini, Deidara, hehehe," si Tobi gombal gambil. Sasori tanpa sengaja mematahkan sendoknya. Namun ekspresi wajahnya tetap datar.
"Cie cie…" sahut yang lain heboh. Muka Deidara memerah. Sarapan pagi pun menjadi sedikit meriah.
Deidara menahan emosi. Ia berusaha untuk tidak meneriaki Tobi. Namun matanya semakin menyipit memandang tajam ke pria yang juga balas memandangnya dengan senyuman yang di buatnya semanis mungkin.
Ah!
Melihat senyum Tobi, Deidara buru-buru menunduk. Yah… Tobi memang memutuskan mulai hari ini tidak akan menggunakan topeng orange-nya lagi, juga memutuskan untuk berhenti memanggil semua orang di sana sebagai senpai. Semua itu demi menarik perhatian Deidara.
'Dia pemalu sekali…' bathin Tobi edan.
"Bagaimana bibir mu?" tanya Tobi antusias. Dia menjilat bibir bawahnya, menatap bibir Deidara yang masih membengkak. Ooh… Tobi tak akan pernah lupa rasa bibir itu, harum mulut itu, dan rengkuhannya pada tubuh si pirang.
SREET!
BRUUAK!
Sasori dengan cepat menghantam kepala Tobi dengan sebuah tinjuan, yang dengan cepat di tangkisnya.
'Mulai lagi deeeh,' bathin mereka malas.
Deidara terhenyak pada kedua makhluk yang memperebutkannya itu. Matanya konsentrasi pada benda yang menggantung di antara Tobi dan Sasori. Ya. Rantai baja.
'Kenapa dengan rantai itu?' bathin Deidara. Ia menyusuri pandangannya kearah ujung rantai yang ikut bergerak seiring gerakan Sasori dan Tobi tadi. Sekarang ia nampak dengan jelas. Matanya membulat. Ujung rantai baja berbentuk borgol mengingkar di lengan kiri Sasori, dan ujung satu lagi melingkar di lengan kanan Tobi.
'Kenapa sebelah tangan mereka di ikat rantai baja?!'
.
.
BRAK!
Suara gebrakan meja menghentikan aksi laga Sasori-Tobi. Semua menatap ke Pein yang masih duduk. Ia menekuk dagunya dengan tangan di meja. Pandangannya datar namun menusuk.
"Jangan ganggu acara makan ku. Aku sudah lapar," katanya –angkuh.
Tobi dan Sasori kembali duduk dan makan. Sementara Deidara masih termenung memikirkan bagaimana bisa kedua pria yang tergila-gila padanya itu dipasangi rantai baja.
Pluk!
Seseorang menepuk pundak Deidara pelan, membuyarkan lamunannya. Sesaat Deidara melihat ke kanan, saling pandang dengan Itachi yang tersenyum.
"Makan… Dei. jangan fikirkan dua orang itu," bisiknya.
Deidara mengangkat kedua bahunya –tak mengerti. Lalu ia kembali melahap sarapannya.
.
.
.
Pein menyelesaikan makannya terlebih dahulu. Ia berdiri dan mengambil piring serta gelas bekas ia makan, lalu menaruhnya di tempat cuci piring. Segera ia berjalan pelan kembali melewati meja makan yang beberapa anggota lain pun telah menyelesaikan makannya.
"Aku tunggu di ruang rapat. Dan untuk kalian berdua…" Tunjuknya pada Sasori dan Tobi. "Kalian telah melanggar perjanjian. Nanti kalian tahu hukumannya." Katanya santai. Lalu Pein meninggalkan ruangan yang kini mendadak suram itu.
Sasori dan Tobi saling pandang.
"Huh!"
Mereka pun bersamaan mendengus dan buang muka. Sasori telah menyelesaikan makannya, namun ia harus menunggu Tobi yang tampaknya memang sengaja berlambat-lambat. Bahkan ketika semua orang telah selesai, Tobi baru menghabiskan setengah nasi nya. Deidara dan anggota yang telah menyelesaikan makan pun langsung beres-beres dan menuju ke ruang rapat. Kini di ruang makan hanya tersisa empat orang, Konan dan Hidan yang piket hari ini, juga Sasori dan Tobi.
"Hui! Cepatlah makanmu itu, Tobi! kau lebih lambat dari anak keong yang menyeberang jalan." Desak Hidan.
"Iya… Hidan," jawab Tobi dengan nada main-main.
Sasori hanya memutar kedua bola matanya –bosan.
.
.
.
Akhirnya 15 menit kemudian Tobi berhasil menghabiskan seluruh makannya. Dengan ia sadari si pemuda boneka di samping telah mengeluarkan asap hitam –bosan menunggu. Tobi hanya bersenandung kecil menanggapi, sementara pasangan Hidan dan Konan hanya tersenyum maklum.
Sreet.
Tobi berdiri, di ikuti Sasori.
"Tunggu…" Panggil Hidan. "Taruh saja piring kalian di situ, kami yang membereskannya. Akan repot kalau piring-piring pecah gara-gara kalian yang besar kepala saling tarik," terangnya.
"Ah. Baiklah," sahut Tobi. Ia dan Sasori menaruh kembali gelas dan piring di meja makan, lalu saling tarik untuk pergi dari situ.
Setelah mereka berlalu, Hidan dan Konan saling pandang –lagi.
"Sepertinya mereka belum terbiasa, hahah," tawa Konan menggema di ruangan makan yang kini sangat hening itu.
"Iyaaa… dan kini kita berdua saja sayang…" seringai Hidan.
"Jangan macam-macam. Aku tak mau di marahi leader. Cepat bereskan semua ini," tolak Konan. Hidan hanya manyun menanggapi.
.
.
.
1 jam telah berlalu. Rapat mengenai misi penangkapan dan pembunuhan orang-orang penting desa untuk di jual telah di sampaikan dan di terima dengan baik oleh semua anggota. Bahkan mata Kakuzu yang hijau semakin memancarkan sinarnya ketika mendengar kata 'Jual' dan 'Uang' terlontar dari bibir tipis Pein.
"Kalian mengerti?" tanya Pein. Ia mengedarkan pandangannya. Menatap anggotanya satu persatu.
Mereka mengangguk. Namun anggukan Kakuzu lah yang paling cepat. Hidungnya kembang kempis semangat menerima misi favorit-nya ini. Sementara Hidan hanya menjulurkan lidahnya ke partner mata duitan itu –mengejek.
"Baik, rapat selesai."
"Baik leader," kata mereka serempak. Sasori dan Tobi buru-buru hendak meninggalkan ruangan rapat. Bahkan sebelum Pein memberikan izin untuk pergi. Nampaknya kali ini mereka memiliki fikiran yang sama.
"Mau kemana kalian?" suara Pein menginterupsi. Ia menatap tajam kedua orang itu.
Sasori dan Tobi menghela nafas bersamaan, lalu berbalik arah. Semua teman-temannya menatap mereka.
Pein berdiri dengan angkuh, lalu melipat kedua tangannya di dada. "Hukuman kalian baru akan di mulai…" seringai Pein tiba-tiba.
'Oh sh*t…' bathin Sasori dan Tobi.
.
.
"Wakakakakak…" tawa laknat anggota Akatsuki heboh. Rantai baja yang melingkari tangan Sasori dan Tobi di lepas sementara.
"Ta-tapi leader…" Sasori memelas. Ia begitu ngeri melihat tiang setinggi 10 meter dengan tali di taman belakang markas.
"Cepat… cepat!" Perintah Pein tak sabar.
Plok! Plok! Plok!
"Buka! Buka!" teriak anggota Akatsuki semangat sambil bertepuk tangan –minus Deidara.
"Apa yang dibuka?!" tanya Deidara penasaran.
Rasa penasaran Deidara terjawab sudah. Perlahan Sasori dan Tobi membuka seluruh pakaian mereka. Kini mereka hanya mengenakan sekeping celana pendek. Sasori dan Tobi tampak sedikit kedinginan, dan malu tentunya.
"Haaa?!" teriak Deidara. Cepat-cepat dia menutup kedua matanya. Oh! Jangan lupakan rona di wajah cantiknya. Meski sekamar dengan Sasori, Deidara belum pernah melihat Sasori membuka bajunya. Sasori dan Deidara masing-masing akan berganti pakaian dalam kamar mandi.
"Anak-anak, laksanakan tugas kalian," seringai Pein. Segera saja Kisame, Zetsu dan Itachi menghampiri Tobi. lalu Hidan dan Kakuzu menghampiri Sasori. Deidara masih belum berani membuka matanya.
Pluk!
Agak berapa lama Konan menepuk pelan bahu Deidara seraya berbisik, "buka mata mu, Dei…"
Deidara menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Uwaaaah!" teriak Sasori dan Tobi barengan. Mendengar teriakan itu otomatis Deidara akhirnya membuka matanya.
"Gyaaaaa!" teriak Deidara histeris.
Kedua tangan Sasori dan Tobi tergantung di atas. Sasori dan Tobi telah tergantung dengan tak elitnya pada tiang 10 meter itu. Muka keduanya memerah, terutama Sasori. Deidara menghampiri Pein, "apa maksudnya ini, leader?!" serunya sambil nunjuk ke Sasori dan Tobi.
"Ini hukuman bagi yang mengacau di markas ku," jawab Pein masih mempertahankan seringaiannya. Ia menepuk-nepuk kepala Deidara.
"Sudah. Sekarang kita tinggalkan mereka," perintah Pein. Menurut, Akatsuki member's perlahan beranjak meninggalkan dua pria yang terikat tinggi itu. Sesekali gelak tawa mereka memenuhi pendengaran. Namun Deidara sedikitpun tak bergeming.
"Dei…" panggil Pein. Ia kembali mendekati Deidara.
"Apa maksudnya ini, leader?" tanya Deidara lagi. Kepalanya mendongak dengan mata yang tak lepas bahkan tak berkedip melihat dua orang itu.
Pein yang seakan mengerti, mendekati Deidara.
"Duduk di sini, Dei," perintah Pein.
Menurut, Deidara segera mendudukkan dirinya sebelah Pein, di atas rumput hijau yang luas. Pein melirik Deidara yang masih tak mengalihkan pandangannya dari kedua orang itu.
Flashback
"Sudah, hentikan!".
Suara Pein menggelegar menghentikan tinjuan Sasori.
"Lepaskan dia, Sasori."
"Tidak akan. Ini masalah pribadi."
"Aku yang memimpin di sini, masalah pribadi ataupun tidak. Lepaskan… aku yang akan menyelesaikan masalah anak ini."
Dengan kasar Sasori akhirnya melepaskan Tobi yang langsung tersungkur ke lantai. Tobi muntah darah. Lalu Kisame menggotong tubuh Tobi yang lemas.
.
.
Tobi di bawa ke kamar Pein. Dia di dudukkan di sebuah kursi kayu dekat jendela.
"Keluar kalian semua!" perintah Pein. Dan mereka semua keluar, meninggalkan Pein yang kini memandang Tobi tajam.
"Kenapa kau melakukan ini?" tanya Pein dingin.
Pandangan Tobi menerawang, "Huh! Seperti kau tak pernah jatuh cinta saja, leader, aku tahu betul arti tatapan mu ketika melihat dia," Tobi mendengus –mencemooh.
"Apa seperti ini yang kau sebut cinta itu, Tobi?!" seru Pein emosi. Ia memejamkan matanya sejenak, lalu menatap Tobi tajam. "Aku melepaskan Deidara atas permintaan mu, juga atas permintaan Sasori," terangnya.
Dengan cepat Tobi melirik Pein. "Apa maksud mu atas permintaan Sasori juga?" tanyanya –tak sabar.
Pein mendudukkan dirinya di kasur, membelai sprei putihnya, lalu menatap Tobi, "sebelum kau datang menemui ku, Sasori telah menemui ku terlebih dahulu. Dia berkata persis seperti yang kau katakan," terangnya. "Aku telah berkorban dengan melepaskan Konan, wanita pertama yang ku cintai untuk sahabat ku, Hidan yang ternyata juga mencintainya. Agar tim ini tidak pecah."
Tobi menyimak baik-baik, Pein melanjutkan. "Lalu aku bertemu dengan Deidara yang di bawa Itachi, dan aku jatuh cinta untuk kedua kalinya, bahkan cinta ku pada nya jauh lebih besar di banding dengan Konan dulu. Pada akhirnya aku harus merelakannya lagi karena permintaan kalian yang ingin mendapatkannya."
"Itu aku sudah tahu, leader," Tobi menanggapi dengan senyum meremehkan, "dan itu lah tugasmu leader, berkorban untuk anak buah mu, khukhu."
"Yang kau tak tahu, sebenarnya dulu sekali Deidara pernah dengan terang-terangan menyatakan cinta nya pada ku. Katanya cinta pada pandangan pertama. Hati ku bergemuruh saking bahagianya, dan aku bertekad tak akan pernah melepaskan nya. Aku bahkan tak dapat menahan diri ku untuk tak menyentuhnya, menyentuh bibirnya yang tipis, menyentuh tubuhnya. Aku mendekatinya, lalu mengangkat dagunya. Namun sebuah kalimat yang terlontar darinya membuat ku menghentikan niat mesum ku. Bahkan setelah menyatakannya, ia langsung kabur dengan wajah memerah."
"Memang apa katanya?"
Pein diam sebentar. Lalu menjawab, "dia mengingatkan ku untuk tidak menciumnya karena hal itu pantasnya dilakukan oleh orang yang sudah menikah."
Tobi membuka matanya lebar. "Jadi cinta pertama yang sering Deidara ceritakan pada ku itu adalah kau, leader? Ku kira dia mencintai Sasori," sahut Tobi. "Ooh! Iya! Tadi dia berkata dia menyukai Sasori, apakah itu maksudnya menyukai hanya sebatas partner?"
"Entahlah… terus apa lagi katanya?" tanya Pein.
"Dia bilang…mencintai, bahkan menyayangi, bukan berarti harus berciuman. Kegiatan seperti itu hanya pantas dilakukan oleh orang yang sudah menikah. Selama ini dia dingin sekali padaku. aku patah semangat untuk mendapatkannya. Mungkin kemarin dia memang tak sengaja," Tobi menirukan kata-kata Deidara. Lalu ia melanjutkan lagi, "Jadi yang di maksud itu adalah leader? Memang apa yang terjadi setelah itu?".
"Hm… ya… jadi setelah dia kabur, aku segera keluar dan mencari nya. Aku kan belum menjawab pernyataan cintanya. Ternyata aku bertemu dengan Sasori yang mengajakku bicara empat mata. Aku terhenyak dengan penuturan Sasori yang mengatakan dia mencintai Deidara, dan dia minta izin pada ku untuk memiliki nya, tanpa Sasori tahu bahwa aku pun mencintainya," terang Pein. Sekilas pandangannya menyendu, "dunia ku rasanya mau hancur. Antara mempertahankan Deidara atau menyerahkannya ke Sasori demi menjaga kerukunan tim ini." Pein perlahan melepas jubah kebesarannya.
"Tak berapa lama, kau mengadukan hal yang sama pada ku, mencintai Deidara, memiliki Deidara, namun bedanya kau tahu kalau aku juga mencintainya. Sejak itu, aku tahu. Aku harus membuang sisi egois ku untuk kedua kalinya, dan aku tak pernah menjawab pernyataan Deidara. Ini semua demi tatanan dunia baru yang telah lama aku impikan. Tak akan aku biarkan keegoisan ku terhadap wanita menguasai ku, " terang Pein.
"Dan aku harus bersikap dingin padanya, untuk menutupi perasaan ku yang menggebu ini." lanjut Pein kemudian. Iya meremas dadanya.
"Maaf leader, sekalipun kau tak melepaskan dia, aku tak akan pernah mengalah, tak akan pernah. Kalau kau memang tak ingin tim ini hancur, sebaiknya kau fikirkan bagaimana caranya Sasori melepaskan gadis itu, karena kami tak akan segan saling bunuh untuk mendapatkannya." Tobi mengedarkan pandangannya ke semua sisi kamar, kemudian menatap Pein tajam.
"Huft…kalian seharusnya sadar. Ini bukan saatnya memperebutkan wanita. Aku tak ingin ada perkelahian…" Pein mendesah pelan, "keluarlah, Tobi. Besok pagi sebelum sarapan kau datang ke sini, Sasori juga. Aku akan menghukum kalian."
"Terserah lah…" Tobi melengos. Ia berdiri, memegang perutnya yang masih sakit.
"Aku akan menyuruh Konan merawat mu," kata Pein.
Blam!
Tobi akhirnya meninggalkan kamar Pein. Capek, Pein membaringkan tubuhnya dan segera terlelap ke alam mimpi.
.
.
Besok paginya, Sasori dan Tobi telah berdiri di hadapan Pein. "Ada apa, leader?" tanya Sasori –bingung. "Hubungan kalian memburuk gara-gara wanita. Aku akan menghukum kalian," jelas Pein. Tangannya menggenggam sebuah rantai baja sepanjang satu setengah meter, yang kedua sisinya di borgol.
Cklik!
Cklik!
Pein memasangkan borgol itu di tangan kiri Sasori, dan tangan kanan Tobi.
"Ini bukan borgol biasa. Borgol ini tak akan bisa kalian lepaskan karena sudah ku pasangi jutsu. Sampai kalian kembali akur, baru akan ku lepaskan. Karena denganborgol ini otomatis kalian akan terus bersama, dengan ini berarti partner kalian di tukar sementara, kalian berdua akan menjadi partner yang baru, dan Deidara akan kupasangkan dengan Zetsu." Terang Pein.
"Kau tak bisan melakukan ini pada ku!" tegas Sasori.
"Aku bisa, dan telah aku lakukan. Ingat juga, kalau kalian saling bunuh, kemudian salah satu kalian mati sementara kalian masih memakai borgol ini, maka pasangan kalian akan mati juga. Hem… agar lebih menarik, ku tambahkan sebuah hukuman ringan untuk hiburan." Pein menyeringai seram.
"Apa itu?" tanya Tobi-acuh.
"Di taman belakang telah ku pasang tiang yang lumayan tinggi. Kalian tidak bisa kabur karena kekuatan kalian akan di kekang oleh tali di tiang. Jadi kalau kalian membuat onar, kalian berdua akan ku gantung di tiang itu," Pein menahan sejenak ucapannya, sementara Sasori dan Tobi menelan ludah.
"Tanpa pakaian…" seringai Pein makin seram.
Flashback end
Pein berhenti melamun. Ia ikut mendongakkan kepalanya menatap dua orang yang kelihatan merana itu.
Deidara masih dengan iba mendongak ke atas. Hari sudah hampir siang, dan hari ini sangat panas. Sasori dan Tobi tampak menderita tekanan mental.
"Kau jangan terus-terusan menatap ku seperti itu, Dei…" kata Sasori –malu.
Dengan cepat Deidara menundukkan wajahnya.
"Leader, un. Kenapa tak kau jawab pertanyaan ku?" desah Deidara pelan, "kau malah melamun."
Pein menepuk kepala Deidara sekali.
"Mereka menyukai mu, tapi aku tak mau mereka bertengkar karena memperebutkan mu. Hubungan mereka sangat buruk sekarang. Makanya supaya mereka akur, ku borgol seperti itu, dan akan ku beri mereka hukuman jika mereka bertengkar seperti di meja makan tadi," jawab Pein.
"Oh…begitu."
"Ada apa, Deidara?" perlahan Pein mendekatkan tangannya hendak menyentuh wajah Deidara.
"JANGAN SEKALIPUN KAU MENYENTUHNYA LEADER! ATAU AKU AKAN MEMBUNUH MU!" teriak Tobi.
"Huh!"
Pein mendengus, lalu segera menurunkan tangannya. Ia menatap Tobi dengan senyum menyebalkan. "Begitu kah? Kau kira aku takut pada mu?"
"Ingat, jangan mencoba mengambilnya, Pein!" seru Tobi kembali.
Pein segera berdiri dengan malasnya. "Lebih baik kalian merenungkan perbuatan kalian, dari pada berdebat dengan ku." Sahutnya seraya menjauh dari taman tersebut.
.
.
.
Hening…
Terik.
Hari sudah semakin siang. Sasori dan Tobi makin gerah. Seharusnya mereka sudah makan siang saat ini. Sementara Deidara masih setia duduk, menunggu sampai kedua orang itu di bebaskan. Namun Deidara pun bukan orang yang terlalu baik. Dia ternyata masih dendam dengan Tobi dan Sasori yang telah berani menciumnya. Dengan tergesa-gesa Deidara berlari ke dapur, mengambil es balok, sirup, air, dan gula. Ia membuat sirup Es.
Setelah rasanya pas, Deidara kembali ke taman, duduk di tempatnya semula.
"Dannahh…." desah Deidara. "Tobiiiih…" lanjutnya seraya menggoyang-goyangkan teko air.
Tobi dan Sasori mendengar desahan Deidara merinding seketika. Mereka lalu memandang se-teko air sirup dan menelan ludah.
Gluk gluk gluk.
Deidara minum sirup es tersebut perlahan, bermaksud memanas-manasi Tobi dan Sasori. Cara minumnya pun di buat se erotis mungkin. Sedikit cairan sirup menetes dari pinggir bibirnya, membuat kedua orang tersebut benar-benar menderita menonton pemandangan langka tersebut.
Tanpa di sadari, Tobi membuka sedikit mulut nya, dan menjulurkan perlahan lidahnya. Hasrat-nya menggebu. Ia berontak dengan brutal hendak lepas dari tiang itu –yang tentu saja tidak bisa.
"Kau tak berniat membaginya pada ku, Dei?" kata Sasori –memelas. Ia makin gerah melihat Tobi yang berontak, "bisa diam kau, autis!" sergahnya.
Deidara berhenti minum. Ia mendongakkan kepalanya.
Geleng geleng
"Tidak… sampai kalian akur kembali," seringainya.
"Oh god…." Desah Sasori dan Tobi barengan.
TBC
Spesial Thank's to: Kujyou Sasodei-Qy, Asha D, Yuki Miku-chan, Black Yuki, Princess Li-chan, Namenina, Akadhiantsuki, Mee-chan, Guest, Bugu Bugu, Momo.
Akhir kata,
Review Please.
