Hallo aku mau lanjutin fanfictionku. Mumpum bisa on nih heheheh.
Oh iya, sebenernya cerita ini bukan full dari otak aku. Sebenernya ini cerita karangan temen aku, yang aku kembangin lagi. Dan oh iya, seperti biasa, cerita ini masih bergenre hurt/comfort.
Cast:
Park Chanyeol
Byun Baekhyun
Dan pemain sesuai jalan cerita ^~^
Pair:
ChanBaek / Baekyeol
WARNING!
Typo(s), and transgender/genderswitch. Aku bener-bener nggak tega kalo ngeliat bias suka sesama'-'v
If you don't like, please don't read:D
Summary:
Baekhyun datang untuk menemani hari-hari Chanyeol. Menghibur Chanyeol. Mereka memutuskan untuk membuat perjanjian, namun Baekhyun melanggarnya. Dan mereka membuat perjanjian kembali. Lagi-lagi Baekhyun melanggar. / Baekhyun, Chanyeol / Chanbaek – Baekyeol
Note:
Kali ini judul sama cerita cukup nyambung lah. Eh tapi lebih baik kalian baca sendiri deh. Wkwk.
.
Let's Read!
.
.
.
"Mianhae Chanyeol, siang ini aku harus menunggu anak kecil yang tengah koma. Kau bisa 'kan hari ini saja, sendirian di kamar ini?" tanya Baekhyun dengan wajah cemas.
Chanyeol menggeleng dengan wajah yang terlihat marah dengan Baekhyun.
"Hey, Chanyeol… Aku hanya menetap di kamar sebelah. Jika kau butuh apa-apa, kau bisa menelponku. Tapi jika kau meminta hal yang tidak penting, jangan harap aku memenuhinya!" ucapnya tajam.
"Mengapa jadi kau yang marah? Huh.." kata Chanyeol masih dengan raut wajah kesal yang dibuat-buat itu.
"Aku tak mau kau terlalu manja, Chanyeol!" bentak lembut Baekhyun. Entahlah yang dimaksud bentak lembut itu seperti apa.
.
.
.
Siang ini Baekhyun merasakan suntuk yang luar biasa. Apa salahnya kalau Baekhyun meninggalkan anak kecil yang sedang koma tersebut, sebentar saja?
Ia tak ingin datang ke kamar Chanyeol. Karena jam ini adalah jam dimana Chanyeol untuk istirahat, ia hanya tak ingin mengganggu Chanyeol. Ia memilih untuk berjalan-jalan mengelilingi rumah sakit yang sudah menjadi tempat tinggalnya itu. Akhir-akhir ini ia jarang sekali istirahat di kamarnya. Ia lebih sering bermain-main di kamar Chanyeol.
"Annyeong harabeoji, sedang menunggu siapa?" tanya Baekhyun ramah pada seorang kakek-kakek yang tengah terduduk di depan ruang sebuah ruangan.
Kakek tersebut melihat ke arah Baekhyun. Ia tersenyum hangat. "Saya sedang menunggu istri saya, ia sedang koma.."
Baekhyun mengangguk mengerti. Di wajah kakek tersebut tersirat kesedihan. "Apa harabeoji tidak merasa kesepian di tinggal halmeoni koma seperti itu?" tanya Baekhyun lagi. Ia mencoba akrab dengan kakek yang jelas-jelas belum ia kenal ini.
Kakek tersebut tersenyum. "Kalau istri saya senang, saya juga akan merasa senang.."
Baekhyun mengerutkan dahinya. Ia masih tak mengerti dengan maksud kakek tersebut. "Mengapa harabeoji bisa berkata kalau istri anda senang? Bukankah ia sedang koma?"
Seorang kakek itu kembali tersenyum. "Dulu istri saya pernah mengatakan, 'aku mencintaimu. Lanjutkanlah hidupmu, dan bersenang-senanglah. Meskipun tak ada aku lagi di sisimu..' Dia pernah mengatakan itu pada saya." Singkat sang kakek dengan tersenyum. Seakan kejadian tersebut berulang kembali di hadapannya.
Seakan-akan menyindir dirinya. Ia merasa bahwa yang dirasakan sang kakek tersebut juga Baekhyun rasakan. Entahlah.
.
.
.
Hari ini melelahkan. Dan Baekhyun bertemu dengan Chanyeol sebentar saja. Meski begitu, tak menghalanginya untuk tidak menghubungi Chanyeol lewat telepon.
Terbaringlah Baekhyun di kamar inapnya. Baekhyun masih terjaga. Sekelibat perkataan sang kakek kembali mengisi otak Baekhyun. Hatinya terus bertanya-tanya, "Apa salah jika aku mengajak Chanyeol untuk tak menjalani operasinya?" Pertanyaan itu terus saja muncul seiring dengan pernyataan sang kakek.
Tak lama kemudian handphone Baekhyun berdering. Tepat. Saat itu juga Chanyeol menghubunginya. "Hallo… ada yang ingin ku bicarakan padamu, Yeol…" ucap Baekhyun seketika.
Di seberang, Chanyeol mengerutkan dahi. "Apa?"
"Besok saja aku datang ke kamar inapmu. Arra?"
"Ne… Selamat malam. Tidur yang nyenyak, Baek…"
"Malam, baiklah kau juga…"
.
.
.
"Aku mau kita sama-sama menjalani operasi." Baekhyun meminta langsung ketika Chanyeol terbangun dari tidurnya.
Chanyeol mengerutkan dahinya. "Tak seperti biasanya kau seperti ini, Baek… Biasanya kau selalu mengucapkan selamat pagi untukku terlebih dahulu," Chanyeol mengucek-ucek matanya. Nyawanya belum kumpul seutuhnya. Sesekali Chanyeol menguap karena ia merasa tak cukup tidur.
"Ayolah… Kita akan lebih baik jika kita hidup bersama di dunia. Masih banyak hal-hal yang harus kita lakukan ketika kita hidup di dunia, Yeol…" mata Baekhyun menggambarkan permohonan yang luar biasa.
"Hey! Kita sudah berjanji bukan? Dan kau tahu? Aku sangat takut operasiku gagal dan tidak dapat bertemu denganmu lagi, Baek…" kali ini Chanyeol yang menentang pengucapan Baekhyun.
Baekhyun mengeluh. Akhir-akhir ini cara berfikir Baekhyun memang lebih melambat. Cara jalannya pun tak sama dengan dulu. Dia selalu panik ketika satu masalah muncul pada hidupnya. Dia pun sering mengeluh merasa pusing. Apakah penyakitnya sudah terlalu parah?
Mata Baekhyun memancarkan permohonan. "Aku mau kita bahagia di dunia, Yeol… Tak ada salahnya untuk mencoba. Semua tergantung takdir, 'kan?"
"Terserah kau sajalah, aku lelah." Chanyeol membelakangi Baekhyun.
"Chanyeol, ayolah…." Baekhyun menarik Chanyeol untuk menghadap ke arahnya.
Ketika melihat Baekhyun, sungguh Chanyeol tak tega. Entah darimana, Chanyeol mengangguk. Sungguh, perasaan takut kehilangan itu kembali menguasai fikiran Chanyeol. "Jinjja?" tanya Baekhyun. Chanyeol mengangguk.
"Baiklah, besok lusa aku akan ke Amerika, untuk menjalani pengobatan disana. Aku harap kau tetap baik-baik saja disini.." Baekhyun merapikan kamar Chanyeol. Dua hari lagi ia akan meninggalkan kamar ini. Akan meninggalkan rumah sakit ini. Akan meninggalkan kota ini. Akan meninggalkan negara ini. Menyedihkan? Itu resiko.
Chanyeol meraih tangan Baekhyun. "Kau tidak berkata kalau pengobatanmu dilaksanakan di Amerika, Baek…"
"Pengobatan disini tidak bisa mengatasi penyakitku, Yeol… Hey, tenanglah, kita masih bisa berhubungan lewat e-mail dan video call. Okay?" Baekhyun meyakinkan Chanyeol.
Rasa takut kehilangan itu masih saja menguasai fikiran Chanyeol. Ia takut tak dapat bertemu Baekhyun lagi. Baginya, operasi adalah perbuatan yang justru dapat mempercepat kematian. Karena ia sendiri tak yakin penyakitnya dapat sembuh.
Baekhyun berharap cemas pada Chanyeol. Ia takut Chanyeol berubah fikiran. "Aku mencintaimu. Besok kita masih bisa bersenang-senang bukan? Dan aku juga memutuskan, mulai hari ini aku tidak menjadi sukarelawan di rumah sakit ini lagi. Jadi besok aku berikan hariku untukmu.." Baekhyun mencoba menghibur Chanyeol. "Hanya untukmu.." tambahnya.
Chanyeol mengangguk dengan tersenyum tak ikhlas. Siapa yang tahu di dalam hatinya terdapat perasaan khawatir?
.
.
.
"Hari ini aku ingin mengajakmu camping!" Chanyeol berseru ketika pagi hari Baekhyun datang ke kamar Chanyeol. Mereka sudah izin dengan uisa mereka untuk dibebaskan hari ini.
"Tak lupa bawa handycam?" Baekhyun meneliti. Mereka memutuskan untuk pergi ke suatu pantai.
Chanyeol tersenyum. Sepertinya Baekhyun sudah terbiasa dengan hobby Chanyeol, suka merekam kejadian yang istimewa baginya.
Dari Seoul, tak butuh waktu yang lama untuk menuju 'Bali'nya Korea ini. Dengan pesawat Chanyeol dan Baekhyun menempuh hanya dengan waktu satu jam. Satu jam tersebut terbayarkan dengan indahnya Pulau Jeju.
Bunjee Artpia. Keindahan taman bunga dengan koleksi seribu jenis bunga dan tumbuhan di dalam pot.
"Annyeonghaseyo, Park Chanyeol imnida." Ucap Chanyeol ketika camera handycamnya sudah ada tepat di tangannya. Ia berlaku layaknya wartawan yang tengah meliput berita. "Dan ini teman saya, Byun Baekhyun…" serunya dengan menghadapkan kamera ke arah Baekhyun. Baekhyun hanya memberi respon senyum dan melambaikan tangan pada kamera.
"Yeol, ayo kita kesana!" seru Baekhyun dengan mendekati beribu-ribu bunga berwarna kuning. "Fokuskan padaku, Yeol!" pinta Baekhyun dengan maksud agar kamera Chanyeol berfokus ke arahnya. "Byun Baekhyun imnida!" teriak Baekhyun.
Chanyeol sudah bisa menyesuaikan langkah Baekhyun yang semakin melambat. Chanyeol juga sudah bisa memaklumi Baekhyun yang sering marah-marah karena ia tak dapat menyelesaikan tugasnya. Chanyeol juga sudah bisa menerima Baekhyun yang terkadang suka lupa dan tidak menyambung saat bicara. Chanyeol sudah memaklumi itu semua.
"Hey, aku Park Chanyeol. Bukankah aku terlihat tampan, hm?" Chanyeol menghadapkan kamera ke arahnya. Mereka kini tengah duduk di salah satu bangku kecil. Dari arah sini, mereka masih dapat melihat keindahan Pulau Jeju. Keindahan yang mungkin takkan Baekhyun rasakan lagi.
Baekhyun menghembuskan nafasnya. "Hah… Pasti aku akan benar-benar merindukan Korea kalau begini caranya." Ucap Baekhyun. Chanyeol menghadapkan kamera ke arahnya.
KLIK! Chanyeol mematikan kameranya ketika ia fikir pembicaraan sudah semakin pribadi. "Kau bisa 'kan menjaga dirimu sendiri, Yeol?" tanya Baekhyun ketika keheningan mulai menyelimuti mereka.
"Tentu saja.. Hm, dan kau… Aku yakin kau pasti akan bisa menjaga dirimu sendiri. Aku yakin akan hal itu." Tegas Chanyeol dengan berpura-pura berkutik dengan handycamnya. Padahal hatinya kini tengah menangis.
"Aku yakin suatu saat kau akan menjadi orang terkenal yang akan memamerkan film-mu." Baekhyun tersenyum.
Chanyeol ikut tersenyum. "Hey, coba lihat kau disini. Kau tampak cantik sekali. Tak biasanya…" ledek Chanyeol mencairkan ketegangan suasana. Baekhyun tertawa kecil, dengan sedikit mendorong tubuh Chanyeol.
"Aku baru sadar. Korea seindah ini. Entahlah apa karena aku takkan kembali kesini lagi.." Baekhyun tertawa miris.
"Baek…. Kita akan bertemu lagi, 'kan?" Chanyeol mulai berfikiran negatif.
"Tentu saja." Singkat Baekhyun dengan tersenyum. Ia menempatkan kepalanya di bahu Chanyeol. "Aku akan terus menghubungimu, lewat e-mail ataupun video call. Aku pasti akan merindukanmu, Yeol.."
"Aku akan lebih merindukanmu, Baek…"
.
.
.
TBC
.
.
.
Tetep baca ya!
