Hallo aku mau lanjutin fanfictionku. Mumpung bisa on nih heheheh.

Oh iya, sebenernya cerita ini bukan full dari otak aku. Sebenernya ini cerita karangan temen aku, yang aku kembangin lagi. Dan oh iya, seperti biasa, cerita ini masih bergenre hurt/comfort.

Cast:

Park Chanyeol

Byun Baekhyun

Dan pemain sesuai jalan cerita ^~^

Pair:

ChanBaek / Baekyeol

WARNING!

Typo(s), and transgender/genderswitch. Aku bener-bener nggak tega kalo ngeliat bias suka sesama'-'v

If you don't like, please don't read:D

Summary:

Baekhyun datang untuk menemani hari-hari Chanyeol. Menghibur Chanyeol. Mereka memutuskan untuk membuat perjanjian, namun Baekhyun melanggarnya. Dan mereka membuat perjanjian kembali. Lagi-lagi Baekhyun melanggar. / Baekhyun, Chanyeol / Chanbaek – Baekyeol

Note:

Kali ini judul sama cerita cukup nyambung lah. Eh tapi lebih baik kalian baca sendiri deh. Wkwk.

.

Let's Read!

.

.

.

Satu minggu berlalu. Satu minggu yang lalu Baekhyun pergi ke Amerika. Dan Chanyeol menetap di Seoul. Pengobatan Baekhyun dan Chanyeol tetap berjalan. Bahkan tak lama lagi Chanyeol akan menjalani operasinya.

Karena kemotherapy yang Baekhyun jalani, semakin lama rambut Baekhyun semakin rontok. Membuat dirinya tidak berani untuk bervideo call dengan Chanyeol. Ia takut Chanyeol tak mau lagi bertemu dengannya, karena rambutnya semakin lama semakin habis.

Mereka hanya berhubungan lewat e-mail. Chanyeol tak sabar akan bertemu dengan Baekhyun. Setiap harinya ia benar-benar merasa suntuk tanpa Baekhyun. Tak ada lagi yang menghiburnya. Tawa Chanyeol semakin hari pun semakin hilang.

Di tiap paginya Chanyeol selalu saja mengucapkan 'selamat pagi.' Lewat e-mail. Dan e-mail Baekhyun segera membalasnya. Baekhyun akan marah sekali jika Chanyeol terlambat mengirim e-mailnya. Karena itu artinya, Chanyeol yang bangun terlambat. Namun sepertinya Baekhyun sudah hafal dan memaklumi akan hal itu.

Chanyeol juga sudah bisa memaklumi jika Baekhyun terkadang tidak menyambung akan pembicaraan mereka. Chanyeol sudah terbiasa akan hal itu.

.

.

.

Chanyeol terbangun dari tidur panjangnya. Jam menunjukkan pukul sepuluh pagi. Sejak terakhir sebelum ia menjalani operasi, ia melingkari salah satu tanggal di kalender. Ia segera meraih kalender tersebut. Setelah ia hitung, ternyata dua bulan sudah ia koma.

"Park Chanyeol-ssi… nampaknya kau sudah sadar dari tidur panjangmu." Sang uisa datang untuk melihat keadaan Chanyeol.

Chanyeol tersenyum dengan mengangguk. "Selamat! Penyakit anda sembuh total." Uisanim mengulurkan tangannya di depan Chanyeol. Chanyeol membalas jabatan tangan tersebut. Sungguh ia tak percaya dengan ini semua. Ia tak percaya jika ia akan hidup kembali.

Tak lama kemudian dua orang datang memasuki kamar Chanyeol. "Selamat, chagi… Kau bisa melewati ini semua. Eomma menyayangimu.." sang eomma meraih tubuh Chanyeol. Ia memeluk tubuh Chanyeol yang sudah semakin kurus ini.

.

.

.

"Nyonya Park, sepertinya peralatan-peralatan yang membantu Chanyeol ini hanya sia-sia. Kemungkinan Chanyeol untuk tetap hidup hanyalah sedikit." Ucap salah satu uisa ketika mereka tengah berbincang dengan kedua orang tua Chanyeol.

Sang Nyonya Park menangis. Tangan Nyonya dan Tuan Park saling bertautan. "Appa, apa kita harus melepas peralatan itu semua? Aku yakin, Chanyeol akan sadar. Aku yakin sekali." Nyonya Park menangis di depan Tuan Park.

Mungkin karena ketidak tegaan Tuan Park, akhirnya peralatan-peralatan itu tetap menghidupkan Chanyeol hingga dua bulan ke depan, setelah hari operasinya.

.

.

.

"Chanyeol. Aku dengar hari ini kau sudah sadar? Ah, aku sangat senang mendengar berita itu. Untuk beberapa hari lagi, bolehkah aku memintamu untuk datang ke Negara Amerika ini? Ada yang ingin ku tunjukkan padamu.." itulah isi e-mail yang Baekhyun kirim.

Chanyeol senang mendapat e-mail dari Baekhyun. Koma dua bulan bukan berarti ia harus melupakan kekasihnya ini.

Dengan senang hati Chanyeol menjawab, "Tentu saja, Baekhyun. Besok aku akan pergi kesana…" Chanyeol segera meminta izin kepada orang tuanya. Awalnya mereka tak mengizinkan Chanyeol. Namun Chanyeol sudah bersikeras untuk tetap pergi ke Amerika. Sekalipun orang tuanya tak mengizinkan. Ternyata, orang tua Chanyeol mengizinkan dan Ia putuskan besok akan pergi ke Amerika.

.

.

.

"Naiklah ke lantai empat!" perintah Baekhyun lewat e-mail. Chanyeol kini tengah berdiri di dalam sebuah gedung di Amerika. Tempat yang tampaknya dijadikan sebagai tempat bertemu mereka.

Semangat Chanyeol tak pernah leleh. Dengan berlari senang ia berjalan menuju lift dan menekan tombol yang menunjukkan lantai empat.

Lift terbuka. Disana tampak foto-foto mereka. Chanyeol dan Baekhyun terpampang indah dalam bingkai. Dan film tersebut terputar. Film saat mereka ada di Pulau Jeju bersama. Saat Chanyeol berlaku layaknya wartawan. Dan video itu menunjukkan kalau mereka tengah mengalami kejadian yang menyenangkan.

Video-video ketika mereka bersama, buatan Chanyeol pun terhias indah di lantai empat ini. Chanyeol berhenti di depan sebuah tirai. Ia jadi ingat ketika ia menyatakan cintanya pada Baekhyun. Chanyeol tertawa kecil. Lampu meredup perlahan. Baekhyun, kejutanmu sungguh indah. Batin Chanyeol.

"Annyeong, Chanyeol…." Sebuah tirai terbuka. Disana terlihat seorang yeoja dengan wajah pucat. Yeoja tersebut sungguh tak akan asing dalam kehidupan Chanyeol. Namun, di video tersebut, yeoja itu terlihat sangat kurus. Dan rambutnya tak ada. Chanyeol berfikir itu adalah hal yang lumrah bagi penderita kanker yang menjalani kemotherapy.

"Mianhae, Chanyeol.. Aku tidak jujur padamu. Sebenarnya ini semua juga demi kebaikanmu. Aku menyayangimu, Yeol…" Baekhyun menghapus air matanya yang menetes.

"Rambutku kini sudah hilang… Kau masih mau mengingatku kan? Jujur saja, aku takut kau melupakanku.."

"Yeol, aku hanya ingin melihatmu bahagia. Dengan orang tuamu, dengan istri dan anak-anakmu, kelak. Mereka ingin kau tetap hidup, Yeol. Tak salah kan jika aku menginginkan untuk kau tetap hidup menemani mereka?"

"Selama ini yang membalas e-mailmu adalah eommaku. Eommaku belajar dengan susah untuk memahami caraku membalas pesan. Dan ternyata…. Ia sukses!" Baekhyun kembali meneteskan air matanya. "Aku harus mengucapkan sangat terimakasih pada ibuku, nampaknya…" tangisan itu kembali membanjiri wajah Baekhyun.

"Kau tahu? Aku sangat sedih sekali ketika aku tahu, jika aku tak bisa operasi lagi. Penyakitku terlalu ganas, Yeol… Tapi ketahuilah. Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu."

"Selamat tinggal, berbahagialah. Aku mencintaimu." Video itu berhenti. Lampu kembali menyala. Di balik tirai terdapat nyonya dan tuan Byun. Mereka mendatangi Chanyeol. Dan malam ini juga, mereka menangis.

Hari Chanyeol semakin terasa sepi ketika tak ada lagi yang membangunkan setiap paginya seperti dulu. Bagi Chanyeol tak ada orang yang lebih kejam selain Baekhyun. Mereka berjanji untuk pasrah pada takdir. Namun tak lama kemudian Baekhyun malah menyuruh Chanyeol untuk operasi. Namun, ketika operasi sudah Chanyeol jalani, ternyata justru Baekhyun lagi yang mengingkari janjinya.

.

.

END

.

.

.

Gimana endingnya? Maaf ya baru sempet ngelanjutin hehe, RnR ya:)