Qtalita Back
.
.
WonKyu
.
.
.
Kyuhyun merapatkan matanya saat ia dapat mendengar dengan jelas Siwon memasuki kamar mereka, saat Siwon mengunci pintunya dan saat Siwon merebahkan tubuhnya di ranjang sebelah ranjang Kyuhyun, menidurkan tubuhnya menghadap Kyuhyun.
"Kyu, bukan hyung yang melakukannya, percaya padaku" Lirihnya
Kyuhyun berusaha keras tidak menangis, ia berusaha beringsut membelakangi Siwon dengan gerakan natural, ia tidak ingin Siwon tahu jika dirinya tidak tidur. Sesaat setelah ia merasa Siwon menarik selimut lalu ikut tidur membelakanginya barulah Kyuhyun mengeluarkan semua isakannya. Menangis tertahan, merasa tertekan dengan masalah kali ini, Kyuhyun tidak mengerti harus mempercayai siapa dan harus berada di pihak siapa. setengah dari dirinya mengatakan jika kata-kata Siwon adalah yang paling benar, namun setengah lagi meneriakinya sebagai namja bodoh yang masih percaya kepada namja seperti Siwon.
Kyuhyun menggigit ujung selimutnya saat isakannya mulai semakin keras, ia teringat kata-kata Minho tadi sore, apa yang harus ia lakukan, apa yang harus ia katakan pada Minho besok pagi? Apa ia harus menerima Minho dalam kehidupannya atau ia tetap seperti ini?
Kyuhyun semakin menggelung dalam selimutnya. Mencoba tertidur setelah isakannya berhenti.
….
"Kyuhyun-ah.."
Kyuhyun mengalihkan perhatiannya dari buku tebal dihadapannya ke pintu besar di sisi ruangan kelasnya. Ia tertegun sesaat lalu berusaha mengeluarkan senyum manisnya.
"Hyung? Apa yang kau lakukan disini?" Kyuhyun beranjak mendekati namja yang berdiri di ambang pintu.
"Dan kenapa kau berpakaian seperti ini? Kau tidak sekolah?" Lanjutnya, memperhatikan namja itu yang ternyata Siwon tidak memakai seragam seperti biasanya, namun hanya mengenakan pakaian kasual dan coat tebal.
Siwon menggeleng, ia meraih lengan Kyuhyun.
"Bisa ikut aku sebentar?"
"Tapi hyung, sebentar lagi aku ada kelas"
Siwon mendecih lirih, ia tetap menarik Lengan Kyuhyun
"sebentar saja"
Dan FINAL, keputusan yang Kyuhyun anggap final dari Siwon itu pemenangnya, ia tidak lagi berontak saat Siwon mendorongnya masuk ke dalam mobil yang entah akan membawa mereka kemana.
Keheningan menyapu diantara mereka, Siwon masih focus pada jalanan di depannya sementara Kyuhyun hanya menatap keluar dari jendela kaca mobil. Siwon sesekali melirik Kyuhyun yang tampaknya gusar, jemarinya saling bertaut kuat. Ia bisa membacanya, membaca jika Kyuhyun sama seperti dirinya, tidak nyaman.
"Turunlah"
Ucapan pendek Siwon membuyarkan lamunan Kyuhyun, matanya mengitari sekeliling sebelum ia turun dari mobil. Sebuah padang dengan ilalang yang cukup tinggi terhampar di depannya, dan sejauh mata memandang tidak ada hal lain disana, kecuali ilalang, mereka dan sebuah mobil sport milik Siwon.
Kyuhyun menatap Siwon meminta penjelasan, namun Siwon malah kembali menarik lengan Kyuhyun lembut, mengajaknya berjalan membelah ilalang.
"Akan aku jelaskan di bukit sana"
Entah mantra apa yang Siwon ucapkan, Kyuhyun tidak mampu menolak, ia hanya mengikuti Siwon, mengikuti langkah besarnya dengan membiarkan Siwon mencengkram lengannya lembut. Ia merasa sedetik lagi airmatanya akan tumpah, mengingat jika suatu saat nanti bahkan dalam waktu dekat ini Siwon tidak akan bisa lagi memperlakukannya seperti ini.
"Siwon hyung.." kalimat Kyuhyun tercekat sesuatu, pemandangan didepannya benar-benar membuatnya terpukau, ia bisa melihat kota Seoul dari atas bukit ini, gedung-gedung tinggi dan beberapa hal lainnya.
"Sayang sekali kita datang di pagi hari, suasana malam tempat ini jauh lebih menyenangkan" Siwon tersenyum lirih, Kyuhyun merasakan dadanya berdesir, senyum itu, ya senyum itu salah satu yang akan Kyuhyun rindukan jika Siwon sudah pergi.
"Apa yang ingin kau bicarakan hyung? Kau membuatku bolos di pagi hari" Kyuhyun merengut. Siwon menarik Kyuhyun agar duduk dan bersandar pada sebuah pohon besar dibelakang mereka.
"Lalu, kenapa kau tidak memakai seragam, kau berniat membolos?" Kyuhyun masih menatap tajam Siwon, berusaha menguliti Siwon hidup-hidup, namun yang ada Siwon malah tertawa melihat Kyuhyun yang nyatanya bertambah imut dengan mata seperti itu.
Siwon berdehem, menarik nafas sebelum berbicara, ia membalas tatapan Kyuhyun.
"Pihak sekolah sudah memutuskan untuk mengeluarkanku dari sekolah"
"Mwo!" Kyuhyun berseru, ia menatap tidak percaya Siwon yang sudah berada di tingkat akhir dan sebentar lagi mengikuti ujian kini harus berhenti dan dikeluarkan? Tidak boleh.
"Tapi hyung.." cicit Kyuhyun. Siwon menatap kosong bukit di depannya.
"lebih baik aku dikeluarkan daripada harus mengikuti keinginan mereka"
"Hyung.. Kau hanya perlu bertanggung jawab dan menikahi Stella, selesai"
Siwon menegang, tangannya mengepal.
"Aku tidak akan pernah melakukannya Kyu, kau harus percaya hyung, hyung bukan appa dari aegya yang Stella kandung, Hyung yakin"
Tatapan sendu Siwon nyaris membuat pertahanan Kyuhyun runtuh, namun ia menggeleng cepat.
"Sudah jelas kau dan Stella memiliki hubungan khusus, dan juga kau dan Stella memang pernah.."
Kyuhyun menunduk, dadanya membuncah, sakit. Siwon menggenggam jemari Kyuhyun, mencoba menyalurkan kepercayaan penuh pada namja yang ternyata sangat ia cintai itu.
"Kyu, hyung mohon, percaya padaku"
Kyuhyun menepis jemari Siwon yang melingkupi jemarinya. Ia menghela nafas, ia harus bertindak.
"Hyung, menikahlah, paling tidak hingga aegya itu dilahirkan dan kau bisa melakukan tes DNA"
Siwon terkejut dengan perkataan Kyuhyun, ia menggeleng bingung.
"Aku tidak bisa, aku tidak mencintai Stella"
"Lalu kenapa kau masih bersamanya? Bahkan melakukan hal yang..yang.." Kyuhyun menaikkan nada suaranya namun kembali melembut di akhir kalimat, ia seakan tidak sanggup membayangkan apa saja yang Siwon lakukan saat bersama Stella, Kyuhyun pernah memergoki mereka. Dan Kyuhyun yakin mereka sering melakukan hal itu.
"Mianhe.." Hanya itu yang mampu Siwon ucapkan.
"Tapi, aku bersumpah Kyu, hyung yakin, aegya itu bukan anakku"
Kyuhyun berdiri, ia menatap tajam Siwon yang masih duduk di depannya. Kyuhyun memejamkan matanya.
"Yakinkan aku"
"Mwo?"
"Yakinkan aku dengan menikahi Stella"
Siwon tidak mengerti ia beranjak memegang bahu Kyuhyun agak kuat.
"Apa maksudmu?"
"Yakinkan aku dengan menikahi Stella" Kyuhyun mengulangi kata-katanya. Ia mampu melihat iris mata Siwon digenangi air. Tapi Kyuhyun tidak boleh menyerah, ia sudah memutuskan hal ini.
"Kau..tidak! tidak akan pernah" Ucap Siwon tegas.
"Menikahlah dan berikan aku hasil DNA nya"
SIwon semakin mengeratkan cengkramannya pada bahu Kyuhyun. Kyuhyun meringis.
"Itu berarti kau melepaskanku? Aku.. aku.. aku mencintaimu Kyu, saranghae"
Kyuhyun tertawa pelan, ia sekarang merasa Siwon tengah mempermainkannya, bukankah dulu Siwon yang meminta dirinya untuk mengakhiri pernikahan mereka demi yeoja itu? Bukankah Siwon yang meminta dirinya agar melupakan Siwon?
"Apa maumu hyung?" Kyuhyun menatap dalam mata Siwon, pandangannya mengabur, airmata sudah memenuhi pelupuk matanya.
"Kau memintaku melepasmu, lalu kini kau bertindak seolah aku yang ingin melepasmu?"
Siwon terdiam, ia merengkuh tubuh Kyuhyun kedalam pelukannya, namun segera Kyuhyun tepis. Kyuhyun menstabilkan emosinya, di hapusnya kasar airmata yang sudah terlanjur menetes.
"Kyu.."
"Sudahlah hyung, masa lalu hanya sekedar masa lalu, sekarang lebih baik kau bertanggung jawab atau aku tidak akan pernah memaafkanmu lagi"
Kyuhyun beranjak pergi, namun Siwon mencekal lengannya.
"Kau mau kemana?"
"Sekolah"
"Aku antar"
Kyuhyun menggeleng, ia menepis cengkraman Siwon di lengannya.
"Aku sudah menghubungi Minho"
Ya, Kyuhyun memang sudah waspada akan terjadi hal seperti ini, sebelum mereka tiba, Kyuhyun sudah mengirimi Minho pesan agar menjemputnya 1 jam dari saat pesan itu ia terima. Dan kini Minho sudah ada di belakang mobil Siwon.
"Minho? Kau.."
"Ne, Minho, namjachinguku sekarang"
Siwon terdiam kaku, persendiannya terasa lemas, bahkan saking lemasnya ia tidak bisa mengejar Kyuhyun yang sudah pergi dari hadapannya, ia jatuh terduduk, menangis sesenggukan dengan meremas dadanya. Sakit. Ya itulah yang Siwon alami, ia sekarang bisa merasakan bagaimana Kyuhyun menjalani hari-harinya dulu, tidak dihargai, tidak bernilai, dan pastinya tanpa cinta. Siwon merutuki dirinya di masa lalu, andai saja ia bisa mengulangnya, ia tidak mungkin menyia-nyiakan kasih sayang Kyuhyun yang memang tulus untuknya.
Siwon berteriak di antara kesendiriannya, melepas sakit yang masih saja menggerogoti jantungnya. Membiarkan airmatanya jatuh dan merembes di permukaan wajahnya. Ia tidak lagi angkuh di depan airmatanya, ia rela di caci atas sifat cengeng yang ia miliki sekarang, ia rela dengan semuanya, asal ia bisa menggantinya dengan Kyuhyun. Cinta Kyuhyunnya.
Sementara itu, Kyuhyun juga tidak berhenti menangis sejak ia memasuki mobil Minho hingga mobil itu kini ada di pelataran sekolah. Minho yang mengerti apa yang Kyuhyun rasakan hanya mampu menepuk bahu Kyuhyun pelan, membawanya masuk kedalam pelukannya, menenangkan namja yang begitu ia cintai.
"Sssttt.. tenanglah Kyu"
Kyuhyun masih saja terisak sambil sesekali menepuk dadanya yang terasa sesak. Bukan karena permasalahan Siwon dan Stella, namun karena namja mantan suaminya itu menyebut satu kata sacral untuk dirinya. 'saranghae'.
"ini sakit Minho-ah" isak Kyuhyun, Minho hanya menelan ludah perih. Ia tidak pernah bisa melihat Kyuhyun seperti ini, tidak akan pernah bisa.
Kyuhyun memeluk lututnya di atas ranjang, tubuhnya masih terisak kecil. Setelah mereka tiba disekolah, Kyuhyun malah meminta Minho mengantarnya ke kamar, dan disinilah mereka sekarang, terdiam di kamar Minho.
"Mianhe.."
Minho mengernyit bingung, Kyuhyun meminta maaf tanpa memandangnya.
"Untuk apa Kyu?"
"Aku sudah cengeng di depanmu, aku juga sudah membuatmu susah"
Minho tersenyum hangat, direngkuhnya tubuh Kyuhyun ke dalam pelukannya, mengelus bahu namja itu lembut.
"Tidak akan pernah sulit bagiku jika itu tentangmu Kyu, tidak akan"
Kyuhyun kembali bergetar, Ia merasa menjadi orang yang paling berdosa karena sudah menyia-nyiakan Minho, orang yang memang sepenuhnya mencintai dirinya, orang yang tidak pernah melukainya, bahkan Minho adalah orang yang selalu ada untuknya.
Kyuhyun mengangkat kepalanya, menengadah, membuat mata mereka bertemu. Kyuhyun memantapkan pilihannya, ini yang terbaik baginya.
"Minho-ah.."
"Hm?"
"Bisakah kau mengajariku?"
"Kyu.."
"Aku mohon, ajari aku mencintaimu"
Minho kembali memeluk Kyuhyun, ia tidak ingin Kyuhyun menerima cintanya dalam keadaaan terpaksa, apalagi jika situasi seperti ini, Ia tahu, semua orang tahu, Kyuhyun hanya menjadikannya pelampiasan atau menerimanya hanya karena rasa iba. Ya, ia tahu dengan pasti.
Namun, bolehkah ia egois? Kali ini saja. Biarkan ia membantu Kyuhyun mencintainya, menanam cintanya dihati Kyuhyun, memastikan Kyuhyun bahwa dirinya jauh lebih baik dari namja bermarga Choi itu.
"Ne, Kyuhyun-ah.. pasti"
…..
Beberapa hari berlalu, sejak saat itu Kyuhyun sepertinya sedikit menjaga jarak dari Siwon, seperti ia akan keluar kamar saat Siwon belum bangun dan akan kembali sebelum Siwon pulang. Siwon pun masih sama, masih berusaha memberi penjelasan pada Kyuhyun, mengutarakan semua perasaannya bahkan memperlakukan Kyuhyun seakan tidak terjadi apa-apa. Kyuhyun? Tentu saja menghindar, selain ia tidak ingin membuat keadaan makin sulit, ia juga tidak ingin mengecewakan Minho yang sudah baik padanya.
Namun, semuanya berubah, tepat hari ini. Kyuhyun terbangun seperti jam biasanya, pukul 5 dini hari, dan seperti biasanya juga ia akan mendapati Siwon masih bergelung nyaman dalam selimutnya menghadap ranjang Kyuhyun, tapi hari ini berbeda. Siwon sudah tidak ada, ranjangnya pun sudah rapi, Kyuhyun berusaha menajamkan telinganya, jika saja Siwon berada di kamar mandi, namun hasilnya nihil. Kamar mereka hening.
Kyuhyun memutuskan untuk mengeceknya sendiri, ia berkeliling kamar, membuka kamar mandi lalu menuju dapur mini mereka. Kosong, Siwon tidak ada dimanapun.
Kyuhyun cemas, jangan bilang jika Siwon tidak pulang dari semalam, bathinnya.
Selangkah lagi ia akan keluar kamarnya jika saja ponselnya di meja nakas tidak bordering. Kyuhyun cukup bingung saat nama hyung nya, Donghae, terpampang di layarnya.
"yeobseo?"
"Ah, Kyu.. kau sudah bangun? Bagaimana? Kau tidak apa-apa?"
Kyuhyun mengernyitkan dahinya, Donghae adalah type orang yang sama dengan Siwon, sulit bangun di pagi hari, namun nyatanya hari ini ia menelepon Kyuhyun di pagi buta dan menanyakan apa dirinya baik-baik saja.
"Aku baik-baik saja Hyung, waeyo?"
"…"
"Hyung?"
"…"
"Hyung, apa yang terjadi, kau baik-baik saja bukan?"
"Hari ini pertunangannya Kyu, kau tidak tahu?"
Deg. Kyuhyun terdiam, pertunangan? Siapa? Jangan bilang kalau..
"Hari ini pertunangan Siwon"
Dan Kyuhyun jatuh terduduk mendengar kalimat terakhir Donghae, ia menahan nafasnya hingga dadanya terasa remuk, jika sekali saja ia menghembuskan nafas maka ia yakin airmatanya akan jatuh.
"Aku tahu hyung" Bohongnya. Helaan nafas di seberang sana.
"Kyu, hyung mengenalmu saeng, Gwenchana?"
Kyuhyun menutup mulutnya saat ia berusaha menahan nafas lagi, namun yang terjadi malah isakan yang lolos dari bibirnya.
"Hyung.. hiks..hiks.. hyung.."
"Kyu, kau ada dikamar bukan? Tunggu hyung disana, uljima ne"
Klik. Sambungan diputus Donghae, ia tidak berfikir apa-apa lagi selain kondisi adiknya, ia tahu Kyuhyun namja lemah yang berusaha tegar. Ia juga sangat tahu jika dongsaengnya itu sangat sangat sangat mencintai mantan iparnya.
Namun bodohnya dia, jika memberitahu kabar seperti ini melalui telepon, seakan jarak diantara dirinya dan Kyuhyun sangat jauh, padahal hanya terpisah satu lantai.
Cklek.
Pintu kamar Kyuhyun terbuka, hal pertama yang Donghae lihat adalah keadaan adiknya yang mengenaskan, Kyuhyun tertunduk dengan airmata yang meleleh di kedua pipinya, ia terduduk di samping nakas dengan ponsel yang masih ia genggam.
Donghae menutup pintu pelan, langkahnya bergetar, jujur ia tidak pernah bisa bertahan dengan tangisan Kyuhyun. Ia rapuh.
"Saeng.." Donghae memeluk Kyuhyun, yang dibalas isakan keras adiknya. Donghae tidak tahu harus berbuat apa selain menepuk punggung Kyuhyun, menguatkannya.
"Sssttt..uljima saeng, hyung ada disini"
"Hiks..hiks..hyung..hiks..Siwon.."
"Sudahlah Kyu, ini yang terbaik"
Donghae kembali memeluk Kyuhyun, merebahkan Kyuhyun di bahunya, memeluk dongsaengnya erat, berusaha membagi rasa sakit yang Kyuhyun alami sekarang.
"A-aku hiks..masih hiks.. sangat mencintainya hiks..hyung"
Donghae tahu. Ia hanya mengangguk paham, membiarkan Kyuhyun seperti ini dulu, Kyuhyun butuh pelampiasan, dan dibahunya Kyuhyun bisa meluapkan semua, semua sakit dan kekesalan yang ia rasa. Kyuhyun kecilnya yang selama ini begitu rapuh, begitu tersiksa hanya karena sebuah cinta.
"Kau telah memilih saeng, pilihanmu benar. Dan kau harus menjalaninya"
…
Kyuhyun masih terdiam sambil menatap ranjang kosong Siwon, pandangannya teralih ke sosok Ryeowook yang tengah membenahi pakaiannya ke dalam lemari, pakaian Siwon sudah tidak ada , Siwonnya tidak akan ada lagi disana, setelah pertunangan, eomma Siwon datang membenahi semua barang-barang Siwon, karena Siwon akan tinggal di luar asrama bersama Stella hingga ujian tiba.
Jangan tanyakan betapa dramatis pertemuan Kyuhyun dan Eomma Choi, yeoja paruh baya yang hampir terkena serangan jantung karena skandal anaknya itu kini bertemu dengan Kyuhyun, mantan menantunya yang sangat ia sayangi hingga sekarang. Eomma Choi memeluk Kyuhyun sambil menangis mengucap ribuan kata maaf, mengatakan jika Kyuhyun tidak akan pernah terganti dalam keluarga mereka. Kyuhyun yang terbaik untuk Siwonnya.
"Kyu.."
Kyuhyun terbangun dari lamunannya, matanya masih basah. Ryeowook a.k.a Wookie menepuk bahunya lembut.
"Aku tahu perasaanmu Kyu, mianhe Karena selama ini aku tidak disampingmu" Wookie memeluk bahu Kyuhyun. Kyuhyun hanya tersenyum lirih
"Gwenchana Wookie-ah"
Wookie memegang bahu Kyuhyun, menghadapkannya wajah mereka.
"Sekarang kau harus bangkit Kyu, jangan bodoh seperti ini, kau kuat bukan?"
Kyuhyun terdiam, ia hanya memandang Wookie.
"Jangan biarkan orang lain melihat kau lemah Kyu, apa yang kau takutkan? Kau memiliki kami. Kau tidak pernah sendirian"
Wookie tersenyum lembut, Kyuhyun membenarkan kata-kata sahabatnya itu, ia tidak patut terpekur seperti ini, toh ini juga kemauannya, meminta Siwon untuk bertanggung jawab, toh kini ia juga sudah memiliki Minho, orang yang sangat mencintainya. Dan benar, ia tidak sendiri, ada Wookie dan juga Hae hyung disampingnya, ada eomma dan appanya. Ia harus kuat.
Kyuhyun tersenyum, menghapus kasar sisa airmata yang menetes di pipinya.
"Kau benar Wookie-ah, aku harus kuat! Gomawo ne"
Wookie hanya mengangguk, ia menepuk pipi Kyuhyun pelan sebelum kembali membereskan pakaiannya, kini Kyuhyun ikut berdiri, membantu sahabatnya itu berbenah. Sejenak ia melupakan kesedihannya, ah bukan sejenak. Tapi sudah seharusnya ia melupakan kesedihannya. Semua sudah selesai. Sekarang ia harus bangkit menjadi Kyuhyun yang baru..
…..
Minho menatap tidak percaya namja manis yang tersenyum ke arahnya, dengan semena-mena Minho melempar bukunya lalu berdiri menyapa namja itu.
"Kyuhyun.."
Kyuhyun, namja itu. Berdiri tersenyum di depan Minho. Minho masih menatap Kyuhyun dari atas hingga ujung bawah, tidak percaya jika Kyuhyun nyata di depannya, bayangkan saja 2 hari yang lalu Kyuhyun bahkan nyaris melemparinya dengan pisau dapur saat ia datang berkunjung ke kamar Kyuhyun, saat itu Kyuhyun tidak sendiri ada Donghae dan Wookie juga yang berdiri takut di sudut kamar. Kata Donghae suasana hati Kyuhyun dalam level paling buruk kala itu, dan aku tahu penyebabnya, semua tahu sebabnya.
"Hai Minho-ah.."
Minho mengedipkan matanya berkali-kali.
"Yak! Kau kenapa? Matamu kemasukan debu?"
Minho menggeleng, ia ikut saja saat Kyuhyun menyeretnya ke kursi mereka. Dan Minho diam saja saat Kyuhyun mulai bercerita panjang lebar tentang game terbaru yang keluar musim ini, dan Minho semakin terdiam ketika Kyuhyun mengatakan bahwa Siwon sudah tidak sekamar dengannya karena harus mempersiapkan pernikahannya setelah pertunangan kemarin.
Dan yang lebih membuat Minho tercengang adalah..
"Ah, aku tidak sabar menikah 'lagi' Minho-ah.. Jja, kita persiapkan pernikahan kita" ucap Kyuhyun dengan sumringah. Minho hanya mampu menahan nafasnya dengan mata berkedip tidak percaya.
"Kyuhyun-ah, Gwenchana?"
Kyuhyun mengerucutkan bibirnya lucu, tangannya terlipat di depan dada.
"Yak, apa aku terlihat sedang sakit?"
Minho tersenyum, ia mengacak rambut ikal Kyuhyun sayang.
"Kita selesaikan sekolah kita dulu ne"
Kyuhyun mengangguk lucu, ia membalikkan badannya saat seonsaenim muncul bersama Wookie yang membawa beberapa kertas hasil ujian minggu lalu.
Satu hal yang Minho tidak tahu, kini wajah Kyuhyun berubah, ia menggigit bibir bawahnya, tangannya meremas dada kirinya keras, airmata yang berusaha mendesak akhirnya mampu ia tahan. Walaupun setelah ini bibirnya mungkin akan mengeluarkan darah akibat gigitannya.
...
Kyuhyun hanya duduk di pinggir lapangan saat ujian olahraga berlangsung, matanya memicing melihat Minho yang sudah memasukkan 4 poin untuk permainan basket nya kali ini, sangat berbeda dengan dirinya yang bahkan berlari saja terasa sangat sulit.
Kyuhyun tersenyum, jika dilihat-lihat, Minho sekilas mirip dengan Siwon.
Siwon?
Kyuhyun menggeleng sendiri, ia tidak boleh memikirkan namja itu lagi, ya tidak. Ia kembali memandang Minho yang sepertinya masih asik dengan permainannya, ia melirik kesekitarnya, semua tengah sibuk beristirahat. Kyuhyun memutuskan untuk pergi.
Kakinya melangkah pelan, ia menyusuri taman belakang sekolah, ia teringat sesuatu. Beberapa tahun yang lalu, saat dirinya belum mengenal cinta, saat dirinya masih membayangkan pangeran berkuda putih menjemputnya, saat dirinya belum terhisap pesona seorang namja Choi.
Kyuhyun berjongkok di depan pohon besar, tangannya menyusuri batang besar di depannya hingga ia menemukan ukiran kecil yang ditumbuhi lumut. Ia tersenyum, nama itu masih ada disana, terukir indah dengan gambar hati di antaranya.
Namanya, dan nama Sunbaenya. Choi Siwon.
Kyuhyun merasa pipinya basah, ia tahu dirinya menangis tanpa isakan, ia menghela nafas panjang berusaha menelan ludahnya sulit, refleksi dirinya tergambar dari ukiran itu, ia tidak menyadari jika dirinya sudah terlalu lama berada dalam lingkaran bersama Siwon, kubangan hitam yang hanya membuatnya sakit hati.
"Kyu.."
Kyuhyun tertawa lirih, sebegitu terperangkapkah dirinya dalam kubangan Siwon hingga suaranya saja mampu ia dengar?
"Kyu.."
Lagi, ia benar-benar terperangkap. Kyuhyun memukul kepalanya kecil.
"Pabo Kyu" Lirihnya.
Kyuhyun hendak berdiri andai saja tubuhnya tidak terhalang pelukan seseorang.
"Kyuhyun-ah.. Bogoshippo"
Darah Kyuhyun berdesir, pelukan disekitar lehernya mengerat, membuat Kyuhyun sulit untuk menelan ludahnya. Airmatanya nyaris tumpah andai saja ia tidak mengepalkan tangannya kuat.
"Si-Siwon?"
Siwon tidak menjawab, ia hanya memeluk Kyuhyun semakin erat, Kyuhyun bisa merasakan bahunya basah, dan tubuh dibelakangnya bergetar hebat, ia takut menatap mata Siwon sekarang, ia takut melemah.
"Siwon hyung, kau sudah masuk sekolah lagi?"
Kyuhyun berbalik, melepas pelukan Siwon tanpa memandang namja Choi itu.
"Ah, aku harus kembali ke lapangan, aku sedang ujian" Bohongnya.
Kyuyun berjongkok mengemasi barang-barangnya, handuk kecil dan botol air minumnya. Ia ingin segera pergi dari hadapan Siwon, suasana hatinya mulai membaik dan ia tidak ingin mengacaukannya lagi.
"kyu.."
Siwon mencekal lengan Kyuhyun, menariknya kasar hingga namja Cho itu berada dalam pelukannya. Memerangkap tubuh Kyuhyun agar tidak meronta dan terlepas dari pelukannya.
"Hyung mohon, biarkan seperti ini dulu Kyu"
Kyuhyun terdiam, masih berusaha menahan airmatanya yang sudah mulai menjebol retinanya.
"Hyung benar-benar merindukanmu Kyu, jeongmal"
"…"
"Mungkin hyung sudah terlambat, tapi izinkan hyung mengatakan ini sekali lagi.."
"…"
"Saranghae.."
"…"
Kyuhyun tidak menjawab, ia hanya terisak dan memeluk Siwon erat, sangat erat. Menumpahkan semua perasaannya, semua perasaan sesaknya beberapa tahun terakhir ini, segalanya.
Biarkan mereka menjadi egois untuk saat ini, biarkan mereka menjadi 2 orang yang tidak mampu dipisahkan detik ini, walaupun mereka dengan jelas tahu bahwa mereka tidak akan mungkin bersatu lagi.
Sementara itu
Minho meremas dadanya yang terasa sakit, ia menyandarkan tubuh lelahnya di dinding belakang kelas. Ia menyadari semuanya terlalu jauh melangkah dari jalurnya, ia tidak seharusnya mencari celah jika memang ruangan itu sudah tertutup rapat.
Mata basahnya mengerling dua orang yang berpelukan tidak jauh dari tempatnya berdiri, ia merasa bodoh, sangat bodoh.
TBC..
HHhhh.. ini apah? ya ini lanjutannya, ceritanya baru dimulai nih, jatuh bangunnya baru dimulai nih hahaha
makasih banyak buar reviewer yang masih setia dengan cerita ini yang g tahu kapan bisa di update ASAP seperti yang selalu authornya bilang hehehhe, aku tetap usahain kok readers, tetap usahain biar updatenya g ngaret tapi maafkan akuuuhhhh, g tahu akunya yang terlalu sibuk atau kenapa, waktu susah banget nempel ke aku..
ya udah, sekian curhatanku hehehe
salam sayang dan salam olahraga! hehehe
thanks all
