Terima kasih atas Review dari Saint-Chimaira, AMSL Detective, dan HachimitsuOukan. Author gak nyangka ternyata ada juga yang suka sama kedua tokoh ini selain author HUEEEEE (TTATT). *Nagis lebay *Plak
Hehehehe..Oukeh! ayo lanjut ceritanya..CEKIDOT!
Aku tak bisa membohongi perasaan ini.
Semakin aku memendamnya perasaan ini malah semakin menyiksaku.
INAZUMA ELEVEN GO!
You Know Maybe I Love U
Tsurugi K. & Kirino R.
Gender : Romannce/Fantasi.
Warning : Terlalu Romance sampe ngebuat author hilang akal.
Author lagi OOC banget nie. *plak
Rating : T
Don't like, don't read.
Kirino berjalan diikuti oleh Tsurugi tanpa mengatakan apapun. Keadaan sangat sepi, hanya ada beberapa kendaraan yang lewat mengisi kesunyian mereka.
"Hei, Kirino…" Tsurugi mencoba memanggil pemuda didepannya, berharap akan ditanggapan oleh pemuda bermbut pink itu. Tapi tak ada reaksi. Pemuda itu hanya diam sambil terus berjalan.
"Kirino!" kali ini tarikan kuat dilengan Kirino membuatnya berhenti. Memandang Tsurugi dengan mata birunya yang tampak kosong.
"Apa sebenarnya maumu Tsurugi?" akhirnya Kirino membuka suara.
"Aku menyukaimu." Ucapnya Tsurugi membuat pemuda didepannya terkejut.
"Apa?" Tanya Kirino. Mungkin tadi dia salah mendengar ucapan Tsurugi.
"AKU. MENYUKAIMU. KIRINO" Kali ini Tsurugi menekankan setiap katanya.
"Sejak kapan?" Kirino mulai menenangkan perasannya yang tak enak. Percakapan ini harus dihentikan.
"Sejak penyerangan ke SMP Raimon."
Hening selama beberapa saat. Kirino masih disibukkan dengan pikiran sendiri. Pemuda didepannya ini bilang menyukainya. For Gods! Sudah cukup dengan dia yang memiliki wajah yang kebih manis dari pada anak perempuan dikelasnya, sekarang pemuda didepannya yang terkenal cuek dan memiliki tatapan setajam elang mengatakan MENYUKAINYA!. Jangan lupakan soal Tsurugi yang tadi menciumnya.
"Ini tidak masuk akal Tsurugi. Kau dan aku-, ini-." Kirino menarik nafas, menghembuskannya perlahan lalu menatap Tsurugi. "Maaf, aku mungkin terlalu lelah. Sebaiknya aku pulang."
"Kau belum menjawab pertanyaanku." Tanpa sadar Tsurugi menaikkan nada bicaranya.
"Aku tak harus menjawab pertanyaanmu Tsurugi." Kirino kembali berjalan mengacuhkan Tsurugi yang mulai berteriak memanggilnya.
"Kirino!. Hei!. Sial!"
-XXXXX-
-Keesokan paginya di SMP RAIMON-
Anak-anak klub ekskul sedang latihan pagi ini. Tampak Tenma, Shinsuke, Kiriya, dan anak-anak yang lain sedang berlatih dilapangn. Para manajerpun tak henti-hentinya memberi dukungan pada mereka semua. Shindou yang baru saja datang langsung menemui sang pelatih Endo Mamoru yang sedang memperhatiakan para pemain.
"Maaf pelatih, apa anda melihat Kirino?" Tanya Shindou begitu melihat Kirino tidak ada dilapangan.
"Kirino?, aku tidak melihatnya pagi ini." Ucap Endo agak heran juga melihat salah anak didiknya tak datang latihan. Apalagi itu Kirino.
"Oh, begitu."
"Ada apa?"
"Tidak, aku hanya sedikit mengkhawatirkannya. Kemarin-" Shindou menghentikan ucapannya saat dilihatnya Tsurugi memasuki lapangan. Endo tampak menunggu kelanjutan jawaban dari Shindou. Tapi karna tak ada yang akan dikatakan oleh pemuda berambut abu itu, Endo kembali memperhatikan lapangan.
"Tenma, kau latihan mengoper bola dengan Tsurugi." Seru Endo yang disambut dengan anggukan dari Tsurugi dan teriakan "Baik Pelatih!" oleh Tenma.
Ada apa ya?, tidak bisaanya Kirino bolos latihan. Batin Shindou
Tsurugi yang sedang latihan mengoper dengan Tenma juga sempat memperhatikan keadaan lapangan tanpa pemuda berambut pink itu. Basanya pemuda itu akan bersama Hijau saling berebut bola. Tapi kali ini, pemuda berambut pink itu tak ada disekitarnya.
"Kirino.." bisik pemuda berambut biru gelap itu.
BUAGH
Sebuah bola dengan suskses mencium kepalanya beberapa detik kemudian. Semua yang melihat itu langsung berlari menghampiri Tsurugi.
"Kau baik-baik saja Tsurugi?" Tenma sang pelaku Lemparan.
"Ya. Aku baik-baik saja." Walau kepalanya masih terasa pusing, Tsurugi berdiri dibantu oleh Tenma menuju bangku latihan.
Semua pemain kembali berlatih kecuali Shindou yang masih berdiri beberapa meter dihadapan Tsurugi.
"Tsurugi, ada yang ingin aku tanyakan kepadamu."
Tsurugi hanya memandang lurus sang ketua. Tanpa mengatakan apapun.
"Ini tentang Kirino." Melihat Tsurugi sama sekali tak menjawab Shindou melanjutkan perkataannya. "Mengapa kemarin kau mencium Kirino?"
DEG
Seketika jantung Tsurugi seakan berhenti berdetak saat itu juga. Sang kapten ternyata mengetahui kalau kemarin dia terlah mencium Kirino.
"Jawab pertanyaanku Tsurugi."
"Bukan urusanmu Shindou." Untuk pertama kalinya Tsurugi menyebut nama sang kapten.
"Ck!" Desis sang kapten. Pemuda didepannya ini benar-benar keras kepala seperti bisaanya. Merasa tak akan mendapat jawaban memuaskan dari pemuda didepannya Shindou membalikkan badan dan hendak melanjutkan latihan saat tiba-tiba suara Tsurugi memanggilnya.
"Kau punya nomor ponsel Kirino?. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan dengannya."
Shindou menimbang-nimbang memberikan nomor ponsel milik sahabatnya kepada Tsurugi. Jujur saja dia agak cemburu saat Tsurugi mencium Kirino kemarin. Tapi dia pura-pura tak melihat kejadian kemarin dan bersikap professional. Untuk sesaat Shindou bimbang dan Tsurugi masih menatap pemuda didepannya. Harapan terakhir untuk bertemu dengan pemuda yang disukainya.
-XXXXX-
Kirino sedang duduk memandang keluar jendela. Hari ini dia memutuskan untuk tidak mengikuti latihan yang diadakan oleh Mark. Walau sebentar lagi mereka akan menghadapi babak penyisihan Holy Roar, tapi Kirino sama sekali tak berminat latihan, apalagi melihat wajah si Tsurugi itu.
Kirino meraba bibirnya. Kejadian kemarin masih terekam jelas dipikirannya. Tsurugi menghimpit, menciumnya secara sepihak, didepan rumah Shindou pula. Oh Gods! Anak itu benar-benar sudah gila.
Tampak dari tempatnya duduk Kirino melihat Tsurugi yang terkena lemparan bola dari Tenma membuatnya suskses mencium tanah. Kirino tertawa melihat kejadian itu, untung saja suasana agak sepi dan hanya beberapa anak saja yang berada dikelas itu membuat hanya beberapa orang yang melirik pemuda berambut pink itu.
Kirino tertegun dengan sikapnya tadi. "Kenapa aku mentertawakan Tsurugi yang terkena bola?. Jangan-jangan?!. Tidak. Tidak mungkin." Kirino sibuk dengan pikirannya sendiri sampai bel pelajaran selajutnya berbunyi. Istirahat telah usai dan para anak-anak Raimon kembali kedalam kelas, begitu pula anak-anak klub ekskul sepak bola.
-XXXXX-
-Rumah Sakit pukul 15.00 P.M-
Tsurugi sedang berjalan menyusuri koridor rumah sakit menuju ruangan sang kakak Yuuchi. Baru saja selesai berlatih dan kepalanya masih agak sakit. Tapi Tsurugi memutuskan untuk menjeguk sekaligus membicarakan perasaannya dengan sang kakak. Tidak memperdulikan pandangannya yang agak berkabur. Sehebat itukah tendangan Tenma sampai membuat kepalanya berputar tak jelas begini?. (Elu juga yang salah Vic. Bola kok diterima pake kepala. Ckckckckck.) Tapi dia lebih berharap sang kakak mau memberikan solusi untuk masalah perasannya pada Kirino.
Tsurugi berhenti didepan sebuah kamar. Menetralkan nafasnya sejenak kemudian masuk kekamar itu. "Selamat pagi kakak." Dilihatnya sang kakak sedang duduk diatas kursi roda dan memandang keluar jendela.
"Ah! Selamat pagi Tsurugi." Jawab Yuuichi sambil tersenyum. Melihat senyum sang kakak entah kenapa Tsurugi merasa enggan untuk menceritakan masalahnya. Yuuichi yang melihat wajah Tsurugi yang tiba-tiba muram mendekati sang adik.
"Apa ada sesuatu yang terjadi?" Tanya Yuuichi kepada sang adik yang hanya dijawab gelengan oleh Tsurugi.
"Kalau kau ada masalah, kau bisa menceritakannya padaku."
Setelah menimbang-nimbang antara menceritakan masalahnya pasa sang kakak atau memendamnya akhirnya Tsurugi memantapkan hatinya. "Kak.. Aku menyukai seseorang. Dan sepertinya perasaanku itu salah."
"Tidak ada yang salah dari menyukai seseorang Tsurugi."
"Tapi masalahnya dia itu teman setimku."
Hening untuk beberapa lama. Yang terdengar hanya suara jarum jam. Sang kakak hanya menatap sang adik dengan wajah terkejut dan bola mata yang membulat sempurna.
"Ka-Kau bilang apa tadi?"
Tsurugi menarik nafas, kemudian menghembuskannya. Menatap sang kakak dengan manik kuningnya dan kembali berucap. "Aku menyukai Kirino. Pemain nomor 3 Raimon." Kali ini lebih spesifik agar sang kakak mengerti.
"Owh.. Emm," jawaban dari sang kakak membuat pemuda sedingin es itu hanya bisa melihat lantai dibawahnya. Takut, kali ini Tsurugi takut dengan apa yang akan dikatakan sang kakak selanjutnya.
"Rasanya kakak mengenalnya." Lanjut sang kakak sambil menggerakkan kursi rodanya menuju sebuah meja disamping tempat tidur. Membuka laci meja tersebut kemudian mengeluarkan sebuah majalah dari sana. Memperlihatkannya pada sang adik majalah sepak bola dimana terdapat sebuah artikel mengenai tim sepak bola sang adik Tim Raimon.
"Aku meminta salah seorang suster untuk membelikan majalah yang berisikan artikel tentang kalian. Dan aku sempat melihat ini." Tunjuk Yuuichi pada sebuah gambar diamana para anggota tim saling berpelukan. Tampak seorang pemuda bernomor punggung 3 sedang memeluk pemuda berambut abu-abu bergelombang bersama dua anak lainnya. Dan sang adik sedang bersorak bersama teman-teman disisi sebelah sambil memperhatikan pemuda bernomor punggu 3 itu.
"Jujur saja sejak kau masuk Tim Raimon, dan kakak melihat pertandingan kalian. Kakak selalu mengira dia itu anak perempuan." Ucap sang kakak sambil tersenyum.
"Hah?!" kali ini giliran Tsurugi yang cengok mendengar penuturan kakaknya. "Jadi kakak-"
"Yaa, kakak tidak bisa menyalahkanmu yang menyukai pemuda itu. Perasaan yang dimiliki manusia itu murni Tsurugi. Tak ada yang patut disalahkan dari hal itu."
"Apa berarti kakak?"
"Yaa, aku merestuimu yang menyukainya. Tapi apa pemuda itu menyukaimu Tsurugi?"
"Dia belum menjawab perasaanku. Tapi apapun yang terjadi aku takkan menyerah terhadapnya."
Dan dengan anggukan serta tepukan dipuncak kepalanya oleh sang kakak, Tsurugipun tahu bahwa sekarang dia hanya perlu menyatakan lagi perasaannya pada Kirino sampai diterima oleh pemuda berambut pink itu.
TBC
Maaf minna, author mengedit fic kedua ini dan memotongnya. Karna sepertinya ceritanya cepet banget dan rasanya gak enak kalau cerita ini tamat semudah itu. Hehehehehe ^^
Jadi author memutuskan untuk memperpanjang dan menambah ketegangan dichapter 3. Author juga akan memasukkan fic ini ke section Games biar semua bisa membacanya. Author kira kagak ada section Games dengan tema Inazuma Eleven, baru tau belakangan ini. Jadi Gomen Ne Minna~
