Sumary :

2 buah insan yang memiliki takdir yang sama. Akankah Naruto sang Mahou dan Naruko sang Jinchuriki Kyuubi dapat mengalahkan kegelapan yang semakin mendekat. Duet 2 kekuatan antara Sihir dan Cakra.

Disclamer : Masashi Kishimoto

Genre : Adventure, Fantasy, Romance (kagak janji), serta sedikit ecchi, but no Hentai

Paring : Naruto x ... (Minta saran, soalnya banyak opsi)

.

.

.

.

.

.

Sinar mentari mulai memasuki celah-celah yang berada di pondok kecil tersebut. Tak ayal cahaya tersebut juga membuat seorang anak laki-laki terusik dari tidurnya. Anak laki-laki yang kita kenal bernama Naruto ini mulai membuka matanya.

'Hmm ... lembut seperti bakpao.' Batin Naruto, ia merasakan ada dua buah benda lembut yang menyentuh wajahnya.

"Ini bakpao.." Naruto yang masih setengah sadar, secara sengaja atau tidak sengaja meremas kedua benda tersebut. Insting mungkin ya..

"Ah... Naru-chan ... ah..." sebuah desahan membuat mata Naruto mulai terbuka dan hal pertama yang di lihatnya adalah Yuki-nee yang bersemu merah sambil menggigit bibir bawahnya, serta kedua tangan Naruto yang tengah memegang -meremas- buah dada milik Yuki-nee yang tanpa penutup?.

10%

30%

50%
90%

100%

"Heeehhhhh" Naruto langsung melesat cepat ke pojok pondok saking kagetnya melihat dada Yuki-nee. Yuki yang terusik akan teriakan bocah di pelukannya pun langsung melihat sang bocah yang tengah menjauhinya.

"Nani Naruto-chan?" Yuki melihat Naruto dengan tatapan bingung, melihat tingkah yang menurutnya slalu berlebihan saat bangun tidur.

"b-buah dada... buah dada pagi-pagi." Yuki langsung melihat maksud –buah dada- Naruto dan bersemu merah melihat hasil perbuatan dari anak di depannya tadi malam.

"Kenapa? Bukannya semalam kau melakukan ini?" Yuki kemudian menyentuh bibirnya. Naruto memperhatikan, kenapa Yuki menyentuh bibirnya? Tunggu, bibir. Semalam sepertinya ia punya kenangan indah dengan bibir.

Blush...

Wajah Naruto seketika berubah menjadi merah saat mengingat kejadian memalukan semalam, saat dimana ia secara sadar mencium Yuki-nee. Bahkan sampai menghisap lidah.

Blush ...

Wajah Naruto makin merah sampai tak berani melihat wajah Yuki-nee. Sementara Yuki-nee merapikan pakaiannya yang agak berantakan akibat perbuatan semalam –Cuma meluk-

"sudah lupakan itu Yuki-nee... aku ingin cari makan. Mau ikut?" Naruto bertanya ke Yuki-nee dan di jawab dengan sebuah anggukan.

"Baik Naru-chan... tapi kali ini biar aku yang masak." Mata Yuki-nee berbinar-binar sementara Naruto yang mendengar permintaan dari Yuki mulai berkeringatn dingin. Terakhir kali dia memasak masakannya sangat di luar dugaan. Pokoknya jangan tanya bentuknya, kau pasti muntah kalau di deskripsikan.

Naruto dengan segera mernagkai kata yang tepat untuk menolak tawaran mematikan dari orang yang ada di hadapannya hingga ia menemukan sebuah kata yang di kira cocok.

"Tidak Yuki-nee ... biar aku saja yang masak. lagi pula aku yang mengajak makan kan?" tanpa menunggu persetujuan dari Yuki-nee, Naruto lalu menggandeng tangan Yuki-nee ke luar. Dan saat mereka keluar pemandangan indah telah menyambut mereka.

Seluruh hutan dapat terlihat dengan jelas, puluhan burung berterbangan di atas pepohonan. Dan melewati semua itu terdapat pemandangan lautan biru indah yang memantulkan warna dari langit. 'Slalu Indah' batin keduanya.

Mereka mulai memasuki hutan yang sudah menjadi tempat biasa mereka mencari makan, dari sayuran hingga daging. Sayuran untuk Yuki-nee dan daging untuk Naruto. Disni karna iklim atau memang karna pengaruh Tree Life membuat banyak tumbuhan yang bisa di variasikan menjadi berbagai makanan yang enak dan itu sangat menyenangkan buat Yuki-nee –Suka sama sayuran-. Setelah beberapa waktu mencari sayuran untuk Yuki-nee, akhirnya mereka mulai mencari daging yang Notebenya adalah makan favorit Naruto.

Pucuk di cinta ulam pun tiba, baru saja di bicarakan tiba-tiba seekor harimau besar datang he arahnya. Naruto sudah bersiap menyerang jika Yuki-nee tidak menghalangi Naruto.

"Ada apa Yuki-nee?"

"Naruto-chan diam saja.. biar aku yang siapkan daging ini."

"Baiklah. Yuki-nee." Yuki lalu merentangkan tangan kanannya ke arah Harimau tersebut, detik berikutnya ia mulai melafalkan beberapa mantra yang sulit di lafalkan atau di dengar oleh manusia biasa.

"Potong" dengan satu perintah tersebut, entah darimana serangan tersebut berasal. Harimau besar yang melihat ia dengan tatapan tajam kini bercerai berai menjadi potongan kecil menyisahkan organ dalamnya yang tertata rapi tanpa cacad, bahkan darahnya juga tak berserakan kemana-mana seperti potongan pada umumnya. Yuki-nee tersenyum puas melihat hasil pekerjaannya yang bisa di bilang rapi.

"Kerja bagus Yuki-nee. Dengan ini tinggal di masak saja." Naruto mengacungkan jempolnya ke arah Yuki-nee, serta dengan sebuah senyuman lima jari andalannya dan di balas dengan senyuman hangat.

Akhirnya mereka memasak makanan dalam jumlah besar yang enak dengan bantuan dari api Naruto dan kemampuan sihir Yuki-nee. Begitulah keseharian Naruto.

.

.

.

.

Naruto melihat ke langit. Ia teringat akan pertemuannya dengan musang berekor sembilan. Dia juga tak tahu bagaimana dirinya bisa sampai disana, memikirkan lebih jauh lagi hanya membuat naruto makin bingung. Hingga sebuah suara membuyarkan Naruto dari lamunannya.

"Naru-chan lagi mikirin apa?" Yuki-nee kemudian duduk di samping bocah kesayangannya ini. Naruto melihat Yuki-nee sekilas dan kembali melihat lurus ke depan.

"Bukan apa-apa kok Yuki-nee." Mendengar tanggapan dari naruto Yuki-nee tampak khawatir dan memilih bersandar di pundak bocah tersebut.

Di langit seekor burung terbang ke arah mereka, burung yang sudah tak asing bagi Naruto. Yuki-nee yang sudah tahu situasi ini –sering malahan- langsung kembali ke bentuk Grimoirenya dan terpasang di leher Naruto. Naruto kemudian berdiri dan menyambut burung tersebut.

"Ada apa Takashi-san?" tak menunggu burung tersebut mendarat, Naruto sudah memberikan pertanyaan terlebih dahulu.

'Dasar tak sabaran' Batin burung yang kita kenal bernama Takashi.

"Seperti biasa kau memang tak sabaran Naruto."

"Hehehehe.. karna kau biasanya slalu membawa berita bagus jika datang padaku." Ucap Naruto sambil memamerkan cengiran 5 jari andalannya. Takashi memutar bola matanya bosan dan memang jawaban Naruto benar. Dia datang untuk menyampaikan kabar, meskipun dirinya sendiri tak tahu harus bilang kabar miliknya adalah kabar baik atau buruk.

"Ya baiklah, kau di suruh menemui Dragon-sama di tempat biasa." Setelah mengucapkan pesan yang di titipkan olehnya, ia segera pergi dari tempat tersebut menuju ke sarang istri tercintanya.

"Trimakasih Takashi-san." Dengan segera Naruto pergi dari sana menuju tempat biasa –tempat bertarung di chap 2-.

.

.

.

.

Tepat di tempat pertemuan di sana berdiri Dragon dengan para tetua. Di hadapan mereka semua Naruto tengan duduk memperhatikan semua senseinya.

"Jadi ada apa memanggilku Dragon?" Naruto langsung bertanya to the poin.

"Naruto... apa kau tidak merasakan mereka?" bukannya menjawab pertanyaan milik Naruto, Dragon malah balik bertanya. Naruto memiringkan kepalanya pertanda bingung dengan maksud Dragon.

"mereka?"

"Ya. Mereka para Yokai, pengikut setia dari Raja Iblis." Naruto membulatkan matanya mendengar ucapan dari Dragon. Para Yokai? Itu artinya raja iblis akan bangkit kembali kan?.

"jadi mereka sudah mulai mengumpulkan ketakutan, Dragon." Dragon hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan naruto. Naruto menyeringai melihat reaksi dari sensei di depannya.

"Tapi meskipun para Yokai telah keluar, masa mengumpulkan ketakutan bisa berlangsung bertahun-tahun hingga sang raja sihir terbuka segelnya." Terang Dragon, naruto mendengarkannya dengan seksama meskipun sedikit bingung juga mendengar penjelasan dadakan.

"Jadi tugasmu adalah memberantas para Yokai tersebut." Dragon menggantungkan kalimatnya, membuat kesan menegangkan.

"Untuk itu kau harus meninggalkan pulau ini." Akhirnya Dragon mengakhiri penjelasannya dan ingin melihat reaksi dari bocah di depannya ini. Naruto menyeringai mendengar maksud dari Dragon-san.

"Akhirnya giliranku melawan mereka datang juga." Naruto mengangkat jempolnya ke arah Dragon-san. Dragon tersenyum melihat reaksi dari bocah yang sudah di angapnya sebagai anaka ini.

Naruto langsung melesat ke dalam hutan, meninggalkan para tetua beserta Dragon-san yang Sweadrop jama'ah. Nih anak kagak punya sopan santun kali ya, tak berselang lama setelah itu. Naruto kembali lagi dengan sebuah ransel besar yang dari aromanya tercium bau daging (Author : Dapet ransel darimana thor? Auth : hanya Author dan allah yang tahu :p )

"Naruto.. jangan katakan itu bekalmu?" tanya Crocodile, sementara mata Naruto berbinar-binar. Melihat reaksinya, Crocodile sudah menebak kalau jawabannya adalah iya.

'Dasar maniak daging.' Batin Crocodile sambil memijat pelipisnya.

.

.

.

.

Konohagakure.

Di dalam sebuah bangunan yang di buat sengaja untuk tempat kerja para hokage, ya mansion Hokage. Disana seorang kakek tua sedang melihat keadaan desanya dari atas atap, pakaiannya serba putih dan merah, menggunakan sebuah topi bertuliskan api dalam bahasa kanji, di punggungnya juga terdapat tulisan Hokage ketiga dalam bahasa kanji.

Ketenangan yang beberapa waktu lalu ia bangun terpaksa hancur karna ada seorang Anbu yang muncul di belakangnya. Menyampaikan kabar akan sesuatu.

"Ada apa?" orang yang kita tahu bergelar Hokage memlulai pembicaraan terlebih dahulu.

"Ma'af Hokage-sama. Ada keganjilan di hutan selatan." Hokage menaikkan sebelah alisnya dan berbalik menghadap Anbu di depannya.

"Keganjilan apa?"

"Team yang menyelidiki hal aneh di hutan selatan tiba-tiba menghilang dan yang selamat selamat mengalami shock berat. Setelah melakukan pengidentifikasian di tempat kejadian, kami menemukan banyak organ tubuh dari para Anbu kita. Kemungkinan mereka di serang oleh mahkluk buas melihat dari bagian tubuh yang seperti di koyak." Laporan dari Anbu tersebut membuat hokage kaget. Team yang terdiri dari anbu elite bisa sampai di bantai dengan mudahnya.

"Perintahkan para Jonin dan Anbu untuk ke tempat pertemuan. Kita akan membahas masalah serius."

"Ha'i Hokage-sama." Bersamaan dengan itu Anbu tersebut menghilang dan meninggalkan asap serta bunyi 'Bofft'

'Semoga kita ini tidak buruk.' Batin Hokage atau Hiruzen Sarutobi.

Academy.

Para murid kini sedang dalam jam bebas karna beberapa waktu yang lalu para guru pembimbing di suruh menghadap Hokage. Meskipun begitu para murid tak ijinkan untuk pulang ke rumah masing-masing. jadi begitulah, beberapa murid laki-laki pun mulai bermain dan murid yang perempuan memulai acara gosip-gosip mereka.

Kecuali untuk Naruko, dia duduk sendirian di belakang melihat pemandangan di kelas dengan tatapan kosong. Sudah sejak lama keadaan ini berlangsung dan ia mulai terbiasa dengan yang namanya 'Kesepian'.

"hufftt... kenapa selalu begini." Naruko menghela nafas, dia beranjak dari tempat duduknya dan mulai berjalan keluar meninggalkan kelas yang semakin lama semakain ramai saja dengan riangnya para murid. Berniat pergi ke hutan belakang sekolah –hutan Selatan-

Di tempat naruto.

Naruto kini berdiri di bibir pantai dengan sebuah ransel besar di punggungnya. Dragon dan para hewan di seluruh pulau juga berkumpul disana untuk melepaskan kepergian Naruto.

"Naruto... ada fakta yang belum aku katakan padamu. Di dunia luar, mereka menyebut dunianya adalah dunia shinobi. Ya, aku juga kurang paham dengan yang namanya shinobi, jadi berhati-hatilah."

"jangan Khawatir Dragon-san. Kalian telah mengajariku dengan baik, aku pasti akan baik-baik saja." Ucap Naruto sambil memamerkan senyuman lima jarinya. Kemudian Dragon memeluk Naruto di susul dengan binatang lainnya.

Naruto yang sempat kaget mendapat pelukan dari semua binatang membulatkan matanya. Perlahan matanya mulai melembut dan air mata mulai jatuh dari berlian bermata safir ini.

"Jika .. Hiks.. ada kesempatan hiks.. mampirlah kemari hiks... Naruto" disini Magellan yang paling dramatis tak kuasa menahan tangisnya pada murid satu-satunya ini.

"Pastinya Magellah-sensei.. aku pasti akan mampir." Naruto tersenyum di akhir kalimatnya. Perlahan pelukan yang di berikan oleh para binatang pada naruto mulai melonggar.

Naruto kemudian membungkukkan tubuhnya ke arah para sensei dan binatang yang ada di depannya.

"ARIGATOUGOZAIMAZU MINNA-SAN !"

"MA'AF SELAMA INI TELAH MEMBUAT KALIAN REPOT DENGAN SEGALA MASALAH YANG SELALU AKU BUAT" para binatang mulai menteskan air matanya mendengar permintaan ma'af dari Naruto. Kemudian naruto bangkit kembali menatap para binatang yang telah mendukungnya slama ini dengan tatapan penuh tekad.

"Aku berjanji pada kalian semua akan mengalahkan Raja iblis.. lihat saja nanti" Naruto mengacungkan jempolnya ke arah para binatang.

"Naruto .. jika kau perlu bantuan panggil kami saja." Ucap Akuma dan di balas dengan anggukan dari Naruto.

"Baik aku pergi dulu.. jaa ne.."

Perlahan tubun Narruto berubah menjadi partikel cahaya.

"Oh iya Dragon-san... Grimoire telah memperlajari teknikmu." Dalam sekejap cahaya Naruto melesat meninggalkan Dragon yang tersenyum. Ya dia ikhlas jika tekniknya di pelajari oleh Naruto, itu juga sebagai tanda kalau Naruto di akui oleh Dragon.

.

.

.

.

Di Konoha.

Naruko berjalan ke arah padang rumput yang berada di hutan selatan, tempat tersebut adalah tempat naruko menghabiskan waktu jika tidak ada kegiatan di Academy. Tapi untuk beberapa alasan seperti ada hawa lain di hutan yang ia tuju ini.

Naruko tak ambil pusing dan melanjutkan perjalannya. Mungkin Naruko tak meyadarinya, tapi di sisi kanannya pohon-pohon banyak yang tumbang karena sesuatu.

Tempat pertemuan.

"Aku mengumpulkan kalian semua disini karna ada seseuatu yang serius. Beberapa Anbu elite telah di bantai oleh sesuatu yang di perkirakan adalah seekor binatang buas. Akan tetapi di karnakan para Anbu saja bisa di bantai dengan mudahnya, aku menghimbau kalian harus berhati-hati. Terutama bagi para guru pembimbing Academy, kalian harus lebih berhati-hati." Setelah Hokage menyelesaikan pidato singkatnya para Jonin yang di kumpulkan oleh Hokage mulai berbisik tentang kabar ini.

"Ma'af Hokage-sama.. memangnya kejadiannya dimana?" tanya seorang jonin yang memakai masker menutupi mulut, hitai etainya di miringkan membuat mata kirinya tertutup.

"Di hutan Selatan Kakashi.. hutan di belakang Academy." Iruka yang mendengarnya shock, hutan belakang Academy adalah tempat dia biasa pergi. Tanpa pikir panjang Iruka langsung bangkit dari tempatnya, jika Hokage tidak menegurnya.

"Mau kemana kau Iruka?" tanya Hokage kepada iruka yang akan pergi dari tempatnya.

"Aku harus pergi Hokage, jika tebakanku benar. Dia pasti pergi ke Hutan belakang Academy jika sedang pada jam kosong." Iruka langsung pergi via shunshin meninggalkan Hiruzen yang masih memikirkan siapa maksud Iruka. Dia .. jangan-jangan NARUKO !.

Tanpa pikir panjang lagi Hiruzen memerintahkan 8 Anbu elite mengikuti Iruka ke sana. Setelah kejadian itu Hokage langsung membubarkan pertemuannya.

'Semoga mereka baik-baik saja.' Batin Hokage.

Di Hutan belakang sekolah (Hutan selatan)

Naruko tengah berbaring di padang rumput menikmati semilir angin yang membelai surai kuning miliknya. Permata shafirnya memandan langit biru dengan penuh kekaguman, sempat terfikir di kepalanya betapa maha kuasa Kami-sama yang menciptakan semua keindahan ini. Mata milik Naruko kemudian terpejam mencoba masuk ke alam mimpi.

Hingga sebuah cahaya yang sangat terang memaksa dirinya membukanya kemabali, alangkah terkejutnya saat ia membuka matanya. Kini berdiri seorang anak yang kelihatannya seumuran dengannya, rambutnya kuning, serta memakai baju tanpa lengan yang di lengkapi dengan celana pendek miliknya, memakai sebuah sandal yang terbuat dari kayu –semacm bakiak khas Indo-. Yang membuat dirinya terkesan sangat kekanakan. Tak lupa sebuah Ransel super sebar di samping anak tersebut.

Anak itu berbalik ke arah Naruko dan dalam seketika wajah Naruko memerah melihat anak di depannya. Wajahnya putih bersih, matanya shafir sama seperti dirinya, juga senyuman hangat yang di tunjukkan padanya lah yang paling membuat dia merasa malu.

"Yo... siapa disana?" tanya anak yang kita kenal bernama Naruto kepada anak yang ada di depannya. Bukannya menjawab naruko malah menujuk hidungnya sendiri dengan telunjuk kanannya dan di balas dengan anggukan dari Naruto.

"A-aku U-u-uzumaki N-naruko. S-salam kenal." Tiba-tiba Naruko kena penyakit gugup khas milik Hinata Hyuga salah satu teman sekelasnya.

"Yosh .. aku Naruto , salam kenal" Naruto mengulurkan tangannya berniat menyalami perempuan di depannya.

Naruko bingung dengan tangan naruto. Beberapa detik ia melihat tangan kanan laki-laki di depannya. Naruto memiringkan kepalanya tanda tak mengerti dengan tingkah Naruko, biasanya orang bersalaman untuk menjadi teman kan?

"Apa kau tak mau jadi temanku?" Naruko membulatkan matanya, teman. Apa dia sedang tak bermimpi? Memiliki seorang teman?

"A-Apa kau serius?" Suara Naruko mulai gemetar mengucapkan pertanyaan tersebut.

"Tentu saja aku serius." Jawaban tegas dari Naruto beserta cengiran lima jari andalannya. Perlahan Naruko menerima tangan Naruto dengan wajah tertunduk.

Tes... tes..

beberapa cairan bening jatuh dari mata shafir milik Naruko. Naruto yang melihatnya langsung memegang pudak Naruko dan menatapnya dengan tatapan khawatir.

"Kau kenapa Naruko-chan?" bukannya berhenti, tangisan Naruko malah semakin menjadi melihat wajah naruto yang mengkhawatirkannya. Belum ada di dunia ini yang mengkhawatirkannya sampai seperti ini.

"Arigatou Naruto-kun. Arigatou.. Arigatou.." Naruko terus mengulangi kata-katanya dan itu malah membuat Naruto bingung. Tak tahu harus melakukan apa untuk menghentikan isakan dari perempuan di depannya, akhirnya naruto memilih memeluknya dalam diam sambil mengusap puncak surai milik Naruko.

Hingga akhirnya Naruko tertidur dalam pelukannya. Setelahnya Naruto membaringkan naruko di sampingnya. Tiba-tiba ...

Sebuah sengatan listrik dengan tegangan yang tinggi mengagetkan Naruto. Listrik tersebut berasal dari grimoire.

"Ada apa Yuki-nee?" Naruto bertanya, tapi di dalam hatinya dia sudah punya firasat buruk akan apa yang terjadi padanya.

"Jangan terlalu dekat dengan gadis lain Naru-chan... atau kau akan aku .. per***a." Benar seperti apa yang di fikirkan naruto. Bisa-bisa keperawanannya hilang jika Yuki-nee melakukan hal tersebut. Tapi meskipun begitu Naruto mencoba menutupinya sebaik mungkin.

"Hei Yuki-nee. Jangan mengatakan hal yang menyeramkan, kau hanya cemburu kan..." setelah mengatakan hal tersebut bukannya menjawab pertanyaan dari Naruto, Grimoire malah diam menyembunyikan malunya.

Krauukkkkkkkkkkkkk...

Tanpa pikir panjang lagi Naruto langsung membuka bekal makan siangnya yang kelewat besar dan mulai memakan daging yang sudah di masak dengan lahap. Naruko yang mencium bau daging pun terpaksa terbangundari tidurnya dan melihat di sampingnya Naruto sedang memakan sebuah potongan daging yang besar.

"Kau sudah bangun Naruko-chan? Ayo makan." Naruko yang melihat Naruto makan lama-lama juga kepengen makan juga. Akhirnya dia mengambil sepotong daging dan memakannya, tapi tak jarang ia mengambil kesempatan untuk melirik wajah Naruto.

Naruko kaget melihat nafsu makan naruto yang kelewat sangar. Pasalnya hampir seluruh isi ransel yang ia bawa di habiskan semua hingga perut naruto berubah kayak balon raksasa.

"Naruto-san .. perutmu ini terbuat dari apa hingga bisa sebesar itu?" tanya Naruko sambil menunjuk perut naruto yang sudah membesar. Naruto pun melihat arah yang di tunjuk oleh Naruko.

"Mungkin terbuat dari karet. Hahahahaha ..." Naruko yang mendengar jawaban Naruto memiringkan kepalanya dengan tatapan serius ke arah perut Naruto.

"Bwahahahahahahaha... kau sangat serius sekali Naruko-chan.. aku hanya bercanda .. hahahaha.." Naruto yang sudah tak tahan menahan tawanya langsung meledak, di tambah dengan muka Naruko yang serius sekali memperhatikan perutnya.

"Huh... " Naruko mengalihkan mukanya ke arah lain menyembunyikan semburat merah yang menggerayangi wajahnya.

"Huffttt ... baiklah. Yang lebih penting lagi, kenapa kau menangis tadi Naruko-chan?" Naruko yang mendengar pertanyaan dari laki-laki di depannya langsung menunduk mengingat kejadian yang sering menimpanya. Naruto mulai khawatir lagi melihat kondisi Naruko...

"Di desa aku tak memiliki seorang teman pun. Para penduduk desa selalu mencaci maki aku, mengejek, dan tak jarang juga mereka menghajarku hingga babak belur. Aku tak tahu kenapa mereka melakukan itu. Tapi itu tidak lebih dari penderitaan kecil. Karna lebih menyakitkan tak di anggap dari pada di hajar." Naruko menteskan air matanya lagi, sementara Naruto langsung kaget mendengar perkataan dari Naruko.

"Tapi kenapa mereka melakukan hal itu pada anak manis sepertimu?" kini giliran Naruko yang kaget. Tidak ada yang pernah memujinya manis sebelumnya, dengan reflek Naruko menatap lurus ke mata safir milik Naruto.

"Aku manis?" Naruko bertanya balik. Naruto yang melihatnya malah tambah khawatir.

"Iya. Hei ... kenapa kau menangis terus?" Wajah Naruko semakin hangat mendengar jawaban dari Naruto hingga pertanyaan milik Naruto tak ia hiraukan. Semburat merah juga semakin jelas di wajahnya. Sementara Naruto malah tambah bingung dan khawatir.

"Hei Naruko-chan kau tak apa-ap-... Cepat pergi dari sini Naruko-chan !" Naruto meninggikan suaranya memberi perintah pada Naruko yang ada di sampingnya. Naruko tak mengerti maksud Naruto dan masih diam di tempatnya.

"CEPAT PERGI ! DIA DAT-" belum sempat Naruto menyelesaikan kalimatnya tiba-tiba di atas muncul sosok moster berbentuk Harimau, tapi harimau ini berwarna hitam dan berdiri dengan dua kaki belakangnya. Aura membunuh yang kuat langsung di tunjukkan untuk mereka berdua. Naruko yang belum memiliki mental kuatpun langsung tertunduk lemas.

Naruto yang melihat kondisi Naruko langsung menepuk puncak surai milik naruko.

"Tenang saja, semua akan baik-baik saja." Mendengar ucapan dari Naruto membuat Naruko lebih tenang. Sebuah senyuman juga terukir di mulut Naruto.

"Baiklah .. Ayo lakukan Grimoire !? Seperti biasanya !"

"Membuka Arship SUBERIA, mengeksekusi temaku JUSTITIA !" setelah mengucapkan mantra tersebut tubuh Naruto di selimuti oleh cahaya berwarna kuning. Naruko memandang kagum ke arah Naruto terutama saat cahaya tersebut sudah hilang. Mukanya bertambah merah saat melihat pemuda yang tingginya sekitar 180 cm, rambut kuningnya panjang yang hampir menyamai Yondaime Hokage, kulitnya putih bersih, dan wajahnya juga lebih tegas, serta terkesan dewasa.

Bajunya juga modelnya cukup jarang di lihat di zaman yang terbilang masih kuno ini. Memakai kemeja putih dengan jas berwarna hitam, memakai sebuah dasi berwarna hitam, celananya berwarna hitam. Tak lupa juga sebuah jubah hitam yang membuat kesan Boss-nya makin kuat dan grimoire yang setia terpasang di lehernya.

Harimau hitam tadi pun turun ke tanah. Di lihatnya pemuda yang akan menjadi lawannya. Harimau tersebut langsung membungkukkan tubuhnya dan itu sukses membuat Naruto menjadi bingung.

"Namaku Fang, aku Yokai urutan 16. Sebutkan namamu bocah..." Naruto yang mengerti akan maksud dari hewan yang mengaku Fang di depannya juga langsung membungkukkan tubuhnya. Naruko sekarang yang bingung.

"Aku Naruto, Mahou ke-10... suatu kehormatan dapat bertarung melawanmu." Fang yang mendengarnya langsung tersenyum mendengar perkataan Naruto.

.

.

.

.

.

To Be Continued.

Di chapter depan :

Udara menjadi retak akibat pukulan Naruto. Team Iruka di kepung puluhan Yokai. Muncul pemuda tak di kenal oleh Iruka membunuh semua Yokai yang ada.

"Siapa kau?"

"Aku adalah temannya Naruko-chan."

"Apa itu iblis?"

"Grimoire, tempat ini tidak buruk juga kan."

.

.

.

.

Ini chapter terpanjang yang pernah di buat oleh Author, semoga kedepannya bisa lebih panjang dan menarik, Amin !

Bagi reader yang baik hati tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar di kolom review. Mau nanya-nanya juga boleh.

Thank's for reading and... see you next chapter. (^_^)