It was years ago that.. Oke, sepertinya aku mulai sedikit bermelankoli. Suamiku, suami yang tak pernah kusangka-sangka akan menjadi suamiku saat ini, Uchiha Sasuke. Well, sebenarnya pernah sih, tapi itu masa lalu yang sangat lalu. Yang aku sendiri hampir tak yakin pernah mengaguminya.
Aku, Yamanaka Ino, 21 tahun, hanyalah seorang gadis biasa yang kehidupan sosialnya sedikit di atas 'sederhana'. Ayahku bekerja sebagai manajer di sebuah perusahaan besar di kota tempatku tinggal, Konoha. Sementara ibuku sendiri adalah pemilik toko bunga Yamanaka terkenal di kotaku. Dan terakhir, kakakku, Deidara namanya, juga telah mempunyai penghasilan sendiri di umurnya yang terbilang cukup muda, hanya empat tahun di atasku.
Daripada itu, di kehidupanku yang dulunya biasa-biasa saja, aku menemukan cintaku bersama pemuda yang jujur saja, kuanggap luar biasa.
Lebih tepatnya seperti ini...
Declaimer © Masashi Kishimoto
Story : Raburetaa
(5 tahun sebelumnya.)
(Normal POV)
Hari ini suasana sangat cerah. Musim telah berganti menjadi musim semi yang indah disertai dengan tahun ajaran baru yang juga ditunggu-tunggu pelajar baru setelah liburan musim semi mereka.
Dan di sini, di halaman Konoha High School, seorang siswi baru bernama Yamanaka Ino berdiri bersama seluruh pelajar Konoha High School lainnya, mendengarkan pidato kepala sekolah mereka sebagai pembukaan tahun ajaran baru di sekolah itu.
Beberapa dari mereka –terutama shopomores aka siswa siswi baru yang baru menginjak bangku SMA– mendengarkan dengan teliti setiap kata dan kalimat sang kepala sekolah.
Beberapa dari mereka juga ada yang saling curi pandang ke arah kakak kelas mereka, begitupun sebaliknya. Ada juga yang saling berbagi cerita perihal liburan mereka ataupun makan snack di tengah-tengah upacara, dan lain-lain.
Tapi untuk seorang Yamanaka Ino, mendengarkan pidato kepala sekolah adalah hal yang terbaik yang bisa dilakukannya sekarang ini. Sekilas dari sikapnya itu, Ino terlihat seperti siswi teladan yang serius. Tapi tidak. Ino bukanlah siswi teladan.
Lalu kenapa ia lebih memilih mendengarkan pidato kepsek –yang menurut sebagian besar siswa, sangatlah membosankan– daripada mencari hal baru untuk menghilangkan kebosanannya? Seperti menjadikan pelajar lain di barisannya sebagai teman baru kek, atau apalah gitu?
Hmm
Bukan berarti Ino orang yang anti-sosial loh. Bukan. Ino justru anak yang cenderung supel dengan lingkungannya. Jadi, untuk mencari teman, tidaklah sulit bagi Yamanaka Ino.
Hanya saja, Ino tidak terlalu suka membuat hubungan 'teman'.
"Hei, Ino-chan! Coba lihat sebelah sana! Itu loh, senpai yang berambut panjang." seorang siswi baru yang juga teman sekelas Ino di Junior High School mengalihkan perhatian Ino setelah sebelumnya berusaha menerobos barisan siswa-siswi lain karena barisannya berbeda dengan barisan Ino.
"Eh? Apa?" Ino berbalik menghadap siswi barusan, Tenten, dengan wajah polosnya.
Tenten hanya berdecak, sedikit kesal.
"Ck. Kau itu. Jangan terlalu serius di tahun pertama masa SMA kita! Oke, lupakan saja."
Tenten kembali menunjuk ke arah yang sebelumnya ia tunjuk. Lebih tepatnya ke arah seorang kakak kelas berambut coklat panjang yang menarik perhatiannya.
"Lihat tuh! Senpai berambut panjang itu loh, tidakkah ia keren?" tanya Tenten dengan matanya yang berbinar-binar kagum.
Ino hanya menggelengkan kepala terhadap tingkah temannya itu, walau begitu, ia tetap mengikuti arah pandang Tenten. Dan benar saja, di sana, tak jauh dari barisannya adalah barisan kakak kelas mereka yang kebetulan laki-laki semua.
Ino mengangguk menyetujui pendapat Tenten tentang kakak kelas berambut panjang barusan. Keren, tampan, dan dingin. Namun, ia memilih diam, tak berusaha merespon lebih lanjut.
Dan di saat itulah, matanya menangkap sepasang mata onyx dari barisan yang sama dengan kakak kelas berambut panjang tadi, tanpa sengaja menatap ke arahnya.
DEG
Onyx bertemu aqua-blue.
Dan mereka bertatapan dalam waktu yang lama.
Kelam, itulah pendapat Ino tentang mata itu.
"Baiklah anak-anak. Silahkan siapkan diri kalian untuk menempuh ajaran baru yang telah datang ini. Semua pengumuman dapat kalian lihat di papan pengumuman. Selamat belajar dan semoga sukses." dan pidato terakhir dari kepala sekolah tersebut merusak starring contest yang terjadi antara Ino dengan sang senpai misterius.
Ino berjalan dengan santainya menuju lokernya. Ia sudah mendapatkan berbagai informasi berkaitan kegiatan belajarnya di KHS, dan sayangnya ia tak mendapatkan kelas yang sama yang didapat Tenten kali ini. Tapi toh begitu, ia tak merasa kesepian. Ino sudah mempersiapkan diri untuk hal-hal semacam ini. Kesepian.
Tiba-tiba pandangannya jatuh pada dua remaja putri –yang diduganya adalah kakak kelasnya– sedang duduk bercengkrama sambil tertawa. Mereka terlihat sangat akrab dan hidup. Mereka juga terlihat sangat senang. Sahabat dekat, pikir Ino.
Ino menghela nafas berat dan menutup matanya.
Tentu Ino punya teman. Tapi ia tak punya sahabat dekat seperti kakak kelas barusan.
Bukannya Ino tak bisa, tapi ia tak mau. Ia takut. Ino takut kehilangan sahabatnya bila ia sampai berani membuat hubungan itu.
Sama seperti masa lalunya.
Ino menggelengkan kepalanya cepat, membuang ingatan pedih yang baru saja melintas. Ia kembali membuka matanya dan meneruskan langkahnya yang sempat terhenti.
Tak lama kemudian, ia sampai di depan sebuah loker dari beberapa loker yang diduga miliknya, karena jelas sekali, di depan benda bercat hijau itu tertulis nomor 306 yang berarti itulah lokernya.
Tanpa pikir panjang, ia segera memasukkan kode lokernya dan membukanya. Dimasukkannya beberapa buku paket di tangannya dan ia membuka tas selempangnya untuk memindah beberapa buku tebal lainnya dari dalam tas ke dalam loker persegi itu.
Sesaat tangannya terhenti dari menutup loker itu. Pandangannya terpaku pada sebuah buku diari pink-ungu kecil di atas tumpukan buku paketnya. Sebuah senyum kecil menghiasi bibirnya. Diambilnya buku itu dan dibukanya secara asal.
[Dear Diary. 5 Juli xxxx.
Hari ini aku sangat senang. Aku dan Sakura, my Best Friend Forever and Ever, beserta keluarga kami berlibur ke pantai. Aku senang sekali, setidaknya ada hari yang hanya ada aku dan my BFFnE. Kami membuat surat perjanjian untuk selamanya menjadi sahabat sejati lalu kami masukkan ke sebuah botol dan kami lempar bersama ke tengah laut.
Selain itu, begitu kami pulang, kami tak langsung kembali ke rumah masing-masing. Kami lebih dulu ke bukit belakang sekolah kami dan mengikat janji (lagi) persahabatan kami di sana.
Pokoknya senang deh. Hari ini hari yang paling bahagia yang takkan pernah kulupa. Bersama sahabatku yang melebihi sahabatku. Sakura.]
Ino kembali menghela nafas. Ia tak langsung membuka halaman diari yang selanjutnya karena ia tahu akan terasa menyakitkan. Ia memang tak begitu ingat kejadian masa-masa SD yang tertulis di buku diari itu, karena ia pernah mengalami amnesia akibat kecelakaan ketika ia masih kelas 5 SD. Kalau bukan karena adanya foto-fotonya bersama Sakura, mungkin ia takkan pernah ingat bagaimana sosok gadis manis itu.
Dan sekarang Ino hanya harus merelakan terputusnya ikatan 'sahabat' antara ia dan gadis yang sudah bertahun-tahun ini tak menjalin hubungan dengannya itu, hanya karena masalah kecil di antara mereka. Yah, itulah yang tertulis di buku diarinya.
"Ha-Halo!" sebuah suara lembut menginterupsi Ino dari lamunannya. Ino menoleh. Di samping kanannya tepat, berdiri seorang siswi manis berambut purple-indigo yang tertunduk malu-malu. Mungkin sama-sama murid barunya hingga ia terlihat malu-malu begitu, pikir Ino.
"Ya?" tanya Ino.
"Um. A-ano, a-apa kau yang b-bernama Ino?" tanyanya sopan.
Ino sedikit memiringkan kepalanya ke samping. Senyum pun terpatri di bibirnya. Sepertinya ia akan menyukai gadis ini.
"Iya, itu aku." Ino menaikkan sebelah alisnya, menunggu kalimat gadis itu selanjutnya.
"K-Kalau tak salah, k-kita sekelas. A-aku Hinata, m-maukah kau p-pergi ke kelas b-bersamaku?"
Dan kejadian selanjutnya, Ino tersenyum lebih lebar lalu berjalan beriringan dengan gadis baru itu, setelah sebelumnya merapikan lokernya. Tak lupa, meletakkan diari kecilnya yang menyimpan begitu banyak kenangan indah ke dalam tasnya, selalu.
Hari-hari berlalu. Ino dan Hinata menjadi teman yang cukup akrab. Walaupun begitu, Ino masih tertutup di depan Hinata. Ia tak membuka privasinya di hadapan orang lain. Selain itu, ingatan masa kecilnya juga menghilang, jadi tak banyak kehidupan Ino yang bisa ia ceritakan pada teman barunya itu.
Ino juga mendapatkan teman sekelas yang lumayan baik-baik. Hanya saja, Ino sering menghabiskan waktunya bersama Hinata daripada teman sekelasnya yang lain.
Dan yang mengejutkannya lagi, Hinata mempunyai seorang kakak sepupu yang ternyata kakak kelas berambut panjang yang diincar Tenten waktu upacara pembukaan bulan lalu. Ia bernama Hyuuga Neji.
Andai Ino menceritakannya pada Tenten, Tenten pasti langsung lengket dengan Hinata. Merayunya, menjadikannya teman, dan terakhir mengancam Hinata untuk menjadi love cupid antara keduanya. Khikhkh.
Membayangkannya, membuat Ino terkikik geli.
"A-ada apa Ino-chan? K-kau baik-baik s-saja?"
Ino tersadar. Ia menoleh pada Hinata yang berjalan di sampingnya sambil tersenyum.
"Aku baik-baik saja Hina-chan. Hanya memikirkan sesuatu yang lucu. Ah! Itu lokerku. Sebentar ya." tanpa menunggu Hinata merespon, Ino langsung beranjak ke lokernya untuk menaruh buku-bukunya kembali sebelum pulang.
"Eh? Apa ini?" tepat setelah ia membuka lokernya, ia mendapati sebuah blinder kecil berwarna delima dengan gambar setangkai bunga lili putih kerlap-kerlip di sampul depannya.
Dengan rasa penasaran, diambilnya blinder itu. 'Milik siapa ini? Apa jangan-jangan salah tempat?' pikir Ino. Namun, belum sempat ia membukanya, suara Hinata lebih dulu menginterupsinya.
"Ayo Ino-chan! Bisnya sudah m-menunggu tuh."
Ino segera menaruh benda kecil itu ke dalam tasnya. Berniat membacanya di rumah. Dan membereskan lokernya lalu beranjak mengikuti Hinata. Sempat Ino berpikir, kalaupun Hinata dan Neji adalah sepupu, lalu kenapa mereka tak berangkat ataupun pulang bersama saja.
Ino mengedikkan bahunya. Mungkin menanyakannya pada Hinata nanti, lebih baik. Setidaknya, kalau Hinata tidak pulang dengan Neji, Ino punya teman lain yang menemaninya naik bis. Iya kan?
BRUK
Ino merebahkan diri di kasur empuknya. Lelah. Yah.. itulah rasanya belajar di KHS, salah satu sekolah favorit di Konoha. Dan Ino termasuk beruntung diterima di sekolah itu.
"Haah.. Akh!" tiba-tiba Ino teringat sesuatu. Ia bangkit dari tidurnya dan meraih tas selempangnya dari atas kursi belajarnya. Diambinya benda yang membuatnya penasaran beberapa waktu lalu. Bingo, sebuah blinder delima tanpa nama kini ada di tangannya.
Dilemparnya kembali tasnya ke atas kursi dan ia mulai membuka blinder itu sambil tiduran di kasurnya.
[From: Someone-u'll-know.
To: U
Er..aku tak tahu bagaimana harus memulainya. Jadi..
Hai! :-) ]
'Hai?' Ino menaikkan sebelah alisnya. Dan sebuah senyum kecil muncul di bibirnya.
[Aku ingin mengenalmu.]
Sepertinya, ia mulai tertarik dengan orang misterius ini. Dilihat dari tulisannya, sepertinya orang ini, atau dipanggil saja Mr/Ms.X ini bukanlah tipe orang yang mudah bergaul. Tapi walau begitu, apa Mr/Ms.X ini tidak salah orang dengan mengiriminya pesan ini?
Ino kembali terfokus dengan tulisan tangan Mr/Ms.X selanjutnya.
[Mungkin kau berpikir, 'Apa tidak salah kirim?'. Tidak. Aku yakin, aku tidak salah menempatkan benda ini di lokermu. Awalnya aku ingin menulis ini di sebuah secarik surat saja. Tapi rasanya akan berbeda bila menggunakan blinder kecil ini.]
"Sok misterius," Ino merengut, namun tak lama kemudian, ia justru terkikik geli. "Tapi menarik."
Ino kembali melanjutkan membacanya.
[Balas pesan ini di bawahnya dan taruh saja di lokermu. Aku ingin mengenalmu.]
'Eh? Tunggu!' sepertinya Ino menyadari sesuatu yang ganjal.
Dan benar saja, seakan membaca isi pikiran Ino, pesan Mr/Ms.X selanjutnya menjawabnya.
[Jangan khawatir. Aku tahu kombinasi lokermu dan aku takkan menyebarkannya. Hanya kau dan aku. Aku janji.]
Huft.. Setidaknya Ino bisa bernafas lega. Tapi, apakah Ino bisa mempercayai Mr/Ms.X ini? Benarkah orang ini hanya berniat menjadi temannya atau punya tujuan lain? Apakah ia akan memberitahu identitasnya bila Ino bertanya?
Berusaha membunuh rasa penasarannya, Ino menulis balasan di lembar yang sama di balik pesan orang misterius itu.
{From: Me
To: Someone-I'll-know.
Sebenarnya siapa kau? Kau laki-laki atau perempuan? Kelas berapa? Bisakah kita bertemu?
Kenapa kau ingin mengetahuiku melalui surat? Kalau memang benar kau tak salah menempatkan benda ini ke lokerku, apa kau tahu siapa aku?
Dan terakhir, apa aku bisa mempercayaimu?}
Dan dengan begitu, Ino meletakkan penanya dan menutup blinder itu. Mungkin besok, hidupnya yang biasa-biasa saja akan berubah. Kalaupun benar pesan itu untuknya, setidaknya, hidupnya akan sedikit berwarna. Semoga saja.
Dan dengan begitu, Ino menutup matanya dan berlayar ke alam mimpi.
Esoknya saat jam pulang sekolah, Ino berdiri dengan sedikit ragu di depan lokernya sendiri. Di tangannya, sebuah blinder delima tergenggam rapi.
Lagi, pikiran itu terngiang di benaknya, 'Bisakah aku mempercayainya?'
Ino menggelengkan kepalanya. Ia harus membuang prasangka buruk itu. Dan besoknya, ia akan mendapatkan jawabannya.
'Semoga ia bukan anak nakal.'
[From: Someone-u'll-know
To: U
Aku? Hmm.. Aku Someone-u'll-know. ;-) Aku laki-laki. Selebihnya kau tak boleh tahu. Kau belum boleh tahu, Ino. :- ]
'Ukh! Sepertinya ia suka sekali bermain teka-teki,' pikir Ino.
[Mungkin ini terasa tak adil bagimu. Tapi, biarkan semua berjalan seperti ini. Aku janji, aku akan menunjukkan diriku di saat yang tepat.]
Seulas senyum muncul di bibir Ino. Walaupun begitu masih ada sedikit keraguan terpancar dari manik aqua-blue Ino.
[Kau.. bisa percaya padaku.]
Kali ini, Ino tidak bisa tidak merasa tenang. Mungkin mengikuti permainan Mr.X, ia akan tahu jati diri Mr.X yang sebenarnya.
[Dan kumohon, jangan mencoba mencari tahu identitasku.]
Ino menghela nafas berat. Dilihat dari berbagai sisi, sepertinya Ino sama sekali tidak mendapat keuntungan. Tapi, entah karena kata-kata Mr.X tersebut atau apa, Ino merasa ia dapat mempercayai orang itu. Kata-kata yang tersusun dalam kalimatnya sudah menunjukkan bagaimana sifat pemuda itu. Jadi.. beberapa goresan pena siap Ino gunakan untuk membalas pesan Mr.X yang kedua.
{From: Ino.
To: Mr.X
Hihi. Baiklah, baiklah. Aku percaya. Jangan tegang begitu dong, kau membuat hubungan pertemanan ini agak canggung.
Walau aku tak tahu, dilihat dari tulisanmu, kau sangat serius sekali ingin menyembunyikan identitasmu dariku.. Hmm.. :-/ apa kau bisa memberiku sesuatu yang juga menguntungkanku, Mr.X? Aku.. ingin sesuatu yang membuatku percaya padamu.}
Lagi, Ino menghela nafas dan menutup blinder itu. Yakin akan balasannya kali ini tepat. Kemudian merebahkan dirinya untuk mengunjungi alam mimpi.
Lusanya, Ino menemukan sesuatu yang berbeda dari blinder kecil itu. Setangkai bunga matahari yang mekar terselip di antara halaman dalam blinder. Ino hanya mampu membuang seringaiannya dan menggantinya dengan senyuman.
'Kheh, baka. Kalau diselipkan seperti ini, bagaimana caraku membawa pulang? Yang ada malah rusak selagi di dalam tasku lagi. Payah.'
Khawatir dengan rusaknya bunga indah itu, Ino tak memasukkannya ke dalam tas dan membawanya dalam dekapan tangannya bersama buku paket lainnya.
Senyum pun tak lepas dari bibir manisnya, yang bahkan sampai membuat Hinata menaikkan sebelah alisnya karena tingkah Ino yang er..sedikit berbeda dari biasanya.
Tapi toh, Hinata tak terlalu menghiraukannya.
Ino kembali menunduk, menatap bunga matahari dalam dekapan tangannya. Indah dan terlihat sangat segar seperti baru saja dipetik dari tangkainya.
'Bunga matahari: Pure of Thought.'
Lagi, Ino tersenyum dengan sendirinya. 'Mr.X yang jujur,' pikir Ino.
[From: Someone-u'll-know
To: Ino
Sudah menerima bungaku? Aku memetiknya sesaat sebelum kuletakkan benda ini di lokermu.
Apa kau menyukainya? :-) ]
"Ya. Aku menyukainya, Baka," gumam Ino sendiri.
[Ino...bagaimana harimu? Ada yang bisa kau ceritakan padaku? :-| . Oh, dan satu lagi, apa itu Mr.X? :-/ ]
Dengan kata-kata yang telah tertata di benaknya, akhirnya Ino menuangkannya ke dalam goresan tinta sebagai balasan pesan Mr.X yang misterius.
{From : Ino
To : Mr.X
Ya. Aku menyukainya, Baka. :-P . Kau tanya hariku? Hmm.. hariku biasa-biasa saja. Orang tuaku tetap dalam rutinitas bekerja mereka yang biasa. Dei-dei juga lagi semangat-semangatnya jagain Galeri seni-nya.
Kalau di sekolah..hmm..hari ini Kakashi-sensei lagi berurusan sama kucing-hitam-yang-selalu-membuatnya-terlambat, karena tiba-tiba kucing itu masuk ke dalam kelas dan menuju ke bangku Kakashi-sensei. Dan apa yang membuatnya menarik, kucing itu tiba-tiba mencakar buku-misterius-berwarna-orens miliknya. Kau pasti bisa menebak apa yang terjadi setelahnya. Haha, Kakashi-sensei geram dan akhirnya malah main kejar-kejaran sama si kucing di luar kelas tanpa kembali lagi. Jadi kelas bubar lebih awal. :-D
Kau tahu? Aku tertawa sendiri membayangkannya. Apa kejadian Kakashi-sensei yang semacam ini juga pernah terjadi di kelasmu? 0.o? }
Sejenak Ino berhenti sebelum kembali melanjutkan tulisannya.
{Soal Mr.X.. itu loh, namamu kan panjang. Daripada begitu, akan lebih singkat memanggilmu Mr.X, ya kan? ;-) atau kau ingin panggilan yang lain? :-/.
Oiya, bagaimana denganmu? Apa ada yang menarik dengan hari-harimu? :-/ mind to share it w/ me? Hm?}
Ino meletakkan penanya. Kali ini balasannya terlihat lebih panjang dari sebelumnya. Seakan menulis buku diarinya sendiri.
Ino tersenyum sambil kembali meneliti tulisannya. Begitu sekiranya tak ada yang salah, Ino menutup blinder itu dan bersiap tidur.
Esoknya, ada yang berbeda dari hari-hari biasa Ino. Ino telah berencana mengenalkan Tenten pada Hinata. Dan akhirnya, keduanya pun berjalan menjadi teman baik. Ino sering tersenyum ketika mendapati bagaimana Tenten sangat berantusias mewancarai Hinata tentang kakak sepupu Hinata itu, Neji. Mereka pasti akan menjadi teman akrab, pikir Ino.
"Uhm...Ino?" Ino mengalihkan perhatiannya pada seseorang yang baru saja memanggilnya. Seseorang berambut hitam kecoklatan yang dikucir satu dan terlihat sangat kekurangan semangat hidup. Tapi, entah mengapa, Ino justru menyukainya. Lucu, pikir Ino.
"Ya?" jawab Ino sambil menaikkan sebelah alisnya bingung. Ia merasa tak mengenali pemuda itu.
Pemuda itu terlihat sedikit kaget, tapi setelahnya ia kembali ke ekspresi awalnya yang biasa.
"Tak ingat yah..," gumamnya sendiri namun cukup menarik perhatian Ino.
"Eh? Apa yang kau bicarakan?"
Tangan pemuda itu menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Aaah, tidak. Bukan apa-apa. Sudahlah kalau begitu. Aku pergi dulu. Ini terlalu merepotkan. Bye!" dan dia pun pergi meninggalkan Ino yang terus saja memandangnya beserta kawan-kawannya.
"Ukh. Ah, ya. Bye!" gumam Ino pelan. Pandangan menerawangnya tak lepas dari cowok laki-laki itu.
"Tak biasanya siswa itu mendatangi orang lain. Baginya, segala sesuatu akan merepotkan," ucap Tenten.
"Kau m-mengenalnya, Tenten-chan?" tanya Hinata lembut membuat Tenten dan Ino sama-sama menoleh padanya. Tenten mengangguk.
"Dia teman sekelasku. Biasanya dia selalu tidur di kelasnya. Dia..."
[From: Mr.X
To: Ino
Haha.. Kakashi-sensei pasti sangat lucu. Belum pernah terjadi apapun semacam itu di kelasku. :-D. Oiya soal hariku..hm..hari ini temanku benar-benar membuatku kesal. Ia memintaku datang ke blind-date yang entah dengan siapa. Aku tak suka membuat hubungan dengan orang yang tak kukenal. Lagipula, aku sudah menemukan seseorang yang... Lupakan saja! Yang pasti temanku itu hari ini benar-benar merepotkan. ;-(.
Mr.X? :-| hmm...tak masalah.]
Ino menaikkan alisnya. 'Merepotkan?'
[Ah! Ino...apa kau punya masa lalu yang...yah..menarik untuk diceritakan? Maksudku, mungkin kejadian yang mengesankan ataupun cinta masa lalu? :-) entah mengapa aku bisa penasaran seperti ini. Tapi kau tak perlu menjawabnya kalau kau tak mau. Hehe.]
Pesan Mr.X berakhir seperti itu. Ino merasa harus menulis sesuatu yang terus saja membuatnya mengerutkan alis sebagai balasan pesan Mr.X.
{From: Ino
To: Mr.X
Err...mmm...Mr.X, senang kalau kau menyukai panggilan kecil itu. :-). Kau ingin mengetahui masa laluku? Mmm...aku sedikit tak yakin bisa menceritakannya atau tidak. :-/.}
Ino sedikit tak yakin untuk menuliskan kelanjutannya, tapi kadang sesuatu yang mengganjal harus diungkapkan kalau tak mau membuat hatimu resah. Ya kan?
{Err...Mr.X? Apa kau Shikamaru?}
Ino gelisah. Sudah dua hari Mr.X tidak membalas pesannya. Ino khawatir, takut-takut kalau Mr.X marah karena pesan terakhirnya.
"Haduuh.. Apa ia marah karena aku menebak identitasnya?" gumam Ino pelan.
'Jelas saja ia marah, bukannya dulu ia pernah bilang untuk tidak mencoba mencari identitasnya. Lagipula, apa gunanya benda delima itu kalau identitasnya ketebak,' pikir Ino frustasi. Bahkan rambutnya bisa saja bah bulu ayam yang tidak pernah disisir(?) kalau ia tak menyadari tangannya yang mengacak-acak rambutnya sedari tadi.
"Ada a-apa Ino-chan?" tanya Hinata yang mau tidak mau merasa khawatir pada teman pirangnya itu.
"Eh? Ah! Bukan apa-apa Hina-chan."
Lagi, Hinata harus menghela nafas terhadap tingkah temannya yang terkesan menyimpan segala masalahnya sendiri.
"Aku menaruh bukuku dulu, Hina-chan." dan Ino pun berjalan menuju kumpulan loker yang salah satunya adalah lokernya.
Dengan tangan yang sedikit bergetar, Ino memegang kenop lokernya.
'Semoga ia membalasnya.'
CKLEK
Mata Ino melebar sempurna ketika melihat isi dari lokernya.
"YES." dan diraihnya benda delima yang selalu ditunggu-tunggunya selama dua hari terakhir ini.
[From: Mr.X
To: Ino
Bagaimana kau bisa menyimpulkan seperti itu? :-/. Dan apa gunanya benda ini kalau kau mengetahui identitasku, Ino. :-.]
Tuh kan?
Ino merutuk akan kebodohannya sendiri.
[Ino...]
Ino sedikit mengeryitkan alis ketika tidak didapatinya pesan Mr.X selanjutnya. Dan ia pun meraih penanya untuk menulis beberapa kalimat di bawah pesan Mr.X.
{From: Ino
To: Mr.X
Gomen ne. Gomen gomen. Aku lupa. ;-( .
Ano...Mr.X, hmm.. Sebagai permintaan maafku, baiklah akan kuceritakan masa laluku. Tapi nggak banyak-banyak. Ok? ;-).
Aku tak begitu tahu tentang masa laluku. Aku pernah mengalami kecelakaan dan yah, aku amnesia. Yang kuingat hanya keluargaku saja. Tapi syukurlah, aku dulu rajin menulis diari.
Di sana tertulis, aku punya banyak teman, dua orang sahabat laki-laki yang pindah sekolah sesaat sebelum kecelakaan itu. Dan seorang sahabat perempuanku yang begitu kusayang. :-|.
Dan kalau bukan karena foto kami berdua, mungkin aku takkan mengingatnya. :-|.
Tapi, persahabatan kami rusak hanya karena masalah kecil. Yah, begitulah menurut diariku. *srugh*}
Ino tak ingin meneruskan tulisannya. Ia tahu, ia hanya akan teringat kenangan buruk kalau ia terus meneruskan cerita masa lalunya.
{Kalau Mr.X?}
Dan Ino memutuskan untuk menyudahi 'curhat' anehnya itu.
Esok dan seterusnya, hubungan Ino dan Mr.X semakin membaik. Bahkan mereka banyak tertawanya di sesi 'percakapan' itu.
[From: Mr.X
To: Ino
Oh, aku ikut prihatin.
Aku akan bercerita tentang hariku. :-|.
Hari ini, aniki-ku sedikit menyebalkan. Di sekolah pun masih sama. Teman-yang-paling-menyebalkan-untukku melempar penghapus papan ke wajahku. :- ]
{From: Ino
To: Mr.X
Wow..persahabatan yang menarik. Xixixi :-D. Jangan marah ya? Aku hanya bercanda. :-D.
Mr.X, bicara seperti ini tanpa mengetahui wajahmu terasa aneh. Eit.., jangan berpikir aku minta foto wajahmu atau apa, tidak. Kalau kau tak bisa menunjukkan identitasmu, hmm...biar aku membayangkan wajahmu itu seperti apa... :-/.*thinking*.
Siapa yang lebih tampan? Kau atau Neji? Mana yang lebih tampan? Kau atau dia? :-|. Aah...atau jangan-jangan, karena kau jelek, kau tak berani menunjukkan siapa dirimu? Ckckck, harusnya aku menyadarinya dari awal. :-P.}
[From: Mr.X
To: Ino
Kheh! Kau meragukan ketampananku? B-) Neji? Kau kenal dia? :-/. Geez...apa maksudmu, huh? Aku tidak menunjukkan siapa diriku, karena aku takut kau akan pingsan melihat betapa tampannya diriku ini. Ck. Kau ini. :-/.]
{From: Ino
To: Mr.X
Haha...iya deh. Tuan sok-tampan. Hmm...aku tidak kenal dengan Neji, tapi aku kenal dengan sepupunya. Dia pernah cerita tentang Neji. Lagipula, setiap berangkat sekolah, mereka selalu bersama. Jadi, kami sering ketemu. Itu saja. Aku tak mengenalnya lebih. ;-).}
[From: Mr.X
To: Ino
Benarkah? Hanya sekedar saling tahu? :-/.]
{From: Ino
To: Tuan-sok-tampan
Iya. Percayalah padaku. ;-).
Eh! Tuan-sok-tampan, apa kau sudah punya pacar? :-/}
[From: Mr.X
To: Ino
Pacar? Kenapa kau menanyakannya? Kau ingin daftar jadi pacarku? :-.]
{From: Ino
To: Mr.X
Ck. Kau itu ya. Egomu diturunin dikit kenapa?
Iie, aku hanya takut kalau sampai pacarmu tahu tentang hubungan kita, apa yang akan kita lakukan? :-|.}
[From: Mr.X
To: Ino
Kheh, kau bicara seolah kita memang mempunyai hubungan saja. *smirk*]
{From: Ino
To: Mr.X
Ck. Berhenti menggodaku Tuan-sok-tampan.}
"Berhenti menggodaku, Tuan-sok-tampan? Wah, Ino-chan sudah punya pacar rupanya." suara itu sukses membuat Ino memutar kepalanya dengan wajah was-was.
"Dei-nii?" Ino lantas menutup blindernya langsung.
"Kalau Kaa-san dan Tou-san tahu, bagaimana ya?" Deidara mengerling jahil pada adiknya sambil menaruh tangannya di dagunya seolah-olah berpikir.
Dengan wajah marah, Ino meraih bantalnya dari atas kasur.
"Kau! Apa yang kau lakukan di sini? Dan bukannya sudah kubilang untuk mengetuk pintu sebelum masuk, eh? Awas kau ya!" dan benda empuk itu sukses bertatapan dengan wajah halus Deidara.
Namun, belum sempat bantal itu menyentuh lantai, tangan Deidara dengan sigap menangkapnya dan melemparkannya kembali pada Ino.
"Kalau aku mengetuk pintu, pasti kau tidak akan menjawab dan pura-pura tidur, iya kan? Lagipula, aku kemari karena diminta Okaa-san?" jelas Deidara.
"Okaa-san?"
"Ya. Kita kedatangan tetangga baru. Kita diminta untuk berkunjung ke sana." Deidara menunjuk rumah yang bercahaya lampu yang terlihat melalui jendela kamar Ino.
"Itu tetangga barunya? Kukira rumah itu takkan laku." tanpa mengindahkan perkataan Ino, Deidara langsung melesat menuju pintu kamar Ino, bersiap keluar.
"Cepat bersiap! Kutunggu kau di bawah," kata Deidara. Ino hanya mengangguk menyetujui.
"Ck. Sebenarnya apa sih yang kau pikirkan Dei-nii? Apa pantas sebuket bunga untuk sebuah keluarga?" gerutu Ino pada kakaknya itu.
Mereka masih di rumah, menyiapkan keperluan yang akan mereka bawa untuk menyambut tetangga baru mereka.
"Cih. Masih untung aku mau menyiapkan buket itu untuk kau bawa. Lalu, kau mau apa, huh? Selain buket bunga tidak ada lagi- Hei! Dengarkan kalau orang bicara." sayang sekali, Ino sudah terlanjur meninggalkan Deidara di ruang tamu dan kembali ke toko bunga, memperbaiki buket buatan Deidara.
"Ck. Anak itu," gumam Deidara kesal.
Tak berapa lama kemudian, Ino kembali lagi ke ruang tamu bersama sebuah keranjang bunga yang ditata sedemikian rupa di tangannya. Indah.
"Ta-da! Bagaimana?" tanya Ino sumingrah. Tangannya terangkat demi menunjukkan keranjang bunga itu pada Deidara.
"Apa bedanya dengan yang tadi, huh? Sama-sama bunga kan?"
"Tentu saja berbeda. Buket bunga untuk seseorang, ingat, 'seseorang'. Sementara keranjang bunga untuk beberapa orang, dalam arti keluarga atau kelompok," jelas Ino.
"Ya, ya, ya. Bisakah kita pergi sekarang?"
Dan kedua saudara itupun melaksanakan aksi mereka selanjutnya, mengunjungi tetangga baru.
Setelah sekiranya semua pintu rumah terkunci -yah karena orang tua mereka sedang keluar rumah-, mereka berjalan beriringan menuju rumah di sebelah mereka.
TING TONG
"Apa kau pikir mereka akan menyukai kita?" tanya Ino sedikit gugup. Tak biasanya putri Yamanaka itu merasa gugup.
Deidara menepuk-nepuk kepala Ino.
"Tenang saja, Ino-chan. Mereka takkan mencuri kecantikanmu, kok. Kalau itu yang kau maksud, un."
"Kau tak membantu." Dan setelah percakapan terakhir mereka, pintu pun tak lama dibuka, mengalihkan perhatian kedua saudara Yamanaka tersebut.
CKLEK
DEG
Kini sukses hanya seorang Ino yang melebarkan matanya tak percaya akan sosok yang barusan membukakannya pintu. Untuk kedua kalinya, ia bertatapan dengan pemilik mata itu.
"K-kau?" gumam Ino.
Tiba-tiba dari belakang orang itu muncul seorang lagi yang tak kalah mirip namun masih berbeda.
Melihat siapa yang hadir, Deidara memekik hampir kegirangan. Orang itu pun berekspresi hampir sama seperti Deidara.
"Deidara?" katanya dengan nada yang sengaja dibuat dingin.
"Kheh, Uchiha. . . Itachi, bukan?"
TBC
Main tu Rid en Riviyu? ^^
