Raburetaa
Declaimer © Masashi Kishimoto
Pairing : SasuIno
"Selamat datang." Nyonya Mikoto mempersilahkan Deidara dan Ino masuk. Mereka menyambutnya dengan senyuman. Sebuah ruangan ukuran sederhana yang terlihat luas karena masih kurangnya benda-benda yang belum di-unpack oleh keluarga Uchiha, menyambut mereka. Duduk di sebuah sofa single adalah kepala keluarga Uchiha. Beliau berdiri sesaat setelah melihat kedatangan Ino dan kakaknya, senyum terpatri di bibirnya. Ia mempersilahkan Deidara dan Ino untuk duduk.
Setelah sesi perkenalan, sesi percakapan kedua keluarga itu pun dimulai.
"Kenapa Anda pindah kemari? Sebelumnya Anda tinggal dimana Nyonya Mikoto?" tanya Ino sopan.
"Ah itu, kami hanya merasa kurang nyaman tinggal di rumah lama kami. Sebelumnya kami tinggal di Prefektur Oto. Kalau Ino-chan sendiri, dari sekolah mana?" tanya Mikoto tak kalah antusiasnya.
Ino sedikit menunduk malu-malu, "Saya..belajar di Konoha High."
Nyonya Mikoto tampak sedikit terkesiap, "Benarkah? Jadi kau dan Sasuke-chan berteman?"
Tampak Sasuke yang sedikit geram dengan panggilan ibunya, sementara Itachi malah lebih menggodanya. Ino dan Deidara menahan tawa mereka.
"Ibu. Jangan panggil−,"
Nyonya Mikoto menimpali, "Aish...jangan memotong pembicaraan Sasu-chan. Nah Ino-chan, sampai dimana kita tadi?"
"Etto−."
"Ah ya, aku ingat! Apa kau dan Sasu-chan berteman?"
"Etto...kami belum saling kenal. Saya siswa baru tahun ini."
Nyonya Mikoto mengangguk memahami, "Sou desu ne. Kalau begitu, kalian ngobrol dulu saja, akan kubuatkan minuman untuk kalian." dengan begitu Nyonya Mikoto beranjak ke dapur diikuti Tuan Fugaku yang entah pergi untuk apa.
Tinggallah hanya kedua saudara dari kedua keluarga itu di ruang tamu.
Sesaat setelah kesunyian yang terjadi, Deidara dan Itachi memecahnya dengan pembicaraan ala mereka. Entah itu perihal kuliah, karir, bahkan sampai pembicaraan yang entah apa menyangkut nama 'Akatsuki'.
Ino menghela nafas bosan. Kakaknya menemukan teman bicara sementara kalau dilihat-lihat, sosok di depannya yang tengah menatapnya lekat ini seperti bukan tipe orang yang suka bicara, Sasuke berbeda dari kakaknya.
Lagi, Ino menghela nafasnya. Ia lebih baik mencoba membuka pembicaraan.
"Ano...Senpai?" Ino memulai.
"Hn."
"Senpai dari kelas apa?"
"2-1."
"Satu kelas dengan Neji-senpai?"
"Hn."
"Ikut tim sepak bola?"
"Hn."
"Apa yang Senpai sukai?"
"Tidak ada."
"Yang tidak Senpai sukai?"
"Banyak."
"Hobi Senpai apa?"
"Bukan urusanmu."
SIIING
"Mungkin aku akan membencimu...Senpai," gumam Ino lirih. Ia kesal, ehm, sedikit kesal. Baru mencoba mengajak bicara sekali saja, jawaban Sasuke seakan memintanya diam. Ia akan mati kebosanan kalau lawan bicaranya seperti itu.
Tapi, bukan Yamanaka Ino yang mudah menyerah seperti itu. Ia akan lebih beru−
"Ino-chan, waktunya kita pulang," potong Deidara menyadarkan Ino.
"Oh? Ah, ya. Ta-tapi kenapa terburu-buru?"
"Benar. Kenapa terburu-buru?" sahut Nyonya Mikoto yang baru keluar dari dapur sambil membawa nampan berisi minuman.
"Orang tua kami sebentar lagi pulang. Kami harus ada di rumah sebelum mereka sampai," jelas Deidara yang bersiap untuk pergi diikuti Ino di sampingnya.
Namun, panggilan Nyonya Mikoto lebih dulu menghalangi mereka, "Chotto matte! Kenapa tidak ajak mereka ke sini saja?"
Ino dan Deidara saling melempar pandang. Kemudian Ino menoleh pada Sasuke yang juga tengah menatapnya dengan wajah datar.
Mungkin hari ini akan menjadi hari yang panjang bagi Ino.
{From: Ino
To: Mr.X
Mr.X, hari ini aku kedatangan tetangga baru. Tak kusangka dia kakak kelasku sendiri. Huft.}
[From: Mr.X
To: Ino
0.o? Kau tampak tak menyukainya?]
{From: Ino
To: Mr.X
Tentu saja. Dia itu menyebalkan. Sulit diajak bicara.}
[From: Mr.X
To: Ino
Siapa dia? Apa tak ada satu hal pun yang membuatmu menyukainya?]
{From: Ino
To: Mr.X
Dia Uchiha Sasuke. Emm...dia lumayan tampan. Ah tidak, dia tampan banget malah, tapi tetep menyebalkan. :- }
Ino menyudahi sebentar tulisannya. Ia beranjak menuju jendela untuk menutupnya. Hari sudah malam, sudah menjadi kebiasaannya untuk menutup jendelanya di jam-jam seperti ini.
Sebelum ia sempat menutup jendelanya, sebuah ruangan bercahaya di depannya menarik perhatiannya. Sebuah ruangan yang diduganya salah satu ruang kamar keluarga Uchiha.
'Tapi milik siapa?'
Ino terus saja memandanginya hingga gorden kuning dari kamar itu dibuka, membuatnya lagi-lagi bertatap mata dengan onyx itu untuk beberapa menit.
Menyadari apa yang dilakukannya, Ino langsung mengalihkan perhatiannya. Sudah memandanginya, ketahuan lagi. Siapa yang tak malu? Ino pun malu.
Ditambah, degup jantung yang tiba-tiba muncul karena kejadian 'tatap-menatap' itu, serta perasaan aneh, terus saja mengganggunya.
Ino kembali menatap pemuda itu, menutup matanya sebentar karena ia tahu perasaan barusan akan kembali muncul bila ia membuka mata. Setelahnya ia membuka matanya dan sedikit membungkuk hormat pada sosok itu. Lalu, dengan cepat menutup jendelanya dan berlari ke kasurnya.
BRUK
Ino merebahkan dirinya.
"Hah hah, aku- aku pasti sudah gila." Ino memegangi pipinya. Matanya melebar tak percaya.
"Aku tak mungkin menyukainya. Aku tak mungkin menyukainya. Aku membencinya. Aku pasti gila. KYAAA..," teriaknya histeris. Bahkan matanya sampai tertutup dan kepalanya menggeleng-geleng keras demi membuang pikiran konyol barusan.
(Di kamar Deidara)
Deidara mengambil bantal dan membenamkan kepalanya dengan benda empuk itu.
Dengan wajah geram, ia menggerutu, "Dasar gila."
(Di kamar Ino)
Ino meraih blindernya dan langsung menambahkan beberapa kata dari pesan terakhirnya.
{Ini tidak mungkin. Aku pasti sudah gila. Aku pasti sudah gila. :-O?}
Selanjutnya Ino langsung menutup blindernya dan kembali merebahkan dirinya di kasur empuknya. Kali ini dengan membenamkan kepalanya dalam bantal putihnya, menutup wajahnya yang merona karena pemikiran konyolnya.
"Aku benar-benar sudah gila."
[From: Mr.X
To: Ino
Hei! Ada apa denganmu? Kau tak menyukai tetangga barumu, tapi kau memujinya. Selain itu apa maksud kata 'gila' itu? 0.o?]
{From: Ino
To: Mr.X
Memujinya bukan berarti menyukainya. *annoyed*.
Tapi, aku pikir aku benar-benar gila. Ini benar-benar tak mungkin. Aku, kurasa.. Aku 'menyukai'nya.}
Ino menghentikan tulisannya sebentar lalu memandang jendela kamarnya yang terbuka. Di depan sana, terlihat jelas bayang-bayang seorang laki-laki yang sedang duduk serius seperti sedang belajar dari balik gorden jendela.
Ino memangku kepalanya dengan satu tangan. Wajahnya menyiratkan sedikit kekhawatiran.
"Benarkah aku sudah jatuh cinta padanya? Hanya karena beberapa tatap-mata-tak-sengaja kami?" gumam Ino sendiri. Namun, tetap saja pertanyaannya tak mendapat jawaban apapun.
"Haaaah..." Ino menghela nafas frustasi.
"Aku benci perasaan mengganggu seperti ini."
{Apa yang harus kulakukan Mr.X?}
Lusanya, Ino mendapat balasan dari Mr.X.
[From: Mr.X
To: Ino
Kalau menyukainya, ungkapkan saja. ;-)]
{From: Ino
To: Mr.X
Benar-benar jawaban yang ringkas, padat, dan jelas, Mr.X.
Tapi, bukan itu masalahnya.
Aku, aku tak suka perasaan seperti ini. Selain itu, aku tak yakin aku benar-benar menyukainya.}
[From: Mr.X
To: Ino
Benarkan? :-/. Perasaan suka itu menyenangkan. Kenapa kau justru tak menyukainya? Lalu apa yang membuatmu berpikir kau menyukainya?]
{From: Ino
To: Mr.X
Aku...aku sendiri tidak tahu. Perasaan itu mengingatkanku pada sahabatku. Kami berpisah karena seorang laki-laki. Ia menjadikanku rival sejak saat itu. :-(. Aku takut teringat kembali perasaan itu. :-( .
Haaah...yang membuatku menyukainya...mungkin...karena matanya. Mata hitamnya. Aku menyukai mata hitam itu.}
[From: Mr.X
To: Ino
Kau tak bisa selamanya melarikan diri dari perasaan itu. Suatu hari pasti akan datang saat-saat seperti ini. Kau hanya butuh waktu untuk belajar menerimanya.
Dan kurasa, kalau kau tidak yakin akan perasaanmu, kau harus membuatnya yakin. Cobalah mengenalnya. Mungkin dia akan tersenyum padamu. ;-) ]
"Mencoba mengenalnya? Bicara dengannya gitu?" gumam Ino sendiri.
Sejenak ia terdiam di duduknya, memikirkan keputusan apa yang akan dibuatnya. Mencoba memastikan perasaannya dengan lebih mengenali pemuda itu. Akankah semua baik-baik saja?
Ino kembali meneruskan bacaanya.
[Lagipula, kau tidak sedang punya teman yang bersaing mendapatkannya, benarkan? :-]
Benar. Ia tidak sedang punya teman yang sekiranya juga menyukai Sasuke. Tenten sudah menaruh mata pada Neji. Sementara Hinata, setahunya, gadis manis itu sedang mengencani Naruto, yang juga kakak kelas mereka.
"Haaah..." Ino menghela nafas. Ia beranjak menuju jendelanya, menatap jendela yang tertutup gorden yang ada di seberang kamarnya.
Ia kembali teringat tulisan Mr.X, 'Kau hanya harus belajar menerimanya.'
"Belajar menerimanya?"
Ino melihat bayangan Sasuke yang berjalan mendekat ke jendela. Tangannya terangkat menyentuh gorden.
'Semua akan baik-baik saja.'
"Benar. Semua akan baik-baik saja."
Dan bayangan tangan itu akhirnya berhasil menyibak gorden penghalang di antara mereka. Ino kembali beradu pandang dengan pemilik manik onyx di seberangnya.
"Semua akan baik-baik saja." ia menyemangati diri sendiri.
Sasuke juga tetap diam menatap Ino. Seperti menunggu Ino untuk melakukan sesuatu.
Dan Ino pun mempunyai ide. Ia tersenyum, tak lupa memberi isyarat pada Sasuke untuk tetap di tempatnya sebentar. Lalu ia masuk ke dalam kamar.
"Dimana buku gambarku? Ah! Ini dia." Ino kembali ke jendelanya dengan sebuah buku gambar serta krayon hitam di tangannya. Ia membuka halaman kosong dan menulis sesuatu di dalamnya.
Sasuke hanya diam menunggu. Sebelah alisnya terangkat. Namun, sebuah senyum tipis yang kelewat tipis menghiasi bibirnya melihat tingkah gadis di depannya.
Senyum itu semakin bertambah ketika dilihatnya tulisan rapi di buku gambar yang ditujukan padanya.
{Senpai. Aku tak suka berteriak malam-malam. Jadi...}
Ino membalik lembar buku gambarnya.
{Bisakah kita berangkat sekolah bersama besok?}
"Kheh." Sasuke berjalan meninggalkan jendela kamarnya, membuat Ino terbengong tak percaya. Ia tak menduga Sasuke hanya diam dan tak menghiraukannya. Ia menunduk kecewa.
"Semua tidak baik-baik saja, Mr.X," gumamnya sendiri sebelum kemudian menghela nafas dan memutuskan untuk kembali saja ke dalam kamarnya. Ia sudah ditolak bahkan masih di awal perjalanan. Memang bukan awal yang indah.
"HEI!"
Ino terkesiap. Teriakan itu...ia memutar kepalanya ke luar jendela dan terkejut menemukan lembaran putih buku gambar yang tertulisi sesuatu.
[Besok jam 07.30 pastikan kau sudah siap.]
Esoknya, sesuai rencana. Pukul 07.30 Ino sudah selesai bersiap.
"Aku berangkat dulu." Ino sudah akan membuka pintu kalau saja suara Deidara tak menghentikannya.
"Tumben sekali. Kau tak mau kuantar?"
"Tumben sekali, kau baik padaku Dei-nii. Khufufu," jawaban Ino membuat Deidara sedikit geram, "Kau ya."
"Bye, Dei-nii. Aku berangkat dulu." dengan begitu, Ino berbalik dan membuka pintu bersiap keluar.
CKLEK
Pintu terbuka. Dan sosok yang tidak disangkanya ada di depannya.
"Senpai?" pekik Ino setengah terkejut.
"Iya, ini aku. Bisa kita berangkat sekarang?"
Ino tersenyum lembut mendapat tawaran Sasuke. Kemudian, mengambil langkah di samping Sasuke. Mereka pun mulai berjalan bersama dalam sunyi. Benar-benar sunyi.
Beberapa menit berlalu.
Bosan. Ino sudah merasa bosan dalam kesunyiannya.
"Senpai?" Ino memulai.
"Hn."
"Kenapa kau memilih berjalan kaki? Biasanya kau satu mobil dengan Itachi-nii." tanya Ino.
Sasuke menaikkan sebelah alisnya, "Bukankah ini tujuanmu mengajakku berangkat sekolah bersama?"
"Jalan kaki bersama?"
"Bukan. Tapi untuk bicara denganku, benarkan?"
Ino berhenti sejenak. Matanya melebar sempurna. Sasuke yang berjalan di depannya, begitu merasa Ino tak mengikutinya, akhirnya ikut berhenti dan menoleh ke belakang. Matanya melembut melihat Ino yang terbengong menatapnya.
"Apa kau akan berdiri−."
"Bagaimana kau mengetahuinya?" potong Ino.
Bahkan matanya sampai menyipit, memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang ada di benaknya.
"Apa maksudmu?" tanya Sasuke.
"Ba-bagaimana kau− Ah! Tidak. Lupakan saja! Ayo berangkat!" dan Ino kembali mengambil langkah di samping Sasuke yang menatapnya sambil berseringai.
Sepanjang perjalanan, kali ini dipenuhi dengan kesunyian. Ino, pandangannya menerawang jauh ke depan. Sementara benaknya tengah berdebat antara membenarkan dugaannya dan sebaliknya.
'Sasuke tak mungkin bisa membaca pikiranku. Ia juga pasti bukan Mr.X. Atau...justru sebaliknya?'
Ino menoleh ke samping. Ke arah pemuda yang tengah fokus menatap jalan di depan mereka. Pemuda ini, rambutnya hitam kebiruan. Matanya hitam tajam dan kelam. Mata yang menurut Ino menyimpan banyak emosi. Mata yang telah membuatnya terpikat.
Sudah benarkah keputusannya ini? Mencoba mengenali Sasuke? Sudah tepatkah orang yang ia pilih ini?
"Kenapa menatapku seperti itu? Huh?" ucap Sasuke tiba-tiba.
Ino sedikit terkejut, namun sama sekali tak mengalihkan perhatiannya dari Sasuke yang kini juga sedang menatapnya.
"Tidak. Bukan apa-apa. Aku sempat berpikir kau adalah orang yang selama ini telah berhubungan denganku," jawab Ino. Ia kembali menatap depan.
"Hubungan?" tanya Sasuke.
Ino sedikit terkesiap. Ia lupa telah memberitahu Sasuke rahasianya dengan Mr.X.
Ino kembali berpikir. Bagaimana ia bisa menyebut komunikasinya dengan Mr.X adalah rahasia? Bukankah ia atau Mr.X tak pernah membuat perjanjian bahwa komunikasi mereka adalah rahasia. Jadi, mungkin menceritakannya pada Sasuke bukanlah suatu yang salah.
"Bukan. Bukan 'hubungan' yang semacam itu. Jangan berpikir macam-macam! Maksudku 'hubungan', hanya sekedar pertemanan," jelas Ino sambil tersenyum.
"Lalu apa maksud 'orang yang selama ini telah berhubungan denganku'?" tanya Sasuke sekali lagi.
"Oh, itu. Aku punya penpal. Aku menyebutnya Mr.X. Mr.X tak memberitahuku identitasnya. Aku juga akan tetap menunggu sampai ia memberitahuku identitasnya."
Sasuke tetap diam saja, membiarkan Ino melanjutkan ceritanya.
"Dan aku sempat berpikir, kaulah Mr.X itu. Tapi- tapi itu tidak mungkin kan, Senpai? Aku pasti sudah menduga yang tidak-tidak tadi. Haha." Ino tertawa dipaksakan. Ia benar-benar merasa gila. Pertama perasaannya pada Sasuke yang belum pasti membuatnya sempat kehilangan akalnya. Kedua, malah menduga Mr.X adalah Sasuke.
Konyol. Yamanaka Ino terlalu mengada-ada.
"Ayo cepat! Kita terlalu banyak memakan waktu hanya untuk berjalan ke sekolah saja. Lebih baik kita cepat." dengan begitu, Sasuke meraih tangan Ino dan mengajaknya berlari.
Ino sendiri, sedikit terkejut karena tangannya tiba-tiba digandeng begitu saja oleh Sasuke. Tapi, ia memilih diam menurut. Senyum pun muncul di bibirnya.
Entah benar atau tidak dugaannya tadi, tapi untuk saat ini, janganlah semua terungkap. Biarlah semua berjalan seperti biasanya. Ia hanya harus menerimanya dan menjalaninya. Oh! Jangan lupakan ini, menikmatinya. ;-)
{From: Ino
To: Mr.X
Aku sudah memulai percakapan dengan Sasuke. :-) . Dia lumayan pintar. Dia bahkan bisa menebak niatku yang ingin memulai hubungan dengannya. Ckckck.
Tapi, ada satu hal yang sempat mengganjal di pikiranku. Mungkin kau bertanya apa itu.
Kau tahu, cara dia menebak pikiranku membuatku berpikir dia adalah kau Mr.X. :-| . Tapi itu konyol sekali. Xixi. Bagaimana menurutmu?}
[From: Mr.X
To: Ino
Kenapa kau berpikir seperti itu? :-/ . Menurutku kau berhak menebak. Tapi, aku tetap tidak akan memberitahumu identitasku sebelum waktunya. ;-) .
Lalu, apa lagi yang bisa kau ceritakan padaku?]
{From: Ino
To: Mr.X
Kau tahu Mr.X? Sampai di sekolah, aku benar-benar menjadi pusat perhatian. Bukan karena aku punya fans, tapi karena aku berjalan dengan seorang yang mempunyai fans. Kau tahu apa pendapatku?
Menyebalkan. :-( }
[From: Mr.X
To: Ino
Haha. Mereka hanya tidak suka kau berada di sampingnya. Bukan berarti mereka akan menerkammu kan? :- .
Teruslah mencoba. Aku mendukungmu dari sini. ;-) .]
Ino sedikit terkesiap.
'Mendukungku?' entah mengapa, pipi Ino sedikit memanas. Ia senang. Ia tersanjung.
Ino menggelengkan kepalanya. Ia tak boleh berpikir macam-macam. Ia masih mempunyai masalah perasaan terhadap Sasuke. Ia tak boleh menambah perasaan asing mengganggunya.
{From: Ino
To: Mr.X
Iya. Doakan aku agar mereka tak membunuhku dengan tatapan mereka. :-) .
Terimakasih. Dukung aku ya. :-) .}
Ino mengamati tulisannya. Terasa berbeda, tapi ia tak berusaha menghapusnya. Baru ia sadari, baru kali ini ia berterimakasih pada Mr.X. Walau mereka tak pernah saling bertemu satu sama lain, yah begitulah menurutnya, tapi ia seakan berhadapan langsung dengan Mr.X.
Senyum pun perlahan berkembang di bibirnya.
"Terimakasih, Mr.X."
"Hai!" panggil Ino pada Sasuke yang baru saja keluar rumah, bersiap sekolah. Ia berlari mendekati Sasuke dengan ceria.
"Apa yang terjadi padamu? Eh?" goda Sasuke.
"Hehe. Bukan apa-apa. Ayo jalan!" ajak Ino semangat. Perasaannya begitu indah hari ini.
Dukungan yang diberikan Mr.X membuat hatinya benar-benar cerah.
"Kau berbeda hari ini. Keberatan bila aku tahu?" tanya Sasuke.
Masih dengan senyumnya, Ino menoleh ke lawan bicaranya.
"Hmm...ya."
"Jadi, kita sedang bermain rahasia-rahasiaan?"
Ino sedikit menaikkan alisnya. Seringaian pun menghiasi bibirnya.
"Apakah kita saling terbuka sejak awal?" tanya Ino.
"Huh?"
"Tentu saja tidak," dengan begitu Ino meneruskan perjalanan dengan riangnya. Bahkan ia juga bersenandung di sepanjang jalan.
"Kheh." Sasuke hanya tersenyum melihat tingkah adik kelasnya itu. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celana dan ia pun mengambil langkah cepat kalau tidak mau ketinggalan gadis pirang itu.
[From: Mr.X
To: Ino
Bagaimana? Ada perkembangan? :-| .]
{From: Ino
To: Mr.X
Ya. Kami lumayan akrab. Fangirls-nya tambah kejam menatapku. Bahkan ada satu anak yang berani mendatangiku di saat aku jelas-jelas masih di samping Sasuke.
Dia mengancamku untuk tidak dekat-dekat dengan Sasuke. Yah, aku sudah menduganya sih.
Tapi, kau tahu apa yang menarik? :-| Sasuke memisahkanku dari anak itu dan menarikku pergi. Aku hampir melihat air mata jatuh ketika anak itu melihat Sasuke membawaku pergi. Aku kasihan padanya. :-( .}
[From: Mr.X
To: Ino
Baguslah kalau kalian mulai akrab. :-) . Tapi kau tak perlu merasa kasihan atau bahkan merasa bersalah. Itu mereka sendiri yang memulainya. Mereka yang menyukai Sasuke, mereka harus menerima konsekuensinya ketika mereka ditolak.]
{From: Ino
To: Mr.X
Jadi maksudmu aku juga harus menerima konsekuensinya ketika aku menyukai seseorang. Seperti aku kehilangan sahabatku? :-/ .}
[From: Mr.X
To: Ino
Maaf membuatmu teringat. Kurasa hal itu termasuk konsekuensinya, tapi menyukai seseorang dapat membuatmu bahagia. ;-) .]
{From: Ino
To: Mr.X
Entahlah. Aku tak tahu. Kalaupun aku bisa memutar waktu, aku akan memilih kehilangan perasaan menyenangkan itu daripada kehilangan sahabatku. :-( . Karena efek kehilangan sahabat hingga sekarang aku masih merasakannya.}
[From: Mr.X
To: Ino
Kau salah, Ino. Kalau benar sahabat kecilmu itu mengganggapmu sahabat, ia tidak akan memutus persahabatan kalian hanya karena masalah yang kau sendiri menyebutnya masalah kecil. :-) .
Ada benarnya. Efek kehilangan sahabatmu hingga sekarang kau masih merasakannya. Itu berarti kau memang menganggap persahabatanmu penting. Kurasa, sahabatmu itu, hanya mementingkan dirinya daripada kamu.
Jangan merasa bersalah dan mencoba lari dari yang ada. Dialah yang harusnya merasakan konsekuensi dari menyukai seseorang. ;-) .]
Ino mau tidak mau tersenyum. Lagi, Mr.X berusaha menghiburnya. Dan ia berhasil. Hati Ino sedikit ringan sekarang. Mungkin benar apa yang ditulis Mr.X, yang seharusnya menerima konsekuensi karena menyukai seseorang adalah Sakura bukan dirinya. Sakura harus lebih terbuka, bukan malah memilih cinta di samping persahabatan.
Ino berdiri. Ia berjalan menuju jendela. Melihat keluar, tepat ke ruangan di seberangnya.
Sebuah bayangan yang terlihat sedang belajar serius tertangkap matanya. Kali ini bayangan itu tidak tertutup gorden transparan seperti biasanya. Jadi, Ino dapat melihat jelas apa yang apa yang dilakukan pemilik siluet itu. Senyum manis menghiasi bibirnya.
"Aku akan tetap mencoba, senpai. Dan aku akan menerima konsekuensinya."
Satu tahun berlalu. Hubungan Ino dan Mr.X masih berjalan lancar. Begitupun hubungan Ino dan Sasuke juga semakin akrab. Para fansgirls Sasuke juga tak lagi mengganggunya, karena mereka tahu usaha mereka hanya akan sia-sia saja, mengingat Sasuke terus saja membela Ino di samping fansgirls-nya. Lagipula, siapa juga yang akan membela pengganggu seperti fansgirls? Yah, itulah pendapat Sasuke.
"Aku berencana menembaknya." pekikan Tenten membuat Ino menoleh pada si empunya.
Mereka sedang makan siang bersama di kantin bersama Hinata. Serta dua orang lain yang diseret Ino untuk ikut makan siang bersama, Shikamaru dan Chouji.
Yah, Ino telah menemukan sahabat masa kecilnya selain Sakura. Mereka berlima pun berakhir menjadi teman akrab.
"Kau yakin, Tenten?" tanya Ino.
"Tentu saja. Aku tak tahan untuk tidak mengungkapkannya." Tenten tersenyum.
"Hei! Sebenarnya ini terlalu merepotkan. Tapi aku hanya ingin mengingatkanmu, apa kau sudah yakin kalau perasaanmu itu perasaan cinta? Atau hanya sekedar suka dan kagum? Kebanyakan remaja tidak menyadarinya." Shikamaru berkomentar. Setelahnya, ia kembali mengambil posisi tidur, walaupun di kantin.
Tenten terkesiap. Tak hanya Tenten, Ino pun ikut terkesiap. Mereka sama-sama menatap Shikamaru dengan tatapan bertanya.
"Apa maksudmu, Shikamaru?" gumam Tenten lirih, namun cukup didengar teman-temannya. Dilihat dari raut wajahnya, sepertinya ia menyadari sesuatu.
"M-maksudnya, a-apa kau m-menyayanginya? A-apa kau peduli p-padanya kalaupun ia mempunyai masalah? Atau kau h-hanya menyukainya k-karena kagum padanya. I-itu maksud Shikamaru-kun," sahut Hinata.
Tenten sedikit tertunduk. Ia berusaha mencerna setiap kata-kata Shikamaru dan Hinata. Mencocokkannya dengan isi hatinya yang sebenarnya.
Setelah sekitar satu menit berlalu, Tenten angkat bicara, "Benar juga, mungkin aku hanya kagum padanya. Aku tak pernah benar-benar bicara langsung dengannya, jadi aku tak bisa memastikan aku peduli padanya atau tidak. Aku...aku akan berpikir ulang untuk menyampaikan perasaanku." Tenten tersenyum. Hinata yang ada di sampingnya juga ikut tersenyum. Tangannya beralih menyentuh bahu Tenten untuk menghiburnya.
Walaupun terlihat tertidur, tapi Ino tahu, Shikamaru juga ikut senang mendengar keputusan Tenten. Chouji pun terang-terangan menyemangati Tenten.
Sementara itu, tanpa mereka sadari, seorang diantara mereka hanya terdiam, kalut dalam pertarungan hati dan benaknya.
'Menyayanginya? Peduli padanya?'
{From: Ino
To: Mr.X
Aku tak tahu Mr.X. Apa aku mencintai Sasuke atau tidak. Aku tak yakin dengan perasaanku. :-(}
[From: Mr.X
To: Ino
Jadi, ini hasil usahamu selama ini? Kau masih tak yakin akan perasaanmu? :-/ .]
{From: Ino
To: Mr.X
Entahlah. Yaah, mungkin aku terkesan membuang-buang waktu sekian lama ini untuk memastikan perasaanku, tapi pada akhirnya aku masih ragu.
Aku tahu ini konyol, tapi aku tak tahu bagaimana lagi. :-/ }
Esoknya, sepulang sekolah Ino berjalan beriringan bersama Tenten dan Hinata seperti biasa.
"Apa aku harus terpancing lebih dulu untuk memastikan hatiku? Huh?" kata Tenten.
"Maksudmu apa, Ten?" tanya Ino. Tentu ia tertarik pembicaraan seperti ini. Keadaan Tenten lumayan mirip dengan keadaannya.
"Maksudku, apa aku butuh orang ketiga di antara kami untuk memastikan aku mencintainya atau tidak."
"Lalu jawabannya? Bukankah hanya akan terasa menyakitkan." Ino semakin penasaran.
Tenten tersenyum, "Akan terasa sangat menyakitkan kalau aku benar-benar mencintainya."
"J-jadi maksudmu, bila k-kau hanya sekedar m-mengaguminya, k-kau akan d-dengan mudah untuk m-move on begitu?" tanya Hinata.
Tenten menggangguk semangat.
Ino, mau tidak mau merasa ide Tenten termasuk gila tapi di sisi lain juga ide yang bagus.
'Apa aku mesti mencobanya?' pikir Ino.
Seakan membaca doa Ino, sebuah adegan yang tak disangkanya tertangkap indera penglihatannya. Tubuhnya kaku seketika. Matanya melebar sempurna. Bahkan tanpa sadar, ia sudah berhenti berjalan, menimbulkan tanya di benak Hinata maupun Tenten.
Tepat agak jauh dari gerbang, seorang remaja putri berambut coklat pendek berjingkat dan akhirnya berhasil mencium pipi pemuda yang diidam-idamkannya selama ini. Sementara pemuda itu hanya diam tak menolak, di bibirnya terpatri senyum yang belum pernah ditunjukkannya pada orang lain, termasuk Ino.
Dan yang jelas sekarang ini, matanya terasa perih. Hatinya tak kalah sakit. Ia tahu apa yang terjadi padanya.
Tepat saat ini, ia cemburu.
Finally, chapter 2
Spesial Thanks buat yang udah review, ng-follow, oh atau bahkan ng-fav fic ini. Terimakasih. ^.^
Main tu Rid en Riviyu?
