Maaf Minna, kali ini updatenya agak lama *emang lu pernah update cepat?*

Okelah langsung saja.

Story : Raburetaa

Declaimer © Masashi Kishimoto

...

"A-aku masih ada urusan lain. K-kalian pulang saja dulu." suara Ino terdengar bergetar. Matanya tak lepas dari dua pasang manusia yang membuat hatinya sakit, tak jauh di depannya. Ia sudah tak tahan.

Perlahan, kakinya bergerak mundur.

"I-Ino-chan! Kau kenapa?" bahkan pertanyaan khawatir Hinata tak dihiraukannya. Ino langsung berbalik dan lari begitu saja, meninggalkan kedua temannya yang menatapnya prihatin.

"Aku khawatir padanya," gumam Tenten.

Ino berlari tak tentu arah. Sudah tentu hatinya sakit saat ini. Hanya melihatnya saja, rasanya sangat perih. Inikah yang dinamakan cinta? Benarkah perasaannya terhadap pemuda Uchiha itu selama ini adalah cinta?

BRUK

Tak memperhatikan jalan, Ino pun bertubrukan dengan orang lain. Tubuhnya dan orang itu terjatuh bersamaan mengenai lantai koridor.
Ino tak melihat siapa yang ditubruknya. Ia sudah akan minta maaf ketika didengarnya gumaman orang itu, "Mendokusei na."

Sontak saja Ino mendongak. Shikamaru, sahabatnya, sudah berdiri tegak sambil mengulurkan tangannya.

"Kau mau berdiri tidak?"

Ino mengangguk, ia menerima uluran tangan Shikamaru.
Sunyi pun sempat mengisi ruang setelah ia mengemasi barangnya yang ikut terjatuh tadi.
Mereka pun mulai berjalan beriringan, keluar dari gedung sekolah.

"Kau menangis?" pertanyaan itu lebih terdengar seperti pernyataan. Namun, Ino tetap menjawabnya.

"Bukan apa-apa kok, hanya masalah ke-." lagi, kalimatnya terhenti di tengah-tengah. Matanya kembali terpaku dengan sosok yang membuatnya menumpahkan air mata di depan Shikamaru.

Memang belum sampai lima menit jarak waktu sejak ia berpisah dengan kedua teman perempuannya dan saat ini, tapi ia tak menyangka di selang waktu itu juga Sasuke masih senang-senangnya bergurau dengan gadis asing yang membuatnya ingin menghilang dari situ.

Ino benar-benar tak tahan dengan pemandangan di depannya.

"Haaah...karena itu ya." gumaman Shikamaru membuatnya tersadar dari dunianya.

"A-apa?" namun, Ino tak mendapat jawaban dan malah melihat Shikamaru yang melepas jaketnya.

"Nih!" Shikamaru melempar jaketnya pada Ino.

"Pakai jaket itu, dan tutupi kepalamu dengan tudungnya!" perintah Shikamaru.

"T-tapi—."

"Kau ingin bersembunyi darinya, bukan?"

Ino sedikit terkesiap, namun anggukan kecil tetap menjadi jawabannya.
Ino mau tidak mau sedikit lega karena Shikamaru mengerti dirinya tanpa ia harus bercerita. Lagipula, Ino sendiri tidak tahu, apa ia mampu bercerita di saat hatinya kacau balau seperti ini.

Ino segera bergerak. Ia pun memakai jaket yang dipinjami Shikamaru dan menutupi kepalanya dengan tudung jaket itu.

"Bersembunyilah di sampingku!" Shikamaru kembali memerintah. Ia menarik tangan Ino untuk mengambil tempat di samping kanannya.

Ino hanya diam menurut. Ia tahu, Shikamaru paling mengerti dirinya. Ia hanya akan mengikuti saran pemuda jenius itu.

Mereka pun mulai berjalan. Ino semakin menempel pada Shikamaru. Kepalanya menunduk dan sedikit bersembunyi di lengan Shikamaru.
Menghitung dalam diam. Sebentar lagi ia sampai tepat di depan Sasuke dan gadis lain itu. Jantungnya sudah berdetak tak menentu. Antara takut dan sedih. Ia tak ingin menampakkan wajahnya di hadapan Sasuke. Tidak untuk saat ini, tidak untuk saat dirinya sedang rapuh.
Begitu ia dan Shikamaru sudah sangat dekat, dengan jelas ia dapat mendengar apa yang kedua manusia itu bicarakan.

"Sasuke-kun! Nanti aku ke rumahmu yah?" tanya gadis itu senang.

"Kheh. Untuk apa?" walau Ino tak melihatnya langsung, ia tahu, dari nadanya, Sasuke tengah berseringai saat ini. Hal ini semakin membuat hatinya sakit.

"Ayolah Sasuke, aku juga sudah kangen Itachi nih..," gadis itu tak kunjung mengalah. Ino pun semakin mengambil langkah cepat. Ia tak mau berada ataupun mendengar ucapan mereka lebih lama. Lebih tepatnya, ia tak mau sakit hati lebih lama.

'Mereka dekat sekali,' pikir Ino cemburu. Ia merasa sudah kalah sebelum ia sempat menyampaikan isi hatinya pada pemuda itu. Gadis tadi, membuatnya iri dan menyayat hati.

"Kita sudah jauh dari mereka." ucapan Shikamaru menyadarkannya. Ino sedikit menoleh ke belakang. Dan benar saja, ia dan Shikamaru sudah berjalan cukup jauh dari kedua sejoli tadi. Satu hal yang masih menjadi tanya di benak Ino, mengapa Sasuke sedari tadi hanya bersandar di tembok pembatas sekolah dan tak lantas pergi dari sana untuk pulang? Atau mungkin ia menunggu orang lain selain gadis coklat itu? Karena kalaupun memang gadis berambut coklat itu yang ditunggu Sasuke, seharusnya mereka segera saja pergi dari sana dan pulang bersama, bukan malah mengobrol lama, bukan?

"Sampai kapan kau mau bersandar di lenganku? Eh?" lagi, untuk kedua kalinya, suara Shikamaru membuyarkannya dari dunianya sendiri.

"Eh? Gomen." Ino lantas melepas pelukan tangannya pada lengan Shikamaru dan kembali menatap depan dengan sedikit menunduk.

"Shikamaru?"

"Hn."

"Terimakasih."

"Kheh. Rasanya seperti de javu," respon Shikamaru yang menurut Ino menyimpang itu, membuatnya menoleh pada si empunya.

"Eh? De javu?"

Shikamaru mendongak, menatap awan yang berjalan pelan di atasnya, pemandangan favoritnya. Sambil tersenyum kecil, ia mulai bercerita. "Entah kau ingat atau tidak, tapi kita pernah seperti ini sebelumnya. Kau menangis karena laki-laki dan kau bersembunyi padaku sama seperti tadi." Pembicaraan ini jelas saja menarik perhatian Ino. Mungkin dengan ini ia dapat menggali ingatannya yang sempat hilang.

"Benarkah? Aku pernah melakukannya? Kapan?" Shikamaru masih tetap memandang awan dan mulai bercerita.

"Waktu masih di akademi, kau bersaing dengan Sakura hanya untuk seorang anak laki-laki. Mirip saat ini, sewaktu pulang, kau melihatnya tertawa dengan Sakura. Kau menangis dan bersembunyi padaku. Ck, lucu sekali kau waktu itu."

Komentar Shikamaru yang terakhir tak Ino pedulikan. Ino tak menyangka, salah satu masa lalunya seperti itu. "Walau merepotkan, tapi aku lebih suka dirimu yang sekarang."

Ino kembali menoleh pada Shikamaru. Alisnya sedikit terangkat. Dan ia cukup merasa penasaran. Bahkan apa yang dialaminya beberapa waktu lalu tak lagi mengganggu benaknya. Hatinya sedikit ringan karena cerita Shikamaru barusan.

"A-apa yang membuatmu berpikir seperti itu?" tanya Ino.

Shikamaru menoleh sambil berseringai. Tangan kanannya beralih untuk melepaskan tudung jaket Ino dan kemudian mengacak-acak rambut pirang Ino.

"Kau tidak secerewet dulu."

Ino tersentak. Pipinya bersemu merah menahan amarah.

"A-APA?! Kau menyindirku ya? HEI! JANGAN LARI, SHIKA!"

...

[From: Mr.X
To: Ino
Baiklah, itu pilihanmu. Apapun itu, aku akan terus mendukungmu. ;-) b.
Bagaimana harimu?]

Ino menghela nafas. Pesan Mr.X mengingatkan sakit hatinya tadi siang. Ia tak yakin ia bisa menceritakannya pada Mr.X.
Tapi, ada satu hal yang mengejutkannya beberapa jam ini. Cerita Shikamaru yang mau tak mau mengganggu benaknya hingga saat ini.
Karena, cerita itu terlalu...ah, mungkin sedikit aneh untuk orang yang sempat kehilangan ingatan seperti dia. Cerita yang hampir tak dipercayainya.

{From: Ino
To: Mr.X
Hariku? Sebenarnya hariku buruk. Seperti de javu. Bukan hanya seperti, tapi memang de javu. :-/ .
Kau ingat? Aku pernah cerita tentang persahabatanku dengan Sakura yang rusak karena seorang laki-laki? Dari cerita Shikamaru dan buku harianku, sebelum kami benar-benar berpisah, aku melihat Sakura dan anak laki-laki itu tertawa di dekat gerbang sekolah. Tentu saja aku sakit hati. Tanpa sengaja aku bertemu Shikamaru dan bersembunyi padanya hanya untuk melewati posisinya dengan Sakura waktu itu. ;-( .
Dan tepat tadi sepulang sekolah, aku mengalami hal yang sama.}

Ino menyudahi sebentar pesannya. Sakit hatinya kembali ia rasakan. Memang sih, menceritakan pada orang lain dapat membuat hatinya lebih ringan. Tapi, begitu teringat lagi, rasa perih itu sulit ditoleransi.

Ino berdiri. Ia berjalan menuju jendela.

Langsung saja alisnya menyatu begitu tak mendapati pemandangan malam seperti biasanya. Ruang kamar di seberangnya tak bercahaya, pertanda si empunya tidak sedang berada di ruangannya. Tak perlu menduga-duga, ingatan Ino kembali ke beberapa waktu lalu di sekitar gerbang sekolah.

'Sasuke-kun, nanti aku ke rumahmu yah?'

'Kheh. Untuk apa?'

'Ayolah Sasuke-kun, aku kan juga sudah kangen Itachi nih.'

Ah, benar! Pasti gadis berambut coklat itu sedang ada di rumah Sasuke. Dan Sasuke kini pasti sedang bersamanya, pikir Ino. Ia tertawa hambar. Walau begitu, terlihat jelas sekali sorot matanya yang meredup. Ia cemburu. Ia benar-benar merasa tersakiti.

Perlahan, air mata mengalir dari kedua pipinya.

"Hiks.. Aku, aku harus menerima konsekuensinya. Aku harus menerimanya. Hiks." surau Ino. Tubuhnya yang awalnya berdiri tegak di bingkai jendela, perlahan lemas dan merosot hingga ia kini terduduk di posisinya. Meratapi sakit hatinya yang terasa mendalam.
Kini ia sadar, perasaannya yang sebenarnya bukan hanya perasaan suka atau kagum.

Perasaannya, adalah perasaan cinta. Cinta murni.

Walau ia tak tahu apa ia peduli pada Sasuke atau tidak, tapi hati yang kini terasa bagai tertusuk, membuatnya yakin. Ia.. telah jatuh hati pada seorang Uchiha Sasuke.

"Hiks.."

...

Selang beberapa menit, Ino berhasil mengendalikan diri. Tangannya beralih mengusap bekas air mata yang mengalir. Dengan kesedihan yang masih tersisa, ia bangkit berdiri. Jalannya menuju kasurnya pun terlihat lunglai, seakan mayat hidup. Malam ini, ia memutuskan untuk tidak belajar saja. Pikirannya yang kacau sulit untuk diajak konsentrasi.

BRUK

Akhirnya ia merasakan kasur empuk yang entah kenapa menjadi sangat dirindukannya.
Tangannya beralih menutupi matanya, berharap sepasang mata itu tak kembali mengeluarkan air mata. Dan satu hal yang terus terngiang di benaknya, kata-kata Shikamaru tadi siang, yang membuatnya merasa lebih sakit hati. Kali ini bukan karena ia cemburu, tapi lebih ke arah...dibohongi.

"Benarkah anak laki-laki itu juga...Sasuke?" gumamnya.

...

Pagi harinya, saat akan berangkat sekolah, kelopak mata Ino terlihat sembab. Moodnya juga tak bagus mengingat ia akan bertemu pemuda yang membuatnya sakit hati. Bahkan candaan Deidara tak mampu membuatnya menampilkan senyum.
Ia pun memilih diam, tak menanggapi gurauan kakaknya.

CKLEK

Kini tibalah saat yang ia takutkan. Ino tak tahu harus bersikap bagaimana di depan Sasuke. Ia tak terlalu bisa menyembunyikan emosi, terutama emosi karena sakit hati dan semacamnya.

"O-Ohayou, Senpai." suaranya terdengar parau. Bahkan ia tak kuat untuk menatap sosok di depannya. Ia tak ingin menatap mata hitam itu. Walau membuatnya terpikat, tapi mata itu juga, membuatnya sakit hati.

Sasuke hanya diam melihat Ino yang berjalan mendekatinya sambil menunduk. Gadis itu hanya diam dan berjalan melewatinya tanpa mengucapkan kata-kata lagi. Dan hal ini sukses membuatnya sedikit geram.

"HEI! Ada apa denganmu?" teriak Sasuke sambil mengambil langkah cepat mendekati gadis yang sudah beberapa meter di depannya.

Ia tak habis pikir, gadis di depannya ini cepat sekali berubah mood dari hari ke hari.
Ino hanya menggeleng, tetap meneruskan jalannya. "Bukan sesuatu yang penting," katanya lirih.

"Lihat ke arahku!" Sasuke menarik paksa lengan Ino dan membuat gadis itu bertatap mata langsung dengan Sasuke.

DEG

Ino...menangis. Dan Sasuke terkejut bukan main. Di matanya, tepat di depan matanya, ia mendapati gadis itu yang terlihat sangat rapuh dan. . .tersakiti.

"Kau...apa yang—." kata-kata Sasuke terhenti oleh gerakan cepat Ino melepas tangannya dari cengkeraman Sasuke.

Ia berbalik dan kembali berjalan menunduk sambil menghapus air matanya. Berjalan bersama seorang yang membuatnya sakit hati, menjadikannya sangat rapuh.

Terlepas dari statusnya sebagai adik kelas ataupun tetangga dekat, ia hanyalah gadis biasa pada umumnya. Jatuh cinta, bahagia, namun juga patah hati.
Ino tak tahu harus bagaimana bila yang ketiga itu menimpa dirinya. Seperti saat ini.

Sasuke pun mulai mengambil langkah beberapa inci di belakang langkah gadis itu. Ia tetap menjaga jaraknya dengan Ino, tak ingin membuat gadis itu tertekan. Pandangannya tak lepas dari sosok yang kini tertunduk rapuh. Mata gadis itu tak terlihat karena poni yang menutupinya. Tapi Sasuke tahu, mata gadis itu sedang menahan cairan bening untuk tidak kembali turun.

Walau tak punya pengalaman menghibur orang, tapi Sasuke harus mencoba menghibur. Selain itu, apa yang mungkin dipikirkan orang kalau mereka melihatnya diam saja padahal di sampingnya seorang gadis tengah menangis.

"Apa kau . . . benar-benar tak ingin cerita padaku?" Ia mencoba, suaranya terdengar dingin, tapi di sisi lain juga tersirat kepedulian di dalamnya.

Ino menggeleng. Sunyi sementara hingga Sasuke kembali bersuara, "Apa . . . tidak ada yang bisa kulakukan untukmu?"

Lagi, Ino hanya menggeleng.

"Apa kau sakit?"

Ino berhenti. Untuk yang kali ini, ia tak lekas memberi jawabannya pada Sasuke. Ino terdiam sejenak.

Andai ia tak mampu menahan diri, ia ingin berteriak pada pemuda itu betapa sakitnya hatinya yang terluka. Betapa bencinya ia melihat Sasuke dan gadis coklat itu bersama kemarin. Dan betapa bencinya ia . . . dibohongi.

"Ino?"

"Aku baik-baik saja," jawabnya. Ia, benar-benar ingin pergi dari tempat itu segera, menjauh dari Sasuke dan menenangkan hatinya yang kacau.

Namun, harapan itu hanya sebuah harapan ketika Sasuke menariknya paksa seperti saat mereka baru saja bertemu tadi pagi.

Lagi, ia bertemu pandang dengan onyx yang kini terlihat kesal.

"Kita boleh saja saling tertutup, tapi . . ," Sasuke melirihkan suaranya, "Apa kau tidak percaya padaku?"

Kini, sunyi yang cukup lama kembali mengisi ruang di antara mereka. Orang-orang yang berlalu lalang di sekitar mereka hanya memandang heran, tak berusaha mengganggu bahkan menegur.

Ino tak mengerti hatinya sendiri saat ini. Pertama, ia sudah mulai membenci pemuda itu, karena pemuda itu bersikap seolah tak mengenalinya, padahal beberapa tahun lalu mereka jelas-jelas berada di satu akademi yang sama. Dan sikap Ino yang bagaikan fansgirl yang selalu mengejar Sasuke, bukan suatu hal yang mudah untuk dilupakan.

Dan sekarang, Sasuke jelas-jelas bersikap seolah ingin dipercaya, bahkan setelah ia membohongi Ino. Ino tak habis pikir.

Perlahan, tangannya berusaha lepas dari cengkeraman Sasuke.
Masih dengan menunduk, ia berkata lirih, "Jangan membuatku . . . lebih tak menyukaimu."
Dengan begitu, Ino segera berbalik dan berlari meninggalkan Sasuke yang menatapnya tak percaya.

...

Ketika jam istirahat, Ino memutuskan untuk beristirahat di atap sekolah. Ia butuh seorang untuk dijadikannya teman curhat tepat saat ini. Walau ia punya Mr.X, Mr.X tak selalu ada setiap ia membutuhkannya. Dan kini ia tepat berada di atap sekolah menatap seorang yang dicarinya sedang tertidur.

"Shika?" panggilnya.

Shikamaru hanya menaikkan sebelah alisnya, walau matanya tertutup. Dan hanya dengan itu saja sudah cukup bagi Ino mengetahui bahwa Shikamaru tidak benar-benar tertidur. Ia mengambil duduk di samping pemuda itu.

"Shikamaru, kau bilang kejadian kemarin pernah terjadi di masa laluku." Ino menghentikan sebentar kalimatnya.

"Lalu, apa yang terjadi setelah itu?"

Mendengar nada sedih yang digunakan Ino, akhirnya Shikamaru membuka matanya. Sosok pirang dengan pandangan menerawang itu tertangkap indera penglihatannya.
Mau tidak mau, Shikamaru merasa prihatin. Ia menghela nafas, kemudian bangun dari tidurnya dan mengambil duduk di samping gadis itu.

"Apa yang ingin kau dengar?" tanya balik Shikamaru.

Ino menunduk, jelas sekali bahwa gadis itu sebenarnya tak menginginkan pembicaraan ini. Tapi ia berusaha untuk tegar.

"Apa setelah kejadian itu . . . semua baik-baik saja?" tanyanya sendu. Kepalanya menoleh menatap Shikamaru.

Shikamaru mengangkat tangannya, beralih pada rambut pirang Ino. Rambut pirang lembut milik seseorang yang sudah dianggapnya sebagai adik. Ia mengusap rambut itu lembut. Senyum pun perlahan berkembang di bibirnya.

"Masa lalu adalah masa lalu." Shikamaru berhenti sejenak. "Semua akan baik-baik saja. Percayalah padaku."

Satu hal yang Ino lupa. Masih ada seorang lagi yang bisa ia beri kepercayaan. Ia mengangguk pasrah.

"Aku . . . percaya padamu."

...

[From: Mr.X
To: Ino
Aku . . . minta maaf.]

Kali ini, Ino dibuat bingung. Pesan terakhirnya pada pemuda itu rasanya aneh bila untuk mendapat jawaban 'maaf'.

Ino pun mengambil pena-nya dan menulis balasan untuk Mr.X.

{From: Ino
To: Mr.X
Untuk apa minta maaf? Aku tidak apa-apa kok. :-)
Mulai hari ini, aku akan move on. Mungkin perjodohan lebih baik untukku. Aku akan konsentrasi belajar. Walau masih beberapa bulan lagi aku naik kelas tiga, tapi belajar dari sekarang lebih baik bukan? :-D .
Eh, Mr.X, bagaimana denganmu?}

Ino tersenyum getir membaca tulisannya sendiri. Ia tak yakin, benar-benar tak yakin kalau ia bisa move on.
Bagaimana pun, Sasuke adalah cinta pertamanya setelah ia lupa ingatan. Bahkan saat masih ingat pun, pemuda itu juga cinta pertamanya. Cinta masa kecilnya dulu.

'Kenapa selalu Sasuke?'

...

Esok harinya, pagi terasa mencekam bagi dua insan yang berjalan beriringan ini. Ino masih terbawa emosinya. Sementara Sasuke, pemuda itu punya pemikiran sendiri dan lebih baik memberi ruang bagi gadis pirang di sampingnya ini untuk termenung.

...

[From: Mr.X
To: Ino
Maaf, aku hanya ingin minta maaf. Kau. . .baik-baik saja? Aku . . . mengkhawatirkanmu.]

Tulisan itu sedikit menghiburnya. Ino, mau tak mau menampilkan senyumnya. Walau banyak goresan dalam pesan Mr.X kali ini, tapi Ino paham, tanpa adanya surat-menyurat ini, Mr.X tak mungkin berani mengungkapkan isi hatinya seperti ini. Yah, dilihat dari goresan-goresan itu.

Ino dapat membayangkan, bila saatnya ia bertemu sosok Mr.X nanti tiba, dugaannya pastilah benar. Mr.X orangnya kaku dan dingin. Seperti Sasuke.

Ah, mengingat nama pemuda itu membuat moodnya berubah 180 derajat. Ia sendiri tak menyangka, butuh waktu berhari-hari baginya melupakan pemuda itu. Bahkan Hinata dan Tenten sudah sangat curiga dengan keadaannya yang bagai mumi berjalan itu.
Tapi, bagaimana bisa ia melupakan pemuda itu kalau setiap pagi ia berangkat sekolah bersamanya.

Ino menggigit bibir bawahnya. Hidupnya terasa suram. Melupakan pemuda itu bukanlah hal yang mudah. Bukan sesuatu yang dapat dilakukan hanya dengan menjentikkan jari.

Ino menoleh ke arah jendelanya yang kini menampilkan pemandangan yang biasa ia lihat setahun terakhir ini.

"Apa aku harus menghindarinya, ya?"

Tapi, sebelum ia mendapat jawabannya, ia harus lebih dulu menjawab pesan Mr.X.

{From: Ino
To: Mr.X
Hehe, thanks. Daripada membicarakan hal ini, bagaimana kalau kita bicara tentang dirimu? :-O . Kalau diteliti lagi, daripada ceritamu, cerita tentangku lebih banyak bukan? Itu kan tak adil. Hiks, ;-(}

...

[From: Mr.X
To: Ino
Kau ingin tahu tentang apa? Kalau kau ingin tahu tentang hari-hariku, hmm, sebenarnya hariku sedikit berbeda dari yang biasanya. Tapi, untuk yang satu ini, aku belum bisa cerita padamu. :-/ .
Kalau kau ingin tahu tentang diriku, aku hanya laki-laki biasa yang sulit bersosialisasi. Kalau itu yang kau maksud.
Tapi, dengan cara seperti ini, aku bisa sedikit bebas. :-) . Kau tahu kan maksudku?]

Sudah Ino duga, seperti itulah Mr.X yang sebenarnya. Sulit bersosialisasi dan sulit menampilkan emosi di dunia nyatanya. Dan dari situ Ino tahu, sedingin apapun seseorang, pastinya ia juga membutuhkan pelampiasan emosinya. Mr.X merasa bebas dengan bicara seperti ini, ia bisa menampilkan emosinya tanpa menurunkan egonya.

Dan yang membuat Ino merasa sangat senang adalah Mr.X mempercayainya sebagai teman pelampiasan emosinya.

Senyum pun semakin berkembang di bibir Ino. Walau dilanda keterpurukan seperti saat ini, setidaknya Ino punya teman yang mendukungnya.

{From: Ino
To: Mr.X
Ya, aku sangat mengerti maksudmu. ;-) . Hey, Mr.X! Apa hal yang kau sukai? Kalau aku, aku suka bunga. Dulu waktu kau memberiku bunga matahari di awal perkenalan kita, kupikir kau sudah mengetahui hal kesukaanku. Jadi, perkiraanku kalau kau Shikamaru bertambah kuat. Karena ia hampir tahu segalanya tentangku. ;-) . Jadi bagaimana? Apa hal yang kau sukai?}

Ino menyudahi tulisannya. Ia penasaran dengan apa yang mungkin jadi jawaban Mr.X. Semakin lama, ia semakin penasaran dengan pemuda itu. Bagaimana sosok pemuda itu sebenarnya? Apakah ia tampan atau biasa saja? Apa ia merindukan Ino sama seperti Ino merindukannya?

Ah. Ino segera menggeleng untuk pemikiran terakhirnya itu. Ia tak boleh berpikir macam-macam. Setidaknya untuk saat suram seperti ini.

...

"Apa. . .kau masih marah padaku?" Sasuke memecah keheningan. Ia memang suka hal yang berbau sunyi maupun hening. Tapi mendapat kesunyian dari seorang Ino bukanlah hal yang biasa baginya.

Ino sedikit terkesiap.

Tapi, sejurus kemudian ia dapat kembali menguasai diri, tanpa Sasuke menyadarinya.

"Ti-tidak," jawabnya surau.

Hening kembali mengisi ruang di antara mereka. Setidaknya, tembok pembatas di antara mereka beberapa hari ini sudah mulai retak. Begitu pikir Sasuke.

Dan kali ini, lagi-lagi Sasuke yang memecah keheningan.

"Kenapa kau masih diam saja?"

Ino sedikit menoleh.

"Memang kau ingin aku bicara apa?"

'Baguslah,' pikir Sasuke lega. Dari nada bicara Ino, ia tahu gadis itu tak marah lagi padanya. Seringaian pun muncul.

"Inikah Ino yang kukenal? Tidak tahu apa yang harus dibicarakannya?" goda Sasuke.
Perempatan kecil muncul di pelipis kiri Ino. 'A-apa?'
Ia berhenti dan berdecak pinggang menghadap Sasuke.

"Jaa, apa maksud Senpai? Mengejekku? Eh?"

Sasuke pun ikut berhenti. Namun, seringaian belum juga menghilang dari bibirnya. Tangannya beralih memegang kedua bahu Ino.

"Tidak. Aku membuatmu seperti Ino yang kukenal."

Sasuke berbalik. Sementara Ino hanya terkesiap mendengar penuturan tersebut.
Pikirannya menjadi berkecamuk karena satu kalimat yang tiba-tiba mengganggunya itu.

"Ayo! Yamanaka Ino. Lima menit lagi gerbang sekolah akan ditutup. Kalau kau diam saja, aku tak akan menemanimu berdebat dengan Pak Satpam."

Sasuke mulai meneruskan langkahnya. Seringaian tak lepas dari bibirnya. Ia sudah menduga apa yang akan terjadi setelah ini. Ino akan kembali seperti Ino yang sebelumnya, sehingga tidak ada dinding tak kasat mata di antara mereka lagi.

Tapi, benarkah dugaannya?

"Pembohong."

DEG

Sasuke berhenti seketika. Ia memutar badannya, mendapati sosok Ino yang menunduk marah.

"Ingin membuatku seperti diriku yang kau kenal? Apa itu artinya ingin membuatku seperti gadis cilik yang terus mengejar-ngejar idolanya? Eh? Sasuke?"

Sasuke terdiam.

"Mungkin mengingatkanku tentang masa laluku bukanlah hal yang penting bagimu. Ta-tapi, dengan sikapmu yang seperti ini, kau tahu, kau membuatku merasa tidak dikenal."

Sasuke hanya bisa tertegun. Ia memberanikan diri untuk menatap mata gadis itu. Dan betapa terkejutnya dia ketika mendapati air mata jatuh mengalir di kedua pipinya.
Ino kemudian berkata lebih lirih, "Hiks. . .kau membuatku merasa seperti orang asing yang. . .dipermainkan."

Ino benar-benar tak tahan. Untuk kali ini, ia ingin melampiaskan apa yang mengganggunya.
Hening mengisi ruang di antara mereka, hanya suara isakan tangis Ino yang mendominasi.
Sasuke sendiri, ia terus saja diam tanpa berusaha memecah suasana. Entah penyesalan atau apa, tapi perkataan Ino ada benarnya.
Matanya kemudian melembut.

"In-"

"S-Sebaiknya kita segera pergi sebelum terlambat." suara Ino terdengar sangat dipaksakan.

Gadis itu, berusaha menahan tangisannya. Bahkan tangannya sudah beralih menghapus air matanya.

Sasuke hanya mampu menatapnya sendu.

SREK

Dengan gerakan cepat, Ino berjalan melewati Sasuke yang masih diam bergeming. Pemuda itu tak menyangka hal yang dianggapnya sepele itu bisa berdampak seperti ini.
Ino terlalu emosional dan dirinya yang terlalu meremehkan sesuatu. Semua itu cukup menjelaskan bagaimana perselisihan ini terjadi.

Tapi, cukup sampai di sini. Sasuke harus bergerak kalau ia tak ingin dinding pembatas kembali terbangun di antara mereka.

Sasuke berbalik dan mengejar Ino yang sudah beberapa meter di depannya.
Diraihnya tangan Ino cepat. Dan ia sudah menduga akan bertemu wajah marah Ino.

"Maaf."

Hanya itu yang dapat diucapkannya.

Sunyi pun sempat terjadi.

". . ." Ino hanya diam saja. Dari raut mukanya, Sasuke tahu gadis itu masih marah padanya. Tapi ia juga tak bisa apa-apa selain kata 'maaf'.

"Ino."

"Kita sudah terlambat. Kita tidak bisa berangkat sekarang." Ino menoleh, menatap Sasuke tajam.

"Dan semua karena kau. Semua kegundahan ini karena kau. KAU TAHU ITU SASUKE?" Ino tiba-tiba saja berteriak yang mau tak mau membuat Sasuke kembali terkesiap.

"Percuma. S-senpai t-tidak mengerti—"

"Aku memang tidak mengerti." Sasuke memotong kalimat Ino. Tangannya yang menahan tangan Ino perlahan lepas.

"Aku memang tidak mengerti apapun tentangmu. Tapi. . . tidak bisakah, kau mendengarkan kata maafku?" bahkan nadanya pun terdengar lirih dan memohon.

Tapi, melihat Sasuke yang seperti ini, justru membuat Ino lebih marah pada pemuda yang terlihat seperti tak tahu apa-apa. Ingin sekali ia berteriak, mengeluarkan segala emosi yang dipendamnya pada pemuda itu. Bagaimana ia bisa semarah itu padanya, bagaimana ia bisa sangat cemburu karena pemuda itu, dan bagaimana resahnya hatinya beberapa hari ini karena tak mampu melupakan pemuda di depannya kini.

Air mata yang sempat berhenti pun turun kembali.

Namun, ia tahu ia tak bisa apa-apa. Pemuda itu bersikap tidak tahu karena memang ia tak memberitahunya. Dan Ino, sebesar apapun ia ingin memberitahu pemuda itu, ia takkan melakukannya.

Tanpa berkata apapun lagi, Ino memalingkan mukanya, dan berjalan kemana kakinya melangkah. Tidak ke sekolah, juga tidak pulang ke rumah. Meninggalkan Sasuke yang hanya dapat menatapnya sendu.

...

{From: Ino
To: Mr.X
Satu kata, dua kata, tiga kata. Bahkan tanpa kata-kata pun, seseorang dapat dengan mudah terserang penyakit hati.
Kheh, bahkan 'penyembuh'ku tidak mengerti bagaimana bagaimana menyembuhkanku.}

Ino berhenti menulis sebentar. Ia menghela nafas yang terlihat sedih dan kecewa. Ia sudah merusak hubungan pertemanannya dengan Sasuke dan kini ia malah terlambat sekolah. Ia tak mungkin juga masuk ke tempat itu dengan mata sembab kalau tak ingin diwawancarai Tenten dan Hinata nantinya. Ia tak bisa mengelak dari kedua temannya itu lagi. Hingga, duduk di sebuah taman tak jauh dari sekolah menjadi pilihan terbaik baginya saat ini.

Ino kembali menatap blinder di pangkuannya. Blinder itu harusnya sudah ada di tangan Mr.X saat ini, tapi gara-gara perubahan acara mendadak, jadilah blinder itu masih di tangannya.

{Memendam perasaan sendiri, terasa menyakitkan. Tapi, aku ingin ia mengerti tanpa harus kuberitahu.
Aku, aku takut memberitahu dia.}

Ino menarik penanya dari kertas berwarna itu. Ia kemudian menutup blinder itu dan memasukkannya ke dalam tasnya. Semoga saja Mr.X tidak marah kalau ia tidak membalas pesan pemuda itu tepat waktu. Semoga ia mengerti.

Ino pun berdiri dan kembali berjalan. Lebih baik merilekskan pikirannya dulu daripada terus terbawa kesedihan yang entah kapan bisa berakhir.

Tanpa disadarinya, sepasang mata terus mengawasi gerak-geriknya sedari tadi.

...

Sepanjang malam, mata Ino sulit terpejam. Pikirannya terus berkecamuk mengenai kejadian tadi pagi. Ia merasa bersalah karena bisa-bisanya melampiaskan amarahnya pada orang yang sejak awal jelas-jelas tidak berbuat salah padanya. Saking terbawa emosi, Ino sampai menganggap semua ini kesalahan pemuda itu, seperti yang dikatakannya tadi pagi.

Di sisi lain, Ino tidak tahu harus bersikap seperti apa di depan pemuda itu esok. Semua menjadi terasa serba salah baginya.

"KYAAA. . ." teriaknya frustasi. Tangannya sampai mengacak-acak rambutnya sendiri.

"Mengapa diam menjadi serba salah sih?"

Ya, benar. Ino terlalu menyimpan perasaannya sendiri. Ia terlalu diam. Akan lebih mudah bila menyampaikan perasaannya langsung pada yang dituju tanpa harus bertele-tele seperti tadi pagi.

Tapi, melihat pemuda itu bersama gadis lain telah membuatnya mundur dari medan perang. Dan beginilah jadinya, menyimpan segala perasaan cinta, cemburu, serta sedih hanya seorang diri. Entah apa jadinya kalau tak ada Mr.X dan Shikamaru, ia mungkin tak ada bedanya dengan orang yang baru kehilangan segala macam harta berharganya.

Ino menghela nafas.

"Aku lelah."

Ia harus menghindari pemuda itu. Ia tak boleh kacau balau seperti ini hanya karena seorang laki-laki.
Kalaupun tak bisa menghindar, ia harus bisa menghapus keberadaan pemuda itu dari hatinya. Bagaimanapun caranya. Ia harus menghindar. Hatinya merupakan kotak pandora yang hanya ia dan mungkin Shikamaru dan Mr.X yang boleh mengintipnya.
Ia tak boleh membiarkan Sasuke mengetahuinya. Ino akan menyimpan perasaannya dalam-dalam.

Menghela nafas sekali lagi, Ino pun menoleh ke arah jendela seperti yang setiap malam ia lakukan.

Semenjak ia mendapati Sasuke kembali ke kamarnya, ia tak pernah melihat gadis coklat itu lagi. Gadis coklat yang sempat membuatnya menyerah akan cintanya.
Sebenarnya Ino cukup penasaran dengan sosok itu. Tapi, sebesar apapun rasa penasarannya, buktinya ia tak pernah berani menanyakannya langsung pada Sasuke. Pikiran buruk dan macam-macam lebih dulu menyerangnya.

Entah gadis itu mempunyai hubungan khusus atau tidak dengan bungsu Uchiha itu, Ino tak lagi peduli. Ia sudah terlanjur sakit hati. Kejadian yang sama dengan masa lalunya ini sangat aneh untuk disebut kebetulan. Dan dalam cerita masa lalunya, jelas-jelas Sakura dan Sasuke tak punya hubungan kerabat atau semacamnya. Membuat Ino berpikir kejadian kali ini juga akan sama dengan masa lalunya.
Hanya saja, apa yang akan dilakukannya setelah ini?

Membiarkan Sasuke tetap bersama gadis itu?

Ya, mungkin.

Ia akan membiarkan semua berjalan semestinya. Ia akan membuang perasaannya pada pemuda itu jauh-jauh.

Ah! Kini Ino sadar, apa yang telah membuatnya mundur dari awal. Pemuda itu, gadis itu, dan cintanya pada pemuda itu, ia. . .takut. Ia takut melihat konsekuensi yang mungkin belum dia lihat. Ia takut, mengetahui bahwa pemuda itu dan gadis coklat itu benar-benar menjalin hubungan yang menyayat hati Ino. Ia takut kalau apa yang ditakutinya selama ini menjadi kenyataan.

...

CKLEK

Ino sudah menduga tidak akan bertemu dengan bungsu Uchiha itu setelah kejadian kemarin. Tapi, kalau bertemu pun, ia sudah cukup mempersiapkan diri.

Dan di sinilah ia, berdiri di depan pintu rumahnya sementara di hadapannya, seorang Uchiha Sasuke menunggunya dengan mimik yang sulit diartikan.
Pandangan Ino meredup. Ia mengambil langkah mendekati pemuda itu.

"Gomenasai," ujarnya pelan.

Ino terus menatap ruang di bawahnya, berusaha untuk tidak menatap pemuda itu.
Entah ia siap dengan apa yang akan terjadi setelah ini atau tidak, setidaknya ia berani mengakui kesalahannya dan berharap pemuda itu mau memberinya maaf tidak seperti yang dilakukannya kemarin. Setidaknya ia sudah berani mengambil keputusan.

"Maaf. . . atas yang kemarin. Senpai tidak perlu memikirkannya," ujarnya sekali lagi.

Sunyi pun mengisi ruang di antara mereka. Ino bahkan sudah mulai berpikir macam-macam kalau Sasuke tidak akan memaafkannya.

"Aku juga minta maaf."

Ucapan itu lantas membuat Ino mendongak demi mendapati Sasuke dengan pandangan yang lembutnya.

"Ayo berangkat!" ajak Sasuke.

Ino hanya menggangguk lemah.

Sepanjang perjalanan pun sangatlah sunyi. Tidak ada yang mengisi percakapan. Sasuke tak lagi merasa aneh dengan diamnya Ino. Ino sendiri, ia tak punya semangat untuk sekedar bicara dengan pemuda itu.

Walaupun saling mengucapkan maaf, tapi dinding itu tetap terasa ada. Sasuke hanya bisa diam menunggu hingga dinding itu runtuh dengan sendirinya. Namun, di sisi lain, Ino merasa dinding itu terlanjur kuat yang takkan pernah runtuh, kecuali bila perasaannya pada pemuda itu runtuh.

Diam. Mereka hanya terdiam. Tidak ada kata, tidak ada ucapan. Sunyi sekali. Dari rumah hingga tempat mereka menimba ilmu. Benar-benar, suasana di anatara mereka sangatlah terasa mencekam.

TBC

Oke Minna...bagaimana untuk yang kali ini?