Uwo uwooo...
Akhirnya eni fic di publish juga. Tapi kayaknya dikit yang baca deh. Padahal slaveku yang review banyak banget. Minta repieeewwww... –dihajar- . Buat yang jawab penyakit ayah sena itu TBC karena ada tulisan TBC di paling bawah. Sayang anda salah. TBC di paling bawah itu artinya To Be Continue. Bukan Tuberculosis. Hahahahah #plakdziag
Ok ok... lanjut...
Disclaimer :
Eyeshield 21 (c) by Riichiro Inagaki & Yusuke Murata
Untuk terinspirasinya, author naronya di paling akhir cerita ini. Biar penasaran. Hahaha.
Hiruma : Penasaran darimana lu? Ngarep banget
Aru : Huh?
Sena : Iya. Yang baca kan sedikit. Siapa yang bakal penasaran?
Aru : Eeerrr... Iya yak.. gimana dong?
Hiruma : lu gak usah nulis lagi!
Aru : Nooooo !
Hiruma : Author gila. Author stres. Author miring. Author...
Aru : -bekep mulut Hiru, iket, tendang ke kali-. Bodo amaaattt
Hiruma : -megap megap-
Aru : -dirajam fans Hiruma-
Beberapa jam kemudian...
Sena : Lalu aku gimana?
O o O o O
Sebelumnya, di Slave...
"Senaa! Cepat panggil ambulance!"
"Alasan apa itu? Tak ingin membuat Aku khawatir? Justru sekarang Aku sangat khawatir karena tidak tahu kondisi Ayah yang sebenarnya. Setidaknya aku bisa membantu Ayah atau sekedar memijitnya. Kalau sudah begini, bagaimana?"
"Apa aku ini salah satu anggota keluarga Kobayakawa? Kenapa tidak pernah dianggap?"
"Apa yang terjadi pada Ayah, Dokter?"
"Bapak Kobayakawa Shuuma, menderita penyakit…."
O o O o O
"Cepat katakan, dokter.. Ayah mengidap penyakit apa" Airmata Sena yang sudah mengering, kembali mengalir, membasahi pipinya, hatinya kosong.
"Ehm.. Sebenarnya, Bapak Shuuma sudah lama merahasiakan ini. Beliau mengidap penyakit... Tuberculosis"
"Apa dok? Tuber...culosis? Penyakit apa itu?" Sena bingung. Sejujurnya, Ia memang tidak jago dalam hal kedokteran maupun penyakit. Ia menatap Ibunya dengan penuh tanda tanya. Sang Ibu hanya tersenyum tipis. Namun terlihat wajah duka di matanya.
"Tuberculosis itu penyakit paru – paru, Nak. Untuk lebih jelas, kamu bisa baca di buku atau situs" Sang dokter tersenyum dengan wajah kebapakan, lalu Ia pamit dan meninggalkan mereka berdua.
Sena tak habis pikir. Apa itu Tuberculosis? Apakah penyakit yang mematikan?
"Sena, sudahlah. Tidak usah dipikirkan. Ayahmu pasti sembuh. Kamu tenang saja ya" Ujar Ibu. Namun Ia tahu. Kalimat itu mungkin lebih ditujukan kepada dirinya. Dirinya harus tenang. Sebagai seorang Ibu, Ia tak bisa memperlihatkan kesedihannya di depan anak semata wayangnya itu.
"Bu, apa ayah akan cepat sembuh?" Tanya Sena dengan mata berkaca – kaca. Sekuat tenaga. Ya. Tak ada yang tahu, apa yang sedang Ia rasakan. Ibu hanya tersenyum dan mengangguk, ragu.
"Kita pulang, Sena. Ayahmu harus istirahat. Besok kamu juga harus sekolah" Ibu menggandeng Sena keluar dari rumah sakit. Sena hanya menurut. Ia berjalan sambil menunduk. Pikirannya kacau. Ia semakin tersiksa.
"Ibu.. Ayah harus dirawat dan disembuhkan, kan? Biayanya bagaimana?"
"Itulah. Sejak ayahmu terkena TBC, sedikit demi sedikit tabungan Ibu dan Ayah habis. Ibu tak tau lagi harus bagaimana" Airmata mulai menetes dari mata sang Ibu.
"Sena... Akan berusaha. Sena akan bekerja setelah sepulang sekolah" Ujarnya mantap, namun agak ragu. Pekerjaan apa...Tuhan... Cobaan apa lagi kali ini...
O o O o O
Tuberculosis (TBC)
Disebabkan oleh kuman kecil berbentuk tongkat. Kuman – kuman ini dilindungi selaput lilin yang menghalangi pertahanan tubuh yang normal untuk menerobos penyerangan.
TBC menyerang bagian tubuh manapun. Namun paling sering adalah paru – paru.
Seberapa lama pasien seperti ini dapat hidup? Tergantung ketahanan tubuhnya masing – masing. Jika daya tahan tinggi, maka tidak akan banyak kuman yang menyerang dan pasien akan lekas sembuh. Namun jika daya tahan tubuh rendah karena makanan tidak baik, kerja berlebih – lebihan atau kebiasaan hidup yang tidak teratur, Ia akan lebih mudah terjangkit.
Tanda bahaya :
Perasaan lelah yang tidak bersebab. Kehilangan semangat. Mudah letih. Kehilangan berat badan terus menerus. Batuk – batuk menahun. Meludahkan darah. Nyeri dada hebat. Berkeringat malam hari. Kehilangan nafsu makan.
Perawatan dan penyembuhan :
Istirahat total
Udara segar
Makan makanan yang seimbang
Minum obat
Pembedahan
O o O o O
Pagi hari, Sena duduk murung di kelasnya. Tak ada gairah untuk melakukan apapun. Digenggamnya brosur lowongan pekerjaan dengan erat. Ia bimbang. Dapatkah dirinya membayar biaya perawatan ayahnya?
"Oi, Sena. Perasaan daritadi gue ngomong dicuekin deh" Monta yang gondok karena dicuekin, menoyor kepala Sena perlahan.
"Hm? Ah gomen, Monta. Aku.. Sedikit ada masalah. Tidak apa – apa" Sena tersenyum.
Bel pulang terasa lama. Sena melirik jam dengan tak sabaran. Cemas. Ia harus segera pulang dan mendaftarkan dirinya dimanapun asal dia dapat uang. Ayah. Meski terlihat begitu pendiam, namun Sena tau bahwa ayahnya selalu mendukung dirinya. Meski ayah tidak mengatakannya.
Bel berbunyi. Dengan kecepatan kilat, Sena berlari keluar sekolah yang sebelumnya pamit dulu pada Monta. Monta hanya terheran – heran melihat sahabatnya tidak seperti biasanya. Ya. Tidak ada yang tau kenapa Sena seperti itu. Selain keluarga Kobayakawa tentunya.
"Bagus. Kamu diterima di sini, Sena. Bagian pengantar barang. Tidak masalah kan?" Kimidori Sport. Itulah tujuan akhir Sena setelah semua tempat yang membuka lowongan, tidak menerima dirinya karena Sena masih sekolah atau tidak cocok karena tubuhnya kecil.
Namun anehnya Kimidori Sport langsung menerimanya tanpa ba-bi-bu-be-bo. Dan mulai saat itu, sepulang sekolah, Sena langsung jadi pengantar barang – barang.
"Ini Sena. Bawa kardus ini ke Deimon" Kardus besar itu terlihat berat. Tujuan pengantaran : Sekolahnya sendiri.
"Permisi". Takut – takut Sena membuka pintu geser klub amefuto yang sudah terkenal horor.
"Hm?" Masih ada orang di sana. Ia sibuk berkutat dengan laptopnya. Permen karet mint setia Ia kunyah. Rambut liar bak singanya bergoyang setelah dia menoleh kearah Sena.
"Chibi?"
"H... Hiruma...san?" Sena mematung. Tubuhnya mulai gemetar lagi mengingat kejadian yang lalu.
"Kau yang mengantarkan sepatu itu sendirian? Kau kerja sambilan?" Hiruma mendekati Sena yang mematung di depan pintu. Reflek Sena mundur. Bersiap untuk kabur. Namun kardus yang Ia bawa lebih berat dari yang Ia duga sehingga menghambat larinya.
"I... Iya"
Hiruma mengangkat sebelah alisnya. Ia kemudian mengambil kardus dari tangan Sena dan meletakkannya di atas meja. Hiruma merogoh kantongnya dan mengambil beberapa lembar uang dan menaruhnya di tangan Sena. Sena bingung.
"Upahmu"
"T... Terima kasih, Hiruma-san" Sena bersiap – siap hengkang dari tempat menyeramkan itu. Namun Hiruma lebih dulu mencegatnya dan menutup pintu dengan keras. Sena tidak bisa kemana – mana. Tubuhnya yang kecil kembali bergetar. Wajahnya pucat. Apa yang akan Hiruma-san lakukan?
"Chibi, di dalam kotak itu ada sepatu. Untukmu. Aku menunggumu datang kesini untuk bermain amefuto bersama"
Hiruma mendempetkan tubuh Sena di pintu. Tubuh kecil Sena tertutup oleh tubuh Hiruma yang lebih tinggi. Sena gemetar lebih hebat. Ia takut. Apa yang akan Hiruma lakukan padanya.
'Ayo kita bermain – main dengannya'
"Tidaaakkk! Hiruma-san! Jangaan!" Sena berusaha melepaskan dirinya dari cengkraman Hiruma. Namun tenaganya tak cukup kuat untuk mengalahkan tenaga Hiruma.
"Diam, Chibi. Aku sedang depresi" Hiruma menodongkan AK-47nya ke kepala Sena. Dan mengokang pistolnya. Lagi? Aku akan mati. Aku akan matiii. Sena menjerit dalam hati. Lehernya sakit. Kenapa sakit?
"Hari ini aku ingin bermain – main lagi denganmu" Hiruma memasang choker di leher Sena dan mengikatnya dengan kencang. Sena meringis. Ia berusaha menarik choker itu tapi tenaganya tidak cukup kuat.
"Ja.. Jangan, Hiruma-san. Aku..." tatapan Sena berubah menjadi kosong. Hampir tidak terlihat cahaya di bola matanya yang ketakutan.
"Ha?" Hiruma membalikkan tubuh Sena hingga mereka berhadap – hadapan. Ditatapnya mata yang sudah tidak memiliki cahaya semangat untuk hidup itu. Hiruma menyernyitkan keningnya, heran.
"Aku... tidak mau hidup lagi"
"Haa?" Hiruma menarik rantai yang terdapat pada choker Sena dan mendekatkan wajahnya hingga Sena merasakan detak jantung dan nafas Hiruma.
"Ah?"
"Apa – apaan maksudmu itu, Chibi? Tidak mau hidup lagi? Memangnya hidupmu akan berakhir jika sudah mati nanti. Khe!" Hiruma menghempaskan Sena hingga tubuhnya terbentur tembok. Sena hanya bisa terduduk lemas tak berdaya setelah tubuhnya menghantam tembok.
"Aku pulang! Denganmu ternyata malah lebih membuatku depresi" Hiruma membuka pintu dengan kasar dan pergi meninggalkan Sena.
"A.. Ah, Hiruma-san?" Sena berusaha membuka choker yang melilit lehernya. Setelah terlepas, Sena mengatur nafasnya yang agak sesak karena kaget dan tercekik. Matanya berputar melihat ruangan amefuto. Berantakan. Tempat itu seperti gudang di mata Sena. Dan tatapannya tertuju pada laptop Hiruma yang belum di matikan.
"Kok Hiruma-san gak bawa pulang laptopnya?" Heran, Sena beranjak menuju laptop dan melihat apa isinya. Data – data amefuto. Strategi. Berarti tadi Hiruma-san sedang menganalisis ya. Pikir Sena.
"Tapi kenapa.. Laptopnya tidak dibawa?"
Dan saat itulah.. Batin Sena berperang.
"Ayo bawa saja. Hiruma-san itu terkenal kaya. Kehilangan satu laptop tidak berarti banyak buat dia"
"Jangan, Sena. Meski laptop Hiruma-san mungkin banyak, tapi laptop itu penuh data – data. Pasti penting buat Hiruma-san"
Sena memegangi kepalanya yang pusing. Konflik batin dalam dirinya membuat Ia sakit. Lagi – lagi. Ia harus memenangkan satu dari sisi hatinya yang saling berlawanan. Ambil, maka Ia dapat menjual laptop tersebut dan membayar tagihan rawat ayahnya. Namun dilain pihak, Sena takut. Takut Hiruma-san menanyakan laptopnya. Takut Sena dipenjara. Takut berdosa. Dan segala takut lainnya.
Sena terduduk lemas di lantai. Dibiarkannya laptop Hiruma dalam keadaan menyala. Menerangi tubuh kecil Sena yang sedang terlilit bimbang. Ambil. Ayah akan sembuh!
Sena meraih laptop itu dan mematikannya. Ia membereskan adaptor dan memasukkannya ke dalam tas laptop Hiruma. Ternyata di dalam tas tersebut juga banyak majalah dan kertas – kertas berisi bagan yang tidak dimengerti Sena. Tangan Sena berhenti bergerak. Ia terpaku.
"Ada nama dan dataku di kertas ini? Hiruma-san sampai sedetil dan segigih itu mencari dataku? Demi amefuto? Sepenting itukah?"
Tegakah dirinya mencuri impian senpainya itu? Meski Sena tau cara Hiruma salah. Namun Sena paham kegigihan Hiruma. Dan akhirnya Sena meletakkan tas laptop itu di atas meja dan berjalan lunglai keluar ruangan. Tanpa dia tau bahwa laptop itu sengaja ditinggalkan pemiliknya. Untuk apa? Tidak ada yang tau..
Sesampainya Sena di rumah, kembali dirinya dikejutkan oleh kabar...
"Sena... Maaf. Maafkan Ibu, Nak. Maaf..."
"I.. Ibu... Ke.. Kenapa..."
"Ibu minta maaf sayang. Hanya ini. Hanya ini cara agar ayahmu bisa segera dioperasi"
"Tidak! Sena tidak mau! Lepaskan!"
"Maaf sayang... Maaf... Ini demi ayahmu.."
Dan bagaimana denganku? Dengan diriku? Dengan nasibku? Apakah Ibu memikirkannya?
Sena diseret keluar rumah oleh beberapa orang berpakaian hitam dengan kacamata hitam bertengger di hidungnya. Dengan otot berlipat, kekar. Yang membuat orang yang melihatnya merasa enggan untuk berhadapan. Sedangkan sang Ibu hanya bisa berlutut menangis keras di lantai.
Kobayakawa Sena. Dijual. Oleh sang Ibu tercinta. Demi ayah tercinta. Dengan harga satu buah tas tangan berisi $10.000.
O o O o O
I'm desperately looking for you
I even let go of what I have possessed
Winds blow as if it slashed my ears
My freezing body feels nothing but pain
I'm here, It's really painful
My heart is filled with pains
If I stumble while running,
I can never go back
I'm here, It's overflowing
I keep bearing this pain
If my screams don't reach you,
It's completely unworthy
I'm here, Get me out of here
Can't I even dream?
Lagu yang memilukan. Seolah dapat menembus kegelapan yang terdalam sekalipun. Meski tau bahwa tak akan terlihat apa – apa... di dasar kegelapan terdalam itu... ada setitik cahaya yang masih berjuang untuk hidup.
Kobayakawa Sena terbangun dari tidur panjangnya. Entah sudah beberapa hari Ia dikurung di sebuah kamar berukuran 5 x 5 itu. Tubuhnya bertambah kurus karena nafsu makannya turun drastis. Setiap malam Ia hanya merenung. Tidak ada seorangpun yang menolongnya. Ya. Karena Ia telah dijual.
Dan suatu hari, pintu kamar kokoh itu terbuka. Dan masuklah dua orang berpakaian hitam yang segera membekap mulut dan hidung Sena dengan sehelai saputangan. Dan Sena pingsan saat itu juga. Tanpa perlawanan. Karena Ia telah pasrah pada nasib yang akan diterimanya nanti.
O o O o O
Udara terasa dingin sekali. Dari telinga kecil Sena, Ia dapat mendengar samar – samar suara orang berbincang. Tidak satu. Tidak dua. Tapi puluhan. Bahkan mungkin ratusan. Suara wanita berbicara dengan anggun. Suara dentingan gelas yang beradu. Suara tawa laki – laki yang terdengar angkuh. Suara musik klasik. Dan banyak lagi.
Tubuh mungil Sena menggigil. Tangan dan kakinya tidak dapat bergerak. Sedang Ia tidak dapat melihat apa – apa. Gelap. Sena berusaha menggerakkan tubuhnya. Namun Ia tidak bergeming sama sekali. Ia merasa kaki dan tangannya diikat kuat.
"Ladies and gentlemen. Mari kita mulai saja acara puncak kita hari ini" terdengar suara orang yang tak Sena kenal. Kemudian disambut tepuk tangan yang meriah dari para tamu. Sena semakin tidak mengerti.
"Inilah dia.. anak laki – laki yang akan dilelang hari ini" dan pembawa acara itu membuka kain beludru yang menutupi, dan terlihatlah Sena duduk dengan kaki dan tangan terikat rantai besi dan diatur agar kaki dan tangannya merentang. Matanya tertutup kain hitam. Dan Sena berada dalam sebuah sangkar besar, seperti burung yang tidak berdaya.
"Inilah dia... Sena... Meski badannya kecil, Saya jamin dia bisa melakukan apapaun. Karena dia kuat. Kami sudah melakukan penelitian atas seluruh tubuhnya. Dan larinya sangat cepat. Cocok untuk jenis pekerjaan apapun"
Dan terdengar suara decak kagum dan kasak kusuk dari para tamu. Nampaknya mereka tertarik. Masalah ukuran tubuh tidak masalah. Yang penting dapat melakukan pekerjaan apapun. Dan mereka yang berminat, segera menghampiri depan panggung untuk melihat lebih jelas.
"Di...ngin..." Sena berbisik lirih. Ia baru menyadari bahwa tubuhnya tidak terbungkus sehelai benangpun. Tanpa Ia sadari, airmatanya mengalir. Inikah jalan takdirnya? Harus seperti ini?
"Baik. Mari kita buka lelang dengan harga $10.000!" sang pembawa acara semangat memberi dukungan pada mereka – mereka yang ingin membeli Sena.
"$20.000"
"$50.000"
"$100.000"
"$250.000"
Akhirnya tarung hargapun dimulai. Banyak dari mereka yang karena gengsi semata, mencetuskan harga lebih tinggi. Ada juga dari mereka yang memang menginginkan Sena. Namun setelah dicetuskan $500.000, para tamu tidak ada yang berkutik. Dan memberi jalan pada laki – laki itu. Sambil mengangkat dagu, laki – laki itu berjalan mendekati panggung. Namun baru saja kakinya menginjak tangga pertama menuju kemenangan, terdengar suara lantang dari arah pintu masuk.
"$1.000.000! Dan dia jadi milikku!" tuxedo hitam pekat membalut tubuh tingginya. 4 buah piercing bergoyang – goyang ketika Ia berjalan mendekati Sena. Ia menyeringai lebar, memperlihatkan deretan giginya yang runcing.
"Chibi, kau jadi milikku. Hari ini dan untuk selamanya" Ia mendekat. Suaranya sangat dekat. Ya. Sena tidak akan melupakan suara itu. Suara yang telah menggetarkan seluruh penjuru ruang lelang. Dan Sena tau siapa pemilik suara itu.
"Hi.. Hiruma...san?" kain yang menutup mata Sena dilepas atas perintah Hiruma. Akhirnya Sena yakin, dialah Hiruma. Senpai sekaligus pembeli dirinya yang tidak berharga itu.
"Kuso chibi, mulai hari ini, akulah mastermu dan lakukan apa yang kuperintahkan"
Sena mengangguk pelan. Setidaknya Sena sedikit bersyukur karena ternyata yang telah membelinya adalah orang yang Ia kenal . Rantai di tangan dan kakinya segera dilepas dan Sena diberi pakaian. Dengan wajah merah, Sena memakai baju itu. Sungguh tak pernah terbayangkan dalam hidupnya dia akan mengalami hal itu.
"Perlu data – data tentang dirinya, Tuan Besar?" sang MC dengan sopan memberikan sebuah map berisi data Sena, entah darimana mereka mendapatkannya.
"Kekekekeke! Tidak butuh. Dataku lebih akurat dibanding data kalian" Hiruma meletakkan tas tangan berisi uang itu ke tempat yang telah disediakan. Lalu kertaspun berhamburan dari atas, tanda bahwa sang pemenang pantas mendapatkan perlakuan istimewa.
"Hiruma-san" Sena mendekati Hiruma perlahan. Kepalanya menunduk, sangat malu menatap senpai sekaligus masternya itu.
"Chibi?"
Sena memeluk leher Hiruma dengan gemetar. Bisa jadi psikis Sena terluka. Ia trauma. Hiruma yang tau bahwa Sena ketakutan, segera membawa Sena keluar dari ruangan itu dan mendudukkannya di bangku mobil.
"Sudah. Kau sudah selamat sekarang"
Sena membungkukkan tubuhnya hingga kepalanya menyentuh lutut. Airmatanya mengalir deras. Sena menangis tanpa suara. Ia tidak mau membuat Hiruma marah dan menendangnya keluar. Namun Hiruma tau kalau Sena sedang menangis. Karena bahu Sena yang mungil bergerak naik turun, dan tubuhnya semakin gemetar hebat.
"Huuffhh.. Kuso Chibi"
Hiruma memeluk Sena erat. Ia membenamkan tubuh Sena di dadanya yang hangat dan merasakan tubuh Sena yang rapuh. Hiruma menengadahkan kepala Sena dan menjilat airmata Sena yang masih mengalir. Kaget, Sena agak melepaskan diri dari Hiruma.
"Hi.. Hiruma-san... Jangan... Aku normal..." Sena mengatakan kata terakhir dengan terbata – bata. Serasa ada yang mencekik tenggorokannya. Ya. Iapun ragu apakah itu benar atau tidak.
"Chibi, kau sekarang slaveku. Jangan membantah!" Hiruma menancap gas dan segera pergi meninggalkan tempat itu.
Menyadari hal itu, Sena mengangguk pelan. Patuh. Ia harus patuh kepada penyelamat nyawanya. Meski Ia tau apa yang akan Ia terima dengan Hiruma sebagai masternya. Sena menatap langit yang kelam, sekelam hatinya. Ia tak percaya hidupnya berubah 360 derajat seperti itu.
"Chibi" Panggil Hiruma yang masih konsentrasi mengemudi. Ia melirik Sena sekilas. Sena menoleh kearahnya dengan tatapan takut. "Kisu..."
"Eh?" Sena bengong. Hiruma menyeringai seperti biasa. Tangan kanannya terus memegang setir sedang tangan kirinya menarik tangan Sena agar mendekat. Sena menurut meski bingung dan kaget setengah mati.
"Ayo. Ini perintah pertama dari mastermu"
"B.. Baik master" Sena mendekatkan wajahnya. Perlahan – lahan. Ragu. Takut Hiruma tidak suka. Karena tak sabar, Hiruma semakin menarik tangan Sena dan memepetkan tubuh Sena ke tubuhnya. Perlahan, Sena mendaratkan bibir mungilnya ke pipi Hiruma, kemudian menarik wajahnya kembali. Jantungnya berdegup kencang. Ia melirik Hiruma yang menyeringai lebih lebar, seolah puas telah mengerjai dirinya.
"Kurang. Untuk selanjutnya, akan kuajarkan kau yang lebih dari ini"
"Baik master"
Dan hari esok yang tak terduga menanti Sena di sana. Meski begitu, Sena merasa aman di sisi Hiruma yang membelinya. Dan masa master-slave, akan dimulai hari ini.
O o O o O
Jahh.. mulai dah gaje. Huhuhu
Udah lama banget sih nih fic nganggur. Jadinya lupa jalan cerita aslinya. Jadi sumpah abal banget. Huhuhu
Disclaimer 2 : Yang itu terinspirasi dari Okane Ga Nai n Kuroshitsuji. Ehehe
Mind to review? Plis.
