Yoha...ini janji saya. Anyway, langsung saja.

Declaimer © Masashi Kishimoto

Story : Raburetaa

Pairing : SasuIno

Sudah empat hari berlalu sejak kejadian marah-marahnya pada Sasuke dan sudah empat hari pula ia tak mendapat balasan surat dari Mr.X. Bahkan hubungannya dengan Sasuke juga tak mengalami perkembangan yang berarti. Hanya diam dan diam-lah yang mengisi ruang di antara mereka setiap kali mereka bersama.

"Teme! Ino-chan!" teriak seseorang dari arah belakang Ino dan Sasuke. Keduanya sama-sama menoleh untuk mendapati seorang Uzumaki Naruto yang dengan cengiran khasnya berlari ke arah mereka.

"Ada apa, Dobe?" tanya Sasuke.

Begitu Naruto sampai di depan mereka, ia langsung menarik Sasuke menjauh, membuat Ino mengernyitkan alisnya heran.

Hampir lima menit berlalu tapi dua sejoli Teme-Dobe itu masih dengan asyiknya mengobrol. Ino pun sudah mulai kehabisan kesabarannya. Diliriknya jam tangan yang melingkari pergelangan tangan kirinya. Pukul 07.20. Dan mereka masih setengah jalan sebelum benar-benar sampai sekolahan. Mau sampai kapan mereka membuang-buang waktu seperti ini, huh? Pikir Ino.

Dengan mimik kesal, Ino pun mendekati kedua pemuda itu.

"07.20 pagi. Silahkan kalian habiskan waktu bersama kalian sementara aku akan pergi dari sini. Selamat tinggal," kata Ino sinis. Lagipula siapa juga yang mau menunggui seseorang sementara ia sendiri sudah hampir terlambat melewati gerbang sekolah. Karena kali ini ia takkan membuat absen kosong lagi di jurnal sekolahnya.

"Dasar! Pria itu selalu lamban, bahkan perasaan pun juga. Payah," gumamnya kesal.

"Tunggu kami, Ino-chan!"

"Ck."

:::

Bel makan siang akhirnya berbunyi. Ino tak langsung pergi ke kantin bersama teman-temannya. Ia mampir untuk menengok isi lokernya terlebih dahulu.

"Semoga Mr.X membalasnya," gumamnya harap-harap cemas.

Tangannya beralih menyentuh benda perak itu dan mulai memutarnya sesuai kode lokernya.

Was-wasnya pun semakin kentara.

KLIK

Loker pun terbuka.

Tapi..kosong.

Ino tertunduk lemas. Suratnya tak terbalas. Ia sudah sangat berharap benda delima itu akan muncul di lokernya. Ternyata, hanya kekosongan yang ada. Mr.X tak membalas suratnya. Dan hanya satu kata yang terlintas di benaknya. 'Kenapa?'

Ino membuang nafas. Kejadian ini mirip dengan kejadian tahun lalu. Tapi di tahun itu, Ino benar-benar tahu penyebab keterlambatan Mr.X membalas suratnya. Itu semua karena kesalahan Ino. Tapi untuk kali ini, ia sama sekali tak merasa bersalah. Jadi kenapa tiba-tiba surat-menyuratnya tertunda seperti ini?

"Ino?" panggilan seseorang itu mengalihkan perhatiannya. Ino pun menoleh menatap pemilik suara yang sudah sangat dikenalnya itu.

"Senpai? Apa yang senpai lakukan di sini?" tanyanya balik. Setidaknya kali ini, ia tak semarah dulu ketika ia patah hati karena orang di depannya ini. Jadi, ia bisa bernada normal layaknya tak terjadi apa-apa.

"Mulai besok, kalau kau tak keberatan, kita tak perlu berangkat sekolah bersama lagi."

Ino hanya bisa tercekat mendengar penuturan pemuda itu. Apa yang dikatakannya? Tidak berangkat sekolah bersama?

Pikirannya sudah berjalan kemana-mana demi mencari jawaban yang mungkin mengapa pemuda itu mengatakan kalimat tersebut.

Karena dirinya kah?

Dan satu hal yang pasti, Ino tak akan menyukai hal itu.

Dengan senyum yang dipaksakan, ia bertanya, "Oh, ya. Tak apa. Aku tak keberatan. Sama sekali tak keberatan. Tapi kenapa?" bahkan suaranya pun terdengar bergetar, tapi rasa penasarannya memaksanya untuk bertanya.

"Aku−"

"Ino-chan!" seseorang datang menginterupsi. Sasuke dan Ino sama-sama menoleh pada si empunya yang kini balas menatap mereka bingung.

"Ada apa, Tenten?" tanya Ino.

"Kami sudah menunggumu sejak tadi. Tidakkah kau mau makan saat ini?" balas Tenten.

Dengan helaan nafas, akhirnya Ino mengangguk. Teman-temannya sudah menungguinya sedari tadi di kantin. Dan karena pembicaraannya dengan Sasuke yang tiba-tiba itu membuatnya lupa akan makan siangnya. Baiklah, mungkin sekarang Ino takkan tahu jawaban dari pemuda itu, tapi ia akan tahu nantinya.

"Ayo!" ajak Ino. Ia pun kembali mengunci lokernya dan sudah akan berjalan ketika lagi-lagi suara Sasuke masuk ke telinganya.

"Ino? Apa kau−"

Dan Ino pun terhenti tepat di samping pemuda itu. Dengan nada yang dibuatnya senormal mungkin, ia memotong, "Aku tak apa-apa. Hanya berangkat sekolah sendirian, tak masalah bagiku."

Dengan begitu Ino berjalan cepat menyusul Tenten yang sudah agak jauh di depan. Tanpa ada yang menyadari, pipinya telah basah oleh air mata.

:::

[From: Mr.X

To: Ino

Maaf, tidak membalas pesanmu cepat, aku tak tahu harus berkata apa. Walaupun aku suka diam, tapi aku.. tak ingin kau diam seperti ini. Aku selalu tak suka ketika kau seolah menangis setiap kali kita berbagi cerita. Aku ingin kau bahagia.]

Untung saja, Ino sempat mampir menengok isi lokernya tadi sebelum ia meninggalkan tempat belajar tersebut. Ia hampir meloncat kegirangan ketika mendapati benda delima itu ada di dalamnya. Ia sudah tak sabar ingin bicara dengan Mr.X lagi.

Dan di sinilah dia, duduk di kursi belajarnya, menatap kata demi kata yang seolah mengkritiknya tapi juga mendukungnya. Tapi kali ini pemikiran kedua lebih ia unggulkan.

Mr.X mengkhawatirkannya, ia cukup senang.

Hanya saja, dari pesan Mr.X barusan, membuatnya berpikir Mr.X tak ingin dijadikan pelampiasan masalahnya. Ino langsung menggelengkan kepalanya membuang pikiran bodoh barusan. Memang seorang yang sedang dalam perasaan kalut cenderung berpikir negatif.

Tapi setelah dipikir-pikir lagi, memang orang cenderung tak suka bila dijadikan pelampiasan masalah oleh orang lain. Mr.X juga sama. Mungkin ia memang tak suka Ino selalu melampiaskannya padanya. Menyadari hal itu, Ino mulai merasa bersalah.

{From: Ino

To: Mr.X

Maafkan aku membuatmu khawatir. Tapi tenang saja, aku takkan membuatmu khawatir lagi. Percayalah padaku. ;-)}

Ino menyudahi tulisannya.

Ya benar. Ia takkan membuat Mr.X khawatir lagi karena besok ia takkan berangkat ke sekolah bersama Sasuke. Ia takkan menyiksa dirinya lagi karena sosok yang membuatnya sakit hati tidak lagi berada di sisinya. Dengan begitu ia bisa mengatur hatinya yang kacau.

Tapi benarkah itu?

:::

Esoknya sesuai apa kata Sasuke, mereka −Ino dan Sasuke− tidak lagi berangkat sekolah bersama.

Ino hanya bisa menatap kosong direksi rumah tetangganya. Sosok yang akhir-akhir ini berangkat ke sekolah bersama pun tak kunjung muncul. Sosok itu takkan lagi mengucapkan salam pagi kepadanya. Sasuke takkan menungguinya di depan rumahnya. Dan Ino akan kembali berangkat sekolah sendirian.

Ia menghela nafas. Ia mulai berbalik dan berjalan ke direksi sekolahnya.

Esok dan seterusnya akan berbeda dari biasanya. Ino tak lagi harus menatap sosok yang sempat membuatnya jatuh cinta itu. Tapi ia juga takkan lagi teringat sakit hatinya bila ia bertemu sosok itu. Entah kenapa, Ino sama sekali tak merasa lebih baik. Seharusnya ia senang, tapi hatinya seolah mengatakan sebaliknya. Sedih dan seakan tak dilihat.

Kalau Sasuke tidak lagi ingin berangkat sekolah bersamanya, itu berarti sesuatu telah membuatnya tidak nyaman ketika bersama Ino. Atau mungkin karena Ino sendiri?

Dan jika dilihat dari dengan mudahnya Sasuke mengatakannya kemarin, mau tak mau membuatnya berpikir bahwa pemuda itu.. tak merasakan perasaan apapun setelah kurang lebih setahun ini berangkat bersamanya. Dan yang jelas, Ino tak menyukai itu. Ino hanya ingin Sasuke memikirkan perasaannya yang sebenarnya. Ia hanya ingin setidaknya Sasuke tak menyerah begitu saja setelah ia mengatakan ia akan baik-baik saja kemarin.

Ah, tapi rasanya hal itu tak mungkin. Apalagi dari seorang Uchiha Sasuke. Memikirkannya, membuatnya tertawa hambar.

Ino kembali mendongak setelah sebelumnya berjalan sambil menunduk. Senyum pun dikeluarkannya walaupun terkesan dipaksakan.

Semua hal tadi.. tidak, Ino tak boleh berpikiran seperti itu. Ia harus berpikir positif agar hatinya tak terus-menerus memburuk. Apalagi beberapa bulan lagi sudah ujian sekolah. Ia harus berjuang dan menata hatinya pada ujian kenaikan kelas nanti. Siapa juga yang ingin tinggal kelas? Ia tak ingin itu. Oleh karenanya, Ino harus menghilangkan perasaan mengganggu itu.

Ya, ia harus.

Ino menunduk masih dengan senyumnya. Namun kini, senyum itu terkesan kecut daripada dipaksakan.

Lagipula, setelah ujian itu pula, Sasuke, atau benarnya, senpai Sasuke sudah takkan lagi belajar di tempat yang sama dengannya. Pemuda itu sudah menginjak kelas tiga dan akan meninggalkan bangku sekolah lalu pergi kuliah seperti yang pernah pemuda itu ceritakan padanya. Ia takkan lagi bertemunya.

Ia tak harus terus-terusan sedih karena pemuda yang pernah membuatnya sakit hati tanpa sengaja itu takkan lagi terlihat olehnya.

Ya, Ino harus senang karenanya. Ia pasti bisa melupakan Sasuke.

'Ino! Ganbatte!'

:::

[From: Mr.X

To: Ino

Aku tidak percaya padamu. Semakin kau mengatakan kau baik-baik saja, aku semakin merasa kau tidak baik-baik saja. Katakan yang sebenarnya padaku. Kau tidak melihatku, tapi aku bisa melihatmu, Ino.]

{From: Ino

To: Mr.X

Kheh, siapa ini yang kuajak bicara? Seorang detektif? Hihi. Baiklah, mungkin aku memang tak baik-baik saja, tapi aku akan. Besok.. aku sudah tak lagi berangkat dengannya. Aku bisa mengatur hatiku.}

[From: Mr.X

To: Ino

Benarkah? Lalu.. apa yang akan kau lakukan?]

{From: Ino

To: Mr.X

Eh? Maksudnya?}

[From: Mr.X

To: Ino

Apa kau.. akan melupakannya?]

Untuk pertama kalinya Ino merasa ragu setelah membuat keputusannya begitu melihat pesan Mr.X.

Ia hanya menatap diam blinder yang ada di meja belajar di depannya itu. Tangannya memegang pena di atas meja, ragu untuk menulis sesuatu. Lagi, ia kembali merasa ragu.

Dia menoleh ke arah jendela, menatap 'pemandangan malam' biasanya. Masih seperti biasa, sosok yang jadi objek tatapnya tergambar sedang serius belajar. Matanya fokus terhadap bukunya sementara tangannya sesekali menggoreskan pena pada kumpulan lembaran pengetahuan itu.

Ino pun menghela nafas. Ia beranjak ke jendelanya hingga sosok pemuda itu semakin terlihat jelas. Ia terus bersandar pada pinggiran bingkai jendelanya. Namun, pemuda itu tak kunjung menyadari keberadaannya di posisi tempatnya yang bisa dibilang cukup dekat karena rumah mereka sendiri juga bersebelahan. Tapi itu bukan masalah, ia juga tak ingin pemuda itu menyadari dirinya saat ini.

Keraguan mulai meraup dirinya. Apakah ia akan melupakan pemuda itu?

Karena kalau tidak melupakannya, lalu bagaimana lagi? Perasaannya hanya akan kembali sakit bila teringat alasan dia membuat keputusan tersebut. Jadi, ia memang harus melupakannya.

Tapi.. kalau ia mencoba, apa yang mungkin akan terjadi? Apa semua akan baik-baik saja?

Masih dengan tatapan sendunya, ia bergumam, "Shikamaru.. kalau dulu aku kehilangan ingatanku setelah sakit hati seperti ini, apa mungkin kali ini aku bisa kehilangan ingatanku lagi tentangnya?"

Dalam benaknya, ia menjawab 'iya'. Tapi hatinya menginginkan hal lain.

"Bisakah kali ini hidupku berbeda dengan masa lalu?"

Tiba-tiba ia terkesiap. 'Pemandangan' malamnya menoleh ke arahnya. Sesaat Ino bisa melihat pemuda itu menaikkan sebelah alisnya setelah kemudian berdiri dan berjalan ke jendela sama sepertinya.

Lagi, onyx bertemu aqua-blue.

Tapi kali ini suasana terkesan sunyi, tak ada yang angkat bicara sedikitpun. Hanya tatap dan balas tatap saja yang mengisi suasana itu.

Sama seperti pertama kali mereka bertatapan dari jendela ini, Ino terbuai indahnya mata kelam itu. Tajam tapi mengikat. Ia suka itu.

Namun kali ini, Ino memilih untuk menatap mata itu lebih lama sambil menunggu pemuda itu mengatakan sesuatu.

Seperti apa yang dipikirkannya sebelumnya, beberapa bulan lagi ia takkan bisa menatap pemilik mata itu karena pemuda itu memilih universitas di luar perfektur. Jadi ini mungkin akan menjadi kali terakhir dari saat-saat terakhirnya ia menatap pemuda itu lebih lama. Ino akan sangat merindukannya.

Aaah.. kenapa ia jadi sangat bermelankoli seperti ini?

Tapi, setelah menunggu cukup lama, pemuda itu tak kunjung memulai percakapan. Ino mulai merasa tidak nyaman dan sedikit.. kecewa. Dipikirnya, pemuda itu akan menjelaskan alasan kenapa ia tak ingin lagi berangkat bersamanya ke sekolah.

Tapi sayang, pemuda itu lebih memilih menikmati tatapan masing-masing seperti dirinya. Lagipula, belum tentu jawabannya akan meringankan hatinya. Mungkin jawabannya ada hubungannya dengan gadis berambut coklat itu atau bahkan yang menyangkut dirinya. Seperti yang sempat terlintas di benaknya beberapa hari lalu.

Kali ini, ia harus menarik kata-katanya. Ia tak akan tahu apa jawabannya walau ia sangat ingin tahu.

Dialihkan pandangannya dari pemuda itu. Ia pun jadi sedikit salah tingkah.

Sebelah tangannya meraih pinggiran gorden jendela lalu ia kembali menatap pemuda itu.

Dengan satu tarikan nafas, ia lantas membungkuk dan berbalik sekaligus menutup jendelanya dengan gordennya.

Hah hah.

Sama seperti dulu. Jantungnya berdetak kencang setelah membungkuk pada pemuda itu. Tapi kali ini dengan perasaan berbeda. Perasaan yang sangat berkebalikan dengan saat itu.

Sesak.

Ia harus rela.

Dan kuat.

Kemudian, ia kembali melangkah menuju kursi belajarnya dan duduk di sana.

Dibacanya pertanyaan terakhir Mr.X. Berbeda dengan sebelumnya. Kali ini, ia tak lagi ragu.

Diraihnya pena di samping blinder itu dan mulai menulis.

{From: Ino

To: Mr.X

Ya. Aku akan melupakannya.}

:::

"Seratus yen, ah tidak, seratus tujuh puluh yen. Penghasilanku berkurang seratus tujuh puluh yen? Tidak bisa diterima. Aku harus−"

"DEI-NII..."

Kalimatnya tiba-tiba terpotong oleh suara cempreng milik adiknya seperti biasa. Hanya saja yang membuatnya memunculkan perempatan di dahinya adalah teriakan itu bertambah satu oktaf dari biasanya.

Adiknya itu suka membuatnya marah rupanya. #author: baru tau nih, Dei? #lempared pake bom#

Kalau adiknya berteriak setiap pagi kepadanya, itu sudah biasa. Tapi kalau volume suaranya yang sedikit berbeda kali ini, itu tak biasa baginya. Walau hanya satu oktaf, pasti ada yang tidak beres dengan adiknya hari ini?

Deidara-nama pemuda yang tengah menghitung penghasilan bisnisnya itu menoleh ke arah tangga dengan raut jengkel. Di sana, adiknya berdiri dengan seragam sekolahnya seperti biasa dan cengiran yang sedikit lebih lebar dari biasanya.

"Apa?" tanyanya ketus.

Alih-alih menjawab, Ino-adiknya lantas berlari ke arahnya yang tengah duduk di sofa ruang tamu dan merangkulnya ala saudara. Cengiran itu masih terpatri di bibirnya, membuatnya semakin mengerutkan alis heran.

"Antarin aku ke sekolah dong," jawabnya.

Oh, jadi itu yang membuat adik cerewetnya itu bertingkah berbeda. Ternyata ada maksud tersembunyinya.

"Kenapa mengantarmu lagi? Kupikir kau sudah punya pelayanmu sendiri," balasnya kemudian kembali ke kalkulatornya.

"Dia sudah tak lagi menemaniku. Ayolah... Antarin aku yah?"

"Tidak. Kau harus lebih mandiri sekarang."

"Kumohon..."

"Tidak."

"Dei-nii, aku ini adikmu." Ino semakin merengek.

"Dan aku kakakmu. Turuti kata-kata kakakmu, un."

Jengkel, Ino pun berdiri sambil menggembungkan pipinya. Ia berdecak pinggang.

"Tak apa kalau begitu. Toh aku juga malas terus-terusan promosi galerimu ke teman-teman. Haah.. terlalu merepotkan."

dahinya seketika berkedut. Diliriknya adik semata wayangnya yang sedang berseringai itu dari sudut matanya. Kemudian, ia kembali menatap kalkulatornya yang ada di atas meja.

'Seratus tujuh puluh yen. Tidak ada promosi?'

Menghela nafas, sepertinya ia tak bisa berkutik kali ini.

"Baik-baik. Aku menyerah."

:::

Kali ini Ino terkesan diam di dalam mobil. Berbeda dengan ketika dulu dia diantar Deidara ke sekolah, banyak ejekan yang mungkin terjadi di antara kedua penghuni mobil itu. Ino hanya menatap luar jendela tanpa semangat sedikit pun. Padahal tadi pagi gadis itu masih bisa mengeluarkan cengiran di depannya. Dan hal itu sukses membuat heran seorang Deidara.

"Ada yang salah?" tanyanya.

Ino hanya menggeleng lemah. Tapi dari spion mobilnya, Deidara bisa melihat dengan jelas sorot mata adiknya yang sedikit redup.

"Dulu kau sering cerita padaku. Kenapa sekarang diam saja?"

"Karena bukannya membantu, kau malah mengejekku." begitu kata adiknya.

Kheh. Deidara hanya mengulum senyum simpul.

"Baiklah, aku bisa merubah sikapku sekarang."

"Aku tidak percaya," kata Ino ketus.

Kesunyian pun mulai mengisi. Deidara tak lagi bicara tapi di benaknya ia memikirkan sesuatu. Sementara Ino, dia hanya meneruskan diamnya.

Hingga sampailah mereka di depan sekolah Ino, yang anehnya Ino belum juga mau keluar dari mobilnya.

Deidara memanfaatkan ini untuk angkat bicara. "Apa karena Sasuke?"

Ino hanya diam saja. Dan Deidara menganggapnya sebagai 'ya'.

"Karena dia tak lagi menemanimu berangkat sekolah?"

"Mungkin."

"Kau masih ingin berangkat sekolah dengannya?"

"Apa aku akan merindukannya?" kali ini Ino terkesan bicara sendiri daripada menjawab pertanyaan Deidara, membuat Deidara bingung.

Ino menoleh dan menatapnya penuh arti.

"Apa aku akan merindukannya setelah melupakannya?"

Deidara semakin menaikkan alis bingung. Tapi setidaknya ia bisa menangkap sedikit maksud tersembunyi Ino.

Ino sepertinya tersadar atas pertanyaannya, karena tiba-tiba ia terkesiap dan langsung berbalik bersiap membuka pintu mobil. Tapi belum sempat pintu mobilnya terbuka, suara Deidara menghentikannya.

"Aku tak terlalu mengerti apa yang terjadi. Tapi tak apa merindukannya, selama hal itu tak menyakitkanmu."

"Eh?"

Ino menaikkan alis heran. Deidara hanya memalingkan wajah, berusaha menutupi mimik pedulinya.

"Yah.. aku hanya ingin bilang, kakakmu ini selalu ada di 'sini'."

Dan di hari itu juga Ino menyadari sesuatu. Suatu hal penting dimana tak seharusnya ia bersedih. Karena di sisinya selalu ada orang-orang yang menemani dan takkan pernah meninggalkannya.

:::

[From: Mr.X

To: Ino

Kau.. yakin bisa melakukannya?]

{From: Ino

To: Mr.X

Bisa. Kau meragukanku?}

[From: Mr.X

To: Ino

Sangat. Aku sangat meragukanmu. Kau tahu, burung bermigrasi tak kan sampai pada tujuannya tanpa bersama rombongannya.]

{From: Ino

To: Mr.X

Walaupun burung itu bisa terbang? Walaupun dia tahu letak tujuannya?}

[From: Mr.X

To: Ino

Walaupun dia bisa terbang. Dan walaupun dia tahu letak tujuannya.]

{From: Ino

To: Mr.X

Ya ya ya. Aku mengerti maksudmu. Lalu siapa yang akan menemaniku ke ujung selatan?}

Ino senyum-senyum sendiri melihat tulisannya kali ini. Hatinya terasa hangat hanya karena beberapa kata-kata dalam blinder itu. Yang pasti pipinya kini sedang merona.

Masih dengan senyumnya, ia menutup blinder itu dan merebahkan dirinya di kasur tidurnya.

Entah apa jawaban Mr.X setelah ia melihat pesannya kali ini, yang pasti Ino tak sabar menunggu. Tapi ia cukup malu juga membayangkannya.

:::

[From: Mr.X

To: Ino

Kheh, kau ini. Kau ingin jawaban apa, huh? Kurasa kau sudah tahu jawabannya.]

{From: Ino

To: Mr.X

xixixi. Mungkin. Tapi benar deh, aku tak tahu. Tapi.. arigatou.}

Yah, Ino akui, hubungannya dengan Mr.X cukup meringankan hatinya. Ia sekarang sudah remaja dan hampir menginjak dewasa. Dan karena itu pulalah ia tak bisa semudah dulu curhat tentang masalahnya terhadap keluarganya, terutama ibu dan ayah. Kalau untuk Dei-nii, mungkin bisa. Tapi kakaknya itu terkadang menyebalkan −walau sering pengertian juga sih−. Lagipula, kakaknya itu punya bisnis yang harus dijalankan. Ia tak bisa mengganggu kakaknya semaunya saja.

Jadi dengan adanya Mr.X, ia punya teman curhat, selain Hinata dan Tenten tentunya. Dan kadang ia kepikiran, apa yang mungkin dipikirkan Mr.X tentangnya setelah ia curhat sebegitu banyaknya cerita padanya.

Ino ingin tahu itu.

Ia kembali meraih penanya dan mulai menulis sesuatu.

{Sebenarnya masih ada satu hal yang membuatku penasaran dari hari-hari kemarin. Mr.X, kenapa setelah aku tak masuk sehari itu kau tak segera membalas pesanku?}

:::

[From: Mr.X

To: Ino

Aku tidak sedang baik-baik saja waktu itu. Maaf.]

{From: Ino

To: Mr.X

Hehe.. tidak apa-apa.}

:::

Tiga bulan telah berlalu. Musim juga berlalu. Tinggal satu bulan lagi Konoha High melaksanakan ujian. Di saat-saat itu pulalah Ino juga menghindari Sasuke sebisa mungkin. Ia berusaha mengatur hatinya yang sempat sakit. Pemuda itu juga jarang lagi menemuinya. Lagipula menemuinya pun untuk apa? Di samping itu, pesan-pesan Mr.X lebih banyak menghiburnya. Ia merasa nyaman setiap kali pesan Mr.X datang padanya. Mungkin karena hatinya saat itu sedang kacau, hingga pesan Mr.X yang terkesan biasa pun bisa menenangkan hatinya. Ia jadi sering tersenyum sendiri dan lebih melupakan masalah hatinya pada Sasuke.

Tak hanya itu, Mr.X juga sedikit berubah, lebih banyak mengeluarkan gurauan yang sukses menghiburnya. Dan semua perubahan itu tentu saja menurut Ino.

"Sebentar lagi ujian. Itu berarti aku tak lagi bisa bertemu Neji-senpai deh," desah Tenten sedikit menyesal. Di meja kantin itu ia menggerutu sambil mengerucutkan bibirnya.

"Untuk apa kau menyesal? Bukannya kau sudah tak menyukainya lagi?" sahut Ino. Hinata dan Chouji mengangguk setuju. Walaupun Shikamaru terlihat tertidur, tapi Ino tahu ia juga mendengarkan.

Tenten mendelik ke arah Ino.

"Walau mungkin aku tak menyukainya, tapi dia pernah menjadi sejarahku. Aku akan merindukannya."

"Sejarah?" tanya Ino.

"Iya, sejarah. Tanpa dia, aku takkan bisa bersemangat seperti biasanya. Dia bukan seseorang yang harus dilupakan."

Ino tidak mengerti kenapa. Tapi kalimat terakhir Tenten cukup mengusiknya. Menjadikan seseorang yang sempat disukainya untuk tidak dilupakan. Sekilas Ino bisa mengerti, tapi setelah dipikir lagi, ia sedikit merasa kebingungan.

Dalam cerita Ino, ia cenderung disakiti hatinya. Sementara dalam cerita Tenten, gadis itu sama sekali tak disakiti. Ia hanya mencintai Neji dan sadar bahwa ternyata perasaan itu bukanlah cinta, melainkan hanya kagum atau suka.

Jadi bila menjadikan seseorang yang sempat dicintai untuk tidak dilupakan, apa hal itu berlaku di kehidupannya, kehidupan Ino?

"Ino, kenapa bengong saja?" pertanyaan Tenten membuyarkannya.

"Eh? Aku bengong?"

"Ck. Jangan pura-pura deh. Kau tadi jelas tak memperhatikanku."

Kali ini, Ino justru berseringai. "Kau ingin aku memperhatikanmu? Oooh.. So sweet."

"Jangan berpikiran macam-macam deh!"

Selanjutnya bisa didengar suara kikikan tawa kecil dari bangku berpenghuni lima anak itu.

:::

Sepulang sekolah, Ino tak langsung pulang karena masih ada yang harus dikerjakannya di klub sastra. Kegiatan tambahannya sebagai pengurus klub itu jadi sedikit menyita waktunya. Tapi walaupun begitu ia menikmatinya.

Kini, Ino tengah berjalan santai di koridor sekolah. Hinata dan Tenten sudah lebih dulu meninggalkan sekolah, membuatnya pulang sendirian.

Baginya tak masalah pulang sendirian. Kegiatan klub itu sudah cukup membuatnya terbiasa pulang terlambat.

"Aaah.. aku capek sekali."

"Aku juga." tiba-tiba suara kumpulan siswa masuk ke gendang telinganya.

"Ah! Itu Sasuke-kun! Sasuke-kun! Sasuke-kun!" teriakan-teriakan itu juga terdengar oleh telinganya, membuatnya mendongak.

Beberapa siswi sedang mengelilingi seseorang yang tak lagi asing untuk mendapat perhatian siswi-siswi tersebut. Mereka saling berebut menawarkan sapu tangan atau tisu untuk sosok itu, yang justru jengkel dengan sikap mereka. Alisnya menyatu dan ia sempat menepis salah satu tangan siswi yang hampir menyentuh wajahnya. Tapi siswi-siswi itu tak henti-hentinya menyerangnya.

Sosok itu yang ternyata Sasuke sebenarnya faham mereka ingin membersihkan wajahnya dari keringat. Tindakan yang baik. Tapi ia juga tahu, mereka hanya berniat mencari perhatiannya yang bahkan sangat mustahil sekali. Orang lain pun pasti menyadari sikap mereka, lalu kenapa siswi-siswi itu justru tak peka?

Mereka terlalu keras kepala. Dan Sasuke jengkel karenanya.

Ino yang menyaksikannya sedari tadi kini masih terdiam. Ia tak sedih, jengkel, ataupun cemburu melihat kejadian itu walaupun ia menyukai pemuda itu, karena hal itu sudah menjadi kebiasaan semenjak ia menginjakkan kakinya di Konoha High. Pandangannya masih terpaku pada sosok pemuda itu yang kini sedang membereskan barang-barang dari kegiatan klub sepak bolanya ke dalam loker.

Sasuke, setelah ini ia takkan lagi menginjakkan kakinya di Konoha High lagi. Dalam satu bulan ke depan, pemuda itu akan lulus. Dan itulah yang terus mengusik hati kecil Ino sedari tadi.

Tanpa adanya dia, Ino takkan lagi melihat sosoknya. Tanpa adanya dia, Ino takkan lagi bisa bertemu setiap kali selesai kegiatan klub. Tanpa adanya dia, pemandangan malamnya akan hilang. Kheh, Ino bisa saja tertawa sendiri mengingat setiap malam yang dengan kagumnya, ia memandangi sosok itu dari jendelanya. Betapa konyolnya ia waktu itu. Tapi yah, itu kan ketika seseorang jatuh cinta. Hal yang dulu terkesan menyenangkan, kini seakan semua itu konyol.

Tapi, setelah pemuda itu lulus, apa yang akan dilakukannya? Ino pasti akan merindukan sosoknya. Sangat. Walaupun pemuda itu sempat tanpa sengaja menyakitinya, seperti kata Tenten, pemuda itu juga menjadi salah satu kepingan hidupnya. Perasaannya yang terasa sakit ketika melihat pemuda itu tertawa bersama gadis lain memang mengganggunya. Tapi, kenapa terus mempertahankan perasaan sakit itu, padahal kita bisa saja menggantinya dengan perasaan yang lebih menyenangkan? Rindu.

Ino baru menyadarinya. Dan itu cukup menyentakkannya ke dunia nyata.

Dengan seulas senyum, ia beranjak menuju Sasuke yang kini sedang mengirim deathglare serta penolakan pada kumpulan siswi itu. Diraihnya sapu tangan dari dalam tasnya dan begitu ia sampai di dekat pemuda itu, ia menyodorkannya.

"Ini!"

Sasuke dan beberapa siswi di depannya lantas menoleh. Sempat ia terkesiap dengan kehadiran Ino lalu menatap sapu tangan di tangan Ino.

Sementara itu, kumpulan siswi tak lagi menjadi perhatiannya. Tatapannya kemudian berganti ke wajah Ino yang kini sedang tersenyum padanya. Entah apa yang dipikirkannya, tapi ia tak kunjung menerima sapu tangan itu. Ia terus menatap Ino dalam diam, membuatnya menatap Sasuke heran.

"Anoo.."

"Ah! Ya." Sasuke tersadar. Diambilnya sapu tangan itu segera. Ino tersenyum semakin lebar.

"Sasuke-kun, lalu bagaimana dengan sapu tangan kami?" rengek salah satu siswi tadi.

Sasuke mengernyit heran. Diraihnya tangan Ino dan ia menatap siswi-siswi itu tajam.

"Aku, tidak peduli." dengan begitu, Sasuke langsung menarik Ino pergi.

:::

Mereka berjalan dalam diam. Ini kali pertama mereka berjalan bersama sejak mereka memutuskan untuk tidak berangkat sekolah bersama. Sudah lama sekali hingga membuat mereka merasa gugup berjalan bersama lagi. Dan kini mereka sama-sama tak tahu harus bicara apa.

"Err..." Ino memulai, "Sudah lama bukan?"

"Ya."

"Sebentar lagi..sudah ujian."

"Hn."

"Etto..." Ino sedikit menunduk ragu untuk meneruskannya, karena apa yang akan dikatakannya adalah bagaimana ia tak bisa bertemu pemuda itu lagi setelahnya.

"Jangan khawatir."

Ino sontak menoleh.

"Eh? Khawatir?"

"Hn. Kau pasti berpikir kita tak bisa bertemu lagi."

"Ng-nggak kok. Aku nggak sedang berpikir seperti itu." Ino jadi tambah gugup. Tak disangka pikirannya bisa mudah ditebak.

Sunyi pun kembali mendominasi. Tak ada lagi yang bicara setelah percakapan menggantung itu. Tapi satu hal yang berbeda, sebuah senyum tipis muncul di bibir Sasuke.

:::

[From: Mr.X

To: Ino

Sebentar lagi ujian. Kau sudah menyiapkan diri?]

{From: Ino

To: Mr.X

He'em. Aku sudah siap dari awal. Bagaimana denganmu?}

[From: Mr.X

To: Ino

Well. Tentu saja, seorang yang masuk ke 30 besar se-sekolah tidak mungkin untuk tidak belajar. Bukankah begitu? #smirk# Oh, dan aku..juga sudah mempersiapkan diriku.]

{From: Ino

To: Mr.X

Kheh, kini aku mulai berpikir you're stalking me, Mr.X}

[From: Mr.X

To: Ino

Penguntit? Itukah julukan baruku? Eh?]

:::

Beberapa hari berlalu. Tidak ada lagi kata canggung setiap kali Ino dan Sasuke bertemu bahkan ketika bersama, walaupun itu jarang sekali. Ino sering banyak tersenyum setiap kali berpapasan, dan Sasuke sendiri tak jauh beda melakukannya. Meski sebenarnya rasa sakit hati itu selalu muncul di waktu-waktu itu juga, tapi membiarkan perasaan itu berlarut-larut bukan pula pilihannya. Hingga mengesampingkan perasaan sesak itu setiap kali mereka berdekatan adalah yang terbaik menurut Ino.

Selain pemuda tampan Uchiha itu, masih ada seorang lagi yang mau tidak mau selalu membuatnya penasaran. Setiap kali mereka bicara, ah tidak, sepertinya chatting lebih pantas sebagai sebutannya, rasa penasaran akan siapa sosok itu sebenarnya, seperti apa sosok itu, seberapa jauh dia mengerti Ino selalu menjadi beban pikirannya. Meski disebut beban, tapi ia cukup menikmatinya.

Setiap kali pesan pemuda itu −Mr.X diterimanya, keingintahuannya tentang pemuda itu semakin bertambah. Pernah terlintas di benaknya untuk mengamati diam-diam ketika pemuda itu menaruh alat komunikasi mereka ke dalam lokernya. Tapi urung dilakukannya karena hal itu sama saja melanggar janjinya sendiri untuk tidak mencari tahu identitas pemuda itu. Dan alasan yang sangat mendominasi niatnya untuk berbuat seperti itu adalah karena sosok misterius itu selalu memberikan perhatian yang tak disangka-sangkanya. Tentu saja itu membuatnya senang.

Ino sempat berpikir Mr.X adalah penggemar rahasianya. Itu karena perkenalan melalui surat identik dengan permulaan kisah cinta remaja pada umumnya. Anak muda jaman sekarang banyak yang suka mengirim surat cinta pada idolanya. Walaupun Mr.X tak pernah mengatakan 'aku cinta padamu' atau 'maukah kau jadi pacarku', tapi tak dapat dipungkiri, pemikiran itu tetap terlintas di benaknya.

Dan kini, begitu ia menyadari bahwa Mr.X hanya ingin menjadi temannya, ia jadi merasa malu sendiri.

Dan satu hal yang pasti, Mr.X turut andil dalam penyembuhan hatinya karena Sasuke.

Semakin memikirkannya, semakin membuatnya penasaran dengan penpalnya itu.

{From: Ino

To: Mr.X

Yah, julukan itu cocok untukmu. Hihi. Ngomong-ngomong, kapan kita bisa bertemu? Tak selamanya juga kan kau bersembunyi di balik tulisan-tulisan ini.}

[From: Mr.X

To: Ino

Kau ingin kita bertemu? Hm.. aku juga sedang memikirkannya. Sabar saja, aku takkan membuatmu menunggu lebih lama. Dan pastikan kau mempersiapkan diri waktu itu, karena..kau akan menemui sosok yang berbeda.]

{From: Ino

To: Mr.X

Menemui sosok yang berbeda? Apa itu berarti kau merubah wujudmu? Atau kau malu hingga meminta orang lain menggantikanmu? Aku tak paham.}

[From: Mr.X

To: Ino

Ck. Dasar anak kecil. Kupikir kau masuk 30 besar karena kau pintar. Ternyata kau tak memahaminya.]

{From: Ino

To: Mr.X

Hei! Ayolah..aku hanya bercanda. Tentu saja aku mengerti maksudmu. Eerr..kau tidak marah kan?}

[From: Mr.X

To: Ino

Aku marah. Kau harus bawa sesuatu ketika kita bertemu nanti.]

Ino tersenyum simpul melihat tulisan tangan itu. Baginya itu menarik, seorang Mr.X yang sudah ia tahu dengan sifatnya yang dingin, menulis seolah-olah ia sedang..merajuk. Ino bakal sangat suka bila ia bisa melihat ekspresi Mr.X saat menulis itu.

Tapi..itu pasti tidak mungkin. Tidak mungkin Mr.X bisa bersikap seperti itu. Khayalan yang mustahil. Dan yang mungkin menurut Ino adalah Mr.X justru tertawa ketika menulis balasan untuknya.

Baiklah ia akan menikmati ini kalau begitu.

{From: Ino

To: Mr.X

Apapun yang kau mau Mr.X, #selama tak macam-macam.#}

:::

Esok lusa, ujian sekolah sudah akan dimulai. Ino dan Mr.X sudah sepakat untuk tidak berhubungan lagi. Dan hal itu juga tak masalah baginya. Ia akan menunggu hingga ujian selesai. Selain itu, yang paling membuatnya tak sabar adalah di waktu itu juga, Mr.X akan menampakkan diri. Uuugh...Ino pasti senang sekali.

Dan untuk sementara waktu, Ino bisa menghilangkan wajah Sasuke dari benaknya.

Yah, benar, itu memang sementara waktu, karena pikirannya kembali terisi olehnya tepat setelah ujian selesai. Bukan karena cinta atau patah hati, melainkan karena pemuda itu beserta kakaknya mengajaknya bermain bersama ke vila mereka. Dan selama itu bersama kakaknya, ia takkan masalah.

Hanya saja, satu hal dan hanya satu hal yang paling mengusiknya di waktu-waktu itu, Mr.X tak membalas pesan terakhirnya.

Apa lagi kali ini?

"Kau tak menyukainya?" suara itu lantas menyadarkannya. Ino menoleh ke arah Sasuke.

"Aku tak menyangka kita masih bersama di saat yang kusangka aku takkan lagi melihatmu. Tapi, tapi bukan begitu. Tentu saja aku suka," jawab Ino.

Mereka kini sedang dalam perjalanan mereka menuju vila keluarga Uchiha. Di bagian depan mobil, duduklah Uchiha Itachi dan kakaknya. Sementara di bangku belakang, ia dan Sasuke. Keluarga mereka tak ikut bersama mereka. Hanya mereka, sebagai pengisi liburan mereka.

"Ada yang sedang mengganggumu?"

Ada. Dan itu sangat menggangguku.

Ino menghela nafas. Tidak mungkin juga ia akan menceritakan masalahnya pada pemuda yang terkesan cuek itu. Entahlah, mood-nya mengatakan ia tak ingin bicara saat ini.

Hingga menggelengkan kepala adalah yang dilakukannya saat ini.

Dan Sasuke pun menjadi acuh.

"Hei! Bukannya kalian tetangga, lalu ekspresi apa yang kalian gunakan itu? Eh?" Itachi ikut menimpali.

Tapi sayang sekali, baik Ino maupun Sasuke tak menyahut sama sekali. Mereka hanya meneruskan kegiatan acuh dan sendu mereka.

"Kau takkan mendapatkan jawaban ketika Ino-ku seperti itu, Itachi," kata Deidara.

"Yah, aku juga sudah menduga takkan mendapatkan jawaban apapun dari Sasuke-ku." dan mereka pun tertawa bersama, menimbulkan kerutan alis di wajah kedua penumpang yang ada di belakang mobil itu.

"Bisakah kita lanjutkan perjalanan ini saja?"

Itachi dan Deidara hanya mengedikkan bahu acuh mendengar penuturan tajam Sasuke barusan.

:::

Angin berhembus lembut, pasir pantai yang halus, ew, mungkin justru kasar, mangrove yang menari-nari, dan air pantai yang menyapu kaki. Semua terasa menenangkan. Ino berdiri di pantai menikmati indahnya pemandangan pantai yang mulai sore. Senyum menghiasi bibirnya. Rambut pirangnya yang tergerai seolah juga mengikuti kebahagiaan yang kini meraup di relung hatinya.

Yah, setidaknya hal itu akan tetap bertahan sampai sebuah ingatan kembali melewati benaknya.

Uugh...Mr.X mengganggunya. Pemuda itu telah berjanji untuk menemuinya setelah ujian usai. Ia akan menunjukkan diri setelah sekitar dua tahun bersembunyi di balik kumpulan kata. Dan Ino sangat, sangat menantikan saat-saat itu, lebih tepatnya saat-saat ini.

Ia menghela nafas. Sudah pasti Mr.X takkan menampakkan diri. Mereka tak lagi pergi ke sekolah dan liburan juga sudah ia rasakan sekarang.

Ino tak tahu mengapa, dan Ino tak ingin ia berperasangka buruk. Tapi jelas ini sesuatu yang aneh dari Mr.X. Memang sih, ia tak mengenal sosok Mr.X yang sebenarnya, tapi ia sudah beranggapan Mr.X akan jujur kepadanya. Ino sudah cukup memberi kepercayaan pada pemuda misterius itu.

Ooh...apa pemuda itu hanya mempermainkannya? Apa pemuda itu hanya ingin bersenang-senang dengannya? Apalagi terhadap seorang gadis?

Ino menggelengkan kepala. Ia tak ingin berpikiran seperti itu.

Tapi, apa yang bisa membuatnya berpikiran sebaliknya?

"Apa lagi yang ada di benakmu sekarang?" Sasuke tiba-tiba muncul dari samping Ino. Kapan pemuda itu datang, ia terlalu sibuk dengan pikirannya hingga tak menyadarinya.

Ino pun menunduk.

"Bukan apa-apa."

"Selalu 'bukan apa-apa'. Tidak adakah hal lain yang bisa kau katakan setiap kali aku bertanya masalahmu?"

"Aku..."

"Kita duduk saja." Sasuke menarik tangan Ino dan menuntunnya ke pinggiran pantai yang tidak terkena air. Mereka duduk di sana.

Sasuke kembali bicara, "Katakan sesuatu!"

"Apa?"

"Itu lagi?"

Ino menatap Sasuke penuh tanya.

"Kenapa kau ingin sekali tahu tentang masalahku?"

"Kheh!"

"Kenapa rautmu seperti itu?"

"Kau tahu? Aku mempercayaimu," kata Sasuke yang sontak membuat Ino melebarkan mata.

"Apa kau tak bisa mempercayaiku?" tambahnya penuh harap.

"Kau pernah menanyakan hal ini sebelumnya."

"Lalu..apa jawabanmu sama seperti sebelumnya?"

Inikah saat yang selalu membuatnya terdiam. Terjebak antara ragu dan perasaannya. Ia tidak yakin. Bukan karena jawaban yang mungkin akan diberikannya pada pemuda itu. Tapi maksud lain dari pernyataan pemuda itu bahwa Sasuke mempercayai Ino.

"Kenapa kau mempercayaiku?" tanya Ino.

"Kau mulai memutar-mutar masalah. Baiklah, untuk membuatnya singkat, kenapa aku mempercayaimu..."

Sasuke berhenti sejenak.

"Karena kau mempercayaiku."

Dan Ino sukses terkesiap. Ia cukup mengerti maksud kalimat barusan, tapi ia rasa kalimat itu..salah.

"Aku tak mengerti maksudmu," kata Ino.

"Kau akan mengerti. Sekarang, keberatan menceritakan masalahmu padaku?"

Ino menunduk sebentar kemudian bicara, "Kau ingat ketika aku memberitahumu tentang Mr.X?"

"Hn."

"Dia tak membalas pesan terakhirku hingga sekarang."

"Hanya karena itu kau diam sedari tadi?"

Dengan wajah cemberut, Ino menjawab, "Kau tak tahu seberapa pentingnya hal itu untukku." tapi kali ini Ino berubah sendu. "Mr.X berjanji untuk menampakkan dirinya setelah ujian. Tapi hingga liburan ini..dia tak menampilkan dirinya."

Dan Ino sangat sedih karenanya. Gadis itu terlihat kecewa.

"Kau..kecewa karena menunggunya menampakkan diri cukup lama?" tanya Sasuke hati-hati.

Ino menggeleng.

"Sebagian kecil aku penasaran dengan sosoknya. Tapi..sebagian besar, aku hanya tak ingin kejadian masa lalu terulang lagi."

"Kejadian masa lalu?"

Ino sedikit tersentak. Ia baru menyadari apa yang dikatakannya.

"Ah! Etto.. Itu hanya masa lalu."

Yah, masa lalu yang tak ingin ia ingat. Ia tak ingin ditinggalkan seorang teman sama seperti masa lalunya. Walaupun kali ini hanya sebuah pertemanan kecil dan bukan persahabatan hangat layaknya dulu, tapi Ino sudah menaruh harap pada pertemanan kecil itu. Ia terlanjur percaya.

"Ino..."

"Ya?"

"Kau merindukan Mr.X?"

"He'em."

"Kalaupun Mr.X tidak muncul, apa kau tetap akan mempercayainya? Apa kau akan menunggunya?"

"Entahlah."

"Dan kalaupun..Mr.X berkata seperti ini..." Sasuke terlihat tak yakin untuk melanjutkannya.

"Berkata apa?" tanya Ino pada akhirnya.

"Kalau Mr.X-mu berkata..'aku menyukaimu', apa kau bisa mempercayainya?"

DEG

Ino terbelalak tak percaya. Pikirannya memproses pertanyaan yang baru saja ditujukan padanya. Sementara jantungnya sendiri tengah berdegup tak karuan.

Belum sempat ia meminta penjelasan lebih lanjut, Sasuke tiba-tiba memotongnya, "Ayo kita kembali, makan malam sudah siap," ajaknya.

Ino menurut saja ketika tangannya ditarik Sasuke menuju vila. Pandangannya tak lepas dari pasir putih di bawahnya.

Sedangkan, pikirannya tengah beradu memainkan semua kemungkinan-kemungkinan yang tiba-tiba muncul begitu saja.

Andai Ino bisa berpikir lebih cepat, andai kesadarannya bisa cepat menguasainya, dan andai ia menyadarinya, ia akan bisa melihat semburat merah muncul di kedua pipi Sasuke.

:::

"KONBAWAAA..." teriakan nyaring itu lantas mengagetkan seluruh penghuni vila yang sedang makan malam termasuk para pelayannya. Mereka kemudian menoleh ke arah pintu tepat dimana seorang gadis berambut coklat pendek tengah tersenyum pada mereka.

Dan Ino hanya bisa membelalakkan mata melihat siapa yang datang.

"Sasuke-kun. Itachi. Dan wow! Siapa mereka? Teman kalian?" gadis itu melangkah mendekati meja makan dan berdiri tepat di antara Sasuke dan Itachi. Tak hanya itu, ia juga mencium pipi kedua pemuda itu.

"Dia temanku dan yang satunya adiknya," kata Itachi sambil menunjuk Deidara kemudian Ino.

"Kalian tidak bilang kalau kalian bawa teman kalian. Kupikir hanya kita bertiga yang akan menghabiskan liburan di vila ini."

"Kau tak menanyakannya, Rin."

Gadis yang dipanggil Rin itu tersenyum malu.

"Well, iya juga sih."

Semua mata menatap ke arah pendatang baru itu. Para pelayan tersenyum memaklumi, seolah mereka sudah memahami sifat gadis itu. Begitu pun Deidara, ia langsung saja bergabung percakapan mereka dengan santainya. Dan satu hal yang mereka lupakan, raut tidak suka dari gadis Yamanaka yang terdiam sedari tadi.

Acara makan malam pun tak berjalan kidmat seperti pada umumnya. Makan malam kali ini terkesan ramai. Banyak percakapan yang mengisi di sepanjang waktu itu.

Namun, sebuah suara dari geseran kursi di tengah-tengah makan malam itu lantas mengalihkan perhatian semuanya.

"Aku sudah selesai. Permisi." dengan begitu Ino beranjak pergi dari ruangan itu menuju kamarnya setelah sebelumnya memberi hormat paksa pada penghuni yang masih ada.

Di vila itu tersedia banyak kamar, hingga masing-masing dari penghuninya boleh memilih kamar yang mereka inginkan. Dan Ino memilih kamar yang menghadap pantai, karena menatap hamparan pantai akan sangat membantu di saat-saat seperti ini. Saat-saat yang menyesakkan baginya.

Ditutupnya pintu kamarnya dan ia beranjak menuju jendela. Tangannya memukul bingkai jendela marah.

"Uuugh..kenapa dia di sini sih?"

:::

Setelah akhirnya berhasil menangkan diri, Ino beranjak ke kasur tidurnya dan berbaring di atasnya. Nafasnya masih agak memburu karena emosi yang baru saja menyerangnya. Kedatangan gadis coklat itu telah merubah mood-nya menjadi sangat tidak baik.

Akhirnya ia bisa bertemu gadis itu. Tapi itupun sebenarnya tak diinginkannya. Karena gadis itu telah memberinya goresan hati yang bahkan belum sepenuhnya berhasil ia obati.

Seketika saja, ia ingin segera pulang ke rumahnya. Menghabiskan liburan dengan Sasuke mungkin bisa ditoleransi. Tapi menghabiskan waktu liburan di samping dua orang yang membuatnya menangis, jelas bukan pilihannya.

Entah ia bisa bertahan atau tidak, tapi Ino bisa menduga, esok, bahkan malam ini ia akan menemukan dua manusia itu tertawa bersama. Dalam arti ringkas, melihat keduanya berpacaran. Ugh..Ino bahkan tak ingin mengakui itu.

Kini, hatinya kembali terasa sesak. Lagi-lagi perih yang sempat membaik kembali menampilkan wujudnya. Memikirkan keduanya bersama, Ino sudah ingin menghilang dari sana. Entah bagaimana ia bisa kembali merasakan sesak itu, tapi yang jelas, ia tak suka. Hal itu..terasa menyakitkan.

"Apa mungkin aku kembali menyukainya? Ugh..Ino, ayolah!" dan malam itu Ino hanya bisa menggerutu saking bodohnya ia yang mudah terpengaruh perasaannya.

:::

TOK TOK

suara itu mengganggu tidurnya.

TOK TOK

suara itu lagi-lagi masuk ke telinganya.

TOK TOK

Ugh..ia tak tahan. Siapa yang mengetuk pintu dan mengusik tidurnya.

Dengan kasar, ia menyibak selimutnya serta menatap tajam pintu berwarna coklat itu.

"SIAPA?"

"Hei! Kau diajak Sasuke dan Rin bermain di pantai. Mereka menunggumu di bawah." dari suaranya, Ino tahu, Deidara yang bicara. Dan dari apa yang dibicarakan, Ino semakin tak ingin bangun.

"Lupakan saja! Aku ingin tidur. Jangan ganggu!" balas Ino sambil kembali bersembunyi di balik selimutnya.

"Terserah, un! Aku mau pergi dengan Itachi, telepon saja kalau ada masalah." dan Ino bisa mendengar suara langkah kaki yang menjauh.

Dari balik selimut itu, Ino membuka matanya yang terlihat redup.

'Bermain bersama mereka? Jangan harap.'

Dan ia kembali menutup matanya.

:::

"Hei, bangun!"

kali ini siapa lagi.

"Bangun!"

suara itu belum juga berhenti. Kalau itu Deidara, ia akan memukulnya langsung setelah ini.

"Hei, bangun!" dan Ino sudah tak tahan lagi. Disibaknya selimutnya kasar dan ia lantas berteriak pada pengganggu tidurnya.

"APA?" dan Ino hanya bisa tercekat melihat siapa yang membangunkannya.

"Sudah bangun, Ino-chan?" seorang gadis yang paling tidak ingin ditemuinya ada di depannya tengah tersenyum padanya. Sedangkan Sasuke, pemuda yang juga ingin dihindarinya berdiri di samping gadis itu tanpa ekspresi apapun. Mereka datang untuk apa? Dan, apa gadis itu yang membangunkannya? Tapi, aneh sekali, ia seperti mendengar suara laki-laki daripada perempuan tadi.

"Kau? Apa yang kau lakukan di kamarku?" tanya Ino penuh selidik.

"Kami ingin mengajakmu bermain di pantai bersama kami," katanya. Dan Ino terpaksa mengakui, suara gadis itu lembut.

Ino memalingkan muka. Ia tak ingin bermain bersama mereka. Terutama gadis itu.

"Tidak, terima kasih. Aku sedang tak ingin bermain."

"Ayolah, Ino-chan! Ikut kami ya? Yah." dan terjadilah tatap menatap di antara kedua gadis itu. Satu dengan senyum dan mata berharapnya, satunya dengan dengan tatapan tajamnya.

Dan di setiap pertandingan, selalu ada yang menang atau kalah. Meskipun tidak seperti itu, pastilah ada yang salah satunya yang mengalah.

"Okeii..aku menyerah."

:::

Sejak hari kemarin, ia selalu bertanya-tanya, hidupnya adalah miliknya, lalu kenapa ia seolah tak punya kendali atasnya? Masa lalunya, mirip dengan masa depannya. Bila di masa lalunya, ia merasa sakit hati, maka hal itu takkan berbeda dengan masa depannya. Meski itu hatinya, tapi ia tak bisa mengontrolnya. Lalu, apa yang bisa diperbuatnya untuk merubahnya?

"Kau dimana Sasuke-kun? Ino-chan?" di depannya seorang gadis tengah tertutup matanya dengan sehelai kain. Ia tengah meraba-raba area di sekitarnya untuk mencari dia dan Sasuke dalam sebuah game.

Ino hanya bisa menatapnya diam. Well. Ia memang harus diam agar posisinya tak diketahui gadis itu. Tapi ia diam karena ia tak semangat bicara saat ini.

Terlebih ketika gadis itu tak lagi mengarah padanya. Ia berbelok tepat ke arah kanannya dimana Sasuke juga tengah berdiri diam sambil berseringai.

Rin, nama gadis itu, berhasil menemukan posisi Sasuke dan kini meraba-raba wajahnya. Rin tampak sangat senang karena berhasil menemukan Sasuke. Sedangkan Sasuke sendiri masih tetap berseringai.

Ino menatap kosong pemandangan yang kini terasa perih di matanya. Dan yang paling menjengkelkannya lagi ketika hatinya bergemuruh melihat kulit mereka bersentuhan. Dan ini akan tetap seperti masa lalunya yang menyedihkan.

Konyol.

Ingatannya kembali pada kata-katanya pada blinder itu.

'Mungkin perjodohan lebih baik untukku.'

Mr.X, kemana kau? Apa nasehat yang mungkin akan kau berikan padaku saat ini?

:::

Dan sudah bisa ditebak, liburan Ino kali ini akan berbeda. Setiap kali Ino diajak bermain, Ino selalu sedikitnya berusaha mengacaukannya. Setiap kali suara Rin terdengar menggoda Sasuke, ia akan setidaknya mengejeknya atau mungkin membawanya pergi dari Sasuke. Dan tentu saja hal itu tak luput dari perhatian Rin.

Karena kecemburuan, Ino menjadi marah pada sekitarnya. Dengan begitu ia bisa menyembunyikan cemburunya tanpa harus dengan tangisan. Ia bisa bersembunyi di balik sikapnya. Dan ia harap akan tetap seperti itu.

"Kau tampak aneh," kata seseorang dari belakangnya. Mereka barusaja selesai makan malam di hari ke tiga liburan mereka.

Ino menoleh ke belakang, "Apanya yang aneh?"

"Kau tidak menyadarinya?"

"Kheh, kalau aku menyadarinya aku takkan bertanya, Senpai," balas Ino sambil kembali menatap depan. Pemuda itu mengambil langkah di sampingnya.

"Apa kau menikmati liburan ini?" tanyanya.

"Ya."

Sasuke menatap Ino diam dari sudut matanya sementara sunyi mengisi ruang di antara mereka.

"Kupikir kau mulai terbuka di depanku. Tapi kau masih saja tak mau jujur. Kheh."

Sasuke melanjutkan, "Well, aku takkan memaksamu." dengan begitu, Sasuke meninggalkan Ino yang menatapnya gundah.

Meski Ino tak yakin, tapi ia cukup mengerti maksud Sasuke tadi. Dan ia mulai merasa benar-benar bersalah saat ini.

Semakin keras ia memikirkannya, semakin ia merasa bersalah. Dan Sasuke pasti marah padanya saat ini.

Dengan keyakinan penuh, ia menatap depan dan berjalan ke arah Sasuke pergi, berniat meminta maaf padanya.

Dengan agak terburu-buru, ia berlari ke ujung lorong tempat di sekitar kamar Sasuke berada. Sepertinya ia tadi terlalu mengambil banyak waktu hanya untuk berpikir hingga kini ia kehilangan jejak Sasuke.

Ia terus berjalan hingga mendekati ujung lorong, tapi tiba-tiba berhenti ketika matanya menangkap siluet seseorang dari ruangan di samping kanannya. Siluet itu tengah menaruh sebuah box besar di atas meja. Karena tadi kelihatannya box itu besar, Ino memutuskan untuk membantunya. Ia masuk ke ruang itu.

"Itachi-nii? Boleh kubantu?" tawar Ino mendekati orang itu.

Menyadari kehadiran Ino, ia menoleh kemudian tersenyum.

"Oh, Ino-chan, tak apa, aku bisa membereskannya sendiri."

"Memang itu apa?"

"Barang-barang Sasuke. Kami mau bertukar kamar."

"Tukar kamar? Kenapa?"

Itachi berseringai sambil mengambil beberapa buku dan diletakkan di atas meja belajar tak jauh darinya.

"Mungkin dia takut di kamarnya sebelumnya," katanya membuat Ino terkikik geli. Lumayan lucu juga sih mengetahui Sasuke takut di kamarnya sendiri. Ia kemudian menunduk, mengintip isi box kuning itu.

Matanya seketika menyipit mendapati sebuah benda yang berhasil menarik perhatiannya. Diambilnya benda itu dan dibukanya isinya. Tangannya membolak-balikan isinya sedangkan matanya terpaku penuh ketidak percayaan.

"Ino? Kau baik-baik saja?" bahkan pertanyaan itu tak dihiraukannya. Ia lantas menatap Itachi penuh intimidasi.

"Kau, kau yakin ini milik Sasuke, Itachi-nii?" tanyanya.

Itachi mengangguk yakin.

"Ya. Semua yang ada di dalam sana milik Sasuke." dan Ino hanya bisa menunduk lemah menatap benda di tangannya itu.

Masih dengan kekagetannya, ia bergumam, "Ini mustahil."

:::

Seorang gadis berjalan menuju balkon di ujung lorong sambil menghentakkan kaki kesal. Hatinya berkecamuk tak menentu. Tentu ia marah, seseorang yang ia percaya selama ini, seseorang yang ia jadikan pelampiasan masalah, justru penyebab masalah itu sendiri. Tentu saja Ino merasa ditipu. Ia terlanjur berpikir, Mr.X adalah orang berbeda karena ia tak pernah menyangkal ketika ia bercerita tentang Sasuke padanya. Mr.X selalu menghiburnya kala ia punya masalah hati dengan Sasuke dan bersikap seolah dia orang berbeda dengan yang mereka bicarakan. Ino masih belum bisa percaya. Cara Sasuke yang biasa saja di depannya ketika ia justru mengetahui semuanya, membuatnya marah. Meskipun di awal perkenalannya dengan Mr.X, sudah ada perjanjian untuk tidak mencoba mencari tahu identitas asli pemuda itu, tapi tetap saja, ia merasa dibodohi.

Tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya dari belakang, membuat Ino tersentak.

"Ino-chan? Apa yang kau lakukan di sini?" orang itu mensejajarkan diri di sampingnya.

Ino langsung menoleh dari sosok itu. Amarah yang dimilikinya terhadap gadis itu seketika kembali hadir.

"Kau," katanya sinis.

"Ada apa dengan ekspresi itu?"

Ino tak menanggapi.

"Kau tak suka padaku?" tanya gadis itu lagi. Kali ini pun sama, Ino tak menyahut.

"Kuanggap itu sebagai 'ya'."

"..."

"Haaah..malam ini indah ya? Tak ada mendung."

"..."

"Aku sudah lama tak bermain bersama mereka."

Meski sebenarnya tak mau tapi rasa penasarannya membuat Ino menoleh, mengerutkan alis heran.

"Bukankah beberapa bulan lalu kau menemui mereka?"

"Well, seperti katamu, aku menemui mereka dan hanya menemui mereka. Yang kuinginkan, aku ingin bermain bersama."

"Baguslah, kau bisa bermain bersama mereka sekarang. Aku takkan mengganggu."

Ino sudah akan berbalik ketika dihentikan oleh suara Rin, "Kau menyukai Sasuke bukan?"

Dan Ino seketika mematung.

"Dan kau cemburu," tambahnya tepat mengenai sasaran.

"Kau cemburu hingga kau selalu mengganggu kami. Aku bisa merasakannya."

"Untuk apa cemburu pada manusia palsu sepertinya? Kheh."

"Manusia palsu?"

Ino berbalik, menatap kesal Rin.

"Ya. Dia manusia palsu yang bersikap tak tahu apa-apa sementara ia bahkan mengetahui sekecil apapun masalahku. Dia hanya manusia bertopeng bagiku."

"Manusia bertopeng? Penipu?"

"Kheh. Kau mengerti rupanya. Sekarang, aku permisi. Kau boleh memilikinya sesukamu." Ino kembali berbalik. Ia tak ingin lagi berurusan dengan Mr.X, Sasuke, termasuk gadis coklat di belakangnya itu. Ia tahu, ia hanya akan merasa bodoh di samping mereka.

Namun, satu hal yang mengganggu benaknya walaupun ia masih berjalan adalah suara tawa kecil dari gadis di belakangnya serta kalimat yang mengikutinya, "Kau akan terkejut, Ino-chan."

Terkejut? Untuk apa?

:::

Malam itu, Ino memutuskan untuk menikmati indahnya malam di pantai. Ia duduk di salah satu batu besar di samping vila. Kakinya memainkan air laut dengan senangnya. Dan rambutnya berayun lembut mengikuti angin malam.

Ia mendongak, menatap langit gelap itu.

Yah, benar apa kata Rin. Tak ada mendung, bintang-bintang juga bertebaran. Indah sekali.

Dan Ino sudah akan terus menikmati pemandangan itu ketika sebuah langkah kaki terdengar olehnya. Tak perlu melihat siapa sosok yang mendekat ke arahnya itu karena ia terlanjur hafal dengan langkah itu. Wajahnya berubah cemberut.

"Untuk apa kau kemari?" tanyanya sinis.

"Harusnya aku yang bertanya. Hei! Ini sudah malam." sosok itu mengambil duduk di samping Ino tanpa menyadari aura tak bersahabat dari Ino.

"Kheh. Kau tak melanggar janji rupanya..." Ino menatap sosok itu tajam. "...Mr.X."

Sosok yang dipanggilnya Mr.X itu sempat memegang. Walau di kegelapan malam, Ino bisa melihat raut keterkejutan pemuda itu.

"Kau sudah tahu? Bagaimana?" pemuda itu −Sasuke, mulai bertanya.

Tapi Ino tak menanggapi. Bahkan rasa bersalahnya pada pemuda itu beberapa waktu lalu sudah hilang dari benaknya.

"Aku merasa dibodohi," ungkap Ino kemudian melanjutkan, "Aku bicara pada orang yang sama yang telah membuat hatiku kacau. Aku hampir menceritakan seluruh detail masalahku tentang seseorang kepada seorang yang tak berbeda. Dan ia bersikap biasa saja padahal ia tahu bagaimana perasaanku. Kheh, aku merasa sangat malu sekarang."

"Jadi..kau tak ingin bertemu denganku?"

"Tidak. Aku hanya tak ingin mengetahui kenyataan." Ino menoleh menatap hamparan pantai. Dan yang dikatakannya adalah kebenaran. Andai ia tahu seperti ini jadinya, ia akan lebih memilih untuk tak usah merasa penasaran siapa Mr.X yang sebenarnya. Walaupun rasa keingintahuannya itu semakin besar dari waktu ke waktu, itu lebih baik daripada mengetahui kenyataan yang hanya akan membuatnya kacau.

"Aku hanya bisa minta maaf," sahut Sasuke sambil mengikuti arah pandang Ino.

"Dan apa hal itu bisa menghilangkan rasa maluku?"

"Aku sama sekali tak menertawakanmu." kali ini sukses membuat Ino menoleh heran. Sasuke balas menatapnya.

"Aku terlalu fokus terhadap sikapku sendiri. Aku terlalu bingung bagaimana membuat semua ini jelas."

"Maksudmu?" tanya Ino mulai penasaran.

"Bukankah di awal percakapan kita, antara kau dan Mr.X, aku bercerita bagaimana aku sulit menampilkan ekspresiku di dunia nyata?"

"Yah..tapi tetap saja, hal itu tak menjelaskan siapa Mr.X yang sebenarnya."

"Dan itu menjelaskan mengapa aku di sini.." Kemudian menambah, "..sebagai Mr.X."

Ino menunduk membuat kesunyian tercipta di antara mereka. Tak ayal, ia harus menerima alasan Sasuke kali ini, walaupun hatinya berusaha menolak. Dan ingatannya kembali berjalan ke beberapa waktu lalu ketika Rin mengatakan sesuatu padanya serta saat-saat ia bercerita pada Mr.X tentang Rin dan Sasuke. Mengingat hal itu, kembali membuatnya ingin menyangkal. Bagaimana ia merasa hatinya perih ketika melihat mereka bersama, bagaimana ia menahan rasa sakit itu di waktu yang tak bisa dikatakan sementara, dan bagaimana pemuda itu hanya terdiam. Semua itu membuatnya kembali angkat bicara, walau terkesan hanya gumaman, "Tetap saja, kau tak mengerti perasaanku."

Tiba-tiba saja tangannya ditarik oleh Sasuke, membuatnya melempar tatapan heran.

Mereka diam sejenak, dan Ino yakin, ia telah melihat sorot mata berbeda yang dikirimkan pemuda itu padanya. Namun, Ino sama sekali tak mengerti maksudnya.

Sasuke kembali menarik Ino yang hanya diam menurut menuju vilanya. Entah apa, Ino merasa pemuda itu masih ingin menyampaikan sesuatu padanya.

:::

[From: Sasuke

To: Ino

Aku benar-benar minta maaf. Izinkan aku menjelaskannya lebih.]

Ino menatap tulisan yang baru dibuat itu dalam diam. Kemudian ia beralih pada pemuda yang duduk berseberangan dengannya di balkon kamar baru pemuda itu sendiri. Di antara mereka terdapat sebuah meja bundar sebagai pemisah.

"Kau pikir ini lucu?" tanya Ino sinis tapi kemudian ia langsung menulis balasan untuk pemuda itu.

{From: Ino

To: Sasuke

Apa yang ingin kau jelaskan?}

Tanpa menutup blinder delima, alat komunikasi mereka itu, Ino mendorongnya pada Sasuke.

Pemuda itu lantas menulis sesuatu di dalamnya setelah membaca pesan Ino. Ino menatapnya dalam diam. Ini kali pertama ia melihat Sasuke dengan bukunya sedekat ini. Berbeda dari setiap malam ia memandanginya pemuda itu. Kali ini sangatlah jelas.

Tak lama kemudian, blinder itu digeser ke arahnya.

[From: Sasuke

To: Ino

Maaf. Aku akan kesulitan bila harus mengatakannya langsung. Kau tahu? Aku senang kau akhirnya tahu siapa Mr.X yang sebenarnya. Sejak kemarin, aku selalu dibingungkan dengan bagaimana aku menunjukkan sosok Mr.X. Kuharap kau tidak marah.]

Dan kalimat terakhir Sasuke sukses membuatnya membuang nafas. Percuma saja jika ia terus keukeuh terhadap sikap keras kepalanya. Mr.X, atau lebih tepatnya Sasuke, akan tetap menulis 'maaf' kepadanya.

{From: Ino

To: Sasuke

Aku tidak akan memikirkan masalah ini lagi. Hanya saja, mungkin ini yang terakhir kali ingin kusampaikan padamu. Aku takkan lagi menganggapmu sebagai Mr.X. Aku akan jujur padamu.}

Sejenak, Ino menatap pemuda yang sedang menunggu pesannya itu. Dan setelah membulatkan niat, ia kembali menulis.

{Kau, Shikamaru, atau siapapun kecuali aku, mungkin justru lebih tahu kehidupanku. Dulu, aku mengenalmu, aku tertarik padamu, aku menyukaimu, aku cemburu olehmu, dan kecelakaan itu, membuatku melupakan semuanya.

Sekarang pun, aku mengenalmu, aku tertarik padamu, aku menyukaimu, aku cemburu olehmu, dan mungkin, aku akan melupakan semuanya..lagi.}

Lalu, ia menggeser blinder itu kembali pada Sasuke.

[From: Sasuke

Kenapa?]

{From: Ino

Kenapa? Kheh, kurasa kau sudah tahu jawabannya.}

[From: Sasuke

Karena semua ini mirip dengan masa lalumu?]

{From: Ino

Kau mengerti.}

[From: Sasuke

Kurasa tidak.]

Ino mengerutkan alis heran. Tapi demi mengobati rasa penasarannya, ia kembali membaca kelanjutannya.

[Hidupmu berbeda dengan masa lalumu.]

{From: Ino

Jadi, kau pikir, aku salah menceritakan masa laluku?}

[From: Sasuke

Tidak juga. Masa lalumu seperti apa yang kau tulis. Tapi masa depanmu sekarang berbeda.]

Ino jelas dibuat bingung kali ini. Tanpa kembali menulis balasan, ia menatap Sasuke tajam.

"Apa alasannya?" tanyanya. Namun, Sasuke semakin berseringai mendapat nada tajam dari Ino.

"Apa di masa lalumu ada Mr.X?"

Ino menggeleng. Raut tajam yang dipakainya seketika terganti dengan raut polosnya.

"Kurasa tidak."

"Apa−"

"Tunggu! Apa hubungannya Mr.X dengan kisahku?"

Sasuke mencondongkan diri lebih dekat.

"Karena di sini, akulah Mr.X."

Dan Ino hanya bisa merona di jarak mereka yang cukup dekat. Ia lantas mendorong pemuda itu menjauh.

"Baiklah..lanjutkan!" perintahnya cuek.

"Apa dulu hubungan kita dimulai dari pertemanan?"

"Kurasa..tidak juga."

"Dan seharusnya, kau tidak cemburu sekarang."

Ino seketika protes.

"Kenapa tidak? Jelas-jelas aku melihatmu dengan gadis itu. Aku terlanjur.." Ino memelankan suaranya, "..tidak suka."

"Kheh, kenapa kau cemburu?" kalau saja Ino menyadari, keadaannya telah berbalik dengan beberapa saat lalu. Ia kini jadi pihak yang serba salah.

"Dulu..aku melihatmu tertawa bersama Sakura. Kini pun kau juga tertawa bersama Rin. Jelas aku cemburu."

Ino melirik Sasuke yang sedang menahan tawa.

"Kenapa aku harus menceritakannya padamu kalau pada akhirnya kau tak membalas perasaanku? Ck. Aku pergi!"

Ino sudah akan meninggalkan Sasuke ketika tiba-tiba tangannya dihentikan pemuda itu. Ia lantas menoleh.

"Maaf. Aku tak berniat menertawakanmu. Sekarang bisa kita lanjutkan?" tanya Sasuke yang serta merta membuatnya ingin menjitak kepala pemuda itu karena tak memahami kalimat terakhirnya barusan. Dengan enggan, ia kembali duduk di tempatnya. Sasuke kembali bertanya dan kali ini terlihat kembali serius, "Bukankah Sakura orang berbeda dengan Rin?"

"Mereka memang berbeda. Sakura tidak punya hubungan keluarga denganmu, jadi kupikir kali ini pun sama." Ino menunduk. Tapi begitu mendengar helaan nafas dari depannya, ia lantas mendongak.

"Kenapa kau tak tanya lebih dulu?" tanya pemuda itu.

"Bukankah aku sudah pernah cerita, kejadian di gerbang sekolah kemarin cukup mirip dengan dulu. Kupikir−"

"Rin adalah tunangan Itachi."

DEG

Tenggorokannya seketika tercekat. Matanya membelalak tak percaya.

"A-apa?"

"Jadi aku tak punya hubungan apa-apa dengannya."

Ino hanya mampu menelan ludah kaku. Ternyata ini hanya kesalahpahaman saja. Dikiranya Rin adalah... Akh! Dan kini Ino jelas merona karena malu.

"Tapi..kenapa dia bermain denganmu? Bukannya bersama Itachi?" tanyanya kembali.

"Kau tidak tahu? Dia menyukaimu. Mungkin kalau kau tidak di sini, dia akan menghabiskan harinya dengan Itachi."

Pelipis Ino terasa berdenyut. Kenyataan ini hampir membuatnya gila. Mungkin gila terlalu berlebihan. Lebih tepatnya, semua ini terlalu berlebihan untuk dicerna. Bahkan samar-samar, pertanyaan Sasuke selanjutnya tak menjadi fokusnya.

"Kau ingat apa yang kutanyakan padamu ketika hari pertama kita sampai di sini?"

Ino menggeleng lemah.

Sungguh, di satu sisi ia sangat malu. Keyakinannya bahwa mereka berdua, Sasuke dan Rin, punya hubungan kandas begitu saja hanya dari penjelasan singkat Sasuke. Ia mungkin merasa dibodohi oleh Mr.X, tapi ia juga merasa bodoh karena membiarkan kesalahpahaman itu meraup dirinya tanpa berusaha mencari tahu kebenarannya. Uugh..ia ingin menghilang dari sini saja. Dan sekarang, pasti Sasuke akan menertawainya.

Akhirnya sunyi mengisi. Sasuke hanya diam membiarkan Ino kembali tenang. Ditariknya blinder yang masih di depan Ino lalu menuliskan sesuatu di dalamnya. Berbeda dengan yang sebelumnya, kali ini ia menutup blinder itu lebih dulu lalu mendorongnya kembali pada Ino.

Gadis cantik itu kemudian membukanya. Seketika saja matanya melebar tak percaya. Lantas ia mendongak menatap Sasuke. Dan Sasuke dapat melihat semburat merah muncul di pipi Ino.

Setelah agak lama, ia berdiri. Perlahan, ditariknya tangan Ino dan berjalan menuju pinggiran balkon yang dibatasi pagar setinggi perut itu. Dari situ, mereka dapat melihat hamparan pantai di depan vilanya.

Ino hanya diam menurut. Sama seperti Sasuke, ia juga menikmati pemandangan malam itu. Dan satu hal yang sedari tadi sukses membuat jantungnya berdetak tak menentu adalah genggaman tangan Sasuke yang belum lepas darinya.

Lalu satu lagi, ucapan pemuda itu, "Dulu kau pernah tanya, siapa yang akan menemanimu pergi ke selatan?"

"Siapa itu?"

Dan kini Sasuke menatap Ino penuh harap.

"Aku..akan menemanimu ke ujung selatan."

Ino tersenyum mendengarnya.

Hari ini, akan menjadi hari yang takkan pernah ia lupakan. Karena di hari ini semua kegundahannya sirna dalam untaian kata. Nyaman, senang, satu lagi, bahagia. Ino tak tahu kata apa lagi yang bisa mendeskripsikan bagaimana hatinya berbunga-bunga saat ini. Yang pasti kelegaan meraup relung hatinya. Ia begitu bahagia. Genggaman Sasuke, ia akan memutuskan, akan membalasnya.

"Kalau disuruh memilih antara aku dan Mr.X, kau pilih siapa?"

"Sebelum atau sesudah semuanya terungkap?"

"Kalau sebelum? Dan kalau sesudah?" kini Sasuke menatap Ino penuh harap.

"Err..sebelum semua terungkap..mungkin aku lebih memilih Mr.X."

"Kenapa?"

"Karena ia perhatian padaku."

"Kalau sesudah?"

Kali ini Ino sedikit menunduk, berusaha menutupi rona merah di pipinya.

"Aku akan memilih Sasuke."

"Alasannya?"

Ino semakin menunduk dalam.

"Karena..kau adalah Mr.X."

FLASHBACK OFF

Yah, itulah ceritaku waktu itu. Aku tak tahu sebahagianya aku waktu itu. Yang pasti hatiku terasa hangat karenanya.

Mungkin kalian tanya, mengapa setelah pembicaraan terakhir kami di meja itu, aku merasa begitu bahagia. Sekarang aku membawa blinder itu dan bukti yang diberikan Sasuke yang membuatku kehilangan kata-kata sesaat sebelum Sasuke menarikku untuk menikmati malam, ada di dalamnya.

Ia memberiku pesan terakhir yang sekaligus menjadi penutup pesan dalam blinder ini. Karena di dalamnya tertulis.

[From: Sasuke

Kau tahu satu hal lagi yang membedakan antara masa lalumu dengan saat ini?]

Pesan selanjutnya tertulis agak jauh di bawahnya.

[Karena sekarang, aku lebih dulu menyukaimu.]

Itulah mengapa aku katakan, dia suamiku yang luar biasa. Dia punya cara yang berbeda dari biasanya untuk mengenalku. Untuk memulai sesuatu denganku.

FIN

Akhirnya Vee bisa beresin nih fic. Leganyaaa..

Special thanks for :

Leomi no Kitsune

Yamashita Runa

NarutoisVIP

Childishpink

Endymutiara

Arai sharon

Shin Key Can

zielavienaz96

Khamya Uchiha

RNGaluh

Anyway, mohon beritahu Vee kesan terakhir Minna untuk fic kali ini! Arigato..