Uwo uwooo...
Akhirnya eni fic di publish juga. Tapi kayaknya dikit yang baca deh. Padahal slaveku yang pertama review banyak banget. Minta repieeewwww... –dihajar-
Ok ok... lanjut...
Disclaimer :
Eyeshield 21 buatan Riichiro Inagaki & Yusuke Murata. Tanpa lemon. Tanpa shounen ai. Tapi author gila ini malah bikin yang amat jauh dari yang asli. Hohoho. #hajared
Sena : Ini plot bener-bener...
Hiru : Hah? Ada apa?
Sena : *kaget*. Hi-Hiruma-san? E-eto.. ini Aru-san bikin plotnya...
Hiru : *baca*. Wow! Kalo gini kan gue seneng!
Sena : Hieeeee! Gak mungkiiinn! Masa aku lim...
Aru : Hiaaaatttt! *masukin Sena dalem karung, buang ke laut* No spoil!
Hiru : Heh uke gue lu apain, idiot!
OOC (meski aku berusaha agar tetap IC)
Yaoi
Rate M
Typo
Hirusena
SM (slave master. Hoho)
Don't like don't read!
Happy reading...
O o O o O
Sebelumnya, di Slave 2
"Ehm.. Sebenarnya, Bapak Shuuma sudah lama merahasiakan ini. Beliau mengidap penyakit... Tuberculosis"
"I.. Ibu... Ke.. Kenapa..."
"Ibu minta maaf sayang. Hanya ini. Hanya ini cara agar ayahmu bisa segera dioperasi"
"Tidak! Sena tidak mau! Lepaskan!"
"Maaf sayang... Maaf... Ini demi ayahmu.."
Dan bagaimana denganku? Dengan diriku? Dengan nasibku? Apakah Ibu memikirkanny?
"$1.000.000! Dan dia jadi milikku!"
"Kurang. Untuk selanjutnya, akan kuajarkan kau yang lebih dari ini."
"Baik master."
O o O o O
Sena POV
Aku tak punya tempat untuk lari. Ya. Dan aku memang tak berkeinginan untuk lari lagi. Aku lelah untuk terus menghindar. Dan aku tak mungkin untuk menghindar dari orang itu. Orang yang telah membeliku. Masterku. Orang yang kini telah memiliki hak absolut atas diriku.
"Hiruma-sama..."
Aku tak bisa tidur. Malam hari di hari pertama aku berada di rumah Hiruma, aku tak dapat mengenyahkan pikiranku dari dirinya. Rumah ini, maksudku apartemen ini sangat sederhana. Bukan. Bukan sederhana fasilitas dan ruangannya. Ini apartemen mewah. Namun sederhana peralatannya. Hanya ada meja kerja, kursi putar, televisi dan rak buku berisi banyak majalah dan buku.
Malam ini aku hanya dapat berbaring di kasur empuk ini dengan mata tetap terjaga. Hiruma sudah tidur sepertinya. Terlihat dari kelopak matanya yang terpejam dan desah nafasnya yang teratur. Dia tidur di sampingku. Sangat berbeda dengan Hiruma yang selama ini kukenal. Rasanya begitu.. uhm.. damai.
Kulirik Hiruma yang tertidur dengan tenang. Sepertinya Ia tak tau jika aku masih terjaga dan kini sedang menatapnya penuh rasa kagum, tanda tanya, dan berjuta perasaan lainnya. Mungkin ini bukan sikap yang pantas bagi seorang slave sepertiku. Namun entah kenapa mataku tak bisa berpaling dari sang pemilik mata tosca yang kini tertutup.
"Hey chibi. Kenapa kau belum tidur?"
Aku terhenyak. Ternyata kau membuka matamu. Dan kau menatapku dengan mata tajammu. Aku hanya dapat terdiam. Memalingkan wajahku yang kurasa terdapat semburat hangat di pipiku. Apa yang harus kukatakan padamu ? Haruskah aku bilang jika aku sedang mengagumi wajah tidurmu ? Oh tidak. Aku tak mau dicap sebagai seorang slave yang kurang ajar.
"E-eh? A-aku hanya terlalu banyak... uhm.. tidur, Hiruma-sama."
Bohong. Itu semua bohong. Aku hanya sedang memikirkan apa yang akan aku alami mulai sekarang hingga seterusnya. Akankah Hiruma akan terus membelengguku dalam tangannya? Meski aku bersyukur jika Hiruma yang membeliku, namun hal itu tak menutup kemungkinan jika Hiruma meminta lebih dariku. Lebih?
"Jangan bohong kau, chibi!"
Oh ternyata kebohonganku terungkap. Aku tak dapat mengelak lagi. Dan aku hanya bisa mengangguk tanpa berani menatap matamu yang terus memusatkan pupil matamu pada satu objek yaitu aku. Kamu hanya menghela nafas keras membuatku merasa serba salah.
"Kalau gitu, aku akan membuatmu tidur."
Meski terheran, aku hanya mengangguk nurut. Dan kamu mengambil posisi tidur menyamping ke arahku. Dan tanganmu yang kurus itu mulai bergerak ke tubuhku. Aku hanya dapat memejamkan mataku erat. Takut dan tak mengerti apa yang akan kau lakukan.
Setelah kurasa, tanganmu melingkar di pinggangku dan mendekatkan kepalaku di dadamu yang hangat dan bidang. Dengan terkaget, aku coba membuka mataku dan mendapati wajahmu tepat berada di atas kepalamu. Kamu hanya menyeringai dan kembali memejamkan matamu.
Dan malam ini, aku dapat tertidur dengan seseorang yang memelukku untuk pertama kalinya. Dan membuka lembaran baru antara master dan slave malam ini dengan perasaan damai. Meski sekilas aku mendengar gumamanmu yang mengatakan...
Ini baru permulaan...
O o O o O
Normal POV
Kitchen Edition
Sena bangun di pagi hari yang cerah. Ia duduk di sisi ranjang dengan mata menerawang entah kemana. Hari pertama di rumah Hiruma. Sena sangat canggung berada di sana. Diliriknya kasur sebelahnya dan mendapati tak ada seorangpun di sana. Hiruma telah bangun lebih dulu ternyata. Lalu kemana master itu pergi?
Samar-samar hidungnya mencium harum yang lezat. Sena mengelus perutnya yang lapar karena lambungnya belum diisi apapun sejak malam lelang itu. Ia memutuskan untuk mencaritahu darimana sumber harum itu. Sena turun dari ranjangnya dan menapakkan kaki-kaki kecilnya menuju sumber harum itu, dapur.
"E-eh?"
Sena terpaku di depan pintu dapur. Ia melihat sosok yang Ia kenal sedang memasak dengan satu tangan yang dengan lincah membalikkan teflon berisi telur dadar itu seorang diri di sana. Sena menelan ludah dan menutup pintu dapur perlahan, berusaha sekuat tenaga agar pintu itu tertutup tanpa menimbulkan suara. Ia melihat hal yang tak seharusnya terjadi jika kini hubungan mereka adalah master dan slave.
"Hi-Hiruma-sama?"
Hiruma menoleh ke arah sumber suara. Dengan wajah sedikit kesal, Ia terus membalikkan telur dadar itu dan melempar isinya tepat di atas piring yang sudah ditata rapi di samping kompor. Hiruma terus mengunyah permen karet tanpa gula kesukaannya dengan gusar. Ia mendekati Sena yang berdiri mematung di depan pintu dengan tubuh gemetar.
"Jam berapa sekarang, hah?"
Hiruma meninju pintu yang berada tepat di belakang Sena dan lengannya melewati leher Sena. Sedikit saja Sena salah bergerak, lehernya mungkin sudah terluka cukup parah. Sena tak sanggup menatap wajah Hiruma apalagi matanya. Dengan keringat terus mengalir dan tubuh gemetar, Sena menunduk dalam.
"Ma-maaf... A-Aku..."
"Khe! Gara-gara kau, aku harus masak sendiri. Apa gunanya slave yang kubeli kemarin?"
Hiruma memepetkan tubuh Sena di pintu dan kedua tangannya kini terjulur di kedua sisi Sena hingga Sena tak dapat pergi kemana pun. Dengan seringai menyeramkan khas Hiruma, Hiruma menekan dagu Sena dan menengadahkan kepala Sena agar Hiruma bisa melihat raut ketakutan dan airmata yang menggenang di pelupuk mata Sena.
"Slave yang tak patuh harus mendapat hukuman!"
Sena memejamkan matanya erat. Takut dengan master yang siap melakukan apapun agar hasratnya terpuaskan. Dan Sena tahu, Hiruma akan melakukan sesuatu padanya Minggu pagi ini. Bibirnya yang bergetar sedikit terbuka. Sena sedang berdoa pada Tuhan, mungkin.
"Haa? Kau sedang berdoa, chibi? Kau tahu iblis tak akan senang melihat ada yang sedang berdoa di depannya?"
Hiruma mengambil tali dari sakunya dan mengikat kedua tangan Sena di belakang dengan erat. Sena meringis. Merasakan sedikit sakit saat tali itu menjerat kedua tangannya kuat. Apa yang akan Hiruma lakukan hari ini? Itulah pertanyaan Sena kali ini.
"Hi-Hiruma-sama?"
Sena masih memejamkan matanya. Masih takut untuk bertatapan dengan master iblisnya. Namun tak berapa lama Ia merasa ada tangan yang bergerak di pinggangnya terus merambat menuju resletingnya. Dan mata Sena benar-benar terbuka lebar saat dirasanya resletingnya telah turun dari tempat asalnya.
"Hi-Hi..."
Hiruma sedang berjongkok di depannya dengan tangan bergerak lincah membuka resleting Sena. Merasa jika Sena membuka matanya, berarti kejutan telah hilang, Hiruma mengambil saputangan dan menutup mata Sena dengan itu.
"Dengan begini, kau tak akan tahu apa yang akan kulakukan. Kau tinggal merasakannya saja, fucking chibi."
Sena menggerakkan tangannya yang terikat. Ia benar-benar putus asa dan tak berdaya sama sekali. Hingga Sena akhirnya menghembuskan nafasnya pelan dan memilih untuk pasrah saja. Toh memang kali ini salahnya karena telah bangun kesiangan.
Kini Sena merasa pahanya sedikit dingin. Akibat melamun ditambah mata tertutup, Sena tak menyadari jika celana panjangnya kini telah terlepas hingga lutut. Dan Sena memilih menajamkan indera pendengaran dan perasanya agar mengetahui apa yang Hiruma lakukan.
"Hi-hiaaaahh!"
Jeritan tertahan Sena terdengar menggema di dapur itu. Bagaimana tidak. Ia merasa sesuatu menyentuh paha dalamnya. Hangat dan basah. Dan benda itu terus bergerak liar menjilati paha dalamnya seolah itu adalah sebuah cokelat batangan.
Yang sebenarnya terjadi adalah, lidah Hiruma memang sedang bermain di paha dalam Sena. Ia menjilati dari pangkal paha Sena hingga lututnya. Dan sesekali dengan jahil, Hiruma menggigit paha Sena yang sukses membuat Sena menjerit tertahan. Dan Hiruma tak sanggup menahan hasratnya saat mendengar jeritan itu.
"Hi-Hiruma-samaa..."
Suara Sena menggema di telinga Hiruma. Hiruma semakin beringas menggigit dan menjilat hasil gigitannya di paha Sena. Perlahan, kepalanya bergerak menuju celana dalam Sena. Dikecupnya celana itu dengan perlahan. Namun menimbulkan reaksi yang menggairahkan. Sena meliukkan tubuhnya. Merasakan bagian bawahnya begitu geli hingga menjalar sampai ke otaknya.
"Punishment time! Bersiaplah, fucking chibi!"
Sena hanya mengangguk pasrah. Ia tak dapat berbuat apa-apa karena tangannya terikat dan matanya tertutup. Ia berdoa agar Hiruma cepat menyelesaikan hukumannya supaya Ia bisa makan karena kini perutnya terus berdemo meminta makanan.
"Hi-Hiru... Hyaaaa!"
Sena kaget. Sangat kaget. Karena Ia merasakan sesuatu yang panas menyelimuti miliknya di bawah sana. Ternyata Hiruma telah membuka celana penutup terakhirnya. Oh. Ternyata tidak dengan cara diturunkan seperti biasa. Karena Sena masih merasakan celana panjangnya masih tergantung di lututnya.
"Hm? Kenapa, fucking slave?"
Hiruma menyeringai lebar. Ia memutar-mutar pisau lipatnya di jari telunjuknya. Ditatapnya hasil karya yang baru saja Ia perbuat. Ternyata tadi Hiruma merobek celana Sena dengan pisau lipatnya hingga Sena tak menyadari sejak kapan Hiruma melepas celananya.
"Hiruma-sama... apa ini? Kenapa panas begini..."
Suara Sena terdengar bergetar, membuat Hiruma sedikit melayang mendengarnya. Hiruma memasukkan jari telunjuknya ke mulut Sena. Sena agar gelagapan merasakan jari Hiruma masuk ke mulutnya. Dengan perlahan, Sena membuka mulutnya dan menjilati jari Hiruma hingga basah.
"Kekekek! Ini telur dadar yang baru saja aku goreng. Gimana? Panas bukan?"
Sena semakin liar menggerakkan tubuhnya. Berusaha agar telur dadar itu jatuh dari miliknya. Namun yang Ia rasa adalah sesuatu yang melilit batangnya hingga terasa tercekik. Hiruma melilitkan benang di pangkal milik Sena agar tidak jatuh.
"Pa... Panas... Hiruma-sama... hiks..."
Airmata Sena mulai mengalir menembus penutup matanya. Panas, perih dan rasa terbakar menjalar dari tubuh bagian bawahnya. Dan kini berjuta rasa kembali menjalar karena...
"Hmm..."
Suara Hiruma terdengar. Dan Sena sudah tak punya tenaga lagi untuk berteriak. Perut lapar dan kelelahan masih menyelimutinya. Akhirnya Sena hanya bisa menjerit tertahan saat dirasanya mulut Hiruma mulai menggigiti telur dadar itu dan tembus hingga mengenai senjatanya.
"Akh.. Sakit..."
Hanya itu yang dapat Sena keluarkan. Seakan ada listrik yang menjalar ke seluruh tubuhnya saat Hiruma memakan telur dadar itu perlahan tapi pasti. Dan Hiruma menggesekkan giginya yang tajam ke seluruh batang Sena hingga menimbulkan beberapa goresan.
"Hm. Sarapan yang sangat lezat."
Hiruma kemudian membuka mulutnya lebih lebar kemudian memasukkan milik Sena seluruhnya hingga membuat Sena terlonjak kaget. Sena mendesis keras saat dirasa mulut Hiruma yang panas, lidahnya yang kaku, dan giginya yang tajam menggarap seluruh batangnya tanpa ampun.
"Hi-Hiruma-samaa.. Ampun.. Kumohon lepaskan.. Ah... Nnnhh..."
Hiruma mulai menghisap milik Sena kuat-kuat seperti seorang anak yang baru saja merasakan makan lolipop. Sena kembali menjerit. Hiruma tak menghiraukannya dan justru Ia memasukkan dua jarinya ke dalam mulut Sena.
"Hisap jariku, slave sialan!"
Sena menurut. Perlahan Ia mulai menghisap jari-jari Hiruma mengikuti perlakuan Hiruma padanya. Saat Hiruma menggunakan lidahnya untuk menjilati miliknya dari dalam, Sena ikut menjilati jari Hiruma di dalam mulutnya.
"Nggg!"
Hiruma merasakan milik Sena berkedut keras. Ia menjauhkan wajahnya kemudian menggenggam milik Sena erat, membuat Sena refleks berteriak dan terlonjak kaget. Jari Hiruma yang masih berada dalam mulutnya Ia gigit kuat karena menahan rasa sakit dan gejolak yang menumpuk di dalamnya. Dan seketika itu, semburan cairan putih membasahi tangan Hiruma yang masih menggenggam milik Sena dengan wajah meringis.
"Khe! Fucking slave idiot! Siapa yang menyuruhmu keluar seperti ini? Kheh!"
Hiruma menjauhkan jarinya dari mulut Sena. Jari-jari kurus dan panjangnya kini sedikit terluka akibat ulah Sena. Sena jatuh terduduk dan menunduk. Malu, sakit, dan perasaan puas yang misterius mengambang di tubuhnya.
Hiruma melirik ke arah Sena. Ia tahu bahwa ini bukan pertama kalinya Sena mengeluarkan cairan kenikamtannya. Namun tetap saja, Hiruma merasa puas setelah melihat wajah Sena yang memerah dan bibir bergetar serta nafas tak teratur seperti itu.
"Ma-maaf, Hiruma-sama. Hhhh..."
Tidak ada sahutan. Sena sedikit panik menanggapi kesunyian ini. Ia takut jika Hiruma pergi meninggalkannya dalam keadaan seperti ini. Dengan mata tertutup dan tangan terikat. Tak berdaya. Sena menggesekkan tangannya, berusaha melepaskan ikatan tali itu dari tangannya. Namun yang ada justru tangannya terluka karena tali tambang tebal itu menggesek kulitnya daritadi.
"Hiruma-sama..."
Sena memanggil nama masternya dengan nada memelas. Berharap agar hukuman ini cepat selesai dan Ia dibebaskan hari ini. Tiba-tiba telinganya menangkap suara yang Ia tahu. Suara kamera!
"Kekekekek! Ini bisa jadi foto ancaman untukmu, slave sialan!"
Wajah Sena memerah seperti buah tomat. Ia tahu jika Hiruma baru saja mengambil fotonya dengan posisi terduduk lemas dengan kaki terbuka, mata tertutup, tangan terikat di belakang dan cairan masih sedikit mengalir dari miliknya.
"Ja-jangan..."
"Haa? Beraninya kau memerintahku!"
Hiruma menarik penutup mata Sena dengan kasar. Dan terpampanglah wajah seram Hiruma dengan ponsel di tangan kirinya yang menyorot foto Sena dalam keadaan memalukan. Hiruma beranjak menuju wastafel dan mencuci tangannya yang masih tersisa cairan Sena. Kemudian Ia memasak telur dadar lagi.
Harum telur dadar itu membuat air liur Sena sedikit menetes. Lapar yang tak tertahankan membuatnya begitu lemah dan tak berdaya di lantai. Sena menghela nafas. Jangan-jangan hari ini Ia tak akan makan apa-apa?
"Oi, slave sialan. Air liurmu netes tuh."
Hiruma menyeringai. Ia meletakkan telur dadar yang telah matang di piring yang telah terisi nasi. Kemudian Ia berjalan ke arah Sena dan berjongkok di depannya dengan sepiring sarapan hangat. Wajah Sena semakin merah karena malu.
"Hiruma-sama... Aku lapar..."
Bisik Sena lemah. Ia menunduk menatap lantai. Merasakan perih di tangan dan perutnya yang lapar. Hiruma meletakkan piring itu di lantai, tepat di bawah tatapan Sena. Sena mendongak. Mendapati mata tosca itu menatapnya dalam. Sena sedikit salah tingkah.
"Makan!"
"E-eh? Bagaimana caranya? Tanganku kan..."
"Merangkak. Menunduk. Dan makan tanpa tangan!"
Sena tertegun sesaat. Cara makan persis anjing, pikirnya. Namun didorong oleh rasa lapar yang begitu kuat, akhirnya Sena menurut. Ia menumpukan tubuh pada lututnya kemudian mencondongkan tubuhnya ke depan. Dengan perlahan, Ia membuka mulut dan memasukkan nasi serta telur dadar itu ke dalam mulutnya. Rasanya Ia ingin sekali menangis dan berteriak keras. Sungguh sangat memalukan sekali dirinya.
Hiruma masih memperhatikan Sena yang makan dengan sedikit terbatuk-batuk. Beberapa butir nasi menempel di pipinya yang tak mungkin dapat Ia jangkau dengan lidahnya. Piring berisi nasi itu telah berantakan hingga nasinya banyak berceceran di lantai. Hiruma dengan sikap acuhnya mengambil mangkuk dan mengisinya dengan air, kemudian meletakkannya di sebelah piring nasi Sena.
"Ini minummu. Gunakan lidahmu untuk minum!"
Sena sedikit terisak. Airmatanya kembali mengalir. Mengasihani takdir yang Ia tempuh hanya demi sang ayah sembuh dan sang Ibu tersenyum. Pengorbanan kedua orangtuanya untuk membesarkan dirinya harus Ia bayar sekarang ini. Dan Sena tahu, Ia harus bertahan hingga Ia dapat menebus satu juta dollar, jumlah yang tidak sedikit.
Sena mengangguk. Ia mendekati mangkuk berisi air dan mulai meminumnya bak seekor kucing kehausan. Hiruma yang melihat pemandangan itu membunyikan jari jemarinya menahan gemas untuk melahap buas mangsa di depan itu. Mangsa imut yang sedang minum dengan tenang, meski dengan posisi dan cara yang salah.
Sena tersedak. Ia batuk-batuk cukup hebat. Air yang baru saja diminumnya sedikit mengalir dari mulutnya. Hiruma yang tadi sedikit melamun, cukup tersentak melihatnya dan segera memangku Sena yang masih terbatuk-batuk.
"Hey, chibi. Kau kenapa?"
"Uhuk. Ti-tidak tahu. Seperti ada yang menekan tenggorokanku... uhuk..."
Sena megap-megap. Ia kesulitan untuk bernafas. Melihat hal itu, Hiruma memegang dagu Sena kemudian memberikan nafas buatan dengan cepat. Sena berhenti bergerak. Wajahnya kembali memerah karena kecupan -itulah yang Sena rasakan karena Hiruma tak mengalirkan udara dari mulutnya layaknya nafas buatan- tiba-tiba itu.
"Ufh..."
Hiruma dengan sigap menjauhkan wajahnya dan melepas ciumannya. Sena hanya menatap Hiruma dengan tatapan melas tak berdaya. Batuknya telah berhenti. Sena susah payah memasukkan oksigen ke dalam paru-parunya yang sempat kehabisan stok oksigen karena tersedak dan kecupan mendadak Hiruma.
"Cih! Menyusahkan saja kau!"
Hiruma melepas ikatan di tangan Sena. Sena hanya meringis dan tersenyum simpul. Memperlihatkan wajah malaikatnya di balik wajah penderitaannya. Ia kemudian menyembunyikan kedua tangannya di balik bajunya. Desisan pelannya membuat Hiruma menoleh dan memperhatikan tangan yang Sena masukkan ke dalam baju.
"Kenapa kau, chibi sialan?"
"A-anu.. itu.. tanganku basah. Hehe."
Sena memaksa tertawa meski bibirnya gemetar menahan perih. Perih? Ya. Perih di pergelangan tangan akibat gesekan tali tambang yang tadi mengikat kedua tangannya. Hiruma tentu saja tak percaya dan menarik tangan Sena keras, memperlihatkan pergelangan mungilnya yang mengalirkan darah segar dan memar.
"Slave sialan! Siapa yang suruh kau berbohong, hah?"
Mendengar bentakan Hiruma membuat nyali Sena ciut. Sena menunduk dalam dengan tangan gemetar hingga Hiruma pasti menyadarinya. Airmata dengan susah payah Sena tahan agar tak mengalir jatuh dari pelupuk matanya. Ia tak ingin menjadi slave cengeng yang tak berguna. Namun bukankah Ia memang tak berguna?
Tiba-tiba Sena merasakan sesuatu yang basah dan hangat bergerak di pergelangan tangannya, menyapu setiap inchi lukanya yang terasa perih. Sena mendongak cepat dan mendapati Hiruma, masternya kini sedang menjilati lukanya dengan seringai tetap terlukis di wajahnya.
"H-Hiiiieeeeee! Hi-Hiruma-samaaa..."
Wajah Sena merah seperti kepiting rebus. Rasanya rohnya sudah melayang entah kemana melihat pemandangan itu. Setelah puas menjilat, Hiruma memakai saputangan bekas menutup mata Sena untuk membalut pergelangan tangan Sena yang berdarah. Lanjut ke tangan yang satu lagi, Hiruma melakukan hal yang sama.
"Kekekek. Tanganmu kecil sekali, chibi sialan. Lucu juga."
Disela-sela aktivitasnya menjilati luka Sena, Hiruma masih dapat menggoda cowok pertampang uke menggemaskan di depannya itu. Namun tetap saja, menggoda dengan wajah menyeramkan seperti iblis itu bukan membuat Sena malu-malu, malah takut.
"Hukuman pertama selesai. Cepat mandi sana!"
Sena mengangguk pelan. Ia segera bergegas menuju kamar mandi dan mengunci pintu. Berusaha mengontrol debar jantungnya yang terasa aneh itu. Sedangkan di dapur, Hiruma masih setia dengan seringai puasnya. Puas telah memberikan kejutan di hari pertama sang slave berada di rumahnya.
"Kekekekekek! Ini baru permulaan, fucking slave!"
"Hi-Hiruma-sama itu sebenarnya menakutkan atau baik, sih? Tapi yang jelas dia...". Sena melirik pergelangan tangannya. Kemudian ke tubuh bagian bawahnya. "Bad person..." wajah Sena semakin memerah padam. Disadari atau tidak, Sena tak merasa takut akan perlakuan Hiruma terhadapnya. Apakah itu karena perlakuan Hiruma yang begitu 'lembut' dan penuh kehati-hatian?
"Hahahaha! Tubuh kecil gini pasti tidak akan bisa berontak. Ayo semuanya, buka semua pakaian Sena! kita bermain – main dengannya!"
Sena kembali mengingatnya. Menenggelamkan tubuhnya di bak besar berisi air hangat hingga hanya kepalanya yang berada di permukaan. Tubuhnya gemetar. Meski Ia tidak begitu takut dengan perlakuan Hiruma, masa lalunya yang kelam itu membuatnya merasa ngilu di tubuh bagian bawahnya. Sena menghela nafas. Matanya menatap kosong ke langit-langit kamar mandi. Akankah ada seseorang yang dapat menghapus masa lalu kelamnya itu?
"Kekekekek. Apa yang akan kulakukan selanjutnya untuk slave penurut itu ya?" Hiruma beranjak ke kamarnya dan mulai menekuni laptopnya sambil menyeringai.
O o O o O
TBC
Phew. Akhirnya... dan dan dan... gajeeee... huaaaaaa...- pundung-
Huk huk.
Nah, menjawab pertanyaan Hiruma di atas, kalian ada request untuk ngapain si Sena? Silakan katakan lewat review. :DD
Hiru : alah bilang aja lu keabisan ide
Aru : ssttt... jangan buka kartu dong. Combro lu! Bukan gitu, reader. Tapi saya tuh mau memenuhi keinginan reader sekali-kali. Gituuu.. :D
Sena : hhhhh...
Hiru : haaa? Napa lu, chibi sialan?
Sena : eeeeh? G. Gapapa. Cuma... sampai kapan nasibku beginiiiii
Aru : sampai kapanpun nasibmu akan selalu dimangpaatin orang, Sena-kun. Ckckck
Sena : Hiiieeeeee!
Ok ok. Mind to review? Please. ( ^n^)/
