Update lagiii... wah. Kayaknya aku harus cepet2 update sebelum pembaca es21 keburu kabur dan sepi kayak di kuburan di tengah gurun sahara. Huhuhu

Langsung disclaimer

Ah males. Baca aja di episod sebelumnya. #gampared

OOC (meski aku berusaha agar tetap IC)

Yaoi

Rate M

Typo

HiruSena

PWP mungkin

SM (slave master. Hoho)

DN? DR!

O o O o O

Sebelumnya, di Slave 3

"Hi... Hiruma-sama..."

"Kekekekekek! Ini baru permulaan, fucking slave!"

"Bad person..."

"Kekekekek. Apa yang akan kulakukan selanjutnya untuk slave penurut itu ya?"

O o O o O

Slave 4

Bathroom Edition (Or maybe Strangeroom Edition?)

O o O o O

Beberapa hari setelah punishment pertama...

Sena berjalan ke dapur untuk memasak. Sudah beberapa hari setelah dirinya dibeli Hiruma, Sena harus bisa memasak, mencuci, mengepel dan segala kegiatan rumah tangga lainnya. Dan dengan tekun Sena kerjakan agar memuaskan sang master.

Sore hari saat itu hujan. Hiruma belum pulang entah Ia pergi kemana, meninggalkan Sena seorang diri di apartemen besar. Namun dengan menguatkan hati, Sena terus berusaha untuk berani tinggal sendirian dalam beberapa jam ini.

Saat Ia sedang memotong-motong wortel, pintu apartemen terbuka dengan keras. Sontak Sena kaget hingga hampir lompat di tempat. Ia tahu siapa yang datang. Siapa lagi kalau bukan master iblis itu. Namun dari suara pintu yang dibanting keras, Sena mendapat firasat buruk.

"Haaah! Orang-orang sialan! Disuruh masuk klub aja males banget! Cih!"

Suara Hiruma menggema hingga sampai ke dapur. Sena mengelus dadanya karena kaget dan takut. Siap-siap untuk kejutan selanjutnya nih.

Hiruma berjalan cepat menuju dapur karena hidungnya yang tajam telah mencium aroma harum masakan di sana. Ia tahu jika sang slave sedang memasak sesuatu untuk dirinya. Namun suasana hatinya yang sedang kesal, menyebabkan Hiruma enggan untuk makan.

"A-Ah, Hiruma-sama? Sudah pulang?"

Sekuat tenaga dan seberani mungkin, Sena mendongak. Menatap lawan bicaranya yang memasang tampang bete sambil mengunyah permen karet nonsugar dengan gusar. Hiruma berdiri tepat di depan Sena. Tangan kirinya memegang sesuatu yang Sena tak tahu apa namanya. Hanya saja Ia pernah melihatnya saat Hiruma... membuat pingsan Kurita di lapangan.

"Slave sialan! Tch!"

Ada aliran listrik di benda yang dipegang Hiruma. Sena menelan ludah dengan susah payah. Keringat dingin mengucur di wajahnya. Tubuhnya bergetar. Intuisinya berkata jika hari ini, Ia akan mengalami hal yang menghebohkan lagi.

BZZTT. CRESS

Tubuh Sena ambruk seketika saat listrik itu menyetrum punggungnya. Stand gun. Tangan Hiruma menggenggam stand gun yang mengalir listrik bertegangan sedang. Namun cukup untuk membuat korban pingsan dalam beberapa jam, tergantung daya tahannya.

"Kekekekekek! The spesial edition of your punishment, fucking slave!"

Hiruma terkekeh keras. Satu tangan cukup bagi dirinya untuk menggendong Sena yang notabene sangat mungil itu. Ringan. Pikir Hiruma. Dan saat matanya tertuju pada talenan yang digunakan Sena untuk memotong, Hiruma mendapat ide. Bukan. Bukan talenannya. Namun benda yang berada di atasnya.

Seringai Hiruma begitu lebar sangat menyeramkan. Malam ini, Ia akan mengajari slave itu tentang bagaimana cara memperlakukan masternya yang sedang kesal.

O o O o O

"Ukh..."

Hiruma menoleh saat telinganya menangkap suara dari mulut kecil slave miliknya. Kemudian seringai kejam khas Hiruma pun terukir di wajahnya mendapati sang slave mulai tersadar dari pingsan akibat sengatan stand gun miliknya.

"Hooh? Sudah bangun kau, slave sialan?"

Sena berusaha menajamkan pandangannya yang buram. Baru setelah beberapa lama, Sena dapat melihat dengan jelas di mana posisinya saat ini. Dan matanya kini melebar saat mendapati dirinya berada di kamar mandi yang didesain aneh oleh Hiruma.

"Hi-Hiruma-sama.. Aku di mana? Kamar mandi ini tidak seperti kamar mandi di dekat dapur. Dan... HYAAAHHHHH!"

Jeritan Sena menggema di kamar mandi. Hingga Sena sendiri malu mendengar gema suaranya. Namun Ia lebih malu lagi saat mendapati dirinya menggantung di udara dengan tali mengikat tubuhnya di sana-sini tanpa sehelai benang pun.

"Heh! Siapa suruh kau teriak, hah?"

Hiruma mendekati Sena dan memerhatikan dengan puas hasil karyanya. Ikatan ala shibari yang Hiruma pelajari di internet ternyata membawa hasil yang maksimal. Tubuh Sena terlihat lebih menggairahkan dengan lilitan tali yang mengikat leher, lengan, paha, dada (hingga dadanya terlihat berisi), dan berakhir di selangkangan Sena.

Wajah Sena merah padam. Tubuhnya yang menggantung secara horizontal di udara itu membuat jeratan tali di hampir setiap tubuhnya begitu menyesakkan. Tangannya diikat di belakang, kakinya ditekuk menyatu dengan paha, juga diikat. Serta lilitan melingkar di dadanya yang membuat dadanya mengacung menantang.

"Hi-Hiruma-sama... Aku... Aku malu sekali. Hiks"

Airmata Sena berusaha ditahan agar tidak mengalir. Sebenarnya Ia tak mau menyinggung perasaan Hiruma dengan menangis tersedu di depannya karena perlakuan sang master adalah absolut. Namun Ia tak dapat membohongi dirinya jika Ia sangat malu dengan keadaan ini.

"Haaa? Malu? Tenang saja. Hanya ada aku di sini. Dan memang hanya aku yang boleh melihat ini semua. Kekekekekek!"

Tawa terkekeh Hiruma ikut menggema di seluruh penjuru kamar mandi. Tangan kirinya tak lagi menggenggam stand gun yang membuat Sena pingsan karena shock. Berganti dengan sebuah handycam yang terlihat mahal dan baru. Hiruma meletakkan handycam itu di atas tripod dan menggeser tripod itu hingga tubuh Sena terekam seluruhnya.

"Hieeeee! Kenapa ada handycam di siniiii? Hiruma-samaa."

Sena meronta-ronta. Namun hal itu malah menyebabkan jeratan tali yang melilitnya semakin ketat menjeratnya. Sena meringis. Akhirnya Ia pasrah dengan keadaan. Toh cepat atau lambat, hari ini pasti akan datang.

"Nah, waktunya bermain dengan slave sialan ini! Kekekekek!"

Hiruma mendekati Sena kembali dan menyeringai lebar. Tangan kanannya memegang sebuah wortel besar dengan ujung mengecil yang tadi ingin Sena pakai untuk memasak sup. Sena melirik benda yang dipegang Hiruma dengan tatapan horor.

"A-Apa itu, Hiruma-sama? Untuk apa?"

Takut-takut, Sena bertanya. Namun bukan jawaban dari mulut Hiruma yang Sena dapatkan. Namun langsung prakteknya!

"AAKKHH!"

Airmatanya mengalir saat Ia merasakan ujung wortel yang kecil itu menyeruak masuk dengan paksa lubang bagian belakangnya. Namun tetap saja, meski ujungnya kecil, yang namanya wortel besar, ujungnya juga pasti cukup besar.

Sena menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Darah mengalir dari luka di bibir Sena akibat digigit terlalu keras karena menahan perih, sakit dan rasa panas yang menyiksa tubuh bagian bawahnya.

"Ooh? Ternyata masih sakit? Kukira kau sudah tidak..."

Hiruma tidak melanjutkan kalimatnya saat didapati mata Sena menatapnya kosong. Seolah tak ada jiwa yang hidup di sana. Hiruma mengangkat alisnya dan meletupkan balon permen karetnya, kemudian membuangnya. Tangan kurus Hiruma menelusuri wajah Sena yang terdiam seribu bahasa.

"HEY SLAVE SIALAN!"

Sena tersentak saat julukannya dipanggil dengan suara keras yang menggema. Ia menatap Hiruma yang memandanginya dengan pandangan yang sulit ditebak. Mungkin kesal? Atau marah? Atau jijik? Sena hanya bisa tersenyum demi membuat Hiruma merasa nyaman. Ya. Kini yang dipikirkannya hanya demi Hiruma. Tidak ada lagi.

"Ya, Hiruma-sa...Mmmm..."

Hiruma menyambar bibir mungil Sena dan menguncinya dengan bibir miliknya. Cukup lama mereka hanya diam dalam ciuman itu. Namun sedikit demi sedikit, Sena mulai relaks dan akhirnya memejamkan matanya perlahan.

"Hey, Slave sialan..."

Hiruma memanggilnya lagi saat Ia memutuskan ciuman mereka. Kini dengan suara lembut yang baru pertama kali Sena dengar dari mulut Hiruma. Dengan malu-malu, Sena menatap Hiruma yang menjilati bibirnya sendiri karena ada darah di ujung bibirnya. Darah Sena yang tadi menggigit bibir bawah terlalu keras.

"Ya?"

"Lupakan masa lalumu yang sialan itu! Aku tidak mau kau terus mengingat hal itu! Membuatku kesal saja!"

Jantung Sena berdebar keras. Serasa ada yang menghantam kepalanya dengan keras. Jadi Hiruma tahu masa lalunya yang kelam itu? Entah darimana Ia mendapatkannya, kini Sena tidak peduli. Karena hatinya mulai menghangat dengan perkataan masternya barusan.

"Baik, master."

Hiruma menyeringai mendapati Sena sangat penurut. Tangan kanannya yang masih memegangi wortel itu perlahan digerakkan maju mundur dengan ritme teratur. Membuat Sena setengah mati menahan perasaan yang seakan meledak saat itu juga.

"Ah... Hi-Hiruma-sama... Sa-Sakit sekali. Nggg.. Aaahh..."

Desahan Sena yang menggema itu membuat Hiruma bertambah semangat menggerakkan tangannya. Dengan cepat, Hiruma memaju-mundurkan tangannya hingga wortel itu bergerak keluar masuk di lubang belakang Sena dan menghasilkan sensasi aneh di hati Sena.

"Tepat sekali aku memilih kamar mandi sebagai tempat punishment ini. Selain suaramu menjadi menggema, di sini lebih terang daripada di kamar sehingga aku dapat melihatmu dengan jelas. Kekekekek!"

"Hiieeee... Hi-Hiruma-sama... Ja-Jangan bilang gitu dong. Aaahhh..."

Hiruma dapat dengan jelas melihat jika 'milik' Sena kini telah terbangun karena ulahnya. Sambil terkekeh keras, Hiruma kembali mempercepat ritme tangannya hingga gerakan lembutnya berubah menjadi sodokan kasar. Sena menjerit menahan sakit.

"Aaakkhh! Hi-Hiruma-sama... Hiruma-samaaa..."

Saat hentakan Hiruma menyentuh bagian tersensitif Sena di dalam sana, sontak Sena bergerak liar sambil mengerang keras. Tubuhnya gemetar hebat. Memanggil nama sang master dengan suara parau dan tatapan sayu menggoda.

"Hi-Hiruma-samaa.. Tidaakk... Aaahhhh!"

"Oh? Apakah aku telah menyentuh sensitive spotmu?"

Sena menggeleng keras. Wajahnya telah sepenuhnya memerah. ia merutuki erangannya yang malah membuat Hiruma semakin mempercepat ritme gerakannya menyodok titik tersensitifnya. Semakin cepat ritme gerakan Hiruma, semakin cepat Sena merasakan ada sesuatu yang akan melesak keluar.

"Hi-Hiruma-sama... Aku... Aku.. Haaaah!"

Hiruma terbengong melihat Sena telah mencapai klimaksnya dengan cepat. Ia kemudian melepas wortel itu dan membuangnya. Menyeringai lebar kemudian menurunkan Sena dengan katrol meski ikatan shibari itu masih mengikatnya. Sena menatap malu Hiruma yang mulai membuka pakaiannya satu persatu.

"Kheh! Slave sialan tidak berguna. Siapa yang suruh kau keluar duluan, idiot!"

Hiruma melepas penutup terakhirnya. Sena membuang muka semakin malu melihat tubuh Hiruma yang kini tanpa sehelai benangpun menutupinya. Hiruma berdiri di depan Sena dengan seringai tetap terpasang di wajahnya. Ia kemudian mendekatkan senjatanya yang telah terbangun sempurna itu di depan mulut Sena.

"E-Eeehhh?"

"Hisap seperti yang kulakukan kemarin, Slave sialan!"

Sena memejamkan matanya malu. Ia berusaha mengingat bagaimana Hiruma memperlakukannya kemarin. Dengan wajah sukses semerah tomat, Sena mulai menjulurkan lidah mungilnya, menyapu setiap senti milik masternya itu.

Hiruma sedikit mendesis merasakan miliknya yang mulai semakin menegang seiring lidah Sena menjilati dari ujung hingga pangkal. Dengan tak sabar, Hiruma mendorong pinggulnya hingga miliknya masuk ke dalam mulut Sena dengan kasar.

"Uukkhh... Mmmm!"

"Sh*t! Kena gigimu! Ayo buka mulutmu lebar-lebar, slave sialan!"

Hiruma mencengkeram rambut Sena dan menengadahkan wajahnya agar Ia bisa melihat jelas wajah Sena yang merah padam dan bersusah payah memperlakukan dirinya sesuai perintah. Dengan anggukan pelan, Sena membuka mulutnya selebar yang Ia bisa.

"Ngghhh..."

Erangan Sena terdengar disela-sela aktivitasnya menghisap milik Hiruma. Getaran yang dihasilkan dari erangan Sena terasa sampai ke seluruh titik syaraf Hiruma di bawah sana. Membuatnya setengah melayang.

"Gunakan lidahmu!"

Sena mengangguk. Gerakannya begitu lambat dan kaku. Ia bingung untuk apa Ia harus menggunakan lidahnya saat mulutnya penuh seperti itu. Akhirnya karena tak mau membuat masternya semakin murka, Sena memilih untuk menggunakan instingnya dalam memainkan lidahnya.

"Ssshh... Hoo. Kau ternyata jago juga."

Sena menggerakkan lidahnya menyapu setiap inchi batangnya dengan cepat dari dalam mulutnya. Air liurnya telah membasahi seluruh milik Hiruma. Namun merasa ada yang kurang, Hiruma semakin mendorong pinggulnya hingga miliknya masuk sepenuhnya ke dalam mulut Sena bahkan mencapai tenggorokannya.

"Uuukkhh!"

Sena gelagapan. Ia seakan ingin muntah dan sesak nafas saat milik Hiruma menyeruak masuk ke dalam mulutnya dan bergerak menuju tenggorokannya. Air liurnya semakin mengalir melewati sela mulutnya yang penuh.

"Kekekekekek! Kau tau teknik ini, slave sialan?"

Sena yang masih berusaha mengambil oksigen itu hanya menggeleng pelan. Erangan pelannya yang memohon untuk segera dibebaskan itu malah membuat sensasi dahsyat di kejantanan Hiruma. Semakin Sena mengerang, semakin Hiruma tak dapat membendung hasrat dashyatnya.

"Deepthroat namanya. KHEH!"

Dan akhirnya saat Sena dengan polos masih berusaha menjilati batang milik Hiruma, pertahanan Hiruma jebol. Cairan panas dan banyak membuncah memenuhi mulut Sena dan mengalir ke tenggorokannya. Bahkan ada sebagian yang mengalir keluar dari mulutnya.

"Hhhmmmpphh!"

"Telan, bodoh! Jika tidak, aku tak akan melepas ini dari mulutmu!"

Sena kaget. Telan? Ini semua harus ditelan? Tapi kalau tidak ditelan, Ia akan kehabisan oksigen. Akhirnya dengan sangat terpaksa, Sena menelan seluruh cairan itu hingga bersih. Setelah puas, Hiruma menarik tubuhnya dan menjauhi Sena.

"Hhh... Uhuk..."

Sena terbatuk-batuk karena telah menelan cairan aneh yang seumur hidup baru pertama Ia rasakan. Namun belum selesai Sena menarik nafas untuk mengisi paru-parunya dengan oksigen, Hiruma kembali menarik katrol yang membuat tubuh Sena kembali melayang di udara secara horizontal. Ia kemudian menarik katrol lain yang menghubungkan dengan tali di kaki Sena hingga membuat kaki Sena terbuka lebar. Sungguh kamar mandi yang sangat tidak biasa.

"Hiieeeee! Hiruma-samaaaa..."

"Ini baru main course, slave sialan!"

Hiruma berdiri di tengah dan mengelus lipatan paha Sena dengan lembut. Sena yang saat itu sedang lemas, hanya bisa memasrahkan tubuhnya pada masternya itu. Ia melirik Hiruma yang beranjak menuju sebuah box yang cukup besar. Dengan penasaran, Sena bertanya pada Hiruma.

"Hiruma-sama... Apa yang ada di dalam box itu?"

Hiruma menoleh ke arah Sena. Sudut bibirnya terangkat sempurna. Ia menyeringai seram, membuat Sena bergidik dan merasakan akan ada hal aneh lagi yang akan dilakukan Hiruma. Dan bingo! Amat sangat berbahaya malah.

"H.. Hee? Shotgun?"

Sena bergidik ngeri melihat Hiruma memasang shotgun tepat depan sasarannya, kepala Sena. Hiruma kemudian memasukkan selang itu ke dalam lubang yang terdapat pada pegangan shotgun, dan berjalan menuju Sena sambil memegang ujung lain selang kecil itu.

"Kekekekek! Selang kecil ini namanya Catheter, slave sialan. Jika kamu mengerti bahasa Inggris, kau akan tau di mana aku akan membenamkan benda ini juga manfaatnya!"

Tawa Hiruma menggema lagi. Entah sudah berapa kali Ia tertawa seperti itu. Menyeramkan. Hiruma kemudian memasukkan selang kecil itu ke dalam lubang kejantanan Sena dengan kasar. Sontak Sena menjerit sejadi-jadinya, merasakan sakit dan panas merambat di seluruh tubuh bagian bawahnya.

"AAAKKKHH! HI-HIRUMA-SAMAAA! SAKI... MMM!"

Suara jeritan Sena tak terdengar lagi karena Hiruma telah membekap mulutnya dengan Ball Gag hingga mulut Sena tak ada celah untuk tertutup. Hiruma mengambil lilin dan menyalakannya. Sena menggeleng keras sambil berusaha untuk teriak. Namun sia-sia.

"Sabar, slave sialan. Aku masih ingin bermain-main denganmu sebelum mencicipi main course."

Kemanakah Hiruma akan menumpahkan cairan lilin itu? Tentu saja ke sekitar catheter agar catheter itu tidak terlepas dengan mudah. Merasa tidak puas, Hiruma juga melumuri cairan lilin itu di kejantanan Sena yang membuat Sena mengerang keras.

Airmata Sena kembali mengalir. Panas. Sakit. Dan jutaan perasaan lainnya hinggap di tubuhnya. Ia meringis tertahan setiap cairan lilin itu menyelimuti miliknya perlahan. Hiruma mematikan lilinnya dan menatap Sena dalam diam. Entah apa yang dipikirkannya.

"Hey, Slave sialan..."

Dalam deritanya, Sena masih mau menatap sang master dengan mengangkat kepalanya lemah. Ditatapnya Hiruma yang menghela nafas berat. Dengan khawatir, Sena menggerakkan badannya. Apakah Hiruma tidak menyukainya? Atau Ia tak menikmatinya? Sorot matanya meredup.

"... kau bodoh sekali."

"?"

"Kenapa kau masih saja mau menurut? Padahal kau tahu hal ini akan terjadi. Bisa saja kau kabur saat aku tidur."

Sena terdiam. Ia melemaskan tubuhnya dan menurunkan kepalanya kembali. Ia menggeleng. Tidak bisa? Bisa saja Ia kabur disaat Hiruma tidur. Namun saat Ia melihat wajah Hiruma yang tertidur di sampingnya, niat untuk kabur itu sirna.

Kesepian.

Sena tahu Hiruma kesepian tinggal seorang diri di apartemen itu. Tanpa ada yang menemani, membantu atau hanya sekedar berkunjung. Dan ketika Hiruma mendapati Sena tinggal di apartemennya, Sena tahu jika Hiruma sedikit terhibur. Terbukti dari saat Hiruma tidur di sisinya. Ge-er atau tidak, Sena merasa Hiruma bermanja-manja padanya meski hanya menggigit lehernya atau menggerayangi tubuhnya. Itu manja? Entahlah. Namun menurut Sena sih begitu. Dan juga, Hiruma jadi sering tertawa. Meski menyeramkan.

"Mmm..."

Saliva Sena mengalir dari lubang-lubang yang terdapat di Ball Gag itu, juga dari sudut bibirnya karena Ia tak dapat menelannya. Pemandangan itu membuat hasrat Hiruma kembali naik. Ia kembali menyeringai. Dan sedikit melupakan rasa penasarannya akan tingkah laku Sena.

"Hey, slave sialan. Aku akan menjelaskan aturan main hari ini..."

Hiruma berdiri di tengah kaki Sena. Tanpa memberi tanda, Hiruma mendorong kasar miliknya masuk ke dalam lubang bagian belakangnya hingga miliknya terbenam sempurna di sana. Mata Sena membelalak sepenuhnya. Ia menggigit Ball Gag itu keras-keras. Merasakan sakit yang tak terhingga di dalam sana. Seperti ada sesuatu yang mengoyak tubuh bagian bawahnya dengan pisau. Hiruma mendesis pelan.

"Che! Nah... Aturan mainnya, kau tidak boleh klimaks duluan. Karena kalau kau klimaks, maka cairanmu akan mengalir lewat selang itu, menuju shotgun tak jauh dari sini. Karena shotgun itu telah kurancang sedemikian rupa..."

Hiruma menarik keluar miliknya, kemudian kembali memasukkannya ke dalam dengan kasar hingga sepenuhnya tenggelam di dalam lubang Sena. Sena kembali mengerang keras. Tubuhnya sedikit bergoyang karena dorongan dari Hiruma. Dadanya naik turun, menahan gejolak dalam tubuhnya.

"... agar saat air masuk ke dalam shotgun itu, maka dengan otomatis, peluru akan meluncur dan memecahkan kepalamu!"

"NNGGGG!"

Jadi kesimpulan yang Sena tangkap, Ia tak boleh klimaks mendahului Hiruma, atau mati! Dengan menetapkan hati, Sena mengangguk pasrah. Hiruma menyeringai. Pemuda iblis itu mulai menggerakkan pinggulnya cepat. Sempit. Itulah hal pertama yang Hiruma rasakan saat miliknya melesak masuk.

"Kheh!"

Hanya erangan pelan yang keluar dari mulut Hiruma. Ia merasakan miliknya dicengkeram erat oleh dinding-dinding Sena yang saat itu memang berusaha agar Hiruma menikmatinya dan berharap agar acara ini cepat usai.

Dengan tempo cepat dan teratur, Hiruma menggerakkan pinggulnya, membuat kejantanannya keluar-masuk kasar. Sena masih meringis. Namun saat kepala kejantanan Hiruma telah menyentuh bagian tersensitif Sena, Sena mengerang keras. Tubuhnya gemetar hebat dan dadanya naik turun dengan cepat.

"Ooh? Lagi-lagi aku menyentuh prostatmu ya? Kekekekek! Bersiaplah, slave sialan!"

Peluh membasahi wajah Hiruma. Namun sejujurnya, Ia setengah melayang mendapati surga kecil di diri Sena kini telah Ia masuki. Hentakannya semakin kasar setelah Hiruma merasakan kejantanannya semakin mengeras dan membesar.

Sena? Ia berusaha sekuat tenaga untuk menahan debur cairan di testis-nya yang siap melesat kapan saja jika Sena tak mengingat kematian di ambang mata. Namun meski awalnya Sena terpaksa untuk memuaskan masternya, namun sebagai manusia biasa, tubuh Sena berkata lain. Semakin Hiruma menyentuh prostatnya berulang-ulang (dengan tujuan agar Sena cepat klimaks tentunya), semakin pikiran Sena seperti melayang ke awang-awang.

Kini hentakan Hiruma berubah menjadi sodokan kasar dengan ritme semakin tidak teratur. Direntangkannya kaki Sena semakin lebar dan dicengkeramnya kejantanan Sena yang mulai basah dengan cairan precum. Hiruma menyeringai. Hiruma tau, sebentar lagi Sena-pun akan menuju puncak kenikmatannya. Karena itu, dengan cepat dan kasar, Hiruma semakin menyodok prostat Sena hingga dinding-dingding di dalam semakin menjepit kejantanan Hiruma dan berbaik hati mengocok kejantanan Sena yang telah menegang sepenuhnya.

"KH!"

Seiring terdengar decak keras Hiruma, cairan klimaksnya keluar memenuhi seluruh dalam Sena. Sena yang saat itu dengan sekuat tenaga berusaha agar tidak klimaks, akhirnya ikut klimaks bersama masternya. Tubuhnya menegang. Ia bergerak kaku, hingga cairan kenikmatannya keluar. Mengalir dari selang menuju shotgun Hiruma.

"!"

Sena memejamkan matanya erat. Inikah akhir dari hidupnya? Harus mati tertembak karena Ia ejakulasi bersama masternya itu? Hidup tidak adil. Mati tidak elit.

"Kekekekek! Kenapa, slave sialan? Tenang. Kau tak akan mati karena aku belum mengokang shotgun itu. Bagaimana sensasi takut di ambang kematian ini? Menyenangkan bukan?"

Dengan kasar, Hiruma menarik Ball Gag yang menahan mulut Sena. Salivanya membanjiri lantai kamar mandi. Sena menatapnya sebal. Padahal Ia sudah sekuat tenaga hingga keringat membanjiri tubuhnya, eh ternyata dibohongi. Hiruma licik sekali.

"Hiruma-sama jahaaattt..."

Hiruma tertawa keras hingga airmatanya keluar melihat wajah Sena yang memelas dan memerah karena malu dan marah. Slave kecilnya ngambek. Sena menggerakkan tubuhnya hingga tubuhnya bergoyang maju-mundur. Membuat kejantanan Hiruma yang memang masih terpendam di dalam, kembali aktif.

"Haa? Kau mau lagi, slave sialan? Ternyata kau nafsuan juga ya? Kekekekekkekek!"

Padahal Sena tak ada maksud untuk mengaktifkan lagi hasrat Hiruma. Ia hanya ingin agar Hiruma segera melepasnya dan membuka ikatannya. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Gawat.

"Errr... Bu... Bukaan! Aku... hanya ingin Hiruma-sama cepat melepaskanku..."

"Tidak akan! Persiapkan dirimu, Slave sialan!"

"Gyaaaaaaa!"

O o O o O

"Aduuhhh..."

Sena merintih pelan saat Ia terbangun dari tidurnya. Kemarin adalah kejadian yang melelahkan. Ia kembali dipaksa memuaskan hasrat masternya yang 'tidak sengaja' Ia 'aktifkan'. Ditatapnya Hiruma yang masih tidur dengan tenang di sampingnya.

"Master, kau jahat."

Sena bergumam sebal. Namun Ia terima saja diperlakukan seperti itu. Karena kini yang ada dipikirannya adalah Hiruma. Masa lalu kelamnya seolah sirna, berganti dengan bayangan Hiruma yang memasuki dirinya dengan gentle, meski bisa dibilang Ia telah di rape Hiruma. Namun entah mengapa, Sena menikmatinya. Menikmati?

Wajah Sena berubah merona merah. Bayangan tubuh Hiruma yang bergerak kasar dan cepat, dada yang naik turun menahan gejolak nafasnya, wajah Hiruma yang meski dingin, namun terlihat keren karena dipenuhi peluh, dan... dan... milik Hiruma yang tak pernah terbayangkan akan hadir di dalam tubuhnya.

"Hyaaaa!"

Sena menggeleng keras. Berusaha menghapus hasrat aneh yang muncul tiba-tiba itu. Ia kembali merebahkan tubuhnya. Namun tanpa Ia sadari, tangannya telah meraba celana tidurnya yang terasa semakin sempit. Gawat. Sena turn on dengan sendirinya!

"Ah..."

"Hey, slave sialan! Ternyata kamu memang penuh nafsu ya. Sedang apa, hah?"

Sena kaget. Dengan cepat, Ia menarik tangannya dan pura-pura tersenyum polos. Namun usahanya sia-sia. Hiruma dengan jelas telah melihat Sena memainkan kejantanannya yang entah sejak kapan terbangun itu.

"Oooh. Oke! Sini kau, slave sialan!"

"Gyaaaaaaa!"

4 kali dalam 24 jam. Melebihi dosis minum obat. Overdosis lho, Hiruma.

"Heh, slave sialan..."

"Ya, master?"

"Mau berfantasi sambil menonton videomu di kamar mandi tempo hari?"

"Tidaaaaakkkkkkkk!"

O o O o O

TBC

Errr... Kok latarnya kayak bukan di kamar mandi ya? Huhuhuhu. Kagak berasa di kamar mandinya. Huhuhu lagi. DD:. Tapi anggeplah apapun yang ada di Hiruma itu gak pernah gak aneh. Hehe. #gakbertanggungjawab

Iseng-iseng coretkagakcoret berhadiah : berapa kali Hiruma memanggil Sena dengan panggilan Slave sialan? :DD

Sena : au tuh. Kenapa Hiruma-san seneng banget manggil aku gitu. Huhu

Aru : gak tau juga ya. Jawabannya bisa kamu dapat di episod berikutnya kok, Sena-kun.

Sena : hieeee! Tapi jangan pake lemon lagiii

Aru : gak janji. :p

Buat istilah alat-alat sadomaso, silakan anda cari di majalah bobo. #kabur.

Bukan ding. Maksudnya di gugel. Abis kalo dijelasin juga susah. D:

Review plis.