"Selamat pagi, slave sialan."
"Euh... pagi, master." Sena tersenyum melihat sang master, Hiruma, menyeringai di sampingnya sambil menopang kepalanya dengan tangan kanan, menghadap dirinya.
"Mimpi indah?"
"Indah." Sena bahagia masternya berubah jadi baik.
Eh tunggu. Sejak kapan iblis tobat?
"Persiapkan dirimu, slave sialan!"
"GYAAAAAA!"
Euh. Maafkan daku, minna-samaaaa.. aku bukannya ngelupain fic ini. Tapi aku belum punya uke untuk dipraktekin. Jadinya hasrat buat nulis ini hilang terus. –hajared-
Langsung disclaimer
Ah males. Baca aja di episod sebelumnya. #gampared
OOC (meski aku berusaha agar tetap IC)
Yaoi
Rate M
Typo
HiruSena
PWP mungkin
SM (slave master. Hoho)
DN? DR!
O o O o O
Sena berjalan lunglai masuk ke dalam kelasnya. Ia berjalan menuju bangkunya dan perlahaaan sekali menurunkan tubuhnya untuk duduk di kursi. Ingin sekali ia menjerit menahan sakit di tubuh bagian bawahnya akibat ulah sang master yang meminta jatah di pagi bolong.
"Uukkhh. Menyebalkan. Sakitnya masih terasa."
Sena sedikit heran. Darimana sih sang master mempelajari dan mendapat benda-benda aneh seperti kemarin. Seumur hidup, Sena belum pernah melihat benda-benda seperti penutup mulut berbentuk bola, atau selang kecil yang begitu perih dipasang di miliknya.
Eh tunggu. Ini di sekolah, Sena! Jangan sampai kau terus memikirkan sex dari pagi sampai malam. Siapa yang harus disalahkan? Siapaaa? Sena perang batin dalam hatinya. Memang menurut penelitian, pria lebih banyak memikirkan sex daripada wanita setiap harinya. Tapi bukan berarti Sena termasuk dalam kategori pria hypersex. Sory ye. Ini semua gara-gara...
"Hei, slave sialan."
Dia.
Sena menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Siapa lagi kalau bukan masternya, Hiruma yang tengah memakan permen karet non gulanya sambil menyampirkan shotgun di bahunya. Euh. Jika Sena melihat pistol itu, rasanya ingat mimpi buruk kemarin.
"Ya, master?"
"Malam ini aku mau makan oden. Siapkan!"
"Ba-baik." Sena mengangguk dan siap-siap untuk kabur sebelum tangannya ditahan oleh Hiruma. Oh tuhan. Jangan sekarang!
"... mau kemana kau?"
"Ke-ke-ke WC! Iya! A-aku tidak tahan lagi nih, Hiruma-sama. To-tolong lepaskan tanganku." Dengan gagap, Sena berusaha berakting seperti orang yang menahan buang air kecil.
Bukannya iba, Hiruma malah menyeringai lebar hingga gigi-giginya yang runcing itu terlihat semua. "Kalau begitu kau bisa melakukannya di sini."
"Heeeeee?"
"Kekekekekek."
Dasar setan! Bisa saja mencari tempat sepi seperti ini untuk bertemu. Atau jangan-jangan ia telah memasang plang agar tak seorangpun lewat di lorong tempat mereka berdiri sekarang?
"Ja-jangan begitu dong, Hiruma-sama. A-aku..."
Ucapan Sena terputus karena Hiruma telah memepetkan tubuhnya di tembok. Tubuhnya yang kecil tak dapat kabur karena di tahan oleh tubuh tinggi Hiruma. Yah, toh Sena memang tak bisa kabur kemanapun karena sang iblis pasti mengejarnya meskipun ke ujung dunia.
"Kekekekek. Sesering apapun kita melakukan 'itu', ternyata aku tak pernah bosan padamu, slave sialan!"
"Eh?"
Hiruma membekap mulut Sena dengan bibirnya. Sedangkan tangan kanannya mulai bekerja melepas ikat pinggang serta resleting celana slave imutnya itu, tentu saja perlahan hingga Senapun tak menyadarinya.
"Hhhh..." Sena menarik nafas kuat-kuat karena kekurangan oksigen akibat serangan Hiruma yang mendadak. Tapi sepertinya ia tak dapat bernafas lega karena...
"Kekekekekek!"
Setan itu belum puas!
Hiruma dengan cepat melepas celana beserta boxer Sena dan melemparnya ke sembarang tempat. Sena yang kaget karena tak tau kapan masternya membuka resletingnya itu hanya dapat menjerit tertahan. Dengan kasar, Hiruma membekap mulut Sena dengan tangannya. Ia melepas dasi Sena dan memakainya untuk membekap mulut Sena.
"Kekekekek. Nah dengan begini bersuarapun kau tak bisa."
"Nggg! Mmmm!"
Satu tangan Hiruma menahan kedua tangan Sena di atas sedang satu tangan kanannya dipakai untuk memegang shotgun kesayangannya. Eh tunggu, taruh dulu dong shotgunnya kalau mau bermain dengan anak kecil. Tidak. Bukan iblis Hiruma namanya kalau ia merasa belas kasihan pada slave di depannya.
Dan memang benar, shotgun itu ia pakai untuk mengerjai slavenya. Hiruma mengeluarkan borgol dari sakunya yang disambut dengan belalakan mata oleh Sena. Darimana lagi si iblis itu dapat benda aneh itu? Kemudian ia menahan tangan Sena di belakang dan memakaikannya di kedua tangannya.
Sena hanya dapat menatap masternya takut-takut. Menjeritpun tidak bisa. Tapi jika ia menjerit, maka ia akan merasa malu karena penampilannya... err... begitulah. Jadi lebih baik ia melihat saja apa yang akan masternya lakukan.
Hiruma mengangkat satu kaki Sena hingga terlihat dengan jelas liang analnya. Merasa sangat malu, Sena memejamkan matanya dan pasrah. Dan sepertinya Sena merasa ada sesuatu yang menyentuh dan mengelus liangnya. Benda itu dingin sekali. Jangan-jangan...
"NGGGG!" Sena berusaha lepas dari Hiruma ketika kaget melihat moncong shotgun telah berada di depan liangnya. Hiruma terkekek bahagia melihat reaksi Sena dan kembali menggesekkan moncong pistolnya di liang Sena.
Takut, geli, dan sejuta perasaan aneh merayapi tubuh Sena hingga tanpa sadar, mau tidak mau, ia menegang. Hiruma bersiul pelan melihat itu dan dengan kasar, ia menusukkan ujung pistolnya masuk ke dalam liang Sena.
"KKHHH! NGGGGG!" airmata Sena tak terbendung lagi. Ia meringis ketika dirasanya benda dingin dan besar itu masuk secara paksa dan kasar.
"Haaa! Untung aku beli shotgun dengan moncong besar seperti ini. Bagaimana, slave sialan? Kau menyukainya?"
Sena menggeleng pelan. Hanya satu yang ia takuti. Ketika secara tak sengaja pelatuknya tertekan, maka tamatlah semua. Namun sepertinya sang master cuek-cuek saja malah kini ia mulai memompa shotgun itu keluar masuk tubuhnya.
Kurang puas, Hiruma menaikkan satu kaki Sena di bahunya hingga terlihat semakin jelas prosesnya. Ia terus memacu shotgunnya keluar masuk dengan ritme tak beraturan sedangkan satu tangannya iseng memainkan milik Sena yang semakin menegang.
Sena hanya bisa mendesah tertahan dengan kepala menengadah ke atas. Ia tak mau melihat wajah masternya, lebih tepatnya ia malu jika harus mengakui jika ia sedikit menikmati permainan tangan masternya itu.
"Hoo? Kau menikmatinya?"
"Nggg..."
Puas sekali Hiruma melihat slavenya semakin menegang dengan wajah memerah. Airmatanya masih menggenang. Tapi Hiruma menganggap itu sebagai airmata bahagia saja. Hiruma semakin mendorong shotgunnya masuk ke semakin dalam ke tubuh Sena. Ia masih mencari sensitive spot dan senang melihat reaksi Sena.
"Umm.. Hhhh.. Nggg.. MMM!"
Yak kena. Tubuh Sena bergetar dan saliva mulai membasahi dasinya. Dengan beringas, Hiruma menyodok ujung shotgunnya di titik yang baru saja ia temukan, membuat Sena terlonjak beberapa kali sebelum akhirnya...
"NNNH!"
Cairan putih membasahi tangan Hiruma. Hiruma mengeluarkan moncong shotgun dari tubuh Sena dan menjilati tangannya yang belepotan cairan Sena. Sena hanya terduduk lemas dengan wajah merah dan tertunduk. Nafasnya tersengal-sengal. Iblis, iblis. Melakukan sex di sekolah itu tidak baik!
"Kekekekek! Jatahmu untuk hari ini. Siap-siap nanti malam." Hiruma membuka borgol yang menahan tangan Sena dan berjalan cuek meninggalkannya. "Oh ya, jangan berwajah ketakutan begitu. Shotgun ini belum kuisi dengan peluru."
Sena manyun. Ia mengelus kedua tangannya yang perih akibat gesekan borgol itu kemudian memungut celananya dan memakainya dengan lemas. "Hhhh... masteeerr... tanggungjawab sedikit dong. Menyebalkan. Selalu saja membuatku mati ketakutan kemudian menghidupkannya lagi. Huh."
O o O o O
Sore hari, sesuai pesanan Hiruma, Sena membeli bahan makanan untuk membuat oden. Tumben masternya meminta masakan Jepang yang sangat sederhana. Padahal oden kan tinggal beli saja di toko oden. Mengapa harus menyuruhnya masak coba?
"Fuuh. Lelah sekali berbelanja sambil menahan sakit. Uhuhu."
Meski mengeluh, toh akhirnya Sena tetap memasak di dapur seorang diri, karena sang master belum pulang dari kegiatan klubnya. Sena melihat buku resep sebagai paduan. Bahan-bahannya telah ia beli dan mulailah ia memasak makanan untuk master iblisnya.
BRAK!
"Astaga!" hampir saja jari Sena teriris pisau. Meskipun sudah beberapa hari tinggal, namun jantungnya belum juga kebal dengan suara-suara bantingan pintu akibat tendangan dari si iblis.
"Aaakh. Mengesalkan. Susah banget sih ngatur cere-cere sialan itu buat ikut latihan." Hiruma duduk di bangku ruang makan dan membuka jas sekolahnya dengan kesal.
"Se-selamat datang, Hiruma-sama." Sena mengelus dadanya pelan. Sabar. Sabar.
"Wow. Masak apa?"
"Pesananmu."
Hiruma membuka kancing bajunya sampai dada. Hidungnya yang tajam mengendus wangi masakan Sena. Ia menyeringai. "Hei, kau tak lupa beli gurita kan?"
"Gurita? Memang Hiruma-sama suka?"
"Iya."
Sena menggaruk pipinya. Ia tak beli bahan itu karena takut Hiruma tak menyukainya. Bagaimana ini? Hiruma menghela nafas kemudian mendekati Sena yang masih kebingungan. Ia memberikan seplastik gurita dan segera meninggalkannya ke kamar mandi.
"Eh? Dia beli? Banyak sekali. Tidak mungkin kan ia makan semuanya? Hehe."
Sena menggelengkan kepalanya kemudian melanjutkan memasak. Ia harus selesai memasak ketika sang master datang lagi ke ruang makan atau ia akan murka.
"Yes, selesai juga!" Sena menata isi oden dan menuangkan mustard ke mangkuk.
"Sudah selesai?" Hiruma muncul dari balik pintu dengan handuk menutupi rambutnya. Sena mengangguk senang dan meletakkan masakannya di meja makan. Saat Sena sedang menata sumpit dan gelas, Hiruma berdiri tepat di belakangnya.
"E-eeh? Hi-Hiruma-sama? Kaget aku."
Hiruma memeluk pinggang Sena dari belakang. Ia merapatkan dadanya di punggung Sena yang saat itu setengah membungkuk. Kaget, Sena hanya bisa diam dengan wajah memerah. Wangi sabun dan shampo khas Hiruma tercium jelas di hidungnya.
"Chibi..."
Eh? Apa telinganya tak salah dengar? Hiruma memanggilnya tidak dengan kacung sialan lagi?
"... tidak jadi." Hiruma melepas pelukannya dan duduk di bangku dengan cueknya, membiarkan Sena yang jantungnya sudah berdegup kencang dengan muka merah itu kembali manyun dan pergi ke dapur dengan alasan mengambil teko air.
"Kekekekek. Menarik." Hiruma mengambil sepotong lobak dan memakannya bulat-bulat. Ia kemudian melirik gurita dan menyeringai jahil.
"Ini minumnya, Hiruma-sama." Sena menuangkan air ke gelas Hiruma kemudian duduk di bangku seberangnya.
Sesekali ia melirik Hiruma yang makan masakannya dalam diam. Senang rasanya jika masakan sendiri dimakan tanpa protes oleh seseorang. Sena kemudian ikut makan bersama.
Selesai makan, Sena melihat Hiruma membawa piring bekasnya ke dapur. Tumben merapikan bekas makan sendiri. Ada apa ya? "Heh slave sialan. Abis makan, mandi sana!"
"I-iya." Sena merapikan meja kemudian bergegas masuk ke kamar mandi. Tanpa tau Hiruma sedang merencanakan sesuatu yang jahil lagi.
O o O o O
"Fuh, segarnya." Sena mengeringkan rambutnya dengan handuk. Ia duduk di depan cermin meja rias hanya dengan bathrobe milik Hiruma yang kebesaran. Ia memandangi wajahnya di cermin. Tak sekurus dan sepucat dulu lagi. Berterimakasihlah pada Hiruma yang memberinya banyak makan.
Tiba-tiba Hiruma masuk ke kamarnya dan berdiri di belakangnya. Sena menoleh ke belakang dan mendapati Hiruma menatapnya tajam. Ngeri juga melihat Hiruma seperti itu. Ada apa ini? Apakah Hiruma sedang badmood karena suatu alasan?
"Hei..."
"I-iya?"
Hiruma mengangkat tubuh mungil Sena ke atas meja rias dengan satu kaki bertumpu di kayu meja rias dan satu kaki lagi terjulur ke lantai. Sena yang kaget menatap pantulan tubuhnya dan tubuh Hiruma yang saat itu setengah menindihnya.
"Hi-Hiruma-sama?"
Tanpa dikatakanpun, Sena tau apa yang diinginkan masternya. Tapi selalu saja tiba-tiba. Dan sekarang ia merasa tangan Hiruma bergerak menyusup ke dalam bathrobe-nya dan mengelus paha kurus Sena. Sena menggeliat kegelian dengan perlakuan Hiruma. "Hi-Hiruma-samaa.. geli.."
Hiruma hanya diam sambil melihat ekspresi wajah Sena dari cermin. Tangannya terus bergerak dari paha menuju kejantanan Sena. Ia mencengkeramnya dan dengan kasar mengocoknya hingga Sena mau tidak mau mendesah tertahan.
"Hi-Hiruma-sama.. aahh.. apa.. apa yang... aahhhh..."
Satu tangan Hiruma ia gunakan untuk memasukkan beberapa jarinya ke dalam mulut Sena. Anggaplah sebagai penahan mulutnya. Ia menggerakkan jari-jarinya di dalam mulut Sena yang dibalas dengan jilatan lembut dari lidah Sena.
"Ngghh.. Hi-Hirhumha-shamha.. Nnnhhh.."
Saliva Sena menetes dari sudut bibirnya, membuatnya terlihat lebih menggairahkan. Hiruma menyingkap bawahan bathrobe Sena hingga terpampanglah pinggul dan paha Sena yang kurus. Hiruma masih memainkan milik Sena sedangkan tangan satunya masih sibuk menyumpal mulut Sena dengan jarinya.
"Hi-Hiru..."
Hiruma menghentikan kegiatannya di milik Sena kemudian mengambil sesuatu dari kantong yang sejak tadi ia bawa. Apa isinya? Apa barang-barang aneh itu lagi? Namun Sena tak dapat menoleh karena mulutnya masih disumpal tangan Hiruma dan menahan kepalanya agar tidak dapat bergerak.
"Ng? NNGGGGH!"
Ada benda aneh dan dingin memasuki liangnya. Apa? Apa yang Hiruma lakukan? Benda itu panjang dan cukup gemuk. Ada tonjolan-tonjolan aneh di badannya. Hiruma memasukkan paksa benda itu hingga memenuhi liang Sena.
"Kekekekek. Kau penasaran benda apa ini?"
Sena mengangguk pelan. Salivanya semakin menetes akibat benda aneh itu memasuki tubuhnya. Tonjolan-tonjolan itu menyebabkan sensasi aneh di dinding dalam tubuhnya hingga mau tidak mau Sena bertambah tegang.
"Ini gurita."
"HAAAAH!"
Gurita? Sena mengulangnya dalam hati. Jadi itu tujuan utama Hiruma membeli banyak gurita? Ya ampun! Sena menggeliat liar, memohon agar dilepaskan. Tapi Hiruma tak menghiraukannya dan terus memasukkan gurita yang cukup panjang dan gemuk itu masuk ke dalam lubang Sena.
"Bukankah enak, slave sialan? Sensasi gesekan dari tentackle gurita ini membuatmu melayang bukan?" Hiruma mengorek mulut Sena lagi. Ia memasukkan jarinya semakin dalam di mulutnya, membuat Sena meneteskan airmata menahan keinginannya untuk muntah.
"Nggghhh.. Mmmphhh... Hi-Hirhu..."
"Belajar deepthroath lebih baik lagi, slave sialan."
Sena mengangguk pasrah. Ujung gurita itu menggelitik sensitive spot Sena hingga Sena kembali terlonjak dikarenakannya. Semakin Hiruma menggerakkan maju mundur gurita itu, semakin tinggi keinginan Sena untuk klimaks. Benar katanya. Tentackle gurita itu menggesek dindingnya hingga membuatnya melayang. Sena meletakkan kedua tangannya di cermin, menahan tubuhnya agar tidak ambruk.
"Wow. Seksi sekali, bukan? Lihat pantulan tubuhmu di cermin, slave sialan."
Sena memejamkan matanya. Tak mau melihat pantulan dirinya di cermin karena itu hal yang memalukan sekali. Masih dengan gurita di dalam tubuhnya, Hiruma mengangkat tubuh Sena dan membawanya ke suatu tempat.
"Ng? Kita mau kemana, Hiruma-sama?"
Hiruma diam saja. Ia memiringkan lampu tembok dan voila! Ada pintu rahasia di dinding! Rumah macam apa ini. Batin Sena. Ketika memasuki ruangan itu, Sena bergidik. Banyak sekali benda-benda aneh di sana. Tempat tidur yang tidak bisa dikatakan sebagai tempat tidur karena tak ada kasur. Hanya ada tiang-tiang di empat sudut dan di atas tiang yang membentuk persegi panjang itu, banyak sekali tali-tali dan borgol.
"Tempat apa ini...?"
Hiruma mendirikan Sena di ranjang aneh itu, kemudian mengikat kedua tangannya di atap tempat tidur itu dengan borgol. Posisi Sena sekarang berdiri dengan kedua tangan terikat di atas, membuat Hiruma menyeringai melihatnya. Ditambah gurita itu masih menancap di tubuhnya.
"Kekekekek. Sebentar..." Hiruma berjalan ke arah laci besar yang menempel tembok. Sena mengamati Hiruma yang sedang mencari-cari sesuatu di sana. Apa lagi sekarang?
Hiruma kembali menghampiri Sena dan menggenggam sebuah rantai dengan ujung berbentuk antik. Wah? Itu seperti rantai untuk dompet. Untuk apa benda itu? Hiruma berdiri di depan Sena dan memakaikan benda itu di kedua putingnya.
CREP
Ujung rantai berbentuk antik itu menjepitnya, membuat Sena menjerit kesakitan. "Hi-Hiruma-samaaa! Sa-sakit sekali! Benda itu seperti penjepit jemuran. Sakiittt!"
"Memang. Dan jika kau bergerak, maka sakitnya akan bertambah karena beratnya rantai ini."
Sena meringis. Airmatanya menetes. Pasti sebentar lagi putingnya akan membiru. Sena menghela nafas melihat Hiruma kembali mengambil sesuatu di laci. Belum selesai penderitaan Sena, Hiruma kembali menambahkan.
"Hi-Hiruma-sama... sakit sekali..."
Hiruma berjalan mendekatinya. Ia memasang benda aneh lagi. Kini di mulut Sena. Dengan perlahan, Hiruma mengaitkan benda seperti kawat di setiap sudut mulut Sena hingga membuat mulut Sena terus terbuka.
"Ini namanya spider gag. Bentuknya memang seperti laba-laba karena panjang dan kaki-kakinya menahan mulutmu agar terus terbuka."
"Eeenngh..."
Hiruma sedikit berpikir, kemudian beranjak menuju laci lagi. Sena menghela nafas. Salivanya mulai membanjiri mulutnya. Mau tidak mau saliva itu akhirnya mengalir juga dari mulut terus menuju dagu dan menetes di dadanya.
"Hei, mau apa lagi?"
"... ahu huha mahu hihuma-hamha..."
Hiruma berhenti dari mencari benda di laci dan menoleh ke arah Sena. Ia menyeringai dan mengangguk. "Tenang, sebentar lagi. Setelah aku menghiasimu."
"Nggg..."
Sena memasang wajah melas. Rasa sakit dan perih di puting serta rasa pegal di mulutnya membuatnya semakin tak berdaya. Apalagi yang Hiruma ambil dari laci itu? Pasti benda aneh lagi.
Hiruma balik lagi ke ranjang. Ia menggenggam sebuah alat yang Sena tak tau fungsinya. Yang ia tau, Hiruma membalutnya di kejantanan Sena. Alat itu seperti pengatur suhu. Ada tombol dan alat itu terhubung dengan kabel cukup panjang yang ujungnya kain. Kain itulah yang Hiruma pakai untuk melilitkan miliknya.
"Sabar sedikit." Hiruma menyeringai dan menggigit keras leher Sena. Sena menjerit karena gigi-gigi tajam Hiruma melukai lehernya. Namun ada sensasi lain saat Hiruma menggigitnya. Seperti ada sengatan listrik yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Oh? Cepat sekali kau menegang, slave sialan?"
"...ihi han hahena hihuma-hama... nggg..."
Gurita di dalam tubuh Sena perlahan bergerak keluar karena tak ada yang menahannya. Sena menggeliat kegelian ketika gurita itu akhirnya jatuh ke ranjang. Hiruma terkekeh keras. Ia mengecup pipi Sena kemudian menyalakan tombol on di alat yang dipegangnya.
Apa yang terjadi?
Sena terkejut, sangat terkejut. Kain yang melilitnya mengalirkan setrum dan menyetrum miliknya. Ia bergerak-gerak liar hingga tangannya terus bergesekan dengan besi di borgol yang cukup tajam, mengakibatkan tangannya terluka dan berdarah.
"Ha... Hhhh... Hi-Hihumha... nnggg... haa... amhuuhhnn... hhiikkss..."
"Haa? Aku tak mengerti apa yang kau katakan."
"Ngggg..."
Hiruma membuka bajunya satu persatu. Sambil menahan sakit, Sena memandangi sang masternya. Oh oh... meski kejam begitu, tapi Sena tak dapat memungkiri jika tubuh Hiruma itu atletis dan seksi. Tanpa sadar, wajah Sena menjadi merah dan hal itu menarik perhatian Hiruma.
"Haa? Kau kenapa, slave sialan?"
Sena menggeleng pelan. Ia masih bergerak pelan menahan sakit dari sengatan listrik di miliknya. Hiruma memiringkan kepalanya dan berdiri di belakang Sena. Sena tak dapat menoleh ke belakang. Tapi ia dapat merasakan nafas Hiruma di telinganya. Ah, segitu dekatnya Hiruma di belakang Sena.
"Chibi..."
"H.. hahi?"
"... kau milikku seorang."
Wajah Sena kembali memanas. Ah ah. Masternya memang unik. Sesekali terlihat begitu romantis dan baik. Sena mengangguk pelan. Apakah ini cara seorang iblis memperlakukan orang yang ia sayang? Entahlah.
Yang pasti sekarang Hiruma mulai menggesekkan miliknya di liang anal Sena. Sena menguatkan hatinya saat Hiruma mulai dengan paksa memasuki tubuhnya. Ia menjerit tertahan merasakan sakit di liangnya karena Hiruma tak memberinya pelumas atau cairan lain.
"Kkhhh... tetap kesat seperti biasa, eh?"
"Ngggg..."
Saliva Sena semakin membanjiri tubuhnya. Hiruma menghentakkan tubuhnya hingga kejantanannya masuk seutuhnya di dalam tubuh Sena. "Haaaahh! Nngggggg... Mmm... Hhhhh.." hentakan Hiruma membuat Sena terdorong beberapa centi. Hal itu membuat rantai jepitan di putingnya bergerak-gerak dan membuat rasa sakit yang tak terkira di puting Sena.
Semakin Hiruma menyentakkan tubuhnya, semakin membiru puting Sena dibuatnya. Airmata Sena mengalir. Antara rasa sakit dan rasa aneh. Hiruma memutar tombol di alat kejut itu dan membuat Sena semakin bergerak menggila. Sengatan listrik di miliknya semakin menjadi, membuat kaki dan milik Sena lemas.
"Kheh... Enak bukan, slave sialan?"
Hiruma menyodok Sena dengan beringas. Ia menjilati tengkuk Sena dan memberinya kissmark di leher Sena. Membuat Sena setengah melayang. Selesai memanjai leher Sena, Hiruma turun menjilati punggung Sena membuat sang punya tubuh menggelinjang geli.
"Hhh.. Hii-Hiihumaaa.. aaahhh.. nnnnggg..."
Desahan dari Sena membuat Hiruma semakin bersemangat menyodok liang Sena. Ia berusaha menemukan sesuatu yang akan membuat slave mungilnya mendesah nikmat. Tangannya tak ia biarkan menganggur. Ia memainkan puting Sena yang mulai membiru.
"Hei, benda yang menjepitmu ini namanya nipple clamps."
"Hng? Mmmhhhh..." Sena menggeleng. Ia memohon agar Hiruma tak memainkan rantai dan putingnya karena rasa sakitnya mulai menjalar ke seluruh tubuhnya.
Hiruma tak memperdulikannya. Malah sekarang ia memasukkan semacam gelang di lingkarang kejantanan Sena. Sena menunduk, melihat benda apa itu. "Itu cock ring. Ia akan menjepit batang kejantananmu dan rasakan sensasinya."
Hiruma memindahkan alat kejut itu ke puting Sena dan merekatkannya hingga menempel. Sena menggeleng keras. Jangan. Jangan di tempat itu atau...
"On!"
"Nggggghhh!" kaki Sena tak sanggup menahan beban tubuhnya, membuat tangannya yang tergantunglah yang menahan badannya. Tapi dengan begitu, pergelangan tangannya teriris besi borgol hingga darah mengalir dari pergelangan tangannya.
"Oh? Pergelangan tanganmu berdarah?" Hiruma mengamati luka di tangan Sena. "... hei, kalau kau terus menumpu tubuhmu dengan tangan seperti itu, maka nadimu bisa putus, lho."
Sena terdiam. Matanya merah karena terus menangis. Ia tidak merasakan lagi sakit di dadanya. Inikah rasanya kebal karena terlalu sakit? Sena menunduk. Dadanya berdenyut-denyut akibat sengatan listrik dari alat kejut Hiruma.
"Kheh. Oke, mari selesaikan ini semua, chibi..."
Hiruma kembali menghentakkan pinggulnya agar miliknya masuk seutuhnya di lubang anal Sena. Tak perlu waktu lama setelah ia menghentakkannya dengan cepat beberapa kali, Hiruma mencapai klimaksnya. "Khhh... Kuso... AAKH!" Hiruma menggapai rantai di dada Sena. Dan menariknya keras hingga terlepas.
"NGGGGGGHHHHHHH!" Sena berteriak tertahan. Darah mengalir dari putingnya akibat dicabut paksa. Ada beberapa bagian yang kulit dan dagingnya sedikit terkelupas. Sakit dan perih tak terkira kembali menjalar di tubuh Sena. Tubuh Sena bergetar hebat. Dan dalam sekejap, kesadarannya hilang. Ia pingsan di tempat.
"O-oi, chibi?" Hiruma melepas borgol dan semua alat di tubuh Sena dan membawanya ke kamar. "Wah wah. Sampai pingsan begini." Hiruma melirik pergelangan dan puting Sena, kemudian menggeleng pelan.
O o O o O
"Ng?" Sena terbangun dari tidur panjangnya. Ia melirik pergelangan tangannya yang diperban, kemudian teringat kejadian kemarin. Sudah berapa hari ia pingsan? Sena berusaha duduk, namun tubuhnya menolak karena rasa sakit menyerang dada dan tubuh bagian bawahnya. Sena menghela nafas.
"Kau tidur selama tiga hari, kuso chibi." Tau-tau Hiruma sudah berdiri di depan pintu.
Sena menoleh dan tersenyum tipis. "Pagi, Hiruma-sama..."
"Kau..." Hiruma berjalan ke arah tempat tidur Sena. "...masih mau memanggilku begitu setelah apa yang kulakukan kemarin?"
"Nggg.." Sena mengangguk. "... Hiruma-sama sudah membeliku. Menyelamatkan aku dari orang-orang jahat yang ingin membeliku. Itu sudah lebih dari cukup bukan?"
Hiruma terhenyak, kemudian menyeringai. Ia duduk di samping Sena dan mengusap wajah Sena lembut. Sena terbengong sekilas sebelum bibir Hiruma bertemu dengan bibirnya lembut. Ada apa dengan masternya ini? Kenapa hari ini... dia selembut ini?
"Kuso chibi..." Hiruma menyudahi ciumannya dan menelusuri bibir Sena dengan ibu jarinya. "... sepertinya aku... jatuh cinta padamu..."
TBC
O o O o O
Yak... akhirnyaaa.. jadi jugaaa.. gimana? Apa menurunkah tingkat sado saia.? Kayaknya sih iya. Huhuhuhu
Minna-sama, mohon maaf karena gak update-update sejak puasa. Hontou ni gomennasai. Terus, arigatou gozaimasu yang udah review terus minta di update. Arigatou. Arigatou.
Mind to review again?
