Sena menoleh dan tersenyum tipis. "Pagi, Hiruma-sama..."
"Kau..." Hiruma berjalan ke arah tempat tidur Sena. "...masih mau memanggilku begitu setelah apa yang kulakukan kemarin?"
"Nggg.." Sena mengangguk. "... Hiruma-sama sudah membeliku. Menyelamatkan aku dari orang-orang jahat yang ingin membeliku. Itu sudah lebih dari cukup bukan?"
"Kuso chibi..." Hiruma menyudahi ciumannya dan menelusuri bibir Sena dengan ibu jarinya. "... sepertinya aku... jatuh cinta padamu..."
O oooo O
Hell yeaahhh! Flashdisk ilang bersama dengan hape dan modem saya. Keparat. –plak-. Habis beeteee... Ada fic slave chapter 6 saia di sanaaa ;A;/. Padahal tinggal sedikit lagiii ;A;
Disclaimer... Sibuk gawe saya, jadi males ngejelasinnya.. yang pasti bukan punya saya eni es21 –plak-
OOC (meski aku berusaha agar tetap IC)
Yaoi
Rate M (munduung). Btw katanya MA udah ga boleh ya? Terus ini fic aslinya masuk MA ato M ye.. –plak-
Typo
HiruSena
PWP mungkin
SM (Setan Malaikat. Hoho)
Violence Content .w.
DN? DR!
O ooooo O
Pagi hari di awal musim panas, tak pernah Sena merasa seindah ini. Ia berjalan seolah melayang, kakinya terasa seratus kali lebih ringan daripada biasanya. Meski tubuhnya masih diperban di beberapa tempat, tapi Sena seperti tidak merasakan sakit disetiap luka tersebut.
Mungkin karena kini dia merasa masternya menyiksanya adalah sebagai tanda sayang Hiruma kepadanya. Meski di mata orang normal, menyiksa adalah tindak kekejaman, bukan tanda kasih sayang. Yah namun itulah.. cinta kadang membutakan akal sehat. Cinta?
Tiba-tiba wajah Sena memerah, semerah gurita yang dicempungin ke cat merah dan direbus. SANGAT MERAH. Sejak kapan? Sejak kapan cinta itu tumbuh di hati mungil Sena setelah apa yang dilakukan Hiruma selama beberapa bulan ini?
Sena memasukkan sepatunya ke dalam loker dan menggantinya dengan sepatu selop. Ia melirik jam tangan yang terpasang manis di tangannya. "Tumben Hiruma-sama belum datang? Biasanya jam segini dia sudah menakuti seisi sekolah dengan tawanya."
"Mencariku, eh?"
DEG. Pelan-pelan Sena menoleh dan mendapati Hiruma menyeringai lebar sambil membawa senjata kesayangannya. Ohmaigoat! Ini-bisa-jadi-bencana. "Ah? Um.. I.. Iya... A.. Aku pikir tumben Hiruma-sama belum datang. Hehehe." Keringat dingin membanjiri baju Sena.
"Lalu apa yang dimaksud menakuti seisi sekolah dengan tawa?" Hiruma memasukkan moncong senapannya ke mulut Sena, kemudian mendorongnya masuk sampai mengenai kerongkongan Sena.
"Uukkhh... Nggg... Thi.. Thidhak.. Ma.. Maahhaaff..." Airmata Sena menetes. Rasa ingin muntah dan takut menghantuinya. Oh iya, meski terlihat so sweet kemarin, dia tetap setan.
Beberapa orang yang lewat hanya melihat keduanya dengan ngeri dan berlalu dengan cepat. Tak ada yang menoleh lagi apalagi menolong Sena. Melihat hal itu, Sena hanya bisa memejamkan mata dan pasrah. Iya ya. Tidak ada yang mau menolongnya. Siapa dia sampai orang harus repot-repot menolongnya?
Nyuutt.. Tiba-tiba saja hati Sena terasa sakit. Dia tau dia bukan orang spesial di sekolah itu. Kalaupun dia mati, mungkin tak ada seorangpun yang peduli.
"Hiks..." Entah mengapa mengingat betapa kesepiannya Sena selama ini, membuat airmatanya mengalir deras hingga menetes melewati dagu. Hiruma yang melihatnya hanya bisa terpaku. Sedikit demi sedikit Hiruma menarik moncong senapannya dan mengeluarkannya dari mulut Sena.
"Oi, ada apa?"
Sena menggeleng pelan. Ia mengelap mulutnya dan berlari cepat masuk ke kelas, meninggalkan masternya yang terbengong heran melihat tingkah laku Sena. Hanya pada Hiruma, Sena tidak ingin terlihat lemah karena masalah sepele.
Hiruma masih terdiam dan menyenderkan tubuhnya di loker. Tentu saja ia memikirkan slave kesayangannya itu. Tanpa ia sadari, seseorang menonton kejadian ini dengan seksama, dan terkikih senang. Dengan begini, rencananya akan sukses!
O ooooo O
Sena berjalan seorang diri menuju rumah Hiruma sambil menundukkan kepalanya. Kejadian tadi pagi membuatnya tidak bisa konsentrasi belajar dan kini Ia lebih banyak melamun.
"Hei, sampah kecil! Ngapain jalan sambil nunduk, hah?"
Sena menoleh ke belakang. Siapa orang yang memanggilnya dengan bahasa yang kasar seperti itu? Sena belum pernah mendengar suara itu sebelumnya. Saat menoleh, tiba-tiba saja hidung dan mulut Sena sudah dibekap oleh orang yang memanggilnya itu.
Sedetik kemudian pandangan Sena mengabur dan ia pingsan seketika. Orang yang membekap Sena terkekeh keras. Ia menggotong Sena di bahu semudah ia membawa bantal.
Di lain tempat, Hiruma terus menelepon Sena, namun tidak ada jawaban dari seberang sana. Firasatnya mengatakan ada yang tidak beres dengan anak itu. Hiruma segera melacak keberadaan Sena dengan alat pemancar yang ia letakkan diam-diam di tas Sena.
"Shit! Jauh banget!"
O ooooo O
"Ngg..." Sena membuka matanya perlahan. Pandangannya masih buram ditambah lampu kamar yang remang-remang. Sena berusaha memfokuskan pandangannya. Yang pertama kali ia rasakan adalah kepala yang pusing dan tangan yang tidak bisa digerakkan. "...aku kenapa?"
"Hoo.. Sudah bangun, sampah gak guna!"
Sena berpaling ke arah suara itu. Di sana ia melihat sesosok pria tak dikenal, dengan wajah sangar dan seringai menyeramkan berdiri di dekat pintu keluar. Pria itu mendekati Sena dan menjambak rambut Sena kasar.
"Jadi ini bocah yang disebut-sebut itu? Harta berharga setan itu anak kurus ini? Kheh!" Ia lalu mencampakkan kepala Sena dan duduk di depannya.
Sena mengerti keadaannya sekarang. Ia sedang diculik. Dan pria besar itulah yang membekapnya dan membawanya ke sini. Dan hal yang membuatnya tidak bisa bergerak adalah karena tangannya terikat kuat di sebuah palang kayu berbentuk X.
"Agon-san, bagaimana anak itu?" seseorang melongokkan kepalanya dari balik pintu. Ternyata pria menyeramkan itu bernama Agon. Rasanya Sena pernah mendengarnya di suatu tempat.
"Kheh! Tidak menarik sama sekali. Gue bingung kenapa setan itu begitu tergila-gila padanya."
"Lalu mau kita apakan anak ini?"
"Apa ya.." Agon menyeringai seram. Ia membuka laci meja yang sedari tadi ia duduki dan mengeluarkan sesuatu. Hawa ini.. Seperti saat pertama Hiruma membawanya pulang dan.. tunggu.. jangan-jangan dia mau..
"Kita have fun saja dulu!" Agon merobek kaos yang dikenakan Sena dengan mudah. Kaget, Sena menendang-nendang dan berontak sambil berteriak. "Ck! Berisik! Ikkyu! Cepat sumpal mulut anak ini!"
Anak yang bernama Ikkyu itu tersenyum dan menyumpal mulut Sena dengan saputangan. Hal selanjutnya yang dilihat adalah Agon memegang sesuatu di tangan kanannya dan tangan kirinya menarik-narik puting mungil Sena.
Sena hanya bisa menjerit tertahan. Tangan-tangan kasar Agon terus memelintir dan menarik putingnya hingga memerah. Dan benda apa yang dipegang Agon di tangan kanannya? Oh tidak! Ini mimpi buruk!
"NGGGG!" Mata Sena melotot lebar saat dirasa sebuah jarum besar menyentuh sisi putingnya. Ia berusaha berontak lebih keras agar Agon melepasnya. Bukannya melepas, Agon malah tertawa keras dan melanjutkan aksinya. Semakin lama jarum itu masuk dan keluar menembus sisi satunya hingga puting Sena berlubang. Darah menetes dari lubang luka Sena.
"Gue lihat Hiruma gak jauh bedanya. Di sini masih ada bekas kulit terkelupas. Ternyata anak ini cuma jadi bahan sado setan itu! Hahahaha!"
DEG! Bahan sado? Dirinya hanya sebagai bahan sado untuk Hiruma? Bodohnya, mengapa baru menyadarinya sekarang? Benar juga ya…
Mata Sena meredup. Antara menahan sakit yang tak terkira di putingnya dan rasa sakit yang lain di hatinya. Seolah tak ada lagi harapan untuk hidup sejak ia diperjualbelikan di pelelangan itu. Mungkin sekarang ia hidup. Tapi apalah artinya ia hidup jika terus menerus disiksa seperti ini?
"Hoo? Sudah menyerah, eh?" Agon mencabut jarum besarnya kasar kemudian menancapkannya di puting Sena yang lain. Kini darah menetes dari keduanya. Agon kemudian mengambil benda semacam anting-anting besar dengan rantai panjang di ujungnya. Ia memasang anting-anting itu dimasing-masing puting Sena yang sudah ia lubangi sebelumnya.
"Agon-san, buat apa rantai itu?" tampak Ikkyu menonton aksi Agon dengan wajah penuh minat.
"Khah! Kau harus banyak belajar. Ini agar setiap sampah itu bergerak, putingnya akan tertarik dan rasa sakit akan menjalar ke seluruh tubuhnya!" terdengar tawa keras keduanya menggema di seluruh ruangan. Agon kemudian mengikat ujung rantai itu di kaki Sena.
"Ikkyu, bawa air panas ke sini!"
"Siap!" Ikkyu berlari kecil keluar ruangan. Beberapa menit kemudian, ia kembali membawa seember air dan menyerahkannya ke Agon. "Maaf, Agon-san. Kurasa airnya hanya hangat saja."
"Ceh!" Sambil berdecak, Agon menyiramkan air tersebut ke tubuh Sena.
"NGGKKHH!" Sena menggelinjang liar. Antara merasa panas, perih di putingnya dan kaget. Karena gelinjangan itu, tak sengaja kaki Sena bergerak dan menyebabkan putingnya tertarik keras. Ia semakin menjerit keras penuh derita.
"Waahh.. Keren.."
Dengan sekali hentakan, Agon berhasil merobek celana bahan Sena beserta celana boxernya. Dipandanginya tubuh Sena kemudian ia tertawa keras. "Haha! Boleh juga! Ikkyu, cepat bawa anak itu ke atas meja!"
"Siap!" Ikkyu membuka ikatan di tangan Sena dan membaringkannya di atas meja. Agon mengangkat dua kaki Sena dan mencondongkan kaki Sena hingga tubuhnya hampir membulat seperti udang. "Ikkyu, bawa lilin dan panaskan!"
"Siap!"
"Nggh?" tenaga Sena hampir tidak tersisa untuk berontak. Lilin lagi? Oh, dia mungkin adalah sahabat Hiruma? Sama-sama sado. Sama-sama kejam. Tapi entah kenapa orang ini membicarakan Hiruma yang buruk-buruk. Ataukah dia musuh Hiruma dan menculiknya dan meminta tebusan?
Sena tersenyum kecil. Tidak mungkin Hiruma mau menebusnya setelah sebelumnya sudah mengeluarkan banyak uang untuk membeli dirinya. Untuk apa repot-repot menebus? Biarkan saja.. Tatapan Sena terlihat nanar. Ia menyesali jalan hidupnya. Mengapa tidak mati saja sekalian?
"Ini, Agon-san." Ikkyu tampak antusias memberikan lilin merah yang sudah dinyalakan itu kepada Agon. Agon menerimanya dan tersenyum mengerikan.
"Jangan banyak gerak, sampah sialan. Atau putingmu akan semakin sakit. Well, sebenarnya sih tidak masalah juga jika kau kesakitan!" Agon tertawa keras. Ia melebarkan lubang anal Sena dengan jari-jarinya dan menggambil penggaris besi dengan tangan satunya.
"Khah! Si setan itu sering menyodokmu, eh? Nikmat?" sambil tetap menahan lubang anal Sena hingga terbuka cukup lebar, Agon meletakkan penggaris besi itu masuk di lubang Sena dan mengalirkan cairan lilin merah yang panas itu melalu penggaris ke anal Sena. Penggaris besi itu menghantar panas sehingga membuat Sena kelabakan menahan panas.
Agon tertawa lebih keras. Cairan lilin itu dibiarkannya terus mengalir masuk ke anal Sena hingga hampir memenuhi isi perut dan anal Sena. Sena kembali menangis. Panas sekali rasanya. Namun ia tak bisa berbuat apa-apa karena bergerak sedikit saja, puting Sena akan tertarik dan rasanya sepuluh kali lebih sakit dari yang sekarang.
"Wow.. Agon-san hebat!"
"Belum seberapa." Agon membuka laci dan mengambil sebuah suntikan besar dari dalamnya. Sena bergidik sangat ngeri. Suntikan berukuran lengan orang dewasa dengan ujung tumpul itu membuat nafas Sena memburu. Kengerian merambat jiwanya. Apa yang akan dilakukan orang itu dengan benda sebesar itu?
"Kheh! Diam, setan kecil!" Agon menampari wajah mungil Sena dengan keras hingga darah menetes dari sudut bibir Sena yang robek tergigit. Tak hanya wajah, Agon juga memukuli dada, perut dan bokong Sena, seolah tak ada tempat bagi Sena untuk bernafas sedikit lega dari rasa sakit. Apalagi bagian dadanya. Putingnya terasa berdenyut hebat saat tangan-tangan kasar dan penuh tenaga Agon menarik anting-anting dan rantainya keras. Rasanya kedua putingnya copot dari tubuh Sena.
Belum puas hanya dengan memukul Sena, Agon mengambil beberapa jepit jemuran dengan gigi runcing dari dalam laci. Agon kemudian menarik kasar saputangan di mulut Sena dan menjepit kedua telinga Sena,empat buah di bibir Sena, dua di kejantanan Sena dan satu di lidah Sena.
Air liur Sena menetes membanjiri pipi, rasa sakit yang tak terkira di lidahnya membuat Sena setengah pingsan. Agon mengisi suntikan besar itu dengan air panas hingga lebih dari satu liter dan langsung menghujamkan ujung suntikan itu ke anal Sena dan mendorong isinya.
Sena kembali menggeliat penuh derita. Rasa panas, kembung dan mual serta karena perutnya menjadi penuh dengan air membuat kesadarannya semakin menipis. Kurang puas hanya dengan satu liter, Agon kembali mengisi suntikan itu dengan air dan kembali menghujani anal Sena dengan berliter-liter air hingga membuat perut Sena menggembung seperti balon.
Setelah melepas suntikan terakhir, air mulai menyemprot dari anal Sena yang sudah kelebihan kapasitas bersamaan dengan keluarnya cairan lilin yang sudah membeku. Dengan tawa semakin membahana, Agon membuka celananya dan mempertontonkan kejantanannya yang sudah menegang total.
Dengan kasar Agon menjambak rambut Sena dan menghujamkan miliknya ke mulut Sena hingga menyentuh tenggorokan. Dengan memaksa, Agon menyodok-nyodok mulut mungil Sena tanpa tahu sang korban hampir tidak bisa bernafas. Airmatanya menetes semakin deras. Sena selalu tersedak dan hampir memuntahkan seluruh isi perutnya. Namun sekuat mungkin ia tahan karena takut Agon semakin marah dan menyiksanya lebih sadis lagi.
"Kkkh.. Ngghh.. Nnhh…"
"Buka mulut sampahmu lebih lebar!" Agon memukuli tubuh Sena dengan brutal hingga meninggalkan memar biru keunguan di tubuh Sena sambil terus menyodok mulut Sena yang sudah kaku karena mulutnya terlalu lama menegang. Beberapa menit kemudian, lahar panas muncrat keluar memenuhi mulut Sena. Sena tersedak dan tak mampu untuk berbuat apa-apa, ia hanya membiarkan saja cairan itu mengalir ke kerongkongannya.
'Hiruma-sama… tolong aku… hiks…' dari hati kecil Sena, ia masih berharap Hiruma datang menolongnya. Meski hal itu mungkin sudah amat mustahil terjadi.
Agon mencabut rantai di kaki Sena dengan kasar. Sedikit memaksa, Agon mengikat kaki Sena dalam keadaan berlutut dan mengikat kedua tangan Sena di belakang. Dengan posisi begini, air dari anal Sena mengalir lebih banyak. Sena menggeliat liar. Perutnya mulas dan mual.
Mengambil sesuatu dari kantongnya, Agon menenggakkan kepala Sena, memasukkan banyak pil ke mulut Sena dan menutup mulut dan hidungnya rapat-rapat. Hingga mau tidak mau, Sena menelan pil-pil pahit itu tanpa minum.
"Ngg! Uhuk! I.. ini pil apa?"
Agon tidak menghiraukan pertanyaan Sena. Ia sibuk memasang tempelan hitam dengan kabel di tengah-tengahnya. Ia memasangnya beberapa di bokong, kejantanan, perut dan puting Sena. "ON!"
Tubuh Sena menggelinjang liar. Dirasanya tempelan tadi mengalirkan listrik dengan tegangan cukup kuat. Rasa sakit dan kejang merambat kejantanannya. Sakit sekali. Namun tiba-tiba saja rasa sakit itu tidak terasa lagi. Sena malah merasa melayang. Kejantanannya sudah mengeluarkan precum yang sangat banyak. Sena meliuk-liuk menggoda. Wajahnya merah padam dan nafasnya tersengal.
"Hoo… Efek obatnya mula terlihat ya?" Agon mencengkeram kejantanan Sena dan meremasnya keras.
"Akkkh.. A-Agon-san.. Jangan.. Ngghh…" Ujar Sena mengiba. Namun bukannya mendengarkan, Agon malah mengocoknya tak kalah kasar. Desahan Sena terdengar semakin keras. Hingga beberapa saat kemudian, Sena memuncratkan lahar panas putihnya di tangan Agon.
"Hhh…. Agon-san…" tatapan Sena yang sayu membuat Agon semakin gila. Ia mengangkat tubuh Sena dan langsung menghujamkan miliknya ke anal Sena tanpa persiapan terlebih dahulu. Sena menjerit histeris karena dirasakannya analnya dimasuki benda yang besar.
"Sa.. sakit, Agon-san! Hiks… Perih… tolong lepaskan aku… aku mau pulang…" saliva Sena menetes membanjiri lantai. Efek dari obat tersebut, meski otak Sena memohon untuk dilepaskan, namun tubuhnya menagih lebih.
"Kheh! Cengkeramanmu hebat juga, sampah kecil! Lama-lama kau pasti menikmatinya! " Agon menggerakkan tubuhnya maju mundur dengan cepat, tak peduli erangan Sena yang memohonnya untuk dilepaskan.
"Aakhh.. tidak.. aku tidak suka.. karena ini.. bukan Hiruma-sama… hikkss.. sakit.. sakiitt…"
"Haah! Berisik!" beberapa kali hujaman, Agon kembali menyemprotkan lahar putihnya di dalam Sena. Sena menjerit. Ia menangis keras.
"Hiruma-sama… hiks…" Sena semakin kehilangan kesadarannya. Wajahnya pucat dan tubuhnya sudah tidak ada tenaga lagi. "… selamat tinggal…"
BRAAKKK!
Agon dan Ikkyu –yang sedaritadi hanya diam melihat- mendadak menoleh ke arah kegaduhan itu. Di depan pintu yang rusak, terlihat Hiruma berdiri sambil membawa senapan rentet di kedua tangannya. Wajahnya menyiratkan dendam dan amarah yang ditahan.
"MANA CHIBI GUE!?"
"Hi..Hiru..ma-sama?"
"Hoo… datang juga lu? Gimana rasanya setelah ngeliat dia jadi gini? Nyesek, haah?"
"GIMBAL ASU! LU APAIN CHIBI GUE, HAAHH!"
"Berisik lu! Liat nih, budak kesayangan lu. Nikmatin banget sodokan gue! Iya gak?" Agon menendang bokong Sena hingga Sena tersungkur. Cairan putih menetes keluar dari analnya bersamaan dengan air dan cairan lilin merah yang telah beku. Sena terisak sambil menggeleng keras. Ia malu sekali memperlihatkan tubuhnya seperti itu, terikat sana-sini, penuh luka lebam, cairan, keringat dan air liur.
Hiruma menggertakkan gigi-gigi runcingnya keras sambil mengokang senapannya. Secepat kilat, Agon menjambak rambut Sena dan mengarahkan pisau lipat ke leher mungil Sena. "Bergerak sedikit saja, budak kesayangan lu mati di tangan gue!"
Hiruma terdiam. Dipandanginya Sena yang menatap Hiruma dengan tatapan kosong. Ia menjatuhkan satu senapannya ke belakang. Sambil terus mengunyah permen tanpa gulanya, Hiruma membidik sasarannya dengan mantap.
"Hi.. Hiruma..-sama?" Sena terkejut. Di mata Hiruma tidak ada keraguan ataupun ketakutan akan kehilangan. Apa memang dirinya sudah tidak berarti lagi setelah apa yang dilihat Hiruma hari ini?
"Haa? Lu mau nembak gue dan yakin lu bisa tepat sasaran? Lu lupa kalau gue punya implus kecepatan dewa?" Agon tertawa. Ia menempelkan ujung pisaunya ke leher Sena hingga lehernya sedikit terluka.
"Hey Chibi…"
"Ng?"
"Aku bukan tidak takut kehilanganmu. Tapi aku percaya dengan kemampuanku untuk melindungi orang yang aku sayang."
"Eeh?" pipi Sena yang pucat mulai merona merah. Apa barusan telinganya tidak mengalami fatamorgana? Hiruma menyayanginya?
"Kheh! Sok manis! UKH!" Agon dan Ikkyu jatuh tersungkur sambil memegangi dadanya. Di bajunya tampak noda merah merembes. Sena terkejut. Kenapa dia?
"Lu boleh punya implus kecepatan dewa. Tapi telinga lu gak setajam gue!" Hiruma mendekati Sena yang masih terbengong-bengong memandangi Hiruma dengan tatapan heran. Hiruma menyelimuti Sena dengan jaketnya dan mengangkat tubuh mungil Sena ala bridal style.
"Hi.. Hiruma-sama? Kok bisa?"
"Selagi aku berbicara tadi, aku menembaknya dengan senapan yang ada peredamnya dengan tanganku yang lain." Hiruma menyeringai bangga.
"Jadi kata-kata tadi cuma buat pancingan?"
"Iya."
"Uuukkhhh! Hiruma-sama jahaaatttt!" Sena memukul-mukul dada Hiruma pelan. Debaran jantungnya belum reda, dia harus menerima kenyataan kalau itu semua adalah BOHONG. "Hiks…"
"Chibi…"
"Ng?"
"Maaf aku terlambat."
Sena terkejut. Apa? Maaf? Hiruma meminta maaf? Gak salah denger kan? Sena tersenyum kemudian menggeleng. Rambutnya yang jatuh karena basah membuat wajahnya semakin imut. Langsung saja Hiruma melahap bibir Sena dengan liar. Memberi ciuman panas yang membuat Sena gelagapan.
"Hi…Hiru..ma.. nggg…"
"Chibi sialan! Aku lagi nyium tau! Jangan ngomong! Nanti kegigit!"
"Hiruma-sama… manggilnya yang lembut dong. Jangan sialan mulu." Sena manyun imut.
"Okee! Sweetheart, darling, amore, liebe, mi amor, manisku, sayang, PEYANG!"
Sena tertawa keras. Dilihatnya Hiruma sedikit merona, sedikit! Cuma secuil! Tapi tetap saja membuat Sena senang. Masternya datang untuk menolongnya,."Hiruma-sama… daisuki.. oh iya…" Sena menatap Hiruma malu-malu. "Hari ini aku mau dijahilin Hiruma-sama lagi dong.. aku…" Nafas Sena agak tersengal. Wajahnya merah padam. Ia mencengkeram baju Hiruma erat dengan tangan gemetar.
"Kenapa?"
"Tadi aku dikasih banyak pil sama Agon. Tubuhku jadi gak enak banget."
"Persis seperti waktu kamu dilelang itu ya?" Hiruma menyeringai lebar. Ia memasukkan Sena ke mobil Ferarri yang entah sejak kapan punya. Sena tersenyum. Namun sedetik kemudian pandangannya mengabur dan Sena sukses pingsan detik itu juga.
"Oi Chibi! Oooii!"
O oooo O
TBC
Hahahha… Hiruma nongolnya Cuma secuil. Ahahahah
-di bazooka-
Oke.. kembali lagi dengan saya… :DDDa
Maaf banget buat reader saya yang udah nunggu-nunggu ini fic.
Saya persembahkan Slave dengan pair AgonSena. Hahahahah! –digampar-
Oke.. sampai jumpa tahun depan, -plaaakkk-
Review dong –ngemis-
