"Maaf, aku bersalah padamu..."
O ooooo O
Masih mikirin jalan cerita ini fic gimana ya sebaiknya. Huhuhu.. bukan saya malas buat ngerjain ini fic.. tapi.. saya malas.. #plak
Bagi yang lupa cerita awalnya, silakan baca ulang kalau ga bosan. Maafkan saya... Orz
Please enjoy, minna o)-(
O ooooo O
Pagi-pagi sekali, Sena terjaga dari tidurnya. Ia mengucek matanya sambil mengingat apa yang terjadi. Oh iya... kemarin itu... Ia diselamatkan lagi oleh master tersayangnya. Hiruma datang. Untuk menolongnya. Menolong seorang budak yang tidak ada artinya ini.
"Jam berapa ya.. ngg.." Sena masih berusaha mengembalikan kesadarannya. Diliriknya jam digital yang terletak di samping tempat tidurnya. "Hah? Sudah tanggal segini? Berapa lama aku pingsan? Dua hari? Eh tiga hari!"
Sena turun dari ranjangnya. Namun ia merasakan tak ada tenaga sama sekali di tubuhnya. Sena terjatuh. Ia berusaha duduk sambil bersandar di ranjangnya. "Hiruma-san.. kemana ya. Biasanya dia ada di sampingku. Apa sedang mandi?"
Sena terdiam sambil melamun. Entah sudah berapa lama ia hanyut dalam lamunannya tanpa ada yang mengusiknya. Saat ia sadar, ternyata matahari sudah mulai menunjukkan sosoknya menyinari bumi. "Aku harus bergegas. Nanti Hiruma-san marah kalau aku tidak menyiapkan sarapan." Dengan tertatih dan bersandar pada tembok, Sena berjalan ke dapur. Sepi sekali rumah ini.
"Hiruma-san, sarapan….." saat Sena masuk ke kamar Hiruma, yang ia temukan hanyalah ruang yang gelap dan sunyi. Tidak ada tanda-tanda adanya kehadiran Hiruma disana. Sena panik. Dicarinya keseluruh pelosok rumah. Kamar mandi, beranda, ruang tamu, ruang keluarga, bahkan ruang menyeramkan tempo hari namun ia tidak juga menemukannya.
"Ah mungkin pergi belanja.." Sena menghibur diri. Ia beranjak ke dapur dan sarapan. Sendirian. Baru kali ini Sena merasakan sunyinya sendirian semenjak Ia tinggal di tempat Hiruma.
Ting tong
Bel berbunyi. Sena bergegas membuka pintu, berharap menemukan sosok Hiruma yang menyeringai dengan tawa khasnya. "Iyaaaa.. Ah… ternyata…"
"Sena! Kamu baik-baik saja?" sosok itu bukan Hiruma. Melainkan sahabat sejak kecilnya. Ia menatap Sena dengan tatapan khawatir. Diguncangnya lembut tubuh Sena sembari bertanya, "Kamu tidak luka parah kan?"
"Riku.. Aku baik-baik saja. Kenapa kamu tau aku ada di sini?" Sena mengajak Riku masuk dan menyilakannya duduk.
"…dari siapa lagi" Riku memperlihatkan handphonenya. Sena mengerutkan dahinya.
Oi rambut putih sialan
Sena ada di apartment X nomor 21.
Bawa dia pulang. Kunci ada di kotak surat.
Dia bebas
Bawa pulang? Hiruma-san sudah tidak sudi lagi aku tinggal di sini? Apa Hiruma-san jijik karena kemarin aku… aku di… Airmata Sena menggenang di pelupuk matanya. Buru-buru Ia seka sebelum Riku tambah khawatir dan berpikiran yang tidak-tidak.
"O.. Oh jadi begitu? Aku sudah boleh pulang? Ayo Riku." Sena tersenyum tipis, ia melangkahkan kakinya gontai ke kamar. Mengemasi baju-bajunya yang ternyata bertambah banyak karena dibelikan Hiruma. Tanpa Sena sadari, airmatanya kembali menggenang. Tak sanggup ditahan, akhirnya Sena membiarkan airmatanya menetes, mengalir melewati pipinya. Sakit. Kenapa hatinya sakit? Bukankah harusnya dia bahagia karena sekarang sudah dibebaskan pulang? Kenapa..
"Perlu kubantu, Sena?" Riku melongokkan kepalanya.
"Ti..Tidak usah Riku. Bajuku sedikit kok. Sebentar aku ganti baju dulu." Sena membuka bajunya. Ia lupa bahwa tubuhnya masih..
"Sena! Bekas luka apa itu? Kok banyak sekali?" Riku langsung masuk ke kamar Sena dan mencengkeram lengannya kuat. "Ini.. pasti ulah Hiruma! Dia memang.. keterlaluan.. awas saja!" tangan Riku gemetar menahan amarahnya. Dengan panik Sena menenangkan sahabatnya.
"Bu.. Bukan. Ini bukan karena Hiruma-san. Ini.. ini karena jatuh. Hehe.."
"Tidak usah bohong! Untuk apa kamu membela iblis itu?" Riku mengangkat sebelah alisnya. Ia mengambil tas Sena dan berjalan keluar kamar duluan. "Cepat pakai bajumu. Kita pulang."
Sena mengangguk pelan. Ia memakai baju dan celananya, kemudian bergegas keluar, menutup pintu kamarnya rapat-rapat. Selamat tinggal kamarku. Selamat tinggal kenangan manis-pahit itu. Dan… selamat tinggal Hiruma-san.. aku pulang ya…
O ooooo O
"Hhhh…" Sena kembali menghela nafas. Ia tidak ingat lagi sudah berapa kali ia menghela nafas. Sepulangnya dari tempat Hiruma, Ia disambut tangis bahagia sang ibu. Sena masih ingat betul betapa ibunya kaget sekaligus senang dirinya pulang ke rumah. Setelah itu ibu segera membereskan kamarnya dan menyiapkan makan malam yang enak. Ah.. sudah berapa lama ya tidak makan masakan ibu. Tapi ada yang kurang… sesuatu tertinggal di tempat Hiruma..
Sena berjalan keluar kelas. Rasanya sepi sekali tidak ada dar-der-dor suara senapan Hiruma. Sena mengintip kelas Hiruma, tidak ada orang yang ia cari. "Ah Kurita-san!" Sena menghampiri Kurita yang berjalan gontai ke ruang klub amefuto. Oiya sejak jadi slave Hiruma, Sena tidak pernah diajak masuk klub lagi. Kenapa ya..
"Ah, Sena-kun. Sudah lama tidak pernah lihat kamu. Kamu sehat?" Kurita tersenyum, meski terlihat sedikit dipaksakan. Ia duduk di bangku dan mengeluarkan kue-kuenya. "Mau?"
Sena menggeleng. Ia ikut duduk di bangku seberang Kurita. Tanya tidak ya.. dilihatnya ruangan amefuto itu. Tetap seperti dulu. Berantakan dan suram. Anggota tidak bertambah. Majalah dan peralatan berserakan begitu saja di lantai.
Kurita menghela nafas. Ia memasukkan kue-kue itu satu persatu ke mulutnya sambil melamun. "Sepi sekali ya. Hahaha."
"Anu, Kurita-san.. Hiruma-san.. kemana ya? Aku tidak lihat dia dari kemarin." Akhirnya pertanyaan itu keluar juga dari mulut Sena.
Kurita menatap Sena sebentar, kemudian sibuk makan lagi. Namun terlihat, wajah Kurita tampak sedih. "…dia.. berniat keluar dari sekolah ini dan pergi ke Amerika."
"APA?" Spontan Sena berdiri karena kaget hingga menjatuhkan kursi yang ia duduki. "A.. Amerika? Kurita-san serius?"
"E.. Eh? Serius. Tenang dulu Sena. Kenapa kamu sekaget itu?" Kurita berusaha menghilangkan keterkejutannya karena reaksi Sena.
Sena terdiam. Ia membetulkan kursinya kemudian duduk dengan gelisah. "Re.. Rencananya kapan, Kurita-san? Kok mendadak?"
"Tidak tau kenapa. Dia bilang tiga hari lagi dan ambil flight terakhir. Eh hei Sena.. mau kemana?"
Sena sudah bergegas lari ke sekeliling sekolah. Dimana.. dimana dia? "Hiruma-san dimanaa.. aku.. masih ada hutang denganmu. Hutang.. hutang kebaikanmu.." Sena terduduk lelah di atap sekolah. Sudah dua kali ia berlari mengelilingi seisi sekolah, namun yang dicari tak juga ditemukan.
Sena merebahkan dirinya di lantai, berusaha mengatur kembali nafasnya yang tersengal. Cuaca mendung, sepertinya sebentar lagi akan turun hujan. Sena memejamkan mata. Merasakan angin dingin berhembus di wajahnya. "Hiruma-san… sedalam itukah kamu membenciku? Sejijik itukah kamu melihatku? Lalu.. apa arti kata sukamu. Apa hanya sebatas budak dan tuannya? Terus kenapa kamu bias sebaik itu. Aku tidak mengerti…" Sena menutup wajahnya dengan lengannya. "Hiruma-san, tubuhku sakit.. tapi aku tidak pernah merasakan sakit yang lebih dari ini. Aku…"
Setitik air menetes di pipinya, semakin lama semakin banyak. Hujan deras mulai membasahi Sena. Namun air yang keluar dari matanya tidak kalah derasnya dengan hujan. Sakit, Hiruma-san….
Malam itu tubuh Sena panas. Wajahnya memerah dan menggigil. Mungkin karena hampir dua jam ia tiduran di atap, tubuh basah karena hujan dan diterpa angin. Sena melirik jam. Pukul tujuh malam. Sena menghela nafas. Ia memejamkan matanya, berusaha supaya tidur dan melupakan rasa sakitnya.
Di sana Sena bermimpi. Mimpi saat ia sudah di tempat Hiruma beberapa hari.
O ooooo O
"Oi babu sialan. Jangan pernah bermimpi bisa kabur dariku. Atau.." Hiruma melambai-lambaikan secarik foto. Foto Sena, Mamori, Monta dan Riku. "Aku akan datangi rumah mereka dan membunuh mereka dengan tanganku sendiri."ujar Hiruma tanpa senyum iblisnya, berganti dengan tatapan dingin dan seram.
Hiruma menampar Sena sekali. Sekali. Namun keras hingga tubuh mungil Sena sedikit terpental ke belakang. Sena meringis, mengelus bekas tamparan Hiruma dengan wajah tidak percaya. Siapa orang yang ada di depannya kini? Sena seperti tidak mengenali sosok yang berdiri sambil memegang pecut dan lilin itu. Sena menelan ludah susah payah. Tubuhnya gemetar. Ia baru tau, bahwa Hiruma Yoichi itu tak lebih dari seorang psikopat yang posesif. Sena sebenarnya heran, apa sebenarnya keistimewaan dirinya sampai Hiruma berbuat sejauh itu. Wajah? Tidak. Pintar? Tidak. Tubuh? Tidak juga… lalu apa?
Orang itu kasar. Beringas. Sadis. Sena dibuat terus menerus berteriak dan menjerit menahan sakit. Saat Hiruma merasa sudah puas telah mempermainkan tubuh Sena, ia dengan cepat memakai baju dan duduk di kursi, memerhatikan seolah dengan tatapan puas hasil karyanya. Tubuh Sena dipenuhi luka bakar dan luka sayatan. Sena terisak pelan, menahan sakit di tubuh dan hatinya. Ia berusaha terus fokus agar tidak pingsan.
"Hi.. Hiruma..sama.. Aku… ada permintaan…" terbata Sena berbicara. Sedikit susah karena bibirnya kering dan sedikit robek. "Tolong.. jangan sakiti Mamo-nee dan yang lain. Mereka.. mereka orang-orang yang aku sayangi.. uhuk.. sebagai gantinya… aku akan selamanya berada di sisimu. Hiks.." Airmata Sena mengalir. Inilah akhir dari kebebasannya. Kini, ia harus patuh pada Hiruma.
Hiruma duduk menyender dengan kepala tengadah, menatap langit-langit. Memorinya sedang bekerja, mengingat kembali kejadian saat Monta datang menghampirinya di sekolah.
"Hiruma-san, apa benar Hiruma-san membeli Sena sebagai budak?"
Hiruma menatap Monta dengan tatapan seram, kemudian mencengkeram kerah kemeja Monta dan memukul wajahnya beberapa kali. "Tau darimana, monyet sialan?"
"Khh… tentu saja tau! Dia sahabatku. Aku tau segalanya tentang dia!"
"Sok tau. Memangnya ada yang bisa mengalahkan data-data yang kupunya?" Hiruma kembali memukul wajah Monta hingga babak belur. "Dia milikku sekarang. Aku bisa berbuat apa saja padanya sesuka hatiku. Nanti kusuruh dia agar tidak mendekatimu lagi, mengerti?"
"Uukh.. Kau.. sangat egois.. kau manusia paling egois yang mengambil hak kebebasan Sena! Kamu bahkan memenjara Sena! Memangnya kamu pikir Sena akan bahagia dibeli olehmu?"
Hiruma menggertak giginya. Ia melempar tubuh Monta dan meninggalkannya begitu saja. "Jangan banyak bicara. Kalau kau berani macam-macam, nyawa Sena taruhannya."
"DASAR IBLIS! KAU LEBIH IBLIS DARI IBLIS MANAPUN! TIDAK PUNYA HATI!"
Hiruma menghela nafas berat. Alisnya hampir saling bertautan. Ia tampak berpikir keras. Sesekali mengacak rambutnya atau menyeka wajahnya. Lama mereka berdua saling terdiam. Sampai suara Hiruma memecah kesunyian. "Sena.. aku.."
O ooooo O
Sena terjaga karena mendengar suara handphonenya berdering. Sena menghela nafas, diraihnya handphone dan membaca pesan yang masuk. "Mimpi itu.. kenapa tiba-tiba saja hadir ya?"
Di kotak surat depan rumahmu
Hanya satu kalimat itu saja isi pesan yang baru Sena terima. Sena menyernyitkan kening. Kotak surat? Siapa ini? Ragu-ragu Sena turun dan keluar rumah, dibukanya kotak surat depan rumahnya dengan tangan gemetar. Apa ya? Jangan-jangan orang iseng? Ataukah orang yang berniat meneror?
Tidak ada kotak berbentuk aneh ataupun mayat tikus, hanya secarik amplop yang tersegel rapi yang Sena temukan. Perlahan Sena mengambil amplop itu dan melihat pengirimnya. Tidak ada nama pengirim, alamat, bahkan perangko di amplop tersebut. Itu berarti surat ini dikirim langsung oleh yang bersangkutan. "Siapa gerangan…" Sena membawa amplop itu ke kamar. Diterawangnya amplop itu di depan lampu. Takutnya ternyata isinya silet atau rambut. Hiiyy..
"Isinya kertas biasa. Syukurlah." Sena membuka amplop dengan hati-hati. Dibacanya sepatah demi sepatah kata yang tertulis di kertas tersebut. Baru membaca setengah dari surat tersebut, airmata Sena menitik jatuh membasahi kertas.
Kobayakawa Sena
Sayonara, chibi.. Sekarang kuberikan kamu kebebasan yang sesungguhnya. Kukembalikan semua hakmu yang dulu pernah kuambil, tidak, tepatnya kurebut darimu. Jika aku terus berada di sisimu, yang kuinginkan pasti hanya mengekangmu, menjadikan dirimu milikku seorang. Dan itu tidak adil buatmu, kan? Jadi satu-satunya cara untuk mengembalikan kebebasanmu adalah.. aku menghilang dari hidupmu.
Sebenarnya keinginanku sederhana. Aku ingin kamu melihatku. Mengandalkanku saat kamu butuh. Satu-satunya dunia tempatmu berlindung. Tidak masalah, kapan dan dimana, aku ingin kita menjadi satu.
Tapi sepertinya caraku salah. Kulihat kamu tidak bisa menemukan kebahagiaan sejatimu di duniaku. Karena itulah aku pergi. Namun pada akhirnya, tanganku masih bisa merasakan kehangatanmu. Tubuhku masih merasakan lembutnya dirimu. Itu sudah cukup untukku.
Maaf, chibi. Aku tidak bisa membuatmu bahagia. Aku bersalah padamu.
Selamat tinggal, Sena
Hiruma Yoichi
Airmata Sena sudah mengalir bak hujan. Tidak. Ia tidak merasa dikekang. Memang cara Hiruma sedikit salah. Namun ia tidak mempermasalahkannya. Tapi kenapa.. Kenapa Hiruma tidak menanyakan pendapatnya lebih dulu?
"Hiruma-saan!" Sena berlari keluar, mencari sosok yang dipastikan akan segera menghilang jika ia tidak sempat menemukannya.
Sena terus mencari. Dihiraukannya udara dingin yang menusuk tulang. Dipikirannya hanya satu. Menemukan Hiruma dan memberitahukan apa yang ia rasa. Ingin dipeluk, dicium, di… Peduli amat dengan gengsi.
"Ah? Itu dia!" Sena melihat Hiruma sedang menyebrang jalan. Jarak keduanya masih cukup jauh. Tidak. Sena tidak ingin kehilangan jejak lagi. "Hiruma-saann!"
Hiruma berhenti melangkah. Dengan tatapan kaget dan bingung, ia menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Tidak mungkin. Ini bohong kan? Padahal ia sudah berjalan kurang lebih lima belas menit. Kenapa anak itu bisa mengejarnya secepat ini? Ah memang Sena punya kaki emas. Kecepatannya tidak diragukan lagi.
"Chibi, kau…"
Sena ingin pingsan di tempat rasanya. Rasa bahagia dan lega karena telah bertemu Hiruma tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Sena berlari kecil menghampiri Hiruma. Namun..
"Hiru… HIRUMA-SAN AWAS!" Sena berlari kencang, mendorong Hiruma yang saat itu sedang berdiri di tengah jalan hingga tubuh Hiruma terdorong sampai ke trotoar. Terdengar suara rem berdecit dan benturan keras. Sebuah mobil ringsek karena tertabrak tiang lampu jalan. Trotoar penuh dengan bekas roda dan darah.
"Bodoh! Sena! Oi, bertahanlah! Sena!" Hiruma segera menghampiri Sena. Dipeluknya tubuh Sena yang bersimbah darah. "Oi orang-orang sialan! Cepat panggil ambulans! Jangan hanya menonton saja!"
Ah syukurlah Hiruma-san baik-baik saja. Dan.. oh bahagianya. Apakah tadi aku tidak salah dengar? Hiruma-san memanggil namaku? Nama kecilku? Tapi kenapa.. sakit sekali. Hiruma-san.. Sakit.. Aku.. tidak bisa melihat apa-apa. Hiruma-san.. aku kenapa? Apakah aku akan mati? Kenapa suaramu tidak terdengar lagi? Bahagiakah dirimu jika aku pergi, Hiruma-san? Kalau itu yang Hiruma-san mau, aku rela.. aku.. terlanjur jatuh cinta padamu. Hiruma-san…
O ooooo O
Epilog
Pemakaman adalah peristirahatan terakhir. Tempat dimana hubungan antara manusia dengan manusia terputus. Seorang diri, di dalam peti mati yang sempit dan dingin. Tidak ada lagi kehangatan keluarga, tawa dari sahabat, dan pelukan dari orang yang dicintai.
Saat pemakaman sedang berlangsung, terdengar isak tangis dari orang-orang yang ditinggalkan. Semua memakai pakaian hitam dengan wajah tertunduk. Hiruma menatap kuburan yang masih merah itu dari jauh dengan tatapan dingin. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya.
Saat cuaca mulai mendung, para penyelawat mulai pergi satu persatu. Hiruma bergegas meninggalkan pemakaman. Penyesalan memang selalu datang terlambat. Kenapa ia tidak segera pergi ke Amerika malah menulis surat bodoh itu? Kenapa ia berhenti di tengah jalan saat suara yang ia rindu memanggil namanya? Kenapa ia tidak bisa jujur? Kenapa…
Hiruma melihat toko bunga. Refleks kakinya melangkah masuk ke dalam toko. Matanya dengan lincah memerhatikan seluruh isi toko. Toko bunga yang indah. Dipenuhi bunga warna-warni yang cantik. Tapi entah kenapa hal itu tidak membuat Hiruma terhibur, justru ia tambah murung.
"Selamat datang, tuan. Mau beli bunga apa?" Sapa sang penjaga toko dengan senyuman ramah yang tidak dibuat-buat.
"Haah? Bukan urusan…." Hiruma terdiam. Ditatapnya wajah sang penjaga toko lekat. Masih muda. Mungkin dua puluh tahun. Tinggi. Namun hal yang membuat Hiruma tercekat adalah senyum lembutnya, rambutnya, matanya.. kenapa mirip sekali dengan Sena? Oh sepertinya mata dan otak Hiruma mulai mengalami gangguan.
"Ya?" Sang penjaga toko memiringkan kepalanya. Heran ditatap begitu tajam oleh pelanggannya. Padahal ia yakin ia tidak melakukan kesalahan. "… tuan? Anda kenapa?"
"Kenapa?" Hiruma bertanya balik. Ia menggigit bibir dan menggertak gigi-gigi tajamnya. Ternyata baru disadari ada setitik air menetes membasahi pipinya. Dengan gengsi, buru-buru Hiruma menyeka wajahnya dengan lengan baju. "Bunga itu. Kuambil semua." Dengan asal, Hiruma menunjuk seember bunga yang masih segar. Peduli setan dengan bunga. Pokoknya Hiruma ingin cepat-cepat angkat kaki dari neraka ini. "Buat dua buket."
"Eh? Semua? Terimakasih, tuan." Senyum sumringah terlukis di wajah laki-laki itu. Dengan sigap ia membungkus bunga-bunga pilihan Hiruma dan menghiasnya dengan pita. "Mau ditulis atas nama siapa dan untuk siapa, tuan?"
"Satu saja yang ditulis. Dari Hiruma untuk Sena." Ujar Hiruma datar. Ia sibuk memperhatikan penjaga toko itu menulis namanya. Mungkin seharusnya saat Sena berusia dua puluh tahun, dia akan tampak persis seperti orang di depannya. Seharusnya..
"Silakan, tuan." Dengan senyum manis, laki-laki itu memberikan dua buket besar bunga berwarna merah.
Hiruma menerima satu buket bunga bertuliskan namanya. Lalu pergi. Dengan bingung, laki-laki penjaga toko itu berteriak, "Tuan, satu buket lagi ketinggalan."
"… Itu buatmu. Jangan tanyakan kenapa dan buat apa." Hiruma berlalu begitu saja meninggalkan toko. Ia sedikit menghela nafas. Apa-apaan ini. Ia tidak boleh jatuh cinta pada laki-laki itu. Selain lebih tua dari dirinya, Hiruma tidak tau apakah laki-laki itu menyukai sesama jenis atau tidak. Lagipula.. "..mau kuapakan bunga sialan ini? Baunya busuk sekali." Hiruma menggerutu. Ia melangkahkan kakinya ke tempat tujuan yang sudah ia hafal di luar kepala di mana letaknya.
O ooooo O
Hiruma berdiri kikuk. Ia mengamati bunga di tangannya. Suasana sepi. Hanya ada beberapa orang yang lalu lalang. Dengan nekad, Hiruma mengetuk pintu.
"Iya? Silakan masuk."
Hiruma masuk. Gordeng sudah dibuka lebar hingga matahari masuk ke dalam kamar. Namun tidak memungkiri, suasana dalam kamar itu cukup suram. Di sana. Di atas ranjang itu duduk seorang laki-laki, dengan selimut menutupi sebagian tubuhnya. Ia menatap jendela, sinar matahari menerpa wajahnya. Tapi Hiruma tau, dibalik senyumnya, ia menyimpan kesedihan.
"Siapa? Oh, Hiruma-san!" ya. Kalian pasti tau siapa laki-laki itu. Ia tersenyum seperti anak kecil mendapat mainan. Dengan kikuk, Hiruma member buket bunga itu padanya.
"Nih. Tadi aku salah beli."
"Salah beli tapi ada namaku. Terimakasih, Hiruma-san." Ia mengendus-endus bunga dengan bahagia. Ya. Orang yang sedang duduk di ranjang itu Sena. Orang yang selamat dari maut namun… "… Hiruma-san.. aku mau jalan-jalan. Di sini membosankan.."
'Aku tau. Sabarlah sedikit." Hiruma mengambil kursi roda dan menggendong Sena duduk di atas kursi roda itu. "Mau kemana?"
"Ke taman rumah sakit saja." Sena tersenyum tipis. Dengan susah payah ia mengambil selimutnya dan menutupi setengah badannya. Ia menunduk sedih.
Hiruma mendorong kursi roda Sena menuju taman. Udara cerah hari itu. Sena dapat merasakan sinar matahari menyinari dan menghangatkan tubuhnya. "… Hiruma-san tidak perlu repot-repot datang setiap hari kesini. Aku tidak apa-apa. Ini memang sudah takdir."
Hiruma berjongkok di depan Sena. Digenggamnya tangan Sena lembut. ".. tidak lagi. Aku tidak akan meninggalkanmu lagi. Apapun yang terjadi dan bagaimanapun dirimu."
"Meski.. Aku tidak bisa lagi berjalan beriringan?"
"Tentu. Aku akan menggenggam tanganmu dan kita bisa berjalan beriringan dengan kursi roda ini kan?"
"Hiruma-san…" Airmata Sena menetes. Jatuh ke selimut yang menutupi kakinya. Tidak. Tidak ada kaki di sana. Hanya ada paha. Sena kehilangan kaki emasnya akibat kecelakaan itu. Beruntung, nyawanya masih selamat. "La.. lalu gimana upacara pemakaman supir truk itu?"
"Sudah selesai. Sekarang kamu khawatirkan dirimu saja. Gimana caranya agar kamu cepat keluar dari rumah sakit ini." Hiruma mengambil sebatang bunga dan menyalipkannya di telinga Sena. Ia memberikan kecupan kilat di kening laki-laki itu.
"Hi.. Hiruma-san?" sudah lama sekali Hiruma tidak melihat wajah Sena yang merona. Sekarang yang dipikirkannya adalah bagaimana cara membuat Sena kembali ceria. Kembali tertawa seperti dulu. Ya. Semua ini memang salahnya. Sejak awal.
"Chibi, apa kamu menyesal mengenalku?"
Sena menggeleng. Ia memetik bunga juga dan menarik Hiruma agar mendekat. Disematkannya di dada Hiruma lembut. "Tidak. Aku bahagia. Jangan khawatir, Hiruma-san. Meski aku sudah tidak bisa lari lagi, tapi aku sudah mengerti semuanya."
"Apa?"
"Aku diberi kaki yang cepat agar bisa bertemu denganmu. Dekat denganmu. Dan aku kehilangan kakiku pun agar aku bisa terus bersama Hiruma-san. Agar Hiruma-san kembali padaku. Itu sudah cukup.."
"… bodoh.. hhh.. itulah sebabnya kenapa aku tidak bisa meninggalkanmu. Karena kamu begitu bodoh."
"Memang aku ini bodoh. Baru tau?" Sena tersenyum ceria. Tidak ada lagi yang perlu diragukan. Hiruma dengan mulutnya sendiri berkata bahwa dia tidak akan meninggalkannya. Bahwa Hiruma akan terus menggandeng tangannya, menuntunnya jalan. "Hiruma-san…" Sena merentangkan tangannya dengan senyum bak malaikat.
Hiruma menghela nafas. Ia berbisik, "Oi, di sini ramai tau. Apa kamu tidak malu?" Hiruma kembali menghela nafas saat Sena menjawab pertanyaannya dengan gelengan. Ia membungkukkan tubuhnya dan memeluk tubuh mungil di hadapannya dengan penuh sayang. Tubuh sekecil ini menyimpan kekuatan dan ketegaran yang besar.
Sena tertawa pelan. Ia membalas pelukan Hiruma dengan erat. Ini sudah lebih dari cukup. Dicintai Hiruma adalah hartanya yang paling berharga dibandingkan ditinggalkan Hiruma ke Amerika. "Ah baru ingat.. Hiruma-san.."
"Hm?"
"Apa aku.. masih bisa melayanimu.. di ranjang?"
Hiruma terdiam. Sekuat tenaga tidak tertawa di depan Sena. Apa itu yang Sena khawatirkan dari kemarin? Benar-benar.. "Tentu saja. Toh inimu masih bisa bangun, bukan?" Hiruma mengelus selangkangan Sena dari balik selimut.
"Waaa! Hi.. Hiruma-san ngapain? Ini di tempat umum!"
"Tadi kamu bertanya kan? Daripada penasaran, bagaimana kalau kita coba? Di WC khusus pengguna kursi roda juga boleh."
"Moou! Fantasimu tetap saja liar. Bodoh." Wajah Sena memerah. Ia mengangguk pelan dan malu-malu. Sepertinya masternya memang tidak bisa dilawan. Plus.. Libidonya memang kuat. Payah.
O ooooo O
Akhirnya.. tamat juga.. O)-(
Tamatnya ga ada lemonnya ya? How disappointed. Wakakakakak, #plak
Yah.. itu dikarenakan ini memang endingnya. Sudah cukup banyak lemon yang kalian baca di chap sebelumnya kan? Jadi ini khusus ending aja. No lemon. Noo :v
PS : apakah fic ini terlihat seperti tergesa-gesa alurnya? ,w,
At least.. terimakasih untuk para pembaca yang sudah mengikuti slave selama.. berapa taun ya. Wkwk. Tanpa kalian, ini ga akan tamat.
Terimakasih.. I love ya :')
Mind to last review for this fic? :3
