Story: Sandra Brown

(alur dan segalanya beliau yang menciptakan. Aku hanya mengubah nama dan settingnya, dan beberapa aspek yang mendukung hubungan antar pemain)

Actor: Kim Jaejoong (GS), Jung Yunho, Lee Sungmin(GS), Cho Kyuhyun, Choi Siwon

Marga disesuaikan untuk kepentingan cerita.


ini bukan karya asli aku ya .. ini aku remake dari cerita punya sandra brown halmonie .. jadi cerita dan alurnya bener2 sama, hanya setting dan tokoh yang aku rubah. Settingnya di korea Keybin di kota Geumsan yang terkenal akan perkebunan ginsengnya, mian karena ceritanya terlalu panjang. Unnie paprikapumpkin, NaraYuuki, Sandra Brown halmonie memang selalu memikat dalam bercerita.. bearnya jung pelan-pelan hubungan mereka akan terungkap. yoon HyunWoon, Casshipper Jung ini sudah dilanjut un.. Lee Chunnie gomapta sudah menyukainya..


masitge deuseyo...

Jaejoong merasa napasnya sesak. Dadanya turun-naik menahan amarah dan perasaan terhina. "Kasar sekali bicaramu. Bagaimana kau bisa sekejam itu?"

"Bagaimana kau bisa menikah dengan laki-laki tua bajingan yang kebetulan Appaku itu?"

"Ia bukan bajingan. Ia sangat baik padaku."

Tawa Yunho pendek. "Oh, jadi ia sangat baik padamu. Karena mutiara di telingamu itu? Berkat berlian yang gemerlap di jarimu? Kau sekarang orang terhormat di dunia ya, Jaejoong si gadis sungai? Kini kau penghuni Jung Mansion. Tidakkah kau ingat, kau pernah mengatakan padaku kau bersedia melakukan apa pun agar bisa menghuni rumah ini?" Yunho agak memiringkan badan ke arah Jaejoong ketika mengucapkan kata-kata itu sambil mendengus. "Biar kutebak apa yang kaulakukan pada Appaku sampai ia mau menikahimu."

Jaejoong menampar muka Yunho keras-keras. Itu dilakukan Jaejoong tanpa berpikir panjang.

Sedetik yang lalu Yunho melontarkan penghinaannya, detik berikutnya Jaejoong mendaratkan telapak tangannya di pipi Yunho. Membuat telapak tangannya terasa panas. Ia berharap demikian pula pipi Yunho.

Yunho melangkah mundur sambil tersenyum sinis. Senyum yang membuat amarah Jaejoong lebih menggelegak daripada ucapannya yang menyakitkan. "Apa pun yang kulakukan pada Appamu, jauh lebih baik daripada apa yang kau lakukan padaku selama dua belas tahun ini. Appamu nelangsa, sendirian di rumah ini, menyesali dirimu.

Tawa Yunho kembali terdengar. "Menyesali? Indah sekali, Jaejoong. Menyesali." Yunho menekuk salah satu lututnya, sehingga berat badannya bertumpu pada kaki yang satu lagi dengan sikap angkuh. "Mengapa aku sulit membayangkan Appaku menyesali sesuatu? Apalagi kepergianku."

"Aku yakin ia ingin kau tinggal di sini."

"Ia bahagia kalau tidak berurusan denganku, begitu juga sebaliknya," jawab Yunho kasar. "Jangan bermanis-manis lagi. Kalau kaupikir Siwon sayang padaku, kau cuma berkhayal."

"Aku tidak tahu apa penyebab pertengkaran kalian dulu. Yang jelas, sekarang ia sakit parah, Yunho. Ia sekarat. Janganlah mempersulit situasi yang sudah sulit."

"Siapa yang punya gagasan menghubungi aku, kau atau Yoochun?"

"Siwon."

"Yoochun bilang begitu. Tetapi aku tidak percaya."

"Tetapi begitulah adanya."

"Kalau begiru, ia punya alasan lain."

"Siwon ingin melihat putranya sebelum meninggal!" teriak Jaejoong. "Itu alasan yang cukup kuat!"

"Tidak untuk Siwon. Ia manusia licik, manipulatif, bajingan. Andai ia ingin aku di sisinya menjelang ajalnya, percayalah, ia pasti punya alasan."

"Tidak pantas kaubicara seperti itu tentang Appamu padaku. Appamu suamiku."

"Itu masalahmu."

"Jaejoong? Siapa… Oh, Tuhan. Yunho!" Boa menghambur keluar melewati pintu kasa lalu memeluk Yunho erat-erat. Yunho membalas pelukannya. Jaejoong berkaca-kaca ketika melihat kegetiran dan kesinisan di wajah Yunho berganti dengan senyum riang. Mata musangnya memancarkan kebahagiaan, giginya yang putih berkilat di balik senyumnya yang lebar.

"Boa! Oh, aku sangat merindukanmu."

"Seharusnya kau lebih sering mengirim surat padaku," gerutu Boa sambil menegakkan tubuh dan pura-pura marah.

"Maafkan aku," jawab Yunho singkat, sementara matanya tetap menyiratkan kebandelan seperti dulu, saat Boa menangkap basah ia mencuri kue dari stoples. Dan ia selalu berhasil meloloskan diri. Seperti yang dilakukannya sekarang lni.

"Jadi kau sudah bertemu Jaejoong," kata Boa, sambil menatap keduanya dengan mata berbinar-binar.

"Oh, ya. Aku sudah bertemu Jaejoong. Kami sedang mengobrol."

Perempuan tua itu tidak melihat lirikan mata yang sekilas dilemparkan Yunho kepada Jaejoong. "Makanmu pasti tidak benar, aku yakin. Kerja keras mencari uang, muncul di berbagai surat kabar terus, tetapi badanmu tetap saja seperti orang kurang makan. Ayo masuk. Aku sudah menghangatkan makan malammu."

"Dan tteokbokki. Baunya tercium dari sini," goda Yunho, sambil mendorong tubuh Boa ke pintu.

"Aku membuatnya bukan khusus untukmu saja.

"Jangan begitu, Boa. Kita kan sudah kenal lama."

"Kebetulan juga kami masak bulgogi dan kimchi untuk makan malam."

Pada minggu-minggu pertama kepindahannya sebagai nyonya rumah yang baru di Jung Mansion ini, Jaejoong merasa dirinya seperti tamu tak diundang. Tetapi bulan-bulan berlalu. Sungmin bisa menerimanya sebagai sahabat. Boa pun mulai menyukai dirinya. Tetapi saat ini, melihat Yunho di rumah ini, mendengar derap sepatu botnya di lantai kayu dan suaranya yang menggema di ruangan yang berlangit-langit tinggi, kembali Jaejoong merasakan dirinya seperti orang asing. Yunho-lah pemilik rumah ini. Bukan dirinya.

Ketika mengikuti mereka sampai ke dapur, Jaejoong melihat Boa menyuruh Yunho duduk di meja bundar dari kayu ek yang penuh bermacam-macam hidangan. Yunho mengamati ruangan itu. "Tak ada yang berubah," kata Yunho hangat.

"Dapurnya kucat lagi beberapa tahun yang lalu," ujar Boa. "Tetapi kuberitahu Appamu aku tak akan mengganti warna catnya. Aku ingin segalanya tetap sama seperti ketika kau masih tinggal di sini."

Yunho menelan, dan menggeser-geser makanan di piringnya dengan garpu. "Aku tidak akan tinggal di rumah ini selamanya, Boa. Hanya sampai Appa... kembali pulih seperti semula."

Tangan Boa yang sibuk bekerja langsung berhenti. Ia menatap Yunho seperti menatap anak laki-laki momongannya. "Aku tak ingin kau pergi dari rumah ini lagi, Yunho. Ini rumahmu."

Mata Yunho melirik Jaejoong sesaat, lalu kembali pada piring makanannya. "Tak ada gunanya lagi aku tinggal di sini," ujar Yunho marah sebelum menyuapkan makanan ke mulut.

"Siapa bilang? Masih ada Sungmin," Jaejoong mengingatkan Yunho dengan suara lembut. Karena tidak mau hanya berdiri di dekat pintu, Jaejoong memaksakan diri melangkah masuk ke dapur. Jaejoong tidak ingin Yunho tahu kedatangan pria itu di rumah ini membuatnya merasa terancam di rumahnya sendiri. Ia toh belum menjadi janda Siwon. Sebagai istri, Jaejoong merasa punya hak tetap tinggal di rumah ini. Jaejoong berjalan ke lemari es, mengambil segelas es teh yang sebetulnya tak diinginkannya.

"Diberkatilah dia, Yunho," ujar Boa sambil mengelap gelas yang sudah mengilap bersih. "Tiap hari ia menyuruhku memeriksa kotak pos, kalau-kalau ada surat darimu. Demi dia, kau tidak boleh meninggalkan rumah ini, kendati kau bertengkar hebat dengan Appamu."

"Aku benci tidak bisa tinggal di sini untuk dia. Apakah ia baik-baik saja?" "Tentu, tentu. Sangat cantik." "Bukan itu maksudku."

Boa meletakkan gelas di meja. "Aku tahu yang kaumaksud," ujar Boa datar. "Ya, Sungmin baik-baik saja. Aku tahu dari pertanyaan-pertanyaanmu tentang dia di dalam surat-suratmu bahwa kau tidak dapat membayangkan bagaimana keadaan Sungmin, Yunho. Sungmin memang tidak pandai secara akademis, tetapi banyak hal yang dipelajarinya dari sekelilingnya. Kau memang tidak ada di sini untuk melindunginya, tetapi perasaan posesifmu sekuat induk beruang terhadap anaknya. Sungmin tumbuh menjadi perempuan cantik. Ingat. Ia sudah dewasa sekarang, barangkali tak bisa lagi diperlakukan seperti benda rapuh yang mudah pecah. Ia perempuan muda yang cantik. Bila kebetulan warga setempat berjumpa dengannya, sedikit yang menyadari ia berbeda."

"Tetapi ia berbeda," tukas Yunho.

"Tidak terlalu," sela Jaejoong. "Ia tahu perkembangan dunia, tetapi emosinya tidak stabil. Aku lebih mencemaskan kelabilan jiwanya ketimbang perkembangan mentalnya. Andai orang yang dicintainya mengecewakannya, sakit hatinya pasti sulit disembuhkan."

Mata Yunho tak beralih sedikit pun dari wajah Jaejoong ketika ia mengelap mulutnya dengan serbet dari bahan katun. Dilemparkannya serbet itu, lalu menarik kursinya dari meja. "Terima kasih untuk ceramahnya, Jae Nuna. Akan selalu kucamkan hal itu."

"Aku bukannya bermaksud…"

"Begitulah yang kau maksud," potong Yunho sambil mengambil teko soju, menuang isinya ke dalam gelas.

"Jung Yunho, tidak pantas kau bersikap begitu pada Jaejoong." Boa terkejut melihat sikap bermusuhan kedua orang di hadapannya. Belum lima menit mereka berkenalan, tetapi sudah saling bermusuhan. Jelas Yunho tidak setuju Appanya mengambil wanita muda seperti Jaejoong sebagai istri. Namun Yunho sendiri sudah dua belas tahun meninggalkan rumah. Apakah ada pengaruh pernikahan Siwon bagi dirinya? Kecuali kalau menyangkut Jung Mansion. "Mana tata krama yang eommamu dan aku ajarkan? Ingat, Jaejoong istri Appamu. Ia harus kau hormati sebagaimana mestinya."

Yunho, yang terus menatap Jaejoong, mencibir sinis. "Eomma tiriku. Aku selalu lupa hal itu."

"Itu Sungmin datang," seru Boa sambil memandang kedua orang yang ada di dapur tersebut. "Jangan kacaukan hatinya, Yunho. Cukup satu kejutan yang harus ia terima hari ini dan ia berhasil mengatasinya dengan baik."

Suara Sungmin yang lembut menembus pintu kasa sebelum ia membukanya. Sungmin berdiri tertegun. Tubuhnya yang ramping seperti patung dewi Yunani, diam tak bergerak di ambang pintu ketika melihat kakak laki-lakinya. Sesaat ia bengong, baru kemudian tampak berseri-seri, keceriaan terpancar di matanya, di pipinya, dan akhirnya seulas senyum ceria tersungging di bibirnya. "Yunho oppa," panggilnya lirih.

Ia langsung menghambur mendekati Yunho, melingkarkan tangannya yang kurus di leher kakak laki-lakinya itu dan membenamkan wajah di leher kemeja Yunho. Yunho balas memeluk Sungmin, mengangkatnya, lalu mengayun-ayunkannya ke depan dan ke belakang sambil tetap mendekapnya. Matanya dipejamkannya rapat-rapat untuk menekan emosi yang menguasai perasaannya. Sungminlah yang pertama melepaskan pelukan. Dengan jemarinya yang kelihatan rapuh seperti tanpa semangat hidup, dielusnya wajah kakak laki-lakinya, rambutnya, bahunya, seakan hendak meyakinkan diri bahwa kakaknya benar-benar ada di hadapannya.

"Kau tinggi sekali," komentar Sungmin. "Dan tegap." Sungmin tertawa, memegang otot lengan Yunho.

"Kau cantik dan begitu dewasa." Yunho mengamati tubuh Sungmin, gadis muda yang cantik dan halus. Kemudian keduanya tertawa bahagia karena bisa berjumpa. Kembali mereka berpelukan.

"Appa akan meninggal, Yunho," ujar Sungmin serius ketika akhirnya mereka saling melepaskan pelukan. "Jaejoong sudah memberitahumu..."

"Ya," jawab Yunho pelan sambil menelusuri dagu adik perempuannya itu dengan jari telunjuknya.

"Tetapi sekarang kau sudah ada di rumah. Boa, Jaejoong, dan Kyuhyun... Oh, ya ampun! Aku lupa memperkenalkannya padamu." Sungmin berbalik ke arah manajer kandang kuda itu, yang mengantarnya pulang dan sejak tadi berdiri di depan pintu kasa. Sungmin meraih tangannya dan menariknya maju. "Cho Kyuhyun, ini kakakku, Yunho."

otte? Gomapta sudah mau membacanya sampai akhir..