Story: Sandra Brown

(alur dan segalanya beliau yang menciptakan. Aku hanya mengubah nama dan settingnya, dan beberapa aspek yang mendukung hubungan antar pemain)

Actor: Kim Jaejoong (GS), Jung Yunho, Lee Sungmin(GS), Cho Kyuhyun, Choi Siwon

Marga disesuaikan untuk kepentingan cerita.

masitge deuseyo...

"Appa akan meninggal, Yunho," ujar Sungmin serius ketika akhirnya mereka saling melepaskan pelukan. "Jaejoong sudah memberitahumu..."

"Ya," jawab Yunho pelan sambil menelusuri dagu adik perempuannya itu dengan jari telunjuknya.

"Tetapi sekarang kau sudah ada di rumah. Boa, Jaejoong, dan Kyuhyun... Oh, ya ampun! Aku lupa memperkenalkannya padamu." Sungmin berbalik ke arah manajer kandang kuda itu, yang mengantarnya pulang dan sejak tadi berdiri di depan pintu kasa. Sungmin meraih tangannya dan menariknya maju. "Cho Kyuhyun, ini kakakku, Yunho."

Kyuhyun melepaskan jarinya dari genggaman tangan Sungmin untuk menyalami Yunho, yang memandangnya dengan sorot mata penuh selidik. "Tuan Jung, apa kabar?"

"Panggil Yunho saja," jawab Yunho, menjabat tangan Kyuhyun kuat-kuat. "Sudah berapa lama bekerja di sini?"

"Setahun lebih sedikit."

Yunho melirik adik perempuannya lalu kembali memandang si manajer kandang kuda. "Sungmin pernah menyebut namamu dalam suratnya."

"Salah satu kuda betina melahirkan kemarin, Yunho," Sungmin memberitahu Yunho dengan suara riang. "Kyuhyun yang menolongnya melahirkan."

"Saya harus kembali untuk melihat keadaan mereka," kata Kyuhyun.

"Tinggallah di sini sebentar, minum teh dan menikmati kue-kue kecil bersama kami," ajak Boa.

Sejenak Kyuhyun menatap Yunho, lalu memalingkan wajah. "Terima kasih. Saya harus segera melihat anak kuda yang baru lahir itu."

"Besok pagi aku akan menjenguknya, Kyuhyun, Boleh?" Sungmin bertanya sambil menggenggam tangan Kyuhyun lagi.

"Tentu saja," jawab Kyuhyun lembut sambil tersenyum melihat kepolosan sikap Sungmin. "Ia pasti rindu sekali padamu bila kau tak menjenguknya.

Kyuhyun melepaskan genggaman tangan Sungmin dan keluar lewat pintu belakang. "Selamat malam, Kyuhyun," ucap Sungmin.

"Selamat malam, Sungmin," jawab Kyuhyun. Kyuhyun membungkukkan badannya Sembilan puluh derajat sebagai salam hormat kepada yang lain, menghilang di kegelapan malam dengan langkah terpincang-pincang.

Yunho menatap kepergiannya lalu menutup pintu. Boa sibuk menyipkan tteokbokki untuk Yunho dan es krim kesukaan Sungmin dan Jaejoong

"Aku tidak mau, Boa. Terima kasih," ujar Jaejoong. Lewat ekor matanya, ia melihat Yunho memandanginya. "Hari ini aku letih sekali. Kurasa aku mau istirahat dulu."

"Ada yang kau butuhkan?" tanya Boa, prihatin.

"Tidur nyenyak," jawab Jaejoong. Dicondongkannya badannya ke arah Sungmin, lalu mencium pipinya. "Selamat malam. Besok pagi kita sama-sama ke rumah sakit dan kau bisa menemui Appamu."

"Ne, aku mau. Selamat malam. Kau juga gembira Yunho pulang, kan, Jaejoong?"

"Tentu saja." Jaejoong menegakkan tubuh dan bertemu pandang dengan Yunho. "Boa sudah menyiapkan kamarmu. Selamat malam, Yunho."

Sebelum Yunho sempat menjawab, Jaejoong sudah keluar pintu, meninggalkan ruang makan menuju kamarnya dilantai dua. Ternyata berat buat Jaejoong untuk berada dalam satu ruangan dengan Yunho. Selain itu, Yunho, Sungmin, dan Boa- yang mengasuh mereka sepeninggal Kibum-, perlu waktu bersama tanpa dirinya.

Suara langkah kakinya di lorong atas teredam karpet Oriental yang terhampar di sepanjang lorong. Dua lampu di sisi ranjang menerangi kamar tidurnya. Salah satu lampu itu dimatikannya. Berada dalam kegelapan terasa lebih nyaman bagi Jaejoong malam itu, seakan kegelapan mampu menyembunyikan sesuatu yang tidak ingin dilihatnya, tak ingin dipikirkannya. Jaejoong berdiri di dekat jendela besar yang menghadap ke halaman belakang Jung Mansion yang luas dan dataran landai ditumbuhi rerumputan yang mengarah ke sungai. Bulan separo tampak di langit, tetapi ia dapat melihat pantulannya di permukaan air dari kejauhan. Segalanya terasa begitu damai.

Jaejoong hanya butuh ketenteraman. Tiga pukulan berat menghantamnya hari ini. Ia tahu suaminya akan meninggal. Kyuhyun bersikap lebih daripada sekadar teman terhadap Sungmin, bahkan lebih daripada mengasihani. Dan Yunho, yang kini pulang.

Sambil menarik napas dalam, ia menjauhi jendela dan membuka pakaiannya. Setelah bathtub dipenuhi air hangat, Jaejoong berendam di dalam bathtub yang penuh busa wangi sambil memejamkan mata. Saat itulah dibiarkannya dirinya menangis. Untuk Siwon. Selama ini Siwon frustrasi gara-gara penyakitnya, tetapi laki-laki itu berkeras tidak mau memeriksakan diri ke dokter. Buat pria yang penuh vitalitas seperti Siwon, kenyataan dirinya diserang penyakit sulit diterima. Barangkali akan jauh lebih baik bila maut segera menjemputnya. Memaksa Siwon yang selalu penuh semangat dan ambisi berbaring tak berdaya dan hanya bisa mengeluh kesakitan di ranjang rumah sakit selama berbulan-bulan juga sangat tidak manusiawi.

Jaejoong berendam di bathtub beberapa lama sampai air matanya mengering dan air mandinya dingin. Ia ingin cepat-cepat tidur. Seisi rumah sudah senyap. Terdengar suara ketukan pelan di pintu kamarnya ketika ia menarik bedcover ranjang. Jaejoong terlonjak karena terkejut.

Dari pintu kamar yang dibukanya sedikit, Jaejoong melihat sosok seseorang di bawah cahaya remang-remang, berdiri di lorong rumah yang sunyi. "Ada apa?"

"Aku mau bicara denganmu."

Yunho langsung menerobos masuk. Karena tidak ingin menimbulkan kegaduhan, Jaejoong tak punya pilihan lain kecuali membiarkan pria itu masuk dan menutup pintu kamarnya. Yunho berdiri di tengah kamar, pelan-pelan berbalik, memerhatikan semua perabot yang ada di dalam kamar. Ia melangkah ke dekat jendela, tangannya menyentuh tirai, seperti mengingat-ingat suasana kamar itu di masa lalu. Diamatinya barang-barang antik yang ada di meja rias. Ia melirik ke arah cermin yang memantulkan bayangan dirinya. Apakah ia mencari sosok anak laki-laki kecil seperti dulu?

"Dulu ini kamar tidur eommaku," ucap Yunho akhirnya.

Tangan Jaejoong yang berkeringat saling menggenggam di pinggang. "Ya, aku tahu. Kamar yang cantik. Salah satu yang kusuka di rumah ini.

"Cocok untukmu," komentar Yunho, sambil mengamati pantulan tubuh Jaejoong yang berdiri di belakangnya di cermin. "Sebagaimana cocok untuk eommaku. Kamar ini sangat perempuan."

Ketika Yunho tak juga mengalihkan pandangan dari dirinya, sadarlah Jaejoong akan pakaian yang membungkus tubuhnya. Pakaian tidur berikut jubah luarnya itulah yang jelas membuat tatapan mata Yunho yang penuh hasrat tersebut tertuju padanya. Jaejoong sadar ia belum mengenakan apa-apa di balik baju tidur, meskipun tubuhnya tertutup dari dada sampai ujung kaki. Dan yang paling meresahkannya adalah mengetahui Yunho menyadari hal itu juga.

Tatapan matanya yang tajam berhenti di dadanya, di pinggangnya, di bawah pinggangnya. Seperti merespons perintah tanpa kata-kata, bagian-bagian tubuh itu bangkit dan bereaksi. Dada Jaejoong menegang. Pangkal pahanya bagai merekah. Jaejoong memaki-maki tubuhnya, menyumpahi diri, tetapi juga tak berdaya menekan dorongan hasrat yang menggebu-gebu, mengaliri setiap simpul saraf tubuhnya karena sorot mata keemasan itu.

Yunho menggenggam segelas bourbon, lalu meneguknya dengan penuh kenikmatan. Ia betul-betul menikmati cairan minuman keras yang membakar tenggorokan itu mengalir turun menuju perutnya. "Rupanya Appa tetap menyukai wiski mahal," komentar Yunho. "Dan perempuan cantik. Kau kelihatan sangat cantik di dalam kamar ini, Jaejoong, apalagi dengan sinar lampu remang-remang yang menimpa rambutmu." Kembali Yunho mengamati sekujur tubuh Jaejoong lewat cermin, kemudian berbalik dan menjauh.

Yunho melangkah ke arah kursi malas di pojok kamar dan merebahkan diri di kursi itu. Tetapi rupanya kursi tersebut dirancang untuk tubuh perempuan, bukan Yunho. Ujung sepatu botnya menggantung. Dengan satu tangan dipeganginya botol minuman keras yang diletakkannya di perut, sementara tangannya yang satu lagi diletakkan di bawah kepala, sambil matanya tetap memandangi Jaejoong bak musang yang mengincar mangsa. Jaejoong berdiri resah di tempat yang sama dengan ketika Yunho memasuki kamar.

"Eomma dan Appa tidak pernah tidur bersama di kamar ini," kata Yunho enteng, tetapi Jaejoong tidak tertipu. Tak pernah Yunho mengatakan sesuatu tanpa alasan. "Masih segar dalam ingatanku peristiwa hari itu, ketika Appa meminta eommaku tidak mempersoalkan keinginannya pindah ke kamar tidurnya sendiri setelah Sungmin lahir. Berjam-jam lamanya Eomma menangis. Sejak itu Appa tidak pernah tidur bersama Eomma lagi." Kembali Yunho meneguk wiskinya dan tertawa keras. "Kurasa Appa tak pernah memaafkannya gara-gara Sungmin."

"Ia mengasihi Sungmin," protes Jaejoong. "Ia selalu berusaha melakukan yang terbaik buat Sungmin."

Kembali tawa Yunho meledak, kali ini lebih keras lagi. "Oh ya? Ia memang pandai melakukan hal-hal seperti itu. Melakukan hal yang dipikirnya baik untuk seseorang."

Jaejoong memaksa dirinya bergerak. Ia melangkah ke arah ranjang lalu duduk di pinggirnya, mengencangkan tali pinggang baju tidurnya. "Jadi masalah ini yang hendak kaubicarakan denganku?"

"Tentang suami-istri yang tidur seranjang?' tanya Yunho, sambil menaikkan salah satu alis matanya. "Atau tentang Sungmin?"

Jelas Yunho mencari gara-gara. Di mana kelembutan laki-laki ini? Kelembutan yang pernah ditunjukkan pria itu kepadanya ketika mereka berjumpa sembunyi-sembunyi atau ketika mereka saling mencurahkan isi hati? Yunho seperti orang asing baginya, padahal dulu ia begitu akrab dengannya.

Kemeja Yunho tidak dikancing, terbuka. Dada-nya kelihatan bergerak naik-turun tiap kali ia menarik napas. Jaejoong masih ingat penampilan Yunho ketika ia pertama kali melihatnya, air sungai menitik turun di dadanya yang bidang dan rambut hitamnya yang kusut. Perutnya masih keras dan rata sekarang, tetap berotot. Sebaris rambut hitam membelah tubuh itu menjadi dua bagian yang sempurna, sebelum akhirnya tertutup garis pinggang celana jinsnya. Di balik celana jins yang ketat itu membayang kejantanannya.

Dengan gugup Jaejoong cepat-cepat membuang pandangan dari tubuh Yunho. "Mengapa kau ingin membicarakan masalah itu denganku? Aku tidak ingin terlibat dalam pertengkaran antara kau dan Appamu."

Yunho merasa kata-kata Jaejoong lucu dan ia tertawa geli beberapa saat, sambil tetap dengan asyik menghabiskan wiski. Kemudian ia bangkit dari kursi malas dan berjalan menghampiri Jaejoong. Sinar lampu kamar yang satu-satunya itu memantulkan bayangan hitam tubuh Yunho. Ia menakutkan, berbahaya, dan memikat. Jaejoong berusaha tidak menunjukkan perasaan takutnya terhadap Yunho. Bukan takut membayangkan apa yang akan dilakukan Yunho terhadap dirinya, tetapi takut terhadap respons yang muncul dari dalam dirinya bila Yunho benar-benar melakukan sesuatu.

"Aku butuh mobil besok pagi. Aku menemuimu untuk meminjam mobil."

"Oh, boleh," sahut Jaejoong sambil menarik napas lega. "Kuambilkan kuncinya." Jaejoong bangkit dari ranjang, berusaha sebisa mungkin tidak bersinggungan dengan tubuh Yunho ketika bangkit. Namun ketika ia melewati Yunho, sesaat pahanya menyentuh paha Yunho dan ia merasakan ototnya berkontraksi. Jaejoong cepat-cepat bergerak menjauh menuju lemari tempat ia menyimpan tas. Dengan jari-jari gemetar, Jaejoong mencari-cari kunci mobilnya, yang akhirnya ditemukannya dan langsung diletakkannya di telapak tangan Yunho. "Mau ke mana kau pagi-pagi?"

"Aku ingin menemui dokternya sebelum bertemu Appa. Aku akan kembali menjelang siang untuk mengantarmu dan Sungmin ke rumah sakit, bila kau bersedia."

"Ya, boleh saja. Tetapi pagi-pagi ada urusan yang harus kuselesaikan lebih dulu." "Urusan di pabrik ginseng?" "Ya, aku harus memeriksa pembukuannya." "Ya, kudengar soal itu dari Yoochun. Katanya, kau banyak membantu pekerjaan Appa sebelum menikah dengannya." Yunho maju selangkah lebih dekat. Napasnya yang hangat dan berbau bourbon mahal menerpa wajah Jaejoong.

"Yoochun berlebihan." Jaejoong berusaha memiringkan tubuh, tetapi dengan sengaja Yunho juga memiringkan tubuh. Yang terjadi, taktik yang semula dilakukan untuk menghindari Yunho malah membuat tubuh mereka lebih rapat.

"Aku tidak yakin. Aku berani bertaruh kau sangat diperlukan Appa dalam banyak hal, bukan?"

Mata Jaejoong berkilat marah ketika melirik Yunho. "Mengapa kau menyindirku terus-menerus, Yunho?"

"Karena aku selalu tergelitik untuk melihat reaksimu dengan mengganggumu, itulah alasannya. Jaejoong, yang begitu muda, begitu manis, begitu sederhana, begitu... polos." Kata-kata itu meluncur deras dari bibir Yunho bak air yang mengucur dari keran yang terbuka.

Jaejoong mengangkat tangan, tetapi Yunho menangkap tangan itu dan memelintirnya ke belakangnya, menarik tubuh Jaejoong mendekat ke tubuhnya. Dada Jaejoong menempel di dada Yunho yang bidang. Ibu jari kaki Jaejoong bersinggungan dengan ujung sepatu bot Yunho. Wajah Yunho hanya beberapa inci dari wajahnya. Ketika ia berbicara, setiap kata yang meluncur dari bibirnya diucapkan dengan penuh amarah.

"Pernah kubiarkan kau menamparku, tetapi bila kau berani menamparku lagi, kau akan menyesali perbuatanmu."

"Apa yang akan kaulakukan? Balas menamparku?"

Yunho tersenyum mengejek. "Oh, tidak akan. Bukan begitu caraku membalasnya. Aku akan melakukan sesuatu yang sangat tidak kau sukai." Yunho merapatkan tubuh Jaejoong ke tubuhnya yang bereaksi, membuat Jaejoong seketika mengerti maksud ucapan Yunho. Yunho menundukkan kepalanya lebih dekat. "Atau kau menyukainya, Boo? Hmm?" Gesper ikat pinggang Yunho menyentuh pakaian tidur Jaejoong, menggores perutnya. "Di mata setiap orang kau memang Mrs. Jung. Tetapi bagiku kau tetap Kim Jaejoong. Gadis muda yang melintas hutan untuk bekerja di musim panas... sambil perlahan-lahan membuatku gila."

Jaejoong menatap Yunho. Sorot matanya menantang. Penuh amarah, bak awan badai yang berembus dari Teluk yang membawa hujan, angin, dan petir. Rambut Jaejoong yang tadi dipuji Yunho tergerai dari wajahnya ke punggung. "Jadi kau masih ingat, Yunho. Aku bertanya-tanya dalam hati apakah kau masih punya kenangan akan hal itu."

Sesaat mata Yunho membelalak, kemudian menyipit. Ia menatap wajah Jaejoong dengan panas, lama berhenti di bibirnya, kemudian turun dari leher ke buah dadanya, yang kini agak menyembul dari balik baju tidurnya, lalu kembali ke atas lagi. Sorot matanya memancarkan pergolakan, pertanda terjadi pergulatan di dalam diri Yunho.

"Ya," jawab Yunho kasar. "Ya, brengsek! Aku masih mengingatnya."

Jaejoong dibebaskan begitu mendadak sehingga ia terhuyung dan bersandar di meja riasnya. Ketika keseimbangan tubuhnya kembali, Yunho melangkah keluar dari kamar dengan sikap murka.

Sialan! Ia berharap ia tidak ingat semua kenangan manis itu.

Di kamarnya, Yunho membuka kemeja, mengisi gelas dengan minuman keras dari botol yang dicurinya di tempat penyimpanan anggur Appanya, lalu merebahkan diri di kursi malas yang selalu diletakkan di dekat jendela. Diteguknya wiski itu, tetapi karena minuman itu sudah kehilangan rasa, diletakkannya gelas tersebut dengan jengkel. Ia membungkuk, membuka sepatu bot, lalu melemparkannya ke permadani sehingga menimbulkan suara gedebuk perlahan.

Sambil bersandar, kepalanya di bantalan kursi yang empuk, dibiarkannya pikirannya menerawang ke masa lalu, ke suatu musim panas ketika ia berusaha kabur dari pabrik ginseng, pengawasan Appanya, dan panas matahari yang menyengat. Ia pergi ke tepi sungai, tanpa pakaian selembar pun terjun ke sungai yang airnya dingin. Ketika ia naik ke darat kembali, sewaktu sedang mengeringkan tubuh dan memakai celana jins, ia melihat perempuan itu...

"Omo!" teriak Yunho. Jari-jarinya meraba-raba hendak menutup ritsleting celana jins. "Sudah berapa lama kau di situ?" Yunho ingin tertawa melihat reaksinya. Kalau Yunho hanya terkejut melihatnya, gadis itu seperti lumpuh.

Yunho tidak mengira gadis itu akan menjawab, tetapi kemudian dengan tergagap ia berkata, "Aku... aku baru saja sampai di sini."

"Hmmm, baguslah, karena aku tadi berenang telanjang bulat. Bila kau datang lebih cepat, kita berdua bisa malu."

Senyum Yunho lebar dan penuh percaya diri, penuh keangkuhan. Meski si gadis yang memakai kaus kaki pendek dan sepatu murahan itu masih terkejut dan gemetar, ia berusaha membalas tersenyum dengan malu-malu. "Kuharap aku tidak mengganggumu," katanya dengan kesopanan yang, dalam situasi seperti ini, membuat Yunho geli.

"Tidak, aku sudah selesai. Udara panas sekali. Aku jadi ingin berenang."

"Ya, udaranya memang panas. Karena itulah aku mengambil jalan pintas ini. Di sini lebih teduh ketimbang di jalan raya."

Sejak awal Yunho sudah tertarik pada gadis itu. Bukan hanya karena wajahnya yang cantik, tetapi juga karena penampilannya yang berbeda. Roknya yang terbuat bahan katun bersih dan licin, tetapi sudah ketinggalan zaman. Blusnya juga terbuat dari bahan katun berwarna putih, menebarkan aroma sabun cuci, bukan parfum yang sepertinya dipakai semua yeoja masa itu.

Di balik blus gadis tersebut, Yunho melihat garis-garis branya yang putih, yang pastilah sangat tidak nyaman. Gadis-gadis umumnya memakai model yang disebut push-up bra—bra untuk menaikkan payudara, yang bertujuan, Yunho yakin, membuat teman kencan mereka tergila-gila.

Ia mengalihkan pandangannya dari payudara si gadis, merasa malu pada dirinya sendiri karena membuat analisis seperti yang dilakukannya terhadap gadis-gadis yang dikenalnya. Ia hanya gadis kecil. Lima belas? Enam belas? Paling-paling. Ia tampaknya takut sekali padanya.

Tetapi ya ampun, gadis itu cantik sekali. Kulitnya bersih, matanya kelabu bagai kabut yang melayang rendah di rawa-rawa. Tubuhnya indah, molek, menunjukkan lekuk feminin. Rambutnya mengilap, seperti kayu mahoni yang dipernis. Tiap kali angin meniup pepohonan di atas kepalanya, sinar matahari menerpa rambutnya seperti kilatan cahaya di rambut yang lebat itu.

"Kau mau ke mana?"

"Ke kota. Aku kerja di Hanbang kafe."

Yunho tidak pernah mengenal gadis yang harus bekerja pada musim panas. Umumnya mereka menghabiskan musim panas dengan berjemur di dekat kolam renang, milik pribadi atau milik umum, sampai bertemu seseorang yang mereka kenal dan merencanakan pesta untuk malam harinya.

"Namaku Jung Yunho."

Ia menatap Yunho dengan sorot mata aneh. Yunho mengira karena ia telanjang bulat. Gadis itu berusaha menekan rasa ingin tahunya, tetapi matanya terus berkelebat ke dada Yunho, perutnya, dan ritsleting celana jinsnya yang belum tertutup. Biasanya itu justru menaikkan rasa percaya diri Yunho, meyakinkannya bahwa dengan mudah gadis itu bisa ditaklukkannya. Ia menganggap reaksi seperti itu sebagai pemberitahuan si gadis tertarik padanya dan bisa diajak kencan. Tetapi sorot mata gadis tersebut yang demikian polos justru menjengkelkan hatinya. Dengan tatapan matanya yang selalu tertuju ke ritsleting celananya, Yunho resah menyadari hasrat yang tak diinginkannya makin menggebu saat itu.

Untuk menunjukkan sikap santunnya, ia maju selangkah hendak menyalaminya. Sesaat gadis itu terkejut, tetapi kemudian ia pun menyambut tangan Yunho dengan malu-malu. "Kim Jaejoong," jawabnya dengan suara gemetar, sambil menatap mata Yunho.

Mereka berpandangan.

Waktu bergulir, serangga berderik di atas ke-pala mereka, pesawat menderu di langit tinggi, air mengalir membasahi batu-batuan di tepi sungai yang berlumut. Sesudah beberapa lama barulah keduanya bergerak dan melepaskan tangan masing-masing.

"Kim?' Yunho mengulang nama keluarga si gadis dan heran mendengar suaranya sendiri jadi sama seperti sepuluh tahun yang lalu, sebelum terjadi "perubahan". "Putri Kim Hyunjoong?"

Gadis itu menunduk dan Yunho melihat bahunya terkulai. Bodoh! Mengapa ia mengajukan pertanyaan dengan nada tidak percaya seperti itu? Setiap orang kenal siapa Kim Hyunjoong. Sepanjang hari kerjanya main kartu, minta uang pada orang bodoh yang kebetulan bertemu atau berbicara dengannya, sampai ia mendapat uang cukup untuk membeli minuman yang bisa dinikmatinya sampai keesokan hari.

"Ne," jawab gadis itu lembut. Kemudian, meski agak gemetar, ia mengangkat kepala dengan sikap percaya diri yang membuat Yunho lega kembali, dan berkata, "Aku harus segera pergi, kalau tidak nanti aku terlambat kerja."

"Aku senang berkenalan denganmu."

"Aku juga."

"Hati-hati berjalan di hutan." Gadis itu tertawa. "Apa yang lucu?"

"Kau memperingatkanku agar berhati-hati, sementara kau sendiri berenang di sungai." Gadis itu menunjuk sungai. "Mungkin saja di sana ada ular berbisa, dan siapa yang tahu ada makhluk-makhluk lain apa di sana. Mengapa kau tidak berenang di kolam renang di kota saja?"

Yunho mengangkat bahu. "Aku merasa kepanasan."

Ia kepanasan. Tuhan, ia merasa sangat kepanasan. Ketika tertawa, gadis itu menengadahkan kepalanya ke belakang, menampakkan lehernya yang putih, mulus, dan begitu mengundang. Rambutnya mengilap menutupi leher dan bahu. Bau sabun cuci dan tepung kanji mulai tercium lebih wangi di hidung Yunho daripada parfum mahal mana pun. Bau itu begitu membaur dengan aroma kulitnya yang segar. Tawanya yang renyah dan tulus menyentuh hati Yunho. Tawa itu mengelus bagian hatinya yang sakit luar biasa.

Ya, Yunho kepanasan. Terbakar karena cuaca yang panas. "Pukul berapa kau pulang kerja?" Yunho sama terkejutnya seperti Jaejoong ketika mendengar pertanyaan yang mendadak meluncur keluar dari mulutnya tersebut.

"Pukul delapan." Dengan hati-hati Jaejoong mulai melangkah mundur.

"Malam hari? Kau pulang sendirian malam hari?'

"Ya. Tetapi aku tidak lewat hutan. Aku hanya lewat di sini pada siang hari."

Sejenak Yunho membayangkannya. Gadis ini berbeda dengan gadis-gadis yang pernah dikenal-nya, di kota Geumsan ini atau Gyeongsang.

"Aku akan terlambat kerja," ujar Jaejoong dan makin menjauhkan diri, namun Yunho merasakan keengganan dalam diri gadis itu.

"Ya, tentu. Jangan sampai terlambat. Sampai nanti, Jaejoong."

"Sampai jumpa, Yunho."

Banyak yang tak terucapkan dengan kata-kata pada waktu mereka berpisah. Yunho ingin mereka bertemu lagi. Jaejoong tak pernah membayangkan mereka bisa berjumpa lagi.

Yunho masuk ke mobil Audi-nya. tanpa lewat pintu. Ia langsung melaju pulang ke rumahnya, Jung Mansion, dengan kecepatan tinggi dan masuk ke kamarnya, naik dua anak tangga sekali langkah, dan...

Kini, sebagaimana sebelumnya, bayangan Jaejoong memenuhi benaknya. Yunho ingat memasuki kamar yang sama di suatu sore dua belas tahun yang lalu. Dilemparkannya pakaiannya ke lantai tetapi ternyata pakaian itu jatuh ke kursi yang sama. Ia duduk santai di kursi yang sama saat ini, dengan bayangan perempuan yang sama memenuhi benaknya. Jaejoong masih menyimpan misteri, masih sulit dipahami, menghantui dan menguasainya.

Dan kini, seperti waktu itu, ia sadar, upaya apa pun yang ia lakukan tak mungkin bisa mengobati luka hatinya, tak bisa meredam gejolak hasratnya yang membara.

To Be Next Chapter